cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
ISSN : 19793472     EISSN : 25805223     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 473 Documents
The School Leadership Preparation Project: A Multi-Case Study on Education Policy in South Sulawesi Province Ardiansyah, Muhammad; Arismunandar; Ansar; Faridah
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 2 (2024): DECEMBER
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n2i11

Abstract

This research investigates the School Leadership Preparation Project in South Sulawesi Province. The project consists of a series of activities designed to identify highly potential and experienced teachers who are prepared to take on additional responsibilities as school principals. The process involves two stages: (1) selection (comprising administrative and academic selection), and (2) education and training. This study critically examines the policy formulation, its implementation, and the outcomes in South Sulawesi Province. Data collection was conducted through participatory observation, in-depth interviews, and document analysis. The individual data analysis followed the Miles and Huberman (2014) flow model, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing/verification. For cross-case analysis, a comparative approach was employed as recommended by Yin (2002). The findings indicate that the School Leadership Preparation Project is more responsive to current needs than to future demands, as the political discretion of local leaders often outweighs adherence to central government policies. Moreover, the project is primarily attended by junior or low-tenure teachers, who may lack the leadership qualifications expected of prospective school leaders. The content of the school leadership preparation programs focuses more on leadership development rather than on managerial skills, school entrepreneurship, or educational supervision. Abstrak: Penelitian ini menyelidiki Proyek Persiapan Kepemimpinan Sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan. Proyek ini terdiri dari serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengidentifikasi guru-guru yang berpotensi dan berpengalaman yang siap untuk mengambil tanggung jawab tambahan sebagai kepala sekolah. Prosesnya meliputi dua tahap: (1) seleksi (terdiri dari seleksi administrasi dan akademik), dan (2) pendidikan dan pelatihan. Kajian ini mengkaji secara kritis perumusan kebijakan, implementasinya, dan outcome di Provinsi Sulawesi Selatan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Analisis data individu mengikuti model aliran Miles dan Huberman (2014), yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Untuk analisis lintas kasus, pendekatan komparatif digunakan seperti yang direkomendasikan oleh Yin (2002). Temuan-temuan yang ada menunjukkan bahwa Proyek Persiapan Kepemimpinan Sekolah lebih responsif terhadap kebutuhan saat ini dibandingkan tuntutan di masa depan, karena kebijaksanaan politik para pemimpin daerah seringkali melebihi kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah pusat. Selain itu, proyek ini sebagian besar diikuti oleh guru-guru junior atau guru dengan masa jabatan rendah, yang mungkin tidak memiliki kualifikasi kepemimpinan yang diharapkan dari calon pemimpin sekolah. Isi program persiapan kepemimpinan sekolah lebih menitikberatkan pada pengembangan kepemimpinan dibandingkan keterampilan manajerial, kewirausahaan sekolah, atau supervisi pendidikan.
Innovative Leadership of Madrasah Aliyah Principals in Enhancing Educational Quality in Pidie, Aceh Province Abdullah; Idris, Jamaluddin; Silahuddin
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 2 (2024): DECEMBER
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n2i3

Abstract

This study explores the innovative leadership practices of Islamic senior high school (known as Madrasah Aliyah) principals in Pidie Regency, Aceh, aimed at enhancing educational quality. It addresses the research gap regarding innovative leadership in madrasahs, particularly in Aceh—a post-conflict region with strong cultural and religious values. The study draws on Transformational Leadership and Adaptive Leadership theories to frame its analysis. Using a qualitative case study approach, data were collected from 32 informants, including principals, teachers, students, and school committee members, from eight purposively selected State Madrasah Aliyahs. Data collection methods included direct observation, in-depth interviews, and document analysis. The findings identify five key components of innovative leadership: strategic vision, stakeholder orientation, collaboration, trust-building, and open communication. Practical strategies, such as technology-based learning and community engagement, were implemented to address challenges in student performance while preserving cultural and religious identity. These results underscore the pivotal role of innovative leadership in balancing tradition and modernity, offering actionable recommendations for principals and policymakers to develop adaptive leadership strategies in similar educational contexts. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perilaku kepemimpinan inovatif kepala Madrasah Aliyah di Kabupaten Pidie, Aceh, dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Studi ini mengisi kesenjangan penelitian terkait terbatasnya kajian tentang kepemimpinan inovatif di madrasah, khususnya dalam konteks Aceh sebagai wilayah pasca-konflik dengan nilai budaya dan agama yang kuat. Dengan menggunakan teori Transformational Leadership dan Adaptive Leadership, penelitian kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini melibatkan 32 informan dari delapan Madrasah Aliyah Negeri yang dipilih secara purposive. Informan terdiri atas kepala madrasah, guru, siswa, dan anggota komite sekolah. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Hasil penelitian mengidentifikasi lima aspek utama kepemimpinan inovatif: visi strategis, orientasi pada pemangku kepentingan, kolaborasi, pembangunan kepercayaan, dan komunikasi terbuka. Strategi praktis seperti pembelajaran berbasis teknologi serta keterlibatan komunitas diterapkan untuk mengatasi tantangan rendahnya hasil belajar sambil mempertahankan identitas budaya dan religius. Hasil ini menegaskan pentingnya kepemimpinan inovatif dalam menyeimbangkan tradisi dan modernitas, sekaligus menawarkan rekomendasi strategis bagi kepala madrasah dan pembuat kebijakan untuk mengembangkan kepemimpinan adaptif dalam konteks pendidikan serupa.
The Integration of Traditional Values of Pelintau Pencak Silat as a Resource for Local History Education Prasetyo, Okhaifi; Dilwan, Muhammad Al; Rahman, Aulia
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 2 (2024): DECEMBER
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n2i4

Abstract

The traditional values of Pencak Silat Pelintau have not been systematically incorporated into the curriculum as a resource for local history education. The integration of these values is essential for enhancing the relevance of local learning materials and ensuring the availability of indigenous educational resources. This study seeks to explore the integration of Pencak Silat Pelintau’s traditional values into the curriculum as an approach to local history education. Employing a descriptive qualitative research design, the study utilized data collection methods including observation, interviews, and document analysis. Data were analyzed through processes of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings suggest that the local wisdom inherent in Pencak Silat Pelintau can be effectively integrated into local history instruction. Within the framework of the Merdeka Curriculum, the topics of the Islamic Kingdoms in Phase E and Colonialism and Indonesian National Resistance in Phase F present appropriate opportunities to incorporate the stories and values of the Pelintau Pencak Silat tradition. This integration enables students to develop a deeper understanding of local history while internalizing key values such as honesty, discipline, cooperation, simplicity, politeness, courage, and resilience—values that contribute to shaping positive attitudes and behaviors in students' personal and social lives. Abstrak: Nilai-nilai tradisional Pencak Silat Pelintau belum diintegrasikan secara sistematis ke dalam kurikulum sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal. Integrasi nilai-nilai ini sangat penting untuk meningkatkan relevansi materi pembelajaran lokal dan memastikan tersedianya sumber daya pendidikan yang bersifat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji integrasi nilai-nilai tradisional Pencak Silat Pelintau ke dalam kurikulum sebagai pendekatan dalam pembelajaran sejarah lokal. Dengan menggunakan desain penelitian kualitatif deskriptif, penelitian ini mengumpulkan data melalui metode observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Data dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal yang terkandung dalam Pencak Silat Pelintau dapat diintegrasikan secara efektif ke dalam pengajaran sejarah lokal. Dalam kerangka Kurikulum Merdeka, topik-topik mengenai Kerajaan Islam pada Fase E serta Kolonialisme dan Perlawanan Nasional Indonesia pada Fase F menjadi peluang yang tepat untuk mengintegrasikan cerita dan nilai-nilai tradisi Pencak Silat Pelintau. Integrasi ini memungkinkan siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam mengenai sejarah lokal sekaligus menginternalisasi nilai-nilai penting seperti kejujuran, disiplin, kerjasama, kesederhanaan, kesopanan, keberanian, dan ketangguhan—nilai-nilai yang berkontribusi dalam membentuk sikap dan perilaku positif dalam kehidupan pribadi dan sosial siswa.
The Role of Foster Carers in Shaping Santri Discipline in Pesantren Through a Humanistic Approach Rozi, Fathor; Novita Firdaus Salsabila; Jibril Olaniyi Ayuba
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 2 (2024): DECEMBER
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n2i2

Abstract

The objective of this research is to examine the role of foster carers in shaping the discipline of santri within pesantren through a humanistic approach. Specifically, the study aims to identify and analyze the ways in which foster carers educate and guide santri to foster discipline, explore the application of the humanistic approach in their interactions with santri, and assess its impact on character development and discipline. This research adopted a qualitative methodology, utilizing a case study design to explore the context and dynamics of the relationship between students and foster carers. The case under investigation is the interaction within a dormitory in a pesantren in Indonesia. Then, the findings of this study underscore the critical role of foster carers in shaping santri discipline. Foster carers are not only responsible for providing guidance and support but also serve as exemplary models of behavior and moral values. The study highlights the significant impact of the foster carers' role in promoting discipline at the boarding school. Through consistent guidance and mentorship, foster carers contribute to the development of a disciplined student body, which subsequently enhances the overall learning environment and activities within the pesantren. The research concludes that the effective role of foster carers is instrumental in improving the quality of education within pesantren, thereby contributing to the holistic development of students, both academically and morally. Abstrak: Tujuan penelitian mengenai peran wali asuh dalam membentuk kedisiplinan santri di pesantren melalui pendekatan humanistik yaitu untuk mengidentifikasi dan menganalisis peran wali asuh dalam mendidik dan membimbing santri untuk mencapai kedisiplinan, mengkaji bagaimana pendekatan humanistik diterapkan oleh wali asuh dalam interaksi dengan santri dan dampaknya terhadap pembentukan karakter dan kedisiplinan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus, yang mana pendekatan tersebut bertujuan untuk memahami konteks dan dinamika dari kasus tersebut, serta menghasilkan wawasan yang lebih mendetail mengenai fenomena pada objek yang diteliti, yaitu hubungan antara santri dan wali asuh tepatnya di salah satu asrama pondok pesantren di Indonesia. Dalam penelitian ini disebutkan bahwa peran wali asuh di pesantren sangat krusial dalam membentuk kedisiplinan santri. Wali asuh tidak hanya bertugas membimbing dan membina, tetapi juga berperan sebagai teladan dalam perilaku dan nilai-nilai moral. Implikasi dari peran wali asuh dalam pondok pesantren terhadap pembentukan kedisiplinan santri sangat signifikan. Dengan adanya bimbingan yang konsisten dari wali asuh, santri cenderung lebih disiplin, yang berpengaruh positif terhadap proses belajar dan kegiatan dipesantren. Secara keseluruhan, peran wali asuh yang efektif dapat berdampak pada kualitas pendidikan di pesantren dan menghasilkan generasi santri yang lebih baik, baik dalam aspek akademis maupun moral.
Managing Inclusive Early Childhood Education: Strategies and Challenges in Supporting Children with Special Needs Abubakar, Sitti Rahmaniar; M., Sri Yuliani; Ashar, Dinar Salasatun
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 2 (2024): DECEMBER
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n2i10

Abstract

According to recent data, the number of children with special needs in Indonesia has reached 1,544,184, with 330,764 of these children (21.42%) aged 5–18 years. However, only 85,737 children with special needs are currently enrolled in school. This disparity highlights the urgent need for efforts to ensure that these children receive an appropriate education. The aim of this study is to analyze the management of inclusive Early Childhood Education (PAUD) in the context of inclusive education, focusing on the following aspects: first, the policies supporting inclusive education; second, the implementation of the inclusive education program; third, the challenges faced by educators and other stakeholders in implementing the program; and fourth, the outcomes achieved in improving access to appropriate education for children with special needs. The research adopts a qualitative approach with a case study design. Data collection methods include three primary techniques: interviews, observation, and documentation. The data were analyzed using the Miles and Huberman framework, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study indicate that the institution in question is committed to providing inclusive education for all children, including those with special needs. The school offers assistant teachers, therapy rooms, creative learning methods, and accessible facilities to support the learning process. Support from the government and related institutions plays a crucial role in improving educator competencies and expanding facilities, both of which are vital for the success of inclusive education programs. Abstrak: Menurut data terbaru, jumlah anak dengan kebutuhan khusus di Indonesia mencapai 1.544.184, dengan 330.764 anak (21,42%) berada dalam rentang usia 5–18 tahun. Namun, hanya 85.737 anak dengan kebutuhan khusus yang terdaftar di sekolah. Ketimpangan ini menunjukkan perlunya upaya untuk memastikan anak-anak tersebut menerima pendidikan yang sesuai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengelolaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) inklusif dalam konteks pendidikan inklusif, dengan fokus pada aspek-aspek berikut: pertama, kebijakan yang mendukung pendidikan inklusif; kedua, pelaksanaan program pendidikan inklusif; ketiga, tantangan yang dihadapi oleh pendidik dan pihak terkait dalam melaksanakan program ini; dan keempat, hasil yang dicapai dalam meningkatkan akses pendidikan yang sesuai bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan mencakup tiga teknik utama: wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan teknik analisis Miles dan Huberman, yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa institusi yang diteliti berkomitmen untuk menyediakan layanan pendidikan inklusif bagi semua anak, termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Sekolah ini menawarkan guru pendamping, ruang terapi, metode pembelajaran kreatif, dan fasilitas yang dapat diakses untuk mendukung proses pembelajaran. Dukungan dari pemerintah dan lembaga terkait sangat penting dalam meningkatkan kompetensi pendidik dan memperluas fasilitas, yang keduanya vital untuk keberhasilan program pendidikan inklusif.
The Anxiety Levels and Mathematical Literacy of the Eighth Grade Indonesian Students on Quantity Content Asyari, Syahrullah; Nasrullah; Barakat Hussein, Hisham; Nuraeni
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 2 (2024): DECEMBER
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n2i6

