cover
Contact Name
Fariz Nizar
Contact Email
kolaborasi_jurnal@unpand.ac.id
Phone
+6285156340961
Journal Mail Official
kolaborasi_jurnal@unpand.ac.id
Editorial Address
Jl. Banjarsari Barat No.1, Pedalangan, Kec. Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah 50268
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Published by Universitas Pandanaran
ISSN : 28082435     EISSN : 28082427     DOI : https://doi.org/10.54325/kolaborasi.v1i1
Jurnal Kolaborasi Arsitektur merupakan jurnal yg dipublikasikan dengan cara OJS (open journal system) oleh Universitas Pandanaran Semarang. Jurnal ini mengakomodasi publikasi peneliti-peneliti yg meneliti di bidang arsitektur, urban design, built environment, building technologi, heritage dan tourism. Jurnal Arsitektur Kolaborasi terbit dua kali dalam setahun yaitu di awal bulan April dan Oktober.
Articles 65 Documents
PENERAPAN ARSITEKTUR POSTMODERN PADA PENGEMBANGAN KOMPLEKS OLAHRAGA MENAK SOPAL DI KABUPATEN TRENGGALEK JAWA TIMUR Soarees, Kristian Natalino; Hastijanti, Retno; Tohar, Ibrahim
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v4i2.69

Abstract

Stadion Menak Sopal merupakan satu-satunya stadion yang ada di Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur. Stadion ini masih belum memenuhi standar kelayakan karena infrastruktur dan fasilitasnya, seperti kurangnya kursi penonton, kurangnya lampu di lapangan dan stadion, dan fasilitas interior yang kurang terawat. Rencana Kerja Pemerintah Kabupaten Trenggalek 2024 menyoroti perlunya pusat pelatihan untuk atlet berprestasi dan juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur. Survei lokasi, perencanaan, dan desain adalah tiga tahap dari pendekatan deskriptif kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil akhir dari penelitian ini yaitu pengolahan tapak, penataan ruang luar dan dalam, bentuk dan tampilan bangunan, sistem struktur, material bangunan, dan penerapan konsep arsitektur postmodern sebagai strategi perancangan.
TATA KELOLA KAWASAN PADA REDESAIN PASAR TRADISIONAL TANJUNG ANYAR MOJOKERTO Putri Rahayu, Wildan Novitaria; Panjaitan, Tigor Wilfritz Suaduon; Istijanto, Suko
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v4i2.70

Abstract

Pasar Tanjung Anyar merupakan pasar induk tradisional di Kota Mojokerto yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah kota Mojokerto. Secara administratif, Pasar Tanjung Anyar berada di Jalan Residen Pamuji No.22, Mergelo, Jagalan, Kec. Magersari, Kota Mojokerto. Sebagai pasar induk, pasar ini menjadi pasar pemasok untuk pasar disekitarnya seperti Pasar Ketidur, Pasar Prajurit Kulon, Pasar Prapanca dan banyak lainnya. Tujuan penelitian ini untuk menata ulang kawasan Pasar Tanjung Anyar menjadi pasar yang nyaman untuk penggunanya. Dalam penataan kawasan redesain ini metode penelitian terdapat tahap pegumpulan data, pengolahan data dan perancangan kawasan. Hasil dari penelitian ini berupa perancangan kawasan yaitu siteplan dan layout Pasar Tanjung Anyar yang sudah mengalami proses redesain.
KAJIAN ALUR SIRKULASI DAN HUBUNGAN RUANG PADA RUMAH VERNAKULAR SUNDA Zahra, Lutfia; Hambali, Nur Ichsan; Lestari, A. Dwi Eva
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v4i2.73

Abstract

Bogor menjadi salah satu daerah persebaran suku Sunda terbanyak di Jawa Barat. Sehingga, tata letak rumah tinggal dan ruang-ruang di dalamnya banyak dipengaruhi adat dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Sunda. Beberapa tempat yang masih kental dengan adat Sunda adalah Kampung Sindang Barang di Kecamatan Bogor Barat dan Desa Gunung Sari di Kecamatan Citeureup. Pada kampung-kampung di daerah Jawa Barat sudah jarang ditemukan adanya rumah tradisional suku Sunda. Oleh karena itu, adanya beberapa rumah tradisional yang tersisa menjadi bahan observasi yang sangat berharga. Salah satu perkampungan adat Sunda terbesar adalah Kampung Naga di Tasikmalaya. Suatu rumah tidak mungkin lengkap tanpa adanya ruangan dan jalur menuju ruangan tersebut. Oleh karenanya, tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui alur sirkulasi dan hubungan ruang pada rumah Sunda serta kaitannya dengan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi langsung dan wawancara kepada pengurus rumah dilengkapi dengan hasil kajian pustaka.
PERANCANGAN WISATA BUDAYA RUMAH BETANG DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEOVERNAKULAR DI KALIMANTAN TENGAH Priwandi, Wahyu Juli; Dian Susanti, Anityas; Mandaka, Mutiawati
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v4i2.77

Abstract

Kalimantan adalah salah satu pulau besar di Indonesia, terletak di wilayah utara Republik Indonesia. Kalimantan terbagi menjadi lima bagian: Kalimantan Timur, Kota Samarinda; Kalimantan Barat, ibu kota Pontianak; Kalimantan Tengah, ibu kota Palangkaraya; dan Kalimantan Timur, ibu kota Tanjung Selor. Kalimantan adalah rumah bagi berbagai suku, termasuk Dayak, Banjar, Bakumpai, Baraki, Maanyan, Lawangan, dan Dayak Bukit Ngaju, serta keturunan Melayu Jawa, Bugis, Cina, dan Arab. Mereka memiliki satu bangunan yang cocok untuk ditinggali, yang dikenal dengan Rumah Adat Betang. Rumah Adat Betang merupakan rumah adat khas pulau Kalimantan yang dikenal dengan nama Betang, Huma, atau Lamin yang artinya Rumah Panjang. Wisata budaya di Kalimantan Tengah belum ada sehingga sangat penting untuk dikembangkan ke depan sebagai lokasi pelestarian budaya khas Kalimantan. Kawasan wisata budaya Rumah Betang akan dikembangkan dengan pendekatan perancangan arsitektur neovernakular yang dapat menunjang budaya baik fisik berupa struktur maupun bentuk non fisik khususnya ritual adat di Kalimantan Tengah.
AKSESIBILITAS PADA RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DALAM KONTEKS PERANCANGAN LANSKAP INKLUSIF DI MALANG, STUDI KASUS: TAMAN MERBABU, HUTAN KOTA MALABAR Santoso, Dian Kartika; Junita, Sovie Nurmalia; Ramadiansyah, Faiz; Abidah, Darini Yusrina
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v5i2.94

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik merupakan elemen penting dalam perancangan kota yang inklusif dan berkelanjutan, namun kelompok difabel masih sering terpinggirkan dalam proses desain ruang publik. Penerapan prinsip lanskap inklusif, terutama dalam hal aksesibilitas dan sirkulasi ruang, sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang adil bagi semua pengguna. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat aksesibilitas RTH publik di Kota Malang berdasarkan prinsip lanskap inklusif. Tiga taman kota yang populer, yaitu Taman Merbabu, Hutan Kota Malabar, dan Taman Slamet, dipilih sebagai studi kasus berdasarkan tingkat kunjungan yang tinggi dan perannya sebagai ruang interaksi sosial. Metode yang digunakan mencakup observasi lapangan, dokumentasi visual, dan penilaian elemen fisik berdasarkan kriteria aksesibilitas seperti jenis dan kondisi perkerasan, kemiringan jalur, keberadaan ramp, handrail, serta signage ramah difabel. Hasil menunjukkan bahwa Hutan Kota Malabar belum memenuhi sebagian besar standar aksesibilitas, sementara Taman Merbabu dan Taman Slamet telah memiliki beberapa elemen ramah tunanetra namun belum menjangkau semua jenis disabilitas. Rekomendasi perbaikan meliputi penggunaan perkerasan antiselip, pemasangan signage braille, serta penyediaan ramp dan handrail sesuai standar desain universal.
DINAMIKA PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KETERSEDIAAN DAN KELAYAKAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN DI KAWASAN PULAU MAS, KOTA MAGELANG Pilar Abadi, Vincensius Oktsaga
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v5i2.96

Abstract

Prasarana berkelanjutan merupakan salah satu prinsip penting untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Evaluasi terhadap ketersediaan prasarana permukiman perlu dilakukan berdasarkan persepsi masyarakat sebagai bahan masukan untuk semua pihak yang terlibat dalam penyediaan prasarana. Studi riset yang dilakukan bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan dan kualitas prasarana permukiman di Lingkungan Pulau Mas, Kota Magelang, serta efektivitas pengelolaannya. Lingkungan Pulau Mas dipilih sebagai studi kasus karena adanya alokasi dana pembenahan pada tahun 2024, sementara masyarakat dan pengurus belum memiliki kejelasan terkait prioritas pembangunan sarana dan prasarana. Metode penelitian yang digunakan melibatkan pengumpulan data melalui kuesioner berdasarkan lima kategori prasarana menurut Grigg, yaitu: prasarana jalan, prasarana air, prasarana pengolahan limbah padat, prasarana bangunan luar dan olahraga, serta prasarana distribusi dan produksi energi. Persepsi masyarakat dianalisis menggunakan skala Likert, sedangkan penentuan prioritas pembenahan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan dari total 90 responden, 13 responden memiliki persepsi sedang terhadap ketersediaan prasarana, sementara 77 responden memiliki persepsi tinggi. Berdasarkan analisis prioritas, pembenahan prasarana olahraga dipilih sebagai kebutuhan utama, mengingat kondisi eksisting dan kebutuhan masyarakat saat ini. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi pengambilan kebijakan Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Magelang, serta menjadi acuan bagi perencana dan perancang dalam merencanakan prasarana yang optimal dan tepat sasaran.
DESAIN SENSORI VISUAL PADA TAMAN BERMAIN ANAK DI SLEMAN, YOGYAKARTA Kartika Putri, Tabita Febriawaty
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v5i2.97

Abstract

Taman bermain anak merupakan salah satu tempat yang dapat mendukung perkembangan kognitif bagi anak usia 0 hingga 6 tahun melalui aktivitas sensory play. Oleh karena itu, aspek sensori dalam desain taman bermain anak menjadi aspek yang sangat penting untuk diperhatikan, salah satu aspek sensori tersebut adalah aspek sensori visual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana desain sensori visual pada taman bermain anak berpengaruh pada preferensi zona bermain bagi anak-anak usia 0 hingga 6 tahun. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif untuk mengetahui hubungan antara dua variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak lebih menyukai zona bermain yang memiliki warna-warna cerah, topografi berkontur, memiliki pencahayaan alami, memiliki desain representasi alam, dan memiliki jenis wahana permainan yang beragam.
TRANSFORMASI KORIDOR MENJADI RUANG SOSIAL: STUDI PERILAKU PENGHUNI RUSUN MRANGGEN, KABUPATEN SLEMAN Octaviano, Dioni; Agustin, Dyan
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v5i2.98

Abstract

Koridor pada rumah susun, yang secara desain berfungsi sebagai jalur sirkulasi dan ruang transisi antar unit hunian, dalam praktiknya sering dimanfaatkan secara lebih luas oleh penghuni. Dalam hunian vertikal dengan keterbatasan ruang privat, penghuni cenderung melakukan adaptasi ruang untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Koridor yang seharusnya bersifat komunal mengalami pergeseran fungsi akibat tekanan spasial dan kebutuhan akan ruang tambahan, seperti untuk menyimpan barang, menjemur pakaian, atau menerima tamu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku penghuni terhadap fungsi koridor di Rumah Susun Mranggen Gedung Hijau, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, khususnya dalam konteks pemanfaatan ruang di luar batas privat. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung, wawancara mendalam, dokumentasi visual, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penghuni memanfaatkan koridor sebagai ruang tambahan dengan fungsi yang bersifat lebih pribadi. Adaptasi ini mencerminkan respons terhadap keterbatasan ruang hunian dan kebutuhan fungsional harian. Pergeseran fungsi koridor ini berdampak pada terganggunya sirkulasi, berkurangnya kenyamanan ruang komunal, serta terbentuknya batas baru antara ruang publik dan privat. Temuan ini menegaskan bahwa desain ruang komunal dalam rumah susun perlu mempertimbangkan fleksibilitas penggunaan oleh penghuni, agar tetap mampu memenuhi kebutuhan individual tanpa mengorbankan fungsi sosial dan efisiensi tata ruang secara keseluruhan.
IMPLEMENTASI POLA ARSITEKTUR BIOFILIK PADA PUSAT PERBELANJAAN DI IKLIM TROPIS: LAGOON AVENUE MALL SUNGKONO SURABAYA WIJAYA, RAVINDA ARGA; AVENZOAR, AZKIA
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v5i2.101

Abstract

Penerapan pola arsitektur biofilik dalam ruang komersial seperti mall, khususnya di kawasan beriklim tropis, masih jarang dikaji secara mendalam. Padahal, pendekatan desain ini menawarkan potensi besar dalam mengintegrasikan elemen alam ke dalam lingkungan binaan guna meningkatkan kesejahteraan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola arsitektur biofilik pada Lagoon Avenue Mall Sungkono Surabaya, sebuah pusat perbelanjaan semi-outdoor di Surabaya. Studi dilakukan dengan metode deskriptif-kualitatif melalui observasi lapangan, dokumentasi fotografis, serta pemetaan pola biofilik berdasarkan kategori Nature in the Space, Natural Analogues, dan Nature of the Space dalam 14 pola desain biofilik. Data yang diperoleh dianalisis dengan mengidentifikasi jenis, distribusi, dan proporsi pola arsitektur biofilik yang tampak dalam ruang publik mall. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Lagoon Avenue Mall Sungkono Surabaya menampilkan pola biofilik yang cukup beragam, namun belum sepenuhnya terintegrasi secara konsisten di seluruh area sirkulasi utama. Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap praktik perancangan ruang komersial tropis yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkaya literatur mengenai representasi pola biofilik dalam konteks urban.
ADAPTIVE REUSE BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI KAWASAN KOMERSIAL: STUDI KASUS SD NETRAL C YOGYAKARTA Ikhwan, Muhammad; Winoto, Erlangga; Agustiananda, Putu Ayu Pramanasari; Sholihah, Arif Budi
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v5i2.102

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi tantangan dan peluang bangunan cagar budaya di kawasan komersial perkotaan Indonesia melalui studi kasus SD Netral C (Sekolah Dasar Netral C) Yogyakarta—sebuah sekolah bersejarah yang didirikan pada era kolonial dan masih mempertahankan fungsi aslinya di tengah tekanan komersial kawasan Malioboro. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi keseimbangan antara pelestarian cagar budaya dengan viabilitas ekonomi melalui penerapan adaptive reuse sebagai sebuah strategi. Melalui pendekatan studi kasus eksploratif, data dikumpulkan dari observasi lapangan, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil menunjukkan SD Netral C memiliki nilai cagar budaya yang unik (bertahan selama 113 tahun, berkarakter inklusif, dan berstatus Sultan Ground), namun menghadapi ancaman penurunan jumlah siswa akibat gentrifikasi. Dua skenario adaptive reuse dikembangkan: Heritage School Plus (intervensi minimal dengan program cagar budaya tambahan) dan Community Heritage Hub (mixed-use sebagai fungsi pendidikan-komunitas-komersial). Observasi mengungkap perbedaan antargenerasi dalam merespons perubahan—generasi tua lebih mendukung preservasi maksimal, sementara generasi muda lebih adaptif. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan bertahap dimulai dengan intervensi minimal untuk membangun kepercayaan sebelum transformasi lebih lanjut.