cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 2,415 Documents
Analisis Implementasi dan Kendala dalam program MBG pada pendidikan SD, SMP dan SMA Negeri di Kota Jayapura Petrus Yohanes Ismail Arwimbar; Ulfa Rahmadani; Ilmidin Ilmidin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52057

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan nasional yang diluncurkan pemerintah sebagai implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 tentang pembentukan Badan Gizi Nasional (BGN). Program ini bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi peserta didik di seluruh jenjang pendidikan serta mendukung upaya percepatan penurunan stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi dan kendala pelaksanaan program MBG pada jenjang SD, SMP, dan SMA Negeri di Kota Jayapura. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan populasi seluruh sekolah negeri di lima distrik Kota Jayapura, yaitu Abepura, Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Heram, dan Muara Tami. Sampel penelitian berjumlah 158 responden yang terdiri dari dua guru per sekolah, dipilih dengan teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat menggunakan IBM SPSS Statistics versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program MBG di Kota Jayapura berjalan dengan baik pada aspek perencanaan dan koordinasi antarinstansi, namun masih terdapat kendala dalam aspek distribusi pangan, keterbatasan infrastruktur pendukung, serta pengawasan mutu gizi di sekolah-sekolah tertentu. Faktor geografis dan logistik di wilayah timur Indonesia turut menjadi hambatan utama dalam efektivitas pelaksanaan program. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan tata kelola lintas sektor, peningkatan kapasitas pelaksana lokal, serta adaptasi kebijakan berbasis konteks wilayah guna menjamin keberlanjutan dan pemerataan manfaat program MBG di masa mendatang.
Wash Fit As A Complementary Tool For Industrial Hygiene In Primary Health Care Facilities: Case Study Reza Jonatan; Galio RD Burdames; Ilmidin Ilmidin; Reza Hendrawan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52065

Abstract

Reliable water, sanitation, hygiene and waste services in health-care facilities (HCFs) are foundational to quality of care, infection prevention and control (IPC), and the Sustainable Development Goals (SDGs 3 and 6). In Jayapura, Papua Province, gaps in water, sanitation, hygiene (WASH), waste management in primary health centers (PHCs) compromise infection control, occupational safety, and quality of care. The WASH Facility Improvement Tool (WASH FIT), developed by WHO/UNICEF, offers a structured, risk-based approach to assess and improve these conditions. This study aims to evaluate the effectiveness of WASH FIT and promote the tool to mainstream WASH in the industrial hygiene context to improve health, safety, and environmental standards. An assessment using WASH FIT as a tool was conducted across 10 PHCs in Papua, combining scoring of key indicators (water, sanitation, hygiene, energy, waste, management) with structured observations, and technical documentation. WASH FIT assessment revealed significant shortcomings in key WASH indicators. Average scores were moderate to low: sanitation 55%, hygiene 66%, waste management 58%, and less than 60% had functional medical waste management systems. WASH FIT has proven to be an effective framework to improve occupational health standards in PHCs. Integrating WASH within an industrial hygiene lens offers a pathway to resilient systems in the broader context.
The Effect Of Tekis (Fern Tea) Consumption On Haemoglobin Levels Among Anaemic Adolescent Girls At SMA Negeri 2 Kisaran Meity Christiani; Joharmi Joharmi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52130

Abstract

Indonesia terus menghadapi masalah gizi yang menghambat perkembangan sumber daya manusia berkualitas. Kekurangan gizi menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi dan menurunkan produktivitas kerja. Salah satu penyebab utama masalah gizi adalah kekurangan zat besi (Fe), yang masih menjadi isu gizi global yang luas. Bayi, remaja, dan perempuan usia reproduksi kerap mengalami anemia defisiensi besi yang berdampak pada perubahan perilaku, pertumbuhan dan perkembangan, serta fungsi motorik, sehingga menurunkan kemampuan belajar dan prestasi akademik. Tujuan: Terapi nonfarmakologis dapat menjadi alternatif pengobatan, salah satunya melalui pemanfaatan tanaman tradisional seperti sayuran paku yang kaya nutrisi. Salah satu manfaat kandungan nutrisinya adalah kemampuan meningkatkan kadar hemoglobin. Oleh karena itu, untuk menjaga kualitas produk dan memperpanjang masa simpan paku, dikembangkan produk baru bernama TEKIS (teh paku) yang lebih praktis dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek samping. Metode: Penelitian ini mengembangkan produk berupa TEKIS (teh paku) untuk menjaga kualitas dan memperpanjang masa simpan paku sebagai alternatif praktis dan aman untuk meningkatkan kadar hemoglobin. Desain penelitian menggunakan kuasi-eksperimental dengan pendekatan satu kelompok pra-uji dan pasca-uji. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling, dengan populasi terdiri dari 30 remaja putri anemia berusia 16–19 tahun dari kelas X–XII. Hasil: Analisis statistik menunjukkan nilai p = 0,000 < 0,05, yang mengindikasikan bahwa TEKIS (teh paku) efektif meningkatkan kadar hemoglobin pada remaja putri anemia
Asosiasi antara Konsumsi Kopi dan Buah Pinang secara Independen dengan Frekuensi Nyeri Punggung Bawah pada Mahasiswa Ilmidin Ilmidin; Semuel Piter Irab; Apriyana Irjayanti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52161

