cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 402 Documents
Pendidikan dan pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja: A literature review Arparitna, Ketut Yudi; Uly, Nilawati; Alim, Andi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1668

Abstract

Background: Basic Life Support (BLS) is a crucial skill for managing emergencies such as sudden cardiac arrest. BLS, initiated in adolescence, is believed to improve individual and community preparedness in responding to emergencies. However, the effectiveness of various training methods remains debated. Purpose: To examine the effectiveness of BLS education and training in improving adolescent knowledge and skills. Method: This literature review examined 19 articles published between 2012 and 2025. Articles were obtained from Scopus, the Directory of Open Access Journals (DOAJ), and Google Scholar. Data were analyzed descriptively and qualitatively based on intervention methods, learning outcomes, and the sustainability and limitations of BLS training. Results: Lectures and simulations were effective in improving student knowledge and skills. Innovative approaches, such as audiovisual media, flipped classrooms, and virtual reality, also demonstrated positive results, particularly in psychomotor and affective aspects. However, skill retention tends to decline 3–6 months post-training if there is no further reinforcement. General limitations of the study include a narrow sample size, lack of long-term evaluation, and limited practical tools. Conclusion: Basic Life Support (BLS) education and training have proven effective, but its success is greatly influenced by program sustainability, infrastructure support, and active participant engagement. Curriculum integration, regular retraining, and further research with longitudinal designs are needed to ensure the long-term impact of BLS training on adolescents.   Keywords: Adolescents; Basic Life Support (BLS); Education and Training; Knowledge; Skills.   Pendahuluan: Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan keterampilan penting dalam penanganan kondisi gawat darurat seperti henti jantung mendadak. BHD yang dimulai sejak usia remaja, diyakini mampu meningkatkan kesiapsiagaan individu dan komunitas dalam merespons kejadian darurat. Namun, efektivitas metode pelatihan yang beragam masih menjadi perdebatan. Tujuan: Untuk mengkaji efektivitas pendidikan dan pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja. Metode: Penelitian tinjauan literatur terhadap 19 literatur yang diterbitkan antara tahun 2012-2025. Artikel diperoleh dari basis data Scopus, directory of open access journals (DOAJ), dan Google Scholar. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif berdasarkan metode intervensi, capaian pembelajaran, serta aspek keberlanjutan dan keterbatasan pelaksanaan pelatihan BHD. Hasil: Metode ceramah dan simulasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa. Pendekatan inovatif, seperti media audiovisual, flipped classroom, dan virtual reality juga memperlihatkan hasil positif, khususnya dalam aspek psikomotorik dan afektif. Namun, retensi keterampilan cenderung menurun dalam 3–6 bulan pasca pelatihan jika tidak ada penguatan lanjutan. Keterbatasan umum dalam studi meliputi cakupan sampel yang sempit, kurangnya evaluasi jangka panjang, serta keterbatasan alat praktik. Simpulan: Pendidikan dan pelatihan BHD terbukti efektif, tetapi keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh kesinambungan program, dukungan infrastruktur, dan keterlibatan aktif peserta. Diperlukan integrasi kurikulum, pelatihan ulang berkala, serta riset lanjutan dengan desain longitudinal untuk menjamin dampak jangka panjang pelatihan BHD pada remaja.   Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar (BHD); Keterampilan; Pendidikan dan Pelatihan; Pengetahuan; Remaja.
Perbedaan edukasi spinal anestesi menggunakan video dan booklet terhadap tingkat kecemasan pasien pre anestesi spinal Ubjaan, Natasya Putri; Burhan, Asmat; Dewi, Feti Kumala
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1679

Abstract

Background: Spinal anesthesia often causes anxiety in preoperative patients, which may affect the anesthesia process and postoperative recovery. Preanesthetic education is therefore needed to reduce patients’ anxiety levels. Purpose: To determine the difference in the effectiveness of spinal anesthesia education using video and booklet media on anxiety levels in pre–spinal anesthesia patients. Method: This study employed a quantitative approach with a quasi-experimental pre-test–post-test with control group design. A total of 38 participants were divided into a video group and a booklet group. Data were collected using the APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale) questionnaire. Data analysis was conducted using the Wilcoxon test and the Mann–Whitney U test. Results: There was a significant reduction in anxiety levels before and after the educational intervention in both the video and booklet groups (p < 0.05). Furthermore, a significant difference in anxiety levels was found between the two groups after the intervention, with a mean rank of 45.82 in the video group and 31.18 in the booklet group (p < 0.05). Conclusion: Preanesthetic education using both video and booklet media is effective in reducing patients’ anxiety levels. However, video-based education is more effective than booklet-based education in reducing anxiety among pre–spinal anesthesia patients.   Keywords: Anxiety; Booklet; Education; Preoperative; Spinal Anesthesia; Video.   Pendahuluan: Spinal anestesi sering menimbulkan kecemasan pada pasien preoperasi yang dapat berdampak pada proses anestesi dan pemulihan. Edukasi preanestesi diperlukan untuk menurunkan tingkat kecemasan tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan edukasi spinal anestesi menggunakan video dan booklet terhadap tingkat kecemasan pasien pre anestesi spinal. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment pre-test post-test with control group. Sampel berjumlah 38 partisipan yang dibagi menjadi kelompok video dan booklet. Instrumen menggunakan kuesioner APAIS. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney U. Hasil: Terdapat penurunan tingkat kecemasan yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian edukasi baik pada kelompok video maupun booklet (p < 0.05). Selain itu, terdapat perbedaan tingkat kecemasan yang bermakna antara kedua kelompok setelah diberikan edukasi, dengan nilai mean rank kelompok video sebesar 45.82 dan kelompok booklet sebesar 31.18 (p < 0.05). Simpulan: Edukasi preanestesi spinal menggunakan media video dan booklet sama-sama efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan pasien. Namun, edukasi menggunakan media video terbukti lebih efektif dibandingkan media booklet dalam menurunkan tingkat kecemasan pasien preanestesi spinal.   Kata Kunci : Booklet; Edukasi; Kecemasan; Pre Operasi; Spinal Anestesi; Video.
Faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja Pramesti, Diah Gina; Wibowo , Pipid Ari; Arifin, Zaenal
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1680

Abstract

Background: Stress arises when job demands exceed workers’ capacity or resources, which over time may lead to fatigue, health problems, and reduced work motivation. Purpose: To determine the factors related to work stress among workers. Method: This quantitative research, using a cross-sectional approach, was conducted from June to September 2025 at Prima Maesa Putra Limited Liability Company, Ponorogo. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 40 respondents. The independent variables in this study were workload, work fatigue, and interpersonal relationships, while the dependent variable was stress level. Data analysis used univariate analysis in the form of frequency distributions and bivariate analysis using the chi-square test. Results: The chi-square test results showed that workload was significantly related to work stress (p-value=0.008), where work stress occurred more frequently in workers with heavy workloads. Work fatigue had a very significant relationship with work stress (p-value=0.000), with the risk of experiencing stress being about six times greater in workers who experienced work fatigue. Interpersonal relationships did not show a significant relationship with work stress (p-value=1.000). Conclusion: Workload and work fatigue play an important role in increasing work stress, with fatigue being the strongest factor, while interpersonal relationships are not significantly related. These findings confirm that controlling workload and preventing fatigue are key to reducing work stress.   Keywords: Fatigue; Interpersonal; Stress Levels; Workload; Workers.   Pendahuluan: Stres dapat timbul saat tuntutan pekerjaan lebih dari kemampuan atau sumber daya yang dimiliki tenaga kerja, yang dalam jangka panjang berisiko menyebabkan kelelahan, gangguan kesehatan, hingga penurunan motivasi kerja. Tujuan: Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan pada stres kerja pada pekerja. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan bulan Juni-September 2025 di PT. Prima Maesa Putra, Ponorogo. Teknik pengambilan sampel menggunakan puposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 40 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah beban kerja, kelelahan kerja dan hubungan interpersonal, sedangkan variabel dependen adalah tingkat stres. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil: Uji chi-square menunjukkan bahwa beban kerja berhubungan signifikan dengan stres kerja (p-value = 0.008), stres kerja lebih banyak terjadi pada pekerja dengan beban kerja berat. Kelelahan kerja memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan stres kerja (p-value = 0.000) dengan risiko mengalami stres sekitar 6 kali lebih besar pada pekerja yang mengalami kelelahan kerja. Hubungan interpersonal tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan stres kerja (p-value = 1.000). Simpulan: Beban kerja dan kelelahan kerja berperan penting dalam meningkatkan stres kerja, dengan kelelahan sebagai faktor yang paling kuat, sedangkan hubungan interpersonal tidak berhubungan signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa pengendalian beban kerja dan pencegahan kelelahan merupakan kunci utama dalam menurunkan stres kerja.   Kata Kunci: Beban Kerja; Interpersonal; Kelelahan; Pekerja; Tingkat Stres.
Intervensi pemilihan penolong persalinan pada ibu hamil trimester 3 Sari, Kirana Candra; Nurrasyidah, Nurrasyidah; Rodiah, Dina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1685

Abstract

Background: Maternal mortality remains a major health problem in Indonesia, influenced by the choice of delivery attendants. Interventions through structured health education are expected to improve maternal knowledge, attitudes, and decision-making in choosing safe delivery attendants. Purpose: To analyze the influence of interventions on the selection of birth attendants on pregnant women in the third trimester. Method: A cross-sectional study using a one-group pre-posttest method was conducted from January to August 2025 at the Padarincang Community Health Center, Banten. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 50 respondents. The independent variable in this study was birth attendants, while the dependent variable was pregnant women. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using the Paired T-Test. Results: The educational intervention had a significant impact on increasing knowledge, attitudes, and decisions regarding the selection of birth attendants. The average knowledge score increased from 12.8 ± 2.4 in the pre-test to 16.7 ± 2.1 in the post-test (p = 0.000). Attitude scores also increased from 38.5 ± 0.6 to 45.3 ± 4.9 after the intervention (p = 0.000). The decision to choose a health worker as a birth attendant increased from 3.1 ± 0.7 to 4.5 ± 0.5 (p = 0.000). Conclusion: Educational interventions are proven effective in increasing knowledge, shaping positive attitudes, and strengthening decisions of pregnant women to choose health workers as delivery attendants.   Keywords: Attitude; Childbirth; Knowledge; Pregnant Women; Trimester 3.   Pendahuluan: Angka kematian ibu masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, salah satunya dipengaruhi oleh pemilihan penolong persalinan. Intervensi melalui edukasi kesehatan terstruktur diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keputusan ibu hamil dalam memilih penolong persalinan yang aman. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh intervensi pemilihan penolong persalinan pada ibu hamil trimester 3. Metode: Penelitian cross-sectional dengan metode one group pre-posttest, dilaksanakan pada bulan Januari-Agustus 2025 di Puskesmas Padarincang, Banten. Teknik pengambilan sampel menggunakan puposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 50 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah penolong persalinan, sedangkan variabel depeden ialah ibu hamil. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan Paired T-Test. Hasil: Intervensi edukasi memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan keputusan pemilihan penolong persalinan. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 12.8 ± 2.4 pada pre-test menjadi 16.7 ± 2.1 pada post-test (p = 0.000). Skor sikap juga mengalami peningkatan dari 38.5 ± .6 menjadi 45.3 ± 4.9 setelah intervensi (p = 0.000). Keputusan pemilihan penolong persalinan tenaga kesehatan meningkat dari 3.1 ± 0.7 menjadi 4.5 ± 0.5 (p = 0.000). Simpulan: Intervensi edukasi terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap positif, dan memperkuat keputusan ibu hamil untuk memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan.   Kata Kunci: Ibu Hamil; Pengetahuan; Persalinan; Sikap; Trimester 3.
Pengaruh pemberian sari kacang hijau terhadap perubahan kadar hemoglobin pada remaja putri dengan anemia Rofiah, Khofidhotur; Nirwana, Betanuari Sabda; Nikmah, Anis Nikmatul; Lutfiasari, Dessy; Wulandari, Siswi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1700

Abstract

Background: Hemoglobin is made up of iron which is an O2 carrier. High and abnormal hemoglobin levels occur due to hemoconcentration due to dehydration. The number of red blood cells and hemoglobin molecules does not always increase and decrease simultaneously, for example, a decrease in red blood cells accompanied by a slight increase in hemoglobin levels or normal occurs in cases of pernicious anemia, as well as a slightly increased or normal level of red blood cell hemoglobin accompanied by decreased hemoglobin levels, occurs in iron deficiency anemia. Purpose: To determine the effect of mung bean juice on changes in hemoglobin levels in adolescent girls with anemia. Method: A quasi-experimental design with a pretest-posttest control group design was used. The study focused on adolescent girls at the Faculty of Health Sciences, University of Kediri. A sample of 40 participants was selected using purposive sampling and divided into two groups. Data were examined using paired t-tests. Results: Hemoglobin levels in the intervention group increased from 11.05±0.79 to 12.03±0.98 gr/dl after being given mung bean juice. The control group had an average hemoglobin concentration of 11.25±0.42 gr/dl before the test and decreased slightly to 11.20±0.62 gr/dl after the test, the intervention group showed a significant effect on hemoglobin levels before and after receiving mung bean juice (p=0.025), indicating a significant change in hemoglobin levels after the intervention. Conclusion: the administration of mung bean juice has a positive impact on increasing hemoglobin levels in anemic adolescent girls. Consider measuring ferritin levels and controlling participants' diets for more accurate results. College students are encouraged to regularly consume mung bean juice as an easy and affordable natural alternative to help increase hemoglobin levels and prevent anemia.   Keywords: Anemia; Green Bean Juice; Young Women.   Pendahuluan: Hemoglobin terdiri dari zat besi yang merupakan pembawa O2. Kadar hemoglobin yang tinggi dan abnormal terjadi karena hemokonsentrasi akibat dehidrasi. Jumlah sel darah merah dan molekul hemoglobin tidak selamanya meningkat dan menurun secara bersamaan, misalnya penurunan sel darah merah di sertai kadar hemoglobin yang sedikit meningkat atau normal terjadi pada kasus anemia pernisiosa, serta kadar hemoglobin sel darah merah yang sedikit meningkat atau normal disertai kadar hemoglobin yang menurun, terjadi pada anemia defisiensi zat besi. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh sari kacang hijau terhadap perubahan kadar hemoglobin pada remaja putri dengan anemia. Metode: Desain quasi eksperimen dengan pretest-posttest control group design. Penelitian difokuskan pada populasi remaja putri di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kediri. Sampel penelitian berjumlah 40 partisiapn yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok. Data diperiksa dengan uji beda berpasangan. Hasil: Kadar hemoglobin pada kelompok intervensi mengalami peningkatan dari 11.05±0.79 menjadi 12.03±0.98 gr/dl setelah diberikan jus kacang hijau. Kelompok kontrol memiliki rata-rata konsentrasi hemoglobin 11.25±0.42  gr/dl sebelum pengujian dan sedikit menurun menjadi 11.20±0.62 gr/dl setelah pengujian. Kelompok intervensi menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kadar hemoglobin sebelum dan sesudah menerima jus kacang hijau (p=0.025), mengindikasikan perubahan yang berarti pada tingkat hemoglobin setelah intervensi. Simpulan: Pemberian sari kacang hijau memberikan dampak positif terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri anemia.   Kata Kunci: Anemia; Remaja Putri; Sari Kacang Hijau.
Pengaruh edukasi kesehatan berbasis video dan demonstrasi dalam penanganan tersedak pada balita terhadap pengetahuan dan keterampilan kader posyandu Hanifa, Jihan; Rasyid, Tengku Abdur; Kartika, Defi Eka; Sandra, Sandra; Saputra, Bayu
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1705

Abstract

Background: Choking is a life-threatening emergency that can lead to death if not treated quickly, and most cases occur in toddlers. Integrated health service post cadres, as the frontline health care providers, require knowledge and skills in handling choking, but still face challenges due to a lack of education and training. Purpose: To identify the influence of video-based health education and demonstrations in handling choking in toddlers on the level of knowledge and skills of integrated service post cadres. Method: This quantitative research used a pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach. The population in this study were cadres of integrated service posts in the Harapan Raya Community Health Center working area, with a sample size of 18 participants. Data were collected through a 15-question knowledge questionnaire and a 9-action skills observation sheet. This study used univariate and bivariate analysis. Results: There was a significant increase in knowledge, with a median pre-test score of 73.3 (min-max: 40-100) to 90 (min-max: 73.3-100) in the post-test. Skills increased from a median pre-test score of 0 (min-max: 0-55.56) to 94.44 (min-max: 72.22-100) in the post-test. Statistical analysis using the Wilcoxon test with α = 0.05 showed a significant effect of education on knowledge (p-value = 0.003) and skills (p-value = 0.001). Conclusion: Video-based health education and demonstrations effectively improved the knowledge and skills of integrated service post cadres in handling choking in toddlers.   Keywords: Health Education; Knowledge; Skills.   Pendahuluan: Tersedak merupakan kondisi kegawatdaruratan yang dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat dan mayoritas kejadian terjadi pada balita. Kader posyandu sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan memerlukan pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan tersedak, tetapi masih menghadapi kendala kurangnya pendidikan dan pelatihan. Tujuan: Untuk mengidentifikasi pengaruh edukasi kesehatan berbasis video dan demonstrasi dalam penanganan tersedak pada balita terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan kader posyandu. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain pre-eksperimental dengan pendekatan pre-test and post-test one group design. Populasi dalam penelitian ini adalah kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya dengan jumlah sampel 18 partisipan. Pengumpulan data melalui kuesioner pengetahuan yang berjumlah 15 pertanyaan dan lembar observasi keterampilan yang berjumlah 9 tindakan. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Terdapat peningkatan signifikan pada variabel pengetahuan engan nilai median pre-test 73.3 (min-max: 40-100) menjadi 90 (min-max: 73.3-100) pada post-test. Keterampilan meningkat dari nilai median pre-test 0 (min-max: 0-55.56) menjadi 94.44 (min-max: 72.22-100) pada post-test. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon dengan α = 0,05 menunjukkan pengaruh signifikan edukasi terhadap pengetahuan (p-value = 0,003) dan keterampilan (p-value = 0,001). Simpulan: Edukasi kesehatan berbasis video dan demonstrasi efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam penanganan tersedak pada balita.   Kata Kunci: Edukasi Kesehatan; Keterampilan; Pengetahuan.
Intervensi pelatihan pelaporan kegiatan pelayanan farmasi klinik pada aplikasi Simona terhadap pemahaman dan kepatuhan apoteker Candra, Ricky Crista; Rusdi, Numlil Khaira; Priyanto, Priyanto
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1706

Abstract

Background: Introduction: Reporting clinical pharmacy activities through the SIMONA app is crucial for improving accessibility to quality pharmacy services and ensuring patient safety. Reported clinical pharmacy activities include prescription review and dispensing, drug information services (PIO), and counseling. Purpose: To determine the effectiveness of a training intervention for reporting clinical pharmacy service activities in the SIMONA app on pharmacists' understanding and compliance. Method: An experimental study was conducted by providing a training intervention to 30 pharmacists practicing in pharmacies in Bekasi City. The intervention included providing materials on recording, documenting, and reporting clinical pharmacy service activities in the SIMONA app, as well as training on how to document using Google Forms through lectures and interactive workshops. Results: Data analysis showed a significance value <0.001 (p <0.05), indicating an increase in understanding of documenting clinical pharmacy activities and increased compliance in reporting clinical pharmacy service activities in the SIMONA app after the training intervention. Conclusion: The training intervention can improve pharmacists' understanding and compliance in reporting clinical pharmacy activities in the SIMONA app.   Keywords: Activity Reporting Training; Clinical Pharmacy Services; Compliance; SIMONA App; Understanding.   Pendahuluan: Pelaporan kegiatan farmasi klinik melalui Aplikasi SIMONA sangat penting untuk meningkatkan aksesibilitas layanan farmasi yang berkualitas serta menjamin keselamatan pasien. Kegiatan farmasi klinik yang dilaporkan meliputi telaah dan penyerahan resep, pelayanan informasi obat (PIO), serta konseling. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas intervensi pelatihan pelaporan kegiatan pelayanan farmasi klinik pada aplikasi SIMONA terhadap pemahaman dan kepatuhan apoteker. Metode: Penelitian eksperimen dengan memberikan intervensi pelatihan kepada 30 Aping yang berpraktik di apotek-apotek Kota Bekasi. Intervensi mencakup pemberian materi mengenai pencatatan, dokumentasi, dan pelaporan kegiatan pelayanan farmasi klinik pada aplikasi SIMONA, serta pelatihan cara mendokumentasikan menggunakan Google Form melalui metode ceramah interaktif dan lokakarya. Hasil: Analisis data menunjukkan nilai signifikansi <0.001 (p < 0.05), yang mengindikasikan adanya peningkatan pemahaman mengenai dokumentasi kegiatan farmasi klinik serta peningkatan kepatuhan dalam pelaporan kegiatan pelayanan farmasi klinik pada aplikasi SIMONA setelah intervensi pelatihan. Simpulan: Pemberian intervensi pelatihan dapat meningkatkan pemahaman dan kepatuhan Aping terhadap pelaporan kegiatan farmasi klinik pada aplikasi SIMONA.   Kata Kunci: Aplikasi SIMONA; Kepatuhan; Pelatihan Pelaporan Kegiatan; Pelayanan Farmasi Klinis; Pemahaman.
Analisis efektivitas terapi dan biaya penggunaan kelasi besi pada pasien thalassemia anak Triwardiani, Rika; Rusdi, Numlil Khaira; Syaripuddin, Muhamad; Oktovina, Magdalena Niken
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1707

Abstract

Background: Thalassemia is a genetic disease that requires regular blood transfusions, which can lead to iron accumulation in the body. This accumulation can be managed with iron chelation therapy, such as deferiprone and deferasirox. Purpose: To analyze the effectiveness of iron chelation therapy and the cost of iron chelation in pediatric thalassemia patients. Method: This study was conducted retrospectively using medical records of pediatric thalassemia patients who underwent iron chelation therapy at Fatmawati Hospital between June and August 2024. Results: Deferasirox was more effective than deferiprone in reducing serum ferritin levels. In terms of cost, deferiprone was more economical than deferasirox, thus providing economic benefits to patients. Conclusion: Deferasirox can be the primary choice of iron chelation therapy in pediatric thalassemia patients, considering clinical effectiveness and cost-efficiency.   Keywords: Cost of Iron Chelation; Pediatric Thalassemia Patients; Therapy.   Pendahuluan: Thalassemia merupakan salah satu penyakit genetik yang memerlukan transfusi darah rutin, sehingga dapat menyebabkan penumpukan zat besi dalam tubuh. Penumpukan ini dapat diatasi dengan terapi kelasi besi, seperti deferiprone dan deferasirox. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas terapi dan biaya penggunaan kelasi besi pada pasien thalassemia anak. Metode: Studi dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data rekam medis pasien thalassemia anak yang menjalani terapi kelasi besi di Rumah Sakit Fatmawati pada periode Juni–Agustus 2024. Hasil: Deferasirox lebih efektif dibandingkan deferiprone dalam menurunkan kadar ferritin serum. Dari sisi biaya, deferiprone lebih ekonomis dibandingkan deferasirox, sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi pasien. Simpulan: Deferasirox dapat menjadi pilihan utama terapi kelasi besi pada pasien thalassemia anak dengan mempertimbangkan efektivitas klinis dan efisiensi biaya.   Kata Kunci: Biaya Penggunaan Kelasi Besi; Pasien Thalassemia Anak; Terapi.
Deteksi dini kesehatan mental emosional remaja sebagai upaya mewujudkan generasi emas yang sehat jiwa Rinancy, Hariet; Eni, Rosmi; Gustin, Rahmi Kurnia; Nataria, Desti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1714

Abstract

Background: Adolescence is a turbulent period of transition, both physically, psychologically, and socially. Amid these changes, it is not uncommon for adolescents to face various challenges that can impact their mental and emotional health. Mental health disorders, such as depression, anxiety, or eating disorders, often begin in adolescence, but unfortunately, they often go undetected or are ignored. Early detection is crucial because prompt intervention can prevent these conditions from worsening. Adolescents experiencing mental health problems may exhibit subtle symptoms, such as behavioral changes, decreased academic performance, social withdrawal, or changes in sleep and eating patterns. Ignoring these signs can have long-term impacts on adolescents' lives, including problems with interpersonal relationships, difficulties in education and careers, and an increased risk of risky behaviors such as risky sexual behavior, substance abuse, or even suicide. Purpose: To identify emotional mental health disorders in adolescents as a first step in realizing a mentally healthy golden generation. Method: This descriptive quantitative study describes emotional mental health problems in adolescents. The study was conducted at MAN 1 Padang Pariaman Regency. The sampling technique used was purposive sampling with a sample size of 251 respondents. Data collection used the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Results: Most of the 139 adolescents (55.4%) showed abnormal scores on emotional symptoms, most of the 154 adolescents (61.3%) showed borderline scores on behavior, less than half of the adolescents (37%) had normal scores for hyperactivity, most adolescents (66.9%) showed abnormal scores for social problems, and the majority of adolescents (94%) showed normal scores for prosocial behavior. Conclusion: The majority of adolescents in this study experienced emotional mental health problems, so appropriate interventions are needed for adolescents. Suggestion: Schools, when implementing any intervention program, should use these prosocial behaviors as a foundation of strengths to encourage positive changes in other aspects of difficulties. For example, teaching helpful behaviors can improve problematic social relationships.   Keywords: Adolescents; Early Detection; Emotional; Mental Health.   Pendahuluan: Masa remaja adalah periode transisi yang penuh gejolak, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Di tengah perubahan ini, tidak jarang remaja menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional mereka. Gangguan kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan makan, sering kali dimulai pada usia remaja, namun sayangnya, sering kali tidak terdeteksi atau diabaikan. Deteksi dini menjadi sangat krusial karena intervensi yang cepat dapat mencegah kondisi ini menjadi lebih parah. Remaja yang mengalami masalah kesehatan mental mungkin menunjukkan gejala yang tidak selalu jelas, seperti perubahan perilaku, penurunan prestasi akademik, penarikan diri dari lingkungan sosial, atau perubahan pola tidur dan makan. Mengabaikan tanda-tanda ini bisa berdampak jangka panjang pada kehidupan remaja, termasuk masalah dalam hubungan interpersonal, kesulitan dalam pendidikan dan karier, hingga peningkatan risiko perilaku berisiko seperti perilaku seksual berisiko, penyalahgunaan zat atau bahkan bunuh diri. Tujuan: Untuk mengidentifikasi gangguan kesehatan mental emosional pada remaja sebagai langkah awal dalam mewujudkan genarasi emas yang sehat jiwa. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan menggambarkan masalah kesehatan mental emosional remaja. Penelitian dilakukan di MAN 1 Kabupaten Padang Pariaman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 251 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ). Hasil: Sebagian besar 139 remaja (55.4%) menunjukKan skor abnormal pada gejala emosi, sebagian besar 154 remaja (61.3%) menunjuKkan skor borderline pada perilaku, kurang dari setengah remaja (37%) berada pada skor normal untuk hiperaktivitas, sebagian besar remaja (66.9%) menunjukkan skor abnormal untuk masalah teman sebaya dan mayoritas ramaja (94%) menunjukkan skor normal untuk prososial. Simpulan: Mayoritas remaja pada penelitian ini mengalami masalah kesehatan mental emosinal, sehingga perlu diberikan intervensi yang tepat pada remaja. Saran: Sekolah dalam memberikan setiap program intervensi yang diluncurkan harus menggunakan perilaku prososial ini sebagai fondasi kekuatan untuk mendorong perubahan positif pada aspek kesulitan lainnya. Misalnya, mengajarkan perilaku tolong-menolong dapat meningkatkan hubungan teman sebaya yang bermasalah.   Kata Kunci: Deteksi Dini; Emosional; Kesehatan Mental; Remaja.
Hubungan antara status gizi dengan tekanan darah pada pelajar Kapoh, Marshanda Meily Emanuela; Musa, Ester Candrawati; Sanggelorang, Yulianty
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1717

Abstract

Background: High blood pressure or hypertension can be dangerous because it can damage the heart and blood vessels in the long term. One of the causes of hypertension is excessive nutritional status or obesity, which is often the result of a poor diet asnd lack of physical activity, thereby increasing the risk of hypertension in adolescents. Purpose: To determine the relationship between nutritional status and blood pressure among students. Method: This quantitative study used a cross-sectional approach. The population studied was all students of State Senior High School 2 Tondano. A sample of 88 respondents was selected using a total sampling technique. The instruments used were respondent identity sheets, a SECA microtoise for height measurement, a SECA digital scale for weight measurement, a GEA digital sphygmomanometer for blood pressure measurement, and batteries. Results: The majority of respondents' blood pressure was in the normal category (64.8%), while abnormal blood pressure included pre-hypertension (18.2%), stage 1 hypertension (9.1%), and stage 2 hypertension (7.9%). The majority of respondents had normal nutritional status 57 respondents (64.8%), while 13 respondents (14.8%) were overweight and 15.9% were obese. The bivariate analysis yielded a p-value of 0.004 (p<0.05), indicating a relationship between nutritional status and blood pressure in students. Conclusion: There is a significant relationship between nutritional status and blood pressure, with a p-value of 0.004 (p<0.05). Suggestion: Students with normal nutritional status and normal blood pressure should maintain a healthy lifestyle by consuming nutritious foods. Furthermore, they are encouraged to consume a balanced diet, exercise regularly, and regularly check their weight and blood pressure, followed by consultation with a healthcare professional.   Keywords: Adolescents; Blood Pressure; Nutritional Status.   Pendahuluan: Tekanan darah yang terlalu tinggi atau hipertensi, dapat berbahaya karena mampu merusak jantung dan pembuluh darah dalam jangka panjang. Salah satu penyebab hipertensi adalah status gizi yang lebih atau obesitas, hal tersebut sering kali merupakan hasil dari pola makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik, sehingga dapat meningkatkan risiko hipertensi pada remaja. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan tekanan darah pada pelajar. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yang diteliti adalah seluruh pelajar SMA Negeri 2 Tondano. Sampel yang digunakan sebanyak 88 responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen yang digunakan yaitu lembar identitas responden, microtoise merek SECA untuk pengukuran tinggi badan, timbangan digital merek SECA untuk pengukuran berat badan, tensimeter digital merek GEA untuk pengukuran tekanan darah, dan baterai. Hasil: Sebagian besar tekanan darah responden dalam kategori normal sebanyak 64.8% dan tekanan darah tidak normal yang termasuk didalamnya yaitu, pre-hipertensi sebanyak 18.2%, hipertensi tingkat 1 sebanyak 9.1%, dan hipertensi tingkat 2 sebanyak 7.9%. Status gizi mayoritas normal sebanyak 57 responden (64.8%), sedangkan untuk status gizi lebih sebanyak 13 responden (14.8%) dan obesitas sebanyak 15.9%. Hasil analisis bivariat diperoleh p-value sebesar 0.004 (p<0.05), hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara status gizi dengan tekanan darah pada pelajar. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan tekanan darah pada dengan hasil p-value sebesar 0.004 (p<0.05). Saran: Bagi pelajar dengan kategori status gizi tidak lebih dan kategori tekanan darah normal dapat mempertahankan gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi. Selain itu, diharapkan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, berolahraga secara rutin, mengecek berat badan, dan tekanan darah secara berkala kemudian dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.   Kata Kunci: Remaja; Status Gizi; Tekanan Darah.