cover
Contact Name
Rahmi
Contact Email
jpsy165@upiyptk.ac.id
Phone
+6282301777869
Journal Mail Official
jpsy165@upiyptk.ac.id
Editorial Address
http://lppm.upiyptk.ac.id/ojsupi/index.php/PSIKOLOGI/navigationMenu/view/Editorial
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Psyche 165 Journal
ISSN : 20885326     EISSN : 25028766     DOI : https://doi.org/10.35134/jpsy165
Psyche 165 Journal is an interdisciplinary journal that publishes empirical research, theoretical articles, and selected reviews in applied areas of psychology (other than applied experimental or human factors), including: Behavioral Psychology Clinical Psychology Cognitive Psychology Counseling Psychology Cultural Psychology Economic Psychology Educational Psychology Environmental Psychology Ethics in Psychology Family Psychology and Couples Psychology Forensic Psychology Health Psychology Industrial and Personnel Psychology Professional Practice Psychology of Religion Psychotherapy School Psychology Social Psychology Sport Psychology In addition to publishing manuscripts that have a clearly applied focus, Psyche 165 journal solicits interdisciplinary research that integrates literatures from psychology with other related fields (e.g., occupational health, consumer behavior, law, religion, communication, and political science) in a meaningful and productive manner. Multidisciplinary authorship is encouraged, as is work that fosters novel ideas, identifies mediating variables, includes transboundary issues, and most importantly, encourages critical analysis.
Articles 294 Documents
Regulasi Emosi Sebagai Moderator Hubungan Ruminasi dan Simtom Psikomatik pada Lansia Panigoro, Asyifa Prasasti; Roswiyani; Soetikno, Naomi
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.416

Abstract

Indonesia sedang mengalami penuaan populasi, ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas yang meningkat dua kali lipat antara tahun 1971 dan 2019. Peningkatan demografi penduduk lansia menimbulkan kekhawatiran karena penduduk lansia tidak termasuk ke dalam populasi usia kerja, sehingga berdampak pada lesunya pertumbuhan ekonomi negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis regulasi emosi sebagai moderator hubungan antara ruminasi dan simtom psikosomatik pada lansia. Penelitian ini menggunakan metode eksplanatif kuantitatif, dengan metode pengumpulan data berupa survei yang disebar kepada 136 lansia yang dikategorikan mandiri dan berlokasi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian antara lain yaitu uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas dan uji regresi. Pengukuran dilakukan menggunakan skala simtom psikosomatik untuk mengukur gejala somatis dan psikologis yang diturunkan dari alat pengukuran DSM-5 dan terdiri dari empat dimensi, yaitu gangguan fisik, gangguan kecemasan, gangguan depresi dan gangguan kecemasan dan depresi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara ruminasi dengan simtom psikosomatik pada lansia sebesar 27,4%. Hasil analisis juga menunjukan bahwa regulasi emosi memoderasi secara negatif hubungan antara ruminasi dengan simtom psikosomatik pada lansia sebesar 29,9%. Dengan demikian, penelitian ini menemukan bahwa semakin sering lansia melakukan ruminasi, maka hal tersebut akan berpengaruh pada seberapa sering pengalaman simtom psikosomatik yang dirasakan oleh lansia. Hal ini dapat di moderasi dengan regulasi emosi, dimana apabila semakin tinggi regulasi emosi seorang lansia, maka akan semakin rendah simtom psikosomatik pada lansiayang disebabkan oleh ruminasi.
Pengembangan Alat Ukur Budaya Organisasi Pada Kontingen Garuda Pasukan Perdamaian PBB Muhammad Eko Heru Saputro; Anissa Lestari Kadiyono
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.423

