cover
Contact Name
I KETUT MUDITE ADNYANE
Contact Email
adnyane@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
acta.vet.indones@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
ACTA VETERINARIA INDONESIANA
ISSN : 23373207     EISSN : 23374373     DOI : -
Core Subject : Health,
Acta Veterinaria Indonesiana (Indonesian Veterinary Journal) mempublikasikan artikel-artikel dalam bentuk: penelitian, ulasan, studi kasus, dan komunikasi singkat yang berkaitan dengan berbagai aspek ilmu dalam bidang kedokteran hewan, biomedis, peternakan dan bioteknologi. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Acta Veterinaria Indonesiana diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Hewan bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Terbit dua kali dalam satu tahun pada bulan Januari dan Juli. [ISSN 2337-3202, E-ISSN 2337-4373]
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024" : 12 Documents clear
Perilaku Sepasang Cephalopachus bancanus di Kandang Konservasi Pusat Studi Satwa Primata, Bogor Wira, Dwi Wahyuda; Fadla, Ilma Nadya; Hiroyuki, Andi; Mayasari, Novi; Iskandar, Entang; Darusman, Huda Salahudin; Farajallah, Dyah Perwitasari
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.55-64

Abstract

Cephalopachus bancanus saat ini dikategorikan sebagai hewan rentan (vulnerable) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Penurunan populasi ini terjadi karena hilangnya habitat dan tingkat eksploitasi yang tinggi. Pemahaman perilaku Cephalopachus bancanus dalam konservasi dapat digunakan untuk menunjang perkembangbiakan satwa dalam kaitan mendukung upaya konservasi agar satwa endemik ini tidak menurun populasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur frekuensi perilaku sepasang Cephalopachus bancanus guna mendapatkan data dan informasi mengenai perilaku sepasang dalam kandang konservasi Pusat Studi Satwa Primata, Bogor. Penelitian perilaku pasangan yang teramati diantara lain: perilaku berkelompok, perilaku saling membersihkan diri, perilaku bertengkar, berselisih dan menghindar, perilaku bermain, perilaku seksual. Metode pengamatan yang digunakan adalah focal animal sampling dan instantaneous sampling dengan penilaian one-zerotime sampling. Hasil pengamatan selama 5 periode pengulangan waktu menunjukkan bahwa perilaku berkelompok mempunyai frekuensi paling tinggi yaitu 40% dengan durasi 134 menit, perilaku saling membersihkan diri menunjukkan frekuensi 37% dengan durasi 121 menit, perilaku bertengkar, berselisih dan menghindar menunjukkan frekuensi 18% dengan durasi 61 menit, perilaku bermain menunjukkan frekuensi 4% dengan durasi 12 menit, dan perilaku seksual menunjukkan hasil frekuensi paling rendah, yaitu 1% dengan durasi 4 menit. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu perilaku sosial sepasang Cephalopachus bancanus paling banyak dilakukan yaitu perilaku berkelompok dan paling sedikit dilakukan yaitu perilaku seksual.
The Success Rate of Non-Penetrative Pre-Slaughter Stunning on Australian Brahman Cross Cattle Slaughter in Indonesia Supratikno; Setijanto, Heru; Nuraini , Henny; Agungpriyono, Srihadi; Sudarnika, Etih; Nurhidayat; Nisa’, Chairun; Novelina, Savitri; Dwi Cahyadi, Danang
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.47-54

Abstract

This study was conducted to evaluate the success rate of non-penetrative pre slaughter stunning (NPPSS) and the factors that influence it in 460 Australian Brahman cross cattle. Observations were made on the handling of cattle, the implementation of NPPSS, the slaughtering process until the animal was declared dead. The results showed that the stunning success rate of NPPSS (SSR) was 74.35%. Ordinal regression analysis of the six observed parameters, three parameters have a significant influence on SSR: shooting placement area (ASP), shooting placement distance (DSP), and the presence of frontal and nuchal eminence (FE, NE). The ASP at the point of the cross line between two lines from the center of the dorsal eye to the center of the contralateral horn base, DSP at a low position (DSP<3 cm), and presence of FE gave a relatively low of SSR. Thus, it can be concluded that the SSR of the use of NPPSS in Indonesia is relatively low and is influenced by ASP, DSP, and the presence of FE and NE.
Pola Penggunaan Anti Mikrob pada Peternakan Mandiri Ayam Broiler di Kabupaten Bogor Sunandar; Suandy, Imron; Nurbiyanti, Nofita; Arief, Riana Aryani; Rachmawati, Annisa Devi; Pertela, Gian; Purwanto, Budi; Daradjat, Hanan; Speksnijder, David; Sani, Rianna Anwar; Dinar, Tagrid; Naipospos, Tri Satya Putri; Wagenaar, Jaap
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.83-90

Abstract

Penggunaan anti mikrob dapat menyebabkan terjadinya resistansi anti mikrob baik di sektor peternakan maupun dalam hal kesehatan manusia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan mengukur frekuensi pemberian anti mikrob di peternakan ayam broiler dan melihat hubungan penggunaan anti mikrob dengan tingkat kematian. Studi dilakukan tahun 2019-2022, di 19 peternakan ayam broiler mandiri di Kabupaten Bogor dengan total pengamatan 89 periode produksi. Data yang dikumpulkan yaitu jenis anti mikrob dan frekuensi pemberian kemudian dianalisis menggunakan perhitungan used daily dose (UDD) dan treatment frequency (TF). Hubungan penggunaan anti mikrob dengan tingkat kematian dianalisis menggunakan regresi linear. Pemberian antibotik di peternakan berdasarkan saran dari pemilik (15,8%), technical service/TS (36,8%) dan petugas penyuluh lapang/PPL (47,4%). Diantaranya hanya 1 orang yang merupakan dokter hewan (5,3%). Rata-rata frekuensi pemberian anti mikrob dalam sehari (TFUDD) di peternakan adalah 10,5 kali. Dari semua anti mikrob yang digunakan 60,5% termasuk dalam kategori prioritas paling tinggi untuk anti mikrob yang sangat penting bagi manusia (HPCIA). Tujuan pemberian anti mikrob mayoritas untuk pencegahan (82,7%) dan frekuensi pemberian paling banyak pada minggu pertama untuk menekan tingkat kematian. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara frekuensi pemberian anti mikrob dan tingkat kematian pada minggu pertama periode produksi (p>0,05). Penggunaan anti mikrob sebagian besar dilakukan tanpa konsultasi dengan dokter hewan. Frekuensi pemberian anti mikrob sebagian besar dari kategori HPCIA dan tujuan penggunaannya untuk pencegahan. Tinggi atau rendahnya frekuensi pemberian anti mikrob pada minggu pertama tidak berhubungan dengan penurunan tingkat kematian.
Analysis Impact of COVID-19 Pandemic on Veterinary Practice Services in Bandung Dianita Gustina; Noormarina Indraswari; Tyagita
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.76-82

Abstract

The increase in COVID-19 cases in Bandung has led to changes in health services, including animal health services. This study aimed to determine the impact of the COVID-19 pandemic and the efforts made by veterinarians to overcome the impact of the COVID-19 pandemic in the clinic. Data was collected by collecting primary data through in-depth interviews. Data was collected on selected respondents to obtain data and explore the impact and efforts made during the pandemic on each veterinary practice service. The impacts found included a shortage of medicines and medical equipment, staff infected COVID-19, temporary closure of veterinary clinics, reduced number of patients, and a shortage of medical staffs. Meanwhile, the efforts include implementing health protocols, changing operational schedules, modifying service flows, providing online or telemedicine services, limiting surgical procedures, providing medicines and medical equipment in the long term, and increasing the number of examination rooms.
Escherichia coli Penghasil Extended-spectrum Β-Lactamases yang Diisolasi pada Peternakan Broiler-Ikan Terintegrasi Prasaja, Aditya Gilang; Wulandari, Eka; Anggaeni, Trianing Tyas Kusuma; Sukmawinata, Eddy
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.25-31

Abstract

Extended-spectrum β-lactamases (ESBL) adalah sekelompok enzim yang diproduksi oleh bakteri untuk dapat resisten terhadap antibiotika termasuk sefalosporin generasi ketiga yang menjadi masalah kesehatan baik pada hewan dan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan bakteri Escherichia coli penghasil ESBL serta profil resistensinya pada komponen lingkungan di sekitar peternakan broiler-ikan terintegrasi. Deteksi E. coli penghasil ESBL dan uji sensitivitas dilakukan dengan uji double disc synergy dan disc diffusion, dan hasil interpretasi mengacu pada The European Committee on Antimicrobial Susceptibility Testing. Sebanyak 19 isolat E. coli penghasil ESBL diisolasi dari sampel swab kloaka, ikan, dan lingkungan pada suatu peternakan broiler-ikan terintegrasi. Secara rinci, E. coli penghasil ESBL terdeteksi pada seluruh sampel sampel air (3/3), sampel ikan (2/2), sampel tanah (1/1), dan 86,7% sampel swab kloaka (13/15). Hasil pengujian kepekaan terhadap antibiotika menunjukkan resistensi terhadap ampisilin (100%), seftriakson (100%), siprofloksasin (68,4%), dan tetrasiklin (42,1%). Selain itu, 8 isolat yang terdiri dari sampel swab (6/13; 46,1%), air (1/3; 33,3%), dan ikan (1/2; 50,0%) teridentifikasi sebagai bakteri multi-drug resistant. Studi ini dapat menggambarkan terjadinya cemaran E. coli penghasil ESBL di lingkungan peternakan broiler-ikan terintegrasi.
Aktivitas Gastroprotektif Infusa Serai Wangi terhadap Gastritis Akut pada Tikus Sprague dawley Nabilah, Avida Shahnaz; Handharyani, Ekowati; Sutardi, Lina Noviyanti; Mustika, Aulia Andi
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.17-24

Abstract

Gastritis is an inflammation of the stomach mucosal lining. Citronella grass (Cymbopogon nardus) is a plant that has been used in traditional medicine to treat diseases, including digestive problems. This study aimed to analyze the gastroprotective activity of citronella grass infusion on acidified ethanol-induced gastritis in Sprague Dawley rats. The study was conducted on four groups of rats that were previously fasted for 18 hours. All rats were given treatments: water (HCl/ethanol group), omeprazole (omeprazole group), 20% citronella grass infusion (P1), and 40% citronella grass infusion (P2). After 90 minutes, all groups were administered HCl and ethanol mixture orally and then sacrificed 90 minutes later. The stomachs were collected for gastric fluid pH measurement and macroscopic and microscopic analysis. The results of phytochemical screenings showed that the citronella grass infusion contains alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. The pH values and the gastric lesion scores of P1 and P2 were significantly different (P<0.05) with higher and lower values respectively than the HCl/ethanol group. Macroscopic and microscopic examinations also showed a decrease in gastric lesions in the P1 and P2 groups. These findings confirm the gastroprotective activity of citronella plant infusion. There was no significant difference (P>0.05) between the P1 and P2.
Effect of Fenbendazole Treatment Against Oxyuris spp. on Green Iguana (Iguana iguana) kusuma, shelly; Garvasilus Privantio Tegar Virgiawan Huler; Rafi Dzakir Ghalib; Shafa Luvena Pradhantya; Devita Marsya Herina Hapsari; Nofan Rickyawan; Reza Yesica; Nanis Nurhidayah
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.32-39

Abstract

Infection of Oxyuris spp., a gastrointestinal nematode, has been reported in reptiles around the world, including in the green iguana (Iguana iguana). In most cases, parasite control in reptiles relies on anthelmintics administration. Fenbendazole has been used as the drug of choice for parasite control in reptiles. However, the data of fenbendazole administration for Oxyuris spp. infection on green iguana (Iguana iguana) in Indonesia was absent. We evaluated the effect of fenbendazole administration (dose: 25 mg/kg body weight [BW] for five consecutive days per oral) for natural infection of Oxyuris spp. among thirty-three green iguanas in Malang Raya (Malang District, Malang City, and Batu City). The fecal examination was made through a modified Mc Master technique on the day-0, 7, 14, 21, and 31 post-treatment. The data on management (such as caging, feeding, and health program) conducted by the owners were recorded as well. The result showed that reduction of a hundred percent (100%) of egg per gram (epg) on day-31 post-treatment in all sampled animals. Iguanas were placed in individual and communal cages with daily cleaning and feeding. However, none of the owners arranged health programs such as anthelmintic treatment for their companion reptiles. This study can be used as a recommendation for future control of Oxyuris spp. in green iguanas in Indonesia.
The Detection of Resistant Escherichia coli Isolated From Cats In Dukuh Kupang Sub-District, Surabaya Wibisono, Freshinta Jellia; Wirjaatmadja, Roeswandono; Candra, Adhitya Yoppy Ro; Rahmaniar, Reina Puspita; Trirahayu, Rizkika Amalia; Diningrum, Dinda Prisilya; Rianto, Vinsensius; Kendek, Irfan Alias
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.1-7

