cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns" : 7 Documents clear
Perencanaan pelaksanaan keperawatan (MPKP) metode tim di ruang penyakit dalam Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung Herliza, Herliza; Triyoso, Triyoso; Kusumaningsih, Dewi
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.425

Abstract

Background: A hospital is a health service institution that provides comprehensive and complete health services for individuals by providing inpatient, outpatient, and emergency services based on Law No. 44 of 2009. A hospital is an integral part of a social and health organization with the function of providing comprehensive services, curative, and preventive services to the community.. Purpose: To identify the planning for the implementation of professional nursing practice (MPKP) using the team method in the internal medicine room. Method: Descriptive research with a case study approach, conducted at Pertamina Bintang Amin Hospital, Bandar Lampung in March-April 2024. The population in this study was 14 nurses in the internal medicine room. The sample selection used the purpose sampling technique, obtaining 7 nurses as respondents. The types of data collected were primary and secondary data through discussion methods, interviews, demonstrations (education of knowledge about professional nursing practice methods/MPKP), and structured observations. Results: MPKP uses the team method and the manpower is sufficient to carry out the team method. Problems identified through observation, interviews, and questionnaires are that the implementation of the MPKP team method has not been implemented, nurses' knowledge of the team method, and their roles are still lacking. A mini project has been developed to reduce problems that arise in the room, namely in the form of re-education about the MPKP team method followed by the coordinator, team leader and team members. This has received a very good response. Implementing and evaluating using a post-test of nurses' knowledge and implementation of the team method through observation, with good results and responses to the renewal. Conclusion: Planning the implementation of MPKP using the team method will be closely related to improving the quality of health services, in training nurses to be professional in their duties, and providing satisfaction to patients. Keywords: Internal Medicine; Professional Nursing Practice Method (MPKP); Team Method Pendahuluan: Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi perorangan secara menyeluruh dan paripurna dengan menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat berdasarkan Undang-Undang No. 44 Tahun 2009. Rumah sakit merupakan bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pencegahan penyakit (preventif) pada masyarakat. Tujuan: Untuk mengidentifikasi perencanaan pelaksanaan praktik keperawatan profesional (MPKP) metode tim di ruang penyakit dalam. Metode: Penelitian deskristif dengan pendekatan studi kasus, dilaksanakan di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin, Bandar Lampung pada bulan maret-April 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah 14 perawat ruang penyakit dalam. Pemilihan sampel menggunakan teknik purpose sampling, mendapatkan 7 perawat sebagai responden. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder melalui metode diskusi, wawancara, demontrasi (edukasi pengetahuan tentang metode praktik keperawatan profesional/MPKP), dan observasi terstruktur Hasil: MPKP menggunakan metode tim dan ketenagaan sudah mencukupi untuk dilakukan. Masalah yang teridentifikasi melalui observasi, wawancara, dan kuesioner yaitu pelaksaan MPKP metode tim belum terlaksana, pengetahuan perawat tentang metode tim, dan perannya masih kurang. Telah menyusun mini projek untuk mengurangi masalah yang muncul di ruangan, yaitu dalam bentuk re-edukasi tentang MPKP metode tim yang dikuti oleh koordinator, ketua tim dan anggota tim. Hal ini mendapat respon yang sangat baik. Melaksanakan dan mengevaluasi menggunakan post test pengetahuan perawat dan pelaksanaan metode tim secara observasi, dengan hasil dan respon yang baik terhadap pembaharuan Simpulan: Perencanaan pelaksanaan MPKP menggunakan metode tim akan sangat berkaitan dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan, dalam melatih tenaga perawat menjadi profesional terhadap tugasnya, dan memberikan kepuasan kepada pasien.  
Edukasi masyarakat dalam menangani luka dan kegawatdaruratan sehari-hari pada anak stunting dengan memanfaatkan tanaman obat keluarga Darajat, Agus Mi'raj; Abidin, Imam; Khotimah, Nur Intan Hayati Husnul; Tambunan, Irisanna; Megawati, Sri Wulan
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.429

