cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
Effects of Imago Relationship Therapy on Spousal’s emotional instability married teachers in Kwara State, Nigeria Habibat Bolanle Abdulkareem; Kamil Adekola Lasis
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.69017

Abstract

The study delved into the impact of Imago Relationship Therapy on spousal emotional instability using Ancova for analysis. The study adopted a pretest-posttest, control group quasi-experimental design with a 2x2x3 factorial matrix. Two primary schools were randomly selected, and convenient sampling techniques were used to select 60 participants in the selected schools 30 participants were meant for the treatment group and 30 for the control group. Results indicated significant effects: The therapy showcased a substantial reduction in emotional instability (F = 594.276, p smaller than 0.001), with the overall model explaining 95.2 percent of the variance. Gender (F = 1.859, p = 0.001) and self-esteem (F = 3.755, p = 0.001). An interaction between gender and self-esteem, as well as the three-way interaction (GROUP Gender Self-esteem), were statistically significant, emphasizing the interconnectedness of these factors in understanding emotional instability. It was recommended that the school counselors should assist teachers in overcoming their mindfulness. AbstrakStudi ini menyelidiki dampak Terapi Hubungan Imago terhadap ketidakstabilan emosi pasangan menggunakan Ancova untuk analisis. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu kelompok kontrol pretest-posttest dengan matriks faktorial 2x2x3. Dua sekolah dasar dipilih secara acak dan teknik convenience sampling digunakan untuk memilih 60 peserta. Di sekolah yang dipilih, sampel penelitian dibagi menjadi 30 peserta untuk kelompok perlakuan dan 30 untuk kelompok kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan efek yang signifikan: terapi menunjukkan penurunan substansial dalam ketidakstabilan emosi (F = 594,276, p lebih kecil dari 0,001), dengan model keseluruhan menjelaskan 95,2 persen varians. Gender (F = 1.859, p = 0.001) dan harga diri (F = 3.755, p = 0.001). Interaksi antara gender dan harga diri, serta interaksi tiga arah (GROUP Gender Self-harga diri), adalah signifikan secara statistik, menekankan keterkaitan faktor-faktor ini dalam memahami ketidakstabilan emosi. Disarankan agar konselor sekolah membantu guru dalam mengatasi mindfulness mereka.Kata Kunci: ketidakstabilan emosional; gender; guru yang sudah menikah; harga diri
IOLE cooperative learning model in improving students’ collaborative character and reading literacy Farisa Mardiani; R. Rusdarti; Panca Dewi Purwati
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.69487

Abstract

The character of cooperation and literacy of students today still needs to improve. Effective learning model modifications are required to enhance students' collaborative character and literacy. The purpose of the research is to analyze the effectiveness of the IOLE (inside outside learning) learning model on the character of student collaboration and literacy. The research design used quasi-experimental methods with the control group. For each intervention and control group, research samples of as many as 12 elementary students in grade V. The research was carried out in November 2023 at two elementary schools in the Kudus District. Research instruments use pretests and posttests on the history of cigarettes to evaluate reading literacy. The observation sheet is used to assess the character of cooperation. The study's results showed an influence of the IOLE learning model on collaborative character (p=0,002) and reading literacy (p =0,002) in elementary students. This model can be implemented in primary schools, especially by the teacher of the fifth grade, as a form of learning innovation that can be done to the learning objectives, in particular, the character of cooperation and student reading literacy.  AbstrakKarakter kerjasama dan literasi membaca siswa saat ini masih tergolong rendah. Perlu adanya modifikasi model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan karakter kerja sama dan literasi membaca siswa. Tujuan penelitian untuk menganalisis keefektifan model pembelajaran IOLE (inside outside learning) terhadap karakter kerja sama dan literasi membaca siswa. Desain penelitian menggunakan quasi experimental with control group. Sampel penelitian sebanyak 12 siswa SD kelas V untuk masing-masing kelompok intervensi dan kontrol. Penelitian dilakukan pada Bulan November 2023 di 2 SD Negeri di Kabupaten Kudus. Instrumen penelitian menggunakan pretest dan posttest mengenai sejarah rokok kretek untuk menilai literasi membaca. Lembar observasi digunakan untuk menilai karakter kerja sama. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh model pembelajaran IOLE terhadap karakter kerja sama (p=0,002) dan literasi membaca (p=0,002) pada siswa SD. Model pembelajaran IOLE efektif meningkatkan karakter kerja sama dan literasi membaca siswa SD sehingga mendukung capaian tujuan pembelajaran siswa khususnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Model ini dapat diimplementasikan di sekolah dasar khususnya oleh guru kelas V sebagai bentuk inovasi pembelajaran yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran khususnya karakter kerja sama dan literasi membaca siswa.Kata Kunci: karakter kerjasama; literasi membaca; model pembelajaran IOLE
Development of hypercontent-based teaching materials for screen printing course at FIP UNM Asrul Burhan; P. Pattaufi; Nurhikmah H; Farida Febriati; Abdul Hakim; Citra Rosalyn Anwar; W. Wahira
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.71289

