cover
Contact Name
-
Contact Email
bastrajurnal01@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bastrajurnal01@gmail.com
Editorial Address
https://dmi-journals.org/deiktis/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
ISSN : -     EISSN : 28077504     DOI : https://doi.org/10.53769/deiktis
DEIKTIS: Journal of Language and Literature Education is an academic journal published in April, August and December by the Indonesian Muslim Lecturer Association. This journal presents scientific articles on Learning, Education, Literature, Linguistics, Culture
Articles 769 Documents
Situasi Kebahasaan di Situs Marunda Rumah Si Pitung: Tinjauan Lanskap Linguistik Hilda Hilaliyah; Lulu' Ur Rohmah
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2515

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan situasi kebahasaan dalam lanskap linguistik Museum Jakarta Situs Marunda Rumah Si Pitung, mengidentifikasi jenis bahasa yang digunakan untuk menjelaskan benda bersejarah, dan memberikan konteks budaya yang relevan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan menciptakan komunikasi efektif kepada pengunjung dari berbagai wilayah, baik dalam maupun luar Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi, yaitu dengan alat bantu menggunakan kamera telepon seluler. Data dianalisis dengan teknik simak catat dan triangulasi untuk memeriksa keabsahan data. Triangulasi tersebut menggunakan sumber, metode, peneliti, dan teori yang digunakan untuk memperkuat analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situasi kebahasaan di Situs Marunda Rumah Si Pitung meliputi monolingual, bilingual, dan multilingual. Situasi monolingual cukup mendominasi penggunaannya, yaitu dengan menggunakan bahasa Indonesia dan kombinasi bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris atau bahasa Betawi muncul dalam konteks bilingual. Penggunaan multilingual menggabungkan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah, seperti Lampung, Minangkabau, dan Jawa yang mencerminkan keberagaman budaya Indonesia.
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Alumni Program Studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar Faizal Faizal; Mustafa Mustafa; Nurazizah Rahmi; Awayundu Said
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2516

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor determinan yang mempengaruhi kinerja alumni Program Studi Pendidikan Khusus FIP Universitas Negeri Makassar di dunia kerja. Sebagai penelitian lanjutan, studi ini berangkat dari temuan sebelumnya yang telah memetakan profil kompetensi alumni, di mana alumni menunjukkan keunggulan pada soft skills (kepribadian dan sosial) namun memerlukan penguatan pada hard skills teknis. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, penelitian ini menyurvei 31 pimpinan institusi pengguna jasa alumni (sekolah luar biasa, sekolah inklusi, dan pusat terapi) untuk menilai 14 faktor yang dikelompokkan ke dalam domain pengalaman pendidikan, kapabilitas personal, dan lingkungan kerja. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner skala Likert 1-5. Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa tingkat motivasi dan minat pribadi alumni (M=4.52) dan dukungan atasan langsung (M=4.52) merupakan dua faktor dengan pengaruh paling signifikan terhadap kinerja. Sebaliknya, ketersediaan kesempatan pengembangan karier (M=4.26) dan tingkat kompensasi/gaji (M=4.26) dinilai memiliki pengaruh yang relatif lebih rendah, meskipun masih dalam kategori tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa kinerja alumni pendidikan khusus lebih didorong oleh faktor intrinsik personal dan dukungan kepemimpinan di lingkungan kerja, dibandingkan dengan faktor fasilitas selama kuliah atau insentif eksternal. Hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi perguruan tinggi untuk memperkuat aspek motivasi dan resiliensi mahasiswa, serta bagi institusi pengguna untuk menciptakan budaya kerja yang suportif guna mengoptimalkan kinerja pendidik khusus.
Analisis Gaya Bahasa Pantun Bersaut dalam Pernikahan Desa Tebing Abang Semendo Kabupaten Muara Enim Sadam Husin; Fera Zazrianita; Wenny Aulia Sari
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2518

Abstract

Penelitian ini berjudul “Analisis Gaya Bahasa Pantun Bersaut dalam Pernikahan Desa Tebing Abang Semendo, Kabupaten Muara Enim”. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk gaya bahasa dalam pantun bersaut dan menjelaskan fungsi sosialnya dalam prosesi pernikahan adat Semendo. Tradisi pantun bersaut tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga sarat makna simbolik yang mencerminkan nilai adat, norma sosial, dan identitas budaya masyarakat setempat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Data primer diperoleh dari teks pantun bersaut dalam buku Adat Perkawinan Tunggu Tubang, sedangkan data sekunder bersumber dari literatur dan penelitian terdahulu. Teknik pengumpulan data meliputi studi pustaka, observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan tokoh adat, sementara analisis mengikuti model interaktif Miles dan Huberman melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya bahasa dominan berupa metafora, aliterasi, paradoks, dan personifikasi, yang memperindah tuturan sekaligus memperhalus pesan adat. Secara sosial, pantun bersaut berfungsi sebagai media komunikasi adat yang santun, perekat silaturahmi keluarga, sarana pendidikan moral, dan upaya pelestarian tradisi lisan. Dengan demikian, pantun bersaut bukan sekadar hiburan, tetapi fondasi budaya yang mengandung nilai estetis, pragmatis, dan sosial, sekaligus simbol identitas masyarakat Semendo yang perlu terus dijaga di era modernisasi.
Persepsi Mahasiswa Tentang Alih Kode terhadap Identitas Budaya Mahasiswa Indonesia Universitas Islam Negeri Fatamawati Sukarno Bengkulu Pebri Rahmayanti; Fera Zazrianita; Wenny Aulia Sari
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2519

Abstract

Tujuan penelitian ini memahami Bagaimana Persepsi Mahasiswa Tentang Alih Kode Terhadap Identitas Budaya Mahasiswa Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu dan Apa saja Faktor Pendorong yang mempengaruhi persepsi mahasiswa tentang penggunaan alih kode dalam konteks identitas budaya di semester 3 dan 5 . Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti pada tempat yang alamiah dan penelitian tidak membuat perlakuan karena peneliti dalam mengumpulkan data bersifat emic, yakni berdasarkan pandangan dari sumber data bukan pandangan peneliti. Dalam penelitian ini, akan digunakan pendekatan fenomenologi yang berarti penelitian ini mencoba memahami persepsi mahasiswa, perspektif, dan pemahaman dari situasi tertentu atau fenomena, metode Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian lapangan dengan metode kualitatif. Hasil penelitian mengenai persepsi mahasiswa menunjukkan bahwa alih kode bukan hanya fenomena linguistik, melainkan juga bagian penting dalam membentuk dan mencerminkan identitas budaya. Fenomena alih kode dalam kehidupan mahasiswa, khususnya di lingkungan akademik multikultural, merupakan gejala linguistik sekaligus sosial yang menarik untuk diteliti. Berdasarkan hasil penelitian, fenomena alih kode (code-switching) di kalangan mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dapat disimpulkan sebagai hal yang wajar dan positif. faktor pendorong yang mempengaruhi persepsi mahasiswa tentang penggunaan alih kode dalam konteks identitas budaya adalah persepsi mahasiswa tentang penggunaan alih kode dalam konteks identitas budaya dipengaruhi oleh kombinasi faktor sosial, budaya, psikologis, dan komunikasi yang saling terkait.
Peran Cerita Rakyat Asal Usul Serawai dalam Menanamkan Nilai Pendidikan Karakter pada Generasi Muda di Desa Talang Karet, Kecamatan Tebat Karai, Kabupaten Kepahiang Saryani Karunia S; Fera Zazrianita; Wenny Aulia Sari
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2520

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran cerita rakyat asal-usul Suku Serawai dalam menanamkan nilai pendidikan karakter pada generasi muda serta mengidentifikasi tantangan dan upaya integrasinya dalam konteks pendidikan karakter di Desa Talang Karet, Kecamatan Tebat Karai, Kabupaten Kepahiang. Latar belakang penelitian ini berangkat dari pandangan bahwa cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai moral, sosial, dan budaya yang berkontribusi pada pembentukan karakter generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi yang relevan. Proses analisis dilakukan dengan model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperkuat dengan triangulasi sumber, pengecekan sejawat, serta dokumentasi lapangan untuk menjamin kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat asal-usul Suku Serawai berperan penting dalam penanaman nilai-nilai karakter, seperti kejujuran, tanggung jawab, religiusitas, kerja sama, dan rasa hormat terhadap leluhur. Namun, tantangan yang dihadapi antara lain keterbatasan dokumentasi, berkurangnya minat generasi muda, serta pengaruh globalisasi dan media modern. Upaya integrasi yang dapat dilakukan meliputi dokumentasi dan digitalisasi cerita, pengintegrasian dalam kurikulum sekolah, penguatan kegiatan ekstrakurikuler berbasis budaya, kolaborasi antara masyarakat, sekolah, dan pemerintah, serta adaptasi kreatif melalui media populer yang diminati generasi muda. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat Suku Serawai merupakan instrumen strategis dalam pendidikan karakter generasi muda. Agar tetap relevan, diperlukan strategi adaptif yang mampu menghubungkan nilai tradisi dengan kebutuhan zaman, sehingga cerita rakyat tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sumber pendidikan karakter yang hidup dan kontekstual
Analisis Tindak Tutur Asertif dan Ekspresif pada Film Budi Pekerti karya Wregas Bhanuteja Diana Pratiwi; Asmara Yumarni; Wenny Aulia Sari
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2521