Abstract

Developments in science and technology that occur in the world bring changes to human life. The change will ultimately bring higher tension to each individual. In order for organizational goals to be carried out properly, support from management is needed. This study aims to examine the extent to which the validity and reliability of Organizational Culture. The impact on personnel carrying out assignments to UN peacekeeping forces, so they can provide an overview and input to the organization in build its organizational culture, to increase success in assignments. The process includes completing the construct of measuring instrument by reducing the dimensions to a number of indicators, creating items that represent indicators from each existing dimension, and conducting an expert review. Furthermore, the researchers collected data using online questionnaire, on a sample of the assignment unit with a total sample of 125 people consisting of various positions. This research was tested with a high Chronbach's Alpha value, so it can be said that the organizational culture measuring instrument has ideal reliability. From the results of calculating Item Response Theory, it is obtained proportion at a good value, it can be said that the item is suitable for use. The results of the confirmatory factor analysis show the relationship between dimensions of Organizational Culture meets the requirements, for model fit and factor loading values ​​of Organizational Culture can be said to be good. Thus the measuring instrument of organizational culture is reliable and valid to use.
Studi Kasus Analisis Dukungan Orang Tua dalam Memotivasi Belajar Anak Sari, Indah Mutia; Daulay, Annisa Arrumaisyah
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.432

Abstract

Motivasi belajar anak dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah kondisi orang tua di mana anak memiliki ibu yang bekerja ataupun memiliki ibu rumah tangga. Motivasi belajar yang rendah tentu saja dapat mempengaruhi proses anak dalam pembelajaran disekolah, dan tentu saja dapat mempengaruhi anak dalam mengejar cita-cita kedepannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi belajar anak antara status ibu karir dan ibu rumah tangga. Metode yang digunakan ini adalah metode kualitatif deskriptif. Informan penelitian ini berjumlah 4 orang, karakteristik penelitan adalah ibu dengan status ibu yang bekerja diluar rumah dan ibu rumah tangga beserta 2 informan pendukung. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis domain dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan verifikasikan data untuk menarik kesimpulan. Berdasarkan temuan penelitian bahwa motivasi belajar ibu karir dan iburumah tangga memiliki perbedaan dalam memberikan motivasi belajar. Ditinjau dari indikator motivasi belajaryaitu dorongan dan kebutuhan belajar, hasrat dan keinginan berhasil, lingkungan kondusif dan penghargaan dalam belajar. Ibukarirmemilikiwaktu yang lebih sedikit dalam menemani belajar tetapi hasrat dan keinginan berhasil terhadap anaknya dan berusaha untuk tetap menciptakan lingkungan yang kondusif. Disamping itu ibu rumah tangga memiliki waktu yang banyak menemani anaknya belajardengan memberikan dorongan dan kebutuhan belajar, memiliki hasrat dan keinginan berhasil terhadap anaknya dengan menciptakan lingkungan yang kondusif, disamping itu juga dengan memberikan suatu penghargaan dalam belajar terhadap anaknya.
Pengembangan Diri Remaja Keluarga Broken Home di MAN 2 Model Medan Yvonne, Irma Nadiera; Abdurrahman, Zulkarnain
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.436

Abstract

Setiap anak pasti menginginkan mempunyai keluarga yang lengkap. Namun, pada kenyataannya terkadang banyak hal yang membuat rumah tangga di keluargnya menjadi berpisah, baik dikarenakan perceraian ataupun hal lainnya, yang terkadang menjadikan anak broken home. Seseorang yang broken home, terkadang tidak mempunyai tempat bercerita, sehingga tak jarang banyak yang mengarah kepada kenalakan remaja seperti melakukan seks bebas, narkoba, lari dari rumah dan hal lainnya, yang tentunya berdampak negatif jika tidak diatasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab keluarga broken home pada remaja serta strategi pengembangan diri yang dilakukan remaja keluarga brokenhomesehingga berdampak positif. Jenis penelitian ini menggunakan penelitiankualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian ini adalah 5 (lima) remaja siswa di MAN 2 Model Medan yang mengalami keluarga brokenhome. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis domain yang dilakukan mulai dari mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima remaja siswa MAN 2 Model Medan menerima keadaan yang di alami dan berusaha ingin menjadi lebih baik. Adapun penyebab remaja broken home adalah perceraian orang tua dan ketidakharmonisan dalam keluarga. Kemudian dampak remaja keluarga broken home berdampak positif dari segi pengembangan diri mereka. Adapun strategi pengembangan diri yang dilakukan remaja keluarga broken home seperti menjalin komunikasi yang baik dengan orang terdekat dan mengubah pola pikir (mindset).
Dinamika Fatherless terhadap Pengembangan Diri Remaja Perempuan di MAN 2 Model Medan Tata Arbiyana; Syukur Kholil
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.437

Abstract

Fenomena  fatherless ini disebabkan dengan adanya pengaruh budaya lokal terhadap paradigma pengasuhan anak. Stereotip budaya mempengaruhi pandangan bahwa laki-laki tidak semestinya terlibat dalam pengasuhan anak.Tidak sedikit dari keluarga Indonesia masih menerapkan pola asuh patriarki dengan mengedepankan peran ibu sebagai pemeran keseluruhan tugas domestik. Sedangkan peran ayah didalamnya masih kurang diutamakan  sehingga tanpa disadari, pengasuhan, pemeliharaan dan pendidikan hanya dikaitkan dengan tugas seorang ibu, meskipun peranan ayah sebenarnya sangat diperlukan dalam hal ini. Isu mengenai fatherless ini hampir tidak terlihat, namun dampaknya begitu nyata mengingat pentingnya sosok ayah bagi tumbuh kembang anaknya. Ketiadaan peran ayah dalam proses tumbuh kembang anak dapat berdampak signifikan pada perkembangan psikologis dan emosional anak, terutama pada anak perempuan di fase remaja. Keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak perempuan dapat meningkatkan perkembangan kognitif anak, memberikan perspektif terhadap sesuatu yang nantinya dapat dikembangkan di otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dinamika pengembangan diri pada remaja perempuan yang mengalami fatherless. Peneliti menggunakan 3 partisipan remaja perempuan yang mengalami fatherless di MAN 2 Model Medan di rentang usia 15-16 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak positif fatherless pada anak perempuan di fase remaja yaitu adanya kemauan untuk mengembangkan kemampuan secara bakat dan akademik, adapun dampak negatif ditunjukkan dengan sulitnya membuka diri, ketidakstabilan emosional, dan kecenderungan menyakiti diri.
Flexible Working Arrangement sebagai Kiblat Metode Kerja di Asia: Tinjauan Literatur Sistematis Kirana, Syafa Ziyadah; Hendriani, Wiwin
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 4
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i4.439

Abstract

Seiring terjadinya pandemi COVID-19 yang merubah tatanan kehidupan di masyarakat, pada bidang industri banyak perusahaan yang menerapkan sistem kerja fleksibel. Perpanjangan pemberlakuan sistem kerja fleksibel oleh beberapa perusahaan ditengarai karena adanya manfaat yang dirasakan baik dari segi karyawan, perusahaan, maupun masyarakat terlepas dari tantangan penerapan sistem kerja fleksibel yang terjadi. Tujuan dari penyelidikan ini adalah untuk menggali lebih dalam metode penerapan sistem kerja fleksibel di Asia sebagai evolusi prospektif dalam praktik ketenagakerjaan, menggunakan metodologi tinjauan literatur sistematis (systematic literature review) yang diambil dari 2 basis data elektronik sebagai sumber referensi utama. Pengumpulan literatur berbahasa Inggris dilakukan menggunakan basis data elektronik dengan rentang waktu 10 tahun, yakni tahun 2012 hingga 2022. Penelitian ini berfokus pada bagaimana kesiapan penerapan sistem kerja fleksibel di negara-negara Asia meliputi; India, China, Jepang, Malaysia, Pakistan, Korea Selatan, Thailand, Turki, Vietnam, Iran, Singapura, Sri Lanka, Bahrain, Kamboja, Uni Emirat Arab. Temuan penelitian ini menjelaskan gambaran komprehensif terkait perusahaan di Asia. Penelitian ini membuktikan bahwa 91,5% pekerja menginginkan fleksibilitas waktu kerja dan 89% menginginkan fleksibilitas lokasi kerja. Pembahasan pada penelitian ini memuat uraian seputar flexible working arrangement yang ditinjau dari segi kesiapan pemberi kerja, kesiapan sumber daya manusia, potensi hambatan, pandangan masyarakat umum, serta bentuk penerapan sistem kerja. Penelitian ini dapat berfungsi sebagai referensi bagi pembuat kebijakan dalam rangka membangun sistem kerja fleksibel sebagai paradigma baru ketenagakerjaan di negara-negara Asia, yang komprehensif bagi seluruh pihak yang terlibat.
Gambaran Perbedaan Tingkat Burnout Perawat Berdasarkan Karakteristik Pribadi Selama Pandemi COVID-19 Alya, Rintan Fauziyyah; Zamralita; Idulfilastri, Rita Markus
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 4
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i4.451

