cover
Contact Name
Rizky Abdulah
Contact Email
r.abdulah@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
editorial@ijcp.or.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia
ISSN : 23375701     EISSN : 2337 5701     DOI : -
Core Subject :
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy (IJCP) is a scientific publication on all aspect of clinical pharmacy. It published 4 times a year by Clinical Pharmacy Master Program Universitas Padjadjaran to provide a forum for clinicians, pharmacists, and other healthcare professionals to share best practice, encouraging networking and a more collaborative approach in patient care. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy is intended to feature quality research articles in clinical pharmacy to become scientific guide in fields related to clinical pharmacy. It is a peer-reviewed journal and publishes original research articles, review articles, case reports, commentaries, and brief research communications on all aspects of Clinical Pharmacy. It is also a media for publicizing meetings and news relating to advances in Clinical Pharmacy in the regions.
Arjuna Subject : -
Articles 540 Documents
Studi Ketercapaian Tujuan Terapi pada Pasien Hipertensi Geriatri dan Perbandingan Beberapa Obat Antihipertensi Sukmawan, Yedy Purwandi; Jahara, Syabila Arnika; Nofianti, Tita
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.2.98

Abstract

Prevalensi penderita hipertensi kelompok geriatri di Indonesia mencapai 22,3% pada tahun 2018. Ketercapaian tujuan penurunan tekanan darah merupakan faktor utama dalam pencegahan kejadian penyakit kardiovaskular. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui studi profil ketercapaian tujuan terapi dan perbandingan obat pada pasien geriatri dengan hipertensi. Penelitian ini merupakan studi observasional-longitudinal dengan pengambilan data secara retrospektif melalui rekam medis pasien rawat jalan pada 1 Januari 2021–30 Juni 2022. Kriteria inklusi meliputi pasien geriatri (≥60 tahun) yang didiagnosis hipertensi dan tersedia data tekanan darah pada hari ke-1 dan hari ke-30 sampai ke-40, kriteria eksklusi meliputi perubahan dosis atau jenis obat antihipertensi pada pasien. Data dianalisis menggunakan metode relative risk (RR, CI 95%). Penelitian ini melibatkan sebanyak 103 pasien, di mana jenis kelamin perempuan (53,43%), usia 60–74 tahun (87,38%) dan hipertensi tahap 1 (70,88%) mendominasi. Nilai ketercapaian tujuan terapi (<130/90 mmHg) mencapai 62,14%. Obat-obatan yang digunakan meliputi amlodipin, ramipril, kandesartan, valsartan, dan furosemid. Hasil perbandingan pengobatan monoterapi (ACE-I, ARB, CCB) tidak berbeda bermakna (p>0,05) dalam penurunan pencapaian tujuan terapi, begitupula dengan perbandingan obat kombinasi (CCB+ARB, ACE-I + loop diuretics, CCB+ACE-I). Meskipun demikian, CCB (amlodipin) atau CCB+ACE-I (amlodipin+ramipril) menunjukkan ketercapaian tujuan terapi lebih tinggi mencapai 76,90% dan 83,30%, secara berturut-turut. Selain itu, monoterapi CCB, dan kombinasi CCB+ACE-I mampu menurunakan risiko ketidaktercapaian tujuan terapi sebesar 53,85% (RR 0,4615; 95% CI: 0,1383-1,5406), dan 70.83% (RR 0,2917; 95% CI: 0,0436-1,9516). Kombinasi Penggunaan CCB (amlodipin) sebagai monoterapi dan CCB+ACE-I (amlodipin+ramipril) sebagai kombinasi direkomendasikan pada pasien geriatri dengan hipertensi.
Evaluasi Kuantitatif dan Total Biaya Penggunaan Antibiotik pada Periode Sebelum dan Selama Pandemi COVID-19 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Silanas, Ilman; Alfian, Sofa Dewi; Parwati, Ida; Zakiyah, Neily
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.4.294