Abstract

Background: Overall, Sinarjaya Village consists of 10 RW, and supported by good soil conditions, more people are suitable for farming and working in factories. Based on the Garut Regional Government, the prevalence of stunting is targeted to be below 14% in 2024, in accordance with the national target, although the stunting rate in Garut Regency increased from 23.6% to 24.1% in early 2024 based on the Indonesian Health Survey. Purpose: To improve community skills related to daily emergencies and the use of family medicinal plants for wounds through community empowerment in families with stunted children. Method: The implementation of activities involves residents involved as Family Welfare Empowerment Cadres and Integrated Service Post Cadres in Sinarjaya Village, Tarogong, Garut. Participation in increasing community empowerment efforts in handling daily emergencies and understanding related to the use of Family Medicinal Plants for wounds in stunted children in families in particular. Activities are carried out through several stages, namely preparation, implementation, and evaluation. Results: Cadres can make phone calls well and can answer questions about emergency handling well. Training in the form of mini lectures and direct practice can improve skills towards cognitive, affective, and basic behavioral aspects such as the ability to remember, pay attention and control performance. Conclusion: Education through training and simulation can improve cadres' knowledge and skills in handling daily emergencies and the use of TOGA for wounds. Improved skills can improve preparedness and success in handling emergencies. The role of PKK and Posyandu cadres who can reach the community is the basis for efforts to empower individuals and families so that handling will be faster and more appropriate. Keywords: Community Empowerment; Dwarfism; Family Medicinal Plants; Wound Care. Pendahuluan: Secara Keseluruhan Desa Sinarjaya terdiri dari 10 RW,serta di dukung oleh kondisi tanah yang baik,  masyarakat lebih banyak bercocok tanam dan bekerja pabrik. Berdasarkan pemerintah daerah kabupaten (Pemkab) Garut menargetkan prevalensi stunting di bawah 14% pada tahun 2024,sesuai dengan target nasional,meski angka stunting di kabupaten Garut naik dari 23.6% menjadi 24.1% pada tahun 2024 awal berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI). Tujuan: Untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menangani luka dan kegawatdaruratan sehari-hari pada anak stunting dengan memanfaatkan tanaman obat keluarga. Metode: Pelaksanaan kegiatan melibatkan warga yang terlibat menjadi Kader PKK dan Kader Posyandu yang ada di Desa Sinarjaya Tarogong Garut. Partisipasinya adalah dalam meningkatkan upaya pemberdayaan masyarakat dalam penanganan kegawatdaruratan sehari-hari dan pemahaman terkait penggunaan TOGA untuk luka pada anak stunting di keluarga khususnya. Kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil: Kader dapat mensimulasikan dengan baik dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik tentang penanganan kegawatdaruratan. Pelatihan yang berbentuk mini-lecturing dan direct practicing mampu meningkatkan keterampilan menuju aspek kognitif, afektif, serta perilaku mendasar misalnya kemampuan mengingat, perhatian dan mengontrol kinerja. Simpulan: Edukasi melalui pelatihan dan simulasi dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam penanganan kegawatdaruratan sehari-hari dan pemanfaatan TOGA untuk luka. Peningkatan keterampilan dapat meningkatkan kesiapsiagaan dalam penanganan kegawat daruratan. Peran kader PKK dan Posyandu yang dapat menjangkau masyarakat menjadi dasar dalam upaya memberdayakan individu dan keluarga sehingga penanganan akan lebih cepat dan tepat
Edukasi kejadian anemia pada ibu hamil yang memicu kegawatdaruratan maternal Wardiyah, Aryanti; Chrisanto, Eka Yudha; Zulhaida, Zulhaida; Nadira, Khoirul; Ladin, Juliawan; Sintia, Monica Bela Dwi; Rahmatika, Ida; Anjani, Ni Wayan Oktavia; Putri, Mia; Prayogo, Idfy Dwi; Sari, Yunidha Puspita
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.445

