cover
Contact Name
Christine
Contact Email
christinekromoprawiro@gmail.com
Phone
+6285241079002
Journal Mail Official
christinekromoprawiro@gmail.com
Editorial Address
Jl. Thalua Konchi, Mamboro, Palu Utara, Kota Palu, 94145 Sulawesi Tengah, Indonesia
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan
ISSN : 27978176     EISSN : 27978184     DOI : https://doi.org/10.33860/bjkl
Core Subject : Health, Social,
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan accepts original research articles and literature review articles covering the following topics: 1. Environmental Health 2. Environmental Epidemiology 3. Environmental Health Risk Assessment 4. Environmental Health Management 5. Environmental Health Technology 6. Environmental-Based Diseases 7. Environmental Toxicology 8. Water and Sanitation 9. Waste Management 10. Vector Rodent Disease Control and Prevention 11. Food Safety 12. Aspects of Environmental Health in Disaster Management
Articles 49 Documents
Gambaran Lingkungan Fisik, 3M pada Rumah Penderita DBD di Kelurahan Wonosari Jaya Distrik Wania Irawan, Angki
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v4i2.4065

Abstract

Latar Belakang: Penularan DBD dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang meliputi lingkungan fisik, kimia dan biologi. Lingkungan sangat berperan dalam distribusi keberadaan organisme vektor dari penyakit DBD. Tujuan:Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran lingkungan fisik rumah, 3M pada rumah penderita DBD di Kelurahan Wonosari Jaya Distrik Wania . Metode: Penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif dengan populasi dan sampel sebanyak 32 rumah penderita DBD (total sampling). Teknik pengumpulan data mengunakan kuesioner, lembar observasi, dan termohygrometer. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan lingkungan fisik (lantai rumah diplester/keramik 29 (90,63%),kepadatan hunian memenuhi syarat 24(75%), ventilasi berkasa memenuhi syarat 24(75%), keberadaan breeding place 16(50%), suhu > 250C 32(100%), kelembaban 40-60% 32(100%)), Pelaksanaan 3M (Menguras tempat penampungan air 25(78,13%), Menutup tempat penampungan air 24(75%), dan Tidak mengubur barang bekas 30(93,75%)). Kesimpulan: lingkungan fisik rumah yang meliputi suhu cukup tinggi, dan pelaksanaan 3M yaitu banyaknya rumah yang tidak mengubur barang bekas. Oleh karena itu diharapkan masyarakat agar melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan menerapkan praktik 3M.
Gambaran Bionomik Nyamuk Anopheles sp. di RW 02 Kelurahan Kamoro Jaya Kabupaten Mimika Marpaung, Dhorkas
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v4i2.4066

Abstract

Latar Belakang: Malaria masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat utama di dunia,  terutama di daerah tropis dan subtropik. RW 02 Kelurahan Kamoro Jaya didapati kondisi lingkungannya ternyata banyak habitat nyamuk Anopheles sp, namun tidak adanya informasi tentang gambaran bionomik nyamuk Anopheles sp. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran bionomik nyamuk Anopheles sp. di RW 02 Kelurahan Kamoro Jaya, Kabupaten Mimika. Metode yang digunakan adalah survei deskriptif, dengan jumlah sampel adalah seluruh tempat perindukan di RW 02 Kelurahan Kamoro Jaya, di mana sampel diambil berdasarkan durasi waktu yang ditentukan dengan menghitung Kepadatan Man Biting Rate (MBR) dan Indeks Habitat Nyamuk. Hasil: Berdasarkan tempat menggigit dikelompokkan menjadi nyamuk endofagik dan nyamuk eksofagik. Tingkat Man Biting Rate (MBR) nyamuk di RW 02 Kelurahan Kamoro Jaya Tahun 2024 adalah 12 Ekor/Orang/Malam. Kepadatan jentik nyamuk Anopheles sp. di RW 02 Kelurahan Kamoro Jaya adalah 2 ekor per area. Indeks Habitat melebihi baku mutu yaitu 16%. Kesimpuan: Nyamuk Anopheles sp terbanyak merupakan nyamuk bersifat eksofagik (suka menggigit di luar rumah) sehingga peru dilakukan edukasi kepada masyarakat terkait aktivitas di luar rumah dan perlu dilakukan pengendalian vektor oleh petugas puskesmas serta masyarakat.
Uji Perbandingan Kualitas Kompos Menggunakan Mol Kentang Dan Mol Wortel A. Hi. Adam, Herwin; Sangadjisowohy, Idayani; Washliyah, Siti; H Halil, Nurbaiya
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v4i1.4069

Abstract

Latar Belakang: Pengelolaan sampah organik merupakan tantangan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan, salah satu metode pengelolaan adalah dengan mengubahnya menjadi kompos menggunakan Mikroorganisme Lokal (MOL). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas kompos yang dihasilkan dengan tambahan MOL kentang dan wortel. Metode: Penelitian menggunakan desain eksperimen dengan sampel berupa 30 kg sampah organik dari Pasar Bahari Berkesan, Ternate, serta 5 kg masing-masing kentang dan wortel untuk MOL. Data diperoleh melalui pengamatan kualitas fisik kompos selama 21 hari menggunakan alat seperti mesin pencacah, soil thermometer, dan soil meter. Analisis dilakukan berdasarkan standar SNI 19-7030-2004. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa kompos dengan MOL kentang dan wortel lebih unggul dibandingkan kontrol. MOL kentang dan wortel menghasilkan warna kehitaman, bau tanah, dan tekstur menyerupai tanah, sementara kontrol hanya menghasilkan warna kecokelatan dan bau sampah. Kesimpulan: Temuan ini mengimplikasikan bahwa MOL berbasis kentang dan wortel efektif meningkatkan kualitas kompos. Disarankan untuk mengadopsi metode ini pada skala lebih besar guna mengelola sampah organik secara efisien.
Perbedaan Dosis Serbuk Biji Kelor (Moringa oleifera) dan Biji Asam Jawa (Tamarindus indica L.) Terhadap Penurunan Kekeruhan Air dengan Metode Jar Test Erlisa Hindriani; Bungawati, A; Mahyudin Syam, Dedi
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v4i1.4070

Abstract

Latar Belakang: Biji kelor (Moringa oleifera) dan biji asam jawa (Tamarindus indica L) merupakan tanaman yang memiliki potensi sebagai biokoagulan pada proses koagulasi karena kandungan protein. Protein penyusun biji kelor dan biji asam jawa digunakan sebagai alternatif bagi penggunaan koagulan sintetik dalam memperbaiki kualitas kekeruhan air. Tujuan: Tujuan dari penelitian  ini adalah diketahuinya perbedaan dosis serbuk biji kelor dan biji asam jawa terhadap penurunan kekeruhan air dengan metode jar test. Metode: Penelitian eksperimen dengan pendekatan eksperimen sungguhan dengan pola penelitian pretest posttest with control (-) group. Sampel dalam penelitian ini yaitu air sungai di kelurahan Taipa dengan cara Grab Sampling. Hasil: Persentase tertinggi penurunan kekeruhan dengan serbuk biji kelor sebesar 38,44% pada dosis 0,2 gr dan persentase tertinggi penurunan kekeruhan dengan serbuk biji asam jawa sebesar 22,83% pada dosis 0,2 gr. Hasil uji T-Test  pada jenis koagulan biji kelor dengan rata-rata penurunan 118,300 NTU, sedangkan pada koagulan biji asam jawa terjadi penurunan tingkat kekeruhan dengan rata-rata 134,94 NTU. Kesimpulan: Ada perbedaan rata-rata nilai hasil setelah dilakukan uji coba pada serbuk biji kelor dan biji asam jawa.
Efektivitas Daun Pandan (Pandanus amaryllifolius) , Daun Sereh (Cymbopogon ciratus), Dan Cengkeh (Syzygium aromaticum) Sebagai Penolak Lalat Novarianti
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v4i1.4071

Abstract

Latar Belakang : Salah satu agen utama dalam penyebaran sejumlah penyakit menular mekanis, termasuk kolera, tipus, kolera, disentri, dan penyakit saluran pencernaan lainnya, adalah lalat. Mengontrol vektor lalat diperlukan karena ini. Memanfaatkan zat aktif yang diperoleh dari tumbuhan atau dari tanaman yang dapat berperan sebagai modal utama untuk mengendalikan vektor, seperti cengkeh, pandan, dan daun serai. Tujuan : Tujuan penelitian mengetahui efektivitas Daun Pandan, Daun Sereh dan Cengkeh dalam menolak Lalat. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen. Dengan Desain penelitian Posttest Only With Control Design. Total Lalat uji yang digunakan yaitu sebanyak 400 ekor dengan 3 perlakuan dan 5 kali pengulangan, teknk pengambilan data primer diperoleh dari hasil uji yang dilakukan sedangkan data sekunder doperoleh dari berbagai sumber referensi yang terkait. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan oktober serta analisa data dilakukan dengan Annlisa of Variance (Uji ANNOVA) untuk membandingkan Efektivitas lalat berdasarkan bahan daun pandan, daun sereh, dan cengkeh. Hasil : pada dosis 9 gram daya tolak daun pandan sebanyak 34%, daun sereh sebanyak 74%, cengkeh sebanyak 58%. hasil test of homogeneity of variances di dapatkan hasil nilai sig 0,052 yang artinya lebih besar dari 0,05 maka dapat diartikan  bahwa hipotesis 0 (Hₒ ) di tolak yang dapat diartikan sebagai uji coba pada daun pandan,daun sereh,dan cengkeh adalah sama (homogeny). Kesimpulan : bahwa yang efektif dalam menolak lalat yaitu daun sereh. Saran untuk masyarakat jika ingin menggunakan bahan daun pandan dan cengkeh sebagai penolak lalat sebaiknya jumlah dosis yang digunakan ditambahkan lagi agar bahan tersebut mampu menolak lalat. 
Efektivitas Jenis Umpan dan Spesies Tikus di Pabrik Gilingan Gabah Desa Malonas Kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala Shadiq, Moh; Syukur S, Djuanidil; Respito, Andi; Santriana, Santriana; Agustiany, Dessy
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v4i2.4074

Abstract

Latar Belakang: Leptospirosis dan pes adalah penyakit zoonosis yang sering ditularkan oleh tikus, terutama di lingkungan industri seperti pabrik penggilingan gabah. Pemilihan umpan yang efektif dalam perangkap tikus merupakan langkah penting untuk mengurangi populasi tikus dan risiko penyebaran penyakit ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas berbagai jenis umpan (gabah, kelapa bakar, dan jagung manis) dalam menangkap tikus serta mengidentifikasi spesies tikus yang dominan di pabrik penggilingan gabah. Metode: Menggunakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment). Desain penelitian yang digunakan post test only non equivalent control group. Populasi adalah seluruh tikus yang berada di penggilingan gabah, sampel diambil secara accidental sejumlah 45 ekor tikus, dengan menggunakan jenis umpan gabah, kelapa bakar dan jagung manis. Variabel penelitianya adalah umpan gabah, kelapa bakar dan jagung manis serta tikus hidup. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa umpan jagung manis memiliki efektivitas tertinggi (42,5%), diikuti oleh gabah (37,5%) dan kelapa bakar (32,5%). Spesies tikus yang dominan adalah Rattus rattus diardii (91%). Temuan ini menunjukkan pentingnya pemilihan umpan yang sesuai untuk meningkatkan keberhasilan pengendalian tikus. Kesimpulan: Penggunaan jagung manis sebagai umpan utama dapat menjadi strategi efektif dalam program pengendalian tikus di lingkungan industri. Selain itu, hasil ini mendukung pentingnya pendekatan berbasis spesies dalam pengelolaan populasi tikus. Fokus pada Pengelolaan Lingkungan dengan menutup akses tikus dan mengurangi sumber daya yang menarik mereka.
Epidemiologi Demam Berdarah Dengue di Kota Palu Tahun 2019 – 2023 Christine, Christine; Fitri, Geyzka Syalwa Gema; Mustafa, Mustafa
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v4i2.4075

Abstract

Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasite virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Kasus DBD di Kota Palu tahun 2019 – 2023 mengalami fluktuasi tiap tahunnya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan epidemiologi penyakit DBD berdasarkan karakteristik penderita (jenis kelamin dan umur), waktu dan tempat. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang berbasis data sekunder. Populasi dan sampel yaitu seluruh penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) Kota Palu dari tahun 2019 s,d 2023. Hasil: Jumlah kasus DBD tahun 2019 terdapat 604 kasus, tahun 2020 turun menjadi 309 kasus, tahun 2021 turun sejumlah 305 kasus, tahun 2022 meningkat 2 kali lipat menjadi 641 kasus, tahun 2023 cenderung menurun menjadi 541 kasus. Kasus tertinggi pada jenis kelamin laki-laki (1.328 orang) dan golongan umur orang dewasa 19 – 59 tahun (803 orang). Berdasarkan waktu tahun 2019 – 2023 puncak tertinggi kasus DBD pada Bulan Februari 2019 (114 orang), kemudian Maret 2019 – Agustus 2022 menurun dan meningkat lagi bulan September 2022 (94 orang). Tempat kejadian DBD tertinggi ada di Kecamatan Palu Selatan (657 orang). Kesimpulan: Upaya tindakan pencegahan dan masyarakat menerapkan membersihkan lingkungan dalam rumah maupun diluar rumah, serta menghindari tempat-tempat penampungan air dengan tindakan 3M Plus perlu ditingkatkan untuk mengurangi Tingkat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Pengaruh Faktor Lingkungan Biologik terhadap Kejadian Filariasis di Daerah Endemis Kabupaten Sigi Santriana, Santriana; Gunawan, Gunawan; Agustiany, Dessy
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v5i1.4072

Abstract

Latar Belakang: Filariasis adalah penyakit parasit yang juga dikenal sebagai penyakit kaki gajah atau filariasis limfatik. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi cacing filaria. Kabupaten Sigi merupakan salah satu daerah endemis filariasis yang belum berhasil menurunkan angka mikrofilaria menjadi <1% dan masih menjadi kabupaten yang belum bebas dari eliminasi filariasis. Tujuan: Menganalisis besar risiko faktor lingkungan biologik yang terdiri dari Breeding place dan keberadaan kandang terhadap kejadian filariasis pada daerah endemis di Kabupaten Sigi. Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan rancangan studi kasus kontrol (case control study). Lembar kuesioner dengan menggunakan aplikasi Kobocollect. Analisis data hasil penelitian menggunakan program Statistical Software For Data Science (Stata). Hasil: Ada hubungan yang signifikan antara faktor lingkungan biologik yang berupa keberadaan breeding place dan keberadaan kandang ternak terhadap kejadian filariasis pada daerah endemis di Kabupaten Sigi. Kesimpulan: upaya pengendalian filariasis di daerah endemis perlu memperhatikan dan mengelola faktor-faktor lingkungan biologik ini untuk mengurangi risiko dan prevalensi penyakit. Ini bisa dilakukan melalui pengelolaan lingkungan yang lebih baik dan intervensi berbasis komunitas untuk mengurangi tempat pembiakan nyamuk dan meminimalkan kontak manusia dengan vektor. Diharapkan upaya pengendalian dapat memperhatikan faktor biologik yakni breeding place dan keberadaan kendang ternak di Kabupaten Sigi.
Artikel Review: Dampak Penggunaan Pestisida Terhadap Kesehatan Masyarakat di Indonesia Najla Achza, Arrayyan; Hudia Amaliana, Cut; Firdus; Nasir, Muhammad; Rizki, Alia
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v5i1.4113

Abstract

Latar Belakag: Penggunaan pestisida dalam sektor pertanian terus meningkat untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman, namun paparan pestisida secara berlebihan dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara paparan pestisida dengan meningkatnya kasus keracunan, gangguan sistem saraf, gangguan endokrin, hingga stunting pada anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak paparan pestisida terhadap kesehatan manusia dan lingkungan berdasarkan studi literatur terkini. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi literatur naratif dengan analisis terhadap 50 artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam kurun waktu 2015–2024, dipilih melalui metode purposive sampling, dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa pestisida seperti organofosfat, karbamat, dan organoklorin memiliki peran signifikan dalam memicu berbagai gangguan kesehatan baik akut maupun kronis. Selain itu, pestisida juga menyebabkan pencemaran tanah dan air yang mengganggu keseimbangan ekosistem. Faktor risiko utama adalah rendahnya penggunaan alat pelindung diri (APD) di kalangan petani, kurangnya edukasi tentang penggunaan pestisida yang aman, serta lemahnya pengawasan regulasi. Kesimpulan: Paparan pestisida berdampak negatif terhadap kesehatan manusia dan kualitas lingkungan
Literatur Review: Dampak Penambangan Emas Terhadap Pencemaran Sungai di Indonesia Firdus; Fachreyna Morhaban, Vania; Tiara, Wiga; Rizki, Alia; Nasir, Muhammad
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v5i1.4115

Abstract

Penambangan emas di Indonesia, baik legal maupun ilegal, memberikan dampak signifikan terhadap pencemaran sungai. Kajian literatur ini bertujuan untuk menganalisis dampak aktivitas penambangan emas terhadap kualitas fisik dan kimia air sungai, ekosistem perairan, kesehatan masyarakat, serta aspek sosial dan ekonomi. Berdasarkan hasil telaah dari berbagai studi antara tahun 2015 hingga 2025, ditemukan bahwa merkuri (Hg) merupakan polutan utama yang mencemari sungai-sungai di berbagai daerah seperti Riau, Kalimantan, Aceh, Jawa, hingga Nusa Tenggara. Pencemaran ini menyebabkan kerusakan ekosistem, akumulasi logam berat dalam biota air, serta gangguan kesehatan seperti penyakit kulit hingga risiko keracunan kronis pada masyarakat sekitar. Selain itu, kegiatan penambangan juga menimbulkan konflik sosial dan mengubah struktur ekonomi masyarakat. Kajian ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk pengendalian pencemaran dan penerapan praktik penambangan yang berkelanjutan.