cover
Contact Name
Fathiyyatul Khaira
Contact Email
fathiyyatul.khaira@gmail.com
Phone
+6285161910033
Journal Mail Official
jikesi.editorial@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Jln. Limau Manis, Pauh – Padang – Sumatera Barat. 25163.
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI)
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : 27224848     DOI : https://doi.org/10.25077/jikesi.v1i3
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia is a peer-reviewed and open-access journal that focuses on promoting health sciences to integrate research in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and case reports. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields: Anesthesiology Cardiovascular Cell and molecular biology Child health Dermato-venereology Histopathology Internal medicine Neuro-psychiatric medicine Nutrition Obstetrics and Gynecology Ophthalmology Otorhinolaryngology Pharmacology Pulmonology Radiology Surgery
Articles 317 Documents
Kualitas Hidup Pasien Lupus Eritematosus Sistemik Berdasarkan LupusQoL di RSUP Dr. M. Djamil Padang Ramadanti, Zilhadia Mona; Julizar; Elvira, Dwitya; Abdiana; Liza, Rini Gusya; Suharti, Netti
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i2.1409

Abstract

Latar Belakang: Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit autoimun sistemik kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Penyakit LES dapat memengaruhi hampir semua aspek kehidupan pasien yang akan berdampak terhadap kualitas hidup. Objektif: Untuk melihat gambaran kualitas hidup pasien LES di RSUP Dr. M. Djamil Padang berdasarkan LupusQoL. Metode: Desain penelitian ini menggunakan cross-sectional study. Responden penelitian berjumlah 55 pasien LES di Poliklinik Khusus Alergi Imunologi dan Reumatologi Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang yang diambil secara consecutive sampling. Data diperoleh secara primer dari wawancara terpimpin menggunakan kuesioner LupusQoL dan sekunder berasal dari  rekam medis pasien. Hasil: Pada pasien LES, wanita umur 18–40 tahun, pendidikan SMA, IRT, sudah menikah, telah menderita LES ≥ 1 tahun, keterlibatan organ tersering mukokutan, terdapat komorbid, diberikan terapi kombinasi glukokortikoid dan HCQ, dan memiliki derajat aktivitas ringan. Kualitas hidup baik (83,6%) pada pasien LES. Berdasarkan aspek-aspek pada LupusQoL diperoleh frekuensi kualitas hidup sebagian besar pasien LES adalah baik. Nilai rerata tertinggi terdapat pada aspek hubungan intim 85,2 ± 32,4 diikuti oleh citra diri 85,1 ± 22,4 sedangkan rerata terendah terdapat pada aspek ketergantungan pada orang lain 58,9 ± 34,2 diikuti oleh kelelahan 65,2 ± 26,2. Kesimpulan: Kualitas hidup pasien LES secara umum adalah baik. Aspek dengan rerata terendah seperti ketergantungan pada orang lain dan kelelahan harus lebih diperhatikan oleh para dokter maupun keluarga pasien untuk menciptakan kualitas hidup pasien yang lebih baik.
Profil Pasien Kanker Serviks yang Menjalani Radioterapi Tahun 2019-2022 Adriswan, Saffana Thara Qalbi; Ariani , Novita; Aladin, Aladin; Akhyar , Gardenia; Nofita , Eka; Fadila , Zurayya
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i2.1410

Abstract

Latar Belakang: Kanker serviks menempati urutan keempat terbanyak pada wanita diseluruh dunia, urutan kedua terbanyak di Indonesia dan Sumatera Barat. Kanker serviks pada awal stadium sering tidak bergejala sehingga lambat terdeteksi. Kanker serviks bersifat radiosensitif sehingga radiasi dipilih sebagai modalitas terapi. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien kanker serviks yang menjalani radioterapi di RSUP Dr. M. Djamil dan RS Unand. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder rekam medis pasien radioterapi kanker serviks di RSUP Dr. M. Djamil dan RS Unand tahun 2019-2022 dengan teknik proportional random sampling. Besar sampel minimal 50 pasien. Hasil: Hasil terbanyak di RSUP Dr. M. Djamil dan RS Unand adalah usia 36-55 tahun (73,3% dan 33,3%), asal daerah dari luar Kota Padang (60,0% dan 71,4%), tingkat pendidikan yang ditempuh sedang (SMP-SMA/sederajat) sebanyak 80,0% dan 62,0%, stadium IIIB (50,0% dan 33,3%). Tipe histopatologis karsinoma sel skuamosa (73,3% dan 90,5%). Pasien banyak tidak dibedah sebelum menjalani radioterapi (90,0% dan 76,2%), waktu tunggu radioterapi ditemukan ≥14 hari (46,7%) di RSUP Dr. M. Djamil dan <14 hari (76,2%) di RS Unand. Jenis radioterapi yang digunakan RSUP Dr. M. Djamil adalah radioterapi eksterna dan RS Unand kombinasi radioterapi eksterna dan brakiterapi. Gejala akut pascaradioterapi terbanyak adalah radiodermatitis (40,0% dan 61,9%). Kesimpulan: Usia paling banyak terdiagnosis adalah 36-55 tahun, berasal dari luar Kota Padang, tingkat pendidikan sedang dengan stadium IIIB, tipe histopatologis karsinoma sel skuamosa, pasien banyak tidak dibedah sebelum menjalani radioterapi. Waktu tunggu radioterapi RSUP Dr. M. Djamil lebih lama dan menggunakan jenis radioterapi yang berbeda. Gejala akut pascaradioterapi terbanyak radiodermatitis.
Delayed Management of a Button Battery Foreign Body in the Esophagus: A Case Report Mizwar, Mizwar; Asyari, Ade
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i2.1492

Abstract

Introduction: A Foreign body ingestion and ofreign body aspiration commonly affect children between 6 months and 6 years. Items that are commonly swallowed by children are small and shiny object, such button batteries and magnets that have increased rapidly over the last decade. Botton battery ingestion an established surgical emergency, requiring immediate removal. Delay in diagnosis can lead possible complication such as inflammation, necrosis of esophageal mucosa and esophageal perforation. Rigid esophagoscopy is mainstay procedure of management foreign body in esophagus. Case Report: A case of foreign body battery in esophagus was reported in a 4 year old girl with chief complain felt something stuck at the throat since 3 days before admission and patient performed thoracal x-ray. Esophagoscopy was performed to remove battery foreign body in esophagus. At the time of evaluation, necrosis and excoriation was found in the esophagus as high as 18 cm from the incisivus. Conclusions: Delay in diagnosis and management of foreign battery in the esophagus could lead in to severe clinical manifestations and could cause the complication. Esophagoscopy remains the mainstay management of foreign body in esophagus because of its good visualization.  
Hiperparatiroid Primer Namanda Putri, Athari Fadhila; Decroli, Eva; Aprilia, Dinda; Kam, Alexander
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i2.1499

Abstract

Latar Belakang: Hiperparatiroid primer merupakan suatu kondisi klinis yang disebabkan peningkatan sintesis hormon paratiroid (HPT) akibat tumor paratiroid. Hiperparatiroid primer dapat mengganggu metabolisme kalsium. Dengan demikian, diagnosis hiperparatiroid primer secara umum dapat ditentukan melalui pemeriksaan kadar kalsium serum dan HPT serta ditemukannya tumor paratiroid melalui pemeriksaan pencitraan. Secara garis besar tatalaksana hiperparatiroid primer terdiri dari tatalaksana medikamentosa dan intervensi pembedahan. Tatalaksana medikamentosa meliputi pemberian suplementasi vitamin D, kalsimimetik dan bifosfonat. Intervensi pembedahan untuk mengangkat tumor paratiroid merupakan terapi definitif hiperparatiroid primer. Klinisi perlu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terhadap hiperparatiroid primer agar pelayanan pasien lebih komprehensif.  
Koinsidens Insulinoma dan Sindrom Cushing: Laporan Kasus Aditya Nugraha, Ida Bagus; Gotera, Wira
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i2.1505

Abstract

Latar belakang: Insulinoma adalah tumor neuroendokrin langka yang menyebabkan pelepasan insulin yang tidak tepat. Penggunaan kortikosteroid kronis adalah penyebab paling umum dari Sindrom Cushing. Tujuan: mempelajari tentang kasus khusus dan langka Deskripsi Kasus: Seorang wanita obesitas berusia 39 tahun dengan riwayat gejala hipoglikemik berulang dirujuk ke rumah sakit kami dengan keluhan utama moon face, striae, dan beberapa plak annular berwarna merah muda di dada dan perut. Dia sebelumnya diobati dengan kortikosteroid dosis tinggi dan jangka panjang selama 8 tahun tanpa mengetahui etiologi dari kondisi hipoglikemia yang terus-menerus. Tes darah menunjukkan kadar insulin puasa dan c-peptida yang tinggi meskipun kadar glukosa plasma rendah. Meskipun pemindaian tomografi terkomputerisasi tidak menunjukkan adanya kelainan, pemeriksaan pencitraan resonansi magnetik menunjukkan adanya massa seperti insulinoma di pankreas. Dosis steroid dan krim antijamur topikal diberikan untuk terapi medis. Ia kemudian dijadwalkan untuk menjalani operasi enukleasi tumor. Setelah operasi, glukosa darahnya kembali ke kisaran normal. Kesimpulan: Dokter harus lebih waspada dalam mendiagnosis pasien dengan hipoglikemia berulang. Penggunaan steroid harus dipertimbangkan dengan bijak, bahkan di daerah dengan sumber daya yang terbatas.
Respons Kemoterapi Terhadap Kanker Payudara Triple Negative di RSUP Dr. M. Djamil Padang Jati, Fajri Hidayat; Khambri , Daan; Mulyani , Henny
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i3.1260

