cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
Principals’ managerial factors and teachers’ job effectiveness in public senior secondary schools Adeseko Sunday Olaifa; Solawat Ajibola Hassan; Simbiat Mojibola Fagbola; Oba Baba Ayoku; Taibat Joke Abolarin
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74688

Abstract

The study examined principals’ managerial factors and teachers’ job effectiveness in public senior secondary schools in Ilorin Metropolis, Kwara State. The objectives of the study were to examine the managerial factors of principals in public senior secondary schools in Ilorin Metropolis, Kwara State; determine the level of teachers’ job effectiveness in public senior secondary schools in Ilorin Metropolis, Kwara State; and investigate the relationship between principals’ managerial factors and teachers’ job effectiveness in public senior secondary schools in Ilorin Metropolis, Kwara State. The Research Advisor's sample size determination was used to select 317 respondents. Principals’ Managerial Factors and Teachers’ Job Effectiveness Questionnaire were used to collect the data for this study. Findings indicated a significant relationship between principals’ managerial factors and teachers’ job effectiveness in public senior secondary schools in Ilorin Metropolis, Kwara State. There was a significant relationship between principals’ communication skills, principals’ supervisory skills, principals’ record-keeping skills, and principals’ interpersonal relationship skills, and teachers’ job effectiveness in public senior secondary schools in Ilorin Metropolis, Kwara State. It was recommended, among others, that school principals improve their communication skills by adopting different means of communication to ensure every teacher does his or her teaching job well. AbstrakStudi ini menguji faktor manajerial kepala sekolah dan efektivitas kerja guru di sekolah menengah atas negeri di Ilorin Metropolis, Negara Bagian Kwara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji faktor manajerial kepala sekolah di sekolah menengah atas negeri di Ilorin Metropolis, Negara Bagian Kwara; menentukan tingkat efektivitas kerja guru di sekolah menengah atas negeri di Ilorin Metropolis, Negara Bagian Kwara dan menyelidiki hubungan antara faktor manajerial kepala sekolah dan efektivitas kerja guru di sekolah menengah atas negeri di Ilorin Metropolis, Negara Bagian Kwara. Penentuan ukuran sampel Research Advisors digunakan untuk memilih 317 responden. Faktor Manajerial Kepala Sekolah dan Kuesioner Efektivitas Kerja Guru digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini. Temuan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor manajerial kepala sekolah dan efektivitas kerja guru di sekolah menengah atas negeri di Ilorin Metropolis, Negara Bagian Kwara. Terdapat hubungan yang signifikan antara keterampilan komunikasi kepala sekolah, keterampilan pengawasan kepala sekolah, keterampilan pencatatan kepala sekolah dan keterampilan hubungan interpersonal kepala sekolah dengan efektivitas kerja guru di sekolah menengah atas negeri di Ilorin Metropolis, Negara Bagian Kwara. Direkomendasikan antara lain; kepala sekolah harus berupaya meningkatkan keterampilan komunikasi mereka dengan menggunakan cara komunikasi yang berbeda untuk memastikan setiap guru melakukan pekerjaan mengajarnya dengan baik.Kata Kunci: efektivitas kinerja guru; faktor manajerial kepala sekolah; keterampilan komunikasi
Empowering communities for sustainable stunting prevention: A comprehensive approach to enhance child nutrition and family health education S. Sukardi; Durratun Nashihah; Ilham Nur Hanifan Maulana
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.68846

Abstract

Stunting is a significant public health concern influenced by various factors, including education. Studies have shown that reducing the burden of stunting requires interventions that extend beyond focusing solely on children to reaching mothers and families to improve their living environment and nutrition. The purpose focuses on sustainable stunting prevention strategies in Malang City, Indonesia, to enhance child nutrition and family health. Stunting, a form of chronic malnutrition, has long-term consequences on children's growth, cognitive development, and overall health. We used the information from the NFHS 2019-2021 report on the National Family Health Survey. Addressing stunting in Malang requires a comprehensive approach that considers medical and nutritional aspects and factors like education, sanitation, environmental sustainability, and institutional capacity. By integrating these diverse elements into interventions and policies, Malang can work towards reducing stunting prevalence and improving the health and well-being of its population. AbstrakStunting adalah masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pendidikan. Penelitian telah menunjukkan bahwa mengurangi beban stunting membutuhkan intervensi yang melampaui fokus hanya pada anak-anak untuk menjangkau ibu dan keluarga untuk meningkatkan lingkungan hidup dan gizi mereka. Tujuannya berfokus pada strategi pencegahan stunting berkelanjutan di Kota Malang, Indonesia, untuk meningkatkan gizi anak dan kesehatan keluarga. Stunting, suatu bentuk kekurangan gizi kronis, memiliki konsekuensi jangka panjang pada pertumbuhan anak, perkembangan kognitif, dan kesehatan secara keseluruhan. Kami memanfaatkan informasi dari laporan NFHS 2019-2021 tentang Survei Kesehatan Keluarga Nasional. Penanganan stunting di Malang membutuhkan pendekatan komprehensif yang tidak hanya mempertimbangkan aspek medis dan gizi tetapi juga faktor-faktor seperti pendidikan, sanitasi, kelestarian lingkungan, dan kapasitas kelembagaan. Dengan mengintegrasikan beragam elemen ini ke dalam intervensi dan kebijakan, Malang dapat bekerja untuk mengurangi prevalensi stunting dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan penduduknya.Kata Kunci: pendidikan kesehatan keluarga; peningkatan gizi anak; pencegahan stunting
Student’s learning experiences in an online learning environment using Garrison's Col framework Titi Chandrawati; Laksmi Dewi; Nurhikmah H; A. Afriani; Fajar Arwadi; Heni Safitri; Faaizah Shahbodin
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.62813

Abstract

This study was conducted to examine the implementation of online learning in distance education utilizing the Community of Inquiry (CoI) framework, as introduced by Garrison. The CoI framework consists of three core elements essential in implementing online learning: social presence, cognitive presence, and teaching presence. These components are crucial for the success of online learning modalities. This is due to the nature of online learning, where instructors and learners are not present at the exact location or time, necessitating a 'binding element' in the educational process to ensure effective management of learning activities. Consequently, this research involved distributing questionnaires to 317 participants enrolled in online courses at Universitas Terbuka Indonesia. The results obtained from this study were classified as high, indicating that all three CoI elements achieved high ratings. Specifically, the aspect of cognitive presence was dominated by resolution capabilities. In social presence, the open communication capacity scored higher than the affective and cohesive components. Meanwhile, facilitating discourse was rated higher in the teaching presence domain than instructional design, organization, and direct instruction. Based on these findings, it can be concluded that learning across these three aspects is considerably high in the students' online learning experiences. AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pembelajaran daring pada pembelajaran jarak jauh melalui pendekatan Community of Inquiry (CoI) framework yang diperkenalkan oleh Garrison. CoI memiliki tiga unsur yang menjadi perhatian dalam implementasi pembelajaran daring, yaitu social presence, cognitive presence, dan teaching presence. Ketiga unsur ini menjadi komponen penting dalam keberhasilan pembelajaran yang bersifat daring. Mengapa demikian? Karena pembelajaran daring adalah pembelajaran dimana antara pengajar dan peserta tidak berada pada tempat dan waktu yang bersamaan. Sehingga jika tidak ada “pengikat” dalam proses pembelajaran tersebut akan sulit untuk mengontrol pelaksanaan pembelajaran. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan penyebaran kuesioner kepada 317 peserta yang mengikuti perkuliahan pembelajaran daring di Universitas Terbuka Indonesia. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dari ketiga unsur CoI berada pada kategori tinggi, sspek cognitive presence didominasi oleh kemampuan resolution. Pada aspek social presence kemampuan open communication tinggi dibandingkan affective dan cohesive. Sedangkan pada aspek teaching presence facilitating discourse memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan instructional design and organization dan direct instruction. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa kehadiran pembelajaran dari ketiga aspek tersebut cukup tinggi dalam pembelajaran daring yang dialami oleh siswa.Kata Kunci: community of Inquiry; evaluasi pengalaman belajar mahasiswa; pembelajaran daring
The urgency of anti-corruption education as a local subject in secondary education in Lampung Province Aida Ratna Zulaiha; Dinn Wahyudin
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.71162

Abstract

Anti-corruption education is a mandatory local content subject in formal secondary schools in Lampung Province based on the Governor's Regulation. Implementing anti-corruption subjects is carried out by strengthening anti-corruption behavior through a cycle of knowledge, skills, and attitudes to form an anti-corruption attitude in each individual based on their understanding and awareness. This study aimed to determine the implementation process and output of anti-corruption education in senior high schools and vocational high schools in Lampung and to analyze the urgency of anti-corruption education as a local content subject in relation to the objectives of anti-corruption education that have been set. The method used is a combination of analysis of legal documents, modules, and strategies related to anti-corruption education, followed by a survey conducted on schools implementing the program. In most senior high schools and vocational high schools in Lampung that have implemented anti-corruption education as a local content subject, the most dominant aspects taught are attitudes and knowledge, but less for the skills aspect. Based on the objectives of the anti-corruption education set, implementing anti-corruption education only in the form of anti-corruption subjects in local content is not enough. The effectiveness of anti-corruption education in educational units will be achieved if anti-corruption education is implemented comprehensively through curriculum implementation, a conducive ecosystem that supports the internalization of anti-corruption values, and the governance of secondary education units with integrity. AbstrakPendidikan Antikorupsi merupakan mata pelajaran muatan lokal wajib pada sekolah menengah formal di Provinsi Lampung yang didasarkan pada Peraturan Gubernur. Implementasi mata pelajaran antikorupsi dilakukan dalam bentuk penguatan perilaku antikorupsi, melalui siklus pengetahuan, keterampilan dan sikap, dengan tujuan terbentuknya sikap antikorupsi pada setiap individu yang didasarkan pada pemahaman dan kesadaran yang dimiliki. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui proses implementasi dan output dari pendidikan antikorupsi di SMA dan SMK di Lampung serta menganalisis urgensi pendidikan antikorupsi sebagai mata pelajaran muatan lokal dikaitkan dengan tujuan pendidikan antikorupsi yang ditetapkan. Metode yang dilakukan merupakan kombinasi antara analisis terhadap dokumen hukum, modul dan strategi terkait pendidikan antikorupsi dengan survei yang dilakukan terhadap sekolah pelaksana program. Mayoritas SMA dan SMK di Lampung yang sudah mengimplementasikan pendidikan antikorupsi sebagai mata pelajaran muatan lokal, aspek yang paling dominan diajarkan adalah sikap dan pengetahuan, namun kurang untuk aspek keterampilan. Berdasarkan tujuan dari pendidikan antikorupsi yang ditetapkan, mengimplementasikan pendidikan antikorupsi hanya dalam bentuk mata pelajaran antikorupsi pada muatan lokal tidak cukup. Efektivitas pendidikan antikorupsi di satuan pendidikan akan tercapai jika pendidikan antikorupsi dilaksanakan secara komprehensif melalui implementasi kurikulum, ekosistem kondusif yang mendukung internalisasi nilai antikorupsi, serta tatakelola satuan pendidikan menengah yang berintegritas.Kata Kunci: muatan lokal; pendidikan antikorupsi; peserta didik; sekolah menengah
Kurikulum Merdeka: Solution or causation of students' lack of soft skills? W. Wahyudin; Kania Lisdiana; Alya Arthamevia Solehuddin; Eptina Fatmawati
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.71267