Abstract

Pandemi COVID-19 menuntut pengendalian pengunaan antibiotik yang lebih ketat. Temuan di beberapa negara menunjukkan adanya peningkatan terapi antibiotik empirik untuk  mengatasi koinfeksi bakterial pasien COVID-19 yang dapat mendorong semakin tingginya tingkat resistensi dan biaya penggunaan. Salah satu upaya pengendalian penggunaan antibiotik adalah melakukan evaluasi kuantitas dan besaran biaya penggunaan antibiotik pada periode waktu tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kuantitas dan biaya penggunaan  antibiotik sebelum dan selama pandemi. Penelitian ini merupakan penelitian repeated cross sectional, dengan pengambilan data secara retrospektif pada periode sebelum COVID 19 (Maret 2018-Februari 2020) dan periode selama pandemi COVID-19 (Maret 2020-Februari 2022) di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Data yang digunakan adalah antibiotik injeksi yang digunakan pasien dewasa pada bangsal rawat inap dan bangsal rawat intensif (ICU). Kuantitas penggunaan antibiotik ditampilkan dalam bentuk defined daily doses  per 100 hari rawat inap (DDD/100) dan drugs utilization 90% (DU90%). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perubahan nilai DDD/100 pada periode sebelum dan selama pandemi COVID-19 di seluruh bangsal (28,79-42,23; p-value = 0,001), bangsal rawat inap (22,27-30,22 ; p-value = 0,001), dan bangsal rawat intensif (6,52-11,91 ; p-value = 0,001). Seftriakson, levofloksasin, seftazidime, meropenem dan metronidazol adalah antibiotik yang selalu masuk pada kategori DU90% di setiap periode dan di setiap bangsal. Biaya penggunaan antibiotik mengalami peningkatan selama masa pandemi (Rp. 6.058.750.700 - Rp. 9.117.439.600). Dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan penggunaan dan total biaya antibiotik saat pandemi COVID-19. Antibiotik yang paling banyak digunakan adalah antibiotik dengan spektrum luas.
A Case Report: Risperidone-Induced Lactation Nonpuerperal in Bipolar Patient Rahajeng, Bangunawati; Maziyyah, Nurul; Nugrahaningtyas, Odilia Danti
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.1.60

Abstract

Risperidone is an atypical antipsychotic for acute and chronic schizophrenia and mania. In this case report, we report a rare side effect of risperidone, namely nonpuerperal lactation, where the common side effects of risperidone are insomnia, anxiety, headaches, and extrapyramidal symptoms. Lactation nonpuerperal is one of the rare side effects of risperidone, with an incidence in adults < 1%. We report the case of a 21-year-old woman. This woman was diagnosed with bipolar affective disorder with major depression and got risperidone, fluoxetine, trihexyphenidyl, and valproic acid for treatment. The first visit was at a teaching hospital on April 21, 2022. She had to control it within a month. At the first control on July 1, 2022, her condition improved. She had no complaints. On August 4, 2022, she came to the hospital and told the doctor that she had nonpuerperal lactation. We do a causality analysis that the side-effect is due to risperidone. From Naranjo’s analysis, we scored 6 for risperidone (probable). From the Liverpool algorithm, we concluded that risperidone probably caused lactation nonpuerperal. In this case, risperidone probably caused lactation nonpuerperal.
Translation, Cultural Adaptation, and Validation of the Multidimensional Scale of Perceived Social Support for Cancer Patients in Indonesia Setiawan, Didik; Muamala, Anisa; Juwita, Dina Ratna; As Suaidy, Bustanuddin; Perwitasari, Dyah Aryani; Lianawati, Lianawati
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.4.343

Abstract

The social support is increasingly accepted as an important factor that influences the wellness of a human being, particularly people with chronic diseases. This study translates and validates the quantitative questionnaire that has been developed and has been widely accepted across cultures, namely the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). The study was initially performed by translating the original questionnaire using forward and backward translation methods. Thirty cancer patients from Margono public hospital Purwokerto, Indonesia were conveniently included to evaluate the transleted questionmaire’s cconvergent, discriminant validity. Furthermore, 45 cancer patients were included in the main study which evaluate the level of social support among cancer patients. According to factor analysis, Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy showed that the results is valid (0.668) while the Bartlett’s Test of Sphericity also showed that the number of samples were adequate (0.668) and eligible for factor analysis. The Measures of Sampling adequacy from each question was considerably higher than 0.5 and therefore there were no translated question that has to be removed in the analysis. There were 3 out of 12 factors that was included with the total variance of 81.166%. The Pearson’s correlation and Cronbach Alpha tests showed that discriminant validity and reliability test of the translated questionnaire were valid (>0.400) and reliable (>0.700) questionnaire. The translated version of the MSPSS was considerably a valid and reliable questionnaire to evaluate the level of social support for cancer patients in Indonesia.
Analisis Efektivitas Biaya Terapi Penunjang Ivabradine untuk Gagal Jantung di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung Diliwiyani, Soraya; Zakiyah, Neily; Suwantika, Auliya A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.2.119