Abstract

Resistansi antimikrob merupakan isu global yang menjadi pusat perhatian dunia. Penularan pada manusia melalui hewan peliharaan penting untuk diwaspadai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya resistansi antimikrob bakteri Escherichia coli pada kucing. Sebanyak 60 sampel swab diambil, yang terdiri atas 30 sampel kucing liar dan 30 sampel kucing peliharaan. Sampel diuji di Laboratorium Kesmavet Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Sampel kemudian di isolasi dan identifikasi dengan media selektif diferensial Eosin Methylene Blue Agar. Isolat Escherichia coli kemudian dilakukan uji sensitivitas untuk mengetahui adanya resistensi pada antibiotik ampicillin, tetracycline, dan streptomycin. Hasil penelitian menunjukkan 83% sampel terdapat bakteri Escherichia coli pada kucing, dengan resistansi antibiotik sebesar 16% terhadap antibiotika ampisilin, pada kucing liar 19%, dan kucing peliharaan 12%. Resistansi pada antibiotik tetrasiklin menunjukkan 12%, dimana kucing liar 15%, dan kucing peliharaan 8%. Sedangkan resistensi pada antibiotik streptomisin menunjukkan 4% (2/50), dengan resistensi pada kucing liar 8% dan pada kucing peliharaan tidak ditemukan adanya resistensi (0%). Kucing sebagai hewan yang memilliki kedekatan dengan kehidupan manusia, mampu menjadi faktor penular resistensi antimikroba, hal ini menjadi kewaspadaan dini sebagai tindakan pencegahan penularan resistensi antimikrobial pada manusia.
Penilaian Pendedahan Kualitatif Virus Penyakit Mulut dan Kuku melalui Pemasukan Kulit Sapi Mentah Garaman dari Malaysia ke Indonesia di Pelabuhan Tanjung Priok, Indonesia Basri, Chaerul; Sekarsana, Disty Ayu; Lukman, Denny Widaya
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.65-75

Abstract

Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit yang menjadi perhatian semua negara karena dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Penyakit ini sangat mudah menyebar antar negara atau wilayah sehingga dikategorikan sebagai transboundary animal disease. Salah satu penyebab penyebaran PMK adalah perdagangan hewan dan produk hewan antar negara atau wilayah. Lalu lintas kulit sapi mentah dapat membawa risiko penyebaran PMK. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian risiko pendedahan kualitatif terhadap masuk dan tersebarnya PMK dari kulit sapi mentah garaman ke Indonesia. Penilaian ini dilaksanakan dengan mengembangkan biological pathway terhadap likelihood pendedahan agen penyakit melalui kulit sapi mentah garaman dari negara asal Malaysia ke Indonesia. Tingkat likelihood (kemungkinan) kualitatif pada penilaian pendedahan (exposure assessment) didasarkan pada Biosecurity Import Risk Analysis Guidelines 2016, sedangkan tingkat ketidakpastian ditentukan berdasarkan pedoman yang diberikan oleh The European Food Safety Authority (EFSA). Penilaian akhir pendedahan virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia di Pelabuhan Tanjung Priok menunjukkan tingkat likelihood sedang, dengan tingkat ketidakpastian yang rendah. Tingkat likelihood sedang mengindikasikan bahwa peluang kemungkinan kejadian tersebarnya virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia memiliki peluang yang sama besar yaitu antara terbawa atau tidak terbawanya virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia. Penerapan biosekuriti sebagai tindakan mitigasi untuk mengurangi risiko penyebaran virus PMK perlu diterapkan pada tempat kedatangan kulit sapi mentah garaman dan di gudang penyimpanan kulit.
Kasus Rabbit Haemorrhagic Disease (RHD) pada Kelinci: Sejarah, Penyebaran, serta Dampak RHDV di Beberapa Negara Asal Kelinci Impor Indonesia Murtini, Sri; Wibawan, I Wayan Teguh; Setiyaningsih, Surachmi; Handharyani, Ekowati; Setyaningsih, Retno
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.8-16

Abstract

Virus Rabbit Haemorrhagic Disease (RHDV) adalah virus penyebab Rabbit Haemorrhagic Disease (RHD) pada kelinci Eropa (Oryctolagus cuniculus). Penyakit ini memiliki tingkat kematian dan morbiditas hingga 100%. Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1984 dan menyebar ke seluruh dunia. Pada tahun 1996, kasus pertama infeksi RHDV pada kelinci tanpa gejala klinis menyebar di peternakan kelinci di Italia. Beberapa studi telah melapaorkan keberadaan variasi genetic RHDV termasuk varian RHDV terbaru. Penyakit ini berpotensi menimbulkan dampak ekologis dan kerugian ekonomi, terutama di peternakan kelinci. Pada studi sebelumnya diketahui bahwa terdapat serokonversi RHDV pada kelinci tanpa gejala klinis di daerah Bandung Barat, Provinsi Jawa barat, Indonesia, meskipun belum ada informasi mengenai keberadaan RHDV di Indonesia. Meskipun Indonesia diketahui berstatus bebas RHDV, namun kelinci yang diimpor berasal dari negara-negara di Eropa, Amerika, dan Australia yang terkenal sebagai negara endemik RHDV. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji penyebaran RHDV di negara asal kelinci impor Indonesia dan dampaknya. Selain itu, tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penyakit kelinci yang sedang berkembang.

Page 1 of 2 | Total Record : 12