cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
ISSN : 19793472     EISSN : 25805223     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 473 Documents
TEACHING ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE TO DEAF AND HARD-OF-HEARING STUDENTS IN INDONESIAN CONTEXTS Adnyani, Ni Luh Putu Sri; Wisudariani, Ni Made Rai; Menggo, Sebastianus; Dewi, Kadek Sintya; Wiraningsih, Putu; Xuan, Zhao
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 1 (2024): JUNE
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n1i2

Abstract

Due to linguistic difficulties, students with hearing impairments face unique challenges when studying English as a foreign language (EFL). This study examined how hearing-impaired junior high school students in Indonesia were taught and the barriers faced by teachers when teaching students in English. The study employed a descriptive qualitative methodology involving nine teachers from schools for special needs education in Bali. This study applies multiple techniques, including questionnaire distribution, interviews, observations, and document analysis. The study shows the absence of teachers’ prior experience in developing curriculum and syllabus. Other main issues were related to teachers’ and students’ lack of sign language understanding, lack of learning materials, and students’ learning characteristics. The teachers primarily used grammar-translation methods and applied ineffective classroom management. By these findings, policymakers need to review the English curriculum, provide special training for teachers, and design the classroom to satisfy the unique learning needs of the students. Abstrak: Keterbatasan linguistik menyebabkan siswa dengan gangguan pendengaran menghadapi tantangan ketika belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL). Penelitian ini menganalisis pembelajaran bahasa Inggris untuk siswa tuna rungu pada tingkat SMP serta hambatan yang dihadapi guru ketika mengajar siswa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang melibatkan sembilan guru dari sekolah luar biasa di Bali. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah penyebaran kuesioner, wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan kurangnya pengalaman guru dalam mengembangkan kurikulum dan silabus untuk pengajaran bahasa Inggris bagi siswa tuna rungu. Masalah lainnya terkait dengan terbatasnya pengetahuan bahasa isyarat oleh guru maupun siswa, ketersediaan materi pembelajaran yang kurang, dan karakteristik belajar siswa yang unik. Guru umumnya menggunakan metode penerjemahan dan penerapan manajemen kelas yang kurang efektif. Sejalan dengan temuan tersebut, pembuat kebijakan perlu meninjau kembali kurikulum bahasa Inggris, memberikan pelatihan untuk guru, serta merancang ruang kelas untuk memenuhi kebutuhan khusus bagi siswa tuna rungu.
IMPROVING TEACHER PROFESSIONAL COMPETENCE THROUGH THE TRAINING OF INFORMATION TECHNOLOGY-BASED LEARNING MEDIA IN SOUTHEAST SULAWESI Kadir, Abdul; Yulita, Nourma; Boulahnane, Saad
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 26 No 2 (2023): DECEMBER
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2023v26n2i7

Abstract

Abstract: This article aims to improve the competence of MIPA (Mathematics and Natural Sciences) teachers using Information Technology (IT)-based learning media. A participatory action research (PAR) was conducted on twenty-five teachers from 3T regions (Frontier, Outermost, and Least Developed) of Konawe Kepulauan Regency. The findings revealed that: 1) The initial comprehension of MIPA teachers was in the low category, with an average score of 43.84. 2) The competence level of MIPA teachers after training was high, with 81.12. 3) Training using IT-based learning media effectively improved teacher competence, particularly the professional competence of teachers in the external domain. The main implementation constraints encountered by teachers were a lack of knowledge about software application installation procedures and a lack of optimality in utilizing the various features possessed by each application. Therefore, IT training is needed to improve teachers' professional competence in optimizing the use of various applications in the 3T area. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) dengan menggunakan media pembelajaran berbasis Teknologi Informasi (TI). Penelitian tindakan partisipatif (PAR) dilakukan terhadap dua puluh lima guru daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) Kabupaten Konawe Kepulauan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pemahaman awal guru MIPA berada pada kategori rendah dengan rata-rata skor 43,84. 2) Tingkat kompetensi guru MIPA setelah pelatihan termasuk tinggi yaitu 81,12. 3) Pelatihan penggunaan media pembelajaran berbasis IT efektif meningkatkan kompetensi guru, khususnya kompetensi profesional guru pada ranah eksternal. Kendala utama implementasi yang ditemui guru adalah kurangnya pengetahuan tentang tata cara instalasi aplikasi perangkat lunak dan kurang optimalnya penggunaan berbagai fitur yang dimiliki setiap aplikasi. Oleh karena itu, pelatihan IT diperlukan untuk meningkatkan kompetensi profesional guru dalam mengoptimalkan penggunaan berbagai aplikasi di bidang 3T.
Analisis Dampak Konten Gaming dalam Perkembangan Anak Ananda Fathur Rahman; Sahayu, Wening
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 26 No 2 (2023): DECEMBER
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2023v26n2i15

Abstract

Abstract: The increases of the internet era have become stronger. The development of technology on the internet is marked by social media usage. This research aimed to analyze YouTube gaming contents’ impact on children’s development. The methods used in this research were descriptive methods and literature studies using socio-pragmatic analysis and transactional techniques based on a qualitative approach. Six YouTube content videos were used as object materials for analysis in this research. Researchers used socio-pragmatic analysis techniques to analyze the data. The results of the research showed that there were impolite speech acts in the behavior of streamers when presenting gaming content that affected a child's development, and there were several negative impacts of online game addiction, such as online game syndrome and activity of slamming smartphones for online game addicts when they lose. Abstrak: Peningkatan era internet semakin kuat. Perkembangan teknologi di internet ditandai dengan penggunaan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak konten game YouTube terhadap tumbuh kembang anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan studi literatur dengan menggunakan analisis sosio-pragmatis dan teknik transaksional berdasarkan pendekatan kualitatif. Enam video konten YouTube digunakan sebagai bahan objek analisis dalam penelitian ini. Peneliti menggunakan teknik analisis sosiopragmatik untuk menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tindak tutur tidak sopan pada perilaku streamer saat menyajikan konten game yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, serta terdapat beberapa dampak negatif dari kecanduan game online seperti sindrom game online dan aktivitas membanting ponsel untuk pecandu ketika mereka kalah.
EMPATHY AND TOLERANCE CULTIVATION IN PRIMARY STUDENTS THROUGH LOCAL CONTEXT-BASED SOCIAL SCIENCE LESSONS Aramudin, Aramudin; Susanti, R. Hariyani
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 1 (2024): JUNE
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n1i12

Abstract

This study delves into the problem of fostering empathy and tolerance among elementary students through local context-based social science lessons. It investigated how integrating local context into the curriculum affected the development of students' empathy and tolerance. This study used a mixed-methods approach. The instruments used to collect data were questionnaires, observation sheets, and interview guidelines. The research was conducted on SDN 1 Baubau in Buton. Data were analyzed quantitatively and qualitatively. The study underscored teachers' pivotal role emphasizing culturally relevant and context-based pedagogical strategies. These findings highlighted the transformative potential of local context-based education in shaping students' social and emotional development. The study recommends a comprehensive curriculum reevaluation, prioritizing empathy and tolerance as crucial educational outcomes. This research provides concrete evidence of the positive impact of integrating local context, shaping a more empathetic and tolerant generation prepared for an interconnected world. Abstrak Penelitian ini membahas cara menumbuhkan empati dan toleransi di kalangan siswa sekolah dasar melalui pelajaran ilmu sosial yang berbasis konteks lokal. Penelitian ini meneliti cara memasukkan konteks lokal ke dalam kurikulum dapat mempengaruhi perkembangan empati dan toleransi siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket, lembar observasi, dan pedoman wawancara. Penelitian dilakukan di SDN 1 Baubau di Buton. Data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini menekankan peran penting guru dalam menggunakan strategi pengajaran yang relevan dengan budaya dan berbasis konteks lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan berbasis konteks lokal memiliki potensi besar dalam membentuk perkembangan sosial dan emosional siswa. Studi ini merekomendasikan evaluasi ulang kurikulum secara menyeluruh, dengan menekankan pentingnya empati dan toleransi sebagai hasil pendidikan yang utama. Penelitian ini memberikan bukti konkret bahwa integrasi konteks lokal dapat berdampak positif, membantu membentuk generasi yang lebih empatik dan toleran yang siap menghadapi dunia yang memiliki interkoneksi.
ANALYZING STUDENTS' CONSTRUCTION OF THE RELATIONSHIP BETWEEN CONTINUITY AND DIFFERENTIABILITY Nasrun, Nasrun; Ikram, Muhammad
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 26 No 2 (2023): DECEMBER
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2023v26n2i10

Abstract

Abstract: The relationship between continuity and differentiability in graphical problems are two concepts that students are pivotal in understanding derivative concepts. However, researchers rarely pay attention to how students understand the relationship between Continuity and differentiability or vice versa. This study investigates students' understanding of the relationship between continuity and differentiability. This study is exploratory and focuses on the meanings students construct. The participants were 195 third-year undergraduate students from various Indonesian universities. A questionnaire and interview were used to collect data. Ten of the participants agreed to an in-depth interview for exploration and clarification. Thematic analysis was used to deduce patterns from participants' responses based on the findings. The results indicated that students construct three types of meanings when they solve problems: physical, analytical, and covariational. The findings could serve as a conceptual framework for future learning processes emphasizing continuity and differentiability. Abstrak: Hubungan antara kontinuitas dan diferensiasi dalam soal grafis merupakan dua konsep yang sangat penting bagi siswa dalam memahami konsep turunan. Namun peneliti jarang memperhatikan bagaimana siswa memahami hubungan antara Kontinuitas dan diferensiasi atau sebaliknya. Penelitian ini menyelidiki pengetahuan siswa tentang hubungan antara kontinuitas dan diferensiasi. Penelitian ini bersifat eksploratif dan berfokus pada makna yang dibangun siswa. Pesertanya adalah mahasiswa S1 tahun ketiga dari berbagai universitas di Indonesia yang berjumlah 195 orang. Kuesioner dan wawancara digunakan untuk mengumpulkan data. Sepuluh peserta menyetujui wawancara mendalam untuk eksplorasi dan klarifikasi. Analisis tematik digunakan untuk menyimpulkan pola tanggapan peserta berdasarkan temuan. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa membangun tiga jenis makna ketika mereka memecahkan masalah: fisik, analitis, dan dan kovarian. Temuan ini dapat berfungsi sebagai kerangka konseptual untuk proses pembelajaran di masa depan yang menekankan kontinuitas dan diferensiasi.
AN EXAMINATION OF INTEGRATIVE ISLAMIC EDUCATION AT SMP INTEGRAL HIDAYATULLAH KENDARI Basri, Hasan; DM, Herman; Ilham, Ilham; Saleh, Muhammad
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 1 (2024): JUNE
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n1i8

Abstract

The integrative curriculum plays a crucial role in fostering a holistic learning experience by amalgamating general knowledge with religious values. This research constitutes a case study of the integrative curriculum framework at Hidayatullah Kendari Integral Junior High School, aiming to elucidate the curriculum content, presentation methodologies, and pedagogical strategies employed by teachers to incorporate religious elements into educational materials and activities. Data were collected through document analysis, observations, and interviews with school administrators and teachers. The data analysis procedure involved verifying and categorizing the data, presenting it in accordance with the research questions, conducting a comprehensive analysis using curriculum integration theory and prior research findings, and drawing conclusions. The findings reveal that the school's curriculum, grounded in Qur'anic principles, continues to incorporate the government curriculum as its core, augmented by local content and religious development. The integration of religion into the educational process employs a connected model, utilizing pedagogical methods that align with Islamic educational principles, thereby enabling students to contextualize the acquired knowledge within a religious framework. The implications of this study suggest that teachers must enhance their religious knowledge in tandem with their subject matter expertise. Furthermore, religious educators provide additional religious instruction beyond regular school hours, necessitating students' residency in the school dormitory. Abstrak: Kurikulum integratif memainkan peran penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang holistik dengan menggabungkan ilmu pengetahuan umum dan nilai-nilai keagamaan. Penelitian ini merupakan studi kasus terhadap format kurikulum integratif di SMP Integral Hidayatullah Kendari, dengan tujuan mendeskripsikan format muatan kurikulum, metode penyajian, dan teknik yang digunakan oleh guru dalam mengintegrasikan agama ke dalam materi dan kegiatan pembelajaran. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen, observasi, dan wawancara dengan kepala sekolah dan guru. Proses analisis data melibatkan verifikasi dan sortir data, penyajian data sesuai dengan pertanyaan penelitian, pendalaman menggunakan teori integrasi kurikulum serta temuan penelitian sebelumnya, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa format kurikulum di sekolah ini berbasis pada al-Qur’an dengan tetap mengadopsi kurikulum pemerintah sebagai kurikulum inti, yang dilengkapi dengan muatan lokal dan pengembangan keagamaan. Integrasi agama dalam pembelajaran menggunakan model connected, di mana metode-metode pengajaran diintegrasikan dengan metode-metode pendidikan dalam Islam. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran membantu siswa memahami pengetahuan yang diajarkan secara kontekstual berdasarkan ajaran agama. Implikasinya, guru harus meningkatkan pengetahuan keagamaan mereka seiring dengan peningkatan pengetahuan terhadap mata pelajaran. Guru agama juga memberikan pelajaran tambahan di luar jam sekolah, yang mengharuskan siswa untuk tinggal di asrama sekolah.
THE INFLUENCE OF QUALITY OF WORK LIFE AND ORGANIZATIONAL CULTURE ON LECTURERS' PROFESSIONAL COMMITMENT Anwar, Saiful; Utaminingsih, Sri; C. Bien, Jonna Karla; Nurlaili, Lili
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 1 (2024): JUNE
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n1i13

Abstract

The variation in lecturers' commitment is the central issue addressed in this research. Based on the result of a preliminary study and data from the personal department. This fact is evidenced by the suboptimal performance of over 50% of permanent lecturers registered under the foundation fulfilling the three pillars of higher education. This study aims to analyze how the quality of work-life influences fluctuations in lecturers' professional commitment and how organizational culture also affects the level of commitment among tenure-track lecturers at Pamulang University. The quantitative research method uses data analysis through Structural Equation Modeling (SEM) and SITOREM analysis. The instruments used include questionnaires and expert judgment assessment sheets for SITOREM analysis. Upon data analysis, the following results were obtained: 1) the quality of work life significantly influences lecturers' professional commitment; 2) the organizational culture affects lecturers' professional commitment; 3) there is a simultaneous influence of both the quality of work life and organizational culture on lecturers' commitment to their profession. Based on the research findings, organizational culture, which constitutes a component of the organizational mechanism, exerts a direct influence on professional commitment, which is part of individual outcome theory, without necessitating passage through the variables encompassed within the individual mechanism. The implication of this study suggests that the professional commitment of lecturers can be further enhanced through the reinforcement of work-life quality and organizational culture. Abstrak: Bervariasinya komitmen dosen menjadi inti permasalahan dalam penelitian ini. Fakta ini dibuktikan berdasarkan studi pendahuluan dan data dari bagian kepegawaian bahwa lebih dari 50% dosen yang terdaftar sebagai dosen tetap yayasan belum optimal dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis bagaimana kualitas kehidupan kerja memiliki pengaruh terhadap naik dan turunnya komitmen profesi dosen serta bagaimana budaya organisasi juga mempengaruhi tinggi rendahnya komitmen terhadap profesi dosen tetap yayasan di Universitas Pamulang. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan analisis data menggunakan SEM dan analisis SITOREM. Instrument yang digunakan adalah angket dan lembar penilaian expert judgment untuk analisis SITOREM. Setelah dilakukan analisis data maka diperoleh hasil sebagai berikut 1) kualitas kehidupan kerja memiliki pengaruh terhadap pada komitmen profesi dosen; 2) budaya organisasi memiliki pengaruh terhadap komitmen profesi dosen; 3) terdapat pengaruh secara simultan kualitas kehidupan kerja dan budaya organisasi terhadap komitmen terhadap profesi dosen. Berdasarkan hasil penelitian, maka budaya organisasi yang merupakan bagian dari organizational mechanism memiliki pengaruh secara langsung terhadap komitmen profesi yang merupakan bagian dari teori individual outcome tanpa perlu melalui variabel yang tercakup pada individual mechanism. Implikasi pada penelitian ini dikemukakan bahwa komitmen profesi dosen dapat terus ditingkatkan melalui penguatan kualitas kehidupan kerja dan budaya organisasi.
FROM ACADEMIC PROFICIENCY TO RELIGIOUS AFFILIATION: THE IMPACT OF SCHOOL ZONING POLICIES ON STUDENT DIVERSITY Hendrik, Herman; W. Nurrochsyam, Mikka; P. Putra, Romeyn; Murdiyaningrum, Yunita
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 1 (2024): JUNE
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n1i9

Abstract

Zoning-based New Student Admission is a policy designed to allocate students to schools based on their area of residence. This policy aims to ensure equitable access to education and promote social diversity within the school environment. This paper investigates the impact of the zoning-based New Student Admission system on student diversity in schools. The school zoning policy has the potential to modify the levels and dimensions of student diversity. Schools are required to admit the largest quota of students through the zoning route, resulting in a student body that reflects the composition of the local community. This research is significant because previous studies have primarily focused on administrative and academic aspects. Employing a qualitative methodology, including online focus group discussions (FGDs) as a data collection technique, this study found that schools labeled as "excellent" or "prestigious," particularly those situated in urban centers, reported increased student diversity following the implementation of the school zoning policy. This shift in diversity encompasses not only academic ability but also economic background, ethnicity, regionality, and religion. The study recommends that schools and teachers enhance their capacity to manage student diversity as a consequence of the school zoning system. Abstrak: Penerimaan Peserta Didik Baru berbasis zonasi merupakan kebijakan yang diterapkan untuk mendistribusikan siswa ke sekolah-sekolah berdasarkan wilayah tempat tinggal mereka. Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan pemerataan akses pendidikan dan mendorong keberagaman sosial di lingkungan sekolah. Artikel ini mengkaji dampak dari sistem Penerimaan Peserta Didik Baru berbasis zonasi terhadap keragaman siswa di sekolah. Kebijakan zonasi sekolah memberikan peluang untuk mengubah tingkat dan aspek keragaman siswa. Hal ini disebabkan oleh mandat bagi sekolah untuk menerima siswa dengan kuota terbesar dari jalur zonasi, yang berarti komposisi siswa akan mencerminkan komposisi masyarakat yang tinggal di sekitar sekolah. Penelitian ini penting karena penelitian-penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada aspek administratif dan akademis. Berdasarkan studi kualitatif yang menggunakan FGD daring sebagai teknik pengumpulan data, studi ini menemukan bahwa sekolah-sekolah yang dilabeli sebagai sekolah unggulan atau favorit dan berlokasi di tengah kota umumnya mengalami peningkatan keberagaman siswa setelah penerapan kebijakan zonasi sekolah. Perubahan keberagaman tersebut tidak hanya terjadi dalam hal kemampuan akademik, tetapi juga dalam hal latar belakang ekonomi, etnisitas atau kedaerahan, dan agama. Rekomendasi dari studi ini adalah bahwa sekolah dan guru perlu meningkatkan kapasitas mereka dalam mengelola keragaman siswa sebagai konsekuensi dari adanya sistem zonasi sekolah.
THE ROLES OF PARENTAL ATTACHMENT ON THE PSYCHOLOGICAL WELL-BEING OF ISLAMIC BOARDING SCHOOL STUDENTS Cahyani, Nabilah; Anindhita, Vidya; Abidin, Fitri Ariyanti
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 1 (2024): JUNE
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n1i7

Abstract

Adolescent psychological well-being has emerged as a global concern. This cross-sectional study investigates the relationship between parental attachment and the psychological well-being of adolescents residing in an Islamic boarding school in West Java. A total of 313 participants, aged 11-18, were included in this supervised online survey, comprising 133 boys and 180 girls. Data analysis was conducted using Pearson correlation tests and regression analysis. The findings reveal a significant positive correlation between parental attachment and adolescents' psychological well-being. These results offer valuable insights into the unique context of Islamic boarding schools, carrying significant implications for educators, parents, and policymakers. This association underscores the fundamental role of establishing trust and emotional connections between parents and adolescents, particularly prior to considering enrollment in Islamic boarding schools. Furthermore, these findings hold importance for educators and policymakers in designing policies within Islamic boarding schools that support well-being. Abstrak: Kesejahteraan psikologis remaja telah menjadi perhatian global. Studi cross-sectional ini menyelidiki hubungan antara keterikatan orang tua dan kesejahteraan psikologis remaja yang tinggal di pondok pesantren di Jawa Barat. Sebanyak 313 partisipan berusia 11-18 tahun berpartisipasi dalam survei daring dengan pengawasan, terdiri dari 133 laki-laki dan 180 perempuan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Pearson dan analisis regresi. Hasil temuan menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara keterikatan orang tua dan kesejahteraan psikologis remaja. Hasil penelitian ini memberikan wawasan yang berharga, menyoroti konteks unik pesantren, dan membawa implikasi penting bagi pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan. Asosiasi ini menggarisbawahi peran penting dalam membangun kepercayaan dan hubungan emosional antara orang tua dan remaja, terutama sebelum mempertimbangkan pendaftaran di pondok pesantren. Selain itu, temuan ini juga penting bagi pendidik dan pembuat kebijakan dalam merancang kebijakan di pesantren yang mendukung kesejahteraan santri.
THE UNLOCKING HIGHER-ORDER THINKING: BLOOM'S TAXONOMY AND TEACHER QUESTIONS IN INDONESIAN LANGUAGE INSTRUCTION Sabir, Adilah; Suyitno, Imam; Susanto, Gatot; Inthase, Wichayanee
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 27 No 1 (2024): JUNE
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2024v27n1i6

Abstract

Teacher questioning plays a crucial role in fostering cognitive development among students. This study investigated the cognitive level of teacher questions in Indonesian language learning interactions, specifically examining the prevalence of higher-order and lower-order questions based on Anderson and Krathwohl's Revised Bloom's Taxonomy. Classroom observations and recordings were conducted with two Indonesian language teachers at SMK Nasional Malang. Findings revealed that teacher questions spanned both higher-order and lower-order cognitive processes. Higher-order questions effectively stimulated critical and creative thinking, while lower-order questions facilitated initial understanding and served as a foundation for more complex reasoning. However, lower-order cognitive questions were predominantly used compared to higher-order questions. These results underscore the need for teachers to strategically employ a hierarchical approach to questioning, emphasizing higher-order cognitive questions to cultivate students' critical and analytical thinking skills in the Indonesian language classroom. Abstrak: Pertanyaan yang diajukan guru dalam interaksi pembelajaran dapat mempengaruhi kemampuan berpikir siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tingkat kognitif pertanyaan guru dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pertanyaan tingkat tinggi (HOTS) dan pertanyaan tingkat rendah (LOTS) berdasarkan Taksonomi Bloom Revisi Anderson dan Krathwohl. Penelitian ini melibatkan dua guru Bahasa Indonesia di SMK Nasional Malang dengan menggunakan metode observasi dan perekaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanyaan guru dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terbagi menjadi dua kategori: pertanyaan yang merangsang proses berpikir tingkat tinggi dan pertanyaan yang merangsang proses berpikir tingkat rendah. Pertanyaan tingkat tinggi efektif dalam mendorong pemikiran kritis dan kreatif siswa, sedangkan pertanyaan tingkat rendah berfungsi sebagai landasan awal untuk membangun penalaran siswa menuju pemahaman yang lebih kompleks. Namun, temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pertanyaan yang diajukan guru termasuk dalam kategori LOTS. Oleh karena itu, guru perlu memperhatikan hierarki pertanyaan kognitif dan meningkatkan penggunaan pertanyaan HOTS untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis siswa secara lebih optimal.