cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Humaniora
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Pendidikan Humaniora (JPH) terbit 4 (empat) kali setahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember, berisi artikel-artikel tentang pendidikan humaniora baik ditulis dalam bahasa Indonesia maupun asing. Artikel yang dimuat berupa hasil penelitian dan hasil pemikiran. Jurnal Pendidikan Humaniora (JPH) diterbitkan oleh Pascasarjana Universitas Negeri Malang dengan Nomor ISSN 2338-8110.
Arjuna Subject : -
Articles 294 Documents
The Meaning of Sekura Cakak Buah Tradition of Saibatin Community Eka Purnama Sari; Budijanto Budijanto; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 2: June 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Sekura Cakak Buah is the oldest tradition of saibatin community in Lampung Barat regency. The tradition that were born and developed in tandem with the civilization of the people certainly have profound meaning and values. This research aims to uncover and explore the meaning and value of sekura cakak buah tradition for indigenous saibatin communities and to understand the implementation of meanings and values of tradition in the lives of saibatin community. The study used qualitative design with an understanding approach to the  meaning of ethnography. Data were analyzed by analyzing domains, taxonomic, components and cultural theres. The results of the study showed that the meaning of sekura cakak buah tradition for the saibatin community is self-identity, life, and sosial life. The meaning and values are implemented in community’s lives which are namely cultural meaning and values including: self identity, cultural heritage, and regional icon; the meaning and value of religion includes the almighty god, praying, giving thanks and ngejalang (forgiving each other; the meaning and values of the economy include activities in the Pasar Tumpah dan Lamban Sekura; as well as the meaning and social values including kinship and relatives, equality between fellow being, beguai jejama (working together) and social relationship of saibatin community.Key words: tradition, indigenous community, social relationship, identity, saibatin communityAbstrak: Sekura Cakak Buah merupakan tradisi tertua masyarakat saibatin di Kabupaten Lampung Barat. Tradisi yang lahir dan berkembang beriringan dengan peradaban masyarakatnya tentu memiliki makna dan nilai yang mendalam. Penelitian ini bertujuan mengungkap dan menggali makna dan nilai tradisi sekura cakak buah bagi masyarakat adat saibantin, dan memahami implementasi makna dan nilai tradisi dalam kehidupan masyarakat saibatin. Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan pemahaman makna ethnografi. Data dialisisis dengan analisis domain, taksonomi, komponen, dan tema budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna tradisi sekura cakak buah bagi masyarakat saibatin adalah identitas diri, kehidupan, dan kehidupan sosial masyarakat. Makna dan nilai tradisi terimplementasi dalam kehidupan masyarakatn yang tercakup dalam makna dan nilai budaya meliputi: identitas diri, warisan budaya, dan ikon wilayah; makna dan nilai religi (keagamaan) meliputi Ketuhanan Yang Maha Esa, berdoa, bersyukur, berserah, dan ngejalang (saling memaafkan); makna dan nilai ekonomi meliputi aktivitas di Pasar Tumpah, dan Lamban Sekura; serta makna dan nilai sosial meliputi kekeluargaan dan kekerabatan, kesamaan antar sesama, beguai jejama (bekerja sama) dan hubungan sosial masyarakat saibatin.kata kunci: tradisi, masyarakat adat, hubungan sosial, identitas, masyarakat saibatin
Swear Words in Early Childhood Communication Yuli Rahayu Indriani; Hardika Hardika; Ach. Rasyad
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 2: June 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: There has many differ perception about the meaning of swear words in daily communication, so that this research’s aim was to described those swear word’s meaning. The focus of this research is meaning of swear words that said by children age 4-6 years in RA Al-Azhar Bantur. This research used descriptive qualitative method, thereby the collected data  was found on research field. The result showed that the swearing words commonly spoken by children was jancuk, taek, bedhes, patek, goblok, gendeng, and jangkrik. Children did not know the meaning of those swearing words, but they assume that swearing is a taboo and it is not a good thing if they did.Key words: swearing, swear words, children communication, children social lifeAbstrak:Banyak perbedaan persepsi terhadap makna penggunaan kata-kata misuh dalam komunikasi sehari-hari sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna tersebut. Fokus pada penelitian ini adalah makna kata-kata misuh yang digunakan oleh anak usia 4-6 tahun di RA Al-Azhar Bantur. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif sehingga data yang diperoleh adalah fakta di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata misuh yang biasa diucapkan oleh anak adalah jancuk, taek, bedhes, patek, goblok, gendeng, dan jangkrik. Anak tidak mengetahui makna sebenarnya, namun mereka menganggap bahwa misuh adalah hal yang tabu sehingga tidak baik jika dilakukan.Kata kunci: bicara kotor, kata kotor, komunikasi anak, kehidupan sosial anak
Understanding the Varieties of Research Experience: Stories of Undergraduate Students Moch. Sabrowi; Mohammad Adnan Latief; Yazid Basthomi
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 3: SEPTEMBER 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Engaging in research can benefit students in several ways. However, higher learning institutions have been challenged to engage students in research experiences. The present study is conducted to discover what undergraduate students experience in the research process, and how they accomplish their tasks during the process. Narrative research is used for this study to understand present real-life experiences. The study revealed that students experience different conditions and apply various techniques in the research process. Besides, when they encountered the same or similar challenges, they were prone to accomplish their tasks with the same attempt.Key words: research experience, students’ task accomplishment, narrative inquiryAbstrak: Terlibat dalam penelitian dapat bermanfaat bagi mahasiswa dalam berbagai cara. Namun, lembaga pendidikan tinggi tertantang untuk melibatkan siswa dalam pengalaman penelitian. Penelitian ini dilakukan untuk menemukan apa yang dialami mahasiswa sarjana dalam proses penelitian, dan bagaimana mereka menyelesaikan tugas-tugas mereka selama proses tersebut. Penelitian naratif digunakan dalam penelitian ini untuk memahami pengalaman kehidupan nyata saat ini. Studi ini mengungkapkan bahwa mahasiswa mengalami kondisi yang berbeda dan menerapkan berbagai teknik dalam proses penelitian. Selain itu, ketika mereka menghadapi tantangan yang sama atau serupa, mereka cenderung menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan usaha yang sama.Kata kunci: pengalaman meneliti, penyelesaian tugas mahasiswa, investigasi naratif
Cohesive Devices in Student’s Writing (A Discourse Analysis on Argumentative Text) Haqim Hasan Albana; Abdul Gafur Marzuki; Alek Alek; Didin Nuruddin Hidayat
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 1: March 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This research aims to analyse a piece of argumentative writing produced by fifth semester of Darussunnah students in a term of cohesion issues of discourse analysis. The cohesive devices are viewed as a structure of analysis to investigate the grammatical and lexical cohesion in writing. Qualitative and quantitative (mixed method) were applied in analysing the data. The quantitative analysis investigates the frequency and percentage of errors committed in student’s writing. Qualitative analysis were employed to investigate linguistic description and the explanation of the cohesion produced by student’s writing. The result showed that students have performed the cohesive devices. However, students need to improve the use of cohesive device, especially in grammatical cohesion to result higher level of cohesion.Key Words: Argumentative writing, cohesive devices, grammatical and lexical cohesion Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karya tulis argumentatif mahasiswa semester V Darussunnah dalam kerangka analisis permasalahan kohesi. Perangkat kohesif dipandang sebagai struktur analisis untuk menyelidiki kohesi gramatikal dan leksikal dalam menulis. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif (metode campuran). Analisis kuantitatif penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki frekuensi dan persentase kesalahan yang dilakukan dalam kegiatan menulis siswa. Analisis kualitatif digunakan untuk menyelidiki deskripsi linguistik dan penjelasan tentang kohesi yang dihasilkan oleh tulisan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa telah melaksanakan perangkat kohesif. Namun, siswa perlu meningkatkan penggunaan perangkat kohesif, terutama pada kohesi gramatikal untuk menghasilkan tingkat kohesi yang lebih tinggi.Kata kunci:Penulisan argumentatif, perangkat kohesif, kohesi gramatikal dan leksikal
EXPLORING ENGLISH LECTURERS’ BELIEFS ABOUT THE USE OF NATIVE LANGUAGE IN THE EFL CONTEXT Muhammad Hidayat; Gunadi Hari Sulistyo
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 2: June 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The beginning of the twentieth century was the time when the ELT theoreticians and academics prohibited the use of mother tongue with the assumption that teaching and learning a new language in the exclusive and monolingual approach must be better-off. After obtaining its dominance in language teaching methodology, this monolingual approach began to be questioned. Moreover, what is up-to-date in works of literature and theories is not essentially indicating what actually arrives on the scene in the EFL classroom practices. The students' own-language (OL) has survived over the years. This research explored the lecturers' beliefs about the use of own-language by focusing on certain variables in the context of EFL. The findings clearly provide shreds of evidence that their beliefs about own-language, particularly in their classroom practices, are more complicated than generally presented in the ELT literature. Subsequently, the results could offer a description of how the lecturers use the own-language based on their own beliefs. The report also confirms that own-language is unavoidable and becomes a part of new language learning. Lastly, some considerations for ELT teachers, lecturers, and further researchers are provided at the end of the discussions.Key words: native language use, lecturers’ beliefs, EFL context Abstrak:Awal abad kedua puluh adalah saat dimana para ahli teori dan akademisi pengajaran Bahasa Inggris melarang penggunaan bahasa ibu dengan asumsi bahwa bahasa baru harus diajarkan dan dipelajari secara eksklusif dan dengan satu bahasa. Setelah memperoleh dominasinya dalam metodologi pengajaran bahasa, pendekatan monolingual ini mulai dipertanyakan. Selain itu, apa yang terbaru dalam literatur dan teori tidak serta merta mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi dalam praktik kelas Bahasa Inggris. Kenyataannya, bahasa sendiri telah bertahan selama bertahun-tahun. Penelitian ini mengeksplorasi kepercayaan dosen tentang penggunaan bahasa sendiri dengan berfokus pada variabel-variabel tertentu dalam konteks Pengajaran Bahasa Inggris. Temuan dari penelitian ini jelas membuktikan bahwa kepercayaan mereka tentang bahasa sendiri, khususnya dalam praktik kelas, lebih rumit daripada yang umumnya disajikan dalam literatur pengajaran Bahasa Inggris. Selanjutnya, hasil penelitian ini menyajikan deskripsi tentang bagaimana umumnya para dosen menggunakan bahasa sendiri berdasarkan kepercayaan mereka. Laporan penelitian ini juga menegaskan bahwa bahasa sendiri tidak dapat dihindari dan bahkan menjadi bagian dari pembelajaran sebuah bahasa baru. Terakhir, beberapa pertimbangan untuk guru, dosen, dan peneliti selanjutnya dalam dunia pengajaran Bahasa Inggris disediakan di bagian akhir diskusi.Kata kunci: bahasa ibu, persepsi dosen, konteks EFL
Fostering Autonomy through Digital Reading: Students’ Evaluation of the ReadyRead Application Rulli Putri Maulidia; Fransisca Maria Ivone; Anik Nunuk Wulyani
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 3: SEPTEMBER 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: ReadyRead is an Android-based application which provides several features for scaffolding reading comprehension practice. It is the product of Design-Based Research. The present study examined high school students’ experience in using the application. An online questionnaire was employed to gather information on students’ opinions regarding the content, learning activities, and usability of the app. Results of the data analysis revealed the most favorable feature in the app perceived to be the most helpful for students in learning reading independently. Further, the app provides space for students to learn individually and collaboratively. Suggestions from the students are constructive and taken into account in the further development and sustainability of the app.Keywords: digital reading, reading application, autonomy, evaluation Abstrak: ReadyRead merupakan aplikasi membaca yang menyediakan fitur-fitur untuk mendukung pembelajaran membaca. Artikel ini meneliti pengalaman siswa SMA selama menggunakan aplikasi tersebut. Kuisioner daring digunakan untuk mengumpulkan informasi terkait pendapat siswa tentang isi, aktivitas dan penggunaan aplikasi. Hasil data analisis mengungkapkan bahwa fitur yang disukai siswa adalah fitur yang dirasa sangat membantu siswa untuk belajar secara mandiri. Selain itu, aplikasi ini juga memberikan ruang untuk siswa belajar secara kolaboratif selain belajar secara individu. Masukan dari siswa sangatlah membangun untuk pengembangan dan keberlanjutan aplikasi ReadyRead.Kata kunci: membaca digital, aplikasi membaca, kemandirian, evaluasi
Entrepreneurial Self-Efficacy on Digital Entreprenur Readiness Rinawan, Rangga Bayu; Suswanto, Hary; Larasati, Aisyah
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 4: DECEMBER 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Entrepreneurial Self Efficacy (ESE) and entrepreneurship are currently receiving special attention from researchers and decision makers. Various responses are carried out by empowering vocational students to be equipped with skills that are in line with current industry needs. Thinking, entrepreneurial behavior and ESE will help students take responsibility so as to achieve success and adapt to social progress and change. The 4.0 industrial revolution era has a great opportunity to engage in the business world. Digital Entrepreneurship is created by using technology appropriately and it is very possible for vocational students.Keywords: entrepeneurship, self-efficacy, digital entrepreneur, studentAbstrak: Entrepreneurial Self Efficacy (ESE) dan wirausaha saat ini mendapatkan perhatian khusus dari para peneliti dan pembuat keputusan. Berbagai respon dilakukan dengan memberdayakan siswa SMK untuk dibekali dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Pemikiran, perilaku wirausaha dan ESE akan membantu siswa bertanggung jawab sehingga mencapai kesuksesan dan beradaptasi dengan kemajuan serta perubahan sosial. Era revolusi industir 4.0 memiliki peluang besar untuk berkecimpung di dunia usaha. Digital Entrepreneurhsip tercipta dengan pemanfaatan teknologi dengan tepat dan hal tersebut sangat mungkin terjadi untuk siswa SMK.Kata kunci: kewirausahaan, efikasi diri, kewirausahaan digital, siswa
CRITICAL THINKING AMONG SENIOR HIGH SCHOOL STUDENTS ON HOAX INFORMATION IN SOCIAL MEDIA Urin Laila Sa’adah; Blasius Boli Lasan; Nur Hidayah
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 3: SEPTEMBER 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Hoax information which is shared in social media has a negative impact to social media users, students in this case are such to be high category users, so it is very risk to face a hoax information impacts. This research & development (R&D) uses Butterworth and Thwaites theory, that is developed to be a modul for high school students and be a guide books for teachers as counselling media at school. Through 9 steps, adjusted from 10 steps of Borg and Gall models, the result of this research is a critical thinking modul for hoax information at social media to the senior high school students and a guide book of a critical thinking modul for hoax information at social media to the senior high school students for the teachers, through effectiveness test.Keywords: critical thinking, social media, hoax, information, studentAbstrak: Informasi hoaks yang tersebar melalui media sosial memberikan dampak buruk bagi penggunanya, pelajar dalam hal ini masuk kategori tinggi sebagai pengguna media sosial, sehingga rawan terpapar dampak informasi hoaks. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan teori berpikir kritis Butterworth dan Thwaites yang dikembangkan menjadi modul bagi siswa tingkat SMA dan buku panduan bagi guru BK sebagai media bimbingan di sekolah. Melalui 9 tahapan, yang telah disesuaikan dari 10 tahapan model Borg dan Gall, Hasil dari penelitian ini menghasilkan modul berpikir kritis atas informasi hoaks di media sosial bagi siswa tingkat SMA dan buku panduan atas modul berpikir kritis atas informasi hoaks di media sosial bagi siswa tingkat SMA yang diperuntukkan bagi guru BK, melalui uji efektifitas.Kata kunci: berpikir kritis, media sosial, hoaks, informasi, siswa
Students’ Critical Thinking and IRF Sequence in English Literature Class Setiawan Furqoni; Mirjam Anugerahwati; M Misbahul Amri
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 4: DECEMBER 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study is intended to investigate the communication using IRF sequence, issues occurred during teaching-process, and critical thinking in Basic Analysis of Poetry class. The result indicates that the faculty member used questions to build ELT students’ critical thinking and ELT students believe that by reading a lot of poems will help them to develop their critical thinking. In conclusion IRF sequence with certain modification will help the faculty member to communicate with the students.Keywords: basic analysis of poetry, ELT students, classroom discourse, IRF sequence, critical thinkingAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti komunikasi menggunakan runtutan IRT, masalah yang terjadi selama proses pengajaran, dan pemikiran kritis dalam kelas Analisa Dasar Puisi. Hasil menunjukkan bahwa dosen menggunakan pertanyaan untuk membangun pemikiran kritis para siswa Pendidikan Bahasa Inggris dan para siswa pendidikan Bahasa Inggris percaya bahwa membaca banyak puisi akan membantu mereka untuk mengembangkan pemikiran kritis mereka. Kesimpulannya, runtutan IRT dengan penyesuaian tertentu akan membantu dosen untuk berkomunikasi dengan para siswa.Kata Kunci: analisis dasar puisi, mahasiswa pendidikan bahasa Inggris, wacana kelas, IRF sequence, berpikir kritis
EFL Learning Strategies Employed by Indonesian Successful High School Students Maharani Khansa
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 4: DECEMBER 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Language learning strategies (LLSs) play an essential role in the process of English language learning. This study is aimed at investigating language-learning strategies employed by successful Indonesian EFL high school students. This study is of significance to provide a model of strategies practiced by successful EFL students who manage to develop good command of English regardless certain limitations and challenges they face. The results of this study show the students actively employ a combination of affective and cognitive-social learning strategies to develop their English skills.Keywords: language learning strategies, successful EFL learners, language learning, high schoolAbstrak: Strategi pembelajaran bahasa (LLS) memainkan peran penting dalam proses pembelajaran bahasa Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki strategi pembelajaran bahasa yang digunakan oleh siswa EFL sekolah menengah atas di Indonesia yang berhasil. Studi ini sangat penting untuk memberikan model strategi yang dipraktikkan oleh siswa EFL yang berhasil yang berhasil mengembangkan penguasaan bahasa Inggris yang baik terlepas dari batasan dan tantangan tertentu yang mereka hadapi. Hasil penelitian ini menunjukkan siswa secara aktif menggunakan kombinasi strategi pembelajaran afektif dan kognitif-sosial untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggris mereka.Kata kunci: strategi pembelajaran bahasa, pebelajar bahasa Inggris EFL sukses, pembelajaran bahasa, siswa SMA