cover
Contact Name
Lira Mufti Azzahri Isnaeni
Contact Email
liramuftiazzahri.isnaeni@gmail.com
Phone
+6285271651482
Journal Mail Official
sehat.jurnalkesehatanterpadu1@gmail.com
Editorial Address
Jalan Tuanku Tambusai No.23 Bangkinang Kabupaten Kampar Provinsi Riau Telp. (0762) 21677
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
SEHAT : JURNAL KESEHATAN TERPADU
ISSN : -     EISSN : 29854687     DOI : https://doi.org/10.31004
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Journal of Health is a broad field of health such as health, Occupational Safety and Health, Epidemiology, nursing, public health, midwifery, medicine, Health Economics, Health Policy, Environmental health .pharmacy, health psychology, nutrition, health technology, health analysis, health information systems, health law, hospital management, and so on
Articles 296 Documents
IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO K3 DI PUSKESMAS PADANG PANYANG Siti Nurmala Dewi; Warda Yussy Rha; Muhamad Fajar Maulidi Tanjung
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60840

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam pelayanan kesehatan untuk melindungi tenaga kesehatan, pasien, serta lingkungan kerja dari potensi bahaya. Unit pelayanan seperti laboratorium, farmasi, dan Instalasi Gawat Darurat (IGD) memiliki berbagai risiko kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Penerapan Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) diperlukan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan potensi bahaya di fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai tingkat risiko, serta menentukan pengendalian risiko K3 pada unit Laboratorium, Farmasi, dan IGD di Puskesmas Padang Panyang Kabupaten Nagan Raya. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan Hazard Identification Risk Assessment and Determining Control (HIRADC). Populasi penelitian meliputi seluruh unit pelayanan yang menjadi objek praktik belajar lapangan di Puskesmas Padang Panyang Kabupaten Nagan Raya. Sampel penelitian terdiri dari unit Laboratorium, Farmasi, dan IGD yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel penelitian meliputi identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko K3. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan metode HIRADC. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi bahaya biologis, fisik, kimia, dan ergonomi pada unit Laboratorium, Farmasi, dan IGD. Tingkat risiko yang ditemukan bervariasi mulai dari rendah hingga tinggi. Risiko utama berasal dari paparan darah dan cairan tubuh, penggunaan alat tajam, beban kerja, serta potensi kebakaran.
ANALISIS STRATEGI COPING PEREMPUAN YANG MENGALAMI KEHAMILAN DI LUAR NIKAH DALAM MENGHADAPI STIGMA SOSIAL Farida Nur Aini
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60847

Abstract

Kehamilan di luar nikah merupakan peristiwa yang berpotensi menimbulkan tekanan psikologis akibat stigma sosial, penolakan keluarga, dan perubahan peran yang harus dihadapi perempuan. Kondisi tersebut mendorong individu mengembangkan berbagai strategi coping untuk mempertahankan kesejahteraan psikologisnya. Penelitian mengenai strategi coping pada perempuan yang mengalami kehamilan di luar nikah masih didominasi oleh kelompok remaja, sedangkan kajian pada perempuan dengan latar belakang usia dan status pernikahan yang beragam masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi coping yang digunakan perempuan yang mengalami kehamilan di luar nikah serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pembentukannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan terdiri atas empat perempuan yang mengalami kehamilan di luar nikah dan enam informan pendukung yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik berbantuan perangkat lunak NVivo. Penelitian mengidentifikasi tiga strategi coping utama, yaitu emotional-focused coping, problem-focused coping, serta acceptance and avoidance coping. Pada fase awal, partisipan menunjukkan respons emosional berupa rasa takut, malu, bersalah, sedih, dan kecemasan, kemudian mengembangkan strategi penyelesaian masalah melalui dukungan keluarga, pasangan, dan tenaga profesional hingga mencapai penerimaan terhadap kondisi diri serta peran sebagai ibu. Pembentukan strategi coping dipengaruhi oleh dukungan keluarga, dukungan pasangan, religiusitas, karakteristik individu, dan kondisi sosial ekonomi, dengan dukungan keluarga dan religiusitas menjadi faktor yang paling dominan.
FAKTOR SOSIAL BUDAYA DAN POLA ASUH KELUARGA TERHADAP KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MOYO UTARA KABUPATEN SUMBAWA Hamdin hamdin; Nur Arifatus Sholihah; Abdul Hamid
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60862

Abstract

Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas sumber daya manusia. Berbagai faktor diduga berkontribusi terhadap kejadian stunting, di antaranya faktor sosial budaya dan pola asuh keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor sosial budaya dan pola asuh keluarga dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan pada Oktober 2025–Juni 2026. Sampel penelitian berjumlah 100 orang tua yang memiliki balita usia 24–59 bulan, dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 25–31 tahun (54,0%), berpendidikan SMA/SMK (63,0%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (53,0%), memiliki pola asuh yang baik (60,0%), dan kondisi sosial budaya yang baik (62,0%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor sosial budaya tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting (p = 0,654), sedangkan pola asuh keluarga berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p < 0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola asuh keluarga merupakan faktor yang berperan penting dalam kejadian stunting, sementara faktor sosial budaya tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting perlu difokuskan pada peningkatan kapasitas orang tua dalam praktik pengasuhan, pemberian makan, dan pemantauan tumbuh kembang balita.
SUGAR SWEETENED BEVERAGE (SSB) DAN RISIKO KESEHATAN PADA ANAK DAN REMAJA Lela Dwi Andriani; Nunik Pratiwi; Ani Khoirinda
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60877

Abstract

Perkembangan pada anak dan remaja adalah periode perkembangan krusial, dimana perilaku dan kebiasaan yang terbentuk menjadi landasan bagi kesehatan di masa depan. Konsumsi banyak gula tambahan yang tinggi pada anak dan remaja dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang. Penelitian ini tujuannya mengetahui dampak dari konsumsi Sugar Sweetened Beverage (SSB) terhadap kesehatan anak dan remaja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Literature Review. Pada penelitian ini sumber data diperoleh dari database elektronik menggunakan 3 database, yakni Pubmed, Frontiers, dan ScienceDirect yang telah dipublikasi dari tahun 2020-2025. Hasil penelitian Obesitas, gangguan psikologi, karies gigi, risiko sindrom metabolik, kekuatan otot menurun, gangguan fungsi eksekutif, dan jetlag sosial merupakan dampak kesehatan yang dapat terjadi akibat konsumsi makanan dan minuman manis yang mengandung gula pada anak dan remaja. Simpulan Konsumsi SSB dapat berdampak negatif pada kesehatan anak dan remaja dimasa mendatang. Mengurangi konsumsi SSB menjadi langkah penting dalam meningkatkan pola makan, yang dapat memberikan dampak terukur pada tingkat kesehatan individu dan dalam meningkatkan kesehatan global.
EFEKTIVITAS LATIHAN KOREKSI GAIT TERHADAP PERBAIKAN JARAK LANGKAH DAN PENURUNAN LOW BACK PAIN Surya Syahputra Berampu; Dior Manta Tambunan
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60885

Abstract

Low back pain (LBP) adalah salah satu gangguan pada muskuloskeletal yang sering menimbulkan keterbatasan fungsional, termasuk gangguan pola berjalan. Perubahan gait, seperti penurunan jarak langkah, dapat meningkatkan beban mekanik pada regio lumbal dan memperberat keluhan nyeri. Latihan koreksi gait merupakan intervensi fisioterapi yang bertujuan memperbaiki biomekanika berjalan melalui pengaturan postur, panjang langkah, dan koordinasi gerak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas latihan koreksi gait terhadap perbaikan jarak langkah dan penurunan intensitas nyeri pada pasien LBP non-spesifik. Penelitian quasi-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest–posttest yang melibatkan 50 responden. Latihan koreksi gait diberikan sebanyak tiga kali per minggu selama empat minggu. Analisa bivariat menggunakan uji parametrik yaitu uji paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 41-50 tahun sebanyak 20 orang (40%) dan disusul dengan usia 31-40 tahun sebanyak 18 orang (36%). Sementara jenis kelamin, mayoritas perempuan sebanyak 28 orang (56%). Ada perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest pada variabel jarak langkah dan intensitas nyeri. Nilai p yang diperoleh adalah <0,001 (α <0,05) yang menunjukkan adanya perubahan nilai setelah pemberian latihan koreksi gait. Maka dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan jarak langkah dan penurunan intensitas nyeri yang bermakna setelah pemberian latihan koreksi gait. Latihan koreksi gait efektif dalam meningkatkan fungsi berjalan dan menurunkan nyeri, sehingga dapat direkomendasikan sebagai bagian dari intervensi fisioterapi pada pasien LBP non-spesifik.
PENGARUH ROM PASIF TERHADAP BROMAGE SCORE PADA PASIEN POST TINDAKAN URS (URETEROSKOPI) DENGAN ANESTESI SPINAL DI RSUD WATES Faradila Hastriyati; Anita Setyowati; Aisyah Nur Azizah
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60921

Abstract

Pemulihan fungsi motorik pada pasien post anestesi spinal menjadi indikator penting dalam menentukan kesiapan pasien untuk dipindahkan ke ruang perawatan. Keterlambatan pemulihan yang ditandai dengan nilai bromage score yang tinggi dapat meningkatkan risiko komplikasi. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat dilakukan adalah latihan Range of Motion (ROM) pasif untuk membantu mempercepat pemulihan fungsi motorik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ROM pasif terhadap bromage score pada pasien post tindakan URS (Ureteroskopi) dengan anestesi spinal di RSUD Wates. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Teknik sampling menggunakan non probability sampling menggunakan metode insidental, dengan jumlah sampel sebanyak 50 responden. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi Bromage Score sebelum dan sesudah intervensi ROM pasif. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Sebelum diberikan intervensi, seluruh responden (100%) memiliki bromage score 3 (blok motorik total). Setelah dilakukan ROM pasif, terjadi penurunan bromage score secara bertahap. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya pengaruh signifikan ROM pasif terhadap penurunan bromage score, dengan nilai p-value 0,001 pada menit ke-10 dan 0,000 pada menit ke-15 (p < 0,05). Terdapat pengaruh signifikan pemberian ROM pasif terhadap percepatan pemulihan fungsi motorik yang ditandai dengan penurunan bromage score pada pasien post tindakan URS dengan anestesi spinal di RSUD Wates.
ANALISIS KOLERASI MUTU PELAYANAN KEFARMASIAN DAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DIRUMAH SAKIT : SYSTEMATIC LITERATUR REVIEW Dita Purnamasari; Afifah B. Sutjiatmo
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60926

Abstract

Pelayanan kefarmasian menjadi salah satu komponen esensial dalam  penyelenggaraan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang menerapkan pendekatan berorientasi pada pasien. Kajian ini bertujuan buat mengevaluasi koneksi antara mutu pelayanan kefarmasian dan tingkat kepuasan pasien melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) berlandaskan pedoman PRISMA 2020. Literatur yang menjadi sumber kajian diperoleh melalui empat basis data, yaitu Google Scholar, Pubmed, Scopus, dan Garuda, dengan cakupan artikel yang terbit pada tahun 2019-2024. Dari 248 artikel yang diperoleh, sebanyak 8 artikel memenuhi kriteria inklusi dan penilaian mutu pelayanan dilakukan mengaplikasikan kerangka SERVQUAL yang terdiri atas lima dimensi tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Merujuk pada hasil analisis dari berbagai riset yang dikaji, mutu pelayanan kefarmasian diketahui punya koneksi yang positif yang signifikan terhadap kepuasan pasien. Dimensi yang paling berkontribusi meliputi kecepatan pelayanan, keramahan tenaga kefarmasian, ketersediaan obat, serta kualitas pemberian informasi obat. Berlandaskan temuan yang diperoleh, tingkat kepuasan pasien pada berbagai penelitian berada dalam kisaran antara 74,7% hingga 91,19%. Peningkatan mutu pelayanan, khususnya pada dimensi responsiveness dan assurance, ialah aspek yang paling menentukan  dalam mengoptimalkan kepuasan pasien di instalasi farmasi rumah sakit.
HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DENGAN KEJADIAN TB PARU DI RW 02 DESA RANJI KULON KECAMATAN KASOKANDEL KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2026 Perdiansah Perdiansah; Yophi Nugraha; Eti Wati; Rahayu Setyowati; Windri Dewi Ayu
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60963

Abstract

Tuberkulosis (TB) Paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu faktor risiko yang diduga berkontribusi terhadap kejadian TB Paru adalah perilaku merokok, karena paparan zat berbahaya dalam rokok dapat menurunkan fungsi pertahanan saluran pernapasan, mengganggu sistem imun, serta meningkatkan kerentanan terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian penyakit TB Paru di RW 02 Desa Ranji Kulon, Wilayah Kerja Puskesmas Kasokandel, Kabupaten Majalengka Tahun 2026. Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 491 orang dan seluruh populasi dijadikan sampel melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher's Exact Test dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebanyak 383 responden (78,0%) memiliki perilaku merokok, sedangkan kejadian TB Paru ditemukan pada 9 responden (1,8%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa kejadian TB Paru pada kelompok perokok sebesar 1,8% (7 responden), sedangkan pada kelompok tidak merokok sebesar 1,9% (2 responden). Hasil uji Fisher's Exact Test memperoleh nilai p = 1,000 (p > 0,05), yang menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok dengan kejadian TB Paru. Temuan ini mengindikasikan bahwa kejadian TB Paru pada lokasi penelitian kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kondisi lingkungan fisik rumah, kepadatan hunian, ventilasi, serta status imunitas individu sebagai faktor penjamu (host).
HUBUNGAN POLIFARMASI DENGAN INTERAKSI OBAT POTENSIAL PADA PASIEN HIPERTENSI DI BANDAR LAMPUNG Elma Viorentina Sembiring; Makhdalena Makhdalena
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60999

Abstract

Hipertensi kerap dijuluki “pembunuh dalam senyap” karena keberadaannya seringkali luput dari kesadaran penderita. Sebuah temuan literatur mengungkapkan fakta sekitar 46% populasi dewasa dengan tekanan darah yang tinggi tidak menyadari kondisi patologis sama sekali di tubuh mereka. Fakta yang lebih mencengangkan lagi, rupanya hanya 42% penderita hipertensi yang berhasil didiagnosis dan mendapatkan terapi antihipertensi. Tujuan terapi pada pasien hipertensi bukan hanya menstabilkan tekanan darah ke angka yang optimal, namun juga harus dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Tetapi faktanya, pasien hipertensi memperoleh terapi yang banyak karena adanya komorbid yang harus ditangani. Hal ini membuka celah kerentanan terjadinya interaksi obat, di mana agen kimiawi berisiko saling berbenturan atau memunculkan efek antagonis. Melihat urgensi tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis hubungan antara fenomena polifarmasi dan insiden interaksi obat potensial pada pasien hipertensi di Bandar Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan penelitian retrospektif, menggunakan teknik quota sampling. Sampel pada penelitian ini adalah 100 rekam medis pasien hipertensi pada tahun 2023. Hasil penelitian menujukkan jenis terapi Amlodipin, adalah antihipertensi yang paling banyak diresepkan dengan golongan antihipertensi yang paling banyak diresepkan adalah Calcium Channel Blocker (CCB). Kajian interaksi obat potensial menunjukkan tingkat keparahan moderat mendominasi sebesar 84%, disusul tingkat mayor 11%, dan minor 5%. Fenomena polifarmasi teridentifikasi pada 35 pasien, yang mana 82,9% di antaranya mengalami risiko interaksi obat. Analisis statistik menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kejadian polifarmasi dengan interaksi obat potensial (p = 0,006).
PENGARUH EDUKASI GIZI MENGGUNAKAN MEDIA ANIMASI TERHADAP PENGETAHUAN MAKANAN SEHAT PADA SISWA SDN PASAR LAMA 1 Nurmadinah Febriyani; Muhsinin Muhsinin; Yenny Okvitasari
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.61026

Abstract

Anak usia sekolah dasar rentan memilih makanan dan jajanan yang kurang sehat karena pengetahuan gizi belum berkembang secara optimal. Kondisi ini meningkatkan risiko terbentuknya pola konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak sejak dini. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi gizi menggunakan media animasi terhadap pengetahuan makanan sehat pada siswa SDN Pasar Lama 1. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain praeksperimental one-group pretest-posttest. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas VI sebanyak 80 orang. Seluruh populasi dijadikan sampel melalui teknik total sampling. Intervensi diberikan satu kali melalui video animasi edukasi gizi berdurasi tiga menit. Materi mencakup pengertian makanan sehat, fungsi zat gizi, manfaat sayur dan buah, bahaya makanan cepat saji, pemilihan jajanan sehat, konsumsi air putih, kebersihan makanan, dan pola makan seimbang. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner skala Guttman sebanyak 20 item yang telah dinyatakan valid dan reliabel dengan nilai Cronbach’s alpha 0,931. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test karena data tidak berdistribusi normal. Sebelum intervensi, 46 siswa (57,5%) memiliki pengetahuan baik dan 34 siswa (42,5%) memiliki pengetahuan cukup. Sesudah intervensi, kategori baik meningkat menjadi 68 siswa (85,0%), sedangkan kategori cukup menurun menjadi 12 siswa (15,0%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,001. Edukasi gizi menggunakan media animasi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan makanan sehat dan dapat digunakan sebagai media edukasi yang praktis bagi siswa sekolah dasar.