Abstract

Penyakit kardiovaskular menjadi penyakit tidak menular nomor satu dengan angka kematian tertinggi. Terapi standar (standard of care/SOC) untuk gagal jantung saat ini berupa pemberian obat golongan beta bloker dan obat golongan angiotensin-converting enzyme inhibitors (ACEI) ataupun angiotensin receptor blocker (ARB). Biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan sangat besar karena pasien gagal jantung dengan penurunan fraksi ejeksi (HFrEF) membutuhkan perawatan di rumah sakit yang lebih lama. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui analisis efektivitas biaya dari SOC+ivabradine dibandingkan dengan SOC pada terapi HFrEF di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung, serta untuk mengetahui faktor-faktor yang memiliki pengaruh pada nilai ICER pada pengobatan HFrEF. Penelitian dirancang observasionnal dengan desain studi cross-sectional. Perspektif yang digunakan pada penelitian ini adalah perspektif rumah sakit dan perspektif BPJS. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan dari rekam medis yang terdapat di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Periode pengambilan sampel, yaitu pasien HFrEF tahun 2017–2021. Data biaya meliputi total biaya medik (perspektif rumah sakit) dan tarif INA-CBG (perspektif BPJS). Efektivitas klinis yang diukur adalah penurunan nadi. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, didapatkan total biaya kelompok SOC+ivabradine sebesar Rp34.540.643 (perspektif rumah sakit) dan Rp16.211.023 (perspektif BPJS). Total biaya kelompok SOC sebesar Rp31.188.699 (perspektif rumah sakit) dan Rp14.683.897 (perspektif BPJS). Efektivitas berupa penurunan nadi pada kelompok SOC+ivabradine dan SOC secara berturut-turut adalah 18,09 dan 16,50. Nilai ICER didapatkan Rp2.106.936 (perspektif rumah sakit) dan Rp959.908 (perspektif BPJS). Faktor yang paling berpengaruh pada nilai ICER adalah penurunan nadi diikuti oleh biaya rawat inap dan biaya tindakan. Terapi SOC+ivabradine membutuhkan biaya tambahan untuk mendapatkan efektivitas yang lebih baik.
Drug-Related Problems pada Pasien Rawat Inap Geriatri dengan Stroke Iskemik di RS Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak Annafiatuzakiah, Annafiatuzakiah; Rahmawati, Fita
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.1.31

Abstract

Stroke iskemik terjadi ketika arteri otak terhambat sehingga aliran darah berkurang menuju otak. Stroke iskemik membutuhkan perawatan yang lama dan pemakaian regimen obat yang komplek sehingga berpotensi terjadi Drug Related Problems (DRPs), kejadian yang tidak diharapkan berkaitan dengan terapi obat yang dapat menggangu keberhasilan dalam proses penyembuhan. Penelitian bertujuan mengidentifikasi penyebab terjadinya DRPs pada pasien geriatri yang didiagnosa penyakit stroke iskemik. Studi ini merupakan observasional dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif melalui rekam medis tahun 2020 di Rumah sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo, Kota Pontianak. Sejumlah 94 pasien memenuhi kriteria inklusi meliputi pasien dengan diagnosa stroke iskemik berumur 60 tahun atau lebih dan rekam medis lengkap. DRPs diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya menggunakan PCNE (Pharmaceutical Care Network Europe) ver 9.0. Analisis deskriptif dilakukan untuk mendiskripsikan jumlah dan jenis DRPs. DRPs ditemukan pada 28 pasien (29,78%) dengan total kejadian DRPs sebanyak 44 kejadian. DRPs diklasifikasikan dalam penyebab yang berkaitan dengan pemilihan obat yang tidak tepat sebanyak 24 pasien (25,53%) dan dosis tidak tepat sebanyak 20 pasien (21,26%). Jenis obat yang banyak menimbulkan DRPs adalah Amlodipin, dan ditemukan sebanyak 14 (23,33%). Adanya DRPs pasien geriatri stroke iskemik menjadi tantangan bagi farmasis untuk dapat menyelesaikan masalah terkait obat sehingga meningkatkan optimasi terapi pasien stroke iskemik.
Penerapan Metode Workload Indicator Staffing Need untuk Evaluasi Kebutuhan Tenaga Kefarmasian: Studi Kasus di Depo Farmasi Rawat Jalan Peserta Asuransi Jaminan Kesehatan Nasional pada Sebuah Rumah Sakit Swasta di Kota Bandung Sombo, Patria Pari Agnes Ago Ana Sombo; Yohanes, David Christianto; Pradipta, Ivan Surya
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.4.352

Abstract

Pemerintah Indonesia telah menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional untuk meningkatkan akses masyarakat ke fasilitas kesehatan termasuk rumah sakit. Diperlukan penilaian sumber daya manusia yang memadai di setiap unit rumah sakit untuk dapat memberikan layanan terbaik kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jumlah pekerja yang dibutuhkan di pelayanan depo farmasi rawat jalan peserta asuransi jaminan kesehatan nasional pada sebuah rumah sakit swasta di Kota Bandung dengan menggunakan metode Workload Indicator Staffing Need (WISN). Penelitian observasional deskriptif dilakukan pada bulan Januari hingga Februari 2022 di sebuah rumah sakit swasta tipe B di Kota Bandung dengan metode WISN. Data diambil dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan analisis data rumah sakit. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan waktu kerja tersedia untuk tenaga kefarmasian sebesar 109.440 menit dengan nilai standar kelonggaran 0,0625. Beban kerja dihitung dari jumlah resep harian yang dilayani yaitu 5 resep racikan dan 100 resep non-racikan sehingga didapatkan standar beban kerja untuk resep racikan dan non-racikan berturut-turut sebesar 1.824 dan 3.648. Data tersebut digunakan untuk menghitung kebutuhan tenaga kerja dan diidentifikasi bahwa rumah sakit tempat penelitian membutuhkan 7 orang tenaga kerja. Rasio WISN menunjukkan adanya rasio sebesar 0,57. Studi ini mengindikasi adanya kekurangan jumlah tenaga kerja yang berimplikasi pada peningkatan beban kerja. Perlu adanya evaluasi secara komprehesif terhadap penyediaan tenaga kefarmasian untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di rumah sakit tempat penelitian berlangsung.
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Sacubitril/Valsartan Dibandingkan Ramipril pada Pasien Gagal Jantung dengan Hipertensi di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung Marulin, Dita; Puspitasari, Irma Melyani; Rahayu, Cherry; Zakiyah, Neily
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.2.86

Abstract

Berdasarkan hasil uji klinis, penggunaan sacubitril/valsartan mempunyai efektivitas yang lebih baik pada pengobatan pasien gagal jantung kronis dengan pengurangan fraksi ejeksi (HFrEF) bila dibandingkan dengan terapi standar. Namun, efektivitas biaya dengan terapi sacubitril/valsartan pada rawat inap untuk gagal jantung di Indonesia belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas biaya terapi sacubitril/valsartan bila dibandingkan dengan terapi standar ACE inhibitor (ramipril) pada pasien gagal jantung dengan hipertensi yang dirawat inap di RSUP dr.Hasan Sadikin Bandung. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dengan desain studi cross sectional dari rekam medis dan rincian biaya pengobatan pasien gagal jantung periode Januari sampai dengan Desember 2022. Hasil penelitian menunjukkan efektivitas penurunan MAP (Mean Arterial Pressure) pada terapi sacubitril/valsartan dan ramipril berturut-turut 14 mmHg dan 13 mmHg. Sedangkan lama rawat untuk terapi dengan sacubitril/valsartan selama 5 hari dan ramipril selama 6 hari. Total biaya berdasarkan perspektif rumah sakit untuk biaya rawat inap, biaya dokter, biaya pelayanan dan tindakan, biaya obat, biaya alkes, dan biaya laboratorium sebesar Rp 22.823.450 pada terapi sacubitril/valsartan dan Rp 18.121.600 pada terapi ramipril. Nilai Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) per penurunan 1 mmHg MAP dan per pengurangan 1 hari rawat yaitu Rp 4.701.800. Hasil analisis sensitivitas menunjukan efektivitas penurunan MAP, pengurangan hari rawat, biaya pelayanan dan tindakan, serta biaya alkes merupakan parameter yang berpengaruh terhadap ICER.  Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sacubitril/valsartan memiliki efektivitas terapi dan biaya yang lebih tinggi dibandingkan ramipril, dimana efektivitas obat merupakan faktor yang paling mempengaruhi nilai ICER.
Senyawa Kalkon dan turunannya serta Potensinya sebagai Antikanker : Literatur Review Almattin, Bilqis Na'ilah; Aulifa, Diah Lia; Al Shofwan, Adnan Aly
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.4.360

