cover
Contact Name
Eko Nur Hermansyah
Contact Email
ekonurhermansyah@unw.ac.id
Phone
+6287747838785
Journal Mail Official
widyaningsihari89@gmail.com
Editorial Address
Jl. Diponegoro No.186, Gedang Anak, Ungaran Timur 50512
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Community Empowerment (IJCE)
ISSN : 26571161     EISSN : 2657117x     DOI : 10.35473
Core Subject : Health,
Redaksi menerima sumbangan tulisan yang belum pernah dimuat di media lain. Naskah diketik rapi dengan spasi rangkap pada kertas kuarto. Panjang tulisan antara 8-15 halaman. Redaksi berhak melakukan perubahan sepanjang tidak mengurangi atau merubah maksud tulisan. Tulisan yang dimuat akan dikembalikan untuk dilakukan perbaikan.
Articles 269 Documents
Optimalisasi Peran Edukasi dalam Menurunkan Risiko Anemia pada Remaja di SMK N 1 Tengaran Afriyani, Luvi Dian; Vistra Veftisia; Heni Setyowati
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i2.4726

Abstract

Nutritional problems among adolescents are issues that require serious attention because they significantly affect adolescents’ growth and productivity as students. Through education on anemia prevention, it is expected that adolescents can avoid anemia, thereby improving their immunity and productivity. In relation to this problem, the community service program conducted at SMK N 1 Tengaran provides a solution by implementing educational activities on anemia prevention among adolescents. The aim of this activity is to increase students’ knowledge regarding anemia prevention. This community service activity was carried out using a health education approach, targeting 88 female students of class XI. The education was delivered using an active learning method with presentation slide media. Evaluation of students’ knowledge was conducted using a questionnaire. The results of this community service activity showed an increase in students’ knowledge, where the percentage of students with good knowledge rose from 78.41% before the education to 95.45% after the education. Education effectively improves adolescents’ knowledge so that anemia risk factors can be prevented   ABSTRAK Masalah gizi pada remaja menjadi salah satu masalah yang membutuhkan perhatian karena sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas remaja sebagai pelajar. Melalui edukasi tentang pencegahan anemia diharapkan remaja dapat terhindar dari anemia sehingga dapat meningkatkan imunitas dan produktivitas. Berkaitan dengan masalah tersebut, program pengabdian kepada masyarakat khususnya di  SMK N 1 Tengaran   memberikan  solusi dengan melakukan kegiatan edukasi tentang pencegahan anemia pada remaja . Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan siswa tentang pencegahan anemia. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan edukasi kesehatan dengan sasaran adalah siswa putri kelas X1 sejumlah 88 siswi. Edukasi dilakukan dengan metode active learning dengan menggunakan media slide presentasi. Evaluasi terhadap pengetahuan siswa dilakukan menggunakan kuesioner. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan meningkatnya pengetahuan siswa dimana sebelum dilakukan edukasi pengetahuan  siswa dengan kategori baik sejumlah 77,27% meningkat menjadi 95,45 % setelah dilakukan edukasi. Edukasi dapat meningkatkan pengetahuan remaja sehingga faktor resiko anemia dapat dicegah.
Strategi Digital Kreatif VIRGIN (Video Animasi Inovatif tentang Kesehatan Reproduksi) dalam Penguatan Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja Tina Mawardika; Umi Aniroh; Puji Purwaningsih; Fiktina Vifri Ismiriyam; Tutik Yuliyanti; Putra Aditya; Evagus Malinda
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2026
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v8i1.4910

