cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
idea.jurnalisiyogyakarta@gmail.com
Editorial Address
Komplek Kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis Km. 6,5 Kotak Pos 1210, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55001
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IDEA: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : 14116472     EISSN : -     DOI : -
IDEA draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of the performing arts. It acts as a forum for critical study, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be domain-specific (e.g., dance, music, theatre, puppets, karawitan, ethnomusicology, culture and arts) or situated at the convergence of two or more disciplines. The journal invites original, significant, and rigorous inquiry into all subjects within or across disciplines related to the performing arts. It encourages debate and cross-disciplinary exchange across a broad range of approaches. The spectrum of topics includes Ethnomusicology, Karawitan, Music, Music Education, Dance, Theatre, Puppet, and Arts education.
Articles 186 Documents
Analisis Komparatif Pengalaman Emosional Anak TK Terhadap Gerak Aktivitas Musikal Nurdjati, Aliandi Kemal Pasha; Bramantyo, Triyono; Oktadus, Henry Yuda
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12319

Abstract

The conducted research is a qualitative study with a focus on comparative analysis. This research employs a qualitative research method with a descriptive approach. The study involves students from classes Sadewa B and Sadewa C, totaling 31 students with differing age ranges. Sadewa B comprises students aged 5-7 years, while Sadewa C comprises students aged 4-5 years. Additionally, the research includes interviews with students, class teachers, and the school principal. Data collection methods encompass participatory observation, interviews, relevant literature review, and video recordings. The research findings indicate that musical and movement activities generally provide positive emotional experiences for children, despite variations in individual emotional expressions. Influencing factors include differences in cognitive and emotional developmental stages between the two class groups, varying language abilities, diverse social experiences, and individual personality factors. This study aims to analyze how musical activities accompanied by movement can deeply influence the emotional experiences of TK children at Hanacaraka Edukids Montessori School. It seeks to identify differences in the emotional experiences of children in Sadewa B and SadewaC regarding movement activities with music at TK Hanacaraka Edukids Montessori School and understand the factors that potentially contribute to the differences in emotional experiences in classes Sadewa B and Sadewa C at TK Hanacaraka EdukidsMontessori School.
22 Hari dalam Lipatan Api: Adaptasi Novel Anak Bajang Menggiring Angin Karya Sindhunata Puti Ilalang Sunyi; Philipus N. H Wibowo; Surya Farid Sathotho
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

22 Hari dalam Lipatan Api merupakan naskah drama yang diadaptasi dari novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata. Penciptaan naskah drama 22 Hari dalam Lipatan Api menggunakan teori adaptasi yang dikemukakan oleh Linda Hutcheon (2006) dan metode penciptaan kreatif yang digagas oleh Graham Wallas. Penciptaan naskah dalam tugas akhir ini menggunakan teknik montase dengan menghadirkan jukstaposisi peristiwa, dialog, gambar, musik, bunyi, dan citra-citra visual dalam satu kesatuan dramatik. Teknik montase dibayangkan dapat menghasilkan beragam idiom yang tidak bertumpu pada dialog dan mengabaikan cerita yang linear. Hasilnya berupa naskah adaptasi dengan latar tahun 1965 pada masa pembantaian massal anggota dan partisipan PKI. Pengisahan naskah menempatkan Cokrodarso sebagai tokoh utama yang diadaptasi dari tokoh Rahwana. Cokrodarso merupakan gembong Lekra di bawah naungan PKI yang menjadikan wayang orang sebagai alat propaganda politik. Dirinya mencari pemeran Dewi Sinta hingga bertemulah dengan Wening. Cokrodarso jatuh cinta pada Wening yang telah bertunangan dan bertekad menjadikannya pemeran Dewi Sinta. Cinta tulus Cokrodarso tanpa etika moral berakhir dengan kehancuran dirinya sendiri. Penciptaan naskah drama 22 Hari dalam Lipatan Api bertujuan untuk menghasilkan karya baru dan pembacaan baru dalam proses adaptasi.           22 Days in the Fire’s Foldfrom the Novel of Herding the Wind by Sindhunata: An Adaptation 22 Days in the Fire’s Fold is a drama script adapted from the novel Herding the Wind by Sindhunata. This script was written using an adaptation theory proposed by Linda Hutcheon (2006) and the Graham Wallas’ method of creative creation. The montage technique was used in the writing of the script for this final project to portray a juxtaposition of events, dialogues, pictures, music, sounds, and visual images in a unified dramatic unit. The montage technique is expected to be able to generate a range of idioms that are not based on dialogue and ignore the chronological storyline. The result would be a story set in 1965, during the violent attacks by PKI activists. In this script, Cokrodarso portrays the lead role in the adaptation of Ravana. Lekra was led by Cokrodarso, who used wayang orang as a means of political propaganda. Until he met Wening, he was looking for the role of Dewi Sinta. Wening, who was engaged, caught Cokrodarso's attention, and he was eager to have her play as Dewi Sinta. Sincere love without morals and ethics causes Cokrodarso to lose himself. 
Peran Musical Group Interaction dalam Mereduksi Kecemasan (Studi Kasus Marskanskey String Quartet) Mawarni, Aghisna Indah; Djohan, Djohan; Raharjo, Rahmat
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10465

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang memengaruhi kecemasan pemain string quartet saat memainkan karya music bertempo lambat, aspek tempo lambat yang menimbulkan kecemasan pada pemain string quartet, dan mengidentifikasi teknik untuk mengurangi tingkat kecemasan pada pemain string quartet. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Musical Group Interaction (MGI) dan Music Performance Anxiety (MPA). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan menggunakan repertoar bertempo lambat karya Borodin dengan judul String Quartet No. 2 in D:  Nocturne. Data wawancara dikumpulkan dari nara sumber yang terdiri dari masing-masing anggota Marskanskey String Quartet. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatkan kecemasan lebih disebabkan oleh kesiapan materi atau karya bertempo lambat yang akan dimainkan, kurangnya jam terbang (pengalaman) , dan situasi saat berada di atas panggung sebagai faktor pemicu utama. Selain itu, karya tempo lambat khususnya untuk string quartet cenderung menimbulkan kecemasan bagi sebagian pemain karena harus memiliki kecakapan untuk menunjukkan karakter atau reinterpretasi, melodi, tempo yang mengalir, harmoni, intonasi, teknik penjarian tangan kanan-kiri, ketepatan tempo, dan ritme yang beragam. Kesimpulannya adalah bahwa diperlukan strategi dalam mereduksi kecemasan pemain string quartet saat memainkan lagu bertempo lambat yaitu dengan mempersiapkan materi secara baik, melepaskan rasa cemas dengan gerakan atau gesture tubuh, dan menjalin komunikasi dan interaksi kelompok yang baik. Dalam artian selalu memberikan afirmasi positif saat sebelum pertunjukan, pertunjukan, dan setelah pertunjukan.
Implementasi Kurikulum Merdeka Dalam Pembelajaran Seni Musik: Studi Kasus di SMP Negeri 3 Kebumen Nensin, Ilham Ramadan; Nainggolan, Oriana Tio Parahita; Artanto, Mei
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10019

Abstract

Kurikulum Merdeka digunakan sebagai kurikulum pembelajaran di SMP Negeri 3 Kebumen pada tahun ajaran 2022/2023 secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Seni Musik kelas VII di SMP Negeri 3 Kebumen. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengamati adanya fenomena penerapan Kurikulum Merdeka di SMP Negeri 3 Kebumen sebagai kurikulum pembelajaran Seni Musik, menggunakan triangulasi sebagai teknik pengumpulan data. Data yang terkumpul dianalisis melalui konsep Kurikulum Merdeka dan teori belajar konstruktivisme. Merujuk pada hasil analisis dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Seni Musik kelas VII di SMP Negeri 3 Kebumen terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Pada tahap persiapan, guru mengikuti workshop untuk mendapatkan pemahaman mengenai Kurikulum Merdeka dan mempersiapkan perangkat ajar yang akan digunakan. Pada tahap pelaksanaan, guru dan siswa menjalankan pembelajaran yang mengacu pada rencana pembelajaran dalam modul ajar, dengan mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Pada tahap evaluasi, satuan pendidikan dan pendidik melaksanakan penilaian untuk kinerja guru, penilaian proses pembelajaran melalui asesmen formatif untuk mengamati keefektifan pembelajaran, problem yang dialami siswa, progres belajar siswa, dan penilaian hasil pembelajaran melalui asesmen sumatif secara serentak pada tengah dan akhir semester.Kata kunci: Implementasi; Kurikulum Merdeka; Pembelajaran Seni Musik; SMP Negeri 3 KebumenImplementation of the “Kurikulum Merdeka” in Music Arts Learning: A Case Study at SMP Negeri 3 KebumenThe “Kurikulum Merdeka” is used as a learning curriculum at SMP Negeri 3 Kebumen in the 2022/2023 school year independently. This study aims to analyze the process of implementing “Kurikulum Merdeka” in learning Music Arts grade VII at SMP Negeri 3 Kebumen. The type of research used is qualitative with a case study approach to observe the phenomenon of implementing the “Kurikulum Merdeka” at SMP Negeri 3 Kebumen as a Music Arts learning curriculum, using triangulation as a data collection technique. The collected data was analyzed through the concept of “Kurikulum Merdeka” and constructivism learning theory. Referring to the results of the analysis in this study, it shows that the application of the Independent Curriculum in learning Music Arts grade VII at SMP Negeri 3 Kebumen is divided into three parts, namely the preparation stage, the implementation stage, and the evaluation stage. In the preparation stage, teachers attend workshops to gain an understanding of the “Kurikulum Merdeka” and prepare teaching tools to be used. At the implementation stage, teachers and students carry out learning that refers to the learning plan in the teaching module, by encouraging students to be active in learning. At the evaluation stage, education units and educators carry out assessments for teacher performance, assessment of the learning process through formative assessment to observe learning effectiveness, problems experienced by students, student learning progress, and assessment of learning outcomes through summative assessments simultaneously in the middle and end of the semester.
Keroncong “In Nine”: Integrasi Sistem Serial pada Sistem Tonal Keroncong Rifal Taufani; Ovan Bagus Jatmika; Kardi Laksono
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menerapkan prosedur serial dua belas nada dari Arnold Schonberg pada gaya musik tonal dalam idiom keroncong. Langkah yang dilakukan adalah dengan menciptakan karya komposisi berjudul “In Nine”. Tujuan dari penciptaan karya ini untuk mengetahui apakah kesan keroncong tetap terjaga meskipun melodi disusun dari prosedur dua belas nada dengan tidak menghilangkan tonalitas keroncong itu sendiri. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan prosedur serial dua belas nada bisa dilakukan pada musik keroncong tanpa mengilangkan kesan idiom dasarnya.Kata Kunci: Keroncong; Musik Serial; Atonal; TonalKeroncong “In Nine”: Serial System Integration on the Keroncong Tonal SystemABSTRACTThis study aims to apply Arnold Schonberg's twelve-tone serial procedure to tonal musical styles in keroncong idioms. The step taken is to create a composition entitled “In Nine”. The purpose of creating this work is to find out whether the impression of keroncong is maintained even though the melody is composed of a twelve-tone procedure without eliminating the tonality of the keroncong itself. The results show that the application of the twelve tone serial procedure can be performed on keroncong music without losing the impression of the basic idiom.Keyword: Keroncong; Serial Musik; Atonality; Tonality
Penerapan Harmoni Extended Dalam Aransemen Piano Jazz Pada Lagu Rungkad Karya Vicky Prasetyo Azmi, Tsabitul; Adriaan, Josias T; Sanjaya, R.M. Singgih
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12068

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai penerapan harmoni extended dalam aransemen piano jazz pada lagu Rungkad karya Vicky Prasetyo. Penelitian ini bertujuan untuk membantu musisi terutama pianis agar memiliki wawasan baru dalam hal pemahaman serta kemampuan mengenai teknik harmoni extended dengan menerapkannya ke dalam contoh lagu dengan pola ritme dangdut yang diaransemen menjadi bossanova. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, teknik yang digunakan adalah harmoni extended. Proses untuk meneliti mengenai penerapan harmoni extended dalam aransemen piano jazz pada lagu Rungkad ini dengan mengumpulkan berbagai jurnal, diskografi data yang ingin diteliti dan berbagai buku jazz. Teknik eksplorasi yang ingin diteliti dengan mencoba berbagai nada-nada hingga menemukan nada yang tepat, agar suara yang dihasilkan terdengar selaras. Hasil penelitian mengenai teknik harmoni extended menunjuk pada susunan akor dasar yang berisi 3 nada ditambah nada lain yang diambil dari nada ke 7, 9, 11 atau 13 disesuaikan dengan prinsip keselarasannya menjadi suatu lagu yang berbeda yang disebut extended chord. Konsep harmoni extended ini bisa menjadi gambaran sekaligus acuan bagi para musisi pada saat membuat lagu, agar lagu yang ingin dihasilkan terdengar lebih kaya dan tidak monoton. Berbagai masalah teknis dapat dikuasai melalui pemahaman akan berbagai pengetahuan teoritis musik menyangkut struktur akor, progresi akor, serta latihan secara konsisten.kata kunci: teknik, harmoni extended, Rungkad This research discusses the application of extended harmony in jazz piano arrangement on the song Rungkad by Vicky Prasetyo. This research aims to help musicians, especially pianists, to have new insights in terms of understanding and abilities regarding extended harmony techniques by applying them to song examples with dangdut rhythm patterns arranged into bossanova. This research uses qualitative methods, the technique used is extended harmony, the process of researching the application of extended harmony in the jazz piano arrangement of the song Rungkad is by collecting various journals, discography of the data to be researched, and various jazz books. Exploratory techniques to be researched by trying out various tones until you find the right notes, so that the sound produced sounds is aligned. The results of research on extended harmony techniques point to the arrangement of basic chords containing 3 notes plus other notes taken from the 7th, 9th, 11th, or 13th notes adjusted to the principle of harmony into a different song called an extended chord. This concept can be a picture as well as a reference for musicians when making songs so that the songs they want to produce sound richer and not monotonous. Various technical issues can be mastered through an understanding of various music-theoretical knowledge regarding chord structures, chord progressions, and consistent practice.keywords: technique, extended harmony, Rungkad
Perancangan Naskah Wayang Beber Lakon Kamandaka Fujidiana Ignaningrattu; Ign. Krisna Nuryanta Putra; Hanggar Budi Prasetya; Retno Dwi Intarti; Hariyanto Hariyanto
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ringkasan Penelitian ini merupakan naskah wayang beber  lakon Kamandaka. Wayang ini merupakan alih wahana cerita rakyat Lutung Kasarung kedalam wayang beber. Teori alih wahana digunakan untuk mewujudkan alih wahana cerita rakyat Lutung Kasarung ke dalam bentuk pertunjukan wayang beber. Berdasarkan teori ini berhasil dibuat naskah pertunjukan untuk pertunjukan karya beber tiga gulungan beber. Kata Kunci: Wayang Beber Priangan; Kamandaka; Banyak Catra.  Abstract. The purpose of this research is to make script for Kamandaka story of Wayang Beber. This design of wayang is a transformation from Lutung Kasarung folklór into wayang beber. The creator has used ‘alih wahana theory’. This theory was used to create and transform Lutung Kasarung folklór into wayang beber. As with the final result, the creator could make script for 3 rolls of wayang beber for Kamandaka story. Keywords: Wayang Beber Priangan; Kamandaka; Banyak Catra.
PERAN SYMMETRICAL SCALE DALAM TEKNIK BERIMPROVISASI PIANO JAZZ Hansel Turnip, Jordan Filbert; Adriaan, Josias Tuwondai; Setiarini, Agnes Tika
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10292

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses penerapan improvisasi vokal scat singing dalam lagu daerah Batak Karo Mbiring Manggis untuk mengembangkan interpretasi vokal dalam lagu tersebut. Pada umumnya scat singing jarang ditemui dalam aransemen musik tradisional khususnya lagu daerah Karo. Namun, pada zaman modern ini sudah banyak musisi muda yang menggabungkan dan mengolaborasikan lagu daerah dengan gaya musik jazz guna menciptakan gaya dan warna musik baru. Penulis berharap dalam hubungan scat singing dengan interpretasi vokal dalam penelitian ini dapat menciptakan alternatif gaya aransemen baru dalam musik daerah Karo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kasus dalam penelitian ini adalah bagian scat singing pada lagu Mbiring Manggis. Hasil dari penelitian ini, penerapan scat singing mendukung interpretasi yang mendalam sehingga pesan dari lagu mengenai kebahagiaan dan keceriaan tersampaikan dengan baik. Scat singing diterapkan dengan penyesuaian-penyesuaian, sehingga tidak merusak karakteristik utama dalam lagu Mbiring Manggis.
Analisis Koreografi Tari Jathil Obyog Di Kabupaten Ponorogo Halimah, Nur; Supriyanti, Supriyanti; Astuti, Budi
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10644

Abstract

Karya Tari Jathil Obyog merupakan tari tradisional kerakyatan yang merakyat karena tumbuh dan berkembang dalam lingkungan masyarakat umum atau rakyat yang dalam pertunjukannya dilakukan di tengah-tengah masyarakat dan terdapat interaksi antara penampil dengan penonton. Jathil adalah pasukan prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam seni Reog Ponorogo yang ditunjukkan oleh para penari yang menunggangi kuda bambu atau biasa disebut eblek. Penelitian ini menggunakan pendekatan koreografi (koreografi bentuk-teknik-isi) oleh Y. Sumandiyo Hadi. Secara teknik gerak-gerak dalam Tari Jathil Obyog disajikan dalam bentuk sederhana, dengan adanya repetisi atau pengulangan motif. Pengolahan aspek ruang dan waktu dalam tarian ini sangat bervariasi mulai dari permainan level, tempo, ritme, dan durasi. Secara isi Tari Jathil Obyog ini menceritakan tentang pasukan prajurit berkuda yang sedang berlatih perang di atas kuda. Pola tari keprajuritan terinspirasi dari prajurit berkuda yang dapat dilihat pada sikap gerak, posisi tangan, dan posisi badannya.Kata Kunci: Analisis Koreografi, Jathil Obyog, Kabupaten PonorogoAnalysis of Jathil Obyog Dance Choreography in Ponorogo RegencyJathil Obyog Dance is a popular folk tradition performed amidst the community, showcasing the interaction between performers and the audience. The dance features equestrian warriors known as Jathil, a significant character in the Reog Ponorogo art form, with dancers riding bamboo horses called eblek. This research by Y. Sumandiyo Hadi explores the choreographic aspects, presenting simple movements with repetitive motifs. The dance incorporates variations in spatial and temporal elements, depicting the training of mounted warriors through gestures, hand positions, and body postures. Understanding Jathil Obyog Dance contributes to the preservation and appreciation of cultural heritage.Keyworsd: Choreography Analysis, Jathil Obyog, Ponorogo Regency 
“Masa-masa” Komposisi Musik berdasarkan Autobiografi Dalam Format Ansambel Campuran Hananta, Arya Putra; Laksono, Kardi; Sutaryo, Haris Natanael
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10356

Abstract

“Masa-masa” adalah karya musik program naratif yang terinspirasi dari autobiografi. Beberapa pengalaman yang terkenang menjadi ide ekstramusikal dalam pembuatan karya musik ini. Komposisi musik ini dibuat melalui beberapa proses penciptaan yaitu perenungan autobiografi, observasi karya referensi dan instrumen, penetapan konsep, penggarapan detail, dan penulisan notasi. Karya musik ini dibuat dengan menggunakan format ansambel campuran yang terdiri dari double quartet strings, combo, dan beberapa instrumen tiup. Terdapat empat gerakan dalam karya musik ini yang memiliki latar suasana yang berbeda. Latar suasana dari keempat gerakan didukung dengan unsur musikal ambient dan leitmotif sebagai media untuk merepresentasikan pengalaman dari autobiografi.Kata kunci: Autobiografi, Musik Program Naratif, Leitmotif, Ambient“Masa-masa” is a narrative program music inspired by autobiography. Several memorable experiences are the extramusical ideas in this piece of music. This musical composition was created through several creative processes, such as contemplate of autobiography, observing several music works as the refrences and observing each of the instruments, concepts setting, detailing the musical elements, and notations writing. This piece of music is composed with the mixed ensemble formation consisting of a double string quartet, combo, and several wind instruments. There are four movements in this piece of music which have different backgrounds and story. The mood of the four movements is supported by the ambient as the one of the musical element and leitmotifs to represent the experiences of the autobiography.Keywords: Autobiography, Narrative Program Music, Leitmotif, Ambient

Page 11 of 19 | Total Record : 186