Abstract

Pandemi Covid-19, yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, menempatkan tenaga kesehatan, terutama perawat, sebagai garda terdepan dalam menangani pasien. Beban kerja yang tinggi dan risiko penularan langsung menyebabkan perawat menghadapi tekanan fisik dan psikologis yang signifikan. Mereka kerap merasa cemas, takut menularkan penyakit, kelelahan berkepanjangan, hingga mengalami gejala trauma. Di Amerika Serikat, 63% tenaga kesehatan melaporkan mengalami stres terkait pandemi, yang disebabkan oleh beban kerja berlebih, peningkatan pasien, dan rasa takut. Kondisi tersebut dapat menyebabkan burnout, yakni kondisi kelelahan ekstrem yang melibatkan gangguan kognitif dan emosional serta tekanan mental. Penelitian menunjukkan bahwa 83% tenaga kesehatan mengalami burnout, baik dalam tingkat sedang maupun berat. Faktor-faktor yang mempengaruhi burnout meliputi beban kerja, karakteristik pasien, ketidakpuasan kerja, dan kualitas pelayanan. Burnout juga dipengaruhi oleh karakteristik personal, seperti usia dan jenis kelamin, di mana perawat yang lebih tua lebih mampu mengelola emosi dibandingkan perawat yang lebih muda, dan perawat perempuan lebih rentan terhadap stres dibandingkan laki-laki. Pentingnya kesehatan mental dan fisik perawat sangat ditekankan agar mereka dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan burnout di kalangan perawat di Jakarta berdasarkan karakteristik personal mereka. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan non eksperimental. Untuk pengumpulan data menggunakan teknik convenience sampling, dan jumlah partisipan sebanyak 121 partisipan. Alat ukur yang digunakan adalah Burnout Assessment Tool. Hasil penelitian ini menemukan adanya tingkat burnout yang rendah pada perawat.
Peran Perceived Organizational Support terhadap Individual Work Performance pada Karyawan Haropis, Yahdi Fahlevi; Zamralita
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 4
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i4.453

Abstract

Indonesia menempati posisi ketujuh dalam jumlah tenaga kerja terbesar di dunia dan tengah menghadapi era industri 4.0, yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan internet yang pesat. Untuk tetap bersaing, perusahaan berperan penting dalam mendukung adaptasi karyawan terhadap perubahan tersebut. Perkembangan pesat era industri 4.0 dan transisi menuju industri 5.0 telah menimbulkan tantangan bagi tenaga kerja, terutama terkait adaptasi teknologi dan peningkatan kualitas kinerja. Dalam konteks ini, peran perusahaan dalam mempertahankan daya saing dan produktivitas karyawan menjadi semakin penting. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kinerja karyawan adalah perceived organizational support (POS), yaitu persepsi karyawan terhadap dukungan yang diberikan oleh perusahaan, seperti kompensasi yang adil, penghargaan atas kinerja, dan iklim kerja yang positif. Dukungan organisasi yang efektif tidak hanya berdampak pada kinerja individu, tetapi juga meningkatkan loyalitas dan komitmen karyawan terhadap perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran POS terhadap individual work performance (IWP) karyawan, yang meliputi task performance, contextual performance, dan counterproductive work behavior. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik convenience sampling dan melibatkan 168 partisipan. Alat ukur yang digunakan adalah survey of perceived organizational support dan individual work performance questionnaire. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan memiliki tingkat POS dan IWP yang tinggi, serta terdapat korelasi positif yang signifikan antara POS dan IWP (r=0.388, p<0.01). Selain itu, POS dapat memprediksi IWP sebesar 14.1%. Temuan ini mengindikasikan bahwa persepsi karyawan terhadap dukungan organisasi berperan penting dalam meningkatkan efektivitas kinerja individu, yang pada akhirnya dapat berkontribusi pada kesuksesan perusahaan dalam menghadapi tantangan era industri yang dinamis.
Gambaran Service Quality pada Karyawan di Puskesmas “XYZ” Kabupaten Pasaman Barat Puti Zandani, Balqis; Kadiyono, Anissa Lestari; Nugraha, Yus
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 4
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i4.454

Abstract

Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama bagi masyarakat Indonesia yang menjangkau hingga daerah terpencil, sehingga kenyamanan masyarakat pada saat melakukan pengobatan menjadi aspek yang perlu diperhatikan agar dapat mengoptimalkan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. Kenyamanan yang dirasakan masyarakat ini erat kaitannya dengan bagaimana perilaku karyawan yang bertugas sebagai tenaga kesehatan dalam melayani pasiennya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pelayanan pada karyawan bagian pelayanan di Puskesmas “XYZ”. Penelitian ini bersifat deskriptif menggunakan bantuan software Jamovi dan Microsoft Excel sehingga dapat menggambarkan baik maupun buruknya kualitas pelayanan pada karyawan secara kuantitatif. Selain melihat kualitas pelayanan pada karyawan bagian pelayanan secara keseluruhan, penggambaran kualitas pelayanan pada penelitian ini juga dijabarkan berdasarkan beberapa kategori responden yaitu berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, status karyawan, pangkat dan golongan dan masa kerja. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala service quality. Penelitian ini menggunakan Teknik non probability sampling dengan total sampel berjumlah 90 responden. Hasil uji coba alat ukur menggunakan Teknik Alpha Cronbach’s menunjukkan nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,920 dan uji validitas menunjukkan bahwa nilai item-rest correlation berkisar antara 0,342 sampai dengan 0,769. Hasil analisis deskriptif menunjukkan nilai mean skala service quality adalah 144 dengan nilai terendah 115 dan nilai tertinggi 154 dari 90 responden. Berdasarkan norma kategorisasi skala service quality diketahui bahwa mayoritas karyawan bagian pelayanan di Puskesmas “XYZ”memiliki skor kualitas pelayanan dalam kategori baik.
Inovasi Pada Sektor Pemerintahan: Peran Business Acumen Dan Dukungan Organisasi Sebagai Moderator Achmad, Mulhimi; Etikariena, Arum
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 4
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i4.455

Abstract

Penerapan inovasi pada sektor publik belum sepesat jika dibandingkan dengan sektor privat sehingga perlu ditelusuri faktor-faktor yang dapat mendorong inovasi pada pegawai pemerintahan, dalam hal ini adalah PNS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang dapat memunculkan innovative work behavior, salah satunya adalah public service motivation yang ditambahkan efek moderator dari business acumen dan perceived organizational support. Sejumlah 538 PNS di Indonesia yang dipilih dengan menggunakan convenience sampling berpartisipasi dalam penelitian kuantitatif ini dengan mengisi skala Innovative Work Behavior, skala Merit System Protection Board, skala Business Acumen Instrument, dan skala The Survei of Perceived organizational Support. Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan multiple hierarchical regression analysis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa public service motivation memiliki hubungan yang signifikan dengan innovative work behavior, namun ketika berinteraksi dengan variabel lainnya dalam penelitian ini, public service motivation tidak lagi berpengaruh terhadap innovative work behavior. Penelitian ini justru menunjukkan bahwa business acumen dan perceived organizational support adalah hal yang dapat memunculkan innovative work behavior. Dalam hal ini, PNS yang memiliki business acumen yang tinggi akan dapat mendorong munculnya perilaku inovasi pegawai untuk meningkatkan pelayanan publik, sementara PNS yang merasa dukungan organisasinya begitu tinggi, PNS tidak akan terlalu berinovasi dalam pekerjaannya karena merasa kondisi organisasi telah menyediakan sistem dan peraturan yang dibutuhkan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan pada pada sektor pemerintahan untuk meningkatkan pemahaman PNS terkait proses bisnis yang ada dalam pemerintahan dan mendorong PNS untuk menginternalisasikan growth mindset agar semakin terdorong untuk berinovasi dalam pekerjaannya.