Abstract

Background: Iron requirements increase during pregnancy to meet increased fetoplacental requirements, increase maternal red blood cell mass, and compensate for iron loss during birth. In more than 80% of countries worldwide, the prevalence of anemia during pregnancy exceeds 20% and is considered a major public health problem. Lampung Province, data shows that Bandar Lampung City has the highest number of cases of anemia in pregnant women, namely 1,975 cases (22.50%). Purpose: Increase the knowledge of pregnant and breastfeeding mothers regarding the prevention of anemia that triggers maternal emergencies. Method: The activity was carried out using lecture and presentation methods using leaflet media. Education was given to respondents regarding knowledge about anemia in pregnant and breastfeeding mothers, as well as regarding the prevention of anemia that can cause maternal emergencies. Results: Respondents were very enthusiastic about the material provided. In addition, several respondents who asked questions about the material on preventing anemia and were very interested in knowledge about anemia, none left the room before the community service activity was completed. One of the measures to prevent anemia is to consume foods rich in vitamins and minerals. Conclusion : Counseling activities on anemia can increase knowledge of preventing anemia in pregnant and breastfeeding mothers. Increasing knowledge will greatly help reduce the risk of several complications that endanger pregnant women and fetuses such as abortion, low birth weight and premature birth. So that indirectly it can suppress the occurrence of maternal emergencies. Keywords : Anemia; Education; Pregnant women; Prevention of anemia Pendahuluan: Kebutuhan zat besi meningkat selama kehamilan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan fetoplasenta,  meningkatkan massa sel darah merah ibu, dan  mengkompensasi kehilangan zat besi selama kelahiran. Di lebih dari 80% negara di seluruh dunia, prevalensi anemia selama kehamilan melebihi 20% dan dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama. Provinsi Lampung, data menunjukkan bahwa Kota Bandar Lampung memiliki jumlah kasus anemia ibu hamil tertinggi, yaitu sebanyak 1.975 kasus (22,50%). Tujuan : Meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan ibu menyusui mengenai pencegahan kejadian anemia yang memicu kegawatdaruratan maternal.  Metode: Kegiatan dilaksanakan dengan metode ceramah dan presentasi menggunakan media leaflet.  Edukasi diberikan kepada responden mengenai pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil dan ibu menyusui, serta mengenai pencegahan kejadian anemia yang dapat menjadi penyebab terjadinya kegawatdaruratan maternal. Hasil: Responden sangat berantusias dengan materi yang diberikan. Selain itu, beberapa responden yang memberikan pertanyaan mengenai materi pencegahan anemia dan sangat tertarik dengan pengetahuan tentang anemia, tidak ada yang meninggalkan ruangan sebelum kegiatan pengabdian kepada masyarakat selesai dilakukan. Salah satu tindakan pencegahan anemia adalah dengan mengkonsumsi makanan yang kaya akan vitamin dan mineral.  Simpulan: Kegiatan penyuluhan tentang anemia dapat meningkatkan pengetahuan pencegahan kejadian anemia pada ibu hamil dan ibu menyusui. Dengan meningkatnya pengetahuan akan sangat membantu mengurangi resiko  beberapa komplikasi yang membahayakan ibu hamil dan janin seperti abortus, berat badan lahir rendah dan persalinan prematuritas. Sehingga secara tidak langsung dapat menekan terjadinya kegawatdaruratan maternal.
Pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) pada kader kesehatan Sasmito, Priyo; Royani, Royani; Ayinun, Aminah; Kurnelia, Ega; Nadiya, Della; Susiyanti, Hera; Dasopang, Ramadhana S.M.; Asminah , Asminah; Octavia, Marta; Mahdawarti, Mahdawarti; Pramesty, Merrina; Lisdawati, Riska; Mardesela, Ega; Gunawan, Gunawan; Sartika, Sartika; Herdiana, Herdiana; Fitriani, Ayu; Munisah, Yeni; Barus, Lidya Hariaty; Setiawan, Agus
