cover
Contact Name
AGROINOTEK
Contact Email
agroinotek@ub.ac.id
Phone
+628573259811108584345594
Journal Mail Official
agroinotek@ub.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Jalan Veteran Kota Malang, Jawa Timur, 65140
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
AGROINOTEK
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 27743357     EISSN : 27743357     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.agroinotek
Core Subject :
The scope of AGROINOTEK includes, but is not limited to, Agroecology, Agrotechnology, Agribusiness, Agricultural Economics, Agricultural Sociology, Agricultural Communication and Extension, Forestry, Appropriate Technology, as well as other relevant interdisciplinary fields. The journal welcomes original research articles, case studies, and critical review papers that make significant contributions to the advancement of knowledge, methodologies, and practical applications.
Arjuna Subject : -
Articles 80 Documents
Kompos dalam Lubang Resapan Biopori (LRB) memperbaiki Ketahanan Penetrasi Tanah subsoil di Kebun Jeruk Lemon (Citrus limon) BSIP Jestro Desa Tlekung, Kota Batu Albert, Dethan Johanson; Hanuf, Atiqah Aulia; Soemarno, Soemarno; Fanshuri, Buyung Al
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2023.004.01.03

Abstract

Jeruk lemon (Citrus limon) merupakan tanaman hortikultura yang bernilai ekonomis tinggi. Produksi jeruk lemon (Citrus limon) di Kota Malang, Jawa Timur mengalami penurunan (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2022). Penurunan produksi jeruk lemon disebabkan oleh budidaya yang tidak tepat, degradasi media tanam tanah tempat tanaman jeruk lemon tumbuh. Tingkat pemadatan tanah dipengaruhi oleh tingkat tahanan penetrasi tanah karena tahanan penetrasi merupakan indikasi kemampuan penetrasi akar ke dalam tanah. Sehingga diperlukan upaya penyediaan bahan organik seperti pemberian kompos organik pada lubang resapan biopori. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh lubang resapan biopori (kedalaman 40 cm) dengan kompos organik terhadap sifat fisik tanah (berat jenis, porositas tanah, kadar air dan tahanan penetrasi) dan sifat kimia tanah (kadar c-organik) dalam upaya menurunkan tahanan penetrasi tanah. Kegiatan penelitian dilaksanakan di kebun jeruk lemon produktif. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuannya adalah: P0 (kontrol), P1 (lubang resapan biopori kosong), P2 (lubang resapan biopori + 5 ton.ha-1 kompos), P3 (biopori + 10 ton.ha-1 kompos), P4 (lubang resapan biopori + 15 ton.ha-1 kompos), P5 (lubang resapan biopori + 20 ton.ha-1 kompos). Parameter yang diamati pada 1 dan 6 bulan setelah aplikasi perlakuan meliputi berat jenis tanah, porositas tanah, kadar air tanah, daya tahan penetrasi tanah dan kandungan C-organik tanah. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Varians (ANOVA) dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT). taraf 5% dengan aplikasi SPSS. Dilanjutkan dengan korelasi kemudian regresi linier sederhana dan berganda. Aplikasi kompos dengan dosis 20 ton.ha-1 pada lubang resapan biopori (P5) sebagai perlakuan terbaik dalam menurunkan daya tahan penetrasi tanah lapisan tanah bawah (kedalaman 30-60 cm).
Evaluasi Karakteristik Zona Perakaran Kebun Kopi Rakyat Di Wilayah Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Sholikah, Dinna Hadi; Husada, Aldo Jetco; Bratawijaya, Syifa Salsabila; Naufal, Raihan
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2023.004.01.01

Abstract

Karakteristik fisik tanah yang sesuai untuk perkembangan perakaran tanaman kopi akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi. Penurunan produksi kopi di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, mendasari analisis kesesuaian lahan pada zona perakaran. Analisis zona perakaran kopi difokuskan pada sifat fisik tanah yaitu kedalaman tanah efektif, berat jenis tanah, porositas tanah, dan tekstur tanah. Kegiatan survei tanah dilakukan pada 10 titik pengamatan di perkebunan kopi Robusta produktif. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa sifat fisik tanah menunjukkan korelasi yang nyata dengan produksi kopi, khususnya berat jenis tanah pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm, porositas tanah pada kedalaman 30-60 cm, dan persentase fraksi pasir.
Kemantapan Agregat Tanah Lapisan Bawah (Subsoil) Pada Kebun Kopi Rakyat Di Lereng Gunung Kawi Bagian Selatan Sholikah, Dinna Hadi; Habiby, Ahmad Nur; Baghaswara, Aditya; Kurniawan, Bagus; Soemarno, Soemarno
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2023.004.01.04

Abstract

Kebun kopi rakyat jenis Robusta menempati areal yang luas di lereng selatan gunung Kawi dengan rata-rata produktivitasnya masih rendah. Pada musim kemarau Panjang tanaman kopi menunjukkan gejala cekaman air seperti daun menguning dan gugur daun, serta perkembangan buah dna biji kopi yang tidak sempurna. Hal ini diduga ada kaitannya dengan karakteristik tanah subsoil yang tidak mampu mensuplai air bagi akar tanaman kopi.Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kemantapan agregat tanah subsoil dan karakteristik fisika tanah yang terkait dnegan pertumbuhan dan produksi kopi .Survei lapangan dilakukan di 10 lokasi kebun kopi rakyat jenis Robusta dengan umur tanaman yang berbeda-beda. Petak pengamatan berukuran 10 m x 10 m kebun kopi rakyat produktif, sampel tanah diambil pada kedalamaan tanah 30 – 60 cm  di bawah lingkaran tajuk pohon kopi. Parameter pengamatan meliputi karakteristik fisika tanah, karakteristik pohon kopi dan rata-rata produksi pohon kopi sampel di setiap petak pengamatan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemantapan agregat tanah pada kedalaman 30-60 cm tergolong pada kelas ” Sangat-Stabil”. Kemantapan agregat tanah ini memiliki hubungan yang erat dengan porositas tanah, kapasitas lapang dan  kandungan fraksi liat. Kemantapan agregat tanah pada kedalaman 30-60 cm berkorelasi signifikan dengan produktivitas tanaman kopi.
Serasah Kebun Untuk Memperbaiki Kesuburan Tanah Berpasir Di Kebun Kopi Rakyat Tadah Hujan Ifadah, Nisfi Fariatul; Faradilla, Santi; Soemarno, Soemarno; Safira, Nabila; Septiani, Deva Eka
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2023.004.01.02

Abstract

Tanah berpasir di perkebunan kopi rakyat memiliki kendala tanah utama berupa rendahnya kandungan C-organik dan rendahnya kapasitas tukar kation (KTK). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian serasah kebun pada tanah berpasir perkebunan kopi rakyat terhadap kandungan C organik dan KTK tanah.Penelitian inkubasi tanah menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) dengan delapan perlakuan dan empat kali ulangan. Faktor pertama adalah sampel tanah (Topsoil dan Subsoil), faktor kedua adalah dosis serasah (0, 5, 10, 20 ton.ha-1). Penelitian dilakukan di rumah kaca selama 16 minggu, pengamatan tanah meliputi pH tanah, kandungan C-organik, KTK tanah, kandungan N total, P tersedia dan K tersedia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian serasah kebun (dosis serasah setara dengan 20 ton.ha-1) pada tanah lempung berpasir dari perkebunan kopi rakyat dapat meningkatkan nilai KTK dan kandungan bahan organik tanah topsoil dan subsoil.
Pemanfaatan Pupuk Kandang Sapi Untuk Meningkatkan Kemampuan Tanah Berpasir Menyimpan Air Di Kebun Kopi Rakyat Septiani, Deva Eka; Aulia, Siti Salma; Ifadah, Nisfi Fariatul; Soemarno, Soemarno
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2023.004.02.01

Abstract

Tanah berpasir di kebun kopi rakyat mempunyai kemampuan sangat rendah untuk menyimpan air, sehingga sering terjadi cekaman air pada tanaman kopi di musim kemarau dengan dampak serius pada produktivitas tanaman.  Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahgui efek pupuk kandang sapi terhadap peningkatan kapasitas air tersedia (KAT) tanah berpasir (topsoil dan subsoil) yang diambil dari kebun kopi rakyat di Desa Bambang, Wajak.  Penelitian inkubasi tanah selama 16 minggu di rumahkaca Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) dengan delapan perlakuan kombinasi, yaitu tanah berpasir dengan dua kedalaman (K1: 0-30 cm, K2: 30-60 cm), dikombinasikan dnegan tiga dosis pupuk kandang sapi (D0: 0 ton.ha-1; D1: 10 ton.ha-1, D2: 20 ton.ha-1, D3: 30 ton.ha-1), setiap perlakuan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pupuk kandang sapi hingga dosis setara 30 ton.ha-1 ke tanah berpasir (topsoil dan subsoil) dapat menurunkan bobot isi (BI) tanah, meningkatkan porositas tanah, meningkatkan kadar air pF 2,5, pF 4,2 dan kapasitas air tersedia (KAT). Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penambahan pupuk kandang sapi dapat meningkatkan nilai KAT (atau pF 2.5 – pF 4.2) tanah berpasir yang diambil dari lapisan atas (topsoil) dan lapisan bawah (subsoil) di kebun kopi rakyat.
Bahan Organik Dalam Lubang Resapan Biopori (Lrb) Untuk Meningkatkan Ketersediaan Kalium Subsoil Di Kebun Kopi Mutiasari, Faizah; Santi, Faradila; Ifadah, Nisfi Fariatul; Soemarno, Soemarno
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2023.004.02.03

Abstract

Kopi merupakan komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Hal ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar minum kopi. Salah satu permasalahan pada perkebunan kopi rakyat adalah tingginya laju erosi tanah dan limpasan permukaan yang mengakibatkan hilangnya unsur hara dan bahan organik tanah. Rendahnya kandungan bahan organik dan unsur hara tanah berdampak pada rendahnya produktivitas perkebunan kopi rakyat. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan pemberian bahan organik pada lubang resapan biopori (BIH-30 cm) pada zona perakaran kopi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan ketersediaan unsur hara pada lapisan tanah bawah.Penelitian lapangan pada perkebunan kopi Robusta (umur 7-10 tahun) menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah: P0 (Kontrol); BK (BIH Kosong); PKK1 (BIH + Pupuk Kandang Kambing 10 Mg.ha-1); PKK2 (BIH + Pupuk Kandang Kambing 20 Mg.ha-1; PK1 (BIH + Kompos 10 Mg.ha-1); PK2 (BIH + Kompos 20 Mg.ha-1). Pengamatan karakteristik tanah (K, Na, Ca, Mg, KTK, C-Organik) dan tanaman kopi (tinggi tanaman, jumlah daun, dan kandungan klorofil daun) dilakukan pada 1 dan 6 bulan setelah aplikasi perlakuan (MAA).Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk kandang kambing 20 Mg.ha-1 pada BIH30 cm menghasilkan karakteristik tanah (lapisan tanah 30-60 cm) dan pertumbuhan tanaman kopi yang lebih baik dibandingkan dengan semua perlakuan lainnya. Kandungan bahan organik tanah berkorelasi positif dengan kandungan K-exch dan KTK tanah pada kedalaman 30-60 cm.
Indeks Lengas Tanah (Ilt) dan Indeks Kerapatan Vegetasi (Ndvi) Sebagai Penduga Produksi Kopi Di Kebun Kopi Bangelan, Kabupaten Malang, Jawa Timur Riezta, Saniya; Almira, Almira; Ayu, Febri; Ifadah, Nisfi Fariatul; Soemarno, Soemarno; Bushron, Raushanfikr
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2023.004.01.05

Abstract

Perkebunan kopi tadah hujan mengandalkan suplai air hujan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman kopi, sehingga ketersediaan air dalam tanah sangat penting. Sementara itu, pengukuran dan pemantauan ketersediaan air dalam tanah memerlukan waktu dan biaya yang mahal, sehingga diperlukan metode yang murah, cepat dan akurat untuk memantau status ketersediaan air tanah pada perkebunan kopi. Soil Moisture Index (SMI) merupakan metode yang dapat digunakan untuk menaksir status kelembaban tanah dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh untuk menaksir nilai NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan LST (land surface temperature). Indeks NDVI dan LST digunakan untuk menaksir SMI pada suatu lokasi tertentu, seperti perkebunan kopi.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis (1) SMI (soil moisture index), LST, dan NDVI, (2) hubungan antara SMI (Remote sensing) dan SMI (Field survey), dan (3) hubungan antara SMI, NDVI dan produksi kopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) indeks kelembaban tanah (IMT) perkebunan kopi Bangelan pada fase pematangan buah kopi tergolong “Sedang” hingga “Tinggi”. (2) indeks kerapatan vegetasi (NDVI) perkebunan kopi Bangelan pada fase pematangan buah kopi tergolong “Sedang” hingga “Tinggi”. (3) Metode SMI-Remote dapat digunakan untuk menduga kelembaban tanah perkebunan kopi, menggantikan metode SMI-Field. (4) SMI-Remote dan NDVI pada fase pematangan buah kopi merupakan prediktor yang baik untuk menduga produksi kopi pada saat panen. Persamaan regresinya adalah: Prod = 19857,69 +16049,00 IMTremote + 4096,26 NDVI (R^2 = 0,8173; Sig F = 0,0000005).
Kompos dan Pupuk Kandang Memperbaiki Karakteristik Subsoil Di Kebun Lemon Bsip Jestro, Desa Tlekung, Kota Batu Yulianti, Novi Dwi; Ariessandi, Aldhi Lucky; Purwanti, Nelsa Kumala Dewi; Meidina, Adella Anggi; Erika, Erika
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2025.006.01.07

Abstract

Tanah inceptisol umumnya memiliki sifat fisik sedang hingga tinggi. Namun, sifat fisik tersebut dapat menurun jika terdapat faktor pembatas di lahan, yaitu derajat kemiringan. Pada lereng yang curam, laju infiltrasi tanah menurun, yang menyebabkan peningkatan limpasan permukaan dan erosi tanah (Dewi et al., 2012). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh bahan organik (kompos dan pupuk kandang) terhadap sifat fisik lapisan tanah bawah dan kandungan C-organik tanah kebun jeruk lemon. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yang masing-masing diulang 5 kali sehingga jumlah pot yang digunakan adalah 20 pot. Perlakuan tersebut meliputi P1 (Kontrol), P2 (Tanah bawah +kompos), P3 (Tanah bawah + pupuk kandang sapi), dan P4 (Tanah bawah + pupuk kandang kambing). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pupuk kandang sapi (1000 g.pot-1) yang dicampur dengan tanah lapisan bawah (kedalaman tanah 30-60 cm) dapat menurunkan berat jenis tanah, meningkatkan porositas tanah, meningkatkan kestabilan agregat tanah, meningkatkan kapasitas lengas tanah, meningkatkan titik layu permanen, menurunkan porositas makro, meningkatkan porositas meso dan meningkatkan porositas mikro tanah lapisan bawah inceptisol. Penambahan pupuk kandang sapi meningkatkan kapasitas air tersedia (AWC) tanah lapisan bawah inceptisol. Penambahan pupuk kandang sapi meningkatkan kandungan C organik tanah lapisan bawah inceptisol.
Kemantapan Agregat Tanah Di Kebun Kopi Rakyat, Karangploso, Malang Sukmajati, Muhammad Ramanda; Mahdiyyah, Refi Erika; Ifadah, Nisfi Fariatul; Soemarno, Soemarno; Pramesti, Gitri Ardia; Nugroho, Gabryna Auliya
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2025.006.01.09

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis sifat fisik tanah: kemantapan agregat tanah, bobot isi tanah, porositas tanah, konduktivitas hidrolik tanah, dan WHC (Water Holding Capacity) atau kapasitas menahan air pada zona perakaran tanaman kopi di perkebunan kopi rakyat tadah hujan. Studi lapangan dilakukan pada bulan November 2023 hingga April 2024 di kawasan perkebunan kopi rakyat tadah hujan di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Kegiatan survei lapangan meliputi pembuatan minipit tanah, dan pengumpulan contoh tanah tidak terganggu dan contoh tanah terganggu pada kebun-kebun kopi yang berumur <5 tahun, 5-10 tahun, dan > 10 tahun, pada kedalaman tanah 20-40 cm, 40-60 cm, dan 60-80cm. Setiap kelompok umur kebun kopi diwakili oleh 5 petak pengamatan (ukuran 10 m x 10 m) yang berisi 16 pohon kopi dengan jarak tanam 3 m x 3 m. Contoh pohon kopi pada setiap petak pengamatan berjumlah 4 pohon yang berada di Tengah-tengah petak. Contoh tanah diambil pada titik pengeboran 40-50 cm dari setiap contoh pohon kopi, kemudian dikompositkan menjadi satu sampel tanah komposit yang mewakili plot pengamatan, untuk setiap kedalaman tanah. Contoh tanah komposit ini terdiri dari contoh tanah terganggu (sekitar 1 kg tanah) dan contoh tanah tidak terganggu (4 ring sampel tanah). Analisis laboratorium terhadap karakteristik tanah meliputi kemantapan agregat tanah, kepadatan tanah, porositas tanah, konduktivitas hidrolik jenuh tanah, dan WHC (Water Holding Capacity). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemantapan agregat tanah pada kedalaman 20-80 cm di kebun kopi dengan umur pohon kopi yang berbeda mempunyai nilai yang berbeda-beda, tergolong dalam agregat tanah “Sangat Mantap”. Kemantapan agregat tanah mempunyai hubungan yang signifikan dengan beberapa sifat fisika tanah seperti berat isi, porositas tanah, kandungan fraksi pasir dan liat, serta WHC (Water Holding Capacity) tanah. Kemantapan agregat tanah, berat isi tanah, dan WHC tanah pada zona perakaran tanaman kopi (kedalaman tanah 20-80 cm) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produktivitas tanaman kopi.
Aplikasi Kompos dan Pupuk Kandang terhadap Karakteristik Fisika Tanah, Inceptisol di Kebun Lemon BSIP Jestro, Desa Tlekung, Kota Batu Ariessandi, Aldhi Lucky; Soemarno, Soemarno; Lutfi, M Wasilul; Fanshuri, Buyung Al
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2022.003.02.05

Abstract

Tanah inceptisol pada umumnya memiliki sifat fisik sedang hingga tinggi. Namun, sifat fisik tersebut dapat menurun apabila terdapat faktor pembatas pada lahan, yaitu derajat kemiringan. Pada lereng yang curam, laju infiltrasi tanah menurun, hal ini menyebabkan peningkatan limpasan permukaan dan erosi tanah (Dewi et al., 2012). Limpasan permukaan menyebabkan pengangkutan bahan organik tanah ke bagian lahan yang lebih rendah. Pengolahan tanah dengan menambahkan kompos atau pupuk kandang ke dalam tanah dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan meningkatkan kandungan C-organik tanah, yaitu meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah, meningkatkan kapasitas lengas tanah tersedia, serta mengurangi limpasan permukaan dan erosi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RAK) dengan 8 perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 4 kali sehingga jumlah pot yang digunakan sebanyak 32 pot. Perlakuan yang diberikan meliputi P1 (Kontrol + Tanah Atas), P2 (Kontrol + Tanah Bawah), P3 (Kompos + Tanah Atas), P4 (Kompos + Tanah Bawah), P5 (Pupuk kandang sapi + Tanah Atas), P6 (Pupuk kandang sapi + Tanah Bawah), P7 (Pupuk kandang kambing + Tanah Atas), P8 (Pupuk kandang kambing + Tanah Bawah). Penambahan pupuk organik terbukti dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Penambahan pupuk kandang sapi (1000 g/pot) pada tanah atas (0 – 30 cm) (perlakuan P5) merupakan perlakuan terbaik. Perlakuan ini dapat menurunkan berat jenis tanah, meningkatkan porositas tanah, meningkatkan nilai DMR agregat tanah, meningkatkan kapasitas lapang, meningkatkan titik layu permanen, menurunkan porositas makro, meningkatkan porositas meso, meningkatkan porositas mikro dan meningkatkan daya tampung air tersedia.Â