cover
Contact Name
Suryaning Setyowati
Contact Email
suryaning.setyowati@ums.ac.id
Phone
+6285869463911
Journal Mail Official
suryaning.setyowati@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah lt. 5, Pabelan, Kartasura, Kab. Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
SINEKTIKA: Jurnal Arsitektur
ISSN : 14118912     EISSN : 27146251     DOI : https://www.doi.org/10.23917/sinektika
Core Subject : Art, Engineering,
SINEKTIKA: Jurnal Arsitektur is a scientific journal of the Architecture Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta which focuses on delivering information on the results of scientific research conducted by researchers, especially in the field of architecture. The scientific articles in the scope of pure and applied sciences about architectural science including art & design, history & human behavior, technology, urban planning and the environment. Research results are scientific, critical and comprehensive on important and current issues covered in the field of architecture.
Articles 57 Documents
Workspaces in Transition: Investigating Dwelling Adaptations for Young Professionals Working from Home Ula, Zuhrotul Mawaddatil; Hayati, Arina; Cahyadini, Sarah
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.3878

Abstract

Working from home (WFH) is becoming increasingly common. Technological developments and the COVID-19 pandemic have catalyzed the development of the concept of working from home. This has caused a shift in the meaning of housing from something separate from work to something that must accommodate work activities. A proper place to work in housing then becomes a necessity that cannot always be fulfilled. This research explores how housing accommodates work activities. The study is conducted on how participants negotiate space by using and changing the attributes of the dwelling to create an ideal work setting. Interviews and auto-photography were conducted with young professionals aged 20 to 25 who have experience working from home with varying frequency. The results show that work activities take place in a variety of residential settings. Participants chose their work setting based on the type of work activities performed as well as personal preferences. Some interconnected factors that influence the work setting in the residence are the type of work activity, privacy, attributes, and atmosphere. Participants also intervene in the dwelling by using existing spaces and attributes to form ideal working conditions that meet their needs.
Kajian Kontekstualitas Bentuk Bangunan Di Kawasan Pecinan, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah Firdaus, Lutpi Alfian; Hanifianto, Rifqi; Muhammad, Nurhuda Ali; Purwantiasning, Ari Widyati
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.3921

Abstract

Kontekstual merupakan suatu konsep arsitektur yang mengacu pada sesuatu yang terikat dengan lingkungan sekitarnya. Arsitektur kontekstual menitikberatkan pada penyesuaian konstruksi atau desain suatu bangunan dengan bangunan disekitarnya melalui suatu proses yang dapat merevitalisasi bangunan lama dengan fungsi baru atau yang ada saat ini berdasarkan kondisi sekitar lokasi, sehingga konsep kontekstual terdiri dari tiga unsur yang saling berhubungan: aktivitas, lingkungan, dan visual. Kontekstual sangat bersinergi dengan suatu kawasan, salah satunya kawasan Pecinan Parakan, khususnya dalam hal bentuk bangunannya. Parakan sangat terkenal dengan komunitas Tionghoa dan juga komunitas Peranakan Tionghoa yang hingga saat ini masih menjaga nilai-nilai luhur Tiongkok dan bahasa Tionghoa. Metode pernelitin yang akan digunakan untuk mengkaji arsitektur kontekstual pada bentuk bangunan di kawasan Pecinan, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu dengan cara studi literatur. Untuk mengetahui serta memahami penerapan prinsip arsitektur kontekstual dalam segi bentuk bangunan di pecinan parakan, Temanggung, Jawa tengah. Selain itu ada juga temuan bahwa dari kawasan tersebut memiliki bentuk harmoni dan kontras di lihat dari sudut pandang atap bangunan dan pada elemen bukaan.
Kajian Literatur Sistematis Transformasi Proses Desain Pasar Tradisional yang akan direvitalisasi Utama , Aditya Noor Hadhy; Yuli, Nensi Golda
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.3989

Abstract

Tingkat keberhasilan pasar tradisional yang akan direvitalisasi pada saat konstruksi, saat ini menjadi perhatian pemerintah. Selain adanya kebijakan baru terkait standar bangunan pada pasar tradisional, keberadaannya pun memiliki banyak tantangan baru dalam persaingan dengan pasar modern (Fadjri, 2020). Oleh karena ini proses tahapan transformasi desain pasar tradisional memiliki peranan penting pada tingkat keberhasilan pada saat konstruksi dilaksanakan. Riset ini bertujuan menganalisis tahapan transformasi desain pasar tradisional yang akan direvitalisasi. Fokus dari kajian ini adalah pada perjalanan transformasi proses desainnya, yakni mengkaji desain bangunan existing hingga bertransformasi menjadi desain final siap tender. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature review (SLR) terhadap jurnal yang telah terbit selama 10 tahun terakhir.  Sebanyak 15 makalah dari pencarian tersistematis menggunakan kata kunci transformation of the market design process, transformasi proses desain pasar tradisional, traditional market revitalization dan revitalisasi pasar tradisional dengan indeks scopus dan google scholar dianalisis sebagai data penelitian.  Analisis dilakukan untuk menjawab pertanyaan bagaimana tahapan proses desain pasar tradisional, problematika dan kendala yang ditemukan dalam transformasi desain. Hasil temuan yang pertama terkait proses tahapan transformasi desain itu sendiri. Kedua problematika proses transformasi desain adalah ketika standarisasi acuan dalam aturan bangunan yang ditetapkan tidak bisa sinkron dengan keinginan pengguna. Ketiga kendala proses transformasi desain yaitu ketika tahapan yang telah disepakati tidak bisa dilaksanakan sama sesuai teknis yang direncanakan sehingga harus ada solusi. Keempat adalah tantangan proses transformasi desain yang harus dipecahkan yaitu bahwa semua pihak yang terlibat mengikuti semua proses tahapan desain yang telah dilalui, menemukan kata sepakat dan menjalankan dengan tanggung jawab apa yang menjadi hasil dari tahapan proses transformasi desain final.
Identifikasi Pencahayan Alami untuk Mendukung Aktivitas Pengguna pada Vila Wukirsawit Di Jatiyoso Saputra, Arif Enggal; Nugrahaini, Fadhilla Tri
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.4549

Abstract

Salah satu aspek perancangan bangunan yang perlu dipertimbangkan adalah konsep konservasi energi pada sistem pencahayaan. Sistem pencahayaan alami yang optimal dapat memberikan kenyamanan visual dan mereduksi hingga 20% energi listrik akibat penggunaan cahaya buatan. Standar Intensitas Cahaya berdasarkan SNI 03-2396 2001 memiliki rentang antara 120-250 lux. Bukaan pada ruangan berpengaruh terhadap distribusi cahaya pada ruangan. Semakin besar dimensi bukaan maka distribusi cahaya semakin besar. Vila Wukirsawit terletak di Jatiyoso, Karanganyar dengan luas bangunan 253,8 m2 dan memiliki 8 ruang dengan bukaan yang variatif, pemilihan vila wukirsawit dikarenakan menurut penulis belum banyak penelitian pencahayaan alami pada dataran tinggi sehingga penelitian ini mampu memberikan inovasi baru untuk penelitian pencahayaan alami. Penelitian bertujuan untuk mengukur intensitas cahaya pada Vila Wukrisawit dan memberikan alternatif agar intensitas pencahayaan pada ruangan lebih optimal. Identifikasi dilakukan pada 8 titik ruang menggunakan Luxmeter yang berlangsung selama 3 hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa 7 dari 8 ruang dengan intensitas cahaya melampaui standar yang disebabkan oleh dimensi bukaan yang terlalu besar dan beberapa ruang berhadapan langsung dengan arah lintasan matahari sehingga terdistribusi cahaya berlebih.  Alternatif berupa pengurangan dimensi bukaan menunjukkan penurunan intensitas cahaya hingga 56% pada 3 ruang dan dilakukan relayout pada 4 ruang dengan intensitas cahaya berlebih. Agar terciptanya ruang dengan intensitas cahaya yang optimal, diperlukan alternatif lain berupa penambahan shading pada bagian atas bukaan hingga penggunaan material yang sesuai dengan kondisi pencahayaan ruangan.  
Adaptive Streetscape Architecture of Local Business Neighborhood in Jalan Jendral Urip Sumoharjo Herlian, Erwin; Aji, Fauzi Mizan Prabowo
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.4794

Abstract

Jalan Jendral Urip Sumoharjo in Surakarta is an example of a street in a big city in Indonesia that has adapted in terms of its streetscape architecture. This adaptation is influenced by many factors and possibilities that need to be explored in the future. One of the dominant determining factors is the discovery of facts about local business development in carrying out trading activities on this road section. This research explores forms of streetscape architectural adaptation in the context of the local business environment, with a focus on Jalan Jendral Urip Sumoharjo. The study explored the unique characteristics of the streetscape, emphasizing its role in responding to a dynamic local business community. The adaptive nature of streetscape architecture is observed by considering factors such as design, functionality, and its integration with local businesses. Jalan Jendral Urip Sumoharjo serves as a specific case study, showcasing the intersection between adaptive urban design and the vitality of the local business environment. Adaptation to the streetscape in terms of architecture is influenced by user needs, in this case the majority of traders who need flexibility.
Place Identity Generated by Facade Color of Urban Building Maulina, Wilda; Fitria, Tika Ainunnisa; Soewarno, Nurtati
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.5177

Abstract

Color as a spatial dimension plays an important role in shaping human perception of the identity of a place. The urban public environment is usually characterized by crowds of people and many buildings. The color of the facade on the building which is not well planned makes it even more visually busy. This research aims to explore the identity of a place that can be seen from the color of building facades in urban public environments. The case study in this research is the public area of Jalan dr. Rajiman Surakarta. Even though it looks busy, researchers will try to map the colors of the existing facades by documenting the colors of the facades along Jalan Dr Radjiman from photos. This data is processed using graphic design applications and facade color mapping to find color patterns that lead to the identity of the place. The results of the research are that even though the area has busy building facades, based on the color of the facades, several color templates were found that show similar identities. 
Menggali Karakteristik Pecinan dalam Menjaga Nilai-Nilai Signifikansi Kawasan Cagar Budaya Rochana, Intan Pramesti; Kartidjo, Woerjantari; Irnawan, Dody
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 2: Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.5370

Abstract

Rencana pelestarian saat ini mengevaluasi kontribusi warisan berwujud dan tidak berwujud dengan pendekatan berbasis nilai (atau signifikansi). Studi nilai signifikansi membantu menentukan karakteristik pada kawasan yang dapat diprioritaskan sehingga mempertahankan autentisitas kawasan cagar budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kawasan yang paling signifikan dalam perannya membantu melestarikan nilai-nilai cagar budaya. Penelitian mengambil lokasi di Pecinan Semarang yang merupakan salah satu Kawasan Cagar Budaya dan memiliki nilai-nilai warisan budaya, baik berwujud (tangible) maupun tidak berwujud (intangible). Beberapa penelitian telah melakukan studi terkait karakteristik Pecinan, namun belum ada analisis komprehensif yang mengintegrasikan kaitan antara nilai-nilai signifikansi dengan elemen karakter dalam konteks kawasan cagar budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan pendekatan deduktif yaitu menggunakan studi literatur sebagai dasar dan pengamatan langsung ke objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen karakter yang mewakilkan nilai-nilai di Kawasan Pecinan adalah penggunaan dan fungsi, gaya arsitektur bangunan, kualitas ruang luar dan lanskap, dan elemen identitas. Studi juga menemukan bahwa masing-masing koridor gang di Pecinan memiliki keistimewaan karakter tersendiri, yang perlu ditemukenali sebagai acuan dalam menyusun strategi pelestarian kawasan.
Urban Acupuncture Strategy on Implementation of Transit Oriented Development (TOD) Concept on The Yogyakarta-Surakarta Commuter Line Hidayatullah, Ardiansyah Rahmat; Yetti, Aprodita Emma
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 22, No 1: Januari 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.4163

Abstract

Dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat baik pada aspek sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya tak jarang menuntut untuk berpindah kota yang didukung dengan ketersediaan moda transportasi publik. Hal tersebut terjadi pada kota-kota yang berperan sebagai Daerah Pusat atau Kawasan Pusat Bisnis (KPB) yang menghubungkan diantaranya Daerah Penglaju. Yogyakarta-Surakarta saat ini dengan adanya Commuter Line (Kereta Api Listrik) menambah pergerakan masyarakat untuk berwisata, bekerja dan aktivitas antar kota lainnya pada stasiun-stasiun kecil di antara jalur tersebut. Dengan bertambahnya stasiun pemberangkatan dan pemberhentian, semakin banyak masyarakat yang terbantu dengan mudah untuk pulang pergi. Melihat fenomena tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai identifikasi konsep Transit Oriented Development (TOD) yang terdapat pada setiap stasiun pemberhentian jalur KRL Yogyakarta-Surakarta. Melalui metode analisis kualitatif terhadap jenis, karakteristik dan kriteria konsep TOD pada masing-masing Stasiun KRL Yogyakarta-Surakarta yang kemudian dirumuskan karakteristik permasalahan berdasarkan prinsip Urban Acupuncture. Sehingga dapat ditemukan bahwa beberapa stasiun belum berhasil dan optimal dalam mengimplementasikan konsep TOD, seperti dalam merespon transportasi lanjutan, daya dukung infrastruktur bagi pejalan kaki, nilai ekologis yang belum optimal, dan belum mendukung variasi aktifitas sosial yang terjadi disekitarnya. Adapun melalui prinsip Urban Acupuncture dapat menjadi pertimbangan terkait pengembangan dan arahan desain dalam pemanfaatan ruang, perkembangan fungsi ruang, pemenuhan jalur pedestrian, konservasi dan pengembangan nilai ekologsi kawasan TOD, kebutuhan penyediaan ruang publik masyarakat, dan pemanfaatan kawasan serta ruang melalui prinsip infill redevelopment.
Flood Risk Management (Studi Kasus: Sungai Bahodopi, Di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali) Ikram, Ikram; Tefa, Gidion
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 22, No 1: Januari 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.4280

Abstract

Tujuan dari studi ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang pengaruh metode Soil Bioengineering dan pendekatan non-struktual terhadap peningkatan Flood Risk Management. Metode penulisan berdasarkan studi literatur dan studi preseden yang menjelaskan berbagai sumber yang berkaitan dengan penerapan Soil Bioengineering sebagai elemen Green Infrastructure dan pendekatan non-struktural untuk menanggulangi bencana banjir akbiat aktivitas industri dan permukiman penduduk di sekitar bantaran sungai. Karakteristik vegetasi akar dalam dan batang kokoh diharapkan dapat menanggulangi terjadinya bencana banjir ke dalam areal permukiman penduduk, dan pendekatan non-struktural juga dapat diterapkan, seperti pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Bahodopi, yaitu peraturan tata guna lahan dan beberapa aturan mengenai larangan penggunaan tanah disekitar riparian sungai yang berpotensi mengurangi daerah resapan air dan menyebabkan terjadinya bencana banjir. Dengan demikian penerapan Flood Risk Management yang direncanakan dapat mengatasi bencana banjir di areal permukiman padat penduduk.
Traits of Historical Research in Islamic Architectural Studies: Islamic Art and Architecture (650-1250) Shahani, Mohammadhossein
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 22, No 1: Januari 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.4309

Abstract

This paper investigates the traits of historical research in the context of Islamic architectural studies. For this purpose, it focuses on the distinguished book "Islamic Art and Architecture (650-1250)" and argues that these traits receive significant attention in the book. The paper begins by examining the book authors' statements to draw insights from their work plan. Underscoring the necessity of evidence-based reporting, it highlights chief facts related to the traits within the context of Islamic architecture. By analyzing their reporting and the facts, the paper unveils the principles devised for studying Islamic architectural history. It demonstrates that historians of Islamic art and architecture can employ various means to unearth evidence from the past. It delineates how the objectives of studying Islamic architecture can align with the interpretation of historical facts. It also discusses the criteria of periodization offered for dealing with the history of Islamic art and architecture, explaining the aspects of chronological categories in the book. Based on the principles, the paper finally presents suggestions for augmenting the traits in researching Islamic architecture.