Abstract

Kurikulum Merdeka is a curriculum concept that allows teachers and students to choose and develop learning content according to their respective needs and conditions. This study aims to critically analyze the implementation of the Kurikulum Merdeka, with a focus on the impact on students' soft skills development. Unlike previous studies that mainly evaluate academic effectiveness, this research examines how well Kurikulum Merdeka succeeds or fails in fostering essential soft skills among students. The method used is a literature study, which involves an in-depth analysis of various relevant written sources. The results show that Kurikulum Merdeka provides mixed results in developing students' soft skills. Although there is an improvement in students' communication skills, the results are still below the expected target. In addition, students' empathy skills did not improve as expected, highlighting significant challenges in instilling empathy through this curriculum. The main barriers identified include a lack of training and support for teachers, limitations in teaching methods, and a lack of support from the home environment and parental involvement. Several strategies need to be implemented to improve the effectiveness of Kurikulum Merdeka. These strategies include improving teacher training, diversifying teaching methods, and increasing parental involvement in education. AbstrakKurikulum Merdeka adalah konsep kurikulum yang memberikan kebebasan kepada guru dan peserta didik untuk memilih dan mengembangkan konten pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis implementasi Kurikulum Merdeka, dengan fokusnya pada dampak terhadap pengembangan softskill peserta didik. Tidak seperti penelitian sebelumnya yang terutama mengevaluasi efektivitas akademik, penelitian ini meneliti seberapa baik Kurikulum Merdeka berhasil atau gagal dalam membina softskill yang penting di kalangan peserta didik. Metode yang digunakan adalah studi literatur, yang melibatkan analisis mendalam dari berbagai sumber tertulis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan hasil yang beragam dalam mengembangkan softskill peserta didik. Meskipun terdapat peningkatan kemampuan komunikasi peserta didik, hasil yang ada masih di bawah target yang diharapkan. Selain itu, kemampuan empati peserta didik tidak meningkat seperti yang diharapkan, sehingga menyoroti tantangan yang signifikan dalam menanamkan empati melalui kurikulum ini. Hambatan utama yang teridentifikasi termasuk kurangnya pelatihan dan dukungan untuk guru, keterbatasan dalam metode pengajaran, dan kurangnya dukungan dari lingkungan rumah dan keterlibatan orang tua. Untuk meningkatkan efektivitas Kurikulum Merdeka, beberapa strategi perlu diterapkan. Strategi ini meliputi peningkatan pelatihan bagi guru, diversifikasi metode pengajaran, dan peningkatan keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan.Kata Kunci: implementasi kurikulum; kurikulum merdeka; softskill peserta didik
The technique of listening, asking, and problem-solving on the application of Indonesian language teaching materials Diah Latifah; Suci Sundusiah; Nuny Sulistiani Idris; Y. Yulianeta; Yeti Mulyati; Isah Cahyani
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.64107

Abstract

This research examines the power of listening, asking, and solving problems in training in using Indonesian language teaching materials for Indonesian language teachers for foreign speaker military officers. The problem identified is that Indonesian language teachers for foreign-speaker military officers must update their teaching materials according to student characteristics. Teaching materials need to be updated because there have been many changes in vocabulary, including the addition of several words in everyday life, including slang. The training participants are Indonesian language teachers who teach foreign-speaker military officers at Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. The number of training participants was twenty people. Data analysis was carried out qualitatively and quantitatively. Qualitative research was carried out by interpreting the results of questions from training participants and quantitative quasi-experimental analysis to measure the influence of teaching materials training on understanding the use of Indonesian language teaching materials for foreign-speaker military officers. The research results showed that listening, asking, and solving problems succeeded in helping Indonesian language teachers who taught foreign-speaker military officers understand conceptually how to convey Indonesian language teaching materials to students. AbstrakPenelitian ini mengkaji tentang kekuatan mendengarkan, bertanya dan memecahkan masalah dalam pelatihan penggunaan bahan ajar bahasa Indonesia bagi guru bahasa Indonesia bagi perwira militer penutur asing. Permasalahan yang teridentifikasi adalah guru bahasa Indonesia bagi perwira militer penutur asing harus memperbarui bahan ajarnya sesuai dengan karakteristik siswa. Bahan ajar perlu diperbarui karena banyak terjadi perubahan kosa kata, termasuk penambahan beberapa kata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bahasa gaul. Peserta pelatihan adalah guru bahasa Indonesia yang mengajar perwira militer penutur asing di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Jumlah peserta pelatihan sebanyak dua puluh orang. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan dengan interpretasi hasil pertanyaan peserta pelatihan dan analisis kuasi eksperimen kuantitatif untuk mengukur pengaruh pelatihan bahan ajar terhadap pemahaman penggunaan bahan ajar bahasa Indonesia bagi perwira militer penutur asing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mendengarkan, bertanya, dan memecahkan masalah berhasil membantu guru bahasa Indonesia yang mengajar perwira militer penutur asing memahami secara konseptual cara menyampaikan bahan ajar bahasa Indonesia kepada siswa.Kata Kunci: bahan ajar; pelatihan bahasa; pembelajaran berbasis masalah
Augmented reality integrated chatbot to improve learning outcomes in secondary school students. Reno Nurdiyanto; Henry Praherdhiono; Made Duananda Kartika Degeng
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.69108

Abstract

The major challenge in learning science is that it is abstract and complex for some students to understand. For example, elements and compounds cannot be seen directly in very micro-sized objects; therefore, visualizing this concept can be challenging. Another challenge is the limited time for teachers to answer questions, provide explanations, and provide feedback during the learning process. This study aims to develop augmented reality learning tools integrated with large language models in the format of a chatterbot text-to-text that can be utilized on the topic of elements and compounds. The development model that has been implemented is adapted from the Lee and Owen model, which includes need analysis, front-end analysis, design, development, implementation, and assessment. Media and content experts have assessed the technology's suitability for classroom learning for 8th-grade students of Salafiyah Junior High School in Pekalongan. Based on field implementation, this technology obtained a positive perspective and indicated an improvement in learning outcomes on element and compound topics. The integration of AR and ChatBot contributes significantly to the innovative classroom learning process and creates a learning experience that suits the needs of students in this digital era. AbstrakKendala utama dalam pembelajaran IPA yaitu abstrak dan sulit untuk dipahami oleh beberapa siswa. Contohnya konsep mengenai unsur dan senyawa yang tidak bisa dilihat dalam bentuk secara langsung dalam objek yang berukuran sangat kecil, sehingga memvisualisasikan konsep ini bisa menjadi tantangan. Tantangan lain berupa waktu yang terbatas untuk guru dalam siswa dalam menjawab pertanyaan, memberikan penjelasan, dan memberikan umpan balik selama proses pembelajaran. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berupa augmented reality terintegrasi large language models dalam bentuk chatterbot teks ke teks sehingga dapat digunakan pada topik tentang unsur dan senyawa. Model pengembangan yang telah dilakukan diadaptasi model Lee dan Owen, yang meliputi analisis kebutuhan, analisis awal akhir, desain, pengembangan, implementasi, dan penilaian. Ahli media dan ahli materi telah menyatakan kelayakan untuk digunakan dalam pembelajaran kelas pada siswa kelas 8 SMP Salafiyah Pekalongan. Berdasarkan implementasi lapangan, teknologi ini memperoleh perspektif yang positif dan menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar pada materi unsur dan senyawa. Integrasi dari AR dan Chatbot memberikan kontribusi signifikan bagi sebagai media pembelajaran dalam proses pembelajaran kelas yang inovatif dan menciptakan pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa di era digital saat ini.Kata Kunci: artificial intelligence; large language models; pembelajaran IPA; realitas berimbuh
Trend and research focus on Problem-Based Learning and learning outcome in the world: A bibliometric analysis Agus Fatkhurohman Handoyo; Ade Sobandi; Widhi Aryo Bimo
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.69328

Abstract

A problem-based learning approach is a learning approach that is student-centered, allowing them to confront real-world problems, encouraging critical thinking, collaboration and problem solving. This research aims to investigate several key aspects related to PBL and learning outcomes at a global level and generate in-depth insights into research trends and focuses related to problem-based learning (PBL) approaches and learning outcomes. through bibliometric analysis. From 1132 Scopus database articles, after going through the selection process there were 742 articles. It was found that interest and research focus on this topic has increased significantly in recent years, reflecting the importance of PBL in developing students' critical and collaborative skills. The importance of developing valid and reliable educational measurement tools to measure learning outcomes. The importance of international collaboration in enriching understanding of PBL and learning outcomes. Human factors, such as student characteristics, were found to be important in designing a PBL curriculum that is responsive to student needs. These findings provide guidance for future research directions, highlighting the innovative potential in PBL development. In conclusion, these results and discussion provide a strong foundation for the development of education oriented towards effective learning outcomes in the modern era. AbstrakPendekatan pembelajaran berbasis masalah adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, memungkinkan mereka menghadapi masalah dunia nyata, mendorong pemikiran kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki beberapa aspek kunci terkait dengan PBL dan hasil pembelajaran di tingkat global dan menghasilkan wawasan mendalam tentang tren dan fokus penelitian terkait pendekatan pembelajaran berbasis masalah (PBL) dan hasil pembelajaran. melalui analisis bibliometrik. dari sebanyak 1132 artikel database scopus, setelah melalui proses seleksi menjadi 742 artikel. Ditemukan bahwa minat dan fokus penelitian terhadap topik ini meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan pentingnya PBL dalam mengembangkan keterampilan kritis dan kolaboratif peserta didik. Pentingnya pengembangan alat pengukuran pendidikan yang valid dan reliabel untuk mengukur hasil pembelajaran. Pentingnya kerja sama internasional dalam memperkaya pemahaman tentang PBL dan hasil pembelajaran. Faktor-faktor manusia, seperti karakteristik peserta didik ditemukan penting dalam merancang kurikulum PBL yang responsif terhadap kebutuhan peserta didik. Temuan ini memberikan panduan arah penelitian mendatang, menyoroti potensi inovatif dalam pengembangan PBL. Kesimpulannya, hasil dan pembahasan ini memberikan landasan yang kuat untuk pengembangan pendidikan yang berorientasi pada hasil pembelajaran yang efektif di era modern.Kata Kunci: bibliometrik; hasil belajar; pembelajaran berbasis masalah
The urgency of incorporating real-life conversation into IFL learning materials Nina Amalia Nurichsania; Suci Sundusiah; Ida Widia
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.72253

Abstract

While authenticity plays a vital role in foreign language learning, a significant disparity exists between classroom-based learning and the practical use of language in real-world contexts. IFL resources often lack authenticity, failing to mirror the genuine language encounters that learners face beyond the classroom. Therefore, this research explores the motivations, needs, and prior learning experiences of IFL learners to emphasize the importance of integrating real-life conversations into IFL learning materials. This descriptive qualitative research gathered data via surveys and semi-structured interviews with ten foreigners. The findings underscored the varied motivations of participants in learning Indonesian, including personal and familial connections, communication requirements during travel, interests in language, and cultural identity. Participants engaged in instructor-led and self-directed learning as endeavors to boost their proficiency. Intriguingly, there was a discrepancy between their learning experiences and needs. Although the provided IFL materials had successfully fulfilled the learners’ needs in formal settings, they fell short of adequately equipping them for real-world interactions in the intended social settings. Hence, it is suggested that authentic, real-life conversation be incorporated into the IFL materials to meet the diverse practical communication needs of IFL learners. AbstrakKeautentikan memainkan peranan penting dalam pembelajaran bahasa asing, namun pada kenyataannya terdapat kesenjangan yang signifikan antara pembelajaran di kelas dan penggunaan bahasa dalam konteks kehidupan nyata. Sumber belajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) kerap kali kurang mencerminkan penggunaan bahasa Indonesia sesungguhnya yang dihadapi pemelajar di luar kelas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi motivasi, kebutuhan, dan pengalaman belajar pemelajar untuk menekankan pentingnya pengintegrasian percakapan real-life dalam materi pembelajaran BIPA. Peneliti mengumpulkan data melalui survei dan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian deskriptif kualitatif ini menyoroti beragam motivasi pemelajar dalam mempelajari bahasa Indonesia, yakni hubungan pribadi dan keluarga, kebutuhan komunikasi saat bepergian, minat terhadap bahasa, serta identitas budaya. Para pemelajar belajar bahasa Indonesia secara formal dengan instruktur dan secara mandiri sebagai usaha untuk meningkatkan kecakapan berbahasa Indonesia mereka. Meskipun begitu, masih ditemukan kesenjangan antara pengalaman belajar dan kebutuhan belajar para pemelajar BIPA. Walaupun materi BIPA yang tersedia sudah mengakomodasi kebutuhan berbahasa pemelajar di konteks formal, materi tersebut belum memadai dalam mempersiapkan pemelajar untuk interaksi autentik dalam konteks sosial yang dibutuhkan. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, disarankan untuk mengintegrasikan percakapan real-life ke dalam materi pembelajaran BIPA guna memenuhi kebutuhan komunikasi praktis pemelajar BIPA yang beragam.Kata Kunci: Materi autentik; materi BIPA; percakapan kehidupan nyata
Literature review: Evaluation of the Kurikulum Merdeka using the CIPP model Muhamad Kosim Gifari; Zainal Arifin
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.71095

Abstract

Indonesia's participation in the Programme for International Students Assessment (PISA) showed unsatisfactory results, with reading, math, and science proficiency ranked in the bottom 10 out of 79 participating countries. This problem encourages academics in Indonesia to find solutions to improve the quality of education. The government developed the Kurikulum 2013 into the Kurikulum Merdeka to adapt to global developments. The Kurikulum Merdeka is expected to develop students' potential and abilities through critical, quality, expressive, applicative, varied, and progressive learning. Curriculum evaluation is needed to determine the value and meaning of the Kurikulum Merdeka implemented nationally. This study uses the literature review method to evaluate the Kurikulum Merdeka using the Context, Input, Process, and Product (CIPP) model. The results of the evaluation show that the Kurikulum Merdeka has achieved several levels of success in meeting the needs of students, teachers, and the community. The main findings include success in the internship program for vocational school students, Project-Based Learning at Madrasah Ibtidaiyah Yogyakarta, and early childhood art learning. However, challenges such as the availability of resources and facilities, the need to develop evaluation instruments, and educational staff training need to be addressed for future improvement. These evaluations provide recommendations such as increased cooperation between educational institutions and industry and increased training for educational staff. AbstrakPartisipasi Indonesia dalam Programme for International Students Assessment (PISA) menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, dengan peringkat kemampuan membaca, matematika, dan sains berada di 10 terbawah dari 79 negara peserta. Masalah ini mendorong akademisi di Indonesia untuk mencari solusi guna meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk menyesuaikan dengan perkembangan global, pemerintah mengembangkan Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka diharapkan dapat mengembangkan potensi dan kemampuan siswa melalui pembelajaran yang kritis, berkualitas, ekspresif, aplikatif, variatif, dan progresif. Evaluasi kurikulum diperlukan untuk memperoleh informasi dari nilai dan arti kurikulum merdeka yang telah diimplementasikan secara nasional. Penelitian ini menggunakan metode literature review untuk mengkaji evaluasi Kurikulum Merdeka menggunakan model Context, Input, Process, dan Product (CIPP). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka telah mencapai beberapa tingkat kesuksesan dalam memenuhi kebutuhan siswa, guru, dan masyarakat. Temuan utama mencakup keberhasilan dalam program magang siswa SMK, pembelajaran berbasis Project Based Learning di Madrasah Ibtidaiyah Yogyakarta, dan pembelajaran seni anak usia dini. Namun, tantangan seperti ketersediaan sumber daya dan fasilitas, serta perlunya pengembangan instrumen evaluasi dan pelatihan staf pendidikan, perlu diatasi untuk perbaikan di masa depan. Evaluasi ini memberikan rekomendasi seperti peningkatan kerjasama antara institusi pendidikan dan industri, serta peningkatan pelatihan untuk staf pendidikan.Kata Kunci: evaluasi kurikulum; kurikulum Merdeka; model CIPP