cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Pollution index and load of total nitrogen and phosphate on agriculture and fisheries in Jatigede Reservoir Zulfia Kamila Mutia; Denny Kurniadie; Dadan Sumiarsa
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.126-133

Abstract

Jatigede Reservoir has an area of approximately 4,122 Ha, the purpose of Jatigede dam construction is to increase rice production with a range irrigation network system. Problems arising from the use of chemical fertilizers, regarding the development of agricultural land used to increase agricultural productivity, support food security and also activities in floating net cages (FNC) can result in a decrease in reservoir water quality, siltation of reservoirs, etc. Organic waste from FNC cultivation feed, for example nitrogen and phosphate. The purpose is to determine the pollution index of each observation station and the concentration of total nitrogen and total phosphor pollutant loads from the agriculture and fisheries sectors in Jatigede Reservoir so that it can be analyzed which activities have the most influence on pollution and determine effective countermeasures a decrease in water quality in Jatigede Reservoir. The quantitative method uses a survey method is processing data from laboratory tests using the Pollution Index and total nitrogen and phosphate pollution loads. The results of the highest pollution index are at station three of 6.08 with moderate pollution status caused by runoff from Cihonje inlet waste and FNC activities. The nitrogen parameter pollution load has a high amount of 192.13 kg/day then the amount of phosphate pollution load is 34.16 kg/day. As for good pollution control, by reducing the burden of pollution by involving the community in managing the reservoir environment, routine monitoring of reservoir water quality and mapping potential pollutant sources at each location so that problems will be quickly resolved. Keywords: agriculture, fisheries, Jatigede reservoir, pollution index, pollution load ABSTRAK Waduk Jatigede memiliki luas sekitar 4.122 Ha, tujuan pembangunan Waduk Jatigede adalah untuk meningkatkan produksi padi dengan sistem jaringan irigasi rentang. Permasalahan yang ditimbulkan terkait penggunaan pupuk kimiawi, mengenai perkembangan lahan pertanian yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan mendukung ketahanan pangan dan juga kegiatan budidaya ikan karamba jaring apung (KJA) dapat mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas air waduk, pendangkalan waduk, dan lain-lain. Limbah organik sisa pakan budidaya KJA yang terbuang ke dalam perairan contohnya yaitu nitrogen dan fosfat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan index pencemaran dari setiap stasiun pengamatan dan konsentrasi beban pencemar total nitrogen dan total fosfat dari sektor pertanian dan perikanan di Waduk Jatigede sehingga dapat dianalisis kegiatan mana yang paling berpengaruh terhadap pencemaran dan menentukan penanggulangan yang efektif untuk mencegah penurunan kualitas air di Waduk Jatigede. Metode yang digunakan adalah mix method (metode campuran). Metode kuantitatif menggunakan metode survey yaitu pengolahan data hasil uji laboratorium. Menganalisis tingkat pencemaran di setiap stasiun, menggunakan Index Pencemaran dan analisis beban pencemaran nitrogen dan fosfat. Hasil dari index pencemaran paling tinggi terdapat di stasiun tiga sebesar 6,08 dengan status tercemar sedang disebabkan oleh limpasan dari limbah inlet cihonje dan aktivitas KJA dan untuk beban pencemaran parameter nitrogen memiliki jumlah yang tinggi yaitu 192,13 kg/hari kemudian jumlah beban pencemaran fosfat 34,16 kg/hari. Adapun pengendalian pencemaran yang baik yaitu dengan pengurangan beban pencemaran dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan waduk, pemantauan rutin kualitas air waduk dan memetakan sumber-sumber pencemar potensial pada setiap lokasi sehingga permasalahan akan cepat teratasi. Kata kunci: beban pencemaran, index pencemaran, pertanian, perikanan, Waduk Jatigede
Determination of trophic status and carrying capacity of floating net cages in Jatigede Reservoir Kristina Marsela; Dadan Sumiarsa; Denny Kurniadie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.147-155

Abstract

Aquaculture activities with floating net cages are essential to increase fishery production. However, The fish cages in the Jatigede Reservoir are illegal because they are against local government regulations. However, the people affected by the dam's construction still maintain it for economic reasons. Therefore, it is necessary to conduct research to address these problems by determining the carrying capacity of aquaculture and evaluating the trophic status of the waters. Determination of the carrying capacity of fish farming in the Jatigede Reservoir was conducted using the Beveridge method. by calculating the remaining phosphorus still available in the Jatigede Reservoir and evaluating the trophic state index based on three indicators: transparency, total phosphorus, and chlorophyll-a. The sampling was carried out by purposive sampling method. The calculation results show that the condition of the Jatigede Reservoir was eutrophic to hypertrophic with a trophic state index (TSI) value of 66-71. The results of calculating the carrying capacity of cage aquaculture using class 3 water quality standards. Indicate that Jatigede Reservoir waters can still increase fish production by 7,140.25 tons of fish/year, provided that fish replace the primary fish commodities cultivated. Keywords: aquaculture, cage aquaculture, carrying capacity, eutrophication, Jatigede Reservoir. ABSTRAK Kegiatan budidaya dengan keramba jaring apung (KJA) sangat penting untuk meningkatkan produksi perikanan. Keberadaan KJA di Waduk Jatigede merupakan kegiatan ilegal karena bertentangan dengan peraturan pemerintah setempat. Namun, masyarakat yang terkena dampak pembangunan waduk tetap mempertahankannya karena alasan ekonomi. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan menentukan daya dukung perikanan budidaya dan mengevaluasi status trofik perairan. Penentuan daya dukung budidaya ikan di Waduk Jatigede dilakukan dengan menggunakan metode Beveridge dengan menghitung sisa fosfor yang masih tersedia di Waduk Jatigede dan mengevaluasi indeks status trofik berdasarkan tiga indikator yaitu transparansi, total fosfor, dan klorofil-a. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kondisi Waduk Jatigede adalah eutrofik hingga hipertrofik dengan nilai indeks kondisi trofik (TSI) 66-71. Hasil perhitungan daya dukung budidaya perikanan keramba dengan menggunakan baku mutu air kelas tiga. Perairan Waduk Jatigede masih dapat meningkatkan produksi ikan sebesar 7.140,25 ton ikan/tahun, dengan catatan ikan menggantikan komoditas ikan utama yang dibudidayakan. Kata Kunci: akuakultur, daya dukung, eutrofikasi, keramba jaring apung, Waduk Jatigede
Dietary supplementation of Bacillus sp. NP5 and dayak onion simplicia powder Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb. for the prevention of Aeromonas hydrophila in catfish Clarias sp. Sudrajat, R Herman; Yuhana, Munti; Widanarni, Widanarni; Julie Ekasari; Afiff, Usamah
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.134-146