Abstract

Adolescents are a vulnerable group in relation to reproductive health issues due to limited knowledge and exposure to unfiltered digital content. Innovative digital-based educational media are therefore needed to enhance reproductive health literacy while simultaneously promoting safe and creative digital literacy. The main objective is to enhance knowledge, promote healthy digital literacy skills, and strengthen the ability of teachers and students to use and critically evaluate digital information in a wise, safe, and responsible manner. This community service program was implemented at SMA Negeri 2 Ungaran and SMK Islam Sudirman 1 Ambarawa through reproductive health education using VIRGIN (Innovative Animated Video on Reproductive Health), healthy digital literacy workshops with hands-on content analysis, and teacher mentoring in the use of animated videos as learning media. Program evaluation was conducted by assessing students’ knowledge before and after the intervention, as well as measuring improvements in participants’ and teachers’ capacities. The results demonstrated a significant increase in students’ knowledge following the VIRGIN-based educational intervention, with a p-value < α (0.03 < 0.05). The healthy digital literacy workshops were effective, with more than 80% of participants showing improved understanding and 78–85% demonstrating the ability to analyze digital content safely. Teacher mentoring enhanced pedagogical and digital competencies in approximately 85% of teachers, while 80–88% became more creative and confident in utilizing animated videos.Animated video–based reproductive health education integrated with healthy digital literacy is recommended for sustainable implementation and expansion to other educational institutions as a preventive strategy to empower adolescents to become informed, healthy, and digitally responsible individuals.              ABSTRAK Remaja merupakan kelompok rentan terhadap permasalahan kesehatan reproduksi akibat keterbatasan pengetahuan dan paparan konten digital yang tidak terfilter. Inovasi media edukasi berbasis digital diperlukan untuk meningkatkan literasi kesehatan reproduksi sekaligus literasi digital secara aman dan kreatif. Tujuan utama darai kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan literasi digital sehat, serta kemampuan guru dan siswa dalam menggunakan dan menyaring informasi digital secara bijak, aman, dan bertanggung jawab. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Ungaran dan SMK Islam Sudirman 1 Ambarawa melalui pemberian edukasi kesehatan reproduksi menggunakan VIRGIN (Video Animasi Inovatif tentang Kesehatan Reproduksi), workshop literasi digital sehat dengan praktik analisis konten, serta pendampingan guru dalam pemanfaatan video animasi sebagai media pembelajaran yang diikuti 70 siswa. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran pengetahuan siswa sebelum dan sesudah intervensi serta penilaian peningkatan kapasitas peserta dan guru. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa secara signifikan setelah edukasi VIRGIN dengan nilai p < α (0,03 < 0,05). Workshop literasi digital sehat terbukti efektif, dengan lebih dari 80% peserta mengalami peningkatan pemahaman dan 78–85% mampu menganalisis konten digital secara aman. Pendampingan guru meningkatkan kompetensi pedagogik dan digital pada sekitar 85% guru, serta mendorong 80–88% guru menjadi lebih kreatif dan percaya diri dalam menggunakan video animasi. Program edukasi kesehatan reproduksi berbasis video animasi dan literasi digital sehat direkomendasikan untuk diimplementasikan secara berkelanjutan dan diperluas ke satuan pendidikan lain sebagai strategi preventif dalam membentuk remaja yang cerdas, sehat, dan bijak dalam memanfaatkan media digital.
SIGIMA (Sistem Informasi Sehat Jiwa Remaja): Upaya Deteksi Dini Kesehatan Mental Berbasis Digital pada Remaja Liyanovitasari; Puji Lestari; Zumrotul Chairiyyah; Yoannes Romando Sipayung
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2026
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v8i1.5036

Abstract

School-age adolescents, particularly those in vocational high schools (SMK), face complex psychosocial challenges. These challenges include the demands of the academic curriculum, identity crises, peer group dynamics, and anxiety in the transition to the workforce or higher education. Therefore, a preventive, proactive, and relevant intervention is needed through the use of digital technology "SIGIMA (Adolescent Mental Health Information System): Digital-Based Early Detection of Mental Health in Adolescents." The purpose of this community service is to determine students' knowledge regarding mental health, their ability to perform screenings, and digital literacy. This community service was carried out at SMK NU with 30 students and SMK Islam Sudirman Ungaran with 35 students. The stages of this community service include Preparation of Digital-based Psychoeducational Materials, Mental Health Screening Activities for adolescents, Implementation of Psychoeducation on mental health in adolescents, Healthy Digital Literacy for Adolescents, Teacher Mentoring and Utilization of Animated Videos, and the evaluation stage. The results of the community service obtained the results of student knowledge before mental health education increased from 18% to 82% after education. The results of students undergoing mental health screenings showed that both schools did not experience anxiety with 26 students at SMK NU, and 28 students at SMK Islam Sudirman. It is recommended for students to regularly carry out mental health screenings so that their psychological well-being can continue to improve.   ABSTRAK Remaja usia sekolah khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dihadapkan pada beban psikososial yang kompleks. Beban tersebut mencakup tuntutan kurikulum akademik, krisis identitas, dinamika peer group (teman sebaya), hingga kecemasan dalam menghadapi transisi menuju dunia kerja atau pendidikan tinggi. Oleh karena itu dibutuhkan intervensi bersifat preventif, proaktif, dan relevan melalui pemanfaatan teknologi digital "SIGIMA (Sistem Informasi Sehat Jiwa Remaja): Upaya Deteksi Dini Kesehatan Mental Berbasis Digital pada Remaja. Tujuan pengabdian ini untuk mengetahui pengetahuan siswa terkait kesehatan mental, kemampuan siswa melakukan skrining, dan literasi digital. Pengabdian ini dilakukan di SMK NU sejumlah 30 siswa dan SMK Islam Sudirman Ungaran sejumlah 35 siswa. Tahapan pengabdian ini meliputi persiapan materi psikoedukasi berbasis digital, kegiatan skrining kesehatan jiwa pada remaja, pelaksanaan psikoedukasi tentang kesehatan jiwa pada remaja, literasi digital sehat untuk remaja, pendampingan guru dan pemanfaatan video animasi, dan tahap evaluasi. Hasil pengabdian didapatkan hasil pengetahuan siswa sebelum edukasi kesehatan jiwa 18% meningkat menjadi 82% sesudah edukasi. Hasil siswa melakukan skrining kesehatan mental didapatkan kedua sekolah ini tidak mengalami kecemasan sejumlah 26 siswa di SMK NU, dan 28 siswa di SMK Islam Sudirman. Saran bagi siswa untuk rutin melakukan skrining kesehatan mental agar kesejahteraan psikologis siswa dapat terus ditingkatkan.
Penerapan Media Visual dalam Edukasi pada Anak Sekolah Dasar tentang Kesehatan Diri dan Kesehatan Seksual di SDN Panjang 03 Ambarawa Wulansari; Fiktina Vifri Ismiriyam; Joyo Minardo
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2026
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v8i1.5038

Abstract

Personal health is a positive habit that should be developed from an early age to support healthy growth, prevent diseases, and foster awareness of self-care independently. Sexual health is a condition of well-being related to sexual aspects, including basic understanding of the body, gender differences, personal boundaries, and ways to protect oneself from inappropriate actions. Personal health and sexual health are important aspects of child development. In providing health education to elementary school children, appropriate learning media are required. One of the suitable learning media for elementary school students is visual media. The main objective of this community service activity was to improve the knowledge and understanding of elementary school students regarding personal health and sexual health through visual-based learning. The method used in this activity was educational intervention using visual media. The results showed an improvement in students’ knowledge of personal and sexual health after the implementation of visual media-based education, as indicated by pre-test and post-test scores, with 337 out of 497 students achieving good knowledge levels. Students were more active and enthusiastic during the learning process and were able to mention ways to maintain personal hygiene and identify body parts that need to be protected. In conclusion, the use of visual media in learning has proven to be effective in improving the knowledge and understanding of elementary school students regarding personal and sexual health. Visual media are easy for children to understand and can be recommended as an effective learning method in health education for elementary school students.   ABSTRAK Kesehatan diri merupakan kebiasaan positif sejak dini agar dapat tumbuh dengan tubuh yang sehat, terhindar dari penyakit, memiliki kesadaran untuk merawat diri secara mandiri. Kesehatan seksual merupakan kondisi kesejahteraan yang berkaitan dengan aspek seksual meliputi kesehatan seksual yang berupa aktivitas seksual, pemahaman dasar mengenai tubuh, perbedaan jenis kelamin, batasan diri, serta cara melindungi diri dari tindakan yang tidak pantas. Kesehatan diri dan kesehatan seksual merupakan aspek penting dalam tumbuh kembang anak. Dalam pemberian pemahaman pada anak sekolah dasar terkait kesehatan, memerlukan media pembelajaran yang tepat. Salah satu media pembelajaran yang baik untuk anak sekolah dasar adalah media visual. Tujuan utama kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa sekolah dasar tentang kesehatan diri dan kesehatan seksual melalui edukasi dengan media visual. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah edukasi dengan menggunakan media visual. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa tentang kesehatan diri dan kesehatan seksual setelah diberikan edukasi menggunakan media visual dilihat dari nilai pre-test dan post-test yang menunjukkan pengetahuan baik sebanyak 337 siswa dari 497 siswa. Siswa terlihat lebih aktif dan antusias serta mampu menyebutkan cara menjaga kebersihan diri serta memahami bagian tubuh yang perlu dilindungi. Kesimpulan kegiatan pengabdian ini adalah penerapan media visual dalam pembelajaran terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa sekolah dasar tentang kesehatan diri dan kesehatan seksual dan mudah dipahami oleh anak. Penggunaan media visual dapat direkomendasikan sebagai salah satu metode pembelajaran yang efektif dalam edukasi kesehatan pada anak sekolah dasar.
Skrining dan Edukasi Kecanduan Gadget dalam Upaya Membangun Generasi yang Sehat & Sejahtera di SMA Negeri 1 Ambarawa Mona Saparwati; Trimawati; Abdul Wahid; Achmad Syaifudin
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2026
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v8i1.5039

Abstract

Rapid advances in digital technology have increased gadget use among adolescents, which has the potential to lead to addiction and impact academic, social, and psychological aspects. This study aims to screen for levels of gadget addiction and evaluate the effectiveness of educational interventions in improving students’ knowledge regarding healthy gadget use. The study was conducted with 89 students at SMA Negeri 1 Ambarawa using a pre–post design without a control group. The instruments used were the short version of the Smartphone Addiction Scale (SAS-SV) questionnaire and pre- and post-education knowledge questionnaires. The screening results showed that the majority of respondents fell into the high gadget addiction category (65.2%), while 34.8% were in the low category. These findings indicate a high level of gadget dependence among adolescents. Following the educational session, there was an increase in students’ knowledge, as evidenced by a shift toward more adaptive categories of gadget use. The education provided proved effective in raising students’ awareness of the negative impacts of excessive gadget use, although behavioral changes were not yet optimal.Theoretically, increased knowledge is the first step toward behavioral change; however, sustained interventions are needed to produce more significant changes. Limitations of this study include the absence of a control group, the use of self-report instruments, and the short duration of the intervention. Therefore, it is recommended to develop a structured educational program, involve parents and schools, and use more comprehensive evaluation methods. This screening and education initiative has the potential to serve as a promotive-preventive intervention model for reducing gadget addiction among adolescents.   ABSTRAK Perkembangan teknologi digital yang pesat telah meningkatkan penggunaan gadget pada remaja, yang berpotensi menimbulkan kecanduan dan berdampak pada aspek akademik, sosial, dan psikologis. Studi ini bertujuan untuk melakukan skrining tingkat kecanduan gadget serta mengevaluasi efektivitas edukasi dalam meningkatkan pengetahuan siswa terkait penggunaan gadget yang sehat. Kegiatan dilaksanakan pada 89 siswa di SMA Negeri 1 Ambarawa menggunakan pendekatan pre–post tanpa kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Smartphone Addiction Scale versi singkat (SAS-SV) serta kuesioner pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Hasil skrining menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori kecanduan gadget tinggi (65,2%), sedangkan 34,8% berada pada kategori rendah. Temuan ini menunjukkan tingginya tingkat ketergantungan gadget pada remaja. Setelah diberikan edukasi, terjadi peningkatan pengetahuan siswa yang ditunjukkan melalui perubahan distribusi kategori penggunaan gadget yang lebih adaptif. Edukasi yang diberikan terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran siswa terhadap dampak negatif penggunaan gadget berlebihan, meskipun perubahan perilaku belum optimal. Secara teoritis, peningkatan pengetahuan merupakan langkah awal dalam perubahan perilaku, namun diperlukan intervensi berkelanjutan untuk menghasilkan perubahan yang lebih signifikan. Keterbatasan kegiatan ini meliputi tidak adanya kelompok kontrol, penggunaan instrumen self-report, serta durasi intervensi yang singkat. Oleh karena itu, direkomendasikan pengembangan program edukasi yang terstruktur, pelibatan orang tua dan sekolah, serta penggunaan metode evaluasi yang lebih komprehensif. Kegiatan skrining dan edukasi ini berpotensi menjadi model intervensi promotif-preventif dalam mengurangi kecanduan gadget pada remaja.
Sehat Reproduktif, Sehat Masa Depan: Edukasi Bahaya PMS dan HIV/AIDS pada Remaja di SMK Muhammadiyah Salatiga Cahyaningrum; Masruroh
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2026
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v8i1.5044

Abstract

Adolescents are an age group vulnerable to risky behaviors related to reproductive health, including exposure to sexually transmitted diseases (STDs) and HIV/AIDS. Lack of comprehensive knowledge, along with stigma and misinformation, are key factors contributing to low awareness among adolescents regarding the prevention of these diseases. This community service activity aims to increase adolescents' knowledge and awareness regarding the dangers of STDs and HIV/AIDS through reproductive health education at Muhammadiyah Vocational School in Salatiga. The methods used were interactive counseling, group discussions, and the provision of educational media based on leaflets and audiovisual presentations. The activity was carried out using a pre-test and post-test approach to measure the increase in participants' knowledge. The target group was 147 students in grades 10 and 11. The results showed a significant increase in students' knowledge after the education, as indicated by an increase in the average post-test score compared to the pre-test. In addition, participants showed a more positive attitude towards STD and HIV/AIDS prevention efforts, including the importance of a healthy and responsible lifestyle. The conclusion of this activity is that interactive and systematic reproductive health education is effective in increasing adolescents' knowledge and awareness regarding the dangers of STDs and HIV/AIDS. Therefore, similar activities need to be carried out continuously by involving various parties, including schools and health workers, to support the creation of a healthy and quality young generation.   ABSTRAK Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap perilaku berisiko terkait kesehatan reproduksi, termasuk paparan penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS. Kurangnya pengetahuan yang komprehensif serta adanya stigma dan misinformasi menjadi faktor utama yang mempengaruhi rendahnya kesadaran remaja terhadap pencegahan penyakit tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai bahaya PMS dan HIV/AIDS melalui edukasi kesehatan reproduksi di SMK Muhammadiyah Salatiga. Metode yang digunakan berupa penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, serta pemberian media edukasi berbasis leaflet dan presentasi audiovisual. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas X dan XI yang berjumlah 147 orang. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan siswa setelah diberikan edukasi, yang ditunjukkan dengan kenaikan nilai rata-rata post-test dibandingkan pre-test. Selain itu, peserta menunjukkan perubahan sikap yang lebih positif terhadap upaya pencegahan PMS dan HIV/AIDS, termasuk pentingnya perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah edukasi kesehatan reproduksi yang dilakukan secara interaktif dan sistematis efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja terkait bahaya PMS dan HIV/AIDS. Oleh karena itu, kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk sekolah dan tenaga kesehatan, guna mendukung terciptanya generasi muda yang sehat dan berkualitas.
WUS-FRESH (Wanita Usia Subur – Fluor Albus Education For Reproductive Health): Penyuluhan untuk Meningkatkan Pengetahuan Tentang Fluor Albus Anak Agung Sagung Ratu Putri Saraswati; Ni Made Padma Batiari; Kadek Sri Ariyanti; I Desak Ketut Dewi Satiawati Kurnianingsih; Luh Verra Sridyantari
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2026
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v8i1.5055

Abstract

Women of Childbearing Age (WUS) are a group of women aged 15–49 years who are in their active reproductive phase and are at high risk of reproductive health problems. One common problem is vaginal discharge (fluor albus). Lack of knowledge about the characteristics of normal and abnormal vaginal discharge causes many women to ignore symptoms that can indicate reproductive tract infections, sexually transmitted diseases, and even complications that can affect fertility. To increase knowledge of women of childbearing age about vaginal discharge through reproductive health education activities. The activity was carried out in several stages, including: 1) Preparation; 2) Pre-test data collection; 3) Implementation of counseling using lecture and discussion methods using flyer media; 4) Post-test data collection (evaluation). Pre-test and post-test data collection was carried out qualitatively by means of interviews regarding the material provided. The target of the activity was women of childbearing age (WUS) in Br. Batur Sari, Kesiman Kertalangu Village, Denpasar. There was an increase in WUS knowledge about fluor albus after being given education. The WUS-FRESH program not only contributes to increasing knowledge about fluor albus, but also supports promotive and preventive efforts for reproductive health. Sustainability of the program is highly recommended by involving health workers and community cadres, so that its positive impact can reach more WUS and contribute to improving the quality of reproductive health in a sustainable manner.   ABSTRAK Wanita Usia Subur (WUS) merupakan kelompok perempuan berusia 15–49 tahun yang berada pada fase aktif reproduksi dan memiliki risiko tinggi terhadap masalah kesehatan reproduksi. Salah satu permasalahan yang sering terjadi adalah fluor albus (keputihan). Kurangnya pengetahuan tentang karakteristik keputihan normal dan abnormal menyebabkan banyak wanita mengabaikan gejala yang dapat mengarah pada infeksi saluran reproduksi, penyakit menular seksual, bahkan komplikasi yang dapat memengaruhi kesuburan. Meningkatkan pengetahuan wanita usia subur mengenai fluor albus melalui kegiatan penyuluhan kesehatan reproduksi. Kegiatan dilakukan dalam ebebrapa tahapan, antara lain: 1) Persiapan; 2) Pengambilan data pre-test; 3) Pelaksanaan penyuluhan dengan metode ceramah dan diskusi menggunakan media flyer; 4) Pengambilan data post-test (evaluasi). Pengambilan data pre-test dan post-test dilakukan secara kualitatif dengan cara wawancara seputar materi yang diberikan. Sasaran kegiatan adalah wanita usia subur (WUS) di Br. Batur Sari Desa Kesiman Kertalangu, Denpasar. Terdapat peningkatan pengetahuan WUS tentang fluor albussetelah diberikan edukasi. Program WUS-FRESH tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pengetahuan tentang fluor albus, tetapi juga mendukung upaya promotif dan preventif kesehatan reproduksi. Keberlanjutan program sangat disarankan dengan melibatkan tenaga kesehatan dan kader masyarakat, agar dampak positifnya dapat menjangkau lebih banyak WUS dan berkontribusi pada peningkatan kualitas kesehatan reproduksi secara berkelanjutan.  
Implementasi Media Smart Pop-up Book untuk Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi Anak Berkebutuhan Khusus di TK-SD Inklusi Fun & Play Semarang Dian Nintyasari Mustika; Sugiyani; Carlin Souhaly; Sarah Semaher Nurrihan; Salma Septiana Nurfadilla; Khoirotun Nahda
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2026
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v8i1.5084

Abstract

Violence and sexual abuse against children remain a public health issue, particularly for children with disabilities, who are more vulnerable than the general population. Early sexual and reproductive health education is a crucial preventive measure, yet its implementation in inclusive schools still faces obstacles. Based on a problem identification process involving 7 teachers at the Fun & Play  Inclusive Kindergarten and Primary School in Semarang, several challenges faced by the partners were identified, including limited resources, difficulties in delivering sensitive material, and the diversity of pupils’ characteristics. This community service activity aims to evaluate the acceptability, appropriateness, and feasibility of implementation of the Smart pop-up book as an educational tool for sexual and reproductive health among children in inclusive nursery and primary schools. This community service activity was conducted using a Focus Group Discussion (FGD) approach and outreach activities carried out through four stages: problem identification, solution design, programme implementation, and evaluation. Problem identification was carried out through FGDs to assess the needs and barriers experienced by teachers. Programme evaluation was conducted using the Acceptability of Intervention Measure (AIM), Intervention Appropriateness Measure (IAM), and Feasibility of Intervention Measure (FIM) questionnaires, which were subsequently analysed descriptively. The evaluation results showed an average acceptability score of 99.3%, an appropriateness score of 91.4%, and a feasibility score of 90%. These findings indicate that the Smart pop-up book was very well received, aligned with the needs of teachers and pupils, and was easy to implement in inclusive school settings.  Consequently, this resource has the potential to support the prevention of sexual violence against children with disabilities through an engaging, concrete, and adaptive.   ABSTRAK Kekerasan dan pelecehan seksual pada anak masih menjadi masalah dalam aspek kesehatan masyarakat, terutama pada anak dengan disabilitas yang memiliki kerentanan lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum. Edukasi kesehatan seksual dan reproduksi sejak dini menjadi sebuah upaya preventif yang sangat penting, namun implementasinya di sekolah inklusi masih menghadapi hambatan. Berdasarkan identifikasi masalah dengan 7 guru di TK-SD Inklusi Fun & Play Semarang, diperoleh beberapa permasalahan yang dihadapi mitra, meliputi keterbatasan media, kesulitan penyampaian materi yang sensitif, serta keberagaman karakteristik siswa. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mengevaluasi penerimaan, kesesuaian, dan kemudahan penerapan media Smart pop-up book sebagai saran edukasi kesehatan seksual dan reproduksi pada anak TK-SD inklusi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui pendekatan Focus Group Discussion (FGD) dan sosialisasi yang dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu identifikasi masalah, perancangan solusi, pelaksanaan program, dan evaluasi. Identifikasi masalah dilakukan melalui FGD untuk mengkaji kebutuhan dan hambatan yang dialami guru. Evaluasi program dilakukan menggunakan kuesioner Acceptability of Intervention Measure (AIM), Intervention Appropriateness Measure (IAM), dan Feasibility of Intervention Measure (FIM), kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil evaluasi menunjukkan rerata skor acceptability  sebesar 99,3%, appropriateness sebesar 91,4%, dan feasibility sebesar 90%. Temuan ini menunjukkan bahwa media Smart pop-up book diterima dengan sangat baik, sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa, serta mudah diterapkan dalam pembelajaran di sekolah inklusi. Dengan demikian, media ini berpotensi menjadi inovasi edukatif dalam mendukung pencegahan kekerasan seksual pada anak dengan disabilitas melalui pendekatan pembelajaran yang menarik, konkret dan adaptif.
Pelatihan Kader Kesehatan dengan Buku Pintar Sidini (Siaga Deteksi Dini Ibu Nifas) Elisa Ulfiana; Aulia Fatmayanti; Ristiana
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2026
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v8i1.5092

Abstract

The problems and challenges faced by partners include 2.6% of mothers experiencing baby blues, and 7.9% of mothers with perineal wound infections and low exclusive breastfeeding coverage. One of the contributing factors to these problems in postpartum mothers is the lack of a postpartum mother support group, resulting in a lack of information about the benefits and importance of early detection of postpartum mothers, breast milk for babies, neonatal care, and postpartum care. The results of a preliminary study showed that of the 15 Posyandu cadres interviewed, they did not have in-depth knowledge of early detection of mothers during the postpartum period, correct breastfeeding methods, and forms of support for postpartum mothers. This is expected to increase the knowledge and skills of health cadres about postpartum care, and can disseminate it to the community, especially postpartum mothers and their families, so as to reduce problems and disorders during the postpartum period. All participants participated in the training enthusiastically and were able to perform early detection of complications in postpartum mothers. Analysis of pre-test and post-test data showed a very significant increase in competence. Participants' average pretest score was 56,2 out of 100, reflecting limited general knowledge. After completing the entire training series, the average posttest score jumped dramatically to 86,69. This increase in the average is strong empirical evidence of the high effectiveness of the training method in transferring knowledge and skills. This significant improvement not only reflects technical mastery but also indicates a fundamental shift in mindset among participants. The pretest measured clinical knowledge and general awareness, while the posttest was designed to assess knowledge. The cadre's knowledge score, based on the posttest results after the training, increased from 52.62 to 86.69, representing a 34.07-point increase.   ABSTRAK Permasalahan dan tantangan yang dihadapi mitra yakni terdapat 2,6% ibu mengalami baby blues, dan 7,9% ibu dengan infeksi luka perineum dan cakupan ASI esklusif yang rendah. Salah satu faktor pendukung adanya masalah pada ibu nifas ini adalah belum terbentuknya kelompok pendamping ibu Nifas, mengakibatkan minimnya informasi tentang manfaat dan pentingnya deteksi dini ibu nifas, ASI bagi bayi, perawatan neonatus, dan postpartum care. Hasil studi pendahulan menunjukan bahwa dari 15 kader Posyandu yang diwawancarai, mereka belum mengetahui secara mendalam untuk deteksi dini ibu pada masa nifas, cara menyusui yang benar dan bentuk dukungan bagi ibu nifas. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan tentang perawatan masa nifas, dan dapat menyebarluaskannya kepada masyarakat khususnya ibu nifas dan keluarganya sehingga mampu mengurangi masalah dan gangguan pada masa nifas. Seluruh peserta  mengikuti pelatihan dengan antusias dan mampu untuk melakukan deteksi dini komplikasi pada ibu nifas. Analisis data pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan kompetensi yang sangat signifikan. Nilai rata-rata pretest peserta adalah 52,62 dari skala 100, yang merefleksikan pengetahuan umum yang masih terbatas. Setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan, nilai rata-rata post-test melonjak drastis menjadi 86,9. Peningkatan rerata ini merupakan bukti empiris yang kuat mengenai tingginya efektivitas metode pelatihan dalam proses transfer pengetahuan dan keterampilan. Peningkatan yang signifikan ini tidak hanya merefleksikan penguasaan teknis, tetapi juga menandakan adanya pergeseran pola pikir fundamental pada peserta. Pre-test mengukur pengetahuan klinis dan kesadaran umum, post-test dirancang untuk menilai pengetahuan dan skor pengetahuan kader dari hasil post test setelah kegiatan pelatihan  meningkat dari 52,62 menjadi 86,69 sehingga terjadi kenaikan skor sebanyak 34,07 point.
Pembentukan Kader Kesehatan Remaja Berbasis Trias UKS Menuju Indonesia Emas 2045 di SMK Pangudi Luhur Tarcicius Semarang Yulia Nur Khayati; Vistra Veftisia; Ari Widyaningsih; Moneca Diah Listiyaningsih
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2026
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v8i1.5100

Abstract

Adolescents are a strategic group in human resource development towards Indonesia Emas 2045. However, there is still a need to strengthen adolescent health education in schools, especially in non-health schools. This community service activity aims to develop adolescent health cadres based on the Trias UKS (Healthy Child Health Program) at SMK Pangudi Luhur Tarcicius Semarang and increase students' knowledge about adolescent health. The implementation method consisted of preparation, cadre recruitment, module development, training, implementation, mentoring, evaluation, and development of a sustainability plan. Evaluation was conducted using pre- and post-tests with 30 participants. The results of the activity indicated that all stages of the service had been completed. Knowledge scores increased from 12.67 to 13.73, indicating a significant difference between pre- and post-activity scores. The formation of adolescent health cadres based on the Trias UKS has proven beneficial in increasing student knowledge and strengthening their role as health promotion agents in schools. This program needs to be continued through UKS coaching, regular cadre development, and mentoring from supervising teachers.   ABSTRAK Remaja merupakan kelompok strategis dalam pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Namun, masih terdapat kebutuhan penguatan pendidikan kesehatan remaja di lingkungan sekolah, terutama pada sekolah non-kesehatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan membentuk kader kesehatan remaja berbasis Trias UKS di SMK Pangudi Luhur Tarcicius Semarang serta meningkatkan pengetahuan siswa mengenai kesehatan remaja. Metode pelaksanaan terdiri atas tahap persiapan, rekrutmen kader, penyusunan modul, pelatihan, implementasi, pendampingan, evaluasi, dan penyusunan rencana keberlanjutan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test terhadap 30 peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh tahapan pengabdian telah terlaksana. Skor pengetahuan meningkat dari 12,67 menjadi 13,73 terdapat perbedaan bermakna antara skor sebelum dan sesudah kegiatan. Pembentukan kader kesehatan remaja berbasis Trias UKS terbukti bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan siswa dan memperkuat peran siswa sebagai agen promosi kesehatan di sekolah. Program ini perlu dilanjutkan melalui pembinaan UKS, kaderisasi berkala, dan pendampingan guru pembina.