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur asertif dan ekspresif dalam film Budi Pekerti karya Wregas Bhanuteja. Fokus penelitian mencakup dua rumusan masalah, yaitu bentuk tindak tutur asertif dan bentuk tindak tutur ekspresif yang digunakan para tokoh dalam film tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teori tindak tutur John Searle. Data penelitian berupa dialog para tokoh dalam film yang dikumpulkan melalui metode simak dan catat, kemudian dianalisis berdasarkan konteks dan makna ilokusi. Hasil penelitian menunjukkan adanya 161 data tindak tutur asertif dan 105 data tindak tutur ekspresif. Tindak tutur asertif digunakan untuk menyampaikan fakta, klarifikasi, dan pernyataan kebenaran, sedangkan tindak tutur ekspresif digunakan untuk mengekspresikan perasaan, empati, dan sikap emosional. Kedua jenis tindak tutur tersebut berperan penting dalam membangun makna naratif dan pesan moral film. Secara keseluruhan, tindak tutur asertif menonjolkan nilai kejujuran dan tanggung jawab, sedangkan tindak tutur ekspresif mencerminkan empati dan kemanusiaan. Film Budi Pekerti merefleksikan komunikasi masyarakat modern yang tetap berpijak pada nilai-nilai moral dan budi pekerti
Analisis Tindak Tutur Ilokusi dalam Lirik Berejug Adat Pernikahan pada Masyarakat Suku Serawai di Kelurahan Sembayat Kecamatan Seluma Timur Kabupaten Seluma Melzi Puspita Sari; Kasmantoni Kasmantoni; Dina Putri Juni Astuti
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2522

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam lirik Berejung pada prosesi adat pernikahan masyarakat Suku Serawai di Kelurahan Sembayat, Kecamatan Seluma Timur, Kabupaten Seluma. Berejung merupakan bentuk puisi lisan tradisional yang dilantunkan dalam upacara adat, khususnya pernikahan, sebagai media penyampaian pesan, nasihat, dan harapan secara simbolis dan estetis. Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik dengan teori tindak tutur oleh Searle yang membagi tindak tutur ilokusi menjadi lima jenis: asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat dan pelantun berejung, serta dokumentasi dan transkripsi lirik Berejung yang digunakan dalam acara pernikahan adat. Hasil analisis menunjukkan bahwa lirik Berejung mengandung beragam tindak tutur ilokusi, dengan dominasi tindak tutur ekspresif dan asertif, yang mencerminkan fungsi utama Berejung sebagai sarana mengungkapkan doa, pujian, dan nilai-nilai budaya. Tindak tutur direktif dan komisif juga ditemukan, terutama dalam bentuk nasihat dan harapan kepada pasangan pengantin. Tindak tutur deklaratif ditemukan dalam konteks pengukuhan nilai-nilai adat dan restu dari pihak keluarga atau tokoh adat. Penelitian ini menunjukkan bahwa Berejung bukan sekadar seni tutur, tetapi juga sarana komunikasi budaya yang kaya akan nilai sosial, moral, dan spiritual masyarakat Suku Serawai.
Integrasi Komunikasi Digital Terhadap Penggunaan Emoji dan Pesan Singkat dalam Dialog Generasi Z di Whattsap: Suatu Kajian Pragmatik Fadilla Aura Ramadani; Erfriani Sekar Talenta Simangunsong; Ela Emayusnita Sirait; Kristin Dwi Amsari Pasaribu; Ferdinand Simbolon
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2524

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi manusia, terutama Generasi Z yang menjadikan WhatsApp sebagai media utama interaksi sehari-hari. Pergeseran dari komunikasi tatap muka ke komunikasi berbasis teks memunculkan dinamika baru dalam penggunaan bahasa, di mana emoji dan pesan singkat berperan penting dalam membentuk makna dialog. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran emoji dan pesan singkat dalam proses komunikasi Generasi Z di WhatsApp. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan survei terhadap 50 responden Generasi Z berusia 17–23 tahun yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (78%) menganggap emoji membantu menyampaikan emosi, menegaskan maksud pesan, dan mengurangi kesalahpahaman. Sebanyak 56% responden menggunakan pesan singkat berupa singkatan kata untuk mempercepat interaksi, menyesuaikan gaya komunikasi cepat di media sosial. Namun, 84% responden juga menilai penggunaan emoji dan singkatan yang berlebihan dapat menimbulkan ambiguitas dan mengaburkan makna pesan. Temuan ini menegaskan pentingnya kesadaran pragmatis dalam menggunakan emoji dan pesan singkat agar komunikasi tetap efektif, jelas, dan sesuai konteks.
Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia pada Papan Nama Toko dan Reklame di Pagar Dewa Kota Bengkulu Sendi Olviansyah; Fera Zasrianita; Randi Randi
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2542

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan berbahasa Indonesia pada papan nama toko dan reklame di Kelurahan Pagar Dewa, Kota Bengkulu. Bahasa sebagai sarana komunikasi memiliki fungsi strategis dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan ekonomi, serta mencerminkan identitas dan budaya bangsa. Namun, praktik penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik sering mengalami penyimpangan, terutama dalam hal ejaan, tanda baca, dan diksi, akibat pengaruh bahasa sehari-hari, bahasa asing, dan kurangnya pemahaman kaidah kebahasaan formal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, melibatkan observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta divalidasi melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan paling dominan terdapat pada ejaan dan tanda baca, seperti penggunaan singkatan “DLL” yang seharusnya “dan lain-lain”, tanda ampersand (&) yang seharusnya “dan”, serta penulisan kata tidak baku seperti “souvenir” yang seharusnya “suvenir”. Kesalahan tersebut umumnya disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat terhadap Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengaruh bahasa lisan, serta minimnya perhatian terhadap kaidah kebahasaan formal. Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan kesadaran berbahasa melalui pendidikan, sosialisasi, dan regulasi, sehingga papan nama dan reklame tidak hanya menjadi media informasi dan identitas usaha, tetapi juga sarana edukatif yang mendukung pelestarian bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Kajian Ungkapan Tradisional dalam Masyarakat Suku Besemah di Kelurahan Simpang Tiga Kecamatan Kaur Utara Kabupaten Kaur Alexander Rahmadan; Mus Mulyadi; Meddyan Heriadi
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2543

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna ungkapan tradisional dalam masyarakat Suku Besemah di Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Kaur Utara, Kabupaten Kaur. Bahasa daerah, khususnya ungkapan tradisional, merupakan sarana komunikasi yang mengandung nilai moral, sosial, dan budaya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan tradisional memiliki tiga fungsi utama: sebagai nasehat, sindiran, dan motivasi. Ungkapan “nasehat” berfungsi memberikan petunjuk, teguran, motivasi, dan menanamkan nilai kebaikan, misalnya “Ame ndak mulie kenal nga jeme” mengajarkan pentingnya bergaul dengan orang berbudi pekerti luhur. Ungkapan “sindiran” digunakan untuk mengoreksi perilaku secara halus, seperti “Luk kacang ndik teghingat nga kulit” yang menyindir orang lupa asal-usulnya. Ungkapan “motivasi” berfungsi menumbuhkan semangat dan dorongan untuk mencapai tujuan, misalnya “Sepincang sejalan” menekankan pentingnya kerjasama dan harmonisasi dalam mencapai tujuan bersama. Penelitian ini menegaskan bahwa ungkapan tradisional merupakan media pelestarian budaya lokal, pendidikan moral, dan pengembangan karakter generasi muda, sehingga upaya revitalisasi melalui dokumentasi dan pengajaran sangat diperlukan