Abstract

Aeromonas hydrophila is the main causative agent of ulcerative disease in catfish and causes considerable economic losses to Indonesian aquaculture. This study evaluates the prebiotic activity and the effect of feed supplementation of dayak onion simplicia powder (DOSP) on the immune response and survival of catfish infected with A. hydrophila. Five doses (0.20, 0.25, 0.30, 0.35, and 0.40 g/mL) of DOSP were tested in vitro to assess the prebiotic activity score. The results showed that a dose of 0.20 g/mL gave a significantly (P<0.05) higher probiotic stimulation value than other doses. In the in vivo test, the study used a completely randomized design with five treatments, namely simplicia (DOSP 20 g/kg), probiotic (PRO, Bacillus sp. NP5 108 CFU/mL, 1% v/w), combination (PRO+DOSP), and control (positive and negative). Fish were reared for 45 days and fed three times a day. On day 46, fish from all treatments, except negative control, were infected with an A. hydrophila dose of 106 CFU/mL injected intramuscularly. The results showed that the combination treatment (PRO+DOSP) gave better total erythrocytes, hemoglobin, hematocrit, total leukocytes and phagocytosis activity than probiotics, DOSP, and control. Administering the combination (PRO+DOSP) can reduce the total number of A. hydrophila lower than the probiotic, DOSP, and control treatments. In addition, the survival rate of catfish in the combined treatment (PRO+DOSP) was significantly (P<0.05) higher than probiotics, DOSP, and control. The results of this study can be a helpful reference and application for the early prevention of A. hydrophila infection. Keywords: aquaculture, Bacillus sp. NP5, dayak onion, probiotics, simplicia powder ABSTRAK Aeromonas hydrophila adalah penyebab utama penyakit bercak merah pada budidaya ikan lele dan menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar pada akuakultur Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas prebiotik serbuk simplisia bawang dayak (SSBD) dan pengaruh penambahan kombinasi probiotik Bacillus sp. NP5 dan SSBD pada pakan terhadap respons imun dan kelangsungan hidup ikan lele yang diinfeksi A. hydrophila. Lima dosis (0,20, 0,25, 0,30, 0,35, dan 0,40 g/mL) SSBD diuji secara in vitro untuk menilai skor aktivitas prebiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 0,20 g/mL memberikan nilai stimulasi probiotik signifikan (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dosis lainnya. Pada uji in vivo, penelitian menggunakan rancangan acak lengkap terdiri dari lima perlakuan, yaitu simplisia (SSBD, serbuk simplisia bawang dayak 20 g/kg), probiotik (PRO, Bacillus sp. NP5 108 CFU/mL, 1% (v/w), kombinasi (PRO+SSBD), dan kontrol (positif dan negatif). Ikan dipelihara selama 45 hari dan diberi pakan tiga kali sehari. Pada hari ke 46, ikan pada semua perlakuan, kecuali kontrol negatif, di infeksi A. hydrophila dosis 106 CFU/mL secara intramuskular. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi (PRO+SSBD) memberikan total eritrosit, hemoglobin, hematokrit, total leukosit dan aktivitas fagositosis lebih baik dibandingkan probitoik, SSBD, dan kontrol. Kombinasi (PRO+SSBD) mampu menekan total A. hydrophila lebih rendah dibandingkan probiotik, SSBD, dan kontrol. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup ikan lele pada perlakuan kombinasi (PRO+SSBD) signifikan (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan probitoik, SSBD, dan kontrol. Hasil penelitian ini bisa menjadi referensi dan aplikasi yang efektif untuk pencegahan dini infeksi A. hydrophila. Kata kunci: akuakultur, Bacillus sp. NP5, bawang dayak, probiotik, serbuk simplisia
Kidney and liver histopathology of sea bass Lates calcarifer infected with black body syndrome-associated bacteria Nuryati, Sri; Yanti, Mauliza; Rahman; Wahyuwardani , Sutiastuti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.170-178

Abstract

Bacterial isolation was carried out on sea bass Lates calcarifer juvenile with black body syndrome (BBS) and isolates of Pseudomonas stutzeri L01, Vibrio harveyi, Bacillus cereus, Salinicoccus roseus, and Pseudomonas stutzeri L02 were obtained. Microscopic anatomical pathology of each bacterium needs to be done to determine its pathogenicity. This study aims to compare the degree of damage to sea bass juveniles' liver and kidney organs through histopathological observations due to bacterial infections that cause BBS. The degree of histopathological damage was determined by scoring histopathological changes in the tissue under a microscope with a magnification of 40×10 in five fields of view. The data obtained were analyzed using SPSS 24 software and further tested with Kruskal-Wallis and Post Hoc (Mann Whitney). The results showed that fish liver and kidney organs in all treatments experienced necrosis compared to the control treatment, but not significantly different between bacterial infection treatments. Histopathological observations of kidney and liver organs of sea bass juveniles infected with bacteria that cause BBS show necrosis damage that was classified as normal and mild. Keywords: bacteria, histopathology, Lates calcarifer ABSTRAK Isolasi bakteri telah dilakukan pada benih ikan kakap putih yang mengalami black body syndrome (BBS) dan diperoleh isolat bakteri Pseudomonas stutzeri L01, Vibrio harveyi, Bacillus cereus, Salinicoccus roseus, dan Pseudomonas stutzeri L02. Patologi anatomi mikroskopis dari masing-masing bakteri perlu dilakukan untuk mengevaluasi patogenitasnya. Penelitian ini bertujuan membandingkan tingkat kerusakan organ hati dan ginjal benih ikan kakap putih melalui pengamatan histopatologi akibat infeksi bakteri penyebab BBS. Derajat kerusakan histopatologi ditentukan dengan melakukan skoring perubahan histopatologi jaringan di bawah mikroskop dengan perbesaran 40×10 pada lima lapang pandang. Data dianalisis menggunakan software SPSS 24 dan diuji lanjut dengan Kruskal-Wallis dan Post Hoc (Mann Whitney). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa organ hati dan ginjal ikan pada semua perlakuan infeksi mengalami nekrosis dibandingkan dengan perlakuan kontrol, tetapi tidak berbeda nyata antar perlakuan infeksi bakteri. Hasil pengamatan histopatologi organ ginjal dan hati benih ikan kakap putih yang diinfeksi dengan bakteri yang menyebabkan BBS menunjukkan kerusakan nekrosis yang tergolong pada derajat normal dan ringan. Kata kunci: bakteri, histopatologi, kakap putih
The ontogenic study of early life stages of culture-bred Nomorhamphus sp. (Zenarchopteridae) from Lindu, Central Sulawesi Herjayanto, Muh; Carman, Odang; Tri Soelistyowati, Dinar; Alimuddin; Wicaksono, Aryo Wenang; Arfah, Harton
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.179-186

Abstract

Nomorhamphus sp. is a freshwater fish that has been traded as an ornamental fish. This fish is unique as an endemic species with a halfbeak-like jaw and orange color on the caudal fin. However, this fish culture information needs a further information. Based on this condition, it is necessary to conduct a study as a basis for ornamental fish breeding and growing-out activities through domestication. A crucial problem in this fish is larval rearing, which can be observed through ontogeny studies. The study was conducted on the newly-born larval behavior, morphological development, andropodium development, growth, and survival rate at the early stages, namely larvae to juvenile. The results showed that the newly-born larvae of Nomorhamphus sp. Lindu had a total length of 1.6-1.8 cm. Larvae could swim four hours 22 minutes after birth and feed artemia nauplii with surface feeding type. The initial juvenile stage occurred 25 days of post-birth period with a total length of 2.0-2.2 cm. The water condition of the rearing during the study could support the larval transformation to juvenile. This study is the first report related to the aquaculture success of the early life stage of Nomorhamphus sp. Lindu at the domestication stage. Keywords: andropodium, domestication, endemic halfbeak, larva development, surface feeding ABSTRAK Nomorhamphus sp. adalah ikan air tawar yang telah diperdagangkan sebagai ikan hias. Ikan ini memiliki keunikan pada statusnya sebagai spesies endemik, bentuk mulut menyerupai paruh setengah (halfbeak), dan warna oranye pada sirip ekor. Namun informasi budidayanya belum diketahui dengan baik. Karena itu perlu dilakukan kajian sebagai dasar dalam kegiatan pengembangbiakan dan pembesaran sebagai ikan hias melalui domestikasi. Salah satu kegiatan penting dalam budidaya yaitu pemeliharaan larva yang dapat diamati melalui studi ontogeni. Kajian pada studi awal ini dilakukan pada stadia awal hidup yaitu larva sampai juvenil. Pengamatan dilakukan pada tingkah laku larva pascalahir, perkembangan morfologi, perkembangan andropodium, pertumbuhan dan sintasan pada lingkungan budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva Nomorhamphus sp. Lindu yang baru dilahirkan memiliki panjang total 1,6-1,8 cm. Larva telah dapat berenang pada umur empat jam 22 menit pascalahir (pcl) dan bisa makan naupli artemia dengan tipe surface feeding. Stadia awal juvenil terlihat pada umur 25 hari pcl dengan ukuran panjang total 2,0-2,2 cm. Kondisi media pemeliharaan selama penelitian dapat mendukung kehidupan larva sampai juvenil. Penelitian ini merupakan catatan pertama terkait keberhasilan budidaya stadia awal hidup Nomorhamphus sp. Lindu pada tahap domestikasi. Kata kunci: andropodium, domestikasi, ikan endemik, tipe makan permukaan, perkembangan larva
Male sex ratio of red tilapia Oreochromis sp. after soaking in different concentrations of coconut milk at larvae stadia Maulana, Fajar; Sudrajat, Agus Oman; Permana, Andre; Mulyani, Lina; Arfah, Harton
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.187-199

Abstract

Tilapia has sexual dimorphism, based on the size and growth. Male tilapia has a faster growth rate than female tilapia. Masculinization can be carried out to produce monosexual tilapia seeds to accelerate fish growth. As the use of the 17α-methyltestosterone synthetic hormone for masculinization activities has been limited, natural ingredients are required as a substitute, namely coconut milk. This study aimed to determine the effect of different coconut milk concentrations as a phytosteroid material for the masculinization of red tilapia by immersing the larvae to the material. Tilapia fish larvae were immersed in coconut milk for 12 hours and then reared for 60 days at 100 larvae for each rearing container. There were four different treatments, namely control treatment without coconut milk immersion, S3 (3 ml/L coconut milk), S5 (5 ml/L coconut milk), and S7 (7 ml/L coconut milk). The results showed that the 7 ml/L coconut milk treatment increased the male sex ratio and specific growth rate and reduced the feed conversion ratio without a negative impact on the survival rate of red tilapia fry. In this study, the 7 ml/L coconut milk treatment was the best treatment, which produced a male sex ratio of 67.78 ± 4.16%. Keywords: coconut milk, masculinization, monosex, phytosteroids, tilapia ABSTRAK Ikan nila memiliki dimorfisme seksual yang dapat dilihat dari ukuran dan pertumbuhannya. Ikan nila jantan memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat ketimbang ikan nila betina. Maskulinisasi dapat dilakukan untuk menghasilkan benih ikan nila monoseks dengan tujuan mempercepat pertumbuhannya. Penggunaan hormon sintetik 17α-methyltestosteron sudah dibatasi penggunaannya sehingga diperlukan bahan alami pengganti salah satunya santan kelapa untuk kegiatan maskulinisasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh perendaman santan kelapa sebagai fitosteroid untuk maskulinisasi ikan nila merah melalui perendaman larva dengan konsentrasi berbeda. Larva ikan nila direndam santan kelapa selama 12 jam dan selanjutnya dipelihara selama 60 hari dengan kepadatan 100 ekor untuk setiap wadah pemeliharaan. Terdapat empat perlakuan berbeda, kontrol tanpa perendaman santan, S3 (Santan 3 ml/L air), S5 (Santan 5 ml/L air) dan S7 (Santan 7 ml/L air). Hasil penelitian menunjukan perlakuan perendaman santan kelapa 7 ml/L dapat meningkatkan nisbah kelamin jantan dan laju pertumbuhan spesifik, serta menurunkan rasio konversi pakan dan tidak berdampak buruk terhadap nilai tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila merah. Dalam penelitian ini, perlakuan santan 7 ml/L merupakan perlakuan terbaik yakni dapat menghasilkan nisbah kelamin jantan sebesar 67,78 ± 4,16%. Kata kunci: fitosteroid, ikan nila, maskulinisasi, monoseks, santan kelapa
Dietary citral increase growth and health performance of shrimp Penaeus vannamei Hadi Pratama, Ricky; Ekasari, Julie; Suprayudi, Muhammad Agus; Achmad Fauzi, Ichsan; Wiyoto, Wiyoto
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.200-209

Abstract

Phytoadditives have been acknowledged to have some beneficial effects on metabolic processes and health of some aquaculture species. This study aimed to evaluate the effect of dietary citral on carbohydrate utilization, growth and health performance of vannamei shrimp P. vannamei. This study used a completely randomized design (CRD) with four dietary treatments with different citral doses (0, 50, 75, and 100 mg citral/kg feed) in triplicates. Shrimp were reared for 60 days using fiber containers (50×50×80cm) of 30 shrimp/container. The frequency of feeding is given four times a day. Dietary citral supplementation of 100 mg/kg resulted in higher shrimp growth and feed utilization efficiency than those of the control. The level of amylase enzyme, post-prandial blood glucose, muscle, and liver glycogen were higher in the treatments with dietary citral than those of the controls. The shrimp immune response was also higher in the shrimp fed with dietary citral diets as shown by the higher total hemocyte count, respiratory burst, and phenoloxidase activity compared to those of the control. At the same time, antioxidant capacity in the hepatopancreas as indicated by superoxide dismutase and malondialdehyde level were also improved in shrimp with citral treatment. It can be concluded that dietary citral could increase the utilization carbohydrate, growth performance and health of shrimp at a concentration 75 mg/kg. Keywords: citral, carbohydrate, growth, health, P. vannamei ABSTRAK Secara umum telah diketahui bahwa fitoaditif memiliki pengaruh yang menguntungkan pada proses metabolisme dan kesehatan beberapa spesies akuakultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan citral pada pakan terhadap pemanfaatan karbohidrat, kinerja pertumbuhan dan kesehatan udang vanname. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dosis citral yang berbeda (0, 50, 75, dan 100 mg citral/kg pakan) dengan tiga ulangan. Udang vanname dipelihara selama 60 hari menggunakan wadah bak fiber (50×50×80cm) sebanyak 30ekor/wadah. Frekuensi pemberian pakan diberikan sebanyak empat kali sehari. Penambahan citral 100 mg/kg menghasilkan pertumbuhan udang yang lebih tinggi dan efisiensi pemanfaatan pakan dibandingkan kontrol. Tingkat enzim amilase, glukosa hemolim post-prandial, glikogen otot, dan glikogen hati lebih tinggi pada perlakuan penambahan citral dibandingkan kontrol. Respon imun udang juga lebih tinggi pada udang yang diberi penambahan citral seperti yang ditunjukkan oleh jumlah total hemosit, respiratory burst, dan aktivitas fenoloksidase yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Pada saat yang sama, aktivitas antioksidan dalam hepatopankreas udang yang ditunjukkan oleh Superoksida dismutase dan Malondialdehida juga meningkat pada udang dengan perlakuan citral. Dapat disimpulkan bahwa penambahan citral dapat meningkatkan pemanfaatan karbohidrat, pertumbuhan dan kesehatan udang pada konsentrasi 75. Kata kunci: citral, karbohidrat, kesehatan, pertumbuhan, udang vaname
Characteristics of seaweed caraginan Kappaphycus alvarezii on cultivation system with different seed weight Rasnijal, Muhammad; Kurniaji, Ardana; Anton, Anton; Budiyati, Budiyati; Putri Renitasari, Diana; Suhermanto, Achmad; Mulyono, Mugi; Djunaidah, Iin Siti; Rahardjo, Sinung; Sektiana, Sinar Pagi; Ridwan, Ridwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.23.1.71-78

Abstract

Seaweed (Kappaphycus alvarezii) could be a source of carrageenan needed for industrial sector. The purpose of this study to analyze the characteristics of carrageenan seaweed cultivated with bag and non-bag cultivation systems and different seed weights. The research was conducted in the waters of Bone Bay and the Laboratory of the Indonesian Center for Brackish Water Cultivation and Fisheries Extension in Maros. This study used a factorial completely randomized design (CRD) consisting of factor A (using bags and non-bags), and factor B (seed weight 15, 50, 75, 100, and 125 g). The results showed that the cultivation method factor, seed weight factor, and their interaction had an effect on carrageenan yield, gel strength, ash content and water content (P <0.05). Different cultivation systems with different initial seed weight combinations showed different best results for each parameter. The highest value of yield of carrageenan was observed in the bag culture system with a seed weight of 100 g, namely 29.18 ± 1.10%. The highest value of gel strength was observed in the non-bagged cultivation system with a seed weight of 75 g, namely 1344.69 ± 18.43 g/cm2. The highest value of ash content was found in the non-bagged cultivation system with 125 g of seed weight, namely 30.02 ± 0.13%. The highest value of water content was found in the bag culture system at a seed weight of 15 g, namely 38.63 ± 0.26%. Different cultivation methods and seed weight resulted in other carrageenan characteristics of seaweed for each parameter. Keywords: gel strength, ash content, moisture content, yield ABSTRAK Rumput laut (Kappaphycus alvarezii) memiliki potensi sebagai sumber karaginan yang banyak dibutuhkan untuk bidang industri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik karaginan rumput laut yang dibudidayakan dengan sistem budidaya kantong dan non kantong serta berat bibit yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di perairan Teluk Bone dan Laboratorium Balai Riset Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Peikanan Maros. Percobaan penelitian dilakukan melalui rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri faktor A (memakai kantong dan non kantong), faktor B (berat bibit 15, 50, 75, 100, dan 125 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor metode budidaya, berat bibit dan interaksi keduanya berpengaruh terhadap rendeman karaginan, kekuatan gel, kadar air, kadar abu (P<0,05). Penggunaan sistem budidaya yang berbeda dengan kombinasi berat awal bibit berbeda menunjukkan hasil terbaik yang tidak sama pada tiap parameter. Nilai tertinggi rendeman keraginan teramati pada sistem budidaya kantong dengan berat bibit 100 g yakni 29,18 ± 1,10 %. Nilai tertinggi kekuatan gel teramati pada sistem budidaya non kantong dengan berat bibit 50 g yaitu 1344,69 ± 18,43 g/cm2. Nilai kadar abu tertinggi pada sistem budidaya non kantong dengan berat bibit 125 g yaitu 30,02 ± 0,13%. Nilai kadar air tertinggi pada sistem budidaya kantong dengan berat bibit 15 g yaitu 38,63 ± 0,26 %. Penggunaan metode budidaya dan berat bibit yang berbeda menghasilkan karakteristik karaginan rumput laut yang berbeda pada tiap parameter. Kata kunci: kekuatan gel, kadar abu, kadar air, rendemen
Study of water quality in ex-mining pits for fish cultivation in Gunung Mas regency, Central Kalimantan Inel, Lukas; Minggawati, Infa; Serezova Augusta, Tania; Agustinus, Frid; Wirada, Fenky
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.23.1.113-121

Abstract

Ex-mining pit is a wide expanse, often becomes a problem, especially for the environment. Lack of information about the use of mining pits for fishing activities, especially for the studies on the quality of mining pits to support the growth of cultivated fish. This research was conducted in the village of Tanjung Riu, Gunung Mas Regency, Central Kalimantan Province, using two ex-mining ponds belonging to the community. The results show that the water quality for both mine pits with water parameters for: dissolved oxygen (DO) on average 6.09 mg/l – 7.45 mg/l, pH 2.94 – 3.54, Biological Oxygen Demand (BOD) 4.78 mg/L, temperature 30 -32 oC, turbidity 51.7-53.5 NTU, value of Total Dissolved Solids (TDS) 0.003 – 0.017 gr/L, mercury (Hg) content of 0.000247 mg/l - 0.000359 mg/l, the depth of the pool is 1.7 m – 2.74 m. The abundance of plankton is between 869 - 1106 cells/L, and abundance of benthos is between 264 - 352 ind/m2. The range of pond water quality based on second-class national water quality standards, which is suitable for fish cultivation with moderate abundance of plankton.
The effectiveness of galangal Alpinia galanga extract for the treatment of sangkuriang catfish Clarias gariepinus infected Aeromonas hydrophila Andriani, Yuli; Setyo Wati, Desy; Zidni, Irfan; Grandiosa Herman, Roffi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.23.1.44-55

Abstract

The purpose of this research is to find out the optimal dose of galangal extract to treatment of Sangkuriang catfish infected with Aeromonas hydrophila, the fish fry used are 5-7 cm in size. October-November 2022 was the research was carried out by an experimental method using a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replications. The treatment used was immersing with galangal extract for 24 hours with doses of 0 mg/L (A), 250 mg/L (B), 500 mg/L (C) and 750 mg/L (D). Maintenance of test fish for 14 days. Aeromonas hydrophila bacteria are used to infect fish with a density of 108 CFU/ml by immersing 10 ml in 10 liters of water. Clinical symptoms of infection, clinical symptoms of recovery period, survival rate and water quality were used as parameters in this research. The results showed that the use of galangal extract for treatment of Sangkuriang catfish fry infected with Aeromonas hydrophila by immersion method for 24 hours at a concentration of 500 mg/L was the best treatment with the survival rate of 90%. Keywords: Aeromonas hydrophila, Sangkuriang catfish fry, galangal extract ABSTRAK Riset ini bertujuan untuk menentukan dosis optimum ekstrak lengkuas untuk mengobati ikan lele sangkuriang yang terinfeksi Aeromonas hydrophila, benih ikan yang digunakan berukuran 5-7 cm. Oktober-November 2022 adalah waktu penelitian dilaksanakan. Metode eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang menggunakan empat perlakuan serta tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah perendaman dengan ekstrak lengkuas selama 24 jam dengan dosis masing-masing 0 mg/L (A), 250 mg/L (B), 500 mg/L (C) dan 750 mg/L (D). Pemeliharaan ikan uji selama 14 hari. Bakteri Aeromonas hydrophila digunakan untuk menginfeksi ikan dengan kepadatan 108 CFU/ml dengan cara merendam 10 ml dalam 10 liter air. Parameter yang diamati meliputi gejala klinis penginfeksian, gejala klinis masa pemulihan, kelangsungan hidup dan kualitas air. Hasil riset menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak lengkuas untuk mengobati benih ikan lele sangkuriang yang terinfeksi Aeromonas hydrophila dengan metode perendaman selama 24 jam pada konsentrasi 500 mg/L merupakan perlakuan terbaik dengan kelangsungan hidup sebesar 90%. Kata kunci: Aeromonas hydrophila, benih ikan lele sangkuriang, ekstrak lengkuas

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue