cover
Contact Name
Nurul Hidayah
Contact Email
hiragi2016@gmail.com
Phone
+6282350203789
Journal Mail Official
hrji@wpcpublisher.com
Editorial Address
Jl. Kelapa Gading, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Health Research Journal of Indonesia
ISSN : -     EISSN : 29647592     DOI : -
Core Subject : Health,
Health Research Journal of Indonesia (HRJI) merupakan media publikasi penelitian orisinil dan review article di bidang Kesehatan meliputi Kesehatan Masyarakat, Farmasi, Keperawatan, Kebidanan, dan bidang Kesehatan lainnya yang berfokus pada topik promosi kesehatan, manajemen kesehatan, pelayanan kesehatan komunitas, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, kesehatan lingkungan, serta farmasi komunitas.
Articles 542 Documents
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesembuhan pada Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Baamang 1 Kotawaringin Timur Nurul Huda; Melviani Melviani; Febby Yulia Hastika
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1795

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global dan menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Berdasarkan data WHO tahun 2022, terdapat 10,6 juta kasus TB paru di dunia, meningkat 600.000 kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Di Kabupaten Kotawaringin Timur, kasus TB paru juga mengalami peningkatan dengan 869 kasus pada tahun 2023 dan 411 kasus baru hingga triwulan II tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesembuhan pasien TB paru di Puskesmas Baamang 1. Penelitian menggunakan metode kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional dan analisis data menggunakan uji Chi-Square. Jumlah responden sebanyak 39 pasien TB paru. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (76,9%), berusia 35–44 tahun (38,5%), berpendidikan SLTA (38,4%), bekerja pada kategori lain-lain (48,7%), serta memiliki penghasilan Rp2.000.000–Rp4.000.000 (33,3%). Sebagian besar responden patuh minum obat (87,2%). Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan minum obat dengan kesembuhan pasien TB paru (p<0,05), sedangkan faktor pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, usia, dan penghasilan tidak menunjukkan hubungan signifikan. Kesimpulan penelitian ini adalah kepatuhan minum obat menjadi faktor yang mempengaruhi kesembuhan pasien TB paru di Puskesmas Baamang 1.
Profil Penggunaan Insulin Dan Oral Antidiabetika (OAD) PASIEN Rawat Jalan RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor Tahun 2025 Masriani Masriani; Darini Kurniawati; Rina Saputri; Dewi Susanti Atmaja
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1796

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan memerlukan terapi farmakologis jangka panjang, baik menggunakan insulin maupun oral antidiabetika (OAD). Peningkatan jumlah pasien DM berimplikasi pada meningkatnya penggunaan obat antidiabetika, sehingga diperlukan data profil penggunaan insulin dan OAD sebagai dasar evaluasi terapi dan perencanaan pengadaan obat. Tujuan: Untuk mengetahui profil penggunaan insulin dan OAD pada pasien di instalasi rawat jalan klinik penyakit dalam di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan observasional deskriptif dan pendekatan retrospektif. Jumlah sampel sebanyak 110 pasien yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien DM berada pada rentang usia 30–59 tahun. Pasien perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Berdasarkan pekerjaan, sebagian besar pasien merupakan ibu rumah tangga. Jenis insulin yang digunakan meliputi novorapid, levemir, humalog, dan rizodeg, dengan penggunaan terbanyak berupa kombinasi insulin novorapid–levemir. OAD yang paling banyak digunakan adalah metformin 500 mg dan glimepiride 2 mg. Pemberian insulin dilakukan secara subkutan dengan dosis terbanyak 10–20 IU per hari, sedangkan OAD diberikan secara oral dengan frekuensi 2–3 kali sehari. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa profil penggunaan insulin dan OAD pada pasien DM rawat jalan di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor didominasi oleh terapi kombinasi insulin dan penggunaan OAD metformin, dengan pola dosis dan rute pemberian yang sesuai dengan pedoman terapi diabetes melitus nasional.
Hubungan Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi (Fe) Dengan Anemia Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Bumi Makmur Heldawati Heldawati; Frani Mariana; Novalia Widiya Ningrum; Susanti Suhartati
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1797

Abstract

Latar Belakang: Anemia pada ibu hamil cenderung disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi dan peningkatan kebutuhan fisiologis selama kehamilan. Risiko anemia pada ibu hamil sebesar 2,9 kali lebih tinggi pada ibu hamil dengan status gizi yang kurang baik dibandingkan dengan ibu hamil dengan status gizi yang baik. Penyebab anemia pada ibu hamil adalah rendahnya kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet Fe. Tujuan: Mengetahui hubungan kepatuhan mengonsumsi tablet zat besi (Fe) dengan anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Bumi Makmur. Metode: Penelitian ini adalah jenis survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester II-III di bulan Desember sebanyak 35 orang, dan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling 35 orang. Dalam penelitian ini menggunakan uji chi square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang tidak patuh mengonsumsi tablet Fe dengan anemia sebanyak 14 orang (40%) dan yang tidak anemia sebanyak 5 orang (14,3%), sedangkan ibu yang patuh mengkonsumsi tablet Fe dengan tidak anemia sebanyak 12 orang (34,3%) dan yang anemia sebanyak 4 orang (11,4%), dan dilakukan dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil P value 0,004 yang artinya 0,000 < 0,05. Simpulan: adanya hubungan kepatuhan mengonsumsi tablet Fe dengan anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Bumi Makmur serta diharapkan agar petugas kesehatan agar lebih banyak memberikan edukasi tentang pentingnya mengonsumsi tablet tambah darah, serta cara mengonsumsinya yang benar.
Evaluasi Pemberian Informasi Obat (PIO) Tenaga Kefarmasian di Puskesmas Halong Haji Ida Nurlihayati; Saftia Aryzki; Yusuf Anggoro Mukti; Rina Saputri
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1798

Abstract

Pendahuluan: Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan bagian penting dari pelayanan kefarmasian di puskesmas yang bertujuan menjamin penggunaan obat yang aman, rasional, dan efektif. Puskesmas rawat inap memiliki peran strategis dalam pemberian PIO karena melayani pasien rawat jalan maupun rawat inap dengan karakteristik yang beragam. Oleh karena itu, evaluasi pelaksanaan PIO perlu dilakukan untuk menilai mutu pelayanan kefarmasian dan keselamatan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan Pelayanan Informasi Obat (PIO) di Puskesmas Rawat Inap Halong. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengambilan data dilakukan pada Januari 2026 di Puskesmas Halong dengan melibatkan 97 pasien dan 5 tenaga kefarmasian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, wawancara terstruktur, dan observasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: penelitian menunjukkan bahwa PIO di Puskesmas Halong telah dilaksanakan sesuai standar Permenkes Nomor 74 Tahun 2016  mayoritas pasien menerima informasi dasar obat seperti nama, indikasi/kegunaan, dosis, cara penggunaan, dan tindakan bila lupa minum obat, dengan persentase 100% (kategori sangat baik). Informasi efek samping obat diterima 81,44% pasien (kategori baik), cara penyimpanan 70,10% (baik), dan interaksi obat/makanan/obat lain 64,95% (cukup). Kompetensi tenaga kefarmasian berada pada kategori baik hingga sangat baik komunikasi dengan pasien, memastikan pemahaman, dan sikap profesional, sebagian tenaga belum mengikuti pelatihan atau seminar terkait PIO. Sarana dan prasarana ruang konseling, meja pelayanan, media edukasi, dan alat komunikasi tersedia dan memadai, namun leaflet sebagai media cetak belum tersedia, sehingga memengaruhi waktu konseling. Kesimpulan: PIO di Puskesmas Halong telah berjalan sesuai standar, efektif dalam menyampaikan informasi dasar obat, namun memerlukan peningkatan melalui penyediaan media cetak dan strategi konseling tambahan agar seluruh informasi obat dapat diterima secara lengkap oleh pasien.
Hubungan Pola Makan Dan Dukungan Keluarga Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Menteng Palangka Raya Dwi Julianti Wahyuni; Cynthia Eka Fayuning Tjomiadi; Dede Mahdiyah; Mohammad Basit
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1799

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang sering dialami lansia dan berisiko menyebabkan komplikasi seperti penyakit jantung dan stroke. Pola makan tidak sehat serta kurangnya dukungan keluarga menjadi faktor yang dapat memengaruhi kejadian hipertensi pada lansia, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Menteng Palangka Raya. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pola makan dan dukungan keluarga dengan kejadian hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Menteng Palangka Raya. Metode: Menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 69 lansia yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk menilai pola makan, kuesioner dukungan keluarga, serta pengukuran tekanan darah sesuai standar pemeriksaan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Korelasi Spearman’s rho. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia (r = 0,867; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan sangat kuat dan searah. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kejadian hipertensi (r = -0,469; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan sedang dan berlawanan arah, serta hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan pola makan (r = -0,312; p = 0,009). Simpulan: Pola makan dan dukungan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi pada lansia, di mana pola makan berperan sebagai faktor risiko dan dukungan keluarga sebagai faktor protektif dalam pengendalian tekanan darah.
Efektivitas Edukasi Hipertensi dan Hidroterapi terhadap Pengetahuan Masyarakat Desa Pantai Hambawang Elisa Oktaviani Dewi Anggraeni; Anita Herawati; Linda Kusumawati
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1801

Abstract

Hipertensi memerlukan pengendalian berkelanjutan yang didukung pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko, komplikasi, pemeriksaan tekanan darah, dan terapi pendamping yang aman. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan pengetahuan masyarakat setelah edukasi hipertensi dan hidroterapi rendam kaki hangat campuran garam dan serai di Desa Pantai Hambawang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan satu kelompok pretest-posttest melalui analisis sekunder data evaluasi pengabdian kepada masyarakat. Sampel terdiri atas 24 peserta yang memiliki pasangan skor lengkap dan dipilih dengan total sampling. Pengetahuan diukur melalui 10 pertanyaan dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta uji Wilcoxon. Rata-rata usia peserta 48,96 tahun. Rata-rata skor meningkat dari 72,08 pada pretest menjadi 94,58 pada posttest, dengan kenaikan rata-rata 22,50 poin. Sebanyak 19 peserta mengalami peningkatan dan lima peserta memiliki skor tetap. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan bermakna antara skor pretest dan posttest (p<0,001). Edukasi hipertensi yang disertai demonstrasi hidroterapi berhubungan dengan peningkatan pengetahuan segera setelah kegiatan, tetapi temuan ini tidak membuktikan efektivitas hidroterapi dalam menurunkan tekanan darah.
Uji Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Secara Difusi Agar Antetti Tampubolon; Jhonson Sihombing
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1280

Abstract

Daun kemangi (Ocimum basilicum L.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki efek antibakteri terhadap bakteri gram-positif dan gram-negatif. Daun kemangi mengandung senyawa kimia, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin, yang memiliki sifat antibakteri. Staphylococcus aureus dan Escherichia coli adalah bakteri gram-positif dan gram-negatif yang dapat menyebabkan infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri ekstrak etanol daun kemangi terhadap bakteri gram-positif dan gram-negatif. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental. Desain yang digunakan adalah desain post-test only control group, yaitu terdapat dua kelompok, masing-masing dipilih secara acak. Kelompok pertama diberi perlakuan dan kelompok lainnya tidak diberi perlakuan. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona inhibisi rata-rata untuk bakteri Staphilococcus aureus pada konsentrasi ekstrak daun kemangi 20%, 40%, dan 60% adalah 13,8 mm, 15,6 mm, dan 16,4 mm, sedangkan zona inhibisi untuk bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 50%, 60%, dan 70% adalah 11,2 mm, 11,8 mm, dan 12,5 mm. Zona inhibisi rata-rata antibiotik tetrasiklin terhadap bakteri Staphilococcus aureus dan Escherichia coli adalah 16,8 mm dan 15,8 mm, dan zona inhibisi rata-rata bakteri dalam air suling adalah 0 mm. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun kemangi menghasilkan inhibisi yang memuaskan terhadap bakteri Staphilococcus aureus.
Hubungan Durasi Tidur Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Kelayan Timur Fatimah Az Zahra; Mokhtar Jamil
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1400

Abstract

Durasi tidur yang kurang pada kuantitas dan kualitas tidur termasuk sebagai satu hal penyebab hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi tidur dengan stadium hipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Kelayan Timur. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian sebanyak 408 penderita hipertensi pada tahun 2025, dengan jumlah sampel 80 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling pada bulan April–Mei 2026. Variabel independen penelitian adalah durasi tidur, diukur melalui kuesioner durasi tidur yang telah divalidasi dan reliabel (Cronbach’s Alpha = 0,602), sedangkan variabel dependen adalah hipertensi yang diukur menggunakan tensimeter dan stetoskop sesuai standar Kementerian Kesehatan RI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kelompok usia 26–65 tahun, didominasi laki-laki (57,5%) dan mayoritas memiliki pendidikan menengah (SMP–SMA). Sebanyak 51,25% responden memiliki durasi tidur kurang, 25% cukup, dan 23,75% lebih. Analisis hipertensi menunjukkan 55% responden mengalami hipertensi stadium awal, 23,75% stadium 2, dan 21,25% stadium 3. Hasil uji statistik Chi-Square menunjukkan nilai Pearson Chi-Square sebesar 15,766 dengan p-value = 0,003 (p < 0,05), yang menandakan terdapat hubungan signifikan antara durasi tidur dengan stadium hipertensi pada responden. Durasi tidur berhubungan signifikan dengan tingkat hipertensi, sehingga intervensi pengaturan durasi tidur dapat menjadi salah satu upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Mekanisme Koping Pasien Gagal Ginjal Kronis Eva Novita; Eridha Putra
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1568

Abstract

Gagal ginjal kronis merupakan penyakit progresif yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal secara irreversibel sehingga memerlukan terapi pengganti ginjal, salah satunya hemodialisis. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan pasien dalam menghadapi stres akibat penyakit, sehingga pengetahuan dan sikap diduga berhubungan dengan mekanisme koping pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap dengan mekanisme koping pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD Meuraxa Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 68 responden yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah memenuhi kriteria penelitian, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan mekanisme koping serta antara sikap dengan mekanisme koping pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis (p<0,05). Disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap berhubungan dengan mekanisme koping pasien gagal ginjal kronis. Temuan ini diharapkan menjadi dasar dalam meningkatkan edukasi dan pendampingan pasien selama menjalani terapi hemodialisis.
Subarchnoid Hemorrhage Following Severe Anemia: A Rare Case Report Putri Fortuna Sari; Mirza Wafiyudin Baehaqi; Febri Zamrotul Firdausi; Hilmy Atha Sitepu; Avie Baldana Bi’izzyk; Vita Kusuma Rahmawati
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1642

Abstract

Introduction: Anemia occurs in approximately 40–50% of patients with subarachnoid hemorrhage (SAH), while blood transfusion used to correct severe anemia has been associated with an increased risk of intracerebral hemorrhage. Approximately 85% of non-traumatic SAH cases result from ruptured intracranial aneurysms. We report a rare case of SAH following multiple blood transfusions in a patient with severe anemia. Case Presentation: A 30-year-old woman presented with status epilepticus after receiving eight units of packed red cell transfusions for severe anemia. She reported a preceding thunderclap headache, photophobia, scotoma, and nausea. On admission, her blood pressure was 145/89 mmHg with a heart rate of 70 bpm. Non-contrast head CT demonstrated subarachnoid hemorrhage in the occipital region, while electroencephalography showed generalized intermittent slow activity. Her SAH was classified as Fisher grade II, Hunt and Hess grade III, and World Federation of Neurological Surgeons grade I. Before transfusion, her hemoglobin level was 3.1 g/dL, which increased to 8.7 g/dL at discharge. Blood pressure rose from 83/57 mmHg before transfusion to 147/86 mmHg afterward. No additional transfusions or antihypertensive therapy were required during the second hospitalization, and she was discharged with stable blood pressure (101/64 mmHg). CT angiography was planned to evaluate for cerebral aneurysms. Conclusion: Rapid correction of severe anemia may contribute to acute hemodynamic changes that increase the risk of intracranial hemorrhage. Careful blood pressure monitoring and cautious transfusion strategies should be considered in patients with severe chronic anemia undergoing blood transfusion.