cover
Contact Name
Aulia Novemy Dhita
Contact Email
aulianovemydhita@unsri.ac.id
Phone
+6285377767024
Journal Mail Official
criksetra@fkip.unsri.ac.id
Editorial Address
Jl. Palembang-Prabumulih, km. 32. Indralaya-Ogan Ilir
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 19788673     EISSN : 26569620     DOI : https://doi.org/10.36706/jc.v13i2.13
Historiography means the writing of history based on the critical examination of sources, the selection of particular details from the authentic materials in those sources, and the synthesis of those details into a narrative that stands the test of critical examination. Historiography studies cover chronologically various themes, such as local history, social history, cultural history, economic history, political history, military history, intellectual history, environmental history, and other historical studies. History of education is a study of the past that focuses on educational issues. These include education systems, institutions, theories, themes and other related phenomena in the past. History education includes studies of how history teaches in school or society, curriculum, educational values in events, figures, and historical heritage, media and sources of historical learning, history teachers, and studies of textbooks.
Articles 186 Documents
PERUBAHAN SOSIAL DI KELURAHAN SARI BUNGAMAS KABUPATEN LAHAT TAHUN 2007-2013 (SUMBANGAN MATERI PEMBELAJARAN SEJARAH KELAS IX MADRASAH TSANAWIYAH SABILUL MUTTAQIN) Chusnul Adam; Alian Sair; Supriyanto
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.251

Abstract

Abstrak: Penelitian ini berjudul “Perubahan Sosial di Kelurahan Sari Bungamas Kabupaten Lahat Tahun 2007-2013” dengan rumusan masalah mengenai bagaimanakah perubahan sosial yang terjadi di Kelurahan Sari Bungamas, hal apakah yang mendorong perubahan sosial tersebut dan bagaimanakah pengaruh adanya perubahan struktur pemerintahan terhadap kondisi perekonomian, pendidikan dan kondisi politik masyarakat di Kelurahan Sari Bungamas. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sosial yang terjadi di Kelurahan Sari Bungamas dalam kurun waktu mulai dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2013. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode penelitian sejarah dengan langkah-langkah yang dilakukan meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sedangkan pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan dari berbagai ilmu sosial seperti, sosiologi, antropologi dan ekonomi. Berdasarkan penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan sosial di Kelurahan Sari Bungamas terjadi dalam sistem pemerintahannya, dimana sistem pemerintahan awal menggunakan sistem pemerintahan desa, kemudian berubah menjadi sistem pemerintahan kelurahan pada tahun 2007. Perubahan ini didorong oleh karena adanya kontak dengan kebudayaan lain, sistem pendidikan formal yang relatif maju, toleransi, penduduk yang heterogen, dan karena adanya orientasi masa depan. Perubahan sosial tersebut memberikan pengaruh terhadap struktur pemerintahan, kondisi perekonomian, kondisi pendidikan dan kondisi politik masyarakatnya baik yang bersifat positif maupun negatif.
Gerak Sejarah Integratif-Multidimensional: Warisan Sartono Kartodirdjo Bagi Filosofi Pendidikan Sejarah Menuju Society 5.0 Djono; Hermanu Joebagio; Nur Fatah Abidin
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i1.252

Abstract

Tulisan ini berupaya mengumandangkan kembali warisan pemikiran Sartono Kartodirdjo sebagai kerangka filosofi pendidikan sejarah (philosophical framework of history education) dan historigrafi sekolah (school historiography). Metode peninjauan dilakukan dengan pembacaan terhadap tulisan dan karya Sartono Kartodirdjo untuk mengungkap logika narasi (narrative logic) yang dikembangkannya untuk menarasikan sejarah Indonesia. Berdasarkan pembacaan karya Sartono Kartodirdjo, peneliti menggaris bawahi pendekatan gerak sejarah integratif berperspektif multidimensional sebagai jalan tengah bagi kontestasi filosofi Pendidikan sejarah di Indonesia. Melalui pendekatan ini setidaknya dua arah landasan filosofis Pendidikan sejarah yaitu penguatan kebangsaan dan tuntutan pengembangan pengetahuan kesejarahan bagi masyarakat Indonesia dapat disejajarkan secara proporsional dalam ruang Pendidikan Sejarah. Dalam konteks pendidikan sejarah di era Society 5.0, gagasan gerak sejarah integratif dan perspektif multidimensional tersebut dapat menjadi landasan filosofis dan arah pembelajaran sejarah yang memberikan ruang seimbang bagi penguatan identitas nasional dan kemampuan berfikir ilmiah peserta didik.
MENGINTEGRASIKAN NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME BERBASIS KEARIFAN LOKAL SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH Agustinus Ufie
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.253

Abstract

Abstrak: Kajian ini, sesungguhnya mengungkapkan kekhawatiran tentang semakin rapuhnya semangat keberagaman kita sebagai suatu nation, konflik, kekerasan dan berbagai situasi sosial kemasyarakatan lainya yang terus merongrong identitas kebangsaan kita.Semua fenomena ini terjadi karena ketidakmampuan kita untuk mengapresiasi, mengartikulasikan keberagaman dalam semangat persatuan, secara konkrit dalam semua lini kehidupan kita.Berbagai gerakan dan upayadalam mempertahankan identitas kebangsaan dan mengkongkritkan keberagaman sebagai sebuah kekuatan bangsa terus digalahkan.Hal ini tentunya tidak semudah membalik telapak tangan namun paling tidak proses kearah penyadaran bahwa bangsa ini ada karena kepelbagaian dan keragaman mulai menunjukan kekuatannya.Mengintegrasikan nilai-nilai multikultural berbasil kearifan lokal dalam pembelajaran disekolah-sekolah melalui mata pelajaran yang relevan harusnya sesegera mungkin dilakukan.Dengan demikian maka iklim kebersamaan, dalam tata pergaulan yang lebih demokratis, humanis, toleran dan etis demi Indonesian yang kita cintai dapat dijumpai dimana-mana. Sektor pendidikan merupakan wadah yang sangat strategis karena sesungguhnya masa depan bangsa dan keberagaman ini terletak pada para siswa generasi muda bangsa ini. Menyadarkan kaum muda untuk terus menjunjung tinggi toleransi, kerja sama, mengasihi, hormat menghormati, rasa kebangsaan dan sebagainya adalah cara kita untuk memperkuat kohesi sosial serta memperkokoh integrasi bangsa sehingga konflik sosial yang terus terjadi dalam kehidupan bersama sebagai suatu bangsa dapat dieliminir bahkan dihentikan. Dengan demikian Indonesia yang kita impikan adalah Indonesia yang rukun dan damai, maju, mandiri dan bersahaja dalam keberagaman sebagai identitas dapat terwujud
Pemanfaatan Museum SUBKOSS sebagai Sumber Belajar Sejarah di Lubuklinggau Ira Miyarni Sustianingsih
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i1.254

Abstract

Museum merupakan salah satu sumber belajar penting dalam Pendidikan Sejarah. Kota Lubuklinggau memiliki Museum SUBKOSS untuk pembelajaran sejarah. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana sejarah dan pemanfaatan Museum SUBKOOS di Lubuklinggau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan latar belakang berdirinya Museum SUBKOSS dan pemanfaatan museum SUBKOSS sebagai sumber belajar sejarah di Lubuklinggau. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dimana teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan angket. Sampel pada penelitian ini adalah guru sejarah di sekolah menegah dalam lingkup Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lubuklinggau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdirinya Museum SUBKOSS dilatarbelakangi tempat tersebut merupakan rumah pejabat Belanda yang selanjutnya dijadikan tempat tinggal pejabat Jepang setelah Indonesia dikuasai Jepang. Kedua Museum SUBKOSS dapat menjadi alternatif pembelajaran di luar kelas dengan cara mendatanginya, di mana hal tersebut dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air dan jiwa nasionalisme.
KERJASAMA KERAJAAN SRIWIJAYA DENGAN DINASTI TANG PADA TAHUN 683-740 M Alan Saputra; Yunani Hasan
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.255

Abstract

Abstrak: Penelitian ini berjudul Kerjasama Kerajaan Sriwijaya dengan Dinasti Tang pada Tahun 683-740 M (Sumbangan Materi Mata Pelajaran Sejarah Nasional Kelas X di SMA Negeri 8 Palembang). Adapun rumusan masalah yang ambil dalam penulisan skripsi ini adalah meneliti mengenai Hubungan Kerajaan Sriwijaya dengan Dinasti Tang pada Abad VII-VIII M dan dampaknya terhadap perkembangan kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya di kedua kerajaan besar itu. Metode penulisan yang digunakan oleh penulis adalah Metode Historis dengan langkah-langkah yang terdiri dari Heuristik, Kritik Sumber baik itu yang sifatnya internal maupun eksternal, Interpretasi Data dan Historiografi. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Buddha yang muncul pada Abad VII M di pulau Sumatera. Pada Abad VIII M, Sriwijaya terus berkembang menjadi kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Dengan kekuatan politik dan militernya, Sriwijaya berhasil menguasai Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan internasional yang menghubungan Barat (Arab, Persia dan India) dengan China. Atas dasar kepentingan politik dan ekonomi, Sriwijaya menjalin hubungan dengan Dinasti Tang di China dengan cara saling mengirimkan utusan dan upeti. Hal tersebut merupakan langkah strategis yang tepat, dan sangat menguntungkan bagi Sriwijaya maupun Dinasti Tang. Hubungan itu juga berpengaruh pada bidang sosial yang terlihat dari interaksi antara masyarakat Sriwijaya dengan masyarakat Dinasti Tang dan di bidang Kebudayaan melalaui agama Buddha. Sriwijaya merupakan pusat pendidikan dan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara yang sangat maju. Kemajuan agama Buddha di Sriwijaya “diabadikan” oleh seorang Bhiksu Agung Dinasti Tang bernama I-Tsing melalui catatan-catatannya.
Makna Historis Monumen Kesejarahan di Kota Malang sebagai Sumber Belajar Sejarah Rizky Agung Novariyanto
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i1.256

Abstract

Sumber belajar merupakan aspek penting dalam pembelajaran sejarah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana menumbuhkan jiwa kebangsaan bagi generasi muda melalui pembelajaran sejarah tentang keberadaan monumen sejarah. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah (1) pengembangan strategi pembelajaran yang digunakan dalam pemanfaatan Monumen Sejarah sebagai sumber belajar sejarah bagi generasi muda di Kota Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan historis, tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah (1) menentukan rancangan penelitian, (2) menentukan tempat/ lokasi penelitian, (3) penentuan informan sebagai sumber primer, (4) pengumpulan data, (5) melakukan tindakan validitas data yang terdiri dari triangulasi data dan triangulasi metode, (6) analisis data akhir. Hasil penelitian dapat menunjukkan manfaat bangunan monumen sejarah yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah. Konsep pemanfaatannya adalah dengan menggunakan strategi pembelajaran berbasis Kearifan Lokal. Dimana dalam pelaksanaannya menggunakan metode field trip.
Membangun Karakter dan Budi Pekerti Petani Melalui Tradisi Wiwitan di Desa Gilangharjo Pandak Bantul Bintari Listyani; Sunardi; Emy Wuryani
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i1.257

Abstract

Budi pekerti adalah nilai moralitas manusia yang disadari dan dilakukan dalam kehidupan masyarakat dan menyampaikan nilai-nilai serta pesan moral. Masyarakat Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul sampai saat ini masih mempertahankan upacara sedekah bumi yaitu Tradisi Wiwitan yang di dalamnya mengandung nilai-nilai budi pekerti. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan Tradisi Wiwitan di Desa Gilangharjo Pandak Bantul. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa Tradisi Wiwitan yang dilaksanakan tahun 2019, jatuh di hari Rabu Pahing bulan Sura atau Rabu tanggal 4 September 2019. Tradisi Wiwitan dimaksudkan sebagai sarana tolak bala (menolak hal-hal yang tidak baik) dan bentuk rasa syukur para petani kepada Tuhan yang telah membebaskan tanaman padinya dari semua hama dan penyakit tanaman padi sehingga siap dipanen. Dalam Tradisi Wiwitan terdapat nilai karakter yang bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat contohmya nilai religi, nilai sosial, saling menghormati antar umat beragama, tanggung jawab.
Pendidikan Moral Pada Tradisi Bayi Digendong Saat Maghrib di Desa Regunung-Jawa Tengah Putri Andanny Asfarun Ni'mah
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i1.258

Abstract

Kebudayaan merupakan keseluruhan dari semua tindakan, gagasan, dan hasil karya manusia. Di dalamnya terkandung tradisi. Di Desa Regunung ada tradisi bayi digendong saat maghrib. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana pendidikan moral pada tradisi bayi digendong saat maghrib . Tujuan penelitian adalah mengetahui nilai pendidikan moral pada tradisi bayi digendong saat maghrib. Metode penelitian adalah deskriptif kualitatif yang meliputi tahap studi kepustakaan, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian diketahui bahwa tradisi bayi digendong saat maghrib dilakukan agar orang tua dan keluarga untuk melindungi bayinya serta mendapat keselamatan, terbebas dari hal-hal gaib yang akan mencelakakan bayi. Dengan demikian tanggung jawab sebagai orang tua bayi dan keluarga pada nilai pendidikan moral merupakan tradisi yang penting untuk dikenalkan dan diwariskan pada generasi selanjutnya.
Sejarah Pondok Pesantren DDI Pattojo di Kabupaten Soppeng (1947-2018) Bahri; Patahuddin; Asmunandar; Andi Werekka Aulia
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i1.259

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana latar belakang dan perkembangan Pesantren DDI Pattojo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui awal mula berdirinya Pesantren DDI Pattojo, sistem kurikulum, tenaga pengajar dan murid/santri, bagaimana dampak terhadap pendidikan, sosial dan ekonomi pada masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi tahapan sebagai berikut: heuristik yaitu pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, kajian literatur. Kritik yaitu dengan mengkritik, seleksi data dengan cara pengujian mengenai kebenaran dan ketetapan data yang telah dikumpulkan. Intrepretasi yaitu menafsirkan data sesuai kebenaran fakta. Historiografi yaitu menuliskan peristiwa sejarah menjadi cerita utuh. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa keberadaan Pesantren DDI Pattojo berdampak bagi pendidikan, sosial budaya masyarakat. Dengan keberadaan Pesantren DDI Pattojo kepercayaan-kepercayaan masyarakat sekitar seperti mabbacadoang mulai bergeser. Dalam bidang ekonomi, mengurangi biaya transportasi untuk santri yang berada di sekitarnya. Dalam bidang pendidikan, santri lebih mengenal lebih dalam tentang ajaran Islam.
“Sesuatu yang Tak Pernah Terjadi” Membayangkan Kemenangan Nusantara Melawan Kolonialisme Haldi Patra
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i2.260

Abstract

Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, para bapak bangsa Indonesia sepakat bahwa wilayah kedaulatan republik yang akan dibentuk ini adalah bekas wilayah Hindia-Belanda. Alasan atas integrasi ini adalah karena mereka merasa “senasib sepenanggungan”, karena sama-sama pernah dikalahkan dan dijajah oleh Belanda. Tulisan mengenai counterfactual ini, akan mengangkat permasalahan mengenai pemikiran nasionalisme sebagai sesuatu yang bersifat absolutely splendid ancestors (warisan dari nenek moyang kita yang cemerlang). Tujuan penulisan ini untuk mengelaborasi pemikiran nasionalisme bangsa Indonesia. Metode yang digunakan yaitu kepustakaan dengan mengumpulkan bahan-bahan penelitian yang berupa buku dan artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan nasib di masa lalu nasionalisme Indonesia tidak akan tertanam dalam diri bangsa-bangsa itu. Ketiadaan rasa senasib itu membuat mereka tidak merasa perlu untuk berintegrasi dengan Indonesia. Nasionalisme yang muncul pada dalam diri mereka adalah nasional suku bangsa mereka masing-masing.