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.447

Abstract

Background: Most cardiac arrests occur outside of hospital settings (Out-of-Hospital Cardiac Arrest/OHCA). The low knowledge and skills of the public regarding Basic Life Support (BLS) in cardiac arrest cases is one of the factors that contribute to the low survival rates of patients experiencing cardiac arrest. Health cadres are considered to have higher health awareness than other groups in the general population, and they have the potential to receive training and education on Basic Life Support (BLS). Purpose: To improve the understanding and skills of health cadres regarding the provision of Basic Life Support (BLS) for out-of-hospital cardiac arrest. Method: Training was provided to health cadres in the Lengkong Gudang Timur area, Serpong, Tangerang. The material was delivered through an interactive lecture using leaflets and flipcharts as media. Participants' skills were trained using role-play methods with phantom devices. All participants underwent a pre-test and post-test before and after the training. Results: A total of 11 health cadres participated in the activity. Participants' knowledge about cardiac arrest and Basic Life Support (BLS) increased from an average of 53.6% in the pre-test to 85.4% in the post-test, with an average improvement of 31.8%. Conclusion: Basic Life Support (BLS) training for health cadres can improve both knowledge and skills. Further intensive training is needed to enhance retention and confidence in performing Basic Life Support (BLS) in actual cardiac arrest situations. Collaboration between the government, health organizations, and communities is needed to develop affordable and accessible training programs for all groups. Keywords: Basic Life Support; Emergency; Out-of-Hospital Cardiac Arrest; Training Pendahuluan: Sebagian besar henti jantung terjadi di luar rumah sakit (Out-of Hospital Cardiac Arrest/OHCA). Rendahnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pemberian Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada kasus henti jantung merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya peluang hidup pasien dengan henti jantung. Kader kesehatan dinilai memiliki kesadaran kesehatan yang lebih tinggi dibanding kelompok masyarakat awam lainnya memiliki potensi untuk diberi pelatihan dan edukasi mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD).  Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan kader kesehatan mengenai pemberian Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk henti jantung di luar rumah sakit. Metode: Pelatihan diberikan kepada kader kesehatan yang berada di wilayah Lengkong Gudang Timur, Serpong, Tangerang. Sebanyak 11 orang kader kesehatan terlibat dalam kegiatan ini. Pemberian materi dilakukan dengan metode ceramah interaktif menggunakan media leaflet dan lembar balik. Keterampilan peserta dilatih menggunakan metode role play dengan media phantom. Semua peserta diberikan pre-test dan post-test sebelum dan setelah pelatihan. Hasil:. Pengetahuan mengenai henti jantung dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) peserta dari rata-rata 53.6% saat pre-test menjadi 85.4% saat post-test dengan peningkatan rata-rata sebesar 31.8%. Simpulan: Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada kader kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Diperlukan pelatihan lanjutan yang lebih intensif untuk meningkatkan retensi dan kepercayaan diri dalam melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada setting henti jantung yang sebenarnya. Perlu ada kolaborasi antara pemerintah, organisasi kesehatan, dan komunitas dalam menyusun program pelatihan yang terjangkau dan mudah diakses oleh semua kalangan.
Edukasi pencegahan stunting di Desa Sukamaju Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan Ningsih, Tri Riwayati
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.448

Abstract

Background: Stunting is a form of failure in child growth and development due to chronic malnutrition. One third of toddlers in Indonesia have below average height. The number of stunted children in Indonesia is ranked fifth in the world. To achieve the target of reducing stunting rates, changes in community behavior are needed. Purpose: The community service carried out by KKN 160 in an effort to prevent stunting is in collaboration with PKK mothers, village midwives and Sukamaju village officials. Method: The stunting prevention activities carried out in Sukamaju Village are a form of Community Service in an effort to prevent stunting. The programs implemented are in the form of education, providing PMT in the form of sweet corn, tempeh and spinach, and providing prenagen milk for pregnant women. Using interactive lecture methods, collaboration and demonstrations. Education in the form of stunting counseling with the theme "Together Prevent Stunting Healthy and Strong Children Great Generation", TPK assistance by measuring Body Length (PB) or Height (TB) and Body Weight (BB), and serving a healthy menu. Results: Through this activity, the community or participants who attended have begun to understand and understand stunting. In this activity, all participants were also given the opportunity to discuss and ask questions about the material. The activity was also attended by all participants with enthusiasm because they felt that the presentation of the material was very useful for all participants in order to recognize whether or not family members were experiencing stunting so that they could take preventive measures and take action to check themselves with health workers or report to related parties, especially to the village office or related parties. Participants can re-explain the material presented. Conclusion: Education about stunting has a positive impact on local residents. Efforts to prevent stunting through education or socialization, providing additional food (PTM) and providing prenagen milk for pregnant women as well as weighing and measuring the weight of toddlers in order to provide direct knowledge and understanding of stunting. Community service activities carried out were able to increase the knowledge of the target of the activity about the problem of short toddlers (stunting) so that it was followed by an increase in awareness that was owned according to the target of the activity regarding the problem of short toddlers (stunting). Suggestion A series of activities carried out in community service in the "Together Preventing Stunting Healthy and Strong Children Great Generation" Program were continued by the village such as posyandu cadres and could be a proposal for activities for the village. The reason this activity needs to be maintained and continued is because it is known that this activity is successful at least in increasing the knowledge and awareness of the target of the activity, but it must be carried out continuously in order to create behavioral changes and prevent stunting. Keywords: Great generation; Healthy children; Prevention; Stunting Pendahuluan: Stunting merupakan salah satu bentuk kegagalan dalam tumbuh kembang anak akibat kekurangan gizi kronis. Sepertiga anak balita di Indonesia memiliki tinggi badan di bawah rata-rata. Jumlah anak stunting di Indonesia menduduki peringkat kelima di dunia. Untuk mencapai target penurunan angka stunting diperlukan perubahan perilaku masyarakat. Tujuan: Pengabdian yang dilakukan KKN 160 dalam upaya pencegahan stunting ini bekerja sama dengan ibu-ibu PKK, bidan desa dan perangkat desa Sukamaju. Metode: Kegiatan pencegahan stunting yang dilakukan di Desa Sukamaju merupakan salah satu bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat dalam upaya pencegahan stunting. Program yang dilaksanakannya berupa edukasi, pemberian makanan sehat berupa sayur jagung manis, tempe dan bayam, serta pemberian susu prenagen untuk ibu hamil. Menggunakan metode ceramah interaktif, kolaborasi dan demonstrasi. Edukasi berupa penyuluhan stunting dengan tema " Bersama Cegah Stunting Anak Sehat Dan Kuat Generasi Hebat “, pendampingan TPK dengan mengukur Panjang Badan (PB) atau Tinggi Badan (TB) dan Berat Badan (BB), serta penyajian menu sehat. Hasil: Melalui kegiatan ini masyarakat atau peserta yang hadir sudah mulai mengerti dan paham tentang stunting, Pada kegiatan ini juga di berikan kesempatan untuk seluruh para peserta berdiskusi serta tanya jawab tentang materi tersebut. Kegiatan pun di ikuti oleh seluruh peserta dengan antusias karena merasa pemaparan materi sangat bermanfaat bagi seluruh peserta untuk mengenali bahwa anggota keluarga ada yang mengalami stunting atau tidak agar bisa melakukan pencegahan serta melakukan tindakan untuk memeriksakan diri pada tenaga kesehatan atau melaporkan pada pihak terkait khususnya pada pihak apart desa atau pihak terkait. Peserta dapat menjelaskan ulang dari materi yang disampaikan. Simpulan: Edukasi tentang stunting memberikan dampak positif bagi warga setempat. Upaya pencegahan stunting dengan edukasi atau sosialisasi, pemberian makanan tambahan dan pemberian susu prenagen ibu hamil serta penimbangan dan pengukuran berat badan pada anak balita agar dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman secara langsung terhadap stunting. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan mampu meningkatkan pengetahuan sasaran kegiatan tentang masalah balita pendek (stunting) sehingga diikuti oleh peningkatan awareness yang dimiliki sesuai sasaran kegiatan terhadap masalah balita pendek (stunting). SARAN Serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam pengabdian kepada masyarakat dalam Program “ Bersama Cegah Stunting Anak Sehat Dan Kuat Generasi Hebat “ dilanjutkan oleh pihak desa seperti kader posyandu dan dapat menjadi usulan kegiatan bagi desa. Alasan kegiatan ini perlu dipertahankan dan dilanjutkan karena sudah diketahui bahwa kegiatan ini berhasil setidaknya untuk meningkatkan pengetahuan dan awareness sasaran kegiatan, namun harus dilakukan secara berkelanjutan agar dapat menciptakan perubahan perilaku dan mencegah terjadinya stunting.
Asuhan Keperawatan nyeri sendi akibat asam urat dengan teknik range of motion di Desa Lempasing Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran Ulandari, Elvi; Trismiyana , Eka; Wahyudi , Wahid Tri
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.459

Abstract

Background : Gout is a disease caused by the accumulation of monosodium urate crystals in the body. As many as 81% of Indonesia's population suffers from joint disease, but only 24% go to the doctor. The country with the highest number of joint disorders compared to other countries is Indonesia. The results of interviews with the Lempasing Health Center found that gout was ranked fourth in the Lempasing community with a total of 50 people in 2023. Purpose : To provide nursing care for gout-related joint pain with the range of motion (ROM) technique. Method : This research design uses descriptive research with a nursing care approach, which includes assessment, nursing diagnosis, intervention, implementation and evaluation. Interventions include teaching non-pharmacological techniques: joint range of motion (ROM) exercises, measuring blood pressure, calculating RR, calculating pulse, measuring temperature and checking uric acid levels, advising clients to rest regularly. Results: After nursing care was carried out for 3 days with a duration of 20 minutes per meeting, it was found that there was a significant decrease in pain felt by both respondents from pain scale 4 and 5 (moderate pain) to 2 and 1 (mild pain). Conclusion: Range of motion (ROM) techniques can reduce joint pain in gout sufferers. Suggestion: it is hoped that families with gout sufferers can apply range of motion exercises when sufferers feel pain in their joints due to increased levels of uric acid in the body. Keywords: Gout; Joint pain; Range of motion (ROM) exercises Pendahuluan: Asam urat merupakan suatu penyakit yang diakibatkan karena penimbunan kristal monosodium urat didalam tubuh. Sebanyak 81% penduduk Indonesia menderita penyakit persendian, namun hanya 24% yang berobat ke dokter. Negara dengan jumlah gangguan sendi terbanyak dibandingkan negara lain adalah Indonesia. Hasil wawancara dengan pihak puskesmas lempasing didapakan bahwa penyakit asam urat menduduki peringkat keempat diderita oleh masyarakat lempasing dengan jumlah 50 orang pada tahun 2023. Tujuan: Memberikan asuhan keperawatan nyeri sendi akibat asam urat dengan teknik range of motion (ROM). Metode: Desain penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Intervensi berupa mengajarkan teknik non farmakologi: latihan rentang gerak sendi (ROM), mengukur tekanan darah, menghitung RR, menghitung nadi, mengukur suhu dan mengecekan kadar asam urat, menyarankan partisipan untuk beristirahat teratur.  Hasil: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari dengan durasi 20 menit setiap pertemuan, didapatkan hasil bahwa terdapat penurunan yang signifikan terhadap nyeri yang dirasakan oleh kedua responden dari nyeri skala 4 dan 5 (nyeri sedang) menjadi 2 dan 1 (nyeri ringan). Simpulan: Teknik range of motion (ROM) dapat menurunkan nyeri sendi pada penderita asam urat. Saran: diharapkan keluarga dengan penderita asam urat dapat menerapkan latihan range of motion pada saat penderita merasakan nyeri pada persendian akibat meningkatnya kadar asam urat dalam tubuh
Edukasi pencegahan tuberculosis (TBC) pada anak di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung Setiawati, Setiawati; Juana, Rika; Alam, Rama Rajasa Ferlanda; Istawala, Anggun; Dhitya, Ray Krisna; Safitri, Hilda Meilinda; Irgi, Muhammad; Saputri, Maida; Muarif, Muhammad Syamsul; Kusumaningsih, Dewi; Wardiyah, Aryanti; Novikasari, Linawati
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.493

Abstract

Background: Tuberculosis can be transmitted to children when active TB sufferers cough, talk, sneeze, sing, or speak without a mask or personal protective equipment. It is estimated that more than 20,000 cases of childhood tuberculosis occur in Indonesia each year. Indonesia is the country with the second highest number of tuberculosis cases in the world after India. Given that this disease is a dangerous disease, there needs to be sufficient public awareness and understanding of this disease. Purpose : Increase public knowledge about preventing TB transmission in children. Method: Implementation of activities using the lecture method, namely presenting material on preventing tuberculosis in children to participants by conducting interactive discussions. Education is also provided by providing instructions on how to prevent tuberculosis transmission in children. The supporting media used are leaflets and banner stands. Results: In this community service activity, most participants were able to answer well and understood the material presented. This program will be continued to find out how successful it is in increasing knowledge and its application in the work area of ​​the Kedaton Health Center, Bandar Lampung City. Participants were also enthusiastic about asking questions about the material provided. Conclusion: Educational activities to prevent TB transmission in children are very effective in increasing parental knowledge in protecting children from the negative impacts of tuberculosis transmission. Keywords: Children; Prevention; Tuberculosis transmission; Tuberculosis. Pendahuluan: Penyakit TBC dapat menular pada anak ketika penderita TBC aktif batuk, berbicara, bersin, bernyanyi, atau berbicara tanpa masker atau alat pelindung diri. Diperkirakan lebih dari 20.000 kasus tuberculosis anak terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus tuberculosis tertinggi kedua di dunia setelah India. Mengingat penyakit ini merupakan penyakit yang berbahaya, maka perlu adanya kesadaran dan pemahaman masyarakat yang cukup terhadap penyakit ini. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan penularan TB pada anak-anak. Metode: Pelaksanaan kegiatan dengan metode ceramah yaitu mempresentasikan materi mengenai pencegahan tuberculosis pada anak kepada para peserta dengan melakukan diskusi interaktif. Edukasi diberikan juga dengan memberikan petunjuk mengenai cara pencegahan penularan tuberculosis pada anak. Dengan media bantu yang digunakan adalah leaflet dan stand banner. Hasil: Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, sebagian besar peserta dapat menjawab dengan baik dan cukup memahami dari materi yang disampaikan. Program ini akan dilanjutkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilannya yang adanya peningkatan pengetahuan dan penerapannya di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung. Peserta juga berantusias melakukan tanya jawab mengenai materi yang diberikan. Simpulan: Kegiatan edukasi pencegahan penularan TB pada anak sangat efektif dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua dalam melakukan perlindungan terhadap anak dari dampak buruk penularan tuberculosis.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue