cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 2,460 Documents
Pengaruh Edukasi Terhadap Peningkatan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga dengan Tb Paru di Kelurahan Jatibening Kota Bekasi Chalid, Desridius; Paratama, Agung Bayu
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55952

Abstract

Latar Belakang : Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan ditularkan melalui udara ketika penderita batuk atau bersin. Pengobatan TB memerlukan waktu minimal enam bulan sehingga keberhasilan terapi sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan secara teratur. Keluarga memiliki peran penting dalam mengawasi minum obat, dan menjaga lingkungan rumah agar mencegah penularan lebih lanjut. Tapi masih banyak keluarga yang memiliki keterbatasan pengetahuan, sikap yang kurang mendukung, serta kemampuan yang belum optimal dalam merawat anggota keluarga dengan TB paru. Kurangnya pemahaman dapat berdampak pada ketidakpatuhan pengobatan, risiko putus obat, bahkan terjadinya resistensi obat. Edukasi kesehatan keluarga menjadi sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap positif, serta memperkuat kemampuan keluarga dalam merawat pasien TB secara tepat. Tujuan Penelitian : Mengetahui pengaruh edukasi terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan TB paru. Metode Penelitian : Quasi experiment, dengan metode one group pretest-posttest tanpa grup kontrol. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan diagnosis TB paru dan sedang menjalani pengobatan sebanyak 35 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Hasil Penelitian : Sebelum diberikan edukasi mayoritas responden berpengetahuan kurang, sikap positif dan keterampilan kurang, setelah diberikan edukasi mayoritas responden berpengetahuan baik, sikap positif dan keterampilan baik. Ada pengaruh edukasi terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan TB paru, dengan nilai p value 0,000. Kesimpulan dan Saran : Ada pengaruh edukasi terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan TB paru. Tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan edukasi keluarga sebagai program rutin dalam penatalaksanaan pasien TB paru.
Penerapan Pursed Lip Breathing di Ruangan Jasmin Rsud Arifin Achmad Pekanbaru Fitriyanti, Desi; Purwanti, Eni; Ridwan, Junaina; Putri, Masri Rahayu; Rianti, Yosi; Bayhakki, Bayhakki
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.52631

Abstract

Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan global yang ditandai dengan hambatan aliran udara, air trapping, serta penurunan oksigenasi yang progresif. Intervensi nonfarmakologis seperti Pursed Lips Breathing (PLB) direkomendasikan untuk meningkatkan ventilasi dan saturasi oksigen. Tujuan: menganalisis dan memahami penerapan filosofi Teori Patricia Benner tentang From Novice to Expert dalam proses kredensial keperawatan. Metode penelitian: Desain penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan durasi implementasi enam hari berturut-turut, waktu 23-28 oktober 2025 dilaksanakan di RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau Ruang Jasmin melibatkan tiga pasien PPOK yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi PLB diberikan selama 15–20 menit setiap sesi, dilakukan tiga kali sehari. Pengukuran SpO₂ dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan pulse oximeter terkalibrasi, kemudian data dicatat, dibandingkan, dan dianalisis secara deskriptif untuk melihat perubahan harian dan keseluruhan, Hasil/temuan: adanya peningkatan konsisten pada nilai SpO₂ setelah intervensi pada seluruh pasien, dengan peningkatan harian berkisar antara 1% hingga 3%. Rata-rata SpO₂ sebelum intervensi adalah 94,39%, meningkat menjadi 96,17% setelah PLB, dengan rata-rata peningkatan sebesar 1,78%. Tidak ditemukan efek samping, dan seluruh pasien dapat mengikuti teknik PLB dengan baik. Temuan ini menegaskan bahwa PLB efektif meningkatkan oksigenasi melalui perpanjangan fase ekshalasi, pengurangan air trapping, dan peningkatan efisiensi pertukaran gas. Simpulan: PLB merupakan terapi tambahan yang sederhana, aman, dan bermanfaat bagi pasien PPOK, serta dapat diintegrasikan ke dalam asuhan keperawatan rutin untuk meningkatkan fungsi pernapasan dan kenyamanan pasien
Optimalisasi Pelaporan Digital ASIK Hipertensi di Puskesmas Rokan IV Koto 1 Kabupaten Rokan Hulu Rosmita, Rosmita; Kiswanto, Kiswanto; Asmarwiati, Septien
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.52692

Abstract

Pelaporan digital melalui Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) merupakan komponen penting dalam pemantauan program pengendalian hipertensi di Puskesmas. Namun, pelaksanaannya di Puskesmas Rokan IV Koto 1 masih belum optimal akibat keterbatasan SDM, sarana teknologi, serta ketidakteraturan input data. Kegiatan residensi ini bertujuan mengidentifikasi permasalahan, menganalisis penyebab, dan merumuskan upaya optimalisasi pelaporan digital ASIK untuk program hipertensi. Penelitian dilakukan menggunakan desain deskriptif kualitatif pada Agustus–November 2025 di Puskesmas Rokan IV Koto 1. Informan terdiri dari kepala puskesmas, penanggung jawab program PTM, petugas ASIK, dan tenaga kesehatan terkait. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Validitas dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, sedangkan analisis dilakukan secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa kendala utama pelaporan adalah keterbatasan kompetensi petugas, beban kerja tinggi, gangguan jaringan internet, tidak adanya petugas data khusus, serta belum optimalnya supervisi internal. Intervensi yang disusun meliputi pelatihan penggunaan ASIK, perbaikan alur kerja pelaporan, penambahan perangkat pendukung, serta penguatan monitoring oleh pimpinan puskesmas. Kesimpulannya, optimalisasi penggunaan ASIK dapat meningkatkan ketepatan, kelengkapan, dan ketepatan waktu pelaporan hipertensi, sehingga mendukung pengambilan keputusan program PTM di tingkat puskesmas dan kabupaten
Prevalensi Skabies Dan Faktor-Faktor Terkaitnya Di Antara Narapidana: Sebuah Studi Analitik Cross-Sectional Berbasis Institusi Rajagukguk, Marlina
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.53943

Abstract

Skabies adalah infestasi ektoparasit yang dapat dengan mudah menyebar melalui kontak manusia yang dekat dan di area yang penuh sesak seperti penjara dan tempat umum di mana sanitasi menjadi masalah. Secara global, sebanyak 300 juta orang terinfeksi skabies setiap tahun. Untuk memperkirakan prevalensi skabies dan juga mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait dengannya, dilakukan penelitian terhadap institusi seperti penjara yang belum pernah diteliti dengan baik yang dilakukan di antara narapidana di Etiopia selatan. Desain studi analitik potong lintang menggunakan teknik pengambilan sampel acak sederhana untuk memilih 422 narapidana. Kuesioner terstruktur yang telah diuji coba sebelumnya digunakan untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan. Sebanyak 418 narapidana diwawancarai, menghasilkan tingkat respons 99,1%. Usia para partisipan berkisar antara 17 hingga 60 tahun. Sebanyak 381 (91,1%) partisipan adalah laki-laki. Prevalensi skabies ditemukan sebesar 8,9%. Riwayat kontak seksual dalam dua bulan terakhir sebelum menjalani hukuman penjara (AOR: 9,92 (95% CI 3,07, 32,02), P<0,001), masa hukuman kurang dari dua bulan di penjara (AOR: 4,54 (95% CI 1,51, 13,54), P = 0,007), ventilasi yang buruk (AOR: 3,36 (95% CI 1,07, 10,58), P= 0,038), kurangnya sabun higienis (AOR: 5,53 (95% CI 1,45, 21,17), P= 0,012), dan berbagi pakaian satu sama lain (AOR: 3,81 (95% CI (1,09, 13,29), P= 0,036) merupakan faktor-faktor yang secara independen berhubungan dengan infestasi skabies. Prevalensi skabies tinggi di antara narapidana di Lapas Zona Wolaita
The Relationship Between Family Anxiety Levels and Patient Information Needs in the ICU of Ananda Hospital, Bekasi Said, M. Irhas; Prayoga, I Gede Wisma; Mulyani, Imas
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54278

Abstract

Family members of patients admitted to the Intensive Care Unit (ICU) often experience high levels of anxiety due to critical patient conditions, uncertainty, and limited access to clear medical information. Anxiety may increase when families perceive that their information needs regarding diagnosis, treatment, and patient progress are not adequately fulfilled. Understanding the relationship between family anxiety levels and information needs is essential to improve family-centered care in ICU settings. This study aimed to examine the relationship between family anxiety levels and information needs among family members of patients treated in the ICU.This study employed a quantitative descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The study was conducted in the Intensive Care Unit of Ananda Hospital Bekasi, Indonesia, from November to December 2025. A total of 25 respondents were selected using total sampling. Data were collected using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) to measure family anxiety levels and an adapted Critical Care Family Needs Inventory (information domain) to assess information needs. Data analysis included univariate analysis and bivariate analysis using the Chi-square test with a significance level of 0.05. The results showed that most respondents had high information needs (60%) and experienced high levels of anxiety, including severe anxiety (36%) and panic anxiety (32%). Statistical analysis revealed a significant relationship between family information needs and anxiety levels (p = 0.001). Families with higher information needs tended to experience higher levels of anxiety while accompanying patients in the ICU. This study demonstrates a significant association between family anxiety levels and information needs in ICU settings. Insufficient fulfillment of information needs may intensify anxiety among family members of critically ill patients. These findings highlight the importance of effective communication and comprehensive information delivery by healthcare professionals to reduce family anxiety and support family-centered care in intensive care units.
The Effect Of Workload On Nurses' Mental Health At Duren Sawit Drug Surgery, East Jakarta Rahman, Arif; Suara, Mahyar; Fauzi, Achmad
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54279

Abstract

Background: Nurses are among the healthcare workers who play a crucial role in the healthcare system. High workloads, long hours, shift systems, and limited staffing often result in nurses having to handle excessive workloads. This can lead to physical exhaustion, emotional stress, and a reduced quality of life. The pressure of workload not only impacts the physical but also significantly impacts the mental health of nurses. Research Objective: To determine the influence of workload on the mental health of nurses. Research Method: This study used a cross-sectional analytical design. The sample in this study were some of the nurses working in Building A of the Duren Sawit Regional Specialist Hospital, East Jakarta, in November 2025, with a total sample size of 58 people. The sampling technique used was random sampling. Research Results: The majority of respondents were aged 26-35 years (72.4%), had a Diploma III in Nursing (84.5%), were female (58.6%), had mild/moderate disorders (70.7%), and had a heavy workload (48.3%). There was an effect of workload on nurses' mental health, with a p-value of 0.002. Conclusions and Recommendations: Workload impacts nurses' mental health. Nurses are expected to improve their stress management skills, maintain a balance between work and personal life, and utilize available mental health support facilities.
THE Relationship Between Cargiver Burden And Mental Health Of Elderly Families At Duren Sawit Dosage Care Surgery, East Jakarta Prasetyo, Zatmiko Hery; Suara, Mahyar; Fauzi, Achmad
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54280

Abstract

Background: The elderly are an age group experiencing declines in physical, psychological, and social function, requiring special attention in terms of health and well-being. Most elderly people in Indonesia are cared for by their own family members. Families play a crucial role as caregivers, providing physical, emotional, and social support to the elderly. Long-term caregiving responsibilities can cause stress and exhaustion in family members, known as caregiver burden. This burden refers to the physical, emotional, social, and economic burden experienced by caregivers while caring for the elderly. This burden can negatively impact the caregiver's mental health, including stress, depression, and anxiety. Research Objective: Knowing the relationship between caregiver burden and the mental health of elderly families. Research Method: This study used a cross-sectional analytical design. The sample in this study was a portion of the elderly family who accompanied the elderly for treatment at the Duren Sawit Regional General Hospital, East Jakarta in November 2025, with a total sample of 60 people. The sampling technique used was asidental sampling. Research Results: The majority of respondents were aged 36-45 years (36.7%), had secondary education (71.7%), and were female (63.3%), had mild mental health disorders (56.7%), and had moderate caregiver burden (60.0%). There was a relationship between caregiver burden and the mental health of elderly family members (p-value 0.001). Conclusions and Recommendations: There is a relationship between caregiver burden and the mental health of elderly family members. It is hoped that families can divide the roles in caring for the elderly so that the burden does not fall solely on one caregiver.
The Effectiveness of Education on Knowledge and Attitudes About HIV/AIDS Through Leaflets and Videos on Students at SMAN 1 Tarumajaya Bekasi Yuliani, Indah; Nanda Virgita; Hidayah, Nurul; Nabila, Putri Ridhotun; Salsabila, Nanda Rizka; Nurseha, Hasipah; Nalova, Inda Panti; Sitohang, Winarti Mutiara
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54281

Abstract

HIV/AIDS cases remain a global health issue, including in Indonesia. Adolescents are a group that is vulnerable to HIV/AIDS transmission due to a lack of knowledge and inappropriate attitudes towards risky behavior and people living with HIV/AIDS. Based on observations at SMAN 1 Tarumajaya, it was found that 70% of 10 students had low levels of knowledge and 90% of 10 students showed poor attitudes towards people living with HIV/AIDS. Therefore, effective health education efforts are needed, one of which is through leaflets and videos. This study used a quantitative method with a quasi-experimental design of the Two-Group Pretest-Posttest Design type. The sample consisted of 30 eleventh-grade students divided into two groups, with 15 students receiving education through leaflets and 15 students through videos. The Paired Sample T-Test was used because the data was normally distributed. The results of the study on the leaflet media group showed an increase in knowledge with a mean = -4.667 and a p-value = 0.000, while the increase in attitude had a mean = -6.600 and a p-value = 0.000. A p-value <0.05 indicates that there was a significant difference between the values before and after the educational intervention was given. It can be concluded that leaflets are effective in increasing students' knowledge and attitudes about HIV/AIDS. Meanwhile, in the video education group, the mean increase in knowledge was -3.867 with a p-value of 0.000, and the mean increase in attitude was -4.000 with a p-value of 0.000. This also indicates that there is a significant difference in knowledge and attitudes before and after the educational intervention. It can be concluded that both leaflets and videos are effective in increasing students' knowledge about HIV/AIDS. This study demonstrates that health education interventions using leaflet and video media can effectively improve knowledge and attitudes toward HIV/AIDS. The leaflet-based intervention showed greater effectiveness in shaping positive attitudes, likely due to repeated exposure and deeper comprehension of written information. These findings support the integration of printed educational media as a complementary strategy in HIV/AIDS prevention programs.
Analisis Potensi Sistem Informasi Rumah Sakit Terhadap Efisiensi Layanan Kesehatan dan Implikasinya pada Kualitas Pelayanan Prima (Studi Kasus Pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara) Pertiwi, Sanny Putri; Mulyan, Sri Rochani; Syahidin, Rukiyat; Malik, Rahardian; Paramarta, Vip
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54315

Abstract

Penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan upaya strategis dalam mendukung peningkatan efisiensi layanan dan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya di daerah terpencil seperti RSUD Kabupaten Wakatobi. Meskipun SIMRS memiliki potensi besar, implementasinya masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan infrastruktur, kesiapan sumber daya manusia, dan faktor organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi SIMRS terhadap kualitas pelayanan prima melalui efisiensi layanan kesehatan di RSUD Wakatobi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif dan verifikatif. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi terhadap pegawai RSUD Wakatobi. Teknik analisis yang digunakan adalah path analysis untuk menguji pengaruh langsung dan tidak langsung antara SIMRS, efisiensi layanan kesehatan, dan kualitas pelayanan prima. Penelitian ini menunjukkan bahwa SIMRS berpengaruh secara langsung terhadap efisiensi layanan kesehatan, dan secara tidak langsung memengaruhi kualitas pelayanan prima melalui peningkatan efisiensi layanan. Efisiensi berperan sebagai variabel mediasi yang signifikan antara penerapan SIMRS dan kualitas layanan. SIMRS memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pelayanan prima, terutama bila efisiensi operasional rumah sakit ditingkatkan terlebih dahulu. Hal ini menegaskan pentingnya kesiapan infrastruktur dan SDM dalam mendukung implementasi SIMRS yang optimal di wilayah Daerah Tertinggal, Terpencil, dan Kepulauan (DTPK) seperti Wakatobi.
Uji efektivitas permen jelly ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus L.) terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans Kristyanti, Yulia; Febrianto, Yahya; More, Evanisia
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54319

Abstract

Sariawan adalah suatu lesi atau luka kecil yang dimulai dengan sensasi terbakar atau menyengat di bagian rongga mulut seperti di dalam pipi, lidah maupun bibir. Penyebab sariawan bervariasi mulai dari pengaruh lingkungan, trauma, inflamasi, neuroplastik, degeneratif atau kongenital hingga infeksi bakteri, virus atau jamur. Infeksi jamur yang sering dijumpai adalah infeksi jamur Candida albicans. Candida albicans merupakan flora normal tubuh manusia yang sering dijumpai pada area rongga mulut dalam jumlah kecil, dan biasanya tidak menimbulkan masalah namun dlam kondisi tertentu jumur dapat tumbuh dalam optimal. Salah satu tanaman dengan potensi herbal yang tinggi dan mudah ditemukan di Indonesia adalah tanaman serai wangi. Kandungan kimia dalam tanaman sereh yang dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans yaitu saponin, flavonoid dan tanin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui formulasi yang optimal dari permen jelly ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus L.) 20%, 25%, atau 30% dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans penyebab sariawan. Metode penelitian ini adalah metode eksperimental yang terdiri dari empat kelompok uji. Penentuan aktivitas antijamur menggunakan metode difusi cakram dengan melihat adanya zona bening disekitar cakram. Hasil penelitian menuunjukkan sediaan permen jelly ekstrak serai wangi memiliki sifat fisik sediaan yang baik. Sediaan dengan konsentrasi 20%, 25%, 30% mampu menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans dengan diameter rata-rata zona hambat sebesar 6.5 mm, 9.5 mm dan 12.66 mm. Konsentrasi yang paling optimal menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans adalah 30%.