cover
Contact Name
Andriyana
Contact Email
andriyana03@gmail.com
Phone
+6282121616969
Journal Mail Official
journal.anafora@uniku.ac.id
Editorial Address
RT. 027 RW. 007 Desa Cengal Kecamatan Japara
Location
Kab. kuningan,
Jawa barat
INDONESIA
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Published by Universitas Kuningan
ISSN : -     EISSN : 28073991     DOI : https://doi.org/10.25134/ajpm
Core Subject : Education, Social,
Ruang lingkup penelitian artikel yang dapat diterbitkan di Jurnal Fon antara lain : (1) Kebahasaan Indonesia; keilmuan bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, wacana, pragmatik, sosiolinguistik, psikolinguistik); keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, menulis); (2) Kesastraan Indonesia (teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra, sastra bandingan, ekranasi, sosiologi sastra); (3) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (perencanaan pembelajaran, strategi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, kurikulum, bahan ajar, dan media pembelajaran). Kami terbuka menerima naskah dari para penulis dengan mengikuti ketentuan yang ada dalam fokus dan lingkup, etika publikasi, petunjuk penulisan, proses review, dan template jurnal yang harus diikuti oleh penulis.
Articles 90 Documents
ANALISIS SINTAKSIS JUDUL BERITA KRIMINAL DETIK.COM: KAJIAN TERHADAP KALIMAT TAK LENGKAP Anna Patricia Fernanda; Tira Amaliah Pratiwi; Andriyana
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.328

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pola fungsi kalimat dalam dua puluh judul berita kriminal dari media daring Detik.com edisi Januari hingga Mei 2025. Fokus penelitian ini adalah mengklasifikasikan jenis kalimat berdasarkan kelengkapan unsur sintaksis, yaitu kalimat lengkap dan kalimat tidak lengkap (eliptis). Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik analisis agih yang mengacu pada unsur-unsur sintaksis internal seperti subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari dua puluh judul berita yang dianalisis, sepuluh judul tergolong kalimat lengkap yang memiliki struktur SPOK secara eksplisit, dan sepuluh lainnya merupakan kalimat eliptis yang mengalami penghilangan unsur, tetapi tetap komunikatif. Temuan ini menunjukkan bahwa gaya bahasa jurnalistik dalam penulisan judul berita kriminal cenderung mengutamakan efektivitas dan efisiensi tanpa mengurangi kejelasan makna. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam kajian sintaksis serta bahan ajar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. KATA KUNCI: berita daring; sintaksis; kalimat lengkap; kalimat tidak lengkap. > SYNTACTIC ANALYSIS OF CRIME NEWS HEADLINES ON DETIK.COM: A FOCUS ON ELLIPTICAL SENTENCES ABSTRACT: This study aims to identify and analyze sentence function patterns in twenty crime news headlines from the online media Detik.com, published between January and May 2025. The research focuses on classifying sentence types based on syntactic completeness, specifically distinguishing between complete and elliptical sentences. A descriptive qualitative approach was employed, using distributional analysis techniques that examine internal syntactic elements such as subject, predicate, object, complement, and adverbial. The results show that ten of the headlines are complete sentences with explicit SPOC structure, while the other ten are elliptical sentences that omit one or more elements but remain communicative. These findings indicate that the journalistic language style in crime news headlines prioritizes effectiveness and brevity without compromising meaning clarity. This research is expected to serve as a reference in syntactic studies and as learning material for Indonesian language education. KEYWORDS: online news; syntax; complete sentence; elliptical sentence.
BENTUK PERSUASIF LAGU-LAGU KRITIK EKOLOGI TEATER JALANAN UNIVERSITAS KUNINGAN DI RUANG PUBLIK Hidayat, Arip; Andriyana; Kautsar, Tifani; Adani, Khalid Naufal; Ramadona, Dea Cahaya
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.329

Abstract

ABSTRAK: Artikel ini membahas bentuk-bentuk persuasif dalam lagu-lagu kritik ekologi yang dibawakan oleh Teater Jalanan Universitas Kuningan (UNIKU) pada pertunjukan publik, khususnya dalam karya “Air Untuk Anak Cucu”. Melalui analisis konten, retorika, dan konteks performatif, penelitian ini menyoroti bagaimana lirik berirama, simbolisme teatrikal, dan penggunaan ruang publik menjadi strategi advokasi lingkungan yang efektif. Teater Jalanan UNIKU mengangkat isu krisis air, tata ruang, serta kerusakan ekologi melalui bahasa lugas, metafora kuat, visual teatrikal, dan interaksi langsung dengan masyarakat. Temuan menunjukkan bahwa lagu-lagu dan chant bersifat persuasif karena mampu menghadirkan pesan ekologis kompleks dalam format yang mudah diingat dan mudah diterima oleh publik yang beragam. Artikel ini menegaskan bahwa seni pertunjukan jalanan berperan sebagai media pendidikan lingkungan yang signifikan dan menjadi jembatan komunikasi antara isu ekologis dan partisipasi masyarakat. KATA KUNCI: Teater jalanan; kritik ekologi; komunikasi persuasif; ruang publik; performativitas; lagu protes; ekokritik. > PERSUASIVE FORMS OF ECOLOGICAL CRITICISM SONGS OF STREET THEATER OF KUNINGAN UNIVERSITY IN PUBLIC SPACES ABSTRACT: This article discusses the persuasive forms in ecological criticism songs performed by the Street Theater of the University of Kuningan (UNIKU) in public performances, especially in the work "Water for Children and Grandchildren". Through an analysis of content, rhetoric, and performative context, this study highlights how rhythmic lyrics, theatrical symbolism, and the use of public space become effective environmental advocacy strategies. UNIKU Street Theater raises the issue of water crisis, spatial planning, and ecological damage through straightforward language, strong metaphors, theatrical visuals, and direct interaction with the community. The findings show that songs and chants are persuasive because they are able to present complex ecological messages in a format that is memorable and easily accepted by a diverse public. This article confirms that street performing arts play a significant role as a medium of environmental education and become a bridge of communication between ecological issues and community participation. KEYWORDS: Street theater; ecological criticism; persuasive communication; public spaces; performativeness; protest songs; Ecocriticism.
EGO DAN SHADOW TOKOH UTAMA DALAM NOVEL AKU TAK MEMBENCI HUJAN KARYA SRI PUJI HARTINI (PERSPEKTIF PSIKOLOGI JUNGIAN) Eka Putri Febrianty Halimah Hs; Idhoofiyatul Fatin; R. Panji Hermoyo
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i2.290

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini memaparkan tentang dinamika kepribadian tokoh utama dalam novel Aku Tak Membenci Hujan karya Sri Puji Hartini yang terbit pada tahun 2023. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis perkembangan karakter Karang dan Agha melalui perspektif psikologi, khususnya mengenai bagaimana pengalaman hidup membentuk pola pikir, perasaan, dan tindakan mereka. Dengan menggunakan metode kualitatif serta pendekatan deskriptif-interpretatif, hasil penelitian ini berupa pemaparan dan penafsiran mendalam terhadap teks novel. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca dan catat terhadap sumber data primer. Berdasarkan analisis, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, tokoh Karang digambarkan sebagai representasi aspek ego yang penuh dengan kesabaran, keikhlasan, dan tanggung jawab di tengah tekanan hidup. Kedua, munculnya tokoh Agha merupakan manifestasi dari sisi lain atau shadow yang menyimpan trauma, luka masa lalu, dan emosi yang tertekan. Ketiga, terdapat faktor-faktor signifikan yang memengaruhi perubahan kepribadian tokoh utama, yaitu faktor keluarga dan faktor lingkungan. Ketidakadilan serta kepahitan yang menimpa keluarga menjadi pemicu utama munculnya sisi gelap dan perubahan drastis dalam diri tokoh. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup dan konflik batin yang dialami tokoh sangat menentukan mereka dalam memilih langkah untuk bertahan hidup. KATA KUNCI: Aku Tak Membenci Hujan; ego; Jungian; psikologi analitik; shadow >  THE EGO AND SHADOW OF THE MAIN CHARACTER IN SRI PUJI HARTINI'S NOVEL AKU TAK MEMBENCI HUJAN: A JUNGIAN PSYCHOLOGICAL PERSPECTIVE   ABSTRACT: This study examines the personality dynamics of the main characters in the novel Aku Tak Membenci Hujan by Sri Puji Hartini, published in 2023. The primary focus of this research is to analyze the character development of Karang and Agha from a psychological perspective, particularly regarding how life experiences shape their thoughts, emotions, and behaviors. Employing a qualitative method with a descriptive-interpretative approach, this study presents in-depth descriptions and interpretations of the novel's text. The data were collected through reading and note-taking techniques using the novel as the primary data source. The findings reveal several important points. First, the character of Karang is portrayed as a representation of the ego aspect, characterized by patience, sincerity, and responsibility amid life's pressures. Second, the emergence of Agha represents the manifestation of the shadow self, embodying trauma, painful past experiences, and repressed emotions. Third, there are significant factors influencing the personality changes of the main character, namely family and environmental factors. The injustice and hardships experienced by the family serve as the primary triggers for the emergence of the character’s darker side and the drastic transformation of their personality. This study demonstrates that life experiences and internal conflicts play a crucial role in shaping the characters' decisions and strategies for survival. KEYWORDS: Aku Tak Membenci Hujan; analytical psychology; ego; Jungian; shadow
ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES ATAS LAGU “DI AKHIR PERANG” NADIN AMIZAH Dela Ayu Puspita; Aditya Ansor Alsunah; Lina Siti Nurwahidah; Cecep Dudung Julianto
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i2.296

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini mengkaji makna yang terkandung dalam lirik lagu Di Akhir Perang karya Nadin Amizah dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Analisis semiotika Roland Barthes dalam penelitian ini menitikberatkan pada tiga tataran pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam lirik lagu tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif interpretatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumentasi. Data penelitian diperoleh dari lirik lagu serta sumber pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna denotatif dalam lagu ini menggambarkan kondisi pascakonflik, makna konotatif merepresentasikan konflik batin dan luka emosional dalam hubungan interpersonal, sedangkan makna mitos membangun pemahaman budaya bahwa cinta dipersepsikansebagai perjuangan emosional yang sarat dengan pengorbanan dan penderitaan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian semiotika terhadap karya musik populer Indonesia. KATA KUNCI: lirik lagu; semiotika Roland Barthes; denotasi; konotasi; mitos >  ROLAND BARTHES’ SEMIOTIC ANALYSIS OF NADIN AMIZAH’S SONG “Di Akhir Perang”   ABSTRACT: This study examines the meaning contained in the lyrics of the song "Di Akhir Perang" by Nadin Amizah using Roland Barthes' semiotic theory. Roland Barthes' semiotic analysis in this study focuses on three levels of meaning: denotation, connotation, and myth, contained in the song's lyrics. The research method used is qualitative interpretative with data collection techniques in the form of documentation studies. The research data were obtained from the song's lyrics and relevant literature sources. The results show that the denotative meaning in this song depicts post-conflict conditions, the connotative meaning represents inner conflict and emotional wounds in interpersonal relationships, while the mythical meaning builds a cultural understanding that love is perceived as an emotional struggle filled with sacrifice and suffering. This research is expected to contribute to the semiotic study of Indonesian popular music. KEYWORDS: song lyrics; Roland Barthes` semiotics; denotation; connotation; myth
CAMPUR KODE PADA PROSES PEMBELAJARAN BAHASA SUNDA DI KELAS X SMAN 1 BEBER (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK): (Kajian Sosiolinguistik) Nandi Sanusi Muhamad Idris; Nunuy Nurjanah; Temmy Widyastuti
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i2.314

Abstract

ABSTRAK: Kemampuan Bahasa yang bilingual dan multilingual menyebabkan terjadinya campur kode. Campur kode sering terjadi pada komunikasi, utamanya komunikasi pada saat pembelajaran di kelas pada guru dan siswa. Pada penelitian ini membahas campur kode yang terjadi dalam komunikasi pada saat pembelajaran basa Sunda di kelas X SMA Negeri 1 Beber. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengambilan data digunakan Teknik triangulasi (gabungan) yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil pada penelitian ini ditemukan 244 data bentuk campur kode yang dibagi menjadi tiga yaitu, 224 bentuk campur kode ke dalam, 7 bentuk campur kode ke luar, dan 13 campur kode campuran. Berdasarkan wujud campur ditemukan sebanyak 319 unsur yang dibagi menjadi enam yaitu, 127 unsur wujud kata, 120 unsur wujud frasa, 10 wujud baster, 38 wujud klausa, 1 wujud idiom, dan 23 wujud kata ulang. Selanjutnya mengenai faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode pada proses pembelajaran, berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan siswa ditemukan enam faktor pemyebabnya diantaranya yaitu, 1) faktor latar belakang bahasa yang di pakai di lingkungan keluarga, 2) faktor kebiasaan, 3) faktor pengaruh media sosial, 4) faktor kemampuan siswa ketika menggunakan Bahasa, 5) faktor bahasa yang bersifat multilingual, dan 6) faktor kebutuhan dalam pembelajaran. KATA KUNCI: campur kode; bentuk; wujud; factor yang mempengaruhi >  MIXED-CODE INSTRUCTION IN SUNDANESE LANGUAGE LEARNING IN GRADE 10 AT SMAN 1 BEBER (A SOCIOLINGUISTIC STUDY)   ABSTRACT: Bilingual and multilingual language skills lead to code mixing. Code mixing often occurs in communication, especially communication during classroom learning between teachers and students. In this study, we discuss the mixing of codes that occur in communication during learning Sundanese language in class X of SMA Negeri 1 Beber. In this study, a qualitative method with a descriptive approach was used. The data collection technique was used triangulation (combined) techniques, namely observation, interviews, and documentation. The results of this study found 244 mixed code form data which was divided into three, namely, 224 inward mixed code forms, 7 outward mixed code forms, and 13 mixed code mixed forms. Based on the mixed form, it was found that there were 319 elements divided into six, namely, 127 elements of word forms, 120 elements of phrase forms, 10 forms of baster, 38 forms of clauses, 1 form of idioms, and 23 forms of repetitions. Furthermore, regarding the factors that affect the occurrence of code mixing in the learning process, based on the results of interviews with teachers and students, six factors were found, namely, 1) the language background factor used in the family environment, 2) habit factor, 3) the influence factor of social media, 4) the ability factor of students when using the language, 5) the multilingual language factor, and 6) the factors of need in learning. KEYWORDS: mix code; shape; exist; influencing factors  
KETIDAKLANGSUNGAN EKSPRESI DAN PEMAKNAAN HERMENEUTIK DALAM NARASI PENGIRING TARI KELING PONOROGO: ketidaklangsungan ekspresi Nuril Hidayah; Raras Hafiidha Sari
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i2.318

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk ketidaklangsungan ekspresi serta pemaknaan dalam narasi pengiring Tari Keling Ponorogo dengan menggunakan pendekatan semiotika Michael Riffaterre. Data penelitian berupa teks narasi pengiring Tari Keling dan hasil wawancara dengan informan yang telah memahami kesenian tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi pengiring Tari Keling mengandung bentuk ketidaklangsungan ekspresi yang meliputi penggantian makna (displacing), penyimpangan makna (distorting), dan penciptaan makna (creating of meaning). Ketiga bentuk tersebut menunjukkan bahwa makna dalam narasi tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui sistem tanda yang memerlukan proses penafsiran. Selain itu, melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik, ditemukan bahwa makna dalam narasi tidak hanya bersifat literal, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kehidupan, kepercayaan, dan budaya masyarakat yang berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat setempat. Dengan demikian, narasi pengiring Tari Keling tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari pertunjukan, tetapi juga sebagai media yang merepresentasikan sistem makna yang hidup dan diwariskan dalam masyarakat. KATA KUNCI: ketidaklangsungan ekspresi; Riffeterre; semiotika; Tari Keling >  INDIRECT EXPRESSION AND HERMENEUTIC MEANING IN THE NARRATIVE ACCOMPANIMENT OF KELING DANCE   ABSTRACT: This study aims to examine the forms of indirect expression and meaning construction in the narrative of the Keling Dance accompaniment in Ponorogo using Michael Riffaterre’s semiotic approach. The data consist of the narrative text of the Keling Dance accompaniment and interview results with informants who are familiar with the performance. This research employs a qualitative method with a descriptive approach. The findings reveal that the narrative contains forms of indirect expression, including displacing, distorting, and creating of meaning. These forms indicate that meaning is not conveyed directly, but through a system of signs that requires interpretation. Furthermore, through heuristic and hermeneutic readings, it is found that the meaning is not only literal but also reflects values of life, belief, and culture within the community that develop in the social life of the local society. Therefore, the narrative of the Keling Dance serves not only as a part of the performance but also as a medium that represents the system of meaning preserved and transmitted within society. KEYWORDS: indirect expression; Riffaterre; semiotics; Keling Dance
NILAI MORAL TOKOH UTAMA FILM 1 KAKAK 7 PONAKAN KARYA YANDY LAURENS Hesa Cita Mulya; Eko Sri Israhayu; Akhmad Fauzan; Mulasih
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i2.319

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kajian nilai moral dalam film sebagai media refleksi kehidupan sosial yang masih belum banyak dikaji melalui pendekatan sosiologi sastra secara terintegrasi dengan teori moral. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menafsirkan nilai moral tokoh utama dalam film melalui perspektif sosiologi sastra dengan kerangka moral Franz Magnis Suseno. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik simak dan catat terhadap dialog serta adegan yang memuat nilai moral. Analisis dilakukan dengan mengelompokkan data ke dalam tujuh aspek moral, yaitu kejujuran, menjadi diri sendiri, tanggung jawab, kemandirian moral, keberanian moral, kerendahan hati, dan sikap kritis. Temuan utama menunjukkan bahwa tokoh utama merepresentasikan moralitas melalui tindakan pengasuhan keluarga, pengambilan keputusan berisiko demi orang lain, kemampuan mempertahankan prinsip, serta refleksi diri yang menunjukkan kedewasaan moral. Nilai tanggung jawab dan keberanian moral muncul sebagai aspek paling dominan karena berkaitan langsung dengan konflik ekonomi, keluarga, dan pekerjaan yang dihadapi tokoh. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa film mampu merepresentasikan moralitas sebagai praktik sosial yang konkret dan relevan dengan realitas kehidupan masyarakat, sehingga pendekatan sosiologi sastra efektif digunakan untuk mengungkap relasi antara karya film dan nilai kehidupan. KATA KUNCI: film; Franz Magnis Suseno; nilai moral; sosiologi sastra; tokoh utama >  MORAL VALUES OF THE MAIN CHARACTER IN 1 KAKAK 7 PONAKAN BY YANDY LAURENS   ABSTRACT: This study motivated by the importance of examining moral values in film as a reflection of social life, which has rarely been explored through an integrated sociology of literature approach and moral theory. The purpose of this study is to describe and interpret the moral values of the main character in a film using the sociology of literature approach and Franz Magnis Suseno’s moral framework. The method employed is descriptive qualitative research using observation and note-taking techniques to collect dialogues and scenes containing moral values. The data were analyzed based on seven moral aspects: honesty, authenticity, responsibility, moral independence, moral courage, humility, and critical attitude. The main findings reveal that the main character represents morality through caregiving responsibilities, risk-taking decisions for others, the ability to uphold personal principles, and self-reflection that indicates moral maturity. Responsibility and moral courage appear as the most dominant aspects due to their close relation to economic, family, and professional conflicts faced by the character. The conclusion confirms that film can represent morality as a concrete social practice closely related to real life, and the sociology of literature approach is effective in revealing the relationship between film and social moral values. KEYWORDS: film; Franz Magnis Suseno; main character; moral values; sociology of literature
DEKONSTRUKSI NARASI PENDIDIKAN DALAM POSTMODERNISME LYOTARD PADA NOVEL KAMI (BUKAN) SARJANA KERTAS anisti nurmarfua; alfiana salsasagita; faradila dwimentari; putrisakinatul sa’adah; rahma hidayahadhani; sabrina az-zahra
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i2.321

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini berangkat dari kajian sastra sebagai representasi kehidupan sosial serta adanya kesenjangan penelitian yang masih jarang membahas kritik terhadap sistem pendidikan dalam perspektif postmodernisme Jean-François Lyotard. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk dekonstruksi narasi besar pendidikan dalam novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas karya J.S. Khairen. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui pembacaan mendalam dan pencatatan kutipan relevan dari teks novel. Analisis data menggunakan teori postmodernisme Lyotard, khususnya konsep penolakan terhadap narasi besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini mendekonstruksi keyakinan bahwa pendidikan tinggi merupakan satu-satunya jalan menuju kesuksesan, serta menampilkan ironi berupa ketimpangan sosial dalam dunia akademik dan parodi terhadap birokrasi kampus. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa makna kesuksesan bersifat plural, tidak tunggal, dan dibentuk oleh berbagai narasi kecil yang menantang kebenaran absolut dalam sistem pendidikan. KATA KUNCI: dekonstruksi; ironi; novel; parodi; pendidikan; postmodernisme >  POSTMODERNISM LYOTARD: DECONSTRUCTION, IRONY, PARODY OF EDUCATIONAL NARRATIVES IN THE NOVEL KAMI (BUKAN) SARJANA KERTAS   ABSTRACT: This study departs from the view that literature reflects social reality and identifies a research gap in previous studies that rarely examine criticism of the education system from Jean-François Lyotard’s postmodern perspective. The aim of this study is to identify forms of deconstruction of the grand narrative of education in Kami (Bukan) Sarjana Kertas by J.S. Khairen. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through in-depth reading and note-taking of relevant textual excerpts from the novel. The data were analyzed using Lyotard’s postmodern theory, particularly the concept of the rejection of grand narratives. The findings show that the novel deconstructs the belief that higher education is the only path to success, presents irony in the form of social inequality in academic life, and uses parody to criticize campus bureaucracy. The study concludes that the meaning of success is plural, non-fixed, and constructed through multiple small narratives that challenge absolute truths in the education system. KEYWORDS: deconstruction; education; irony; novel; parody; postmodernism
MOTIVASI BERPRESTASI TOKOH UTAMA DALAM NOVEL THE LAST STAR KARYA INTAN MULYANI KAITANNYA DENGAN PRASANGKA SOSIAL STUDI PSIKOLOGI SASTRA Difia Wardani; Eko Sri Israhayu; Akhmad Fauzan; Mulasih
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i2.322

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam keterkaitan antara motivasi berprestasi dengan prasangka social yang dialami tokoh utama dalam novel The Last Star karya Intan Muyani. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Sumber data berupa novel The Last Star, sedangkan data penelitian berupa kutipan-kutipan yang mengandung aspek motivasi berprestasi dan prasangka social. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui Teknik baca dan catat, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berprestasi tokoh utama terbentuk melalui dua dimensi utama, yaitu, motivasi intrinsic tampak dalam bentuk, tekad, ketekunan, keberanian menghadapi risiko, serta komitmen tinggi terhadap cita-cita. Sementara itu, motivasi ekstrinsik muncul sebagai respons terhadap tekanan sosial berupa prasangka, diskriminasi dan stereotip negative dari lingkungan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa prasangka social tidak hanya berperan sebagai hambatan psikologis, tetapi juga bertransformasi menjadi faktor pendorong yang memperkuat motivasi berprestasi tokoh utama. Dengan demikian, terdapat hubugan dialektis antara tekanan sosial dan dorongan internal dalam membentuk karakter perjuangan tokoh. KATA KUNCI: motivasi berprestasi; prasangka sosial; psikologi sosial; novel >  ACHIEVEMENT MOTIVATION OF THE MAIN CHARACTERS IN THE NOVEL THE LAST STAR BY INTAN MULYANI IN RELATIONSHIP TO SOCIAL PREJUIDE STUDY OF LITERARY PSYCHOLOGICAL   ABSTRACT: This study aims to examine in depth the relationship between achievement motivation and social prejudice experienced by the main character in the novel The Last Star by Intan Muyani. This study uses a qualitative descriptive method with a literary psychology approach. The data source is the novel The Last Star, while the research data are in the form of quotations containing aspects of achievement motivation and social prejudice. The data collection technique was carried out through reading and note-taking techniques, while the data analysis used the interactive model of Miles and Huberman which includes data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of the study indicate that the main character's achievement motivation is formed through two main dimensions, namely, intrinsic motivation is seen in the form of determination, perseverance, courage to face risks, and a high commitment to ideals. Meanwhile, extrinsic motivation arises as a response to social pressure in the form of prejudice, discrimination and negative stereotypes from the environment. The findings of this study indicate that social prejudice not only acts as a psychological barrier, but also transforms into a driving factor that strengthens the main character's achievement motivation. Thus, there is a dialectical relationship between social pressure and internal drive in shaping the character's struggle. KEYWORDS: achievement motivation; social prejudice; social psychology; novel
RESEPSI PEMBACA TERHADAP CERPEN “KEBERANIAN MANUSIA” KARYA MOTINGGO BUSYE Andini Novelia; Agus Lukmanul Khakim; Cachia Yasa Putri Minda; Melinda Silfaningsih; Wildan Adi Sarifudin; Deny Kurniawan
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i2.323

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini mengkaji resepsi pembaca terhadap cerpen “Keberanian Manusia” karya Motinggo Busye dengan fokus pada pemaknaan tema, tokoh, dan amanat. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya peran pembaca dalam pendekatan resepsi sastra, di mana makna karya tidak hanya ditentukan oleh pengarang, tetapi juga oleh pembaca. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pembaca memahami nilai keberanian dalam cerpen tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui angket yang disebarkan kepada responden. Data dianalisis melalui tahap identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi terhadap tanggapan pembaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 85% pembaca mampu memahami tema, tokoh, dan amanat dengan baik. Tema keberanian dimaknai sebagai ketahanan diri dan kekuatan mental dalam menghadapi situasi sulit. Tokoh utama dipersepsikan sebagai representasi kepolosan anak yang dipengaruhi lingkungan, sedangkan tokoh tambahan memperkuat konflik dan alur cerita. Amanat dalam cerpen dinilai mudah dipahami karena disampaikan secara jelas melalui konflik dan penggunaan bahasa yang sederhana. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemaknaan pembaca bersifat beragam, namun tetap mengarah pada nilai keberanian sebagai sikap pantang menyerah dalam kehidupan. KATA KUNCI: amanat; cerpen; keberanian; pembaca; resepsi sastra> READER RECEPTION OF THE SHORT STORY “KEBERANIAN MANUSIA” BY MOTINGGO BUSYE   ABSTRACT: This study examines reader reception of Motinggo Busye's short story "Human Courage," focusing on the interpretation of the theme, characters, and message. The background of this research is based on the importance of the reader's role in literary reception, where the meaning of the work is determined not only by the author but also by the reader. The purpose of this study is to determine how readers understand the value of courage in the short story. The method used is descriptive qualitative, with data collection using a questionnaire distributed to respondents. Data were analyzed through the stages of identification, classification, and interpretation of reader responses. The results indicate that approximately 85% of readers were able to understand the theme, characters, and message well. The theme of courage is interpreted as resilience and mental strength in facing difficult situations. The main character is perceived as representing the innocence of children influenced by their environment, while supporting characters strengthen the conflict and storyline. The message in the short story is considered easy to understand because it is conveyed clearly through conflict and simple language. The conclusion of this study shows that reader interpretations are diverse, but they all point to the value of courage as an attitude of never giving up in life. KEYWORDS: courage; literary reception; readers; short stories