cover
Contact Name
Suryaning Setyowati
Contact Email
suryaning.setyowati@ums.ac.id
Phone
+6285869463911
Journal Mail Official
suryaning.setyowati@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah lt. 5, Pabelan, Kartasura, Kab. Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
SINEKTIKA: Jurnal Arsitektur
ISSN : 14118912     EISSN : 27146251     DOI : https://www.doi.org/10.23917/sinektika
Core Subject : Art, Engineering,
SINEKTIKA: Jurnal Arsitektur is a scientific journal of the Architecture Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta which focuses on delivering information on the results of scientific research conducted by researchers, especially in the field of architecture. The scientific articles in the scope of pure and applied sciences about architectural science including art & design, history & human behavior, technology, urban planning and the environment. Research results are scientific, critical and comprehensive on important and current issues covered in the field of architecture.
Articles 57 Documents
Revisiting Indonesia New Airport Buildings: towards Building Systems Integration Ridzqo, Intan Findanavy; Dwiyanto, Hermawan Indra
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 1: Januari 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.v21i1.2967

Abstract

Momentum pembangunan infrastruktur biasanya memperlihatkan kemajuan pengetahuan dan teknologi yang diterapkan pada rancangan dan hasil yang terbangun. Pembangunan yang terus dilakukan selama dua dekade terakhir di bidang transportasi, termasuk di dalamnya adalah pembangunan bandara di Indonesia. Strukturnya yang luas membuat bandara ini memerlukan penanganan khusus dalam sistem operasi bangunan, yang membuatnya berbeda dengan jenis bangunan lainnya. Perencanaan yang matang dan terintegrasi dari komponen-komponen bangunan diperlukan agar desain bangunan menjadi efisien dan efektif. Minimnya penelitian di bidang arsitektur dengan objek fungsi bangunan bandar udara membuat penelitian ini diharapkan dapat menjadi tonggak sejarah, dan pembelajaran bagi para perancang untuk dapat melangkah lebih jauh dari praktek yang selama ini dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi sistem utama, subsistem, dan elemen-elemen pembentuknya pada bangunan CGK, KJT, YIA, DPS, BPN, PKY, dan MDC melalui observasi sumber-sumber domain publik, kemudian dianalisis untuk menemukan kemiripan antar bangunan bandar udara. Strategi integrasi yang paling mudah dan umum dilakukan adalah dengan menggabungkan komponen mekanikal atau non-struktural dengan komponen struktural (E-M), sedangkan strategi integrasi yang paling sulit dilakukan adalah dengan menggunakan material struktur yang memiliki banyak peran sekaligus (S-E-M-I).
Pengaruh Ketersediaan Amenitas pada Wisata Malam terhadap Kenyamanan Aksesibilitas Masyarakat Kampung Prawirotaman Kuncoro, Devanda Dana; Pramitasari, Diananta
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.3145

Abstract

Kampung Prawirotaman merupakan salah satu kampung yang dijadikan destinasi wisata di Kota Yogyakarta. Dahulunya Kampung Prawirotaman dikenal sebagai kampung batik. Seiring berjalannya waktu kini dikenal sebagai kampung turis. Berkembangnya kegiatan pariwisata yang berlangsung di Kampung Prawirotaman mengakibatkan meningkatnya pembangunan kegiatan wisata yang semakin didominasi oleh kegiatan wisata malam seperti café, restoran, dan bar yang berada pada koridor jalan sekunder. Pembangunan wisata malam yang tidak diimbangi dengan ketersediaan amenitas menimbulkan beberapa konflik antara pengusaha dan masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan mengetahui kenyamanan masyarakat dari aspek aksesibilitas setelah adanya amenitas khususnya area parkir pada setiap tempat wisata malam yang ada di Kampung Prawirotaman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif eksploratif. Analisis hasil data hasil dari pengisian kuesioner oleh 51 responden menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa hanya 2 dari 16 wisata malam yang memiliki amenitas area parkir memadai, sehingga titik-titik wisata malam masih menimbulkan  ketidaknyamanan dalam aspek aksesibilitas bagi penduduk lokal, yaitu pada indikator kepadatan lalu lintas. Sedangkan pada indikator penggunaan ruas untuk pejalan kaki mayoritas responden masih merasa nyaman. Sebagai tambahan, adanya wisata malam hingga larut malam membuat masyarakat lokal merasa aman. Hal ini disebabkan karena terdapat banyak orang yang beraktivitas pada malam hari. 
Asimilasi dan Akulturasi Arsitektur pada Komunitas Muslim Bali Studi Kasus: Desa Pegayaman dan Desa Kampung Gelgel Nuryanto, Nuryanto; Mokhamad Syaom Barliana; Riskha Mardiana; Kunthi Herma Dwidayati; Fauzi Rahmanullah
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 1: Januari 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.v21i1.3147

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kehadiran Komunitas Muslim di Desa Pegayaman dan Desa Kampung Gelgel Provinsi Bali sejak abad ke-14 yang secara langsung berbaur serta mendapat pengaruh dari budaya Hindu. Dari sinilah terjadi akulturasi dan asimilasi yang menjadi fokus penelitian sebagai bagian dari budaya ber-arsitektur masyarakat kedua desa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fungsi, estetika, dan makna yang terlihat pada akulturasi dan asimilasi, baik pada bangunan ibadah, rumah, maupun fasilitas lainnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan akulturatif, sedangkan proses penelitian dilakukan dengan cara pengukuran objektif berdasarkan observasi artefak arsitektur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akulturasi Islam dan Hindu terlihat pada arsitektur di Desa Pegayaman dan Desa Kampung Gelgel berupa: (1) Mahkota atau mudra sebagai hiasan pada puncak atap yang mempunyai makna kekuasaan serta kewibawaan; (2) Bebaturan atau sendi bermakna sebagai landasan hidup dan kehidupan manusia; (3) Pepatran atau simbar memiliki makna keagungan dan kehormatan. Asimilasi terlihat pada pola permukiman kedua desa: (1) Desa Pegayaman menggunakan ngerebong; (2) Desa Kampung Gelgel menggunakan maputer-puter. Kedua pola ini memiliki ciri khas berupa banyaknya persimpangan atau pertemuan pada setiap ujung jalannya (jalan yang betemu dengan gang). Berdasarkan hal itulah, maka kedua pola itu disebut pola ‘labirin’. Pola ini merupakan pengembangan dari bentuk ‘pempatan agung’ yang ada pada konsep Arsitektur Tradisional Bali. Akulturasi dan asimilasi di Desa Pegayaman dan Desa Kampung Gelgel dipengaruhi oleh konsep menyama braya, nyama slam, serta nyama hindu.
Kajian Ekspresi Budaya Jawa pada Ruang Publik: Studi Kasus Taman Indonesia Kaya Semarang Nafisha, Azzahra Amalia; Firmandhani, Satriya Wahyu
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.3204

Abstract

Budaya sebagai produk olah pikir manusia telah diturunkan secara turun-temurun dalam berbagai wujud. Salah satu penerapan budaya terdapat pada simbol-simbol yang muncul pada suatu objek arsitektur. Simbol-simbol ini mengandung nilai-nilai yang disampaikan kepada generasi penerusnya dengan pengungkapan makna baik secara verbal maupun nonverbal. Kota Semarang sebagai jantung Provinsi Jawa Tengah memiliki intensi dalam pengembangan budaya dalam sebuah elemen lansekap kota, salah satunya adalah Taman Indonesia Kaya. Taman Indonesia Kaya sebagai taman pusat kebudayaan memiliki berbagai elemen penerapan budaya khas Indonesia yang tercermin dari berbagai aspek. Dalam beberapa kurun waktu terakhir, penelitian mengenai kajian ekspresi kebudayaan berfokus pada kompleks bangunan yang berfungsi sebagai pusat kebudayaan. Namun belum ada penelitian yang meneliti tentang ekspresi kebudayaan pada sebuah taman dengan fungsi pusat kebudayaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ekspresi nilai budaya Jawa yang terdapat pada taman dengan fungsi pusat kebudayaan. Metode kualitatif deskriptif digunakan sebagai cara menganalisis ekspresi budaya Jawa terhadap teori ekspresi dasar dalam ruang pusat kebudayaan. Penelitian ini memiliki hasil temuan berupa 7 dari 10 bentuk ekspresi ruang pusat kebudayaan pada Taman Indonesia Kaya memiliki keterkaitan dengan budaya Jawa. Bentuk ekspresi yang memiliki keterkaitan adalah ornamen, warna, aksesibilitas, visibilitas, zonasi horizontal, barrier, dan ruang tanpa sekat.
Developing of Village’s Heritage Tourism Planning Through Integrated of Foodscape and Landscape Architecture at Lahat Regency Prima, Listen; Lussetyowati, Tutur; Adiyanto, Johannes
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.3359

Abstract

The complex potential of villages provides a significant chance for local development. Commonly, the potential is developed as a single sector in each village through a separate program of relevant institutions. Lahat Regency is one of the regencies in South Sumatera Province, which has enormous local potential within the district, both material (natural resources, traditional houses, foods, etc.) and immaterial heritage (history, culture, traditions, etc.). These components of cultural heritage wealth will contribute to regional development and Indonesian identity. Among these districts, the Government of Lahat Regency focuses on Pulau Pinang District, particularly Tanjung Sirih and Lubuk Sepang Villages, as integrated tourism villages. This research aims to establish a development planning model by establishing integrated tourism planning, The integration not only unites two villages, Tanjung Sirih Village and Lubuk Sepang Village, in one location perspective related to their close geographical location, but also programs in local tourism themes based on the dominant potential, Tanjung Sirih with its foodscape and Lubuk Sepang with its landscape. Foodscape is an integration between food, people and environment, while landscape architecture is the human and environmental components. The research used qualitative research methods with local potential analysis and development area modeling; several variations of tools were used, such as literature work, surveys, and discussions. The reasearch output is an input for the tourism village integration in Lahat Regency as a development planning model and the foundation of potential tourism village development programs in Indonesia.
Bambu sebagai Material Berkelanjutan Erba (Earthquake-Resistant Bamboo Architecture) Bhudi, Mattin Kusuma; Nugrahini, Fibria Conytin; Zuraida, Zuraida; Rofi'i, Rofi'i
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.3601

Abstract

Indonesia memiliki kondisi geografis kepulauan dan dilewati oleh kawasan ring of fire, sehingga sering terjadi bencana gempa bumi. Dengan demikian kondisi tersebut memerlukan penerapan rancangan bangunan tahan gempa. Seperti yang diterapkan pada gempa yang terjadi di Lombok Utara. Dengan menerapkan bangunan tahan gempa RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat) dengan material beton pre-fabrikasi. Namun, muncul berbagai persoalan utamanya penolakan rumah dengan sistem tersebut dikarenakan masyarakat memiliki traumatik terhadap bangunan dengan material beton. Berdasarkan  permasalahan tersebut didapati bahwa rumah dengan sistem RISHA dinilai kurang diminati, sehingga masyarakat meminta diberikan dana untuk membangun rumah sendiri menggunakan material lokal. Material lokal yang digunakan ialah bambu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif khususnya menganalisis data hasil observasi, wawancara dan didukung oleh analisis desktiptif dari studi literatur serta metode kuantitatif untuk menguji hasil analisis data kualitatif dengan uji coba material bambu dan struktur bangunan dengan material bambu, untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut. ERBA (Earthquake-Resistant Bamboo Architecture) merupakan sebuah  metode yang dapat diimplementasikan dengan parameter seperti jenis material, standar struktur, kondisi lokasi penelitian dan potensi gempa sehingga mendapatkan hasil yang lebih sesuai dengan kebutuhan yang ada pada lokasi. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah metode rancangan ErBa sebagai solusi kebutuhan rumah tahan gempa yang murah dan mudah.
Analisis Performa Kenyamanan Termal pada Ruang Terbuka (Studi Kasus: Alun-Alun Taman Merdeka Pangkalpinang) Rahmadyani, Helfa; Fahri, Muhammad
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.3738

Abstract

Bertambahnya penduduk pada suatu kota dengan segala aktivitasnya secara tidak langsung akan mempengaruhi tata guna lahan, dimana lahan kosong menjadi semakin berkurang sehingga akan berpengaruh buruk terhadap lingkungan. Mempertahankan area hijau atau ruang terbuka menjadi langkah yang tepat karena area hijau adalah penyeimbang ekosistem yang baik. Kota Pangkalpinang saat ini berada pada fase pengembangan, sehingga belum terlambat jika pemerintah ataupun pihak terkait mengambil langkah dalam merencanakan ruang terbuka yang baik dan nyaman. Di Pangkalpinang, terdapat ruang terbuka, yaitu alun-alun Taman Merdeka. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang bersifat deskriptif. Pada penelitian ini, dilakukan penelitian secara kualitatif untuk menganalisis persepsi pengunjung di Kawasan alun-alun terhadap kenyamanan termal yang dirasakan. Sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengukur kenyamanan termal pada kawasan alun-alun berdasarkan observasi dan pengukuran enam variable di lapangan. Hasil penelitian menyarankan bahwa perencana bisa memaksimalkan strategi kenyamanan termal untuk pengunjung dengan cara memilih vegetasi yang rindang, besar dan tinggi dengan bentuk tajuk yang bulat atau silinder. Memilih vegetasi jenis peneduh di area yang banyak terpapar sinar matahari dan menghindari pemilihan tajuk yang bervariasi di satu titik. Selain itu meletakkan posisi tempat duduk untuk pengunjung di lokasi yang minim terkena paparan sinar matahari panas secara langsung.
Reconciliation of Spatial and Functional Transformation - Lokananta and Rumah Atsiri Adaptive Reuse Saika, Raisa Maranta; Maheswari, Kirana Zhafirah; Agustiananda, Putu Ayu Pramanasari; Sinaga, Bryan Putra Parsada
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.3765

Abstract

Buildings are constructed for a variety of different purposes according to the human activities within them. However, with the changing times, the function of buildings can become out of line with current needs. As a result, some buildings are abandoned, becoming neglected, or even damaged. Adaptive reuse can be one of the strategies to 'revive' abandoned buildings. This strategy is an important process in maintaining historic buildings because it can maintain, repair, replace, change, add to dismantle building elements while still avoiding damage to parts that have important value. This process is influenced by several factors, including the cultural integrity and architectural integrity of the building. Therefore, the purpose of this research is to understand the concept of adaptive reuse, in terms of spatial and functional adjustments based on the cultural and architectural integrity of a building. In this research, two museums, namely Lokananta and Rumah Atsiri became case studies. The research method used is the qualitative comparative method, which is to collect data based on existing data and direct observation such as documentation, interviews, and questionnaires. The results of the data from these two buildings were then analyzed by comparing the buildings before and after adaptive reuse to determine the effect of cultural and architectural integrity on changes in space and building functions.  
Pola Tata Letak Kamar Tidur dan Dapur Rumah Vernakular Bugis Di Kampung Kampiri Hamka, Hamka; Winarni, Sri
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.3790

Abstract

Tata letak ruang rumah vernakular yang ada di wilayah nusantara, umumnya memiliki makna tata atur berdasarkan kepercayaan yang terdapat pada masing-masing wilayah, misalkan membagi tata letak kamar tidur berdasarkan gender laki-laki dan perempuan, kamar khusus untuk pengantin baru, pembagian berdasarkan hirarki, dan aturan yang lainnya. Begitupun yang terdapat pada Rumah Vernakular Bugis yang ada di Kampung Kampiri, Dusun Kajuara, Kabupaten Bone khususnya pada tata letak kamar tidur dan dapur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola tata letak kamar tidur dan dapur dan aspek apa yang berpengaruh didalamnya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan penelitian etnografi dalam arsitektur.  Teknik penelitian etnografi yang digunakan adalah etnografi realis yaitu menguraikan temuan berdasarkan sudut pandang orang ketiga/ narasumber kunci dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi lainnya dilapangan sebagai bahan analisis. Hasil penelitian yang ditemukan adalah tata letak ruang-ruang yang terdapat pada bagian Rumah Vernakular Bugis di Kampung Kampiri terfokus pada ruang kamar tidur dan dapur. Tata letak kamar tidur dan dapur ini ditentukan oleh tata letak dan orientasi rumah bugis pada lingkungan. Rumah yang berorientasi ke barat atau timur, letak kamarnya berada di sebelah selatan atau utara , sedangkan rumah yang menghadap ke utara atau selatan, letak kamar tidurnya berada di sebelah timur atau barat. Posisi dapur umumnya terletak bersebalahan dengan kamar tidur. Tata letak kamar tidur dan dapur dipengaruhi oleh aspek kepercayaan dan aturan tradisi.
Building and Developing a Resilient Community Through Co-Working Space Design: Circular Economy to Circular Space Ramadhan, Try; Rosadiana, Reina Ayulia; Muhammad Rizki, Luthfi; Widyantoro, Rekso Agung; Adiansyah, Muhammad Arif
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.3805

Abstract

In the face of challenges affecting society, such as the Covid-19 pandemic, there are negative impacts on social and economic infrastructure, including the labor sector. The response to community vulnerability to disruption is a critical concern that requires resolution. This design-based research aims to provide insights to create and enhance resilient communities through the design of co-working spaces, grounded in sustainable economic principles. Using an exploratory study, problems were identified, and solutions were generated through SWOT and PESTEL analysis. The proposed solutions, involving programs, control measures, architectural considerations, and financial models, were tested through an economic feasibility test approach. The results show that it is possible to implement a sustainable economy in the design of co-working spaces, depending on support from the government and private sectors. Three key aspects-research and development, socio-economic empowerment, and environmental waste management-were formulated to implement the concept, tailored to the potential in each location, using the Covid-19 situation as an illustrative example for future learning and preparedness.