Abstract

Latar Belakang: Kanker payudara mengalami peningkatan angka kejadian dan kematian yang signifikan setiap tahunnya. Salah satu subtipe molekuler adalah Triple Negative Breast Cancer (TNBC). Kurang efektifnya terapi hormonal atau terapi target menjadikan kemoterapi sebagai pilihan utama, namun tidak semua pasien memiliki respons yang baik terhadap kemoterapi. Respons ini dipengaruhi keadaan klinikopatologi pasien. Data ini menilai capaian Pathological Complete Response (pCR) yang diharapkan dapat meningkatkan prognosis TNBC.Belum  terdapat  data respons kemoterapi berserta klinikopatologi pasien kanker payudara di RSUP Dr. M. Djamil. Objektif: Penelitian ini bertujuan mengetahui respons kemoterapi terhadap Triple Negative Breast Cancer di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan deskriptif retrospektif dilakukan di bangsal RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2022 - Juli 2023 menggunakan data sekunder sebanyak 76 sampel dengan metode pengambilan data total sampling. Hasil: Penelitian ini mendapatkan 76 kasus TNBC. Kelompok usia terbanyak pada usia 41 - 50 tahun. Derajat diferensiasi terbanyak pada derajat III (60,5%) dan stadium berdasarkan TNM terbanyak pada stadium III (60,5%). Pasien paling banyak mendapat regimen kemoterapi Anthracyclines - Cyclophosphamide (AC) (46,1%) dengan respon kemoterapi berdasarkan skor Miller-Payne terbanyak pada derajat 3 (55,3%). Kesimpulan: Pada penelitian ini disimpulkan bahwa terapi kemoterapi mendapatkan hasil respon pada derajat 2 dan derajat 3 sebagai Partial Pathological Response.
Risiko Mual Muntah Pasca Operasi pada Pasien Seksio Sesarea dengan Anestesi Spinal di RSIA Permata Bunda Solok Mashoed, Meyfiana Aisyah; Rustini , Rini; Vitresia , Havriza; Syahrul , Muhammad Zulfadli; Almurdi, Almurdi
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i3.1305

Abstract

Latar Belakang: Mual dan muntah pasca operasi (PONV) merupakan salah satu efek samping pada anestesi spinal pada pasien seksio sesarea. Faktor risiko dari kejadian mual muntah pasca operasi adalah usia, IMT, motion sickness, mual muntah pasca operasi sebelumnya, dan merokok. Tujuan: Mengetahui angka kejadian dan faktor risiko mual muntah pasca operasi pada pasien seksio sesarea di RSIA Permata Bunda Solok. Metode: Penelitian ini adalah deskriptif observasional yang dilakukan pada bulan November 2023 di Recovery Room RSIA Permata Bunda Solok. Sampel sebanyak 46 pasien yang menjalani operasi seksio sesarea dengan anestesi spinal diambil menggunakan teknik accidental sampling. Hasil: Didapatkan sebanyak 7 dari 46 pasien (15,22%) mengalami mual muntah pasca operasi. Berdasarkan usia, kejadian mual muntah pasca operasi terbanyak pada kelompok usia 26-35 tahun (10,87%). Berdasarkan kelompok IMT, kejadian mual muntah terbanyak pada IMT >27 (20%). Motion sickness dengan yang tidak ada Motion sickness tidak jauh berbeda angka kejadian mual muntah pasca operasi (22,22% dan 10,71%). Dari 7 pasien yang mengalami mual muntah pasca operasi semuanya memiliki riwayat tidak merokok dan riwayat tidak PONV sebelumnya (100%). Kesimpulan: Angka kejadian mual muntah pasca operasi yang tidak jauh berbeda dengan studi yang pernah dilakukan sebelumnya dan hal ini dipengaruhi oleh faktor risiko usia, IMT, Motion sickness, PONV sebelumnya dan riwayat merokok.
Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kesehatan gizi yang banyak ditemukan di dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2020 terdapat 149,2 juta anak dibawah usia 5 tahun yang mengalami stunting. Stunting disebabkan oleh akumulasi berbagai macam faktor. Objektif: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Anak Air Kota Padang. Metode: Penelitian ini merupakan pene Prameswary, Canticha Aulia; Masnadi, Nice Rachmawati; Adrial, Adrial; Yulistini, Yulistini; Nofita, Eka
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i3.1316

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kesehatan gizi yang banyak ditemukan di dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2020 terdapat 149,2 juta anak dibawah usia 5 tahun yang mengalami stunting. Stunting disebabkan oleh akumulasi berbagai macam faktor. Objektif: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Anak Air Kota Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Sebanyak 67 sampel dipilih secara purposive sampling yaitu anak usia 24-59 bulan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Hasil uji Chi-Square dan uji Fisher’s exact antara faktor berat badan lahir, riwayat penyakit infeksi, status imunisasi dasar, pemberian ASI Eksklusif, MPASI tepat waktu, tingkat pendidikan ibu dan tingkat pendapatan keluarga dengan kejadian stunting yaitu p < 0,05 sedangkan antara faktor pemberian IMD serta sanitasi dan air bersih didapatkan p > 0,05. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara faktor berat badan lahir, riwayat penyakit infeksi, status imunisasi dasar, pemberian ASI Eksklusif, MPASI tepat waktu, tingkat pendidikan ibu dan tingkat pendapatan keluarga dengan stunting dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara faktor pemberian IMD serta sanitasi dan air bersih dengan stunting
Peranan Skor SOFA dan Prokalsitonin dalam Memprediksi Luaran Mortalitas Sepsis di ICU: Sebuah Tinjauan Naratif Catherina, Felicia; Syahrul, Muhammad Zulfadli; Rustam, Erlina
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i3.1326

Abstract

Background: Sepsis is a dysregulated host response to infection that leads to life-threatening organ dysfunction. SOFA score is used to assess the degree of organ dysfunction and is currently used in the latest sepsis definition. PCT is a biomarker which increases in inflammation and sepsis. Objective: to analyze the role of SOFA score and procalcitonin in predicting sepsis mortality outcome in ICU. Methods: Literature review discusses primary literature searched through PubMed and ScienceDirect databases, selected based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Results: A total of 15 articles were included in this review. In studies evaluated a single SOFA score were found that the mean/median SOFA score in non-survivors were significantly higher than in survivors. In studies evaluated SOFA score data serially also showed the ability of SOFA score to predict mortality outcomes. One-time PCT measurements were performed in 93% studies in this review. The results obtained were that the mean/median initial PCT levels measured at admission or after sepsis diagnosis in non-survivors were higher than in survivors in 13 studies, but statistically significant differences were only found in 5 studies. Serial PCT measurements were only measured in 1 study, it found changes in PCT values on ICU admission and fifth day are significantly related to mortality. Conclusion: SOFA score is a good parameter for predicting sepsis mortality outcome in ICU, and in general, one-time PCT measurements do not play a significant role in predicting sepsis mortality outcome in ICU.
Hubungan Nonalcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) dengan Kolesterol Darah Pasien Kolesistolitiasis Dilaparoskopi Kolesistektomi F, Annisa Maida; Yerizel, Eti; Saputra, Deddy; Miro, Saptino; Irwan; Alioes, Yustini
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i3.1347

Abstract

Latar Belakang: Kolelitiasis atau batu empedu menjadi salah satu masalah bagian gastrointestinal paling umum yang memengaruhi sekitar 10-20% populasi dunia. Kejadian kolelitiasis dikaitkan dengan Non Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) dan kadar profil lipid. Objektif: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan NAFLD dengan kadar profil lipid pada pasien kolelitiasis yang dilakukan laparoskopi kolesistektomi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional dengan data sekunder dari rekam medis pasien kolelitiasis yang dilaparoskopi kolesistektomi di ruang operasi IBS RSUP Dr. M. Djamil Padang. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling yaitu jumlah sampel yang memenuhi kriteria inkulsi dan ekslusi sebanyak 40 pasien. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan pasien kolelitiasis yang dilakukan laparoskopi kolesistektomi terbanyak adalah pasien dewasa yaitu 19-59 tahun (72,5%). Sebagian besar pasien berjenis kelamin perempuan (67,5%) dan indeks massa tubuh terbanyak adalah obesitas tipe 1 (35%). Kebanyakan pasien mengalami NAFLD (77,5%) dengan terbanyak adalah grade 2 (37,5%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara NAFLD dengan kolestserol total (p>0,05), kolestserol HDL (p>0,05), kolesterol LDL (p>0,05), maupun trigliserida (p>0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara NAFLD dengan kadar profil lipid pada pasien kolelitiasis yang dilakukan laparoskopi kolesistektomi.