cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 42, No 1 (2024): April" : 16 Documents clear
Pemberian Ekstrak Daun Singkong pada Burung Puyuh yang Mengalami Cekaman Panas Santoso, Koekoeh; Maria, Joanita; Ika Mayasari, Ni Luh Putu; Jumadin, La
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.73585

Abstract

Fenomena iklim tropis, ekuinoks, dan pemanasan global di Indonesia dapat menyebabkan masalah cekaman panas pada peternakan unggas termasuk puyuh. Dampaknya adalah penurunan performa dan produksi puyuh, oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mengatasi masalah heat stress. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan potensi ekstrak daun singkong untuk mengatasi cekaman panas pada puyuh dewasa anas. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 16 ekor puyuh yang dibagi menjadi 4 kelompok, terdiri dari 4 ekor puyuh sebagai kontrol yang diberi perlakuan suhu 35 °C, dan masing-masing 4 ekor puyuh lainnya diberi perlakuan suhu 35 °C dan diberi ekstrak daun singkong dengan dosis yang berbeda-beda sebesar 5,292 mg/168g, 10,584 mg/168 g, dan 21,168 mg/168 g berat badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun singkong yang mengandung flavonoid dan klorofil terbukti dapat menurunkan kadar malondialdehida (MDA) pada puyuh yang mengalami cekaman panas. Kualitas telur juga meningkat berdasarkan parameter tinggi albumin, tinggi kuning telur, dan tebal cangkang, namun kadarnya tidak signifikan. Parameter total leukosit, rasio heterofil per limfosit, dan diferensial leukosit tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Ekstrak daun singkong juga belum terbukti mampu menurunkan total protein pada puyuh yang mengalami cekaman panas. Hasil vaksinasi ND inaktif yang dilakukan satu kali menunjukkan titer antibodi yang rendah pada semua kelompok.
Prosedur Pemotongan dan Kualitas Daging Sapi yang Dipotong di Tempat Pemotongan Hewan (TPH) di Kota Jayapura Sayuri, Fitria; Rumetor, Sientje Daisy; Sambodo, Priyo
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.76115

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemotongan, kualitas fisik dan cemaran mikroba daging sapi yang dipotong di TPH di Kota Jayapura. Penelitian ini dilakukan di lima TPH yang ada di Kota Jayapura. Sampel daging diambil masing-masing sebanyak 25 gram/ekor/TPH. Pengambilan sampel dilakukan seminggu sekali pada setiap TPH dan diulang 3 kali. Prosedur pemotongan diamati secara langsung. Uji kualitas fisik daging sapi, meliputi: aroma, warna, konsistensi dan pH. Sedangkan uji cemaran mikroba daging menggunakan metode TPC untuk mengetahui jumlah bakteri/kuman dan metode MPN untuk mengetahui jumlah Coliform dan E. coli. Data prosedur pemotongan ditabulasi kemudian dilakukan analisa deskriptif. Kualitas fisik daging dianalisa deskriptif berdasarkan SNI 3932:2008 dan tingkat cemaran mikroba pada daging sapi berdasarkan SNI 7388:2009. Hasil: pada semua TPH pemeriksaan antemortem dan pemeriksaan postmortem tidak dilakukan; berdasarkan warna daging, terjadi penurunan tingkat mutu daging dari mutu II menjadi mutu III; sebanyak 3 sampel (18,75%) melebihi standar normal nilai TPC dan sebanyak 15 sampel (93,75%) memiliki nilai cemaran bakteri Coliform dan E. coli di atas batas normal; Kesimpulan: prosedur pemotongan belum memenuhi kriteria yang telah ditetapkan; kualitas fisik daging menurun berdasarkan parameter warna; dan hampir seluruh sampel daging memiliki cemaran mikroba di atas standar
Efektivitas Albendazole terhadap Nematodiasis pada Sapi Perah di Peternakan Sapi Perah Rakyat Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan Arisona, Alek; Prastowo, Joko; Priyowidodo, Dwi; Yanuartono, Yanuartono; Indarjulianto, Soedarmanto
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.79447

Abstract

Nematodiasis adalah penyakit yang disebabkan cacing nematoda yang dapat diderita sapi perah segala usia. Penyakit ini mempunyai gejala klinis antara lain kurus, rambut kusam berdiri dan diare. Albendazole merupakan obat cacing berspektrum luas yang sering digunakan oleh peternak karena mudah didapat. Tujuan penelitian ini adalah menentukan prevalensi, gejala klinis dan efektifitas albendazole terhadap nematodiasis pada sapi perah di peternakan sapi perah rakyat Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan. Penelitian ini menggunakan 50 ekor sapi perah yang tidak bunting. Semua sapi diperiksa secara fisik meliputi kondisi umum sapi dan feses. Sampel feses diambil dan diperiksa adanya telur cacing dengan metode nativ, apung dan Mc Master. Sapi penderita nematodiasis selanjutnya diterapi albendazole dengan dosis 10 mg/kg BB satu kali pemberian secara per oral. Perkembangan hasil terapi diamati dengan cara dilakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan sampel feses pada hari ke 3, 7 dan 14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi nematodiasis sapi perah sebesar 30%. Sapi penderita nematodiasis menunjukkan feses lembek, adanya telur nematoda pada fesesnya. Telur cacing yang ditemukan adalah kelompok telur Strongyle, Toxocara sp, dan Trichuris sp. Efektivitas albendazole terhadap nematodiasis pada sapi perah masih tinggi yakni >97,87%. Disimpulkan bahwa albendazole mempunyai efektifitas yang tinggi untuk mengobati nematodiasis.
Diagnosis of Feline Panleukopenia Based on Clinical Signs and Polymerase Chain Reaction in Various Ages of Cats Ramadhani, Mungky Ema; Indarjulianto, Soedarmanto; Yanuartono, Yanuartono; Raharjo, Slamet; Purnamaningsih, Hary; Widyarini, Sitarina; Milla, Yunita Apriana
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.79590

Abstract

Feline panleukopenia (FPL) is a viral infectious disease caused by the feline panleukopenia virus (FPV) that affects cats of all ages. Clinical symptoms that appear in each individual cat vary greatly, depending on age, immune status, and the presence or absence of secondary infection. The aim of this research was to diagnose the FPL based on clinical signs and polymerase chain reaction (PCR) in cat with various ages. This study used 15 cats that showed one of clinical symptoms including lethargy, anorexia, fever, diarrhea, and vomiting. All cats were examined physically and by PCR of blood, then analyzed descriptively. The results showed that 10/15 (66.7%) cats were <7 months, 4/15 (26.7%) were 7-12 months, and 1/15 (6.6%) was >1 year old. Identification by PCR showed that 100% of the samples positive, so that all of cats diagnosed FPL. Clinical signs that commonly appeared in this study included anorexia (80%), fever (80%), vomiting (73.3%), lethargy (66.7%), and diarrhea (40%). Young cats <7 months commonly showed anorexia, fever, vomiting, and lethargy, cats aged 7-12 months commonly showed anorexia, fever, vomiting, and diarrhea, cat aged >12 months experienced anorexia and vomiting. Concluded that the predominant clinical symptoms of FPL in young cats were anorexia, fever, vomiting and lethargy, whereas in adult cats anorexia, fever, vomiting, and diarrhea. Clinical symptoms can be used for initial screening of FPL, but the causative diagnosis needs to be determined by polymerase chain reaction.
Pengaruh Penggunaan Grid terhadap Kualitas Hasil Rontgen Anjing dan Kucing Pasien RSH Prof. Soeparwi FKH UGM Pramono, Agung Budi; Mulyani, Guntari Titik; Martathama, Gadis
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.81941

Abstract

Dokter hewan praktisi sering menjumpai permasalahan dalam penegakan diagnosis, salah satunya adalah pemanfaatan rontgen atau hasil X-ray yang belum optimal. Kualitas radiografi itu sendiri meliputi densitas, kontras, ketajaman dan distorsi, sedangkan salah satu penyebab yang dapat menurunkan kualitas radiografi adalah radiasi hambur. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas radiograf dengan mengurangi radiasi hambur sinar-x menggunakan grid. Penelitian ini menggunakan 10 ekor anjing dan 10 ekor kucing dengan berat badan bervariasi dan fokus rontgen yang berbeda. Setiap hewan dilakukan pengambilan sampel xray sebanyak 2 kali, yaitu foto rontgen menggunakan grid dan tanpa grid pada posisi lateral dan anterior-posterior. Hasil rontgen dibandingkan antara foto rontgen dengan grid dan tanpa grid. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa pengujian foto rontgen menggunakan grid mampu mengurangi radiasi hambur sehingga lebih mengoptimalkan radiograf dan membantu dokter hewan dalam penegakan diagnosa.
Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Keong Laut Matah Merah (Cerithidea obtusa) terhadap Sel Kanker Kolon WiDr Dewa, Wisnu Jaka; Handharyani, Ekowati; Purwaningsih, Sri; Mariya, Silmi
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.83921

Abstract

Based on data released by Globocan in 2020, the incidence of colorectal cancer is the fourth highest in Indonesia (8.6%) and the third in the world (10%). This disease is hard to treat because the available therapy is less effective. Therefore, it is necessary to develop effective alternative therapies, especially those originating from Indonesia's natural resources, easy to obtain and reproduce. This study aims to determine the potential of red eye snail extract as an anticancer through cytotoxicity tests with the MTT Assay method on colon cancer cells WiDr and DNA fragmentation tests with Hoescth staining. In this study, we used various concentrations of the red-eye snail extract to test with 3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2-5-diphenyltetrazolium bromide (MTT) and doxorubicin reagents as positive controls. Absorbance values were read using a microplate reader at a wavelength of 595 nm. The cell absorbance data was converted into cell viability and probit analyzed to obtain the IC50 value. The results showed that the higher the concentration of the extract caused a decrease in the number of WiDr cells and an increase in damage to the structure of WiDr cells. Based on the results of probit analysis, it was found that the IC50 value of the extract was 36.28 µg/mL or classified as moderate cytotoxicity. The DNA fragmentation test showed that at concentrations of 125 ppm and 62.5 ppm, it was able to provide an effect similar to doxorubicin, namely triggering apoptosis in WiDr colon cancer cells.
Dampak Terapi Antibiotika Mastitis Periode Kering pada Sapi Perah Yanuartono, Yanuartono -; Indarjulianto, Soedarmanto -; Paryuni, Alsi Dara
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.84752

Abstract

AbstrakPeriode kering pada sapi perah didefinisikan sebagai masa istirahat non laktasi sebelum melahirkan dengan tujuan utama meningkatkan produksi susu pada periode laktasi berikutnya. Saat ini secara umum antibiotika juga digunakan untuk terapi maupun pencegahan mastitis saat periode kering. Mastitis adalah salah satu penyakit menular yang paling penting pada sapi perah di seluruh dunia, bertanggung jawab atas kerugian ekonomi yang besar dan dampak negatif pada kesejahteraan sapi maupun manusia disebabkan oleh penurunan produksi susu. Salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan produksi susu pada laktasi berikutnya adalah periode kering yang berkisar antara 40-60 hari sebelum melahirkan. Guna menghindari kejadian mastitis saat periode kering maka saat ini banyak digunakan antibiotika saat memasuki periode kering atau akhir periode kering. Saat ini, sebagian besar dari antibiotika yang digunakan dalam industri susu diterapkan untuk mengendalikan mastitis pada sapi perah periode kering. Banyak Negara menerapkan system pemberian antibiotika pada semua kwartir saat periode kering. Namun demikian penggunaan antibiotika tersebut meningkatkan kekhawatiran munculnya resistensi antibiotika. Tulisan ini akan mencoba mengulas secara sederhana dampak penggunaan antibiotika saat periode kering pada sapi perah.Kata kunci : mastitis; periode kering; antibiotika; resistensi
Kualitas Spermatozoa Sapi Bali Polled setelah Pemberian Pakan Tersuplementasi Taoge (Phaseolus radiatus L.) Gustina, Sri; Hasbi, Hasbi; Sonjaya, Herry; Baco, Sudirman; Qhatimah, Husnul; Saputra, Wandi; Mutmainna, Mutmainna; Kaiin, Ekayanti Mulyawati; Maulana, Tulus
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.86154

Abstract

            The study aimed to increase the sperm quality of polled Bali bulls with the supplementation of bean sprout (Phaseolus radiatus L.) in feeding. This research was used two polled Bali bulls aged 5-6 years old and supplemented with bean sprout 1 kg/bull two times in a week for two months. Semen was collected using artificial vagina method. The evaluation macroscopic of semen was volume while the microscopic evaluation such as motility, viability, abnormality, plasma membrane integrity (PMI), acrosome integrity, and DNA fragmentation. The result of this research showed that semen volume and spermatozoa abnormality of fresh semen after feeding of bean sprouts were not significantly difference (P>0.05) compared to before feeding, but motility and viability were significantly higher (P<0.01). Motility and acrosome integrity of frozen semen were not significantly difference (P>0.05) while viability and PMI were significant higher (P<0.01), abnormality and DNA Fragmentation were significant lower (P<0.01) after feeding compared to before. The research revealed that the supplementation of bean sprouts could increase the motility and viability but had no effect on volume and abnormality of fresh semen. Meanwhile in frozen semen, it increased viability and PMI and decreased abnormality and DNA fragmentation but had no effect on motility and acrosome integrity.
Performa Estrus dan Hormon Estrogen Sapi Friesian Holstein Postpartus yang Diberi Urea Multinutrient Molasses Block (UMMB) dengan Perekat Tepung Tapioka Hasbi, Hasbi; Ramadan, Zyahrul; Utamy, Renny Fatmyah; Ako, Ambo; Masturi, Masturi; Gustina, Sri; Tasya, Tasya; Mufliha, Rara; Nurbina, Andi Fitri; Mutfaidah, Andi; Saputra, Rio; Mahayani, I Dewa Ayu; Mutmainna, Mutmainna; Rahman, Andi Arif; Sukri, Siti Annisa
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.87348

Abstract

The reproductive ability of Holstein Friesian (FH) cows greatly affects milk yield because, however, in the lactation period, dairy cows anestrus postpartus, which is the condition where does not appear in estrus postpartus. Anestrus postpartus to uterine involution as a consequence of nutritional deficiencies. Recovery from can be this condition can be conducted by additional feeding. One of the supplementary feeds is urea multinutrient molasses block (UMMB). UMMB consists of fillers and adhesives and cement is the most used in UMMB production as an adhesive. UMMB is an additional feed using cement dairy cows health problems. Therefore, the objective of this research was to determine the effect of cement substitution with tapioca meal as an adhesive on postpartus estrus of FH cows. A total of 9 lactating FH dairy cows were divided into 3 dietary groups. Each treatment had 3 cows as replicates. The dietary treatments consisted of UMMB with 100% cement adhesive (as D0); 50% cement and 50% tapioca (D1); and 0% cement and 100% tapioca meal (D2). The parameters were postpartus estrus, estrus speed, estrus duration, estrus intensity, and estrogen hormone levels. The results revealed that the treatment had a significant effect (P<0.05) on the duration of estrus, while it had no significant effect (P>0.05) neither on postpartus estrus, estrus speed, estrus intensity, or estrogen hormone levels. Therefore, it can be concluded that tapioca meals can be used as a substitute for cement as much as 50% provides as an adhesive in UMMB production for better estrus performance.
Komparasi Metode coa Polymorphism dan coa Typing pada Bakteri Staphylococcus aureus yang Diisolasi dari Sumber Berbeda Aziz, Fatkhanuddin; Fitriana, Fauziah; Setyorini, Dian Ritma; Prihanani, Nur Ika; Putri, Shafira Amalia; Maulina, Tifa Restyka; Dewi, Vira Kartika; Andityas, Morsid; Lestari, Fajar Budi; Hidayah, Nurulia; Ummami, Risa; Fauzi, Achmad
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.89815

Abstract

Staphylococcus aureus (S. aureus) merupakan golongan bakteri koagulase positif yang menyebabkan berbagai macam penyakit klinis pada manusia dan hewan. Determinasi pola gen coa merupakan salah satu metode yang sering digunakan dalam lingkup studi epidemiologi S. aureus. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan metode coa polymorphism dan coa typing pada isolat S. aureus yang diisolasi dari sumber berbeda. Tujuh belas koleksi isolat S. aureus asal susu pasteurisasi, susu mastitis kambing peranakan etawa, dan daging ayam segar ditumbuhkan dari stok gliserol -80oC, kemudian dilakukan ekstraksi DNA dan amplifikasi gen penyandi koagulase (coa) dengan teknik PCR menggunakan primer untuk coa polymorphism dan coa typing. Diketahui, level diskriminasi coa typing lebih variatif dibandingkan dengan coa polymorphism pada 17 isolat yang diuji. Metode coa typing menunjukkan 7 tipe berbeda, sedangkan coa polymorphism hanya 3. Empat dari 17 isolat tidak dapat ditentukan  coa typing, menunjukkan potensi pengembangan tipe baru coa typing untuk isolat-isolat asal Indonesia, untuk kepentingan studi epidemiologi.

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2025): Desember Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue