cover
Contact Name
Normaidah
Contact Email
normaidah@ulm.ac.id
Phone
+6285248257718
Journal Mail Official
jpmp@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani Km. 36 Banjarbaru 70714 Indonesia
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
ISSN : 30315778     EISSN : 3025129X     DOI : https://doi.org/10.20527/jpmp
Core Subject : Health, Science,
Focus Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea aims to provide a forum for researchers in the field of health sciences to publish original articles originating from community service activities. Scope The scope of the Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea includes health sciences. This journal displays the results of research-based community engagement such as Participatory Action Research (PAR), Asset-Based Community Development (ABCD), Community-Based Research (CBR), Service Learning, Community Development, and other related methodologies. Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea accepts article submissions from all over the world.
Articles 78 Documents
Promosi Kesehatan tentang DAGUSIBU Menggunakan Media Cetak Leaflet di Apotek Alnoor Farma Kapuas Humaira Salwa Syafitri; Zulfa Mahmudah; Normaidah Normaidah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 4, No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v4i2.17995

Abstract

Permasalahan penggunaan obat yang tidak tepat masih banyak ditemukan di masyarakat, terutama terkait kesalahan penggunaan, penyimpanan, dan pembuangan obat yang berpotensi menimbulkan risiko terhadap keselamatan pasien. Kegiatan promosi kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan obat yang benar melalui edukasi konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang). Metode yang digunakan adalah promosi kesehatan secara langsung dengan menggunakan media cetak leaflet. Evaluasi dilakukan melalui pemberian kuesioner pretest dan posttest kepada 20 responden di Apotek Alnoor Farma Kapuas. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata tingkat pengetahuan responden dari 69% sebelum edukasi menjadi 95% setelah edukasi dengan peningkatan sebesar 26%. Hasil ini menunjukkan kecenderungan peningkatan pengetahuan pasien melalui promosi kesehatan berupa edukasi kefarmasian terkait pengelolaan dan penggunaan obat yang aman dan rasional.  Kata Kunci: Pengelolaan Obat, Perilaku Penggunaan Obat, Edukasi Kefarmasian, Keselamatan Pasien, DAGUSIBU The problem of inappropriate drug use is still widely found in the community, especially related to errors in the use, storage, and disposal of drugs, which have the potential to pose risks to patient safety. This health promotion activity aims to increase public knowledge of proper drug management by educating on the DAGUSIBU concept (Get, Use, Store, and Dispose). The method used is direct health promotion using printed leaflets. Evaluation was conducted by administering pretest and posttest questionnaires to 20 respondents at the Alnoor Farma Kapuas Pharmacy. The evaluation results showed an increase in the average level of knowledge among respondents from 69% before education to 95% after education, representing a 26% increase. These results indicate a tendency to increase patient knowledge through health promotion in the form of pharmaceutical education related to the safe and rational management and use of drugs.
Efektivitas Sosialisasi Madihin Dalam Pemulihan Kesehatan Mental Anak Pasca Banjir Di Tanjung Karang, Karang Baru, Aceh Tamiang Rahimah Rahimah; Zakwan Zakwan; Pada Mulia Raja; Rafael Remit Winardi; Mahyunis Mahyunis; Aida Farida; Abu Yazid
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 4, No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v4i2.18167

Abstract

Banjir yang terjadi di wilayah Tanjung Karang, Karang Baru, Aceh Tamiang memberikan dampak psikologis yang signifikan terhadap anak-anak, termasuk stres, kecemasan, dan kesulitan dalam mengendalikan emosi. Pengabdian ini mengkaji efektivitas sosialisasi madihin sebagai pendekatan spiritual dan edukatif dalam pemulihan mental dan peningkatan kesabaran anak pasca banjir. Metode yang diterapkan berupa kegiatan sosialisasi madihin secara terstruktur, penyampaian nilai-nilai kesabaran, dan pendampingan emosional bersama kelompok sasaran anak-anak korban banjir. Hasil menunjukkan adanya peningkatan ketenangan, interaksi sosial positif, dan sikap sabar pada anak-anak setelah pelaksanaan kegiatan. Temuan ini menunjukkan bahwa sosialisasi madihin efektif sebagai pendekatan pemulihan mental anak pasca bencana. Kata Kunci: Psikologi, Shalawatan, Trauma, Nasihat, Budaya  The floods that occurred in the Tanjung Karang, Karang Baru, Aceh Tamiang areas had a significant psychological impact on children, including stress, anxiety, and difficulty controlling their emotions. This study examined the effectiveness of madihin socialization as a spiritual and educational approach in mental recovery and increasing patience in children after the floods. The methods applied included structured madihin socialization activities, the teaching of values of patience, and emotional support for the target group of children affected by the floods. The results showed an increase in calmness, positive social interaction, and patience in children after the activities were carried out. These findings indicate that madihin socialization is effective as an approach to the mental recovery of children after a disaster.
Penyuluhan Kesehatan tentang Pencegahan Penyakit Tipes (DemamTifoid)diPuskesmas Cempaka Kota Banjarmasin Zulfa Mahmudah; Nurul Mardiati; Muhammad Juanda
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 4, No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v4i2.18197

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kota Banjarmasin, khususnya pada wilayah dengan kondisi sanitasi lingkungan yang kurang optimal. Puskesmas Cempaka Banjarmasin mencatat adanya kasus demam enterik setiap bulan dengan kecenderungan peningkatan pada tahun 2025. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penyebab, gejala, cara penularan, serta upaya pencegahan demam tifoid. Metode yang digunakan adalah penyuluhan kesehatan dengan metode ceramah dan media leaflet. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pretest dan posttest terhadap 10 responden sebelum dan  sesudah penyuluhan. Kegiatan dilaksanakan di ruang tunggu Puskesmas Cempaka Kota Banjarmasin sebelum pelayanan kesehatan dimulai. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata- rata pengetahuan responden dari 80% pada pretest menjadi 97% pada posttest atau mengalami peningkatan sebesar 17%. Hasil ini menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan dengan metode ceramah dan media leaflet efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan demam tifoid. Diharapkan kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat  meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penyebab, gejala, cara penularan, serta upaya pencegahan demam tifoid. Kata Kunci: Promosi Kesehatan, Penyakit Menular, Higiene, Sanitasi, Demam Typhoid fever mains a public health problemin Banjarmasin City, particularly in areas with sub optimal environmental sanitation. Cempaka Community Health Center in Banjarmasin records cases of enteric fever each month, with a tendency to increase by 2025. This community service activity aims to increase public knowledge of the causes, symptoms, transmission routes, and prevention measures for typhoid fever. The technique used was health education using lecture and leaflet. Evaluation was carried out using pretest and posttest questionnaires with 10 respondents before and after the education. The activity was conducted in the waiting room of the Cempaka Community Health Center in Banjarmasin City, before health services began. The evaluation results showed an increase in respondent average knowledge from 80% in the pretest to 97% in the posttest, a 17% increase. These results indicate that health education using lecture and leaflet is effective in increasing public knowledge about typhoid fever prevention. It is hoped that this increased knowledge will encourage the adoption of clean, healthy living behaviors (PHBS) in daily life to reduce the risk of typhoid fever transmission. 
Implementasi Program “Apoteker Cilik (APOCIL)” sebagai Upaya Peningkatan Literasi Obat pada Siswa SD Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Satrio Wibowo Rahmatullah; Muhammad Ikhwan Rizki; Liling Triyasmono; Hema Novita Rendati; Nazhipah Isnani; Herningtyas Nautika Lingga
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 4, No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v4i2.18630

Abstract

Literasi obat pada anak usia sekolah dasar masih tergolong rendah, sehingga dibutuhkan intervensi edukasi yang menarik dan sesuai perkembangan usia. Program Apoteker Cilik (APOCIL) merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa sekolah dasar mengenai obat-obatan secara benar dan bertanggung jawab. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 24 Oktober 2025 di SD Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Banjarbaru, melibatkan 16 orang siswa-siswi kelas 3 Thalhah bin Ubaidillah. Metode yang digunakan meliputi penyampaian materi interaktif, sesi kuis, dan praktik meracik serta membungkus puyer. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan profesi apoteker, pengertian dan bentuk sediaan obat, penggolongan obat berdasarkan logo, serta aturan penggunaan obat yang aman bagi anak. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa siswa mampu menjawab pertanyaan kuis dengan baik dan antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Program APOCIL menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam hal pemahaman siswa pasca intervensi, dengan rata-rata jawaban benar sebesar 87,5%. Kata Kunci: Apoteker Cilik, Literasi, Obat, Sediaan Farmasi, Sekolah Dasar Drug literacy among primary school-age children remains low, necessitating engaging and developmentally appropriate educational interventions. The Little Pharmacist (APOCIL) program is a community service activity designed to improve elementary school students' knowledge and understanding of medications responsibly. This activity was conducted on Friday, October 24, 2025, at SD Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Banjarbaru, involving third-grade students from class Thalhah bin Ubaidillah. The methods used included interactive material delivery, a quiz session, and practical compounding and wrapping of powder medicine (puyer). Topics covered included introduction to the pharmacist profession, definition and dosage forms of medicines, drug classification by logo, and safe medication use rules for children. Evaluation results showed that students answered quiz questions well and enthusiastically participated in all activities. The APOCIL program showed promising results in terms of student understanding post-intervention, with an average correct answer rate of 87.5%.
Peningkatan Pengetahuan Siswa tentang Penggunaan Obat yang Tepat melalui Program Edukasi DAGUSIBU di SMA Negeri 5 Samarinda Ralitza Diva Salsabilla; Nurvidya Sistha Azzahra; Hifdzur Rashif Rija’i
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 4, No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v4i2.16913

Abstract

Penggunaan obat yang tidak tepat masih menjadi permasalahan di masyarakat, terutama di kalangan remaja yang memiliki akses mudah terhadap obat bebas. Kurangnya pengetahuan terkait cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat (DAGUSIBU) berpotensi menimbulkan kesalahan penggunaan serta risiko kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan edukasi sejak dini untuk meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai penggunaan obat yang tepat. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa SMA Negeri 5 Samarinda tentang DAGUSIBU melalui program edukasi. Metode pelaksanaan meliputi kegiatan penyuluhan kesehatan dengan tiga tahap, yaitu pre-test, penyampaian materi melalui presentasi dan leaflet, serta post-test. Sebanyak 31 siswa kelas X-10 berpartisipasi dalam kegiatan ini. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata dari 65,16 pada pre-test menjadi 90,96 pada post-test, dengan peningkatan persentase jawaban benar pada seluruh aspek. Analisis kategori pengetahuan juga memperlihatkan peningkatan pengetahuan dari kategori “cukup” (41,94%) menjadi “sangat baik” (61,29%). Edukasi DAGUSIBU terbukti efektif meningkatkan pemahaman siswa mengenai pengelolaan obat yang benar. Kesimpulannya, Pemberian edukasi kesehatan berbasis sekolah berperan penting dalam membentuk perilaku yang tepat terhadap penggunaan obat sejak usia remaja. Kata Kunci: Pengetahuan Obat, Pengelolaan Obat, Promosi Kesehatan, Siswa, SMA Inappropriate use of medicines remains a concern in society, particularly among adolescents with easy access to over-the-counter drugs. Lack of knowledge regarding how to obtain, use, store, and dispose of medicines (DAGUSIBU) can lead to misuse and health risks. Therefore, early education is essential to enhance the younger generation’s understanding of rational medicine use. This study aimed to improve the knowledge of students at SMA Negeri 5 Samarinda about DAGUSIBU through an educational program. The method involved a health education activity with three stages: pre-test, material delivery via presentations and leaflets, and post-test. A total of 31 students from class X-10 participated in this activity. Evaluation results showed an increase in the average score from 65.16 in the pre-test to 90.96 in the post-test, with an increase in the percentage of correct answers across all aspects. Knowledge category analysis also indicated a significant shift from the “sufficient” category (41.94%) to “very good” (61.29%). The DAGUSIBU education program proved effective in enhancing students’ understanding of proper medicine management. In conclusion, school-based health education interventions play a crucial role in fostering rational medicine use behavior from adolescence.
Edukasi ”Kenali Skincare Aman dari Kemasan” pada Ibu-Ibu di Puskesmas Sungai Ulin Naura Azmira; Henny Maryani; Risa Susanti; Yuniarti Suryatinah; Hema Novita Rendati; Lukman Mahdi; Novia Fahrina Purnama Sari
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 4, No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v4i2.18810

Abstract

Perawatan kulit (skincare) telah menjadi bagian penting dari gaya hidup masyarakat, terutama di kalangan perempuan. Peningkatan tren ini mendorong tingginya penggunaan produk skincare di berbagai lapisan masyarakat. Namun, hal tersebut belum diimbangi dengan pemahaman terkait keamanan produk, sehingga berisiko terhadap penggunaan skincare ilegal. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu-ibu di lingkungan Puskesmas Sungai Ulin, mengenai pemilihan skincare aman berdasarkan kemasan. Edukasi dilakukan melalui ceramah interaktif menggunakan media leaflet dan banner kepada 24 ibu-ibu di Puskesmas Sungai Ulin. Pengukuran pengetahuan dilakukan menggunakan kuesioner pretest dan posttest. Hasil menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata dari 82,92% menjadi 99,17% dengan peningkatan sebesar 19,60%. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta terkait skincare aman. Dengan demikian, kegiatan edukasi kesehatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat menjadi lebih kritis dan selektif dalam memilih produk skincare yang aman. Kata Kunci: Edukasi Kesehatan, Perawatan Kulit, Keamanan Produk, Kemasan Skincare, Puskesmas Skincare has become an important part of people’s lifestyles, especially among women. This growing trend has led to increased use of skincare products across various segments of society. However, this increase has not been accompanied by adequate understanding of product safety, thereby increasing the risk of using illegal skincare products. This activity aims to increase the knowledge of women in the Sungai Ulin Community Health Center regarding the selection of safe skincare products based on packaging. Education was delivered through interactive lectures, accompanied by leaflets and banners to 24 women at the Sungai Ulin Community Health Center. Knowledge measurements were conducted using pretest and posttest questionnaires. The results showed an increase in the average score from 82.92% to 99.17%, with an improvement of 19.60%. This indicates that the educational intervention was effective in enhancing participants’ understanding of safe skincare. Therefore, this health education activity is expected to encourage the community to become more critical and selective in choosing safe skincare products.
Peningkatan Pengetahuan Mahasiswa Non-Kesehatan tentang GERD melalui Penyuluhan Berbasis Leaflet Shafa Alifia Nurjihan; Difa Intannia; Valentina Meta Srikartika; Dina Rahmawanty; Noor Cahaya; Yuniva Yomaris Sinaga; Debora Eka Asih; Renara Christia Talyeta Leyen; Salamah Sabina Balqis; Aulia Rahmah; Anneliese Yasmin Cesaria; David Luis Rajaurung Sembiring; Muhammad Rifki
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 4, No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v4i2.19281

Abstract

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan gangguan pencernaan yang prevalensinya terus meningkat dan kini menjangkau sekitar 20% populasi dunia, termasuk kalangan mahasiswa yang rentan akibat tekanan akademik, pola makan tidak teratur, dan kebiasaan tidak sehat. Mahasiswa non-kesehatan umumnya memiliki keterbatasan pengetahuan tentang gejala, pencegahan, dan penatalaksanaan GERD yang tepat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan mahasiswa non-kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengenai GERD melalui penyuluhan berbasis leaflet edukatif yang memuat pesan pencegahan GERD (MEGA) dan penanganan awal (REDA) melalui kegiatan konseling kelompok kecil dan individual. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 26 Mei 2026 di Gedung I FMIPA ULM Banjarbaru, melibatkan 27 mahasiswa dari berbagai program studi non-kesehatan. Metode evaluasi menggunakan pretest dan posttest berupa 9 soal pilihan ganda. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan dari rerata pretest 41,97% menjadi 97,53% pada posttest, dengan peningkatan sebesar 55,55%. Seluruh pertanyaan menunjukkan kenaikan persentase jawaban benar lebih dari 50%. Leaflet terbukti efektif sebagai media edukasi yang mampu menyampaikan informasi tentang gejala, faktor risiko, pencegahan (jargon MEGA), penanganan darurat (jargon REDA), dan penggunaan obat rasional secara komprehensif. Kegiatan penyuluhan kesehatan berbasis leaflet efektif meningkatkan pengetahuan mahasiswa non-kesehatan tentang GERD. Kata Kunci: Gastroesophageal Reflux Disease, Leaflet, Mahasiswa, Promosi Kesehatan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) is a digestive disorder with increasing prevalence affecting approximately 20% of the global population, including university students who are particularly vulnerable due to academic pressure, irregular eating habits, and unhealthy lifestyles. Non-health science students generally have limited knowledge regarding GERD symptoms, prevention, and appropriate management. This community service activity aims to increase the knowledge of non-health science students at Lambung Mangkurat University (ULM) regarding GERD through educational outreach using informational leaflets that convey messages on GERD prevention and initial management via small-group and individual counseling sessions. The activity was conducted on May 26, 2026, at Building I of FMIPA ULM Banjarbaru, involving 27 students from various non-health science programs. Evaluation employed a 9-item multiple-choice pretest and posttest. Results demonstrated an improvement knowledge, from a pretest mean of 41.97% to a posttest mean of 97.53%, representing an increase of 55.55%. All questions showed an improvement in correct answer rates exceeding 50%. The leaflet proved effective as an educational medium delivering comprehensive information on symptoms, risk factors, prevention (MEGA acronym), emergency management (REDA acronym), and rational medication use. Leaflet-based health education is effective in improving non-health science students' knowledge of GERD.
Edukasi Beyond Use Date (BUD) Obat untuk Meningkatkan Literasi Penggunaan Obat di Wilayah Kerja Puskesmas Perumnas Nurramadhani A. Sida; Rifa’atul Mahmudah; Rifa’atus Shalihah; Henny Kasmawati; Sabarudin Sabarudin; Hasnawati Hasnawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 4, No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v4i2.18836

Abstract

Pengetahuan mengenai BUD masyarakat sangat perlu untuk diketahui masyarakat untuk mencegah kesalahan dalam penggunaan obat dan menjamin tercapaianya efek terapi yang diharapkan. Berdasarkan hasil pengamatan awal mengenai pengenalan dan pemberian informasi terkait BUD di lingkungan puskesmas Perumnas, hingga kini belum pernah dilakukan. Hal ini sangat rentan dengan kurangnya pemahaman sehingga berpotensi menyebabkan penggunaan obat yang sudah tidak stabil atau tidak efektif, sehingga dapat berdampak negatif terhadap hasil terapi. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini yaitu untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai BUD obat  masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Perumnas. Metode pelaksanaan secara ceramah dan menggunakan media leaflet dan power point. Peserta Adalah pasien posyandu lansia sebanyak 35 orang. Pretest dan posttest dilakukan diawal dan diakhir, dan ditampilkan secara deskriptif. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat secara nyata. Rata-rata persentase jawaban benar mengalami peningkatan dari 45% sebelum penyuluhan menjadi 85% setelah kegiatan berlangsung. Peningkatan ini terlihat pada seluruh indikator pengetahuan, terutama dalam hal pemahaman batas waktu penggunaan obat setelah kemasan dibuka, keamanan obat setelah melewati BUD, serta cara penyimpanan obat yang tepat. Kesimpulan pendekatan edukasiyang dilakukan khususnya dengan dukungan media edukasi efektif membantu masyarakat dalam memahami penggunaan obat yang lebih aman dan rasional dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci : Ceramah, Edukasi, Leaflet, Puskesmas Perumnas, BUD Knowledge of Beyond Use Date (BUD) is important for the community to prevent medication-use errors and to ensure the achievement of the expected therapeutic effects. Based on preliminary observations, education and information regarding BUD have never been provided in the Perumnas Public Health Center area. This condition may lead to limited community understanding and potentially result in the use of medicines that are no longer stable or effective, which can negatively affect therapeutic outcomes. This community service activity aimed to improve community understanding of medicine BUD among residents in the working area of Perumnas Public Health Center. The activity was conducted through lectures using leaflets and PowerPoint presentations as educational media. The participants were 35 elderly posyandu patients. Pre-test and post-test assessments were conducted at the beginning and at the end of the activity, and the results were presented descriptively. The evaluation results showed that the education provided was able to substantially improve community understanding. The average percentage of correct answers increased from 45% before the education session to 85% after the activity. This improvement was observed across all knowledge indicators, particularly in understanding the time limit for medicine use after the package has been opened, the safety of medicines after exceeding the BUD, and proper medicine storage practices. In conclusion, the educational approach, particularly with the support of educational media, was effective in helping the community understand safer and more rational medicine use in daily life.