Abstract

Mathematical literacy is essential for students’ academic success and real-life problem-solving. However, math anxiety remains a significant barrier affecting students' performance, particularly in the “quantity” content of mathematical literacy. Despite extensive research, limited studies have explored how varying levels of math anxiety influence students’ mathematical literacy in specific content domains. This qualitative descriptive study investigates the impact of math anxiety on the mathematical literacy of the eighth-grade students in the “quantity” content. Using purposive sampling, six students from State Junior High School 26 Makassar were selected. The data collection involved a math anxiety questionnaire, a mathematical literacy test, and interview guidelines. The Miles, Huberman, and Saldana model was applied for data analysis. The findings indicate that math anxiety levels strongly influence students’ mathematical literacy. Students with low anxiety demonstrated strong conceptual understanding, effective problem-solving strategies, and accurate calculations. Those with moderate anxiety managed simpler tasks but struggled with complex problems, consistent with the Yerkes-Dodson law. The students experiencing high anxiety exhibited the poorest performance faced challenges in understanding instructions and applying appropriate strategies. The study highlights the necessity of addressing math anxiety through interactive teaching approaches and targeted support to enhance students’ mathematical literacy, suggesting practical interventions for educators. Abstrak: Literasi matematika sangat penting untuk keberhasilan akademik siswa dan pemecahan masalah dalam kehidupan nyata. Namun, kecemasan matematika tetap menjadi hambatan signifikan yang memengaruhi kinerja siswa, terutama dalam konten “kuantitas” literasi matematika. Meskipun penelitian yang luas telah dilakukan, hanya sedikit studi yang mengeksplorasi bagaimana tingkat kecemasan matematika yang berbeda memengaruhi literasi matematika siswa dalam domain konten tertentu. Studi deskriptif kualitatif ini menyelidiki dampak kecemasan matematika terhadap literasi matematika siswa kelas delapan dalam konten “kuantitas”. Melalui teknik purposive sampling, enam siswa dari SMP Negeri 26 Makassar dipilih sebagai responden. Pengumpulan data melibatkan kuesioner kecemasan matematika, tes literasi matematika, dan pedoman wawancara. Model Miles, Huberman, dan Saldana digunakan untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan matematika sangat memengaruhi literasi matematika siswa. Siswa dengan tingkat kecemasan rendah menunjukkan pemahaman konsep yang kuat, strategi pemecahan masalah yang efektif, dan perhitungan yang akurat. Siswa dengan tingkat kecemasan sedang mampu menangani tugas-tugas sederhana tetapi kesulitan dengan masalah yang lebih kompleks, sesuai dengan hukum Yerkes-Dodson. Siswa dengan tingkat kecemasan tinggi menunjukkan kinerja terburuk, menghadapi kesulitan dalam memahami instruksi dan menerapkan strategi yang sesuai. Studi ini menyoroti pentingnya mengatasi kecemasan matematika melalui pendekatan pengajaran interaktif dan dukungan yang ditargetkan untuk meningkatkan literasi matematika siswa, serta merekomendasikan intervensi praktis bagi para pendidik.
Fostering Religiosity and Social Character through Islamic Educational Programs in the Context of Society 5.0 Islamy, Mohammad Rindu Fajar
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 2 (2024): DECEMBER
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n2i7

Abstract

This study aims to assess the effectiveness of the Islamic Religious Education Tutorial Program in enhancing students' religiosity and social character. Drawing on Fromm's theory, social character is critical in responding to societal changes, such as the digital revolution. Experts argue that technology and globalization have a profound impact on individual character in the context of Society 5.0. In this modern era, the importance of social character has become increasingly urgent due to rapid social transformations and the growing complexity of societal structures. These challenges include: 1) the rapid transformation of social structures, 2) social fragmentation, 3) the challenges posed by neoliberalism, and 4) the influence of social media and technology. This research employs a cross-sectional quantitative design, utilizing a Likert-scale questionnaire administered to 205 students from four different study programs at the Indonesia University of Education, Bandung, Indonesia. Data collected were analyzed using IBM SPSS software. The results indicate that the program led to significant improvements in seven key areas: 1) religious knowledge, 2) religiosity, 3) morality, 4) worship, 5) social responsibility, 6) empathy, and 7) tolerance. These improvements varied across study programs, with students enrolled in religious studies showing the most substantial increases in tolerance (average score 4.07) and religious knowledge (4.01). Notably, tolerance emerged as the most improved aspect overall. These findings highlight the program's role as a vital tool for character development and propose a model for integrating moral education in the digital era of Society 5.0. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas Program Tutorial Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan religiositas dan karakter sosial mahasiswa. Berdasarkan teori Fromm, karakter sosial sangat penting dalam merespons perubahan, seperti revolusi digital. Para ahli berpendapat bahwa teknologi dan globalisasi memiliki dampak yang signifikan terhadap karakter individu dalam konteks Society 5.0. Di era modern ini, urgensi karakter sosial semakin penting karena perubahan sosial yang cepat dan kompleksitas struktur masyarakat yang semakin meningkat. Tantangan-tantangan tersebut meliputi: 1) transformasi cepat struktur sosial, 2) fragmentasi sosial, 3) tantangan neoliberalism, dan 4) pengaruh media sosial serta teknologi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif potong lintang, dengan menggunakan kuesioner skala Likert yang disebarkan kepada 205 mahasiswa dari empat program studi di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan perangkat lunak IBM SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini memberikan peningkatan yang signifikan pada tujuh aspek: 1) pengetahuan agama, 2) religiositas, 3) moralitas, 4) ibadah, 5) tanggung jawab sosial, 6) empati, dan 7) toleransi. Peningkatan ini bervariasi di setiap program studi, dengan mahasiswa yang mengambil studi agama menunjukkan peningkatan terbesar pada aspek toleransi (skor rata-rata 4,07) dan pengetahuan agama (4,01). Secara keseluruhan, toleransi menjadi aspek yang paling meningkat. Temuan ini menegaskan peran program ini sebagai alat penting untuk pengembangan karakter dan memberikan model untuk mengintegrasikan pendidikan moral dalam era digital Society 5.0.
Student Perceptions of the Effectiveness of E-Learning in Higher Education: A Comparative Study of Two Universities in Indonesia and Malaysia Maujud, Fathul; Nurman, Muhammad; Harun, Makmur; Rahman, Zidan Fitrayadi
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 2 (2024): DECEMBER
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n2i14

Abstract

This study examines students' perceptions of the effectiveness of e-learning in higher education, focusing on the use of Learning Management Systems (LMS) at two universities in Indonesia and Malaysia. The research investigates how e-learning impacts lecture delivery and its overall effectiveness in promoting student engagement and learning outcomes. The study population includes students from the Arabic Language Education Program at a university in Indonesia and the Islamic History and Language Programs at a university in Malaysia, for the 2023-2024 academic year. A random sampling technique was employed, and the sample size was determined using the Slovin formula. Data were collected through questionnaires, observations, and interviews. Data analysis involved calculating the average score of questionnaire responses, which were then presented using tables and graphs. The findings indicate that students from both universities perceive e-learning as highly effective. This suggests that the use of LMS as an instructional tool is viewed positively by students and is considered an effective method for enhancing learning experiences in higher education. The results highlight the potential of e-learning platforms to support academic engagement and improve learning outcomes. The study has significant implications for the continued development of e-learning strategies and offers valuable insights for refining the implementation of online learning environments in higher education. Abstrak: Penelitian ini mengkaji persepsi mahasiswa terhadap efektivitas e-learning dalam pendidikan tinggi, dengan fokus pada penggunaan Sistem Manajemen Pembelajaran (LMS) di dua universitas di Indonesia dan Malaysia. Penelitian ini menyelidiki bagaimana e-learning mempengaruhi penyampaian materi kuliah dan efektivitas keseluruhannya dalam meningkatkan keterlibatan mahasiswa dan hasil pembelajaran. Populasi penelitian ini mencakup mahasiswa dari Program Pendidikan Bahasa Arab di sebuah universitas di Indonesia dan Program Sejarah dan Bahasa Islam di sebuah universitas di Malaysia, pada tahun akademik 2023-2024. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel acak, dan ukuran sampel ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui kuesioner, observasi, dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan menghitung skor rata-rata dari jawaban kuesioner, yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil analisis menunjukkan bahwa mahasiswa dari kedua universitas memandang e-learning sebagai sangat efektif. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan LMS sebagai alat pembelajaran dipandang positif oleh mahasiswa dan dianggap sebagai metode yang efektif dalam meningkatkan pengalaman belajar di pendidikan tinggi. Hasil penelitian ini menyoroti potensi platform e-learning dalam mendukung keterlibatan akademik dan meningkatkan hasil pembelajaran. Penelitian ini memiliki implikasi penting untuk pengembangan strategi e-learning yang berkelanjutan dan memberikan wawasan berharga untuk menyempurnakan penerapan lingkungan pembelajaran daring di pendidikan tinggi.
Thinking Outside the Box: Exploring Indonesian EFL Pre-Service Teachers’ Conceptions and Perceptions of Creativity Rahman, Kasyfur; Rahmat, Hery
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 28 No 1 (2025): JUNE
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2025v28n1i5

Abstract

The aim of this study is to explore how EFL pre-service teachers conceptualize and perceive creativity. A total of 226 pre-service teachers enrolled at a state university, Universitas Islam Negeri Mataram, participated in a survey, and six of them voluntarily took part in a follow-up focus group interview. Their conceptions of creativity were investigated using open-ended questions and interviews. In addition, their perceived creativity was assessed through a self-report scale adapted from the Creativity Styles Questionnaire–Revised (CSQ-R). The findings indicate that their conceptions are partially aligned with prevailing theories of creativity, encompassing creative outcomes, individual traits, and creative processes. Furthermore, the majority of participants identified themselves as medio-creative. Creative individuals reported greater use of techniques, heightened sensory awareness, control over environmental and behavioral factors, and stronger beliefs in unconscious processes. The study also discusses implications for pre-service teacher education. Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana calon guru bahasa inggris memahami dan memandang kreativitas. Dua ratus dua puluh enam calon guru yang sedang menjalani studi di Universitas Islam negeri Mataram berpartisipasi dalam sebuah survei tentang kreativitas, dan enam di antaranya secara sukarela berpartisipasi dalam wawancara kelompok terfokus. Data tentang konsepsi kreativitas mereka dikumpulkan menggunakan pertanyaan open-ended dan wawancara. Data persepsi kreativitas diperoleh melalui respons calon guru terhadap skala yang diadaptasi dari Creativity Styles Questionnaire-revised (CSQ-R). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsepsi calon guru tentang kreativitas sejalan dengan sebagian besar teori kreativitas. Mereka memahami kreativitas sebagai hasil kerja kreatif, ciri-ciri pribadi, dan proses kreatif. Selain itu, sebagian besar responden mengidentifikasi diri sebagai medio-kreatif. Individu yang kreatif mengungkapkan penggunaan teknik, indera, dan kontrol lingkungan/perilaku yang lebih tinggi serta kepercayaan pada proses bawah sadar. Implikasi untuk pendidikan calon guru juga disajikan. The aim of this study is to explore how EFL pre-service teachers conceptualize and perceive creativity. A total of 226 pre-service teachers enrolled at a state university, Universitas Islam Negeri Mataram, participated in a survey, and six of them voluntarily took part in a follow-up focus group interview. Their conceptions of creativity were investigated using open-ended questions and interviews. In addition, their perceived creativity was assessed through a self-report scale adapted from the Creativity Styles Questionnaire–Revised (CSQ-R). The findings indicate that their conceptions are partially aligned with prevailing theories of creativity, encompassing creative outcomes, individual traits, and creative processes. Furthermore, the majority of participants identified themselves as medio-creative. Creative individuals reported greater use of techniques, heightened sensory awareness, control over environmental and behavioral factors, and stronger beliefs in unconscious processes. The study also discusses implications for pre-service teacher education. Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana calon guru bahasa inggris memahami dan memandang kreativitas. Dua ratus dua puluh enam calon guru yang sedang menjalani studi di Universitas Islam negeri Mataram berpartisipasi dalam sebuah survei tentang kreativitas, dan enam di antaranya secara sukarela berpartisipasi dalam wawancara kelompok terfokus. Data tentang konsepsi kreativitas mereka dikumpulkan menggunakan pertanyaan open-ended dan wawancara. Data persepsi kreativitas diperoleh melalui respons calon guru terhadap skala yang diadaptasi dari Creativity Styles Questionnaire-revised (CSQ-R). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsepsi calon guru tentang kreativitas sejalan dengan sebagian besar teori kreativitas. Mereka memahami kreativitas sebagai hasil kerja kreatif, ciri-ciri pribadi, dan proses kreatif. Selain itu, sebagian besar responden mengidentifikasi diri sebagai medio-kreatif. Individu yang kreatif mengungkapkan penggunaan teknik, indera, dan kontrol lingkungan/perilaku yang lebih tinggi serta kepercayaan pada proses bawah sadar. Implikasi untuk pendidikan calon guru juga disajikan.
An Analysis of the Influence of Social Media and Digital Platforms on the Islamic Understanding of Generation Alpha Al Awwali, Sholihin
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 28 No 1 (2025): JUNE
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2025v28n1i4

Abstract

The increasing social media consumption among Generation Alpha - the digital-native cohort born after 2010 - has introduced both new opportunities and challenges in the realm of Islamic religious education. This is particularly evident in the context of online learning, an area that remains underexplored empirically at the junior high school level. This study aims to examine the influence of social media and digital platforms on students’ understanding of Islam at Muhammadiyah 1 Berbah Middle School, while also identifying the digital literacy challenges they encounter. Adopting a quantitative descriptive approach, the study involved a sample of 152 students selected through stratified random sampling based on grade level and gender, from a total population of 250 students. Data were collected using a closed-ended questionnaire employing a 4-point Likert scale to assess four key variables: social media usage, understanding of Islamic teachings, digital literacy, and perceived benefits and challenges. Analysis using SPSS revealed that social media plays a dual role: while 63% of respondents reported that it supported their understanding of Islamic teachings, 68% frequently encountered conflicting religious information, and only 55% consistently verified such content. Moreover, 57% of students acknowledged the need for guidance in filtering religious information online. These findings highlight the urgent need for digital literacy training, greater educator involvement, and the development of credible Islamic content to enhance the positive impact of social media on religious education. Further research is recommended to explore causal relationships and the influence of other stakeholders, such as families, in strengthening students’ religious digital literacy. Abstrak: Fenomena meningkatnya konsumsi media sosial oleh Generasi Alfa, generasi digital-native yang lahir setelah tahun 2010, telah membawa tantangan dan peluang baru dalam pendidikan agama Islam, khususnya dalam konteks pembelajaran daring yang belum banyak diteliti secara empiris di tingkat sekolah menengah pertama.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media sosial dan platform digital terhadap pemahaman Islam di kalangan siswa SMP Muhammadiyah 1 Berbah, sekaligus mengidentifikasi tantangan literasi digital yang mereka hadapi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel 152 siswa yang diambil melalui stratified random sampling berdasarkan jenjang kelas dan jenis kelamin dari total populasi 250 siswa. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup dengan skala Likert 4 poin untuk mengukur empat variabel: penggunaan media sosial, pemahaman ajaran Islam, literasi digital, serta manfaat dan tantangan yang dirasakan. Hasil analisis data dengan SPSS menunjukkan bahwa media sosial berperan ganda: 63% responden merasa terbantu dalam memahami ajaran Islam, namun 68% sering menemukan informasi keagamaan yang bertentangan dan hanya 55% yang secara konsisten memverifikasi informasi tersebut. Sebanyak 57% mengaku memerlukan panduan dalam memilah informasi agama secara daring. Temuan ini menegaskan pentingnya pelatihan literasi digital, keterlibatan pendidik, serta pengembangan konten keislaman yang kredibel guna mengoptimalkan peran media sosial dalam pendidikan agama. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi hubungan kausal dan peran aktor lain seperti keluarga dalam meningkatkan literasi digital keagamaan.