cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
The growth performance and physiological status of comet goldfish Carassius auratus in aquascape with different aquatic plant species Indriani, Rafiatun; Hadiroseyani, Yani; Diatin, Iis; Nugraha, Media Fitri Isma
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.36-46

Abstract

This study aimed to evaluate the growth performance and physiological status of comet goldfish (Carassius auratus) in aquascape with different aquatic plant species. Comet goldfish with average size of 6.5 ± 0.1 cm length and 9.1 ± 0.1 g weight were reared in aquascape aquarium at density of 10 fish/L for 45 days. The result of this study obtained a positive correlation between survival value and specific growth rate of the fish, followed by a significant difference value among the aquatic plant treatments compared to without aquatic plant treatments. Based on the total chromatophore cells, comet goldfish that reared in aquarium containing aquatic plants higher number of the total chromatophore cells compared to aquarium without aquatic plants. After blood glucose test, comet goldfish that reared with aquatic plants consistently showed a lower blood glucose level than without aquatic plants. The liver superoxide dismutase level of comet goldfish obtained a significant difference value between fish reared with aquatic plants and without aquatic plants, while the malondialdehyde value of all treatments was insignificantly difference. Also, the increased of total erythrocytes, total leucocytes, hemoglobin, and hematocrit were found on comet goldfish reared with aquatic plants. This study concluded that aquatic plants in rearing system can improve the survival rate, specific growth rate, and health status of comet goldfish due to mutualistic symbiosis discovered between fish and aquatic plants. Keywords: blood glucose, chromatophore cells, phytoremediation, specific growth rate, superoxide dismutase ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa pertumbuhan dan status fisiologis ikan mas komet (Carassius auratus) dalam akuaskap dengan spesies tanaman air yang berbeda. Ikan mas komet dengan ukuran rata-rata panjang 6,5 ± 0,1 cm dan berat rata-rata 9,1 ± 0,1 g dipelihara dalam akuarium akuaskap dengan kepadatan 10 ekor/L selama 45 hari. Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi positif antara nilai kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan spesifik ikan, dengan perbedaan nilai yang signifikan antara perlakuan tanaman air dibandingkan dengan tanpa perlakuan tanaman air. Berdasarkan jumlah sel kromatofor, ikan mas komet yang dipelihara dalam akuarium yang berisi tanaman air memiliki jumlah total sel kromatofor yang lebih tinggi dibandingkan dengan akuarium tanpa tanaman air. Setelah dilakukan pemeriksaan glukosa darah, ikan mas komet yang dipelihara dengan tanaman air secara konsisten menunjukkan kadar glukosa darah yang lebih rendah dibandingkan tanpa tanaman air. Kadar suproksida dismutase hati ikan mas komet diperoleh nilai perbedaan yang nyata antara ikan yang dipelihara dengan tanaman air dan tanpa tanaman air, sedangkan nilai malondialdehida pada semua perlakuan tidak berbeda nyata. Peningkatan total eritrosit, total leukosit, hemoglobin, dan hematokrit juga ditemukan pada ikan mas komet yang dipelihara dengan tanaman air. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tanaman air dalam sistem pemeliharaan dapat meningkatkan kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, dan status kesehatan ikan mas komet karena adanya simbiosis mutualistik yang ditemukan antara ikan dan tanaman air. Kata kunci: dismutase superoksida, fitoremediasi, glukosa darah, laju pertumbuhan spesifik, sel kromatofor
Effect of stocking density on growth performance of African catfish Clarias gariepinus and water spinach Ipomoea aquatica in aquaponics systems with the addition of AB mix nutrient Wiyoto, Wiyoto; Siskandar, Ridwan; Dewi, Ratih Kemala; Lesmanawati, Wida; Mulya, Muhammad Arif; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.47-54

