cover
Contact Name
Anom Dwi Prakoso
Contact Email
anomdwiprakoso26@gmail.com
Phone
+6285157515166
Journal Mail Official
anom@ymci.my.id
Editorial Address
Jl. Rahtawu Raya, Desa Menawan RT 02/ 03, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Health Research Innovation
ISSN : 30466652     EISSN : 30324688     DOI : https://doi.org/10.64094/kzesc155
Core Subject : Health,
Indonesian Journal of Health Research Innovation - (IJHRI) merupakan jurnal ilmiah berkala yang dikelola dan diterbitkan oleh Yayasan Menawan Cerdas Indonesia. Jurnal ini memiliki fokus dan ruang lingkup ilmu kesehatan umum yang berkaitan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat setingggi-tingginya melalui pendekatan ilmiah melalui berbagai macam pendekatan, metode dan teknik. Fokus jurnal yaitu pada masalah kesehatan secara umum dan pengembangan ilmu bidang Kesehatan meliputi Kedokteran, Keperawatan, Kebidanan, Kesehatan masyarakat, Farmasi, Gizi, Fisioterapi, Manajemen Kesehatan, Kebijakan Kesehatan, Rekam Medis, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan kesehatan lainnya. Jurnal ini terbit empat kali dalam satu tahun pada bulan February, Mei, Agustus, dan November tiap tahunnya.
Articles 160 Documents
PERBEDAAN KADAR KREATININ SERUM PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DAN NON-DIABETES MELLITUS DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Fitri Nuraina; Arifiani Agustin Amalia; Chairil Anwar
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/6rmb1747

Abstract

Diabetes Mellitus merupakan penyakit metabolik kronis yang dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal akibat hiperglikemia berkepanjangan. Gangguan fungsi ginjal ditandai dengan peningkatan kadar kreatinin serum sebagai indikator penurunan filtrasi glomerulus. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kadar kreatinin serum pada pasien Diabetes Mellitus dan Non-Diabetes Mellitus di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode Juli–Desember 2025. Penelitian menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional menggunakan data sekunder rekam medis. Sampel penelitian sebanyak 172 responden terdiri dari 86 pasien Diabetes Mellitus dan 86 pasien Non-Diabetes Mellitus yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar kreatinin serum pada kelompok Diabetes Mellitus sebesar 1,36 mg/dL, lebih tinggi dibandingkan kelompok Non-Diabetes Mellitus sebesar 0,82 mg/dL. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan nilai p=1000 (p<0,05), sehingga terdapat perbedaan kadar kreatinin serum yang signifikan antara kedua kelompok. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pasien Diabetes Mellitus cenderung memiliki kadar kreatinin serum lebih tinggi yang mengarah pada penurunan fungsi ginjal.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS SERUM GOLONGAN DARAH A, B, O, DAN AB DALAM INDUKSI GERM TUBE PADA CANDIDA ALBICANS DENGAN VARIASI WAKTU INKUBASI Sindy Nadia Putri; Monika Putri Solikah; Novita Eka Putri
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/ky4tvg20

Abstract

Infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans merupakan salah satu infeksi jamur oportunistik yang sering terjadi pada manusia. Identifikasi cepat C. albicans dapat dilakukan melalui uji germ tube menggunakan serum sebagai media induksi. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas serum golongan darah A, B, O, dan AB dalam menginduksi pembentukan germ tube dengan variasi waktu inkubasi 30, 45, 60, dan 75 menit. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan kuantitatif menggunakan delapan sampel serum yang terdiri atas masing-masing dua sampel golongan darah A, B, O, dan AB. Isolat Candida albicans diinokulasikan ke dalam serum dan diinkubasi pada suhu 37°C, kemudian diamati secara mikroskopis. Data dianalisis menggunakan Fisher Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan germ tube hanya ditemukan pada serum golongan darah A pada waktu inkubasi 75 menit. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara serum golongan darah A, B, O, dan AB dalam menginduksi pembentukan germ tube (p = 0,036). Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan efektivitas serum antar golongan darah dalam kondisi penelitian ini, dengan pembentukan germ tube teramati pada serum golongan darah A pada waktu inkubasi 75 menit.
PENGARUH PERAWATAN PAYUDARA TERHADAP KELANCARAN PRODUKSI ASI PADA IBU NIFAS DI RS KARTINI RANGKASBITUNG TAHUN 2026 Hanny Desmiati; Herry Novrinda; Happy Novriyanti Purwadi; Suci Maulida
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/2n209b10

Abstract

Produksi Air Susu Ibu (ASI) yang lancar sangat penting bagi keberhasilan menyusui pada masa nifas. Salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran produksi ASI adalah perawatan payudara yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perawatan payudara terhadap kelancaran produksi ASI pada ibu nifas di Rumah Sakit Kartini Rangkasbitung. Metode penelitian menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan One Group Pretest-Posttest Design. Sampel terdiri dari 30 ibu nifas dengan tindakan operasi sesar yang dipilih menggunakan purposive sampling. Kelancaran produksi ASI diukur sebelum dan sesudah intervensi perawatan payudara selama 3 hari. Data dianalisis menggunakan uji Paired Sample T-Test setelah uji normalitas Shapiro-Wilk. Hasil penelitian rata-rata produksi ASI sebelum perawatan payudara adalah 1,67 cc (SD=0,59), dan meningkat menjadi 24,40 cc (SD=1,99) setelah perawatan. Sebanyak 96,7% responden mengalami kelancaran produksi ASI setelah intervensi. Uji statistik menunjukkan adanya pengaruh signifikan perawatan payudara terhadap kelancaran produksi ASI (p=0,000). Kesimpulan perawatan payudara efektif dalam meningkatkan kelancaran dan volume produksi ASI pada ibu nifas. Rekomendasi dilakukan edukasi dan pelaksanaan perawatan payudara sebagai prosedur rutin pada masa nifas untuk mendukung keberhasilan menyusui.
HUBUNGAN TINGKAT STRES AKADEMIK DENGAN KADAR HIGH-DENSITY LIPOPROTEIN (HDL) PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA Destiana Rusvindiani; Joko Murdiyanto; Lisa Wahyuningrum
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/bk4wgv93

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir rentan mengalami stres akademik akibat tuntutan penyelesaian tugas akhir, praktikum, serta persiapan memasuki dunia kerja. Stres yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi proses metabolisme tubuh, termasuk metabolisme lipid dan kadar High-Density Lipoprotein (HDL). Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara tingkat stres akademik dengan kadar HDL pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 42 mahasiswa tingkat akhir dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat stres akademik diukur menggunakan kuesioner Student-Life Stress Inventory (SLSI) yang terdiri atas 44 item, sedangkan kadar HDL diperiksa menggunakan metode Cholesterol Oxidase-Peroxidase Aminoantipyrine (CHOD-PAP) dengan alat fotometer. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank Correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami stres akademik kategori ringan sebanyak 29 responden (69,0%), stres sedang sebanyak 8 responden (19,0%), dan tidak stres sebanyak 5 responden (11,9%). Sebagian besar responden memiliki kadar HDL kategori low risk (≥60 mg/dL), yaitu sebanyak 27 responden (64,3%). Hasil uji Spearman Rank Correlation menunjukkan nilai p = 0,027 dengan koefisien korelasi r = -0,342. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara tingkat stres akademik dengan kadar HDL pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Semakin tinggi tingkat stres akademik, kadar HDL cenderung semakin rendah.
HUBUNGAN KADAR SGOT DAN SGPT DENGAN JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE DI RUMAH SAKIT NURHIDAYAH Rena Rahmaliani Tsalits; Joko Murdiyanto; Arifiani Agustin Amalia
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/affedd53

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Trombositopenia dan peningkatan kadar SGOT serta SGPT merupakan temuan laboratorium yang sering dijumpai pada pasien DBD. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kadar SGOT dan SGPT dengan jumlah trombosit pada pasien DBD di Rumah Sakit Nurhidayah. Penelitian observasional analitik ini menggunakan desain cross-sectional dan data sekunder rekam medis. Sebanyak 50 pasien dipilih menggunakan purposive sampling. Data dianalisis secara deskriptif, dilanjutkan dengan uji Shapiro-Wilk, korelasi Spearman, dan regresi linear berganda pada α=0,05. Rerata kadar SGOT, SGPT, dan jumlah trombosit masing-masing sebesar 165,74±41,52 U/L, 102,76±14,15 U/L, dan 37,36±19,11 ×10³/µL. SGOT (rₛ=-0,761; p<0,001) dan SGPT (rₛ=-0,540; p<0,001) berkorelasi negatif dengan jumlah trombosit. Model regresi signifikan (F=34,729; p<0,001; R²=0,596). Dalam model multivariat, SGOT berhubungan dengan jumlah trombosit (B=-0,458; 95% CI=-0,615 hingga -0,301; p<0,001), sedangkan SGPT tidak signifikan (B=0,401; 95% CI=-0,064 hingga 0,866; p=0,090). SGOT dan SGPT berkorelasi negatif dengan jumlah trombosit, tetapi hanya SGOT yang tetap signifikan dalam model multivariat.
HUBUNGAN STRUKTUR DAN PROSES PELAYANAN DENGAN KEPUASAN PASIEN PADA IMPLEMENTASI KELAS RAWAT INAP STANDAR DI RSUP SURAKARTA Siti Oktavia Nur Romadhoni; Resia Perwirani; Wahyu Wijaya Widiyanto
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/htbd8847

Abstract

Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) menetapkan standar minimum ruang rawat inap bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional. Kepuasan pasien dapat berkaitan dengan struktur fisik dan proses pelayanan. Penelitian ini menganalisis hubungan struktur pelayanan dan proses pelayanan dengan kepuasan pasien pada implementasi KRIS di RSUP Surakarta. Penelitian kuantitatif analitik ini menggunakan desain potong lintang. Pengumpulan data dilakukan pada Januari-Mei 2026 di bangsal Nakula 2, Sadewa 1, Sadewa 2, dan Sembadra. Sebanyak 100 pasien rawat inap direkrut menggunakan non-probability accidental sampling. Struktur pelayanan dinilai melalui observasi terhadap 30 ruang rawat inap menggunakan 12 kriteria KRIS; proses pelayanan dan kepuasan pasien diukur menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara deskriptif dan menggunakan korelasi Spearman pada alpha=0,05. Rerata skor struktur pelayanan, proses pelayanan, dan kepuasan pasien masing-masing sebesar 27,97; 112,29; dan 107,96. Struktur pelayanan tidak berkorelasi secara signifikan dengan kepuasan pasien (rho=-0,064; p=0,526). Proses pelayanan berkorelasi positif sangat kuat dengan kepuasan pasien (rho=0,885; p<0,001). Struktur pelayanan tidak berkorelasi secara statistik dengan kepuasan pasien, sedangkan persepsi proses pelayanan yang lebih baik berkorelasi kuat dengan kepuasan yang lebih tinggi. Karena desain penelitian bersifat potong lintang, temuan menunjukkan hubungan dan tidak dapat ditafsirkan sebagai sebab-akibat.
ANALISIS PELAKSANAAN PEMUSNAHAN REKAM MEDIS INAKTIF DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SALATIGA Natasha Firanandani Putri; Sri Suparti; Rizka Licia
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/rb79dv60

Abstract

Penumpukan rekam medis kertas yang inaktif dapat menurunkan efisiensi penyimpanan serta meningkatkan risiko kerusakan, kehilangan, dan kebocoran informasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan pemusnahan rekam medis inaktif di RSUD Kota Salatiga menggunakan kerangka 4M yang diadaptasi. Penelitian deskriptif kualitatif ini dilaksanakan di Instalasi Rekam Medis pada Oktober 2025–Maret 2026. Informan dipilih secara purposif, terdiri atas dua petugas filing dan Kepala Instalasi Rekam Medis sebagai informan triangulasi sumber. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan telaah dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan triangulasi sumber. Analisis difokuskan pada faktor Man, Money, Method, dan Management. Rekam medis inaktif tahun 2018–2024 belum dimusnahkan dan sebagian dipindahkan ke ruang bekas hemodialisis. Kedua petugas filing berlatar belakang pendidikan di luar Rekam Medis dan Informasi Kesehatan serta belum pernah mengikuti pelatihan terkait; satu petugas belum memiliki pengetahuan prosedural yang memadai. Anggaran khusus dan mekanisme pendanaan belum tersedia. SOP telah tersedia, tetapi belum menjelaskan masa simpan dan jadwal pemusnahan secara tegas. Kebijakan tertulis, perencanaan kegiatan, tim khusus, monitoring rutin, dan jadwal berkala belum tersedia. Pemusnahan rekam medis inaktif belum terlaksana secara optimal. Hambatan utama berupa kelemahan yang saling berkaitan pada kompetensi petugas, pembiayaan, kejelasan prosedur, dan tata kelola manajemen.
GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN IgM ANTI-LEPTOSPIRA PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSIS KLINIS LEPTOSPIROSIS DI PUSKESMAS BANTUL 1 TAHUN 2025 Nifa Hanifa; Farida Noor Irfani; Anggrieni Wisni
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/13p4x037

Abstract

Leptospirosis sering menunjukkan manifestasi klinis yang tidak spesifik sehingga pemeriksaan laboratorium penting untuk mendukung penilaian awal. Penelitian ini bertujuan menggambarkan hasil pemeriksaan imunoglobulin M (IgM) anti-Leptospira serta distribusinya berdasarkan usia, jenis kelamin, dan luaran klinis pada pasien dengan diagnosis klinis leptospirosis di Puskesmas Bantul 1 tahun 2025. Penelitian observasional deskriptif ini menggunakan pendekatan retrospektif. Seluruh 31 rekam laboratorium dan rekam medis yang memenuhi kriteria diikutsertakan melalui total sampling. IgM anti-Leptospira diperiksa menggunakan rapid test imunokromatografi, sedangkan data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk frekuensi dan persentase. Hasil IgM positif ditemukan pada 30 dari 31 pasien (96,8%), sedangkan satu pasien (3,2%) menunjukkan hasil negatif. Pasien laki-laki berjumlah 27 orang (87,1%), dan kelompok usia terbanyak adalah 56-65 tahun, yaitu 11 orang (35,5%). Sebanyak 30 pasien sembuh (96,8%) dan satu pasien meninggal (3,2%). Sebagian besar pasien yang diperiksa menunjukkan hasil IgM anti-Leptospira positif dan berjenis kelamin laki-laki, dengan proporsi terbesar pada usia 56-65 tahun. Temuan ini menggambarkan populasi penelitian dan tidak membuktikan prevalensi penyakit, akurasi diagnostik, maupun hubungan sebab-akibat antara pemeriksaan IgM dan luaran klinis. Hasil rapid test IgM perlu ditafsirkan bersama durasi gejala, temuan klinis, riwayat paparan, serta pemeriksaan konfirmasi apabila diperlukan.
STRATEGI PEMASARAN DIGITAL BERBASIS SOSTAC PADA APOTEK ENGGAL WARAS UNTUK MENDUKUNG OMZET DAN PROSPEK BISNIS Mitha Maurin Heriyanti; Zara Dwi Febriani; Sri Suwarni; Ferika Indrasari
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/9fz4bc10

Abstract

Pemasaran digital memberi peluang bagi apotek independen untuk memperluas akses layanan dan komunikasi dengan pelanggan, tetapi penerapannya harus menjaga ketepatan informasi stok serta mematuhi regulasi kefarmasian. Menganalisis strategi pemasaran digital berbasis SOSTAC pada Apotek Enggal Waras dan kontribusi yang dipersepsikan terhadap omzet serta prospek bisnis. Penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini dilaksanakan di Apotek Enggal Waras, Semarang, pada Juni–Agustus 2026. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan penelusuran catatan omzet penjualan. Informan kunci meliputi Apoteker Pengelola Apotek, tenaga kefarmasian, tenaga hubungan masyarakat/pemasaran digital, dan 30 pelanggan aktif. Data dianalisis menggunakan kerangka SOSTAC dan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña; kredibilitas data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Apotek memanfaatkan Instagram, Facebook, WhatsApp Business, Google Business Profile, Shopee, Tokopedia, TikTok, dan Halodoc. Analisis SOSTAC menunjukkan penggunaan komunikasi edukasi dan promosi multikanal, supervisi apoteker, pembaruan stok berkala, serta pemantauan interaksi, respons pelanggan, perkembangan omzet, ketepatan stok, dan kepatuhan regulasi. Wawancara dan dokumen mengindikasikan kontribusi yang dipersepsikan terhadap jangkauan pelanggan, frekuensi transaksi, dan omzet, terutama pada obat bebas, suplemen, dan produk kesehatan. Namun, penelitian tidak menyajikan estimasi numerik omzet sebelum dan sesudah penerapan strategi. SOSTAC menyediakan kerangka terstruktur untuk pengelolaan pemasaran digital apotek. Kontribusinya terhadap omzet perlu dimaknai sebagai temuan kualitatif dan dikonfirmasi melalui penelitian kuantitatif.
PENGEMBANGAN MODEL KONSEPTUAL WIRAUSAHA FARMASI BERBASIS TELEFARMASI DAN KINERJA PENJUALAN SWAMEDIKASI DI APOTEK ASRI FARMA KENDAL Syahrul Hidayat; Arina Aisyal Hani; Sri Suwarni; Ratna Wulandari
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/dyvt0z87

Abstract

Perkembangan kesehatan digital membuka peluang bagi apotek komunitas untuk memperluas pelayanan kefarmasian dan keterlibatan pelanggan. Namun, bukti yang menghubungkan penerapan telefarmasi dengan indikator kinerja bisnis apotek masih terbatas. Mengembangkan model konseptual awal wirausaha farmasi berbasis telefarmasi melalui komunitas digital dan mendeskripsikan perubahan kinerja penjualan swamedikasi di Apotek Asri Farma Kendal. Penelitian deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus ini dilaksanakan pada April–Juni 2026. Lima informan dua apoteker, dua tenaga vokasi farmasi, dan pemilik sarana apotek dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi penjualan. Analisis tematik dipadukan dengan perbandingan deskriptif indikator bisnis sebelum implementasi (Januari–Maret 2026) dan sesudah implementasi (April–Juni 2026). Model terdiri atas lima komponen, yaitu pemanfaatan platform digital, konsultasi kefarmasian daring, pelayanan swamedikasi berorientasi pasien, pengelolaan komunitas digital, dan evaluasi kinerja bisnis. Implementasi model diikuti peningkatan omzet bulanan swamedikasi sebesar 20% (Rp10.000.000 menjadi Rp12.000.000), transaksi sebesar 20% (200 menjadi 240), penambahan 30 pelanggan digital, dan peningkatan pelanggan yang melakukan pembelian ulang sebesar 37,5% (40 menjadi 55). Rerata nilai transaksi tetap Rp50.000. Model telefarmasi berasosiasi secara deskriptif dengan peningkatan frekuensi transaksi dan omzet. Karena penelitian menggunakan satu lokasi tanpa kelompok pembanding, hasil tidak membuktikan hubungan sebab-akibat dan perlu dikonfirmasi melalui penelitian yang lebih besar.