Abstract

Salah satu senyawa yang memiliki potensi sebagai antikanker adalah Kalkon. Senyawa kalkon (1,3-difenil-2-propena-1-on) memiliki satu atom karbon a,ß-tak jenuh. Pada cincin A terdapat gugus metil, etil atau alkil sedangkan pada cincin B terdapat gugus halogen, siano dan nitro yang juga dapat meningkatkan aktivitas farmakologi. Dalam telaah pustaka ini, kami mengumpulkan informasi dari 25 penelitian terbaru selama 10 tahun terakhir untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang    potensi senyawa kalkon. Kami mengidentifikasi bahwa penelitian in silico dan in vitro telah memberikan wawasan penting tentang interaksi kalkon dengan reseptor kanker dan aktivitasnya terhadap berbagai jenis sel kanker. Temuan ini dapat memberikan kontribusi signifikan pada pengembangan terapi antikanker yang efektif. Pencarian pustaka melalui basis data elektronik Google Scholar dan PubMed pada bulan Juni 2022 – Desember 2023 dengan kata kunci “Senyawa Kalkon”, “Potensi”,“Antikanker”, “Chalcone and Its Potential as Anticancer” dan “Kalkon dan Potensinya sebagai Antikanker” memperoleh total 25 penelitian, yaitu sebanyak 7 penelitian tentang in silico dan 18 penelitian in vitro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa kalkon dan turunannya memiliki potensi sebagai agen antikanker. Penelitian in silico mengungkapkan interaksi yang kuat antara kalkon dan reseptor kanker, sementara penelitian in vitro mengkonfirmasi aktivitas antikanker pada berbagai jenis sel, termasuk sel kanker payudara, prostat, dan leukemia. Hasil uji aktivitas antikanker juga mencakup senyawa dengan turunan kalkon seperti metoksi hidroksi kalkon dan naftalen kalkon. Studi ini memberikan kontribusi signifikan dalam pemahaman potensi senyawa kalkon sebagai kandidat obat antikanker dan mendorong pengembangan lebih lanjut dalam bidang ini.
Qualitative Evaluation of Antibiotics Use for Ventilator Associated Pneummonia (VAP) Patient in ICU Dharmais Cancer Hospital Using Gyssens Method Ramadhanti, Shahyawidya; Radji, Maksum; Andalusia, Rizka
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.1.42

Abstract

Ventilator-associated pneumonia (VAP) is a pulmonary infection that occurs after more than 48 hours of mechanical ventilation or endotracheal intubation. VAP is the most common nosocomial infection in ICU (Intensive Care Unit), and of course the use of antibiotics will affect the treatment of the infection. This study aims to evaluate the quality of antibiotic use for VAP treatment in ICU Dharmais Cancer Hospital using Gyssens method, evaluate the different outcomes of antibiotic therapy that are rational and irrational according to the Gyssens method, and evaluating the distribution of rational (category 0) and irrational (category 1-5) antibiotic use. This prospective study was carried out from February to May 2017 with descriptive analyses. Antibiotic uses were documented prospectively by a pharmacist and analysis by using Gyssens method. Pharmacist was used total sampling method, which is included all adult VAP patients in ICU. A total of 29 patients (18,24%) were reviewed from 159 patients. The most dominant antibiotic use for VAP empiric treatment was meropenem and the most dominant antibiotic use for VAP definitive treatment was levofloxacin. Factors affecting the quality of antibiotic use include type of the therapy, number of antibiotics used by patient and length of stay (P>0,05). Factors affecting the therapy outcome of VAP patient was time of antibiotic use (P<0.05). The relationship between outcome therapy and quality of antibiotic use based on Gyssens method shows on category 0 which died 64,3%, category 2 died 66,7% and the category 4 died 75%. The relationship between outcome therapy and quality of antibiotic use based on Gyssens method shows more irrational use of antibiotics then the therapy outcome is not getting better.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025) Vol 14, No 2 (2025) Vol 14, No 1 (2025) Vol 13, No 3 (2024) Vol 13, No 2 (2024) Vol 13, No 1 (2024) Vol 12, No 3 (2023) Vol 12, No 2 (2023) Vol 12, No 1 (2023) Vol 11, No 4 (2022) Vol 11, No 3 (2022) Vol 11, No 2 (2022) Vol 11, No 1 (2022) Vol 10, No 4 (2021) Vol 10, No 3 (2021) Vol 10, No 2 (2021) Vol 10, No 1 (2021) Vol 9, No 4 (2020) Vol 9, No 3 (2020) Vol 9, No 2 (2020) Vol 9, No 1 (2020) Vol 8, No 4 (2019) Vol 8, No 3 (2019) Vol 8, No 2 (2019) Vol 8, No 1 (2019) Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 4 (2017) Vol 6, No 4 (2017) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 4 (2016) Vol 5, No 4 (2016) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 4 (2015) Vol 4, No 4 (2015) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 1, No 4 (2012) Vol 1, No 4 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue