cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 402 Documents
Pengaruh alat pendeteksi vena terhadap kecepatan dan ketepatan perawat dalam pemasangan infus: A systematic review Resmi, Fuji Indah; Purnawan, Iwan; Sari, Yunita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1611

Abstract

Background: Intravenous (IV) insertion is a routine procedure in hospitalized patients, but its success depends on the nurse's ability to accurately locate and access veins. Patients with difficult venous access (DVA) often experience multiple punctures, prolonged procedure times, and an increased risk of complications. Venous detection devices, particularly infrared-based technology, have been introduced to enhance vein visualization. Purpose: To identify the effectiveness of the vein detection tool on the speed and accuracy of nurses in intravenous procedures. Method: A systematic review following PRISMA guidelines to analyze studies retrieved from PubMed, Google Scholar, and ProQuest. Results: Six reviewed studies indicated that venous detection devices improve the first-attempt success rate, reduce insertion time, and minimize the number of punctures. Conclusion: These findings suggest that venous detection devices can enhance the efficiency of IV insertion in clinical settings. Suggestion: Further research with larger sample sizes and standardized protocols is needed to strengthen the evidence.   Keywords: Accuracy; Infusion Installation; Nurse; Speed; Vein Detection Device.   Pendahuluan: Pemasangan infus (IV) adalah prosedur rutin pada pasien rawat inap, tetapi keberhasilannya bergantung pada kemampuan perawat untuk menemukan dan mengakses vena secara akurat. Pasien dengan akses vena yang sulit (DVA) sering mengalami banyak tusukan, waktu prosedur yang lama, dan peningkatan risiko komplikasi. Perangkat pendeteksi vena, khususnya teknologi berbasis inframerah, telah diperkenalkan untuk meningkatkan visualisasi vena. Tujuan: Untuk mengidentifikasi efektivitas alat pendeteksi vena terhadap kecepatan dan ketepatan perawat dalam prosedur intravena. Metode: Tinjauan sistematis yang mengikuti pedoman PRISMA untuk menganalisis studi yang diambil dari PubMed, Google Scholar, dan ProQuest. Hasil: Enam studi yang ditinjau, menunjukkan bahwa perangkat pendeteksi vena meningkatkan tingkat keberhasilan percobaan pertama, mengurangi waktu pemasangan, dan meminimalkan jumlah tusukan. Simpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa alat pendeteksi vena dapat meningkatkan efisiensi pemasangan infus dalam pengaturan klinis. Saran: Penelitian lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar dan protokol standar diperlukan untuk memperkuat bukti.   Kata Kunci: Alat Pendeteksi Vena; Kecepatan; Ketepatan; Pemasangan Infus; Perawat.
Efektivitas latihan range of motion terhadap rentang gerak sendi jari kaki pada pasien stroke iskemik: A systematic review Caryanto, Valerio Basuni Carlo; Saryono, Saryono; Trianto, Endang
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1612

Abstract

Background: Ischemic stroke causes impaired motor function, including in the toes, which impacts patient mobility. One intervention to address this issue is Range of Motion (ROM) exercises. Purpose: To analyze the effectiveness of ROM exercises on toe joint range of motion in ischemic stroke patients. Method: This systematic review used the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. Articles were searched from Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect databases, with the inclusion criteria being quantitative studies within the last 10 years. Seven articles were selected and critically analyzed using the JBI instrument. Results: The use of toe ROM exercise therapy devices has the potential to improve toe ROM and muscle strength in stroke patients. Based on the reviewed studies, passive and active ROM therapy have been shown to be effective in reducing joint stiffness, increasing flexibility, and strengthening muscles in patients with limited mobility. These devices are designed to provide consistent and programmed passive movements, thus being expected to be a more efficient substitute for manual therapy. Conclusion: Range of motion (ROM) exercises are a proven and recommended intervention in the rehabilitation of ischemic stroke patients to improve toe joint range of motion.   Keywords: Ischemic Stroke; Range of Motion (ROM); Toe Joint Range of Motion.   Pendahuluan: Stroke iskemik menyebabkan gangguan fungsi motorik termasuk pada jari kaki yang berdampak pada mobilitas pasien. Salah satu intervensi untuk mengatasi masalah ini adalah latihan Range of Motion (ROM). Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas latihan ROM terhadap rentang gerak sendi jari kaki pada pasien stroke iskemik. Metode: Penelitian systematic review menggunakan panduan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Pencarian artikel dari database Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect dengan kriteria inklusi yaitu studi kuantitatif 10 tahun terakhir. Sebanyak tujuh artikel terpilih dan dianalisis secara kritis menggunakan instrumen JBI. Hasil: Penggunaan alat Taromaki memiliki potensial untuk meningkatkan ROM dan kekuatan otot jari kaki pada pasien stroke. Berdasarkan studi yang telah diulas, terapi ROM pasif maupun aktif terbukti efektif dalam menguranggi kekakuan sendi, meningkatkat fleksibelitas, dan memperkuat otot pada pasien dengan keterbatasan mobilitas. Alat tersebut dirancang untuk memberikan gerakan pasif terprogram yang konsisten, sehingga diharapkan mampu menggantikan terapi manual secara lebih efisien. Simpulan: Latihan ROM merupakan intervensi yang terbukti efektif dan direkomendasikan dalam rehabilitasi pasien stroke iskemik untuk meningkatkan rentang gerak sendi jari kaki.   Kata Kunci:  Range of Motion (ROM); Rentang Gerak Sendi Jari Kaki; Stroke Iskemik.
Pengaruh program pelatihan keperawatan terhadap penurunan kejadian ventilator associated pneumonia (VAP), peningkatan pengetahuan, praktik, dan kepatuhan perawat: Sebuah tinjauan sistematis Rukhayati, Yati; Anggraeni, Mekar Dwi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1623

Abstract

Background: Patients admitted to the Intensive Care Unit (ICU) and on ventilators for more than 48 hours are highly susceptible to Ventilator-Associated Pneumonia (VAP), a common clinical complication. A study showed that training critical care nurses in implementing a VAP prevention package effectively reduced the incidence of VAP. Purpose: To identify the effect of a critical care training program on the incidence of VAP and improve nurses' knowledge, practice, and adherence. Method: The literature review included a comprehensive search of academic databases for relevant studies, including PubMed, Scopus, Wiley Online Library, MJSonline, and Google Scholar. A quasi-experimental study of intensive care nurses providing care to patients on mechanical ventilators published between 2015 and 2024 was conducted. Results: Ten reviewed research articles demonstrated that a nurse training program can reduce the incidence of VAP and improve nurses' knowledge, practice, and adherence to VAP prevention protocols. Conclusion: The nurse training program reduced the incidence of VAP and improved nurses' knowledge, practice, and adherence in the intensive care unit. Suggestion: Future research should expand access to the literature, implement purposive sampling, and optimize resources to generate deeper insights and improve VAP prevention strategies in the ICU.   Keywords: Adherence; Knowledge; Nursing Training Program; Practice; Ventilator-Associated Pneumonia (VAP).   Pendahuluan: Pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) dan menggunakan ventilator selama lebih dari 48 jam sangat rentan mengalami Ventilator-Associated Pneumonia (VAP), sebuah komplikasi klinis yang cukup umum. Sebuah studi menunjukkan bahwa, pelatihan perawat perawatan kritis dalam penerapan paket pencegahan VAP secara efektif mengurangi insiden VAP . Tujuan: Untuk mengidentifikasi pengaruh program pelatihan keperawatan terhadap kejadian VAP, peningkatan pengetahuan, praktik, dan kepatuhan perawat. Metode: Tinjauan pustaka yang melibatkan penelusuran basis data akademik daring untuk mendapatkan studi-studi relevan, termasuk PubMed, Scopus, Wiley Online Library, MJSonline, dan Google Scholar. Studi kuasi-eksperimental tentang perawat perawatan intensif yang memberikan layanan kepada pasien menggunakan ventilator mekanik yang diterbitkan antara tahun 2015 dan 2024. Hasil: Sebanyak 10 artikel penelitian yang ditinjau menunjukkan bahwa, program pelatihan perawat dapat mengurangi kejadian VAP dan meningkatkan pengetahuan, praktik, dan kepatuhan perawat terhadap protokol pencegahan VAP. Simpulan: Program pelatihan perawat mengurangi kejadian VAP dan meningkatkan pengetahuan, praktik serta kepatuhan perawat di unit perawatan intensif. Saran: Penelitian selanjutnya harus memperluas akses literatur, menerapkan seleksi objektif, dan mengoptimalkan sumber daya untuk menghasilkan wawasan yang lebih dalam dan meningkatkan strategi pencegahan VAP di ICU.   Kata Kunci: Kepatuhan; Pengetahuan; Praktik; Program Pelatihan Keperawatan; Ventilator Associated Pneumonia (VAP).
Keterkaitan ASI eksklusif dan vaksinasi terhadap kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada balita usia 12-48 bulan Dewi, Ni Luh Arisda Satya Cahya; Rahmawati, Febtarini; Linggawan, Stephani; Raharjo, Budiono; Anggono, Susan Jocelyn; Tjokro, Vanessa Susanto; Gunawan, Catherine Keiko; Sumarpo, Anton
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1624

Abstract

Background: Breast milk contains compounds that strengthen and stimulate the immune system. Previous research has shown a correlation between exclusive breastfeeding, complete immunization, and the incidence of acute respiratory infections in children. Purpose: To analyze the relationship between exclusive breastfeeding and immunization on the incidence of acute respiratory infections in toddlers aged 12-48 months. Method: This quantitative study used a cross-sectional approach with a sample of 40 infants who met the inclusion criteria. Univariate and bivariate data were analyzed using the chi-square test. Results: The analysis showed a p-value of 0.540 (α<0.05) between exclusive breastfeeding and the incidence of ARI, and a p-value of 0.006 (α<0.05) between complete immunization and the incidence of acute respiratory infections. Conclusion: There was no statistically significant relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of acute respiratory infections. However, a significant relationship was found between the level of complete immunization and the incidence of acute respiratory infections. Suggestion: Future research should use a larger sample size to increase the power of the study and expand the study by including other risk factors to more accurately determine their influence.   Keywords: Acute Respiratory Tract Infection; Breastfeeding; Exclusive breastfeeding; Toddlers; Vaccination.   Pendahuluan: Air susu ibu (ASI) mengandung komposisi yang memperkuat dan merangsang sistem kekebalan tubuh. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan adanya korelasi antara pemberian ASI eksklusif, vaksinasi lengkap, dan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada anak. Tujuan: Untuk menganalisis keterkaitan ASI eksklusif dan vaksinasi terhadap kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada balita usia 12-48 bulan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan sampel sebanyak 40 bayi yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Analisis menunjukan nilai p=0.540 (α<0.05) antara variabel pembeian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA, dan nilai p=0.006 (α<0.05) antara variabel kelengkapan vaksinasi dengan kejadian ISPA. Simpulan: Tidak adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA. Namun, ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat kelengkapan vaksinasi dengan kejadian ISPA. Saran: Penelitian selanjutnya dapat menggunakan ukuran sampel yang lebih besar untuk meningkatkan kekuatan studi dan memperluas penelitian dengan memasukkan faktor risiko lain untuk menentukan pengaruhnya secara lebih akurat.   Kata Kunci: ASI Eksklusif; Balita; Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA); Menyusui; Vaksinasi.
Pengaruh dukungan sosial terhadap tingkat kecemasan masa depan siswa dalam persiapan masuk perguruan tinggi Ratno, Shinta Belinda; Damayanti, Desita Dyah; Astuti, Tri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1639

Abstract

Background: Anxiety about the future is a phenomenon often experienced by high school students, especially when preparing to continue their education in college. Feelings of fear of failing to enter their dream college, difficulty adapting, and uncertainty about future prospects often cause disturbing psychological and physical symptoms. Social support from family, friends, and the environment is believed to be able to reduce these anxiety levels. Purpose: To determine the influence of social support on students' future anxiety levels in preparation for entering college. Method: The study used quantitative methods with purposive sampling techniques. The research sample consisted of 146 high school students aged 15–18 years who wished to continue their studies at university. The instruments used were a social support scale with a Cronbach's Alpha reliability of 0.929 and a future anxiety scale with a reliability of 0.915. Data analysis was performed using simple linear regression. Results: The study indicate a significant negative correlation between social support and future anxiety (sig. 0.000; p < 0.05). The correlation coefficient is 0.523 with a coefficient of determination of 0.273, which means that social support contributes 27.3% to the reduction in anxiety, while 72.7% is influenced by other factors. The regression coefficient (B) of -0.659 confirms that the higher the social support received by students, the lower their anxiety levels. Conclusion: Social support plays an important role in reducing high school students' anxiety about the future. This study provides a theoretical contribution regarding the relationship between social support and anxiety, as well as practical guidance for parents, teachers, and the surrounding community in providing optimal support to students who are preparing to enter college. Suggestion: For future researchers, they can add broader topics or add variables that may be related to the two variables in this study.   Keywords: Anxiety; Social Support; Students.   Pendahuluan: Kecemasan masa depan merupakan fenomena yang sering dialami siswa SMA, terutama saat mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Perasaan takut gagal masuk kampus impian, kesulitan beradaptasi, maupun ketidakpastian prospek masa depan sering menimbulkan gejala psikologis dan fisik yang mengganggu. Dukungan sosial dari keluarga, teman, maupun lingkungan diyakini mampu menurunkan tingkat kecemasan tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap tingkat kecemasan masa depan siswa dalam persiapan masuk perguruan tinggi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 146 siswa SMA berusia 15–18 tahun yang berkeinginan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Instrumen yang digunakan berupa skala dukungan sosial dengan reliabilitas Cronbach’s Alpha 0.929 dan skala kecemasan masa depan dengan reliabilitas 0.915. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil: Menunjukkan adanya pengaruh negatif yang signifikan antara dukungan sosial dan kecemasan masa depan (sig. 0.000; p < 0.05). Koefisien korelasi sebesar 0.523 dengan koefisien determinasi 0.273, berarti dukungan sosial berkontribusi 27.3% terhadap penurunan kecemasan, sedangkan 72.7% dipengaruhi faktor lain. Koefisien regresi (B) sebesar -0.659 menegaskan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima siswa, semakin rendah tingkat kecemasannya. Simpulan: Dukungan sosial memainkan peran penting dalam menurunkan kecemasan masa depan siswa SMA. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis mengenai keterkaitan dukungan sosial dan kecemasan, serta menjadi rujukan praktis bagi orang tua, guru, dan lingkungan sekitar dalam memberikan dukungan optimal kepada siswa yang sedang mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi. Saran: Bagi peneliti selanjutnya, dapat menambahkan topik yang lebih luas lagi ataupun menambahkan variabel yang mungkin berkaitan dengan dua variabel pada penelian ini.   Kata Kunci: Dukungan Sosial; Kecemasan; Siswa.
Penerapan rancangan smart hydration bottle untuk memantau kebutuhan cairan pada ibu hamil yang bekerja Farida, Nita; Sari, Nina Yuliana; Erlena, Erlena; Alfiansyah, Deden Moh
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1643

Abstract

Background: Pregnancy is a period that requires special attention to nutritional and fluid intake. However, many pregnant women who work face difficulties in maintaining adequate hydration due to busy activities and the lack of proper fluid monitoring. Dehydration may negatively impact both maternal and fetal health; therefore, technological innovations are needed to support fluid intake fulfillment. Pupose: To develop and implement a Smart Hydration Bottle equipped with sensors and a digital application to automatically and in real-time monitor daily fluid consumption among working pregnant women. Method: A Research and Development (R&D) approach, including product design, prototype testing, and effectiveness evaluation among 20 pregnant women. Data on fluid consumption were collected through pre-test and post-test measurements and analyzed using the Paired Sample t-Test. Results: The results showed a significant increase in average fluid intake from 1.550 ml/day before the intervention to 2.050 ml/day after the intervention (p < 0.05). User responses toward Smart Hydration Bottle features were highly positive, with an acceptance rate of more than 90% for ease of use, automatic recording, drink reminder notifications, and hydration charts. Conclusion: These findings indicate that the Smart Hydration Bottle is effective in improving hydration compliance among working pregnant women.   Keywords:  Dehydration; Health Technology; Hydration; Pregnant Women; Smart Hydration Bottle.   Pendahuluan: Kehamilan merupakan periode yang membutuhkan perhatian khusus terhadap asupan nutrisi dan cairan. Namun, banyak ibu hamil yang bekerja mengalami kesulitan dalam menjaga kecukupan hidrasi akibat aktivitas padat dan kurangnya pemantauan cairan secara tepat. Kondisi dehidrasi dapat berdampak negatif terhadap kesehatan ibu maupun janin, sehingga dibutuhkan inovasi teknologi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan cairan. Tujuan: Untuk mengembangkan dan menerapkan sistem smart hydration bottle berbasis sensor dan aplikasi digital guna memantau konsumsi cairan harian ibu hamil secara otomatis dan real-time. Metode: Research and Development (R&D) melalui tahapan perancangan, uji coba prototype serta evaluasi efektivitas pada 20 ibu hamil yang bekerja. Data konsumsi cairan dikumpulkan dengan pre-test dan post-test, dan dianalisis menggunakan Paired sample t-test. Hasil: Adanya peningkatan signifikan rata-rata konsumsi cairan dari 1.550 ml/hari sebelum intervensi menjadi 2.050 ml/hari setelah intervensi (p < 0.05). Respon pengguna terhadap fitur smart hydration bottle juga sangat positif dengan tingkat penerimaan lebih dari 90% pada aspek kemudahan penggunaan, pencatatan otomatis, notifikasi pengingat minum, dan grafik hidrasi. Simpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa smart hydration bottle efektif meningkatkan kepatuhan hidrasi pada ibu hamil yang bekerja.   Kata Kunci: Dehidrasi; Hidrasi; Ibu Hamil; Smart Hydration Bottle; Teknologi Kesehatan.
Hubungan antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja pada perawat di ruang rawat inap Latuwael, Amazia Lovenia; Kalesaran, Angela Fitriani Clementine; Kawatu, Paul Arthur Tennov
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1653

Abstract

Background: Sleep quality is a factor that influences workers' physical condition. Poor sleep quality can lead to increased work fatigue. Purpose: To determine the relationship between sleep quality and work fatigue among nurses in inpatient wards. Method: This analytical survey study used a quantitative approach with a cross-sectional study design. The study was conducted from December to July 2025 at the Bethesda Evangelical Christian Church General Hospital in Minahasa (GMIM) in Tomohon. The sampling technique used purposive sampling and recruited 57 respondents. The instruments used were the Job Fatigue Feelings Questionnaire and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Variables were measured through statistical analysis, both univariate and bivariate, using the Chi-Square test. Results: The majority of respondents (46 respondents (80.7%) reported poor sleep quality, and 31 respondents (54.4%) were classified as having work fatigue. Based on the chi-square test results, the p-value was 0.042 (<0.05), indicating that Ho was rejected and Ha was accepted, indicating a relationship between sleep quality and work fatigue among nurses in inpatient wards. Conclusion: There is a significant relationship between sleep quality and work fatigue among nurses, with a p-value of 0.042.   Keywords: Inpatient Wards; Nurses; Sleep Quality; Work Fatigue.   Pendahuluan: Kualitas tidur merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kondisi fisik pekerja. Kualitas tidur yang buruk dapat berdampak pada meningkatnya kelelahan kerja pekerja. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja pada perawat di ruang rawat inap. Metode: Penelitian survei analitik dengan pendekatan kuantitatif menggunakan desain cross-sectional study. Penelitian dilakukan pada bulan Desember - Juli 2025 di Rumah Sakit Umum Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Bethesda Tomohon. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan didapatkan sebanyak 57 responden. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2) dan kualitas tidur Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Pengukuran variabel melalui analisis statistik, diketahui secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Mayoritas responden memiliki kualitas tidur buruk sebanyak 46 responden (80.7%) dan sebanyak 31 responden (54.4%) berada pada kategori lelah kerja. Berdasarkan hasil uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0.042 (<0.05), berarti Ho ditolak dan Ha diterima atau ada hubungan antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja pada perawat di ruang rawat inap. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja pada perawat dengan perolehan nilai p sebesar 0.042.   Kata Kunci: Kelelahan Kerja; Kualitas Tidur; Perawat; Ruang Rawat Inap.
Intervensi Bugar (body, soul, good, and relax) untuk menurunkan stres dan kelelahan pada pekerja industri manufaktur Sudiono, Sudiono; Gowi, Abdul
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1657

Abstract

Background: Physical fatigue is one of the most important and common occupational hazards across various industries. Various tools have been used to detect/measure work-related fatigue, both subjectively and objectively. Smartwatches are one such tool that can be used to objectively detect physical fatigue levels by observing hemodynamics. Purpose: To apply a machine learning approach based on data collected from smartwatches to develop a fatigue detection model for workers in manufacturing environments. Method: This research employed a mixed explanatory sequential method, measuring fatigue using machine learning-based smartwatches and the Fatigue Severity Scale (FSS). Results: A correlation coefficient of 0.039 was obtained, indicating a strong relationship between HR values ​​and participants' fatigue scores. Interviews on participants' fatigue levels yielded nine themes of workers' fatigue experiences. Conclusion: Fatigue detection using machine learning, which combines HR values ​​and fatigue values, is highly effective in preventing work-related fatigue. Suggestion: Further research is expected to further explore data with more participants involved, the use of Android and iOS-based applications can be considered to expand the reach of manufacturing workers who can be involved in future research.               Keywords: Bugar Intervention; Fatigue; Industry; Manufacturing; Stress; Workers.   Pendahuluan: Kelelahan fisik adalah salah satu bahaya kerja yang paling penting dan umum terjadi di berbagai industri. Berbagai macam alat telah digunakan untuk mendeteksi/mengukur kelelahan akibat kerja, baik deteksi/pengukuran secara subjektif maupun objektif.  Smartwatch adalah salah satu alat yang dapat digunakan untuk mendeteksi tingkat kelelahan fisik secara objektif dengan melihat dari hemodinamik. Tujuan: Untuk menerapkan pendekatan pembelajaran mesin berdasarkan data yang dikumpulkan dari smartwatch untuk mengembangkan model deteksi kelelahan bagi pekerja di lingkungan manufaktur. Metode: Penelitian mixed metode explanatory sequential  dengan pengukuran kelelahan menggunakan machine learning smartwach dan fatigue severity scale (FSS). Hasil:  Diperoleh nilai correlation coefficient sebesar 0.039, menunjukkan ada hubungan kuat antara nilai HR dengan skor kelelahan partisipan. Dari hasil wawancara tingkat kelelahan partisipan menghasilkan 9 tema pengalaman kelelahan pekerja. Simpulan: Deteksi kelelahan dengan machine learning yang mengkobinasikan nilai HR dan nilai kelelahan kerja sangat efektif dilakukan untuk mencegah terjadinya kelelahan akibat kerja. Saran: Penelitian selanjutnya diharapkan lebih melakukan ekspolarasi data dengan lebih banyak lagi partisipan yang dilibatkan, penggunaan aplikasi berbasis android maupun iOS dapat dipertimbangkan untuk memperluas jangkauan pekerja manufaktur yang bisa dilibatkan dalam penelitian yang akan datang.   Kata Kunci: Intervensi Bugar; Kelelahan; Industri; Manufaktur; Pekerja; Stres.
Diagnostic accuracy of hemoglobin-a1c compared to fasting plasma glucose for early detection of diabetes mellitus: A systematic review Surbakti, Dawina Yohanna
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1659

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a global health problem with rising prevalence, including in Indonesia. Diagnosis traditionally relies on fasting plasma glucose (FPG) or oral glucose tolerance test (OGTT), but both have technical limitations. Hemoglobin A1c (HbA1c) has emerged as an alternative, reflecting average glucose levels over the previous 2–3 months. Purpose: To review the comparative diagnostic accuracy of HbA1c versus FPG in early detection of DM. Method: Systematic literature review research using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) method and the PICOS approach, namely P (problem, patient, or population), I (intervention, prognostic factor, or exposure), C (comparison or control), O (outcome) and S (study). Writing literature with keywords “HbA1c” OR “Fasting Plasma Glucose”, AND “Diabetes Mellitus”. From the 159 articles identified, screening was conducted according to the topic of discussion, resulting in 5 articles related to the comparison of the diagnostic accuracy of HbA1c with FPG in the early detection of DM. Results: Five primary studies involving 54,746 participants from Asia and the United States met inclusion criteria. Most applied HbA1c cut-offs ≥6.5% and FPG ≥7.0 mmol/L. Findings showed HbA1c had higher sensitivity (up to 82.5% in Singapore), whereas FPG demonstrated greater specificity (up to 96.9%) with superior positive predictive value. Area under the curve (AUC) ranged from 0.73–0.93; HbA1c performed better in community-based populations, while FPG was more accurate in high-risk clinical populations. Heterogeneity was influenced by cut-off variation, population characteristics, comorbidities, age, BMI, and reference standards. Conclusion: HbA1c is more practical and sensitive for large-scale community screening, while FPG remains highly specific and appropriate for diagnostic confirmation. Selection of diagnostic method should consider clinical context, population characteristics, and local resource availability.   Keywords: Diabetes Mellitus; Early Detection; Fasting Plasma Glucose; Hemoglobin A1c.   Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi meningkat, termasuk di Indonesia. Diagnosis DM umumnya mengandalkan glukosa plasma puasa (FPG) atau uji toleransi glukosa oral (OGTT), namun keduanya memiliki keterbatasan teknis. Pemeriksaan hemoglobin A1c (HbA1c) menjadi alternatif karena merefleksikan kadar glukosa rata-rata 2–3 bulan terakhir. Penelitian ini bertujuan meninjau perbandingan akurasi diagnostik HbA1c dengan FPG dalam deteksi dini DM. Tujuan: Untuk mengevaluasi akurasi diagnostik komparatif antara HbA1c dan FPG dalam deteksi dini diabetes mellitus (DM). Metode: Penelitian literature review menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Desain pencarian artikel dengan merumuskan PICOS yaitu P (problem, patient, or population), I (intervention, prognostic factor, or exposure), C (comparison or control), O (outcome) dan S (study). Pencarian literatur yang digunakan berasal dari beberapa database, antara lain PubMed, Scopus, Embase, dan Cochrane Library dengan kata kunci “HbA1c” OR “Fasting Plasma Glucose”, AND “Diabetes Mellitus”. Mengidentifikasi 159 artikel selanjutnya dilakukan penyaringan sesuai dengan topik bahasan mendapatkan 5 artikel yang terkait perbandingan akurasi diagnostik HbA1c dengan FPG dalam deteksi dini DM. Hasil: 5 studi primer dari Asia dan Amerika memenuhi kriteria. Sebagian besar menggunakan cut-off HbA1c ≥6.5% dan FPG ≥7.0 mmol/L. Hasil menunjukkan HbA1c memiliki sensitivitas lebih tinggi (hingga 82.5% di Singapura), sedangkan FPG lebih spesifik (hingga 96.9%) dengan nilai prediktif positif lebih baik. Area under the curve (AUC) bervariasi 0.73–0.93; HbA1c lebih unggul pada populasi komunitas, sedangkan FPG lebih akurat pada populasi klinis berisiko tinggi. Variasi cut-off, populasi, komorbid, usia, BMI, dan standar referensi memengaruhi heterogenitas hasil. Simpulan: HbA1c lebih praktis dan sensitif untuk skrining populasi luas, sementara FPG tetap lebih spesifik dan sesuai untuk konfirmasi diagnosis. Pemilihan metode perlu disesuaikan dengan konteks klinis, karakteristik populasi, dan sumber daya lokal.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus; Deteksi Dini; Fasting Plasma Glucose; Hemoglobin A1c.
Optimalisasi pelaksanaan journal reading di instalasi gawat darurat melalui pendekatan kotter’s 8-step change model Silitonga, Ester Mutiara Indah; Hariyati, Roro Tutik Sri; Afriani, Tuti; Wildani, Andi Amalia; Nasri, Khairul
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1662

Abstract

Background: The Emergency Department of Hospital X Jakarta faces challenges in developing nurses' critical thinking skills, influenced by time constraints and high workloads. One potential strategy to support nurses' continuous professional development is through structured journal reading activities. However, this activity has not been optimally implemented due to the lack of systematic and documented implementation guidelines. Purpose: To optimize the implementation of journal reading in the emergency department using Kotter's 8-Step Change Model. Method: A case study approach with management function analysis covering the stages of planning, organizing, directing, implementing, and Fish Bone analysis. The framework uses Kotter's 8-step change model approach. The activity was carried out at the Emergency Room of Hospital X Jakarta on June 19–28, 2025. Results: There was an increase in knowledge scores on 80% of the items after the socialization, although challenges still occurred in selecting appropriate articles. The socialization was conducted in a hybrid manner with the participation of 44 nurses and generated positive responses to the existence of Standard Operating Procedures (SOPs). Monitoring of nurses showed an increase in understanding and ability to conduct journal reading according to the guidelines. Conclusion: Implementation of the SOP socialization for journal reading has been proven to improve the quality of journal-based learning. Suggestion: Further mentoring and integration of SOPs into cross-unit nursing professional development programs are needed.   Keywords: Emergency Department; Journal Reading; Kotter's 8-Step Change Model Approach.   Pendahuluan: Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit X Jakarta menghadapi tantangan dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis perawat, dipengaruhi oleh keterbatasan waktu dan tingginya beban kerja. Salah satu strategi yang potensial untuk mendukung pengembangan profesional berkelanjutan perawat adalah melalui kegiatan journal reading yang terstruktur. Namun, kegiatan ini belum terlaksana secara optimal karena belum adanya acuan pelaksanaan yang sistematis dan terdokumentasi. Tujuan: Untuk mengoptimalisasi pelaksanaan journal reading di instalasi gawat darurat melalui pendekatan kotter’s 8-step change model. Metode: Pendekatan studi kasus dengan analisa fungsi manajemen yang meliputi tahapan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaksanaan, serta analisa Fish Bone.  Kerangka kerja menggunakan pendekatan kotter’s 8-step change model. Kegiatan dilaksanakan di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit X Jakarta pada tanggal 19–28 Juni 2025. Hasil: Terdapat peningkatan skor pengetahuan pada 80% butir soal setelah sosialisasi, meskipun masih ditemukan kendala pada pemilihan artikel yang tepat. Sosialisasi dilakukan secara hybrid dengan partisipasi 44 perawat, dan menghasilkan tanggapan positif terhadap keberadaan Standar Prosedur Operasional (SPO). Monitoring terhadap perawat pelaksana menunjukkan peningkatan pemahaman dan kemampuan dalam melakukan journal reading sesuai panduan. Simpulan: Implementasi sosialisasi SPO journal reading terbukti meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis jurnal. Suggestion: Diperlukan pendampingan lanjutan serta integrasi SPO dalam program pengembangan profesional keperawatan lintas unit.   Kata Kunci: Instalasi Gawat Darurat; Journal Reading; Pendekatan Kotter’s 8-Step Change Model.