Abstract

This research was conducted to meet the need for hypercontent-based digital teaching materials in the Screen Printing Techniques course in the Educational Technology Study Program, FIP UNM. The existing materials are less interactive and lack media such as text, images, and videos, essential for enhancing student understanding. The main goals are identifying these needs, designing hypercontent-based digital teaching materials, and measuring their validity, practicality, and effectiveness. The Research and Development (RD) method follows the M. Alessi and Stanley R. Trollip model, including the stages of planning, design, and development. The research subjects included 20 students, one lecturer, and two validators (1 content/material expert and one design/media expert). Data collection techniques involved needs identification questionnaires, expert validation questionnaires, lecturer response questionnaires, and small and large group trial questionnaires. Descriptive quantitative analysis was used to evaluate the data. The findings indicate that the need for digital modules among students is very high, expert validation shows good qualifications, trials demonstrate the modules’ good practicality, and pre-test and post-test results reveal improved student learning outcomes with effective to very effective qualifications. Consequently, the screen printing technique digital module is deemed valid, practical, and effective. AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan ajar digital berbasis hypercontent pada mata kuliah Teknik Sablon di Prodi Teknologi Pendidikan FIP UNM, karena bahan ajar yang ada saat ini kurang interaktif dan tidak menyediakan berbagai media seperti teks, gambar, dan video yang dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa. Tujuan utamanya adalah mengidentifikasi kebutuhan tersebut, merancang bahan ajar digital berbasis hypercontent, serta mengukur tingkat validitas, kepraktisan, dan efektivitasnya. Metode yang digunakan adalah Research and Development (RD) dengan model M. Alessi dan Stanley R. Trollip, mencakup tahap perencanaan, desain, dan pengembangan. Subjek penelitian terdiri dari 20 mahasiswa, 1 dosen pengampu, dan 2 validator (1 ahli isi/materi dan 1 ahli desain/media). Teknik pengumpulan data meliputi angket identifikasi kebutuhan, angket validasi ahli, angket tanggapan dosen, serta angket uji coba kelompok kecil dan besar. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Temuan menunjukkan bahwa kebutuhan mahasiswa terhadap modul digital sangat tinggi, validasi ahli menunjukkan kualifikasi baik hingga sangat baik, uji coba menunjukkan kepraktisan modul yang baik, dan hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan hasil belajar mahasiswa dengan kualifikasi efektif hingga sangat efektif. Modul digital Teknik Sablon dinyatakan valid, praktis, dan efektif.Kata Kunci: Modul digital; teknologi pendidikan; pengembangan bahan belajar; teknik sablon
Strengthening the gotong royong character of elementary school students through cooperative learning Tazkiya Pasa Awaliya; Ratnasari Diah Utami
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.73624