Abstract

Low Back Pain (LBP) merupakan masalah kesehatan umum yang banyak dialami secara global dan dapat berkembang menjadi kondisi yang menyebabkan kecacatan jika tidak dicegah sejak dini, terutama pada kelompok mahasiswa yang memiliki aktivitas fisik dan postur belajar yang kurang ergonomis. Konsumsi kopi dan kebiasaan mengunyah pinang sering diasosiasikan secara tidak langsung dengan kejadian LBP, namun bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan langsung masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan secara terpisah antara konsumsi kopi dan kebiasaan mengunyah pinang dengan kejadian LBP pada mahasiswa. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan uji Chi-Square Independent melalui aplikasi Jamovi. Pengukuran LBP dilakukan menggunakan Nordic Body Map (NBM) yang telah dimodifikasi. Interpretasi kekuatan hubungan dilakukan menggunakan koefisien Cramer V. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kopi tidak berhubungan signifikan dengan kejadian LBP, baik dalam tujuh hari terakhir (α=0.501) maupun satu bulan terakhir (α=0.058). Sebaliknya, kebiasaan mengunyah pinang menunjukkan hubungan signifikan terhadap LBP dalam tujuh hari (α=0.021) dan satu bulan (α=0.002). Koefisien Cramer V menunjukkan hubungan lemah antara mengunyah pinang dan LBP selama tujuh hari (0.180) maupun satu bulan (0.228). Tingginya prevalensi LBP pada mahasiswa menegaskan pentingnya pencegahan dini melalui edukasi dan promosi kesehatan oleh pihak universitas di Kota Jayapura
the The Role of Family Planning Counselor in Preventing Families At Risk of Stunting (Case Study in Saragi Village, Pasarwajo District, Buton Regency) Wa Ode Nurmin; Nastia Nastia; Herman Lawelai; Junaid Gazalin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52192

Abstract

Stunting is a chronic nutritional problem that has long-term impacts on children's physical growth, cognitive development, quality of life, and future productivity. Efforts to prevent stunting require multi-sectoral interventions, one of which is through optimizing the role of Family Planning (KB) counselors and Posyandu (Integrated Service Post) cadres as key actors at the community level. This study aims to analyze the role of KB counselors in preventing stunting in at-risk families in Saragi Village, Buton Regency, by reviewing the dimensions of education and counseling, family assistance, cross-sector coordination, and program monitoring. The research approach used a qualitative method with in-depth interviews with KB counselors, Posyandu cadres, pregnant women, families of toddlers, and community leaders. The results showed that KB counselors have a significant contribution in increasing family knowledge and awareness regarding the definition of stunting, its causative factors, and its impact on child health. Education was provided through group counseling, IEC, and home visits, which have proven effective in influencing nutritional behavior, parenting patterns, and utilization of health services. In terms of mentoring, extension workers conduct regular visits to monitor the condition of pregnant women and toddlers, detect stunting risks, and provide nutritional and health recommendations tailored to the family's circumstances. Coordination with health workers, village officials, and Posyandu (Integrated Service Post) cadres strengthens the program's effectiveness, although challenges remain, including limited facilities and cross-sectoral workloads. Furthermore, a family's economic situation significantly impacts the ability to provide nutritious food, so extension workers play a role in providing adaptive nutrition management strategies tailored to household capacity. This study concludes that the success of stunting prevention is influenced by the synergy between the active role of family planning extension workers, the support of Posyandu cadres, and the behavior and well-being of families.
The Effects of Core Strength Training on Lower Back Pain in Workers Metta Christiana; Andy Kridasusila; Albert Albert; Rusmalia Dewi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52197

