cover
Contact Name
Dedi Sufriadi
Contact Email
dedisufriadi@serambimekkah.ac.id
Phone
+6285260082672
Journal Mail Official
jurnalcarong@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tgk. Imum Lueng Bata, Bathoh, Banda Aceh, Indonesia 23245
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora
ISSN : -     EISSN : 30892082     DOI : https://doi.org/10.62710/carong
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora menerbitkan artikel bidang: (1) Pendidikan: Pendidikan dan Pembelajaran, Pendidikan Karakter, Pendidikan Inklusi, Kurikulum Pendidikan. (2) Sosial: Ekonomi, Sosiologi, Psikologi, Sosial, Budaya, Antropologi. (3) Humaniora: Sastra, Sejarah, Bahasa, Seni, Filsafat, Agama, Hukum
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 251 Documents
Rekonstruksi Normatif Pengaturan Cerai Gugat dalam Hukum Perkawinan Indonesia Ditinjau dari Asas Kepastian Hukum Nabella Maharani Novanta; M. Rizka Alfani
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/jfqdzz77

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelemahan normatif pengaturan akibat hukum pasca-perceraian, khususnya hak keperdataan perempuan dalam perkara cerai gugat, serta merumuskan rekonstruksi normatif untuk menjamin kepastian hukum yang adil. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif (doctrinal legal research) dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan konseptual (conceptual approach). Bahan hukum primer meliputi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam (KHI), dan Surat Edaran Mahkamah Agung terkait, sedangkan bahan hukum sekunder berupa buku, jurnal, dan penelitian terdahulu. Pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif-preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelemahan normatif cerai gugat terletak pada ketidaktegasan regulasi dalam membedakan perceraian akibat kelalaian suami dengan perceraian yang diajukan murni oleh istri. SEMA Nomor 3 Tahun 2018 dan SEMA Nomor 2 Tahun 2019 belum memberikan kepastian hukum yang kuat karena kedudukannya tidak setara dengan undang-undang, sehingga berpotensi menimbulkan disparitas putusan hakim. Rekonstruksi normatif diperlukan melalui pembaruan regulasi dengan mempertegas pengaturan akibat hukum cerai gugat, termasuk kriteria pemberian nafkah iddah dan mut'ah. Pembaruan hukum perkawinan diperlukan untuk mengatasi kekosongan norma dan menjamin perlindungan hak perempuan pasca-perceraian berdasarkan kepastian hukum yang substantif dan berkeadilan.
The Role of Muslim Scientists in the Development of Science: A Social and Historical Perspective on Islamic Civilization Sanusi Sanusi; Rizal Fahmi; Yusrijal Abdar; Nurul Azmi
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 2 (2024): April-Juni, Study of Regional Social and Cultural Education
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/d8g86576

Abstract

This research aims to comprehensively elaborate on the significant contributions of Muslim scientists to the development of science during the Islamic golden age and analyze its relevance to contemporary modern civilization. The background of this study is rooted in the existence of a fairly deep historical bias in the historical narrative of global science, which often ignores the phase of intellectual transmission of the Islamic world and jumps directly from the period of ancient Greece to the Renaissance era in Western Europe. The research method used in this article is qualitative descriptive based on library research by analyzing in depth fifteen reputable and relevant scientific journals. The results show that (1) Muslim scientists not only acted as translators of ancient classical texts, but also as major innovators, (2) true experimentalists, and (3) laid the foundations of modern scientific methodology in various crucial fields such as mathematics, medical science, astronomy, chemistry, pharmacy, and philosophy. The latest findings in this scientific article indicate that the integration of classical Islamic scientific traditions into modern educational curricula is able to substantively revitalize students' motivation to learn science and strengthen the morality-based character of spirituality in the digital age.
Perkembangan Kebijakan Hukum Pidana terhadap Deepfake sebagai Sarana Kejahatan di Era Digital: Literature Review Rizki Auliadi
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 2 (2026): April-Juni, Ilmu Sosial dan IPA
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/98wccn10

Abstract

Perkembangan kecerdasan buatan telah menghadirkan teknologi deepfake yang mampu menghasilkan manipulasi gambar, video, dan suara dengan tingkat kemiripan tinggi sehingga berpotensi digunakan sebagai sarana kejahatan digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan kebijakan hukum pidana terhadap penyalahgunaan deepfake di Indonesia. Penelitian menggunakan metode literature review dengan pendekatan yuridis normatif. Pencarian literatur dilakukan melalui Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, dan Garuda terhadap publikasi tahun 2020 sampai Juni 2026. Dari 312 artikel yang diidentifikasi, setelah proses penyaringan dan penilaian kelayakan diperoleh 10 artikel yang dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa deepfake dimanfaatkan dalam berbagai bentuk kejahatan, antara lain penipuan, pencemaran nama baik, pornografi nonkonsensual, pencurian identitas, disinformasi, dan manipulasi bukti digital. Literatur juga menunjukkan bahwa hukum pidana Indonesia belum mengatur deepfake secara eksplisit dan komprehensif, sehingga menimbulkan persoalan dalam kriminalisasi, pertanggungjawaban pidana, pembuktian, identifikasi pelaku, dan perlindungan korban. Oleh karena itu, diperlukan reformulasi kebijakan hukum pidana yang adaptif, penguatan forensik digital, peningkatan kapasitas aparat penegak hukum, serta pengaturan pertanggungjawaban yang lebih jelas bagi pihak yang terlibat dalam penggunaan teknologi kecerdasan buatan.
Pemanfaatan Generative AI untuk Code Generation dan Code Review: Literature Review Safriatullah
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 2 (2026): April-Juni, Ilmu Sosial dan IPA
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/gxd0gk42

Abstract

Perkembangan Generative Artificial Intelligence (GenAI), khususnya Large Language Models (LLM), telah memberikan perubahan signifikan dalam proses rekayasa perangkat lunak, terutama pada aktivitas code generation dan code review. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan GenAI pada kedua aktivitas tersebut dengan mengidentifikasi manfaat, keterbatasan, serta peluang pengembangannya. Penelitian menggunakan metode literature review dengan pendekatan sistematis melalui pencarian pada Scopus, IEEE Xplore, ACM Digital Library, Web of Science, dan Google Scholar terhadap publikasi tahun 2021 hingga 30 Juni 2026. Dari proses seleksi literatur, diperoleh 10 artikel utama yang dianalisis menggunakan ekstraksi dan sintesis data secara deskriptif-komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa GenAI mampu meningkatkan efisiensi pemrograman, mengurangi pekerjaan coding rutin, membantu menghasilkan kode, mendeteksi kesalahan dan kerentanan, serta mengotomatisasi sebagian proses code review. Namun, keluaran GenAI masih menghadapi permasalahan berupa ketidakakuratan, keterbatasan pemahaman konteks, potensi hallucination, kerentanan keamanan, dan kebutuhan terhadap debugging serta validasi. Oleh karena itu, GenAI lebih tepat diposisikan sebagai alat bantu dalam kolaborasi manusia dan AI, bukan sebagai pengganti programmer atau reviewer. Pengembangan selanjutnya perlu menekankan peningkatan akurasi, keamanan, evaluasi kontekstual, dan mekanisme human-in-the-loop.
Pengaruh Self Control Terhadap Psychological Distress Pada Residivis di Lembaga Pemasyarakatan X Yesicha Aprilia Saragih; Dessy Pramudiani; Ayu Ulivia; Nurul Hafizah
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/met5de46

Abstract

This study aimed to examine the effect of self control on psychological distress among recidivist at Correctional Institution X. This study employed a quantitative approach with a causal research design. The participants were 98 recidivist inmates selected using quota sampling. Data were collected using the Indonesian Version of the Self Control Scale and the Kessler Psychological Distress Scale (K10). Data were analyzed using simple linear regression. The result showed that self control did not have a significant effect on psychological distress among recidivist, with a significance value of 0.210 (p > 0.05). The coefficient of determination (R2) was 0.016, indicating that self control explained only 1.6% of the variance in psychological distress, while the remaining 98.4% was explained by factors not examined in this study. These findings indicate that self control was not a significant predictor of psychological distress among recidivist. Therefore, other factors should be considered in understanding psychological distress among recidivist.
Strategi Ustadz Heriyansyah dalam Mengembangkan Dakwah melalui Dakwah Bil Hal dan Dakwah Bil Lisan di Kecamatan Simeulue Timur Kabupaten Simeulue Inayatul Sa’adah Athifah; Fakhri Yusuf; Abizal Muhammad Yati; Sakdiah Sakdiah; Rahmatul Akbar
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/0cxktd06

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Ustadz Heriyansyah dalam mengembangkan dakwah melalui dakwah bil lisan dan dakwah bil hal di Kecamatan Simeulue Timur Kabupaten Simeulue, serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dan upaya yang dilakukan dalam mengembangkan kegiatan dakwah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi tokoh. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dakwah Ustadz Heriyansyah dilakukan melalui perpaduan dakwah bil lisan dan dakwah bil hal yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Dakwah bil lisan dilakukan melalui khutbah Jumat, pengajian rutin, ceramah keagamaan, serta pemanfaatan media sosial Facebook sebagai sarana penyebaran pesan dakwah. Penyampaian materi dilakukan dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif, memberikan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta memperhatikan nilai adat dan kearifan lokal masyarakat Simeulue. Sementara itu, dakwah bil hal diwujudkan melalui keteladanan, perbaikan sifat dan perilaku, kepedulian terhadap masyarakat, serta keterlibatan dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Dalam pelaksanaannya, terdapat tantangan berupa sebagian masyarakat yang cenderung hanya memahami pesan dakwah secara kognitif tetapi belum mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta rendahnya minat sebagian masyarakat untuk mengikuti pengajian. Untuk menghadapi tantangan tersebut, strategi dakwah diarahkan pada penguatan dakwah bil lisan dan bil hal secara seimbang, dengan penyampaian materi yang lebih komunikatif, aplikatif, dan sesuai kebutuhan masyarakat, disertai keteladanan dan pemanfaatan media sosial untuk memperluas jangkauan dakwah. Dengan demikian, perpaduan dakwah bil lisan dan dakwah bil hal menjadi strategi yang penting dalam meningkatkan pemahaman, penghayatan, pengamalan nilai-nilai Islam, dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan.
Pengaruh Metode Fishbowl Discussion terhadap Pemahaman Siswa pada Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Siswa Kelas IV (Penelitian Quasi Eksperimen di Kelas IV MI Miftahul Huda) Alinda Rosliana; H. Yayan Carlian; Heny Mulyani
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/p34wxy63

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perlunya metode pembelajaran yang lebih interaktif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), khususnya pada materi Keberagaman Budaya yang bersifat abstrak. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh penerapan metode pembelajaran Fishbowl Discussion terhadap hasil belajar siswa kelas IV MI Miftahul Huda pada materi tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain quasi experiment tipe Non-Equivalent Control Group, melibatkan 24 siswa yang terbagi menjadi kelas eksperimen (13 siswa, diberi perlakuan Fishbowl Discussion) dan kelas kontrol (11 siswa, diberi perlakuan direct interaction). Data dikumpulkan melalui tes pilihan ganda dan lembar observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji paired sample t-test, dan uji N-Gain berbantuan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum perlakuan, hasil belajar siswa berada pada kategori kurang (rata-rata pretest 68,54 pada kelas kontrol dan 72,36 pada kelas eksperimen). Setelah perlakuan, rata-rata posttest kelas eksperimen meningkat menjadi 92, lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang mencapai 82, dengan simpangan baku yang lebih rendah (6,52) yang menunjukkan pemahaman siswa lebih merata. Uji hipotesis memperoleh nilai signifikansi 0,055 (p > 0,05), sedangkan persentase N-Gain mencapai 100,0% dengan klasifikasi sangat baik. Temuan ini mengindikasikan bahwa metode Fishbowl Discussion cenderung meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi PPKn yang abstrak, meskipun secara statistik peningkatannya belum mencapai taraf signifikan, sehingga tetap diperlukan persiapan matang dalam pengelolaan kelompok inner circle dan outer circle serta pengelolaan waktu diskusi.
Reposisi Tanggung Jawab Komisaris atas Tindakan Ultra Vires yang Menimbulkan Pelanggaran CSR Erna Amaliaea; Mohammad Wira Utama; Syafrida Syafrida
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/sdbf0a88

Abstract

The principle of limited liability in a corporation serves as the basis for limiting the liability of corporate organs, namely the General Meeting of Shareholders (GMS), Board of Directors, and Board of Commissioners, for losses incurred by the corporation. However, ultra vires acts committed or tolerated by the Board of Commissioners may result in violations of Corporate Social Responsibility (CSR) obligations, causing social and environmental harm. This study aims to analyze and reposition the legal liability of the Board of Commissioners for ultra vires acts that result in CSR violations within the framework of corporate law reform. This study employs a normative juridical method using conceptual and comparative approaches and examines the interrelationship among the doctrines of fiduciary duty, ultra vires, piercing the corporate veil, and the development of the concept of personal liability of commissioners. The findings indicate that positive law continues to treat CSR primarily as a corporate obligation, thereby creating an accountability gap when violations arise from acts of commissioners that exceed their authority. Repositioning the liability of commissioners is therefore necessary through a broader interpretation of fiduciary duty and the selective application of the piercing the corporate veil doctrine. Such an approach is expected to strengthen commissioner accountability, prevent ultra vires acts, and promote the protection of public interests in the implementation of CSR.
Pelestarian Tradisi “Sayang-Sayang Mandar” sebagai Media Penanaman Nilai Pendidikan Islam di Desa Tallu Banua Utara Kecamatan Sendana Kabupaten Majene Asrar Asrar
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/6d4rf026

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberadaan lagu Sayang-Sayang sebagai kesenian dan warisan budaya Mandar yang mengandung pesan moral serta nilai kehidupan. Perubahan zaman dan pola kehidupan generasi muda menjadi tantangan dalam mempertahankan eksistensi budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pelestarian lagu Sayang-Sayang, kandungan nilai pendidikan Islam di dalamnya, serta pemanfaatannya sebagai media penanaman nilai pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi tokoh masyarakat, tokoh agama, pelaku seni, orang tua, dan generasi muda. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian lagu Sayang-Sayang dilakukan melalui kegiatan seni budaya, pewarisan antargenerasi, kegiatan masyarakat, serta kegiatan sosial dan keagamaan. Lagu ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana menyampaikan nasihat dan pesan moral. Nilai pendidikan Islam yang terkandung meliputi akhlak, kesopanan, kasih sayang, tanggung jawab, penghormatan, kebaikan, dan kehidupan sosial yang harmonis. Dengan demikian, pelestarian lagu Sayang-Sayang dapat menjadi media pendidikan Islam yang kontekstual dalam membentuk generasi berakhlak baik sekaligus mempertahankan identitas budaya Mandar.
Integrasi Nilai-Nilai Ki Hajar Dewantara dalam Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Mewujudkan Merdeka Belajar pada Siswa Kelas V Imron Syaeful Umam; Annisa Prima Exacta; Dian Eskanandy
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/kp6pxe55

Abstract

Dalam pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara, setiap peserta didik dipandang sebagai pribadi yang harus dituntun sesuai kodrat, kebutuhan, dan potensi yang dimilikinya, sebuah pandangan yang selaras dengan pembelajaran berdiferensiasi karena turut mengakomodasi perbedaan kesiapan, minat, dan karakteristik belajar siswa. Penelitian ini dilakukan untuk memotret penerapan nilai-nilai Ki Hajar Dewantara pada pembelajaran Pendidikan Pancasila kelas V SDN Pandean 02, mengkaji keterkaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi dan merdeka belajar, serta menyusun rekomendasi yang bertolak dari kondisi nyata di kelas. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan data yang dihimpun melalui pengamatan pembelajaran dan wawancara bersama guru kelas V dan siswa. Data diolah melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan, sementara keabsahannya diperkuat lewat triangulasi teknik. Hasil kajian memperlihatkan bahwa integrasi nilai-nilai Ki Hajar Dewantara belum berlangsung secara maksimal. Terdapat empat pola yang muncul berulang, yakni siswa yang cenderung pasif, sebagian siswa yang masih mengandalkan jawaban teman, guru yang belum memetakan kebutuhan maupun profil belajar siswa secara sistematis, dan sebagian siswa yang enggan mencoba karena takut salah. Pola-pola tersebut mengindikasikan bahwa keseimbangan antara cipta, rasa, dan karsa, serta perwujudan merdeka belajar, belum sepenuhnya tercapai. Karena itu, penguatan pembelajaran perlu dilakukan melalui asesmen diagnostik, diferensiasi konten, proses, dan produk, ruang untuk berpikir mandiri sekaligus berkolaborasi, serta iklim kelas yang aman secara psikologis.