Abstract

Aquaponics is the cultivation of fish and plants in a series of systems, either in one container or in separate containers, by paying attention to the balance between fish, plants, and aquatic microorganisms. One of the obstacles in aquaponic activities is that vegetable growth is not optimal due to a lack of dissolved nutrients, so further research is needed to make better plant growth. This study aimed to evaluate catfish and water spinach growth performance in an aquaponic system by adding AB mix nutrients at different fish stocking densities. This study used a completely randomized design with three differences in stocking densities of catfish (150 fish/m3, 200 fish/m3, and 250 fish/m3) as test animals with four replications where AB mix was added to each treatment. The growth performance of catfish is better in control with a stocking density of 250 fish/m3 and without adding nutrients. The growth performance of catfish decreased with the addition of AB mix nutrients, while the growth of water spinach was better. The growth rate of catfish without adding AB mix nutrients was higher than in other treatments. In contrast, all treatments with the addition of AB mix increased the growth performance of water spinach, with the stocking density of catfish not affecting the growth of water spinach plants. Keywords: aquaponics, water spinach, catfish, growth ABSTRAK Akuaponik merupakan budidaya ikan dan tanaman dalam satu rangkaian sistem, baik dalam satu wadah maupun dalam wadah terpisah dengan memperhatikan keseimbangan antara ikan, tanaman dan mikroorganisme perairan. Salah satu kendala sistem akuaponik adalah pertumbuhan sayuran yang tidak optimal karena kurangnya nutrisi terlarut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi performa pertumbuhan lele dan kangkung dalam sistem akuaponik dengan penambahan nutrisi AB mix dan pada padat tebar ikan yang berbeda. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perbedaan padat tebar ikan lele (150 ekor/m3, 200 ekor/m3, dan 250 ekor/m3) sebagai hewan uji sebanyak empat ulangan di mana nutrien AB mix ditambahkan disetiap perlakuan. Kinerja pertumbuhan ikan lele lebih baik pada perlakuan kontrol dengan padat tebar 250 ekor/m3 dan tanpa penambahan nutrisi AB mix. Performa pertumbuhan ikan lele menurun dengan adanya penambahan nutrisi AB mix, sedangkan pertumbuhan tanaman kangkung lebih baik. Laju pertumbuhan ikan lele dengan tanpa penambahan nutrisi AB mix lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, sedangkan semua perlakuan dengan penambahan AB mix meningkatkan performa pertumbuhan tanaman kangkung dengan jumlah padat tebar ikan lele tidak berpengaruh pada pertumbuhan tanaman kangkung. Kata kunci: akuaponik, kangkung, lele, pertumbuhan
Dietary selenium peptide supplementation for increasing the growth of African catfish Clarias gariepinus Muhammad Agus Suprayudi; Muhammad Roikhan Amanullah; Dedi Jusadi; Hasan Nasrullah; Ahmad Yazid Latif
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.80-86

Abstract

Selenium is an essential micromineral that the body needs in modest amounts (0.2–12 mg/kg), yet it has important effects on the antioxidant defense, immune system, and digestive performance of aquatic species. This study aimed to analyze the growth of catfish (Clarias gariepinus) supplemented with feed additives containing selenium peptide through the coating method on feed. There were four different treatments, namely K (feed without feed additive), and feed with additive supplementation: A (3 g/kg feed), B (6 g/kg feed), and C (9 g/kg feed). A total of 15 catfish at an initial weight of 21.80 ± 0.29 g were reared in a 90×40×45 cm3 aquarium filled with water at a volume of 108 L, for 45 days. Fish were fed three times a day at satiation. Water quality management was carried out by the use of simple filtration in the container and water replacement to ensure optimum water quality values for catfish growth. The results showed that the final biomass of catfish fed with selenium peptide was significantly different (p<0.05) from catfish fed without selenium peptide, with a value of 1147,50 g and 96,67% of survival rate. Based on this study, the best dose of feed additive in catfish feed was 3 g/kg of feed. Keywords: Clarias gariepinus, growth, selenium peptide ABSTRAK Selenium adalah mikromineral esensial yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah sedikit (0,2–12 mg/kg), akan tetapi sangat berperan dalam sistem anti-oksidatif, imunitas, dan kinerja pencernaan pada organisme akuatik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertumbuhan ikan lele (Clarias gariepinus) yang ditambahkan dengan feed additive mengandung selenium peptida melalui metode coating pada pakan. Terdapat empat perlakuan berbeda, yaitu K (pakan tanpa selenium peptida), dan pakan dengan suplementasi feed additive: A (3 g/kg pakan), B (6 g/kg pakan), dan C (9 g/kg pakan). Ikan lele ukuran 21,80 ± 0,29 g sebanyak 15 ekor dipelihara dalam akuarium berukuran 90×40×45 cm3 dengan total volume air 108 L, selama 45 hari. Ikan diberi pakan tiga kali sehari secara at satiation. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan filtrasi sederhana serta penggantian air untuk memastikan kualitas air optimal untuk pertumbuhan ikan lele. Hasil penelitian menunjukkan biomassa akhir ikan lele dengan suplementasi selenium peptida pada pakan berbeda nyata (p<0,05) dibandingkan dengan kontrol dengan nilai bobot sebesar 1147,50 g dan kelangsungan hidup 96,67%. Berdasarkan penelitian ini, dosis terbaik feed additive yang mengandung selenium peptida adalah 3 g/kg pakan pada ikan lele. Kata kunci: Clarias gariepinus, pertumbuhan, selenium peptida
Nursery of bonylip barb fish Osteochilus hasselti in an aquaponics system Hadiroseyani, Yani; Diatin, Iis; Faozar, Miftah Fajri; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.55-65

Abstract

Bonylip barb fish Osteochilus hasselti is traditionally cultivated as a by-product in a polyculture system due to the problem of seed availability. The increase in local market demand for O. hasselti has not been met due to the low productivity of the growers. In an effort to increase the availability of fish seeds, intensification at the nursery stage has the potential to be effective in overcoming the limitations of land and water for cultivation. The aquaponic system can maximize yields through vertical use of space and also overcome water limitations with a recirculation system. This study aimed to evaluate the effectiveness of the aquaponics system on the intensification of O. hasselti nursery. The treatment tested was the stocking density of O. hasselti at an initial length of 4.28 ± 0.52 cm and a weight of 0.73 ± 0.29 g as many as 100 ind./m2, 150 ind./m2, and 200 ind./m2 in an aquaponic system with bok choy plants (Brassica rapa subsp. chinensis). Bonylip barb fish nursery for 30 days using aquaponic system showed that the treatment resulted in maximum survival with absolute length growth, feed conversion ratio, coefficient of variation in length and weight which were not significantly different (P>0.05). At densities above 100 ind./m2, the absolute weight growth value and the specific growth rate were higher. Overall, it can be concluded that the aquaponics system can be used for O. hasselti nursery at high stocking densities with the best production performance at a stocking density of 200 ind./m2. Keywords: fish density, growth, intensification, pak choi ABSTRAK Ikan nilem Osteochilus hasselti dibudidayakan secara tradisional sebagai produk sampingan dalam sistem polikultur karena masalah ketersediaan benih. Peningkatan permintaan pasar lokal terhadap nilem belum dapat dipenuhi karena rendahnya produktivitas pembesaran. Dalam upaya meningkatkan ketersediaan benih ikan, intensifikasi pada tahap pendederan berpotensi efektif mengatasi keterbatasan lahan dan air untuk budidaya. Perkembangan teknologi budidaya dengan sistem akuaponik dapat memaksimalkan hasil melalui pemanfaatan ruang secara vertikal dan mengatasi keterbatasan air dengan sistem resirkulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas sistem akuaponik terhadap intensifikasi pendederan ikan nilem. Perlakuan yang diuji adalah padat tebar ikan nilem dengan panjang 4,28 ± 0,52 cm dan bobot 0,73 ± 0,29 g sebanyak 100 ekor/m2, 150 ekor/m2, dan 200 ekor/m2 pada sistem akuaponik dengan tanaman pak choi Brassica rapa subsp. chinensis. Pendederan nilem selama 30 hari dalam sistem akuaponik memperlihatkan bahwa perlakuan menghasilkan kelangsungan hidup serta panjang dan bobot yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Pada kepadatan di atas 100 ekor/m2 diperoleh nilai pertumbuhan bobot mutlak dan laju pertumbuhan spesifik yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa sistem akuaponik dapat digunakan untuk pendederan ikan nilem pada padat tebar yang tinggi dengan kinerja produksi terbaik pada padat tebar 200 ekor/m2. Kata kunci: padat tebar, pertumbuhan, intensifikasi, pak choi
The production performance of Nile tilapia Oreochromis niloticus and mineral balance in aquaponic, biofloc, and aquabioponic culture systems Radi Ihlas Albani; Budiardi, Tatag; Yani Hadiroseyani; Julie Ekasari
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.66-79

Abstract

Aquaponics and biofloc are aquaculture techniques for reducing nitrogenous waste with less water exchange. Aquaponics reduces nitrate (NO3-) through the role of vegetable plants, while biofloc assimilates ammonia (NH4+) through the role of floc-forming bacteria. In this study a collaboration was designed between aquaponics and biofloc called aquabioponics. This study was conducted to evaluate the performance of tilapia production, as well as to observe the dynamics of P, K, Ca, Mg, Fe, Mn, Zn, and Cu minerals formed in the system. This study used a completely randomized design with three treatments and three replications, namely aquaponics (AP), biofloc (BF), and aquabioponics (AB). The AP integrates water in fish tank with vegetable, and does not use additional organic carbon sources. BF uses the addition of an organic carbon source, but does not integrate vegetables. Meanwhile, AB uses the addition of an organic carbon source (half of the dose in BF) and also integrates vegetables. Nile tilapia Oreochromis niloticus with a length of 5.56 ± 0.13 cm and a weight of 5.92 ± 0.47 g totaling 200 individuals were monitored for 60 days in a fiber tank containing 500 L of water in each treatment. The vegetables used in the AP and AB are Pok Choi which is harvested every 30 days. In this study, aquabioponics is a system that produces the best tilapia production performance. The minerals Ca, Mg, Mn, Zn, and Cu are thought to be essential in aquaponics and aquabioponics, while Mg is thought to be essential in bioflocs. Keywords: aquaponic, aquabioponic, biofloc, minerals, Nile tilapia ABSTRAK Akuaponik dan bioflok adalah teknik akuakultur untuk mereduksi limbah nitrogen dengan sedikit pertukaran air. Akuaponik mereduksi nitrat (NO3-) melalui peran tanaman sayuran, sedangkan bioflok mengasimilasi amonia (NH4+) melalui peran bakteri pembentuk flok. Penelitian ini merancang kolaborasi antara akuaponik dan bioflok yang disebut akuabioponik. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi kinerja produksi ikan nila, serta mengamati dinamika mineral P, K, Ca, Mg, Fe, Mn, Zn, dan Cu yang terbentuk di dalam sistem. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan, yaitu akuaponik (AP), bioflok (BF), dan akuabioponik (AB). AP mengintegrasikan air pemeliharaan ikan dengan penanaman sayur, dan tidak menggunakan penambahan sumber karbon organik. BF menggunakan penambahan sumber karbon organik, namun tidak menggintegrasikan sayuran. AB menggunakan penambahan sumber karbon organik (setengah dari dosis pada BF) dan juga mengintegrasikan sayuran. Ikan nila Oreochromis niloticus dengan panjang 5.56±0.13 cm dan bobot 5.92 ± 0.47 g sebanyak 200 ekor dipelihara selama 60 hari pada bak fiber berisi 500 L air di setiap perlakuan. Sayuran pada AP dan AB adalah Pok Choi yang dipanen setiap 30 hari. Pada penelitian ini, akuabioponik merupakan sistem yang menghasilkan kinerja produksi ikan nila terbaik. Mineral Ca, Mg, Mn, Zn, dan Cu diduga esensial pada akuaponik dan akuabioponik, sedangkan pada bioflok mineral yang diduga esensial adalah Mg. Kata kunci: akuaponik, akuabioponik, bioflok, ikan nila, mineral
Mini-review: Utilization of Vibrio parahaemolyticus virulence coding genes for early detection of acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) Yuhana, Munti; Afiff, Usamah
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.87-96

Abstract

The ability to track the presence of pathogenic Vibrio parahaemolyticus, an AHPND causative agent in shrimp is one of the keys to controlling this infectious disease. A reputable disease diagnosis is appreciated as the ability to track the pathogenic infection when the host abnormality is undetectable due to the low pathogenic cell concentration. This mini-review article discusses the selected virulence encoding genes as molecular markers and the steps of standard validation methods in the application for early detection of AHPND disease. The proper diagnosis method is crucial to prevent the spread of Vibriosis AHPND which significantly results in economic losses for shrimp farmers. In this early warning system, we need a molecular method available for quick detection by applying the tracking tools that can discriminate pathogenic V. parahaemolyticus AHPND strain. Several types of potential genes that can be developed into tracking devices for infectious Vibriosis are pathogenic genes encoding the virulence factor. Through several stages of testing the selected virulence encoding genes will be developed into molecular markers. The polymerase chain reaction method and several of its variants have been widely applied using selected molecular markers. Furthermore, the use of molecular markers for the diagnosis of AHPND disease in shrimp must be validated by determining aspects of sensitivity, detection specificity, repeatability consistency, and reproducibility Keywords: virulence-encoding gene, Vibrio parahaemolyticus, AHPND, diagnose, molecular marker ABSTRAK Kemampuan melacak keberadaan patogen Vibrio parahaemolyticus, agen penyebab AHPND pada udang adalah salah satu kunci untuk mengendalikan penyakit menular ini. Diagnosis penyakit yang memiliki reputasi baik akan dihargai karena mampu untuk melacak infeksi patogen ketika tanda-tanda abnormalitas pada inang belum terdeteksi karena konsentrasi sel patogen yang masih rendah. Makalah mini-review ini membahas tentang tahap-tahap metode validasi standardalam aplikasi gen penyandi virulensi terseleksi untuk deteksi dini penyakit AHPND. Metode diagnosis yang tepat sangat penting untuk mencegah penyebaran Vibriosis AHPND yang secara signifikan mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petambak udang. Dalam sistem peringatan dini ini, diperlukan metode molekular yang tersedia untuk deteksi cepat dengan menerapkan alat pelacak yang mampu membedakan patogen V. parahaemolyticus strain AHPND. Beberapa jenis gen potensial yang dapat dikembangkan menjadi alat pelacak penyakit Vibriosis menular adalah gen patogen yang mengkodekan faktor virulensi. Beberapa tahapan pengujian harus dilakukan untuk menjadikan gen penyandi virulensi terpilih sebagai kandidat yang akan dikembangkan menjadi penanda molekular. Metode polymerase chain reaction dan beberapa variannya telah banyak diterapkan dengan menggunakan penanda molekular terseleksi. Selanjutnya pemanfaatan penanda molekular untuk diagnosis penyakit AHPND pada udang harus dilakukan validasi dengan menentukan aspek sensitivitas, spesifisitas deteksi, konsistensi pengulangan, dan reprodusibilitas Kata Kunci: gen penyandi virulensi, Vibrio parahaemolyticus, AHPND, diagnosis, penanda molekuler
Pathogenicity test bacteria from Oreochromis niloticus and Clarias gariepinus aquaculture ponds Hardi, Esti Handayani; Halim, Aldi M.; Nugroho, Rudy Agung; Mawardi, Mira; Isnansetyo, Alim; Mariana Lusiastuti, Angela; Rahayu, Widianingsih; Niklani, Andi; Saptiani, Gina
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.97-105

Abstract

Present research aimed to examine the pathogenicity opportunities of some bacteria which were isolated from freshwater aquaculture ponds to some fish Oreochromis niloticus, Clarias gariepinus, and Pangasius pangasius. The bacteria were isolated from the water and feces of O. niloticus and C. gariepinus aquaculture in Samarinda, which were identified as Escherichia coli, Enterobacter cloacae, and Enterobacter amnigenus. An 0.1 mL-1 of each bacteria was intramuscular injection and evaluated the clinical signs, eksternal pathology, and fish mortality. The freshwater fish using in this research were Oreochromis niloticus, Clarias gariepinus, and Pangasius pangasius with size 10-15 g from Loa Kulu, Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan, Indonesia. The result showed that each bacteria caused mortality in fish: E. coli bacteria caused fish mortality 23.33-66.67%; E. cloacae 10.00 to 90.00%; and E. amnigenus by 3.33-56.67%. The average death time of E. coli and E. amnigenus in all three fish were under 48 hours, while E. cloacae caused mortality less than 48 hours in C. gariepinus and P. pangasius. In conclusion, E. coli, E. cloacae, and E. amnigenus are putative pathogenic bacterium in O. niloticus, C. gariepinus, and P. pangasius.
The health status of hybrid grouper Epinephelus fuscoguttatus (♀) x E.lanceolatus (♂) cultured in floating-net cage at Kelapa Dua Island, Seribu Islands, Indonesia Ratu Borut, Ruku; Sukenda; Sri Nuryati; kukuh Nirmala; Irzal Effendi; Widanarni
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.106-114

Abstract

This study aimed to identify the fish health status, based on the total erythrocytes (cells/mm3), total leukocytes (cells/mm3), hemoglobin level (g %), hematocrit, and histopathological profiles. This study was performed on February, 2021 – January, 2022. The study was located in floating-net cage of Kelapa Dua Island, Seribu Islands, Jakarta, Indonesia. Sampling was performed by a purposive-sampling method, environmental parameter measurements, containing temperature and salinity, clinical symptom observation in fish, total erythrocytes, leukocytes, hemoglobin, hematocrit, histopathological profiles of hybrid grouper liver and kidney, and existence of VNN virus. The observation results present the behavior changes in sick fish, namely whirling on the net cage surface, dead-sleeping or death-like condition below the net cage. Hybrid grouper has total erythrocytes of 1.36 x 106 – 5.13 x 106 cells/mm3, total leukocytes of 2.9 x 104 – 7.9 x 104 cells/mm3, hemoglobin level of 5.56 - 10.94 g %, and hematocrit of 13.31 - 24.78 %. From the histopathological observation, hepatocyte, necrosis, vacuolysis was occurred in liver and tubular, leukocyte infiltasi, nicrosis was occurred in kidney and with the highest prevalence of VNN at 20 – 80 %. Therefore, hybrid grouper is sick due to increased number of leukocytes at 5.13 x 106 cells/mm3 above the normal range, followed by decreased hemoglobin and hematocrit levels at 5.56 - 10.94 g % and 13.31 - 24.78 %, respectively, due to organ damage. Keyword: must be written in not more than 5 words and alphabeticaly listed ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kesehatan ikan meliputi total eritrosit (sel/mm3), total leukosit (sel/mm3), kadar hemoglobin (gram %) dan hematokrit (%) dan gambaran histopatolgi. Penelitian ini dilaksanakan pada periode bulan Februari 2021 hingga Januari 2022. Lokasi penelitian pada keramba jaring apung (KJA) di Pulau Kelapa Dua Kepulauan Seribu. Metode pengambilan sampel ikan dilakukan secara purposive sampling, pengukuran parameter lingkungan perairan yaitu suhu dan salinitas, pengamatan gajala klinis ikan, perhitungan jumlah eritrosit, leukosit, kadar hemoglobin dan hematokrit serta gambaran histopatologi pada organ hati dan ginjal ikan kerapu cantang dan keberadaan virus VNN. Hasil pengamatan menunjukkan perubahan tingkah laku ikan sakit yaitu berputar ke atas permukaan KJA, terjadi sleeping dead atau ikan berada di dasar seperti mati. Ikan kerapu cantang memiliki jumlah eritrosit 1.36 x 106 – 5.13 x 106 sel/mm3, leukosit 2.9 x 104 – 7.9 x 104 sel/mm3, hemoglobin 5.56 - 10.94 gr %, dan hematokrit 13.31 - 24.78 %, hasil histopalogi ikan mengalami perubahan sel pada hati yaitu hepatosit, vakuolisasi, nekrosis dan ginjal mengalami perubahan infiltrasi leukosit, nicrosis, tubulus dan kehadiran virus VNN tertinggi berkisar 20 % - 80 %. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ikan kerapu cantang yang sakit karena jumlah leukosit meningkat 5.13 x 106 sel/mm3 melebihi kisaran normal, kadar hemoglobin menurun 5.56 - 10.94 % dan kadar hematokrit 13.31 - 24.78 % rendah dan terjadi kerusakan jaringan pada organ dalam ikan. Kata kunci: Ikan Kerapu Cantang, Hematology, Histopatologi, Parameter Fisika dan Kimia
Development of a real-time duplex PCR assay for simultaneously diagnosis of KHV and CEV in common carp and koi Khumaira Puspasari; Adityawati Fajar Rini; Noviana Dewi; Ratih Ismayasari
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.115-125

Abstract

Koi herpesvirus (KHV) and carp edema virus (CEV) are potential risks for the koi trade and for global common carp aquaculture. Due to the severe impact of both viruses, a robust diagnostic tool was required, capable of detecting and distinguishing both infections with high accuracy and precision. The aim of this study was to describe a real-time duplex TaqMan PCR assay for simultaneous detection of KHV and CEV in common carp and koi. Two pairs of primers with two TaqMan probes were used to amplify specific and conserved regions of KHV and CEV DNA. This assay was confirmed to be sensitive and specific. Limit of detections of the assay were 15 DNA copies/µL for KHV and 150 DNA copies/µL for CEV, respectively. This assay was able to identify and distinguish CEV and KHV, but was unable to identify other pathogens and sample matrices. For clinical validation, 18 KHV and CEV positive samples each, as well as 12 negative samples were tested with three different test methods, i.e., real-time duplex PCR, real-time simplex PCR, and conventional PCR. All three tests provide optimal conformity of results. The results showed that real-time duplex PCR was able to detect the presence and distinguish each pathogen in infected fish. This real-time duplex PCR assay is a rapid, sensitive, and specific test for detecting KHV and CEV in carp fish, thus it can be considered a valid alternative assay in aquaculture clinical laboratories. Keywords: Cyprinus carpio, CEV, diagnostic, KHV, real-time duplex PCR ABSTRAK Koi herpesvirus (KHV) dan carp edema virus (CEV) merupakan risiko potensial untuk perdagangan koi dan budidaya ikan mas global. Karena dampak dari keduanya yang parah, maka diperlukan perangkat diagnostik yang tangguh, yang mampu mendeteksi dan membedakan keduanya dengan akurasi dan presisi yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah menjabarkan pengujian real time TaqMan PCR dupleks untuk mendeteksi KHV dan CEV pada ikan mas dan koi secara simultan dalam satu reaksi. Dua pasang primer dengan dua TaqMan probe digunakan untuk mengamplifikasi wilayah spesifik dan lestari dari DNA KHV dan CEV. Pengujian ini terbukti sensitif dan spesifik. Sensitivitas dari pengujian ini adalah 15 kopi DNA/µL untuk KHV dan 150 kopi DNA/µL untuk CEV. Pengujian ini mampu mengidentifikasi dan membedakan CEV dan KHV, tetapi tidak dapat mengidentifikasi patogen lain dan matriks sampel. Untuk validasi klinis, masing-masing 18 sampel positif KHV dan CEV, serta 12 sampel negatif diuji dengan tiga metode pengujian yang berbeda, yaitu real-time PCR dupleks, real-time PCR tunggal dan PCR konvensional. Ketiga pengujian tersebut memberikan kesesuaian hasil yang optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa real-time PCR dupleks mampu mendeteksi keberadaan dan membedakan setiap patogen pada ikan yang terinfeksi. Uji real-time PCR dupleks ini merupakan pengujian yang cepat, sensitif, dan spesifik untuk mendeteksi KHV dan CEV pada ikan koi dan mas, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai pengujian alternatif yang valid di laboratorium klinis akuakultur. Kata kunci: Cyprinus carpio, CEV, diagnostik, KHV, real-time PCR dupleks
Production and business performance of Anguilla bicolor fingerlings in a recirculation system with different stocking densities Budiardi, Tatag; Diatin, Iis; Arlita, Kriswidya; Vinasyiam, Apriana; Sudrajat, Agus Oman; Setiawati, Mia; Affandi, Ridwan; Kamal, Mohammad Mukhlis; Wahju, Ronny Irawan; Nurilmala, Mala
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.156-169

Abstract

Eel (Anguilla bicolor) in the grow-out culture requires good fingerling seeds. Increasing the eel productivity can be done by increasing the stocking density, that should be balanced with good environmental and feed management. This study aimed to analyze the production and business performance of fingerlings in a recirculation system to increase the eel survival and growth rate. The study used a completely randomized design with three different stocking densities, namely 4 g/L (A), 5 g/L (B), and 6 g/L (C). The average weight of each fingerling was 20 ± 4.09 g, that was kept in a 1.5-m3 pond with a recirculation system. Feeding was performed two times a day using commercial feed with probiotic supplementation. The results showed that different stocking densities significantly affected feed conversion ratio, total biomass weight, and coefficient of variance. However, different stocking densities had no significant effect on survival rate, absolute weight growth rate, specific weight growth rate, and condition factor. The C treatment obtained the highest profit with an R/C ratio of 1.20 ± 0.03. The best production and cultivation performance of eel fingerling in a recirculation system with different stocking densities is found in treatment C (6 g/L). Keywords: Anguilla bicolor, business performance, production performance, recirculation system, stocking density ABSTRAK Budidaya ikan sidat (Anguilla bicolor) pada segmen pembesaran memerlukan benih yang baik khususnya untuk benih fingerling. Upaya peningkatan produksi benih ikan sidat dapat dilakukan dengan peningkatan padat tebar yang diiringi dengan manajemen lingkungan dan pakan yang baik. Tujuan penelitian ini menganalisis kinerja produksi dan kinerja usaha pada pemeliharaan fingerling dalam sistem resirkulasi sehingga meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas 3 perlakuan padat tebar dengan tiga ulangan, yaitu padat tebar 4 g/L (A), 5 g/L (B), dan 6 g/L (C). Fingerling ikan sidat yang digunakan berbobot awal 20 ± 4,09 g/ekor, yang dipelihara dalam bak 1,5 m3 dengan sistem resirkulasi. Pakan diberikan dua kali sehari berupa pakan buatan komersial yang diberi probiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar berpengaruh nyata terhadap parameter rasio konversi pakan, laju pertumbuhan mutlak biomassa, dan koefisien keragaman bobot tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan mutlak bobot, laju pertumbuhan spesifik bobot, dan faktor kondisi. Hasil analisis kinerja usaha budidaya fingerling dengan padat tebar berbeda menunjukkan berbeda nyata dan sebanding dengan kinerja produksi. Perlakuan C memberikan keuntungan tertinggi dengan rasio R/C sebesar 1,20 ± 0,03. Kinerja produksi dan kinerja usaha budidaya fingerling ikan sidat (Anguilla bicolor) dalam sistem resirkulasi dengan padat tebar berbeda terbaik terdapat pada perlakuan C (6 g/L). Kata kunci: Anguilla bicolor, kinerja produksi, kinerja usaha, padat tebar, sistem resirkulasi

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue