cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Mental Health Concerns
ISSN : 29645042     EISSN : 29645034     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang kesehatan jiwa meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, maupun kelompok rentan. Penelitian kesehatan jiwa susuai tren kekinian.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025" : 15 Documents clear
Studi mendalam tentang dampak asuhan orang tua yang tidak tepat pada perkembangan kepribadian anak Asrori, Rohan; Uchy Khadijah
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1030

Abstract

Background: The implementation of permissive, authoritarian, and low-responsive parenting patterns tends to encourage negative behavior in children, such as aggressiveness, lack of social awareness, low discipline, and a tendency to violate prevailing norms in the community. In addition, the dynamics of communication within the family, the influence of the external environment, and the psychological and emotional conditions of parents are also important factors that shape parenting patterns. Purpose: To analyze the influence of parenting patterns applied by parents on the formation of negative characters in children. Method: A qualitative approach with a descriptive method, data collection techniques were carried out through in-depth interviews, direct observation, and documentation studies of purposively selected informants. Results: The results of the study showed that permissive, authoritarian, and low-responsive parenting patterns from parents contributed to the emergence of negative characters in children, such as aggressiveness, low discipline, lack of social awareness, and a tendency to violate norms. Other factors that influence the formation of parenting patterns include the dynamics of communication within the family, the influence of the external environment, and the psychological and emotional conditions of parents. Conclusion: Balanced, caring, and consistent parenting is very important in forming a child's character that is positive, adaptive, and has noble morals from an early age. Keyword: Children's Behavior; Family Communication; Negative Character; Parenting Pattern; Qualitative                     Approach. Pendahuluan: Penerapan pola asuh yang permisif, otoriter, dan minim responsivitas cenderung mendorong munculnya perilaku negatif pada anak, seperti agresivitas, kurangnya kepedulian sosial, rendahnya kedisiplinan, serta kecenderungan untuk melanggar norma yang berlaku di lingkungan masyarakat. Selain itu, dinamika komunikasi dalam keluarga, pengaruh lingkungan eksternal, serta kondisi psikologis dan emosional orang tua turut menjadi faktor penting yang membentuk pola pengasuhan. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap terbentuknya karakter negatif pada anak. Metode: Pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara secara mendalam, observasi langsung, serta studi dokumentasi terhadap informan yang dipilih secara purposive. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh permisif, otoriter, dan minim responsivitas dari orang tua berkontribusi terhadap munculnya karakter negatif pada anak, seperti agresivitas, rendahnya kedisiplinan, kurangnya kepedulian sosial, serta kecenderungan melanggar norma. Faktor lain yang turut memengaruhi terbentuknya pola asuh meliputi dinamika komunikasi dalam keluarga, pengaruh lingkungan eksternal, dan kondisi psikologis serta emosional orang tua. Simpulan: Pola asuh yang seimbang, penuh perhatian, dan konsisten sangat penting dalam membentuk karakter anak yang positif, adaptif, dan berakhlak mulia sejak usia dini. Kata Kunci: Karakter Negatif; Komunikasi Keluarga; Pendekatan Kualitatif; Perilaku Anak; Pola Asuh.
Hubungan kecemasan dan kemandirian adl pada lansia hipertensi Holida, Siti Solihat; Amrulloh, Erik
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1057

Abstract

Background: Anxiety is a psychological disorder in which individuals often experience recurring feelings of fear or worry, leading to loss of concentration and an inability to carry out daily activities effectively. As a result, elderly individuals may experience a decline in their level of independence in performing activities of daily living (ADL). Purpose: To determine the relationship between anxiety levels and the level of independence in ADL among elderly individuals with hypertension in Maruyung Village, Pacet District, Bandung Regency. Method: A quantitative study using a correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 65 respondents. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the Spearman rank correlation test. Results: Nearly half of the respondents experienced minimal anxiety (30 respondents or 46.2%), while a small portion experienced severe anxiety (1 respondent or 1.5%). Regarding ADL independence, nearly half of the respondents were in the Independent category (29 respondents or 44.6%), and a small number were totally dependent (1 respondent or 1.5%). Conclusion: The Spearman rank test revealed a significant relationship between anxiety levels and ADL independence, with a p-value of 0.000 < α (0.05), indicating that the null hypothesis (H₀) was rejected. Therefore, it can be concluded that there is a very strong and statistically significant negative correlation between anxiety levels and ADL independence. This means that the higher the level of anxiety, the lower the level of independence among elderly individuals. Keywords: Activities of Daily Living; Anxiety; Elderly; Independence. Pendahuluan: Kecemasan (anxiety) merupakan suatu gangguan psikologis di mana individu yang mengalaminya sering kali merasakan ketakutan atau kekhawatiran yang berulang. Kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya konsentrasi dan menghambat individu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari secara optimal. Pada lansia, kecemasan dapat berdampak pada penurunan tingkat kemandirian dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (Activity of Daily Living/ADL). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan tingkat kemandirian aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) pada lansia hipertensi di Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain studi korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 65 responden, dan instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman rank. Hasil: Hampir setengah dari responden memiliki tingkat kecemasan dalam kategori kecemasan minimal, yaitu sebanyak 30 orang (46.2%), dan sebagian kecil mengalami kecemasan berat, yaitu 1 orang (1.5%). Sementara itu, tingkat kemandirian ADL menunjukkan bahwa hampir setengah dari responden berada dalam kategori mandiri, yaitu 29 orang (44.6%), dan sebagian kecil berada dalam kategori ketergantungan total, yaitu 1 orang (1.5%). Simpulan: Hasil uji Spearman rank menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dan tingkat kemandirian ADL dengan nilai p-value (0.000) < α (0.05), sehingga H₀ ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara tingkat kecemasan dengan tingkat kemandirian ADL, dengan arah korelasi negatif. Artinya, semakin tinggi tingkat kecemasan, maka semakin rendah tingkat kemandirian lansia. Kata Kunci: Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari; Lansia; Tingkat Kecemasan; Tingkat Kemandirian.
Implementasi seft (spiritual emotional freedom technique) terhadap kecemasan pada ibu hamil trimester III Amoy Riska, Sindi; Yunitasari, Eva; Nurhayati, Nurhayati
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1058

Abstract

Background: Anxiety is an adaptation mechanism that indicates internal or external changes that are potentially threatening. anxiety symptoms such as trembling, fear, and panic. Anxiety in pregnant women can trigger stimulation of uterine contractions. As a result of these conditions can increase blood pressure which triggers bleeding, preeclampsia and miscarriage. Purpose: To determine the implementation of Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) on anxiety in third trimester pregnant women. Method: A descriptive design with a case study approach to describe the results of nursing care Implementation of SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) on anxiety in third trimester pregnant women. Data were collected using questionnaires before and after the intervention. Results: This scientific paper aims The results of the implementation of SEFT show that there is a decrease in anxiety levels in both subjects, namely from the category of moderate anxiety to no anxiety. Conclusion: SEFT therapy can increase knowledge and be applied to control anxiety in third trimester pregnant women. Keyword: Anxiety; SEFT; Trimester III Pregnant Women.   Pendahuluan: Kecemasan merupakan mekanisme adaptasi yang menunjukkan perubahan internal atau eksternal yang berpotensi mengancam. Gejala kecemasan seperti gemetar, takut, dan panik. Kecemasan pada ibu hamil dapat memicu terjadinya rangsangan kontraksi rahim. Akibat dari  kondisi  tersebut  dapat  meningkatkan  tekanan  darah  yang memicu terjadinya pendarahan,  preeklamsi  dan  keguguran. Tujuan: Untuk mengetahui Implementasi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap kecemasan pada ibu hamil Trimester III. Metode: Desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus untuk mendeskripsikan hasil asuhan keperawatan Implementasi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) terhadap kecemasan pada ibu hamil trimester III. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Implementasi SEFT menunjukan bahwa ada penurunan tingkat kecemasan pada kedua subjek yaitu dari kategori kecemasan sedang menjadi tidak ada kecemasan. Simpulan: Terapi SEFT ini dapat meningkatkan pengetahuan dan mampu diaplikasikan untuk mengontrol rasa cemas pada ibu hamil trimester III . Kata Kunci: Kecemasan; Ibu Hamil Trimester III; SEFT.
Perbedaan penerapan teknik relaksasi nafas dalam dan terapi murottal al-quran terhadap tingkat kecemasan lansia Warni, Hernida; Sari , Nova Nurwinda
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1071

Abstract

Background: Anxiety is an unpleasant feeling accompanied by nervous behavior or somatic complaints and rumination. The elderly are a group that is vulnerable to anxiety due to a decline in the body's system. One of the nonpharmacological therapies to reduce anxiety is with deep breathing relaxation techniques and Al-Quran murottal therapy. Purpose: To determine the differences in the application of deep breathing relaxation therapy and Al-Quran murottal therapy on the level of anxiety in the elderly. Method: A quantitative, quasy experiment research design with a two group pretest-posttest design approach. The population in the study were elderly people who experienced anxiety at UPTD PSLU Tresna Werdha Natar, namely 30 people with an intervention group of 15 people and a control group of 15 people. Results: A difference in the level of anxiety before and after the intervention in the group given deep breathing relaxation techniques with a p-value = 0.000, there was a difference in the level of anxiety before and after Al-Quran murottal therapy with a p-value = 0.000. The results of the independent t-test analysis obtained a p-value = 0.40. Conclusion: No significant difference in the average anxiety between the deep breathing relaxation therapy group and the Al-Quran murottal therapy group. Keyword: Al-Quran Murottal Therapy; Anxiety; Deep Breathing Relaxation Technique. Pendahuluan: Kecemasan merupakan kondisi perasaan yang tidak menyenangkan yang disertai dengan perilaku gugup maupun keluhan somatik dan perenungan. Lansia merupakan kelompok yang rentan mengalami kecemasan dikarenakan adanya penurunan pada sistem tubuh. Salah satu terapi non farmakologi untuk menurunkan kecemasan adalah dengan teknik relaksasi nafas dalam dan terapi murottal Al-Quran. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan penerapan terapi relaksasi nafas dalam dan terapi murottal Al-Quran terhadap tingkat kecemasan lansia. Jenis penelitian adalah kuantitatif, desain penelitian Quasy Eksperiment dengan pendekatan two group pretest-postest design. Populasi dalam penelitian adalah lansia yang mengalami kecemasan di UPTD PSLU Tresna Werdha Natar yaitu sebanyak 30 orang dengan kelompok intervensi sebanyak 15 orang dan kelompok kontrol sebanyak 15 orang. Hasil: Terdapat perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok yang diberikan teknik relaksasi nafas dalam dengan p-value = 0.000, terdapat perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah terapi murottal Al-Quran dengan p-value = 0.000. Hasil analisis Uji t independent didapatkan p-value = 0.40. Simpulan: Tidak ada perbedaan, rata-rata kecemasan antara kelompok terapi relaksasi nafas dalam dengan kelompok terapi murottal Al-Quran. Kata Kunci: Kecemasan; Teknik Relaksasi Nafas Dalam; Terapi Murottal Al-Quran.
Pengaruh terapi musik alam untuk menurunkan anxiety pada fase quarter life crisis bagi mahasiswa ners Devita, Yeni; Juwita, Ratna; Nita, Yureya; Puswati, Desti; alfianur, alfianur; Oktaviani, Yoneta
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1080

Abstract

Background: Individual responses to developmental tasks and demands vary. Some individuals feel ready to face change, while others experience confusion and anxiety. This phenomenon is known as a quarter life crisis which describes a condition of uncertainty, hopelessness, and confusion in determining the direction of life, which is often experienced by university students. Stress, anxiety and loss of direction can have a negative impact on physical and psychological well-being, particularly in dealing with academic and social demands. Previous research shows that anxiety that arises during this phase can be reduced through non-pharmacological therapies, one of which is through nature music therapy. Purpose: To determine whether there is an effect of natural music therapy to reduce anxiety in the quarter life crisis phase for ners professional students. Method: A quantitative research with a quasi-experimental design with a pre-test and post-test nonequivalent control group approach. The number of respondents 68 consisted of 34 intervention groups and 34 control groups. The research used quarter life crisis and SAI instruments. Results: Age characteristics more than half of the respondents were 22 years old and for gender more than half were female. For the results of the average anxiety level of the intervention group 47.24 to 36.56 and the control group 44.56 to 40.97 for the statistical test results obtained p value 0.001 <0.005 then Ha is accepted and H0 is rejected. Conclusion based on the research results is that there is an effect of natural music therapy to reduce anxiety in the quarter life crisis phase for Ners Profession students. Keywords: Anxiety; College Students; Nature Music therapy; Quarter Life Crisis. Pendahuluan: Respon individu terhadap tugas perkembangan dan tuntutan berbeda-beda. Sebagian individu merasa siap menghadapi perubahan, sementara sebagian lainnya mengalami kebingungan dan kecemasan. Fenomena ini dikenal dengan istilah quarter life crisis yang menggambarkan kondisi ketidakpastian, keputusasaan, dan kebingungan dalam menentukan arah hidup, yang sering dialami oleh mahasiswa. Stres, kecemasan, dan kehilangan arah dapat berdampak negatif pada kesejahteraan fisik dan psikologis, khususnya dalam menghadapi tuntutan akademik dan sosial. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kecemasan yang muncul selama fase ini dapat diturunkan melalui terapi non-farmakologis, salah satunya melalui terapi musik alam. Tujuan: Untuk mengetahui apakah ada pengaruh terapi musik alam untuk menurunkan anxiety pada fase quarter life crisis bagi mahasiswa profesi ners. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimen dengan pendekatan pre-test and post-test nonequivalent control group. Jumlah responden 68 terdiri dari 34 kelompok intervensi dan 34 kelompok kontrol. Penelitian menggunakan instrumen quarter life crisis dan SAI. Hasil: Karakteristik usia lebih dari separuh responden berusia 22 tahun dan untuk jenis kelamin lebih dari separuh perempuan. Untuk hasil rata-rata tingkat anxiety kelompok intervensi 47.24 menjadi 36.56 dan kelompok kontrol 44.56 menjadi 40.97 untuk hasil uji statistik didapatkan nilai p value 0.001 < 0.005 maka Ha diterima dan H0 ditolak. Simpulan: Ada pengaruh terapi musik alam untuk menurunkan anxiety pada fase quarter life crisis bagi mahasiswa Profesi Ners. Kata Kunci: Anxiety; Mahasiswa; Quarter Life Crisis; Terapi Musik Alam
Hubungan sikap dengan kepatuhan diet diabetes melitus pada lansia di posyandu lansia Siagian, Martha; Ethyca Sari; Pradesty, Citra Nawang
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1113

Abstract

Background: Attitude can be defined as a person's assessment (opinion) of a stimulus or object (in this case a health problem). Diabetes Mellitus or diabetes is a metabolic disorder that arises due to an increase and decrease in blood sugar levels from the normal value of random blood sugar levels >> 200mg / dl or fasting blood sugar levels >> 120 mg / dl, which occurs acutely or chronically. Diabetes can occur in anyone, but this condition is more common in the elderly. In the elderly, there are physical and biological changes so that the performance of each organ function decreases. Elderly compliance with the DM diet is how the elderly regulate their food which is known as 3J, namely the number of calories needed, the meal schedule that must be followed, and the types of food that must be considered. Purpose: To determine the relationship between attitudes and DM diet compliance in the elderly. Method: Cross Sectional research design. The sampling method used is Total Sampling. The sample taken was 40 respondents, namely Elderly people with Diabetes Mellitus at the Elderly Posyandu, Pagerwojo Village, RW 06 Buduran Sidoarjo, in the 4th week of October. The data for this study were taken using a questionnaire. After being tabulated, the existing data was analyzed using the Chi Square test with a significance level of 0.05, p value = 0.000 (<0.05) indicating a relationship between attitudes and DM diet compliance in the elderly. Results: It was found that 30 people (75%) had poor attitudes and diet compliance in the non-compliant category, so the suggestion for this research location is to hold regular DM diet counseling. Conclusion: The attitudes of DM sufferers are mostly in the poor category. The compliance of DM sufferers' diet is mostly in the non-compliant category. There is a relationship between attitudes and DM diet compliance in the elderly. Keywords: Attitude; Compliance; Diabetes Mellitus Diet; Elderly. Pendahuluan: Sikap bisa didefinisikan sebagai penilaian (pendapat) seseorang terhadap stimulus atau objek (dalam hal ini adalah masalah kesehatan). Diabetes Melitus atau penyakit kencing manis merupakan gangguan metabolisme yang timbul akibat peningkatan dan penurunan kadar gula darah dari nilai normal kadar gula darah sewaktu >> 200mg/dl atau kadar gula darah puasa >> 120 mg/dl, yang berlangsung secara akut maupun kronis. Diabetes dapat terjadi pada siapa saja, tetapi kondisi ini lebih sering dialami oleh lansia. Pada lansia mengalami perubahan fisik dan biologis sehingga kinerja fungsi setiap organ menurun. Kepatuhan lansia menjalankan diet DM adalah bagaimana lansia mengatur makanannya yang dikenal dengan 3J yaitu jumlah kalori yang dibutuhkan, jadwal makanan yang harus diikuti, dan jenis makanan yang harus diperhatikan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan sikap dengan kepatuhan diet DM pada lansia. Metode: Desain penelitian Cross Sectional. Metode sampling yang digunakan adalah Total Sampling. Sampel yang diambil 40 responden yaitu Lansia penderita Diabetes Melitus di Posyandu Lansia Desa Pagerwojo RW 06 Buduran Sidoarjo, pada bulan oktober minggu ke 4. Data penelitian ini diambil menggunakan kuesioner. Setelah ditabulasi data yang ada dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kemaknaan 0.05, p value = 0.000 ( < 0.05 ) menunjukan ada hubungan sikap dan kepatuhan diet DM pada lansia. Hasil: Didapatkan 30 orang (75%) memiliki sikap kurang dan kepatuhan diet kategori tidak patuh, sehingga saran bagi tempat penelitian ini sebaiknya diadakan penyuluhan diet DM secara berkala. Simpulan: Sikap penderita DM sebagian besar kategori kurang. Kepatuhan diet penderita DM  sebagian besar kategori tidak patuh. Terdapat hubungan antara sikap dengan kepatuhan diet DM pada lansia. Kata Kunci: Diet Diabetes Melitus; Kepatuhan; Lanjut Usia; Sikap.
Mindful parenting sebagai pendekatan untuk mengatasi work-family conflict pada ibu bekerja Dewi, Rini Liana; Riady, Muhammad Antos; Sari, Putri Puspita; Hanifah, Rulia
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1126

Abstract

Background: Working mothers face challenges in juggling their dual roles as employees and primary caregivers at home, which often leads to work-family conflict. This conflict is exacerbated by feelings of guilt for not being able to fully accompany their children, as well as concerns about the quality of substitute care. Purpose: To examine the relationship between mindful parenting and work-family conflict among working mothers who leave their children in childcare, in order to determine the extent to which mindful parenting can contribute to reducing conflict between work and family demands. Method: The approach used in this study was quantitative with a correlational design involving working mothers who left their children in Aceh. The instruments used were the Mindful Parenting Questionnaire and the Work-Family Conflict Scale.Results: Pearson's correlation test showed no significant relationship between mindful parenting and work-family conflict, indicating that mindful parenting is not the only factor that influences the role conflict of working mothers.Conclusion: These findings open up opportunities to explore other factors that contribute to work-family conflict. Keyword: Mindful Parenting; Working Mother; Work-Family Conflict. Pendahuluan: Ibu bekerja menghadapi tantangan dalam menjalani peran ganda sebagai pekerja dan pengasuh utama anak di rumah yang kerap menimbulkan work-family conflict. Konflik ini diperburuk oleh perasaan bersalah karena tidak dapat mendampingi anak secara penuh, serta kekhawatiran terhadap kualitas pengasuhan pengganti. Tujuan: Untuk mengkaji hubungan antara mindful parenting dan work-family conflict pada ibu bekerja yang menitipkan anak, guna mengetahui sejauh mana kesadaran penuh dalam pengasuhan dapat berkontribusi dalam menurunkan konflik antara tuntutan pekerjaan dan keluarga. Metode: Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan korelasional dengan partisipan ibu bekerja yang menitipkan anak di Aceh. Instrumen yang digunakan adalah Mindful Parenting Questionnaire dan Work-Family Conflict Scale. Hasil: Uji korelasi Pearson menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara mindful parenting dan work-family conflict yang mengindikasikan bahwa mindful parenting bukan satu-satunya factor yang memengaruhi konflik peran ibu bekerja.Simpulan: Temuan ini membuka peluang untuk menelusuri factor-faktor lain yang berkontribusi terhadap work-family conflict. Kata Kunci: Ibu Bekerja; Mindful Parenting; Work-Family Conflict.
Profil kesehatan mental mahasiswa psikologi ditinjau dari gender dan tendensi gangguan mental Aidina, Wenny; Riady, Muhammad Antos; Mirza, Mirza
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1171

Abstract

Background: Psychology students are a group that is vulnerable to emotional and psychological stress, both due to academic burden and expectations of future professional roles. More frequent exposure to various mental health issues can contribute to students’ psychological problems. The constant influx of information can overwhelm students and make it difficult for them to cope. Purpose: To identify the mental health profile of psychology students in terms of gender and describe the tendencies of mental disorders that appear in each gender. Method: This comparative quantitative study involved 70 psychology students. Data collection was carried out using Woodworth's Questionnaire instrument. Data were analyzed using an Independent Samples T-Test to examine differences in scores based on gender, along with descriptive statistics. Results: The analysis results showed a significant difference in mental health scores between male and female students (p = 0.045), with women scoring higher. The most prominent tendency of mental disorders in women was tendency of schizophrenia (35.9%), followed by impulsivity, emotional expression, and obsession. Meanwhile, in men, the issues that emerge are impulsivity, emotional instability, and schizophrenic tendencies, although in much lower proportions. Conclusion: There is a statistically significant difference between the mental health scores of male and female students. Keywords: Gender; Mental Health; Psychology Students; Tendency of Mental Disorders.   Pendahuluan: Mahasiswa psikologi merupakan kelompok yang rawan mengalami tekanan emosional dan psikologis, baik karena beban akademik maupun ekspektasi terhadap peran profesional di masa depan. Paparan yang lebih sering pada beragam isu Kesehatan mental dapat berkontribusi pada masalah psikologis mahasiswa. Masuknya informasi yang terus-menerus dapat membuat mahasiswa kewalahan dan kesulitan mengatasinya. Tujuan: Untuk mengidentifikasi profil kesehatan mental mahasiswa psikologi ditinjau dari jenis kelamin serta mendeskripsikan kecenderungan gangguan mental yang muncul pada masing-masing gender. Metode: Penelitian kuantitatif komperatif ini melibatkan 70 mahasiswa psikologi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrument Woodworth’s Quesionnaire. Data dianalisis menggunakan Independent Samples T-Test untuk melihat perbedaan skor berdasarkan gender dan analisis deksriptif. Hasil: Analisis menunjukkan perbedaan signifikan antara skor kesehatan mental mahasiswa laki-laki dan perempuan (p = 0.045), di mana perempuan menunjukkan skor yang lebih tinggi. Tendensi gangguan mental yang paling menonjol pada perempuan adalah tendensi schizophrenia (35.9%), diikuti oleh impulsivitas, ekspresi emosi, dan obsesi. Sementara pada laki-laki, isu yang muncul adalah impulsivitas, ketidakstabilan emosi, dan tendensi schizophrenia, meskipun dalam proporsi yang jauh lebih rendah. Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara skor kesehatan mental mahasiswa laki-laki dan perempuan. Kata Kunci: Gender; Kesehatan Mental; Mahasiswa Psikologi; Tendensi Gangguan Mental.
Asosiasi antara tingkat aktivitas fisik dan psychological distress pada remaja Mohammad Fikri; Rina Tri Agustini; Nur Rohmah; Annisa Nurrachmawati; Lies Permana; Agustin Putri Rahayu; Alma Feriyanti
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1177

Abstract

Background: Adolescents is a vulnerable age group susceptible to mental health issues, particularly psychological distress, which includes symptoms of depression and anxiety. While physical activity is known to benefit mental health, its direct relationship with psychological distress in adolescents has shown inconsistent findings. Purpose: To analyze the relationship between physical activity levels and psychological distress in adolescents. Method: A cross-sectional design, involving 386 students from three high schools in East Kalimantan. Data were collected using questionnaires, adopting the Kessler Psychological distress Scale (K10) and the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Results: The majority of respondents (88.6%) were categorized as having high physical activity. Analysis revealed no significant association between physical activity levels and psychological distress (p = 0.802; OR = 1.141; 95% CI: 0.609–2.140). However, these results indicated a non-significant trend towards an increased risk of distress in the low physical activity group. Conclusion: No significant association was found between physical activity levels and psychological distress in adolescents. Nevertheless, a notable proportion of adolescents with low physical activity remains, warranting attention. Interventions to promote physical activity are still important. Keyword: Adolescents; Physical Activity; Psychological Distress. Pendahuluan: Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap gangguan kesehatan mental, terutama psychological distress, yang mencakup gejala depresi dan kecemasan. Aktivitas fisik diketahui memberikan manfaat terhadap kesehatan mental, namun hubungan langsungnya dengan psychological distress pada remaja masih belum konsisten. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan psychological distress pada remaja. Metode: Desain cross-sectional dengan melibatkan 386 siswa dari tiga SMA di Kalimantan Timur. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengadopsi Kessler Psychological distress Scale (K10) dan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Hasil: Sebagian besar responden (88.6%) tergolong memiliki aktivitas fisik tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan psychological distress (p = 0.802; OR = 1.141; CI 95%: 0.609–2.140). Namun, hasil ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan risiko distress pada kelompok dengan aktivitas rendah, meskipun tidak signifikan secara statistik. Simpulan:Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dan psychological distress pada remaja. Meskipun demikian, masih terdapat proporsi remaja dengan aktivitas fisik rendah yang perlu menjadi perhatian. Intervensi peningkatan aktivitas fisik tetap penting untuk menunjang kesehatan mental remaja secara umum. Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Psychological Distress; Remaja.
Relationship between psychosocial and consumption patterns among high school adolescents in the national capital city buffer area Rahayu, Agustin Putri; Rohmah, Nur; Nurrachmawati, Annisa; Permana, Lies; Agustini, Rina Tri; Fikri, Mohammad; Feriyanti, Alma
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1181

Abstract

Background: Inappropriate consumption patterns among adolescents increase chronic disease risk later in life, potentially influenced by psychosocial factors. This study analyzed relationships between psychosocial factors and consumption patterns among high school students in the NCC buffer area. Purpose: To examine the relationship between psychosocial and consumption in high school adolescents in NCC buffer area Method: Using a cross-sectional design, 386 high school students were selected through proportional random sampling. Data collection employed the Kessler questionnaire for psychological distress, and questionnaires measuring family and peer support, family mental health influence, school support, and consumption patterns. Chi-square tests analyzed bivariate relationships with significance at p < 0.05. Results: Results showed no significant relationships between consumption patterns and psychological distress (p = 0.798), family and peer support (p = 0.887), family mental health influence (p = 0.951), or school support (p = 0.301). Conclusion: The study concluded that psychosocial factors do not significantly impact consumption patterns among high school adolescents in the NCC buffer area. Despite non-significant findings, this research provides important baseline data on adolescent consumption patterns in this strategic buffer area and suggests investigating other factors that may influence consumption behavior in this population.   Keyword: Adolescents; Consumption Patterns; Family Mental Health; Psychological Distres; Social Support.

Page 1 of 2 | Total Record : 15