Abstract

Gotong royong is an Indonesian culture that reflects mutual help and harmony. In learning, gotong royong plays a crucial role in group collaboration to achieve goals. This study aims to describe efforts to strengthen the character of gotong royong through a cooperative learning model in grade V elementary students. Using a qualitative approach with a case study design, data was collected through interviews, observations, and document analysis. Data validity was ensured through triangulation of sources and techniques. Data analysis included three stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings show that applying the cooperative learning model significantly contributes to developing students' mutual cooperative character. Gotong royong skills improve through active participation in group activities, strengthening solidarity, empathy, and teamwork. Implementing strategies such as group formation, role assignment, and joint evaluation fosters collective responsibility. This research also aligns with the goals of the Independent Learning Curriculum by shaping student characters that align with the Pancasila Student Profile. The study suggests a broader application of this model and encourages further research to gain a more comprehensive and sustainable understanding. AbstrakGotong royong merupakan budaya Indonesia yang mencerminkan nilai saling tolong-menolong dan keharmonisan dalam hidup. Dalam konteks pembelajaran, gotong royong memiliki peran penting sebagai bentuk kerja sama kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya penguatan karakter gotong royong melalui model pembelajaran cooperative learning pada peserta didik kelas V sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Validitas data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik. Analisis data meliputi tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif secara signifikan memberikan kontribusi dalam pengembangan karakter gotong royong di kalangan peserta didik. Keterampilan gotong royong meningkat melalui partisipasi aktif dalam kegiatan kelompok, yang memperkuat solidaritas, empati, dan kemampuan bekerja sama. Implementasi strategi kooperatif seperti pembentukan kelompok, penentuan peran, dan evaluasi bersama mendorong tanggung jawab kolektif peserta didik. Penelitian ini juga mendukung tujuan Kurikulum Merdeka Belajar dengan membentuk karakter peserta didik yang sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila. Disarankan agar model ini diterapkan lebih luas dan diadakan penelitian lanjutan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.Kata Kunci: gotong royong; pembelajaran kooperatif; sekolah dasar
Instructional design research trends towards digital transformation of education systems in ASEAN Jajang Kusnendar; Deni Darmawan; R. Rusman
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.68630

Abstract

The curriculum implementation in ASEAN countries is interesting to examine, especially in order to achieve the direction of the digital transformation roadmap of the education system. Research on instructional design can be used as one of the parameters to understand how the general description of implementation achieves curriculum goals. This study aims to examine instructional design research in ASEAN countries during the period 2018-2024 on the implementation of the national curriculum towards the digital transformation of the education system through (1) investigating the general description of instructional design research, (2) examining research characteristics from aspects of research objectives, (3) explaining the implications of findings both theoretically and practically. The documentation study was conducted through bibliometric analysis of articles with keywords against article titles containing the phrase "instructional design" in ASEAN countries from the Scopus database, which produced as many as 37 selected articles during the 2018-2024 period. The results show that the general description and direction of instructional design research objectives in ASEAN countries have been presented comprehensively. Besides that, the theoretical and practical implications of instructional design research on the road map for digital transformation of education systems in ASEAN have been considered. AbstrakImplementasi kurikulum di negara ASEAN menarik diteliti khususnya dalam upaya mencapai arah peta jalan transformasi digital sistem pendidikan. Riset tentang instructional design bisa dijadikan salah satu parameter untuk memahami bagaimana gambaran umum implementasi untuk mencapai tujuan kurikulum. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji riset instructional design di negara ASEAN selama periode 2018-2024 pada implementasi kurikulum nasional dalam menuju transformasi digital sistem pendidikan, melalui: (1) investigasi gambaran umum penelitian instructional design, (2) mengkaji karakteristik penelitian dari aspek tujuan penelitian, (3) menjelaskan implikasi temuan baik secara teoritis maupun praktis. Studi dokumentasi dilakukan melalui analisis bibliometrik terhadap artikel dengan kata kunci terhadap judul artikel yang mengandung frasa “instructional design” di negara ASEAN, dari database scopus yang menghasilkan sebanyak 37 artikel terpilih selama periode tahun 2018-2024. Hasil menunjukan bahwa gambaran umum dan arah tujuan penelitian instructional design di negara ASEAN telah tersaji secara komprehensif, selain itu implikasi teoritis dan praktis dari riset instructional design terhadap peta jalan transformasi digital sistem pendidikan di ASEAN sudah dianggap sejalan.Kata Kunci: bibliometrik; desain pembelajaran; kurikulum; pendidikan; transformasi digital
Character-building training curriculum activity based on the perspective of a humanistic curriculum and existentialism philosophy Taopik Barkah; Babang Robandi
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.66450

Abstract

Character building is part of developing soft skills, which is an activity that needs to be done to realize superior human resources. In contrast, soft skills are non-academic competencies that become a person's capital to succeed in his career and function in community life. The character-building training curriculum will create a more harmonious, productive, and ethical work environment. The purpose of writing this article is to describe the relationship between the character-building curriculum based on the perspective of the humanistic curriculum model, describe the relationship between the character-building curriculum based on existentialism philosophy, and decrypt the form of activities in the character-building training curriculum. Researchers use descriptive methods to provide an overview of the phenomena and thoughts being studied through documentation and literature studies using relevant data sources from the research topic to conclude. Activities in the character-building training curriculum based on the humanistic curriculum perspective have a role in developing human potential holistically, involving emotional, social, and spiritual aspects, by the parameters that have been in the character-building curriculum consisting of four competencies, namely intrapersonal abilities, interpersonal abilities, organizational abilities, and spiritual abilities. Meanwhile, according to the existentialist perspective, the activities of the character-building curriculum emphasize individual freedom, personal responsibility, and the search for the meaning of life, emphasizing existentialist concepts such as freedom, responsibility, independence, and authenticity. AbstrakPembangunan karakter bagian dari pengembangan soft skills yang menjadi suatu aktivitas yang perlu dilakukan agar terwujudnya sumber daya manusia yang unggul, di mana soft skills merupakan kompetensi non akademik yang menjadi modal seseorang agar dapat mencapai kesuksesan dalam kehidupan kariernya serta berfungsi dalam kehidupan bermasyarakat. Kurikulum pelatihan pembangunan karakter diharapkan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis, produktif, dan beretika. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan hubungan kurikulum pembangunan karakter berdasarkan perspektif model kurikulum humanistik, mendeskripsikan hubungan kurikulum pembangunan karakter berdasarkan perspektif filsafat eksistensialisme, dan mendeskripsikan bentuk aktivitas dalam kurikulum pelatihan pembangunan karakter. Peneliti menggunakan metode deskriptif yang bertujuan memberikan gambaran tentang fenomena dan pemikiran yang sedang dikaji melalui studi dokumentasi dan kepustakaan menggunakan oleh sumber-sumber data yang relevan sesuai dengan topik penelitian untuk dapat kemudian ditarik kesimpulan. Aktivitas dalam kurikulum pelatihan pembangunan karakter berdasarkan perspektif kurikulum humanistik memiliki peran pada pengembangan potensi manusia secara holistik, melibatkan aspek-aspek emosional, sosial, dan spiritual, sesuai dengan parameter yang selama ini ada dalam kurikulum pembangunan karakter yang terdiri dari empat kompetensi yaitu kemampuan intrapersonal, kemampuan interpersonal, kemampuan organisasional, dan kemampuan spiritual. Sedangkan menurut perspektif eksistensialisme aktivitas dari kurikulum pembangunan karakter menekankan pada kebebasan individu, tanggung jawab pribadi, dan pencarian makna hidup, yang menyangkut konsep eksistensialis, seperti kebebasan, tanggung jawab, mandiri, dan otentik.Kata Kunci: eksistensialisme; kurikulum humanistik; pelatihan; pembangunan karakter
Development of learning videos at SDN 106104 Sambirejo M. Maisyaroh; S. Syarifah; M. Mursid
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.69286

Abstract

The lecture learning method sometimes makes students bored, so it is necessary to develop learning methods that are effective and fun for students. This research aims to determine the feasibility and effectiveness of using instructional videos in teaching my area, my pride, class V at SDN 106104 Sambirejo. This research is development research, which refers to the 4-D development model, which consists of 4 stages, namely the Define, Design, Development, and Disseminate stages. Data was collected through observation, interviews, validation questionnaires, and tests. Based on research results, the developed learning video was validated by material expert validators, obtaining a feasibility percentage of 95.38 percent, a very valid criteria. The results of the small group trial obtained a practicality percentage of 88.50 percent, very practical criteria. The field trials' results show the percentage of practicality was 91.57 percent, a very practical criteria. At the field trial stage, effectiveness was achieved at 100 percent classically, with a gain score of 0.615 classified as medium effectiveness criteria. The percentage increase in learning outcomes is 92 percent, meaning that learning videos can be effectively used in the learning process of my proud region in class V at SDN 106104 Sambirejo AbstrakMetode pembelajaran ceramah terkadang membuat peserta didik bosan, sehingga perlu dilakukan pengembangan metode pembelajaran yang efektif dan menyenangkan untuk peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan keefektifan penggunaan video pembelajaran pada pembelajaran daerahku kebangganku kelas V SDN 106104 Sambirejo. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengacu pada model pengembangan 4-D yang terdiri dari 4 tahapan yaitu tahap Define, Design, Development, dan Disseminate. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, angket validasi dan tes. Berdasarkan hasil penelitian video pembelajaran yang dikembangkan telah divalidasi oleh validator ahli materi memperoleh persentase kelayakan sebesar 95,38 persen kriteria sangat valid. Hasil uji coba kelompok kecil memperoleh persentase kepraktisan sebesar 88.50 persen kriteria sangat praktis. Hasil uji coba lapangan persentase kepraktisan sebesar 91,57 persen kriteria sangat praktis. Pada tahap uji coba lapangan keefektifan tercapai dengan 100 persen secara klasikal, dengan hasil gain score sebesar 0,615 diklasifikasikan dalam kriteria efektivitas sedang. Persentase peningkatan hasil belajar sebesar 92 persen, artinya video pembelajaran dapat efektif digunakan dalam proses pembelajaran daerahku kebangganku di kelas V SDN 106104 Sambirejo.Kata Kunci: 4-D; hasil belajar; video pembelajaran
Research trends and benefits of discovery learning and problem-based learning on critical thinking skills Muhamad Kosim Gifari; Babang Robandi
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.66410

Abstract

This study uses the Systematic Review (SR) method to identify, evaluate, and synthesize evidence from literature relevant to the research topic about the influence of Discovery Learning (DL) and Problem-Based Learning (PBL) on critical thinking skills. The purpose of this study is to identify research trends and analyze selected literature. The software used in this study is Google Scholar, Harzing's Publish or Perish 8, Microsoft Excel, Mendeley Desktop, and VOSviewer. The bibliometric analysis identified seven interrelated clusters, including DL, PBL, and critical thinking skills. The results of the visualization highlight the importance of technology integration in education and the important role of teachers and teaching materials. SR analysis shows that PBL and DL journals make a major contribution to the development of research on critical thinking. The most cited articles show the dominance of research in this area, with experimental methods being the most common. The results of SR analysis show that the DL and PBL learning models can improve students' critical thinking skills, as seen from previous studies. The implication is that this learning approach has great potential to improve the quality of education by preparing students to think critically and analytically in facing future challenges. AbstrakPenelitian ini menggunakan metode Systematic Review (SR) untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis bukti-bukti dari literatur yang relevan dengan topik penelitian tentang pengaruh Discovery Learning (DL) dan Problem-Based Learning (PBL) terhadap kemampuan berpikir kritis. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi tren penelitian dan menganalisis literatur terpilih. Software yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Google Scholar, Harzing’s Publish or Perish 8, Microsoft Excel, Mendeley Desktop, dan VOSviewer. Analisis bibliometrik mengidentifikasi tujuh cluster yang saling terkait, termasuk DL, PBL, dan kemampuan berpikir kritis. Hasil visualisasi menyoroti pentingnya integrasi teknologi dalam pendidikan dan peran penting guru serta bahan ajar. Analisis SR menunjukkan bahwa jurnal PBL dan DL memberikan kontribusi besar dalam pengembangan penelitian tentang berpikir kritis. Artikel yang paling banyak dikutip menunjukkan dominasi penelitian dalam bidang ini, dengan metode eksperimen menjadi yang paling umum. Hasil analisis SR menunjukkan bahwa model pembelajaran DL dan PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, seperti yang terlihat dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Implikasinya adalah bahwa pendekatan pembelajaran ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan dengan mempersiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis dalam menghadapi tantangan masa depan.Kata Kunci: Berpikir kritis, pembelajaran berbasis penemuan, pembelajaran berbasis masalah
Implementation of IPE in health education curriculum: Challenges and strategies Prischilia Modesta Sueng Son; Ari Indra Susanti; Hadi Susiarno
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.72596

Abstract

Interprofessional Education (IPE) is when two or more professions learn together to realize effective collaboration and improve healthcare outcomes. This scoping review aimed to identify challenges, explore strategies used to overcome challenges and assess the impact of IPE implementation on the health education curriculum. The scoping review had a framework consisting of five steps: identifying questions, identifying relevant articles, selecting articles, mapping data, compiling, summarizing, and reporting results and discussion: findings were organized by relevant themes and sub-themes. From the multiple methods used, ten articles were generated. They showed the main challenges in IPE development and implementation: lack of consistency and standards, limited resources and institutional support, cultural differences, and traditional hierarchies. Strategies to overcome these challenges include faculty training and development, policy stakeholder support, systematic curriculum integration, development/innovation, and case-based and simulation approaches. The positive impact of IPE improved knowledge, skills, and attitudes among students and healthcare professionals, promoting better teamwork and collaboration. Developing and implementing IPE in health education curricula requires a multifaceted approach that addresses challenges through strategic solutions.  AbstrakInterprofessional Education (IPE) adalah situasi di mana dua atau lebih profesi belajar bersama untuk mewujudkan kolaborasi yang efektif dan meningkatkan hasil perawatan kesehatan.Tujuan scoping review ini mengidentifikasi tantangan dan mengeksplorasi strategi yang digunakan untuk mengatasi tantangan serta menilai dampak dari implementasi IPE dalam kurikulum pendidikan Kesehatan. Tinjauan cakupan dengan kerangka kerja yang terdiri dari lima langkah: mengidentifikasi pertanyaan, mengidentifikasi artikel yang relevan, memilih artikel, memetakan data, menyusun, merangkum, dan melaporkan hasil dan diskusi: temuan diorganisasikan berdasarkan tema dan sub-tema yang relevan. Dari metode beberapa metode yang digunakan, 10 artikel dihasilkan dan menunjukkan tantangan utama dalam pengembangan dan implementasi IPE, yaitu kurangnya konsistensi dan standar, keterbatasan sumber daya dan dukungan institusional, serta perbedaan budaya dan hierarki tradisional. Strategi yang digunakan untuk mengatasi tantangan tersebut meliputi pelatihan dan pengembangan tenaga pengajar, dukungan pemangku kebijakan, integrasi kurikulum yang sistematis, pengembangan/inovasi, serta pendekatan berbasis kasus dan simulasi. Dampak positif dari IPE meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap di antara para siswa dan profesional kesehatan, mendorong kerja sama tim dan kolaborasi yang lebih baik. Kesimpulan: Pengembangan dan implementasi IPE dalam kurikulum pendidikan kesehatan memerlukan pendekatan multifaset yang menjawab tantangan melalui solusi strategis.Kata Kunci: interprofessional education (IPE), kurikulum kesehatan; pendidikan kesehatan
Evaluation of the Kurikulum Merdeka in dance learning for junior high schools Nadia Putri Kharismawati; Zainal Arifin
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74693

Abstract

Curriculum evaluation is a crucial component in the educational process that assesses the effectiveness of curriculum implementation and identifies strengths and weaknesses in its planning and application. Curriculum evaluation plays a crucial role in ensuring the successful implementation of the Kurikulum Merdeka, particularly in dance education, by assessing the effectiveness of planning, implementation, and learning outcomes. This study aims to evaluate the implementation of the Kurikulum Merdeka based on its relevance to the curriculum's achievements, covering the aspects of planning, implementation, and assessment of dance education. The study employs a descriptive method with a qualitative approach, collecting data through observation, interviews, and documentation from SMPN 1 Cimalaka. Participants in this research include the school principal, the vice principal of curriculum, art and culture teachers, and seventh-grade students. The study results indicate that the dance education planning at SMPN 1 Cimalaka aligns with the guidelines of the Kurikulum Merdeka. In practice, teachers have successfully adapted teaching methods to meet students' needs, though there are differences between the methods recommended in the modules and classroom practices. The evaluation of learning is systematically conducted using formative and summative assessments to measure student achievement. AbstrakEvaluasi kurikulum merupakan komponen penting dalam proses pendidikan yang berfungsi untuk menilai efektivitas pelaksanaan kurikulum serta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam perencanaan dan penerapannya. Evaluasi kurikulum berperan penting dalam memastikan keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka, terutama dalam pembelajaran seni tari, dengan cara menilai efektivitas perencanaan, pelaksanaan, dan pencapaian hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan kurikulum merdeka, berdasarkan relevansinya dalam capaian kurikulum, dengan meliputi aspek perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran tari. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, di mana data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dari SMPN 1 Cimalaka. Partisipan dalam penelitian ini meliputi kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru seni budaya, dan siswa kelas VII. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran tari di SMPN 1 Cimalaka telah sesuai dengan panduan Kurikulum Merdeka. Dalam pelaksanaannya, guru berhasil mengadaptasi metode pengajaran sesuai kebutuhan siswa, meskipun ada perbedaan antara metode yang direkomendasikan modul dan praktik di kelas. Evaluasi pembelajaran dilakukan secara sistematis dengan menggunakan asesmen formatif dan sumatif untuk mengukur pencapaian siswa.Kata Kunci: evaluasi kurikulum; pendidikan seni tari; kurikulum merdeka