Abstract

Low Back Pain (LBP) is one of the most common health problems experienced by workers across various sectors and across all ages. LBP has the highest prevalence among musculoskeletal conditions worldwide and is also a leading cause of disability worldwide, requiring rehabilitation for most sufferers. Work environments and types involving prolonged sitting or sedentary work, heavy lifting, or non-ergonomic postures significantly contribute to the prevalence of LBP. LBP is often a major cause of absenteeism, decreased productivity, and a reduced quality of life for workers. Core Strength Training (CST) programs are one approach that is gaining increasing attention. CST is considered an effective intervention for strengthening core muscles, increasing stability, and reducing strain on the low back. The authors aimed to evaluate the effects of CST on LBP in workers. By understanding the specific benefits of CST, it is hoped that more effective recommendations for preventing and managing LBP can be developed, thereby improving worker health and productivity and avoiding disability in old age. This study aimed to evaluate the effectiveness of CST in reducing the intensity of LBP in workers. This study will employ a mixed methods design with a pre-experimental approach, employing a one-group pretest-posttest design for quantitative analysis and in-depth interviews for qualitative analysis. The population comprised residents of Tlogosari Kulon and Tlogosari Wetan who were still actively working and experiencing low back pain. Data collection was conducted over six weeks, with two weekly training sessions. The research instrument was the research team itself, while the instruments used were a Numerical Rating Scale (NRS) and an observation sheet using the PQRST mnemonic method: Provokes (Causes) and Palliatives (Relieves), Quality (Quality), Radiates (Radiates), Severity (Severity), and Time (Time). Quantitative analysis used the Kolmogorov-Smirnov test for data normality. Qualitative analysis employed thematic analysis. Data triangulation was performed by comparing interview results with quantitative data.
Pengaruh Edukasi Berbasis Komunitas Terhadap Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Pencegahan Malaria pada Anak Dedy Arisjulyanto; Nofita Dewi Kok Mesa; Frans Manangsang; Neni San Agustina Siregar; Ardhanari Hendra Kusuma
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52203

Abstract

Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Papua, termasuk Kabupaten Kepulauan Yapen, dengan angka kasus yang tinggi pada anak. Tingkat pengetahuan masyarakat tentang pencegahan malaria berperan penting dalam menurunkan risiko penularan. Edukasi berbasis komunitas, seperti penyuluhan menggunakan media leaflet, terbukti dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku preventif masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh edukasi berbasis komunitas melalui media leaflet terhadap tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan malaria pada anak di Kampung Turu, Distrik Yapen Selatan, Kabupaten Kepulauan Yapen. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest. Sampel sebanyak 30 responden dipilih dengan purposive sampling, memenuhi kriteria usia ≥18 tahun, berdomisili minimal satu tahun, dan bersedia mengikuti seluruh rangkaian penelitian. Instrumen berupa kuesioner pengetahuan dengan 10 item pilihan ganda yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Data dikumpulkan melalui pretest, intervensi edukasi menggunakan leaflet, dan posttest, kemudian dianalisis dengan uji paired sample t-test pada tingkat signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 10,34 ± 2,80 menjadi 17,34 ± 2,10, dengan peningkatan signifikan (t = 15,35; p < 0,001). Temuan ini menegaskan bahwa edukasi berbasis komunitas menggunakan media leaflet efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan malaria pada anak. Intervensi ini disarankan diterapkan secara berkelanjutan dengan keterlibatan kader lokal untuk memperluas jangkauan pengetahuan dan perilaku preventif.
Skrining Fitokimia Ekstral Etanol Kunyit (Curcuma longa Linn) dan Bawang Putih (Allium sativum): Analisis Kandungan Bioaktif dan Implikasi Klinis Irna Diyana Kartika Kamaluddin; Arung Anugrah Al Azis; Rezky Putri Indarwati Abdullah; Syamsu Rijal; Aryanti R. Bamahry
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52239

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan fitokimia pada ekstrak etanol kunyit (Curcuma longa) dan bawang putih (Allium sativum) serta membandingkan profil senyawa aktif yang terdapat pada keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kunyit positif mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan steroid, sedangkan ekstrak etanol bawang putih positif mengandung alkaloid, flavonoid, dan saponin, namun negatif terhadap tanin dan steroid. Kandungan alkaloid pada kedua ekstrak terdeteksi melalui reaksi dengan pereaksi Mayer, Dragendroff, dan Bouchardat, mengindikasikan potensi aktivitas biologis sebagai antimikroba dan neuroprotektif. Sementara itu, keberadaan flavonoid yang teridentifikasi melalui uji AlCl₃ mendukung potensi efek antioksidan dan antiinflamasi dari kedua tanaman. Terdapat perbedaan yang jelas dalam profil fitokimia antara kedua tanaman. Kunyit menunjukkan keragaman senyawa bioaktif yang lebih tinggi dengan empat golongan senyawa positif dibandingkan bawang putih yang hanya mengandung tiga golongan senyawa, yang menjelaskan dasar ilmiah perbedaan aplikasi klinisnya.
Hubungan Ketergantungan Gadget Terhadap Keterlambatan Bahasa dan Perilaku Anak di Paud Indah Sari Sukorame Gresik Aisyah Zahwa Salsabila; Diah Fauzia Zuhroh
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52247

Abstract

Gadget adalah istilah yang merujuk pada perangkat elektronik kecil, inovatif, dan biasanya portabel yang dirancang untuk mempermudah tugas atau menyediakan fungsi tertentu. Gadget sering kali memiliki desain modern dan fitur canggih. Karena sebuah perangkat teknologi dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang efektif. Kemajuan teknologi juga dapat membantu daya kreatifitas anak, jika pemanfaatnya diimbangi dengan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Terlalu membebaskan anak dibawah umur menggunakan teknologi yang terlalu canggih seperti gadget maka itu dapat mengubah perilaku seorang anak, untuk itu peran orang tua sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian gadget, untuk mengetahui hubungan ketergantungan gadget terhadap keterlambatan bahasa dan perilaku anak serta mengetahui bagaimana cara untuk mencegah pengaruh buruk dari gadget terhadap keterlambatan dan perilaku anak. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif. Sedangkan dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat ukur kuesioner Smartphone Addiction Scale Short Version (SAS-SV) sebagai alat ukur ketergantungan gadget, dan Denver Developmental Screening Test (DDST) yang bertujuan menilai perkembangan anak pada empat aspek yaitu perkembangan personal sosial, motorik halus, bahasa, dan motorik kasar anak mulai dari usia 0 bulan sampai 6 tahun (72 Bulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ketergantungan gadget dengan keterlambatan bahasa anak dengan nilai p-value sebesar 0,015 (<0,05). Serta terdapat hubungan yang signifikan antara ketergantungan gadget dengan perkembangan perilaku anak nilai p-value sebesar 0,006 (<0,05).
Asuhan Akupunktur Untuk Kasus Kaku Leher : Studi Kasus Alice Alice; Mayang Wulandari; Leny Candra; Amal Prihartono; Tjhia Khie Khiong
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52272

Abstract

Kaku leher adalah salah satu masalah kesehatan yang sering muncul yang ditandai dengan kekakuan leher dan nyeri pada leher dan area sekitarnya yang dapat menjalar ke area bahu, lengan dan tangan dan dapat menjalar sampai ke kepala dan menimbulkan sakit kepala. Kaku leher yang tidak diobati dapat memberikan dampak terhadap penurunan produktivitas yang dapat menyebabkan dampak ekonomi bagi pasien, keluarga, dan lingkungan kerja penderita. Tatalaksana kasus kaku leher saat ini adalah berupa obat-obatan penghilang rasa nyeri dan pelega otot. Pengobatan yang diberikan tersebut ternyata belum dapat mengobati secara tuntas, bahkan ada yang menimbulkan efek samping, oleh karena itu dibutuhkan modalitas terapi lain seperti akupunktur sebagai komplimentari. Terapi akupunktur yang mudah, aman, rasional, efektif, murah dan alami diharapkan mampu mengobati kaku leher. Tujuan penelitian ini adalah mengunakan akupunktur untuk mengobati kasus kaku leher dan diharapkan dampak dari kesembuhan ini dapat menjadikan suatu panduan yang dapat diterapkan di masyarakat luas dan memberikan dampak terhadap pengabdian di Masyarakat. Metode yang digunakan adalah melakukan penusukan titik-titik akupunktur GB20, GB21, SI3, SI15, LI4, BL 10 dan Titik Extra EX-UE-8 sebanyak 2 kali seminggu selama 6 kali terapi. Hasil penelitian menunjukkan perbaikan dari raut muka, nyeri dan kaku leher menjadi sembuh dan kualitas hidup penderita menjadi lebih baik. Simpulan bahwa akupunktur pada kasus kaku leher dengan menusuk titik-titik terpilih memberikan dampak positif perbaikan terhadap keluhan nyeri dan kaku pada leher penderita.