cover
Contact Name
Zidnal Falah
Contact Email
jusindo.jsi@gmail.com
Phone
+6285322218207
Journal Mail Official
muhammadzidnal31@gmail.com
Editorial Address
Greenland Sendang Residence Blok H1, Sendang, Kec. Sumber, Cirebon, Jawa Barat 45611
Location
Kab. cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Published by Publikasi Indonesia
ISSN : 27753077     EISSN : 27750892     DOI : 10.36418
Core Subject : Health,
Ruang lingkup dan fokus penelitian terkait bidang kajian dengan penekanan pada pendekatan, yang meliputi: Kesehatan Masyarakat, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (Kesehatan Kerja; Hyperkes), Kebijakan Kesehatan (dan Analis Kesehatan), Ilmu Gizi, Epidemiologi, Teknik Kesehatan Lingkungan, Promosi Kesehatan, Asuransi Jiwa dan Ilmu Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Ilmu Olah Raga, Ilmu Keperawatan, Kebidanan, Administrasi Rumah Sakit, Entomologi (Kesehatan, Fitopatologi), Ilmu Biomedis, Ergonomi, Fisiologi Kerja, Fisioterapi, Analis Medis, Fisiologi (Olahraga ), Reproduksi (Biologi dan Kesehatan), Akupunktur, Rehabilitasi Medis.
Articles 411 Documents
Kalazion: Sebuah Laporan Kasus Pramanandari, Made Indah
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i1.229

Abstract

Latar Belakang: Kalazion merupakan lesi inflamasi yang paling umum pada kelopak mata. Kalazion dapat sembuh sendiri namun pada beberapa kasus diperlukan terapi baik medikamentosa maupun non medikamentosa. Oleh karena itu memerlukan kajian lebih dalam untuk mendiagnosis dan tatalaksana yang tepat. Kasus: Pasien laki – laki, 21 tahun datang ke Poli Mata RS Bhayangkara Denpasar awalnya pada tanggal 30 Juni 2022 dengan keluhan benjolan pada kelopak mata kiri sejak 3 hari yang lalu. Benjolan tersebut awalnya merah dan berukuran kecil, kemudian semakin merah dan membesar seukuran biji jagung dan bermata. Benjolan terasa gatal dan nyeri. Pasien sering mengucek mata karena gatal. Pasien tidak menggunakan contact lens. Keluhan penglihatan kabur tidak ada. Mata merah dan berarir tidak ada. Riwayat pengobatan pada mata kiri sebelumnya tidak ada. 2 minggu kemudian pada tanggal 18 Juli 2022 pasien datang lagi dengan keluhan yang sama benjolan di kelopak mata kiri. Gatal dan sudah berkurang namun benjolan tidak mengecil dan mengeras. Diskusi: Kalazion dapat sembuh dengan sendirinya tetapi sebagian besar kasus memerlukan terapi lanjut untuk tatalaksana chalazion itu sendiri.
Pengaruh Relaksasi Genggam Jari Terhadap Nyeri pada Anak dengan Sindrom Nefrotik di Ruang Aster RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo Nabila, Bangkit Isna; Triana, Noor Yunida
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.230

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah guna melihat pengaruh relaksasi pegangan jari atas pengurangan nyeri pada pasien dengan diagnosis medis sindrom nefrotik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo. Subjek dari studi kasus ini ialah seorang pasien dengan masalah nyeri dan didiagnosis dengan sindrom nefrotik, dilakukan selama tiga hari. Pengumpulan data lewat observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, serta dokumentasi. Hasil penelitian memperlhatkan bahwa studi kasus yang sudah dilaksanakan pada pasien menunjukkan penurunan tingkat nyeri pada pasien pediatrik yang menderita sindrom nefrotik sebelum serta setelah diberikan terapi relaksasi pegangan jari. Dari hasil studi kasus mengenai pengaruh relaksasi pegangan jari, bisa ditarik kesimpulan yakni terapi ini efektif meminimalisir nyeri pada pasien dengan sindrom nefrotik. Hal ini menunjukkan bahwa relaksasi pegangan jari dapat menjadi alternatif terapi yang bermanfaat dalam mengelola nyeri pada pasien dengan kondisi ini.
Hubungan Tingkat Stres Terhadap Kejadian Sindrom Dispepsia Fungsional Pada Mahasiswa Preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Juwita, Baiq Pelangi; Adni, Azizatul; Diatmika, I Putu; Parwata, Wayan Sulaksmana Sandhi
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.231

