MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary
MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary is a peer-reviewed journal that aims to provide a platform for scholars, researchers, academics, and practitioners from diverse fields of study to contribute and exchange their knowledge, insights, and research findings. MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary is published by the Institute of Educational, Research, and Community Service. The journal seeks to promote interdisciplinary collaboration by accepting submissions from various disciplines, including but not limited to: Social Sciences: Sociology, Anthropology, Political Science, Psychology, Communication Studies, and Cultural Studies. Humanities: Literature, Linguistics, Philosophy, History, Arts, and Cultural Heritage. Business and Economics: Management, Marketing, Finance, Entrepreneurship, and International Business. Education: Educational Research, Curriculum Development, Teaching Methods, Islamic Studies, and Educational Technology. Health Sciences: Medicine, Nursing, Public Health, Nutrition, and Healthcare Management. Natural Sciences: Biology, Chemistry, Physics, Environmental Science, and Geology. Engineering and Technology: Computer Science, Information Technology, Electrical Engineering, Mechanical Engineering, and Civil Engineering. Applied Sciences: Agriculture, Environmental Management, Food Science, and Biotechnology. And other disciplines not mentioned. The journal welcomes original research articles, review papers, case studies, and theoretical perspectives that contribute to the advancement of knowledge in their respective fields and foster a holistic understanding of global challenges and solutions. MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary focuses on the exploration of contemporary issues, emerging trends, and innovative practices in various disciplines. The journal emphasizes the significance of a multidisciplinary approach to address complex problems and encourages discussions on their social, economic, environmental, and cultural implications. MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary aims to facilitate the dissemination of research findings that have practical applications and societal relevance, contributing to sustainable development and progress of global communities. By promoting interdisciplinary research, the journal seeks to create a collaborative and dynamic space for scholars and professionals to bridge gaps between disciplines and contribute to a more comprehensive understanding of our interconnected world. Submission to MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary is open to researchers and scholars from around the globe, who are committed to advancing knowledge, promoting diversity of perspectives, and contributing to the betterment of societies worldwide.
Articles
605 Documents
Inovasi Pelayanan Publik Melalui Program SIKILAP (Strategi Menuju Kapuas Sehat Dengan Integrasi Layanan Primer): Strategi Menuju Kabupaten Kapuas Sehat
Dina Rizki;
Kristyan Dwijosusilo;
Kresna Adhi Prahmana
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i77
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Program SIKILAP (Strategi Menuju Kapuas Sehat Melalui Integrasi Layanan Primer) adalah inovasi dalam pelayanan publik yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas layanan kesehatan di Kabupaten Kapuas. Dengan menggunakan pendekatan integrasi antar sektor dan penerapan sistem informasi digital, SIKILAP mengintegrasikan layanan puskesmas, posyandu, klinik swasta, serta kader masyarakat. Program ini fokus pada layanan promosi dan pencegahan yang berbasiskan siklus hidup, guna memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat secara komprehensif dan responsif. Hasil awal menunjukkan adanya peningkatan efisiensi dalam pencatatan, perluasan jangkauan layanan ke daerah terpencil, serta penurunan angka stunting pada balita. Tantangan yang dihadapi mencakup kurangnya infrastruktur digital, minimnya tenaga kesehatan yang terlatih dalam menggunakan sistem informasi, serta keterbatasan anggaran operasional. Penguatan dilakukan dengan pelatihan sumber daya manusia, pembentukan tim penggerak integrasi, kerjasama dengan sektor swasta dan institusi pendidikan, serta forum evaluasi yang rutin. Program SIKILAP diharapkan mampu menjadi contoh inovasi nasional untuk integrasi layanan primer yang berbasis digital dan kolaboratif, dengan tujuan mendorong pemerataan akses, peningkatan kualitas layanan kesehatan, serta pencapaian visi “Kabupaten Kapuas Sehat” yang berkelanjutan.
Layanan Pajak Kendaraan Bermotor Tahunan Online Percepat Target Pendapatan Asli Daerah Di Jawa Timur (Studi Kasus di Kota Batu)
Rhendra Patria Negara;
Sapto Pramono;
Sri Roekminiati
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i84
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pelaksanaan layanan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) secara daring di Jawa Timur, khususnya di Kota Batu dan Kabupaten Malang, merupakan langkah strategis dalam modernisasi administrasi publik dan peningkatan kepatuhan pajak melalui transformasi digital. Penelitian ini menganalisis faktor pendukung dan tantangan dalam adopsi serta keberlanjutan sistem pembayaran PKB digital. Hasil studi menunjukkan bahwa kemajuan teknologi, infrastruktur digital, dan peningkatan literasi digital terutama di kalangan generasi muda—mendorong adopsi metode pembayaran elektronik seperti QRIS, dompet digital, dan mobile banking. Dukungan kebijakan dan regulasi dari pemerintah daerah, termasuk alokasi anggaran, memperkuat komitmen terhadap tata kelola digital dan efisiensi birokrasi. Kolaborasi antara Samsat, dinas pendapatan daerah, lembaga keuangan, dan perusahaan fintech menciptakan ekosistem terintegrasi yang mendukung efisiensi layanan dan pengelolaan data. Namun demikian, tantangan seperti rendahnya literasi digital di kalangan lansia dan masyarakat pedesaan, kualitas data, kapasitas SDM, biaya pengembangan, serta risiko keamanan siber menjadi hambatan signifikan. Kebutuhan akan integrasi data real-time, perlindungan privasi, dan stabilitas jaringan memperumit pelaksanaan sistem ini. Penelitian ini menekankan bahwa keberhasilan sistem pembayaran PKB digital bergantung pada sinergi antara inovasi teknologi, dukungan regulasi, penguatan SDM, dan partisipasi masyarakat. Inovasi berkelanjutan, mitigasi risiko, serta penguatan infrastruktur menjadi kunci daya tahan dan keberlanjutan layanan. Sistem ini berpotensi besar meningkatkan efisiensi administrasi, transparansi, dan pendapatan daerah, serta mendukung visi Indonesia dalam tata kelola digital.
Dampak Kebijakan Pendidikan Gratis Bagi Masyarakat Dengan Kategori Keluarga Miskin Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Kabupaten Malang
Wijianto;
Sapto Pramono;
Ika Devy Pramudiana;
Nihayatus Sholichah
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i84
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan pendidikan gratis terhadap keluarga miskin dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Malang. Kebijakan ini dirancang untuk menghilangkan hambatan ekonomi dalam akses pendidikan, terutama bagi masyarakat miskin, melalui program seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Penelitian ini juga mengevaluasi implementasi kebijakan yang dampaknya pada kualitas pendidikan, serta kendala yang dihadapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan gratis telah meningkatkan angka partisipasi sekolah, khususnya di jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama. Banyak anak dari keluarga miskin yang sebelumnya putus sekolah kini dapat melanjutkan pendidikan mereka. Selain itu, kebijakan ini juga membantu menurunkan angka putus sekolah dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih inklusif. Namun, implementasi kebijakan ini masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan anggaran, kesenjangan kualitas antara sekolah di daerah perkotaan dan pedesaan, serta kurangnya infrastruktur yang memadai. Kualitas pendidikan juga dipengaruhi oleh kekurangan guru kompeten, minimnya pelatihan bagi tenaga pendidik, serta kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan peningkatan alokasi dana pendidikan, pembangunan infrastruktur, dan penguatan pelatihan guru. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta juga menjadi kunci keberhasilan program ini. Kesimpulannya, meskipun pendidikan gratis telah membawa perubahan positif, upaya peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan perlu terus dilakukan untuk memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh semua lapisan masyarakat.
Towards a Circular Economy Through 9R-Based E-waste Management: A Case Study on the Role of Employees in Indonesia's Financial Services Sector
Febe Budianto;
Ratna Lindawati Lubis
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i84
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This study aims to explore the practices of electronic waste (e-waste) management in the Indonesian banking sector within the framework of the circular economy based on the principles of Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Repurpose, and Recycle (9R), as well as to understand the role and challenges of integrating the informal sector into the management system. This research adopts a qualitative case study approach, using in-depth interviews with six informants from large and small banks. The findings reveal that large banks tend to implement formal and systematic policies, while small banks rely on informal initiatives such as reuse and refurbish. Additionally, the informal sector plays a crucial role in collection and recycling but faces structural barriers to formalization. The limitations of this study include the restricted geographic scope and descriptive approach. Therefore, future research is recommended to employ a quantitative method and cover a broader range of regions and actors. From a practical perspective, more inclusive policies are needed to support the integration of the informal sector into a sustainable formal e-waste management system.
Strategy To Improve Briguna Digital Sustainability Performance At Bank Bri In The Regional Area Of Central Java Province & Special Region Of Yogyakarta
Candra Setia Barkah;
Ratna Lindawati Lubis
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i84
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This study aims to formulate a strategy to improve the sustainability performance of BRIGuna Digital in the BRI Regional Office of Central Java and the Special Region of Yogyakarta (DIY), using a mixed methods approach. The research began with interviews and observations involving 23 purposively selected informants, consisting of BRI employees and active BRIGuna Digital users. Qualitative data were analyzed using SWOT and triangulation approaches and then used as the basis for developing a Likert-scale questionnaire. The questionnaire results were analyzed descriptively and used to construct the IFAS and EFAS matrices, which served as the foundation for formulating an adaptive and responsive strategy to enhance BRIGuna Digital's performance. The findings indicate that the main strengths lie in the integrated information system and branch network capabilities, while significant weaknesses are found in technical aspects and user outreach. The IFAS and EFAS results place the company in an aggressive strategy position. An SO (Strengths–Opportunities) strategy was selected, focusing on optimizing internal potential to seize external opportunities. The recommended strategy implementation includes targeting bonafide institutional clients, forming promotional partnerships with business partners, strengthening brand image through digital security, educating non-digital users, updating leads data with regional mapping, adjusting autodebit to salary schedules, tightening screening for payroll-switching debtors, and offering competitive interest rates with flexible tenors. This research provides strategic contributions to the development of sustainable performance in the national digital financial services sector
Pemberdayaan Sdm Lokal Untuk Implementasi Konsep Smart Village Di Kawasan Perdesaan (Studi Kasus Di Desa Balongtunjung Kabupaten Gresik
Eko Budianto;
Sri Kamariyah;
Ika Devy Pramudiana
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i84
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Konsep Desa Pintar merupakan pendekatan baru dalam pembangunan pedesaan yang mengintegrasikan teknologi digital untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, keberhasilan pelaksanaannya sangat bergantung pada kesiapan dan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemberdayaan SDM lokal dalam mendukung implementasi konsep Smart Village di Desa Balongtunjung, Kabupaten Gresik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan perangkat desa dan masyarakat, serta dokumentasi kegiatan berbasis digital. Analisis ini menggunakan teori Soeharto (2005) tentang pemberdayaan masyarakat, yang mencakup lima pendekatan utama: enablement, Empowering, protecting, supporting, dan fostering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah desa telah melakukan berbagai inisiatif pemberdayaan melalui pemberian akses informasi dan pelatihan teknologi dasar. Pemberdayaan dilakukan melalui peningkatan kapasitas pelaku pemuda dan UMKM untuk dapat memanfaatkan platform digital. Perlindungan kelompok rentan mulai dipertimbangkan melalui pendampingan dan edukasi digital. Dukungan diberikan dalam bentuk pendampingan teknologi dan kolaborasi dengan pihak eksternal, seperti perguruan tinggi dan relawan digital. Sementara itu, pembinaan diwujudkan melalui pembentukan forum digital desa dan integrasi program Desa Pintar ke dalam perencanaan desa. Terlepas dari kemajuan, masih ada tantangan dalam hal pemerataan akses, literasi digital bagi kelompok rentan, keberlanjutan program, dan regenerasi sumber daya manusia. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif yang lebih sistematis agar pemberdayaan masyarakat benar-benar mendorong kemandirian dan keberlanjutan Desa Pintar di pedesaan
Pemberdayaan Siswa melalui program Galeri Ekonomi Kreatif Siswa (GEmeS): Inovasi Galeri Ekonomi Kreatif dalam Mendorong Ekonomi Lokal di Sampang
Muhammad Rosyid Ridho;
Dendy Patrija W2, Sri Kamariyah;
Ika Devy Pramudiana
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i84
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Rendahnya keterlibatan siswa dalam aktivitas ekonomi produktif dan terbatasnya ruang aktualisasi potensi lokal menjadi tantangan dalam pengembangan pendidikan berbasis kewirausahaan di daerah. Inovasi melalui program Galeri Ekonomi Kreatif Siswa (GEmeS) hadir sebagai respon terhadap kebutuhan pembelajaran yang kontekstual dan berdampak pada masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana program GEmeS dapat memberdayakan siswa sekaligus mendorong penguatan ekonomi lokal di Kabupaten Sampang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan siswa, guru, dan pelaku UMKM, serta dokumentasi terhadap aktivitas galeri. Data dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara interaktif dan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GEmeS secara signifikan meningkatkan kapasitas kewirausahaan siswa melalui keterlibatan aktif dalam proses produksi, pengelolaan, dan pemasaran produk kreatif berbasis budaya lokal. Program ini juga memperkuat jejaring antara sekolah dan komunitas ekonomi sekitar, sehingga menciptakan ekosistem kolaboratif yang mendukung ekonomi mikro dan pelestarian nilai lokal. Selain itu, siswa mengalami perkembangan karakter seperti tanggung jawab, kemandirian, dan kreativitas melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan ekonomi yang nyata. Kesimpulan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa GEmeS mampu menjadi model pemberdayaan siswa yang efektif dan berkelanjutan dalam mendorong partisipasi ekonomi generasi muda. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah melakukan analisis komparatif di berbagai wilayah dengan latar sosial-budaya yang berbeda, serta mengembangkan pendekatan kuantitatif untuk mengukur dampak ekonomi program secara lebih terukur
Communication for Farmer Empowerment in Social Capital Perspective (Study on Kalianget Salt Farmer Group in Sumenep Regency)
Roos Yuliastina;
Irma Irawati Puspaningrum;
Deny Fery Suharyanto;
Moh. Kurdi
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i84
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Community empowerment is an alternative development paradigm aimed at enhancing capacity and independence. However, this process cannot be fully achieved without participatory communication, since communicative actions within the community directly influence participation levels, allowing development to adapt to local characteristics. Therefore, this study integrates the empowerment communication paradigm with the perspective of social capital, which emphasizes togetherness and cooperation in addressing collective challenges. The research focuses on coastal communities in Kalianget Subdistrict to explore the role of social capital in the communication practices of salt farmer groups and to design an empowerment model grounded in social capital. This study employed a qualitative method with a case study approach. Data were collected through in-depth interviews with community leaders, salt farmer group leaders, and members, complemented by participatory observation and documentation studies. Data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing/verification, while data validity was strengthened through source and method triangulation. The findings reveal that three dimensions of social capital—social networks, trust, and values and norms—serve as the main pillars in the communication practices of salt farmer groups. Social networks were established through interactions based on mutual benefits, trust was reinforced through solidarity and reciprocity, and values and norms functioned as collective guidelines for both social and economic behavior. These findings affirm that communication rooted in social capital plays a significant role in strengthening community empowerment processes. Theoretically, this study enriches the discourse on empowerment communication, while practically it provides references for policymakers and communities in designing more adaptive empowerment strategies.
Implementasi Program Beasiswa Gerbang Cerdas Mahulu (GCM) sebagai Kebijakan Afirmasi Pendidikan 3T di Kabupaten Mahakam Ulu
Frenky Egiazer Boimau;
Sri Kamariyah;
Nihayatus Sholihah
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i84
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program Beasiswa Gerbang Cerdas Mahulu (GCM) sebagai kebijakan afirmasi pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), dengan studi kasus di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Mahakam Ulu merupakan daerah perbatasan yang memiliki tantangan geografis dan sosial yang kompleks, sehingga akses pendidikan menjadi persoalan mendesak. Program GCM, yang diluncurkan pada tahun 2018, merupakan inisiatif lokal untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat terpencil melalui bantuan beasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi dan analisis data sekunder. Analisis dilakukan menggunakan model implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn (1975) yang mencakup enam variabel utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi GCM telah memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan Angka Partisipasi Sekolah (APS), jumlah lembaga pendidikan, jumlah tenaga pendidik, serta Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS). Namun, masih terdapat kendala seperti keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia, dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan tinggi. Penelitian ini memberikan rekomendasi penting bagi penguatan kebijakan afirmatif berbasis lokal yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan di wilayah 3T.
Strategi Pemerintah Daerah dalam Menyelaraskan Pembangunan Transportasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Sepanjang Aliran Sungai Mahakam Ulu
Mikhael Maniley;
Sri Roekminiati;
Sri Kamariyah
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i84
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pembangunan transportasi sungai memiliki peran penting dalam meningkatkan konektivitas wilayah pedalaman seperti Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, dimana lebih dari 70% desa masih bergantung pada jalur air sebagai akses utama. Namun, upaya pembangunan infrastruktur tanpa pemberdayaan masyarakat berisiko menghambat keberlanjutan program tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi Pemerintah Daerah Mahakam Ulu dalam menyelaraskan pembangunan transportasi sungai dengan pemberdayaan masyarakat setempat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam kepada pejabat pemerintah, tenaga kesehatan, aktivis masyarakat, dan warga pengguna transportasi, serta analisis dokumen resmi seperti RPJMD dan laporan dinas terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah daerah telah melakukan revitalisasi dermaga, normalisasi alur sungai, serta memberikan subsidi perahu motor dan pelatihan teknis kepada masyarakat. Meskipun demikian, tantangan utama seperti keterbatasan anggaran, rendahnya partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan fasilitas, serta dampak lingkungan akibat pengerukan sungai masih menghambat keberlanjutan program. Partisipasi aktif masyarakat, penguatan kapasitas lokal, dan inovasi pembiayaan menjadi faktor kunci untuk keberlanjutan pembangunan transportasi sungai yang berdaya guna. Penelitian ini merekomendasikan perlunya integrasi antara pembangunan fisik dan pemberdayaan sosial untuk mewujudkan transportasi sungai yang inklusif dan berkelanjutan.