Abstract

Dispepsia fungsional merupakan kumpulan gejala seperti sensasi nyeri di gastroduodenum, rasa terbakar, rasa penuh dan kembung, mual muntah tanpa adanya kerusakan struktural pada pemeriksaan fisik, laboratorium, radiologi, dan endoskopi. Dispepsia dapat disebabkan oleh pola makan, stres, dan pola hidup yang tidak sehat seperti konsumsi alkohol, merokok, dan kurang olahraga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres terhadap kejadian sindrom dispepsia fungsional pada mahasiswa pre-klinik Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square menggunakan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara tingkat stres dan kejadian sindrom dispepsia fungsional (p = 0,023). Responden dengan tingkat stres sedang memiliki frekuensi tertinggi mengalami sindrom dispepsia fungsional dibandingkan tingkat stres ringan atau berat. Kesimpulannya, semakin tinggi tingkat stres, semakin besar risiko terjadinya sindrom dispepsia fungsional pada mahasiswa. Oleh karena itu, disarankan agar mahasiswa meningkatkan manajemen stres, menjaga pola makan yang sehat, dan menerapkan pola hidup yang baik untuk mencegah terjadinya sindrom dispepsia fungsional. Fakultas juga diharapkan menyediakan program pendukung seperti konseling psikologis untuk membantu mahasiswa dalam mengelola stres.
Edukasi Kader Puskesmas dalam Deteksi Dini Penyakit Jantung Koroner Purwowiyoto, Sidhi Laksono; Stujanna, Endin Nokik; Nurusshofa, Zahra; Permatasari, Tiara; Hayati, Siti Lawuny
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.232

Abstract

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu spektrum penyakit jantung yang paling umum di dunia, dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Pada tahun 2020, PJK diperkirakan menjadi penyebab utama kematian global, menyumbang 36% dari seluruh kematian, angka ini dua kali lipat dibandingkan kematian akibat kanker. Di Indonesia, PJK (yang termasuk dalam kategori penyakit sistem sirkulasi) tercatat sebagai penyebab utama kematian, dengan angka 26,4%, atau empat kali lebih tinggi dibandingkan kematian akibat kanker yang hanya sebesar 6%. Dengan demikian, sekitar satu dari empat kematian di Indonesia disebabkan oleh PJKKader puskesmas berfungsi sebagai perpanjangan puskesmas dalam menjangkau dan melayani masyarakat di area kerjanya. Berdasarkan permasalahan ini, kegiatan pengabdian masyarakat bertujuan memberikan edukasi kepada kader puskesmas tentang deteksi dini, pencegahan PJK, dan faktor risikonya. Dengan demikian, kader diharapkan dapat mengedukasi masyarakat dan mendorong mereka untuk melakukan deteksi dini serta pencegahan PJK guna mengurangi angka kematian akibat penyakit ini. Setelah pelaksanaan edukasi, terjadi peningkatan pengetahuan kader tentang PJK, yang terlihat dari kenaikan nilai pretest ke post-test sebesar 19,3%.
Peran Xpert MTB/RIF Ultra dalam Diagnosis Pleuritis Tuberkulosis pada Pasien HIV: Laporan Kasus Andrian, Egidius Ian; Prasetyo, Agung; Putra, Pradana Maulana; Viazelda, Aqsha Tiara
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.233

Abstract

Introduction: Pleuritis Tuberculosis (TB) sebagai salah satu manifestasi TB ekstraparu seringkali didiagnosis bukan secara bakteriologis. Penggunaan Xpert MTB/RIF Ultra dalam mendeteksi kuman Mycobacterium Tuberculosis (MTB) pada cairan pleura menjadi salah satu alternatif penegakan diagnosis. Case: Seorang pria berusia 39 tahun tanpa riwayat TB dengan antibodi HIV reaktif mengeluhkan sesak nafas, batuk non-produktif, dan nyeri dada kanan, serta ditemukan efusi pleura kanan berdasarkan rontgen toraks. Pemeriksaan bakteriologis sputum menggunakan Xpert MTB/RIF Ultra tidak menemukan MTB, namun pada sampel cairan pleura mendeteksi gen MTB. Pasien tersebut kemudian diberikan obat antituberkulosis (OAT) dan antiretroviral (ARV) dua minggu setelahnya. Discusion: Penegakan diagnosis TB secara bakteriologis pada pasien imunodefisiensi masih menjadi tantangan, karena infeksi TB pada kondisi imunodefisiensi sering bersifat pauci-basiler dan sering kali bermnifestasi sebagi TB ekstraparu. Pemeriksaan Xpert MTB/RIF Ultra yang memiliki sensivitas tinggi ternyata dapat mendeteksi gen Mycobacterium Tuberculosis (MTB) pada cairan pleura. Conclusion: Penggunaan Xpert MTB/RIF Ultra pada cairan pleura menjadi salah satu alternatif penegakan diagnosis bakteriologis, sehingga diagnosis pleuritis tuberculosis (TB) pada pasien imunodefisiensi dapat dilakukan lebih cepat dengan sensitivitas yang mendekati kultur mikrobiologi.
Hubungan Aktivitas Fisik pada Lansia dengan Kadar Serum Asam Urat di Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan Astin Mandalika; Lydia Tantoso
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.241

Abstract

Hiperurisemia merupakan gangguan metabolik yang sering terjadi pada lansia, ditandai dengan peningkatan kadar asam urat dalam darah yang dapat menyebabkan penyakit gout dan komplikasi lainnya. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kadar asam urat adalah aktivitas fisik. Namun, hubungan antara tingkat aktivitas fisik dan kadar asam urat pada lansia masih memerlukan penelitian lebih lanjut, khususnya di wilayah dengan karakteristik populasi spesifik seperti Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara aktivitas fisik dan kadar serum asam urat pada lansia di Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Asam urat yang tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti gout, terutama pada usia lanjut. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional melibatkan 259 lansia dengan pengukuran aktivitas fisik melalui kuesioner dan kadar asam urat menggunakan alat pengukur asam urat. Analisis statistik dilakukan untuk menentukan hubungan antara tingkat aktivitas fisik dan kadar asam urat dalam darah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden (61,8%) memiliki tingkat aktivitas fisik tinggi, dan 64,1% responden tidak mengalami hiperurisemia. Analisis statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan kadar serum asam urat (p-value = 0,000). PRR menunjukkan bahwa risiko hiperurisemia pada lansia dengan aktivitas fisik tinggi adalah 0,191 kali dibandingkan lansia dengan aktivitas fisik rendah (95% CI: 0,130-0,281). Aktivitas fisik yang lebih tinggi berhubungan dengan kadar serum asam urat yang lebih rendah pada lansia di Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Temuan ini menyoroti pentingnya promosi aktivitas fisik sebagai strategi pengelolaan hiperurisemia pada lansia. Penelitian lebih lanjut dengan desain longitudinal diperlukan untuk mendukung hasil ini.
Tantangan dalam Mendiagnosis Leptospirosis pada Fasilitas Kesehatan Dasar di “Serambi Nusantara” Penajam Paser Utara: Laporan Kasus Priscillah, Wildan; Paramarta, Vip; Putri, Dhiya Nada
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.242

Abstract

Pendahuluan: Leptospirosis merupakan fenomena the tip of iceberg yang kenyataannya kasus ini meningkat tetapi sering mengalami misdiagnosis, under-diagnosis, dan under reported di pelayanan dasar kesehatan. Minimnya fasilitas dan belum adanya laboratorium untuk melakukan pemeriksaan Leptospirosis di Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi tantangan seorang dokter untuk menegakkan diagnosis dan memberikan terapi pengobatan secara tepat dan akurat. Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk menjelaskan tantangan dan tatalaksana Leptospirosis pada fasilitas kesehatan di Penajam Paser Utara. Hasil dan Pembahasan: Pasien Laki-laki berusia 42 tahun datang ke Puskesmas Sebakung Jaya, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur dengan keluhan utama rasa sakit pada kaki, disertai demam, mual, dan nyeri kepala yang berlangsung selama dua hari. Pasien memiliki riwayat kadar asam urat yang tinggi. Pasien seorang petani yang memiliki kebiasaan tidak menggunakan alas kaki saat pergi ke sawah. Pasien dilakukan pengambilan sampel darah vena untuk dilakukan pemeriksaan Leptospirosis. Hasil pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan metode pemeriksaan PCR dengan Pockit Micro Plus didapatkan hasil pasien positif (+) Bakteri Leptospira sp. Pasien diberikan terapi sementara yaitu Doksisiklin 100 mg dua kali sehari selama 7 hari, Piroxicam 100 mg dua kali sehari, Aloopurinol 100 mg sekali sehari, dan Zink sekali sehari serta pasien diminta untuk kontrol kembali dalam waktu 3 hari setelah kunjungan. Pasien diberikan KIE untuk menggunakan sepatu pada saat pergi kesawah untuk meminimalisir faktor predisposisi. Kesimpulan: Minimnya fasilitas kesehatan dasar di Penajam Paser Utara menjadikan seorang dokter harus lebih sensitive lagi dalam penegakkan diagnosis khususnya pada kasus Leptospirosis sehingga dapat memberikan pertolongan pertama seperti pemberian antibiotik saat muncul gejala untuk menghindari kondisi yang lebih buruk.
Angiomatous Nasal Polyp: Laporan Kasus dan Pembahasan Literatur Herryanto, David; Leslie, Greatavia Meanda; Kristanto, Fernando Heri
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.247

Abstract

Polip Nasal Angiomatous (ANPs) adalah varian langka dari polip sinonasal inflamatori (ISP), ditandai oleh pertumbuhan pembuluh darah yang luas. ANPs harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding seperti polip antrochoanal, angiofibroma juvenil, keganasan, papiloma, dan hemangioma. Penelitian mengenai ANPs masih sangat terbatas, sehingga penegakan diagnosis memerlukan data klinis, radiologis, dan patologis yang mendalam. Laki-laki 21 tahun datang ke IGD dengan keluhan massa keluar dari hidung kiri selama 5 hari, epistaksis berulang dan hidung tersumbat selama sebulan terakhir. Pemeriksaan fisik menunjukkan massa merah kehitaman yang memenuhi cavitas nasal sinistra. CT scan menunjukkan massa poliposus sinonasal di antrum sinus maxillaris sinistra. Pasien didiagnosis rhinosinusitis kronis dengan polip angiomatous nasal grade 3. Pasien menjalani ekstirpasi massa, dan patologi mengkonfirmasi jaringan mukosa nasal dengan epitel berlapis gepeng dan pembuluh hiperemis. Nasoendoskopi pasca operasi tidak menunjukkan adanya massa polip yang tersisa. ANPs sulit didiagnosis karena gejalanya beragam dan mirip dengan kondisi neoplastik. Patogenesisnya diduga melibatkan gangguan pada pembuluh darah, stasis, edema, dan nekrosis. Evaluasi yang mendalam melalui pemeriksaan klinis, radiologis, dan patologis sangat penting untuk diagnosis dan penanganan yang tepat. Penanganan ANPs umumnya melibatkan ekstirpasi massa, yang menunjukkan hasil baik dan rendahnya kekambuhan. Laporan kasus menunjukkan variasi gejala dan pentingnya evaluasi klinis, radiologis, dan patologis yang mendalam untuk diagnosis yang akurat dan penatalaksanaan yang efektif.
Heart Failure Caused by Incidentally Discovered Right Atrial Myxoma: A Rare Case Report Atikah, Rahmatulhusna; Meilus, Budi Patria
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.248

Abstract

Primary cardiac tumors, though uncommon, play a significant role in medical practice. Cardiac myxoma is the most common benign cardiac tumor, characterized by varying symptoms depending on the location and size of the tumor. We report the case of a 44-year-old woman with complaints of shortness of breath, upper abdominal pain, and leg oedema. Right atrial myxoma was incidentally found after an echocardiography examination, which is an essential tool for detecting and diagnosing cardiac tumors. The patient exhibited clinical improvement with inotropic therapy and antibiotics and was referred for surgical removal of the tumor. Cardiac myxoma surgical procedures generally have a favorable prognosis with a high survival rate. However, postoperative complications such as arrhythmias and infections require close monitoring. Thus, early diagnosis and appropriate management are essential in addressing cardiac myxoma.
Gambaran Tingkat Pengetahuan, Sikap, Perilaku Pencegahan Infeksi Tb Dan Risiko Penularan di Panti Asuhan Riyaadlul Jannah Baiturrahman Pedurungan Semarang Tahun 2024 Hadipranoto, Ichsan; Afriansya, Roni; Rahayuni, Arintina
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.249

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan, sikap, perilaku pencegahan, serta risiko penularan tuberkulosis (TB) di kalangan santri Panti Asuhan Riyaadlul Jannah Baiturrahman Pedurungan, Semarang, pada tahun 2024. Insidensi TB di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2020 mencapai 2261 per 100.000 penduduk, dengan Kota Semarang berada di peringkat keenam dalam tingkat Case Notification Rate. Hal ini menuntut upaya penanganan yang menyeluruh agar sesuai dengan target pemerintah dalam menurunkan insidensi TB. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari santri di Panti Asuhan Riyaadlul Jannah, dengan total sampel sebanyak 30 orang yang diambil menggunakan metode quota sampling. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, serta bukti gambar mengenai pengetahuan, sikap, dan perilaku santri dalam pencegahan penularan TB. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara statistik dan dideskripsikan secara literatur untuk memberikan gambaran komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas santri memiliki tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan penularan TB yang sangat tinggi, serta faktor risiko total penularan TB pada lingkungan santri berada pada tingkat yang sangat rendah. Kesimpulannya, peningkatan tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku santri terkait pencegahan TB berbanding terbalik dengan risiko penularan, di mana semakin baik tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku, semakin rendah risiko penularan TB di lingkungan panti asuhan tersebut.