AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA
Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya is a biannual journal, published by Universitas PGRI Madiun on January and July, with regitered number ISSN 2087-8907 (printed), ISSN 2502-2857 (online). Agastya provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles on historical education and learning.
Articles
304 Documents
Political and trade of the Malacca sultanate and the ming dynasty XV-XVI century
Darmawan, Budi;
Nazra, Endah Regita Cahyani;
Rahmawati, Fitri;
Hasibuan, Nur Anisah
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 1 (2024)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25273/ajsp.v14i1.18633
This research was conducted due to the significance of the Malacca Strait's role as a trading center, connecting the Ming Dynasty in China with various regions, which led to economic growth and cultural interaction in Malacca. The main focus of the research lies on the political and trade interdependence between the Sultanate of Malacca and the Ming Dynasty during the 15th-16th centuries. The author employs the historical methods of heuristics, source criticism, data interpretation and historiography to conduct an in-depth analysis of historical records and artifacts, with the aim of holistically investigating the political and trade interrelationships between the Ming Dynasty and the Malacca Sultanate. The research reveals that diplomatic visits and mutually beneficial trade strengthened the relationship between Malacca and China. Facing threats from Siam and Majapahit, Malacca sought refuge from the Ming Dynasty, and began a close relationship. Notably, the visit of Chinese envoy Yin C'ing in 1403 paved the way for the arrival of Admiral Cheng Ho in 1409, which strengthened diplomatic relations. This relationship not only protected Malacca, but also facilitated its thriving trade. Malacca became a trading hub, offering China access to spices, while the Ming Dynasty provided military protection. The interdependence between Malacca and China in the 15th century underscores that their relationship not only fostered political security, but also increased trade and cultural exchange in the region.
Polygamy and early marriage in the Dutch East Indies
Maulidah, Alvin;
Agung, Dewa Agung Gede;
Sayono, Joko
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25273/ajsp.v14i2.19633
The article discusses the role of Poetri Mardika in suppressing early marriage and polygamy during the colonial period in the Dutch East Indies. Poetri mardika was the first women's organization in 1912 during the national movement by boedi oetomo. The organization consisted of women and men who cared about the fate of women. They voiced their ideas through magazines. The position of women who are shackled by customary support makes them powerless to voice their rights. The research aims to examine polygamy and early marriage in colonial society using historical methods, namely heuristics, criticism, interpretation and historiography. Heuristics were conducted by collecting primary sources from magazines and secondary books and journals with the keywords polygamy and early marriage. Criticism of primary and secondary data is internally selected to determine the authenticity of the source. Interpretation uses the lewis coser conflict approach. The result of the research is that the practice of early marriage occurs because the social system of society shackles and there is no power for women to reject the system. Meanwhile, polygamy that occurred in the 1900s had different intensities in each region. This practice had a negative impact on women, so Poetri Mardika tried to raise their status by paying attention through education and teaching. Through education, women can be independent and no longer depend on men so that they can express their rights and obligations without being hindered by the confinement of men.
Benturan islam di pedalaman Jawa dalam memori babad alit dan babade nagara Patjitan
Surur, Misbahus
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 1 (2024)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25273/ajsp.v14i1.17306
Kajian ini mengulas pertemuan antara penyebar islam dari Demak dengan masyarakat lokal di pedalaman Jawa. Khususnya Ponorogo dan Pacitan abad 15 hingga awal abad 16, melalui memori babad alit dan babade nagara Patjitan. Dakwah Islam digambarkan menimbulkan benturan. Selama ini tidak banyak informasi sejarah di abad awal dan krusial di persebaran Islam di wilayah pedalaman. Karena menyorot keberhasilan batoro katong, kurang mengelaborasi awal sebaran islam, termasuk hambatan dan peran tokoh lain dari Pacitan. Persebaran islam di Brang Wetan memaparkan peran kiai ageng muhammad besari dengan pesantren Gebang Tinatarnya sesudah masa batoro katong. Upaya menerjemahkan babad tersebut merupakan kabar baik untuk mengisi kekosongan informasi. Metode menggunakan pendekatan sejarah dengan memilih topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi dan penulisan melalui sumber atas dua babad. Penelitian menemukan benturan penyebar islam dengan masyarakat lokal sebab ketegangan agama, juga motif ekonomi dan politik merupakan pengaruh konflik internal antar keluarga sejak akhir kerajaan Majapahit, yaitu setelah perang paregreg. Pertemuan islam dengan masyarakat lokal lalu menghasilkan karakter islam khas pedalaman, berupa adaptasi corak islam dengan tradisi setempat.
Media history wheel kerajaan islam di nusantara untuk pembelajaran sejarah Sekolah Menengah Kejuruan
Lail, Raihan;
Jati, Slamet Sujud Purnawan
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25273/ajsp.v14i2.18176
Masalah pembelajaran kelas X desain grafis SMK Negeri 4 Malang mayoritas siswa memiliki minat terhadap pembelajaran yang tidak konvensional dan menunjukkan respons tinggi ketika proses belajar. Tetapi sering kali siswa apa bila ada mata pelajaran yang tidak terkait dengan bidang kejuruan dianggap kurang penting. Salah satu usaha guna mengatasi permasalahan tersebut dengan membuat media pembelajaran history wheel dengan materi kerajaan islam di nusantara sekalius menguji kelayakan media tersebut jika digunakan dalam pembelajaran. Penelitian menerapkan sepuluh langkah metode pengembangan yang ditawarkan oleh Sugiyono. Responden penelitian adalah seluruh siswa kelas X jurusan desain grafis A berjumlah 36 orang. Data didapatkan melalui angket validasi dan kelayakan yang diberikan pada responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa history wheel menarik dan inovatif sehinga mampu membuat siswa termotivasi untuk belajar serta membuat suasana belajar menjadi menyenangkan dan mudah memahami materi mengenai kerajaan islam di nusantara.
The role of local history in strengthening national identity in the era of society 5.0
Danugroho, Agus
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 1 (2024)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25273/ajsp.v14i1.18745
National identity is a crucial element in building unity within a country, and history plays a central role in shaping that identity. However, sometimes the focus on national history can overlook local cultural roots and heritage that are integral to the larger national identity. An Merdeka curriculum that incorporates local history is an important instrument in linking national history with local cultural roots. Although the challenges of integrating local history are many, the resulting benefits, including an appreciation of cultural diversity, local pride, and a deeper understanding of national identity, provide a strong basis for continuing this endeavor. The type of research used is qualitative. The results of this study show the importance of local history in reinforcing national identity. The integration of local history in the curriculum not only deepens students' knowledge, but also provides a stronger foundation for shaping a national identity that is inclusive, values diversity, and strengthens the bond between local and national identity.
Potensi pengembangan materi ajar sejarah lokal Kabupaten Pesisir Selatan pada pembelajaran sejarah di tingkat SMA
Yefterson, Ridho Bayu;
Fatimah, Siti;
Asriadi, A;
Lionar, Uun
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25273/ajsp.v14i2.14147
Pengembangan materi pembelajaran sejarah kontekstual perlu dilakukan guru untuk mengatasi rasa bosan siswa dalam belajar sejarah. pemanfataan untuk materi sejarah lokal akan menjadi menarik dan bisa memperkuat narasi sejarah nasional. Materi sejarah lokal dalam pembelajaran sejarah kontekstual ada potensi memperkuat identitas nasional siswa SMA. Penelitian bertujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan sejarah lokal di kabupaten Pesisir Selatan mulai dari periode sejarah hindu buddha Indonesia hingga periode kontemporer, yang mempunyai relevansi dalam pembelajaran sejarah SMA. Temuan penelitian terhadap potensi sejarah lokal Pesisir Selatan seperti kerajaan Inderapura, kesultanan Inderapura, lakon Batangkapas, Perang Bayang, Tambang Emas Salido, Loji VOC pulau Cingkuak, kehidupan sosial ekonomi dan pendidikan masyarakat zaman kolonial, tokoh ilyas jacob, kehidupan sosioekonomi dan pendidikan masyarakat masa penjajahan Jepang serta kemerdekaan dari Belanda bisa diadaptasi untuk pengembangan materi ajar. Pemanfaatan tersebut dilakukan dengan dua cara, yaitu pengintegrasian materi sejarah lokal dalam mata pelajaran sejarah Indonesia dan lawatan wisata sejarah memanfaatkan objek sejarah di lingkungan.
Pembelajaran sejarah di Madrasah Aliyah berbasis budaya literasi digital
Setyaningsih, Wahyu;
Chandra, Lutfiana;
Kurnianingrum, Ratna
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 1 (2024)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25273/ajsp.v14i1.12138
Siswa MAN Kota Magelang mempunyai smartphone, namun frekuensi penggunaannya hampir 70 % untuk sosial media dan game online. Ini menunjukkan pemahaman literasi digital rendah, padahal belajar sejarah perlu berliterasi. Apalagi ketika masih masa pandemi yang rata-rata siswa dituntut untuk belajar melalui berbagai platform digital, khususnya pembelajaran sejara. Tujuan penelitian adalah guna mengetahuai desain dan bentuk pembelajaran sejarah berbasis literasi digital pada masa pendemi di MAN Kota Magelang; Metode penelitian menggunakan R&D dengan objek materi sejarah Indonesia. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara dengan forum FGD, dokumentasi dan arsip. Hasil penelitian menunjukkan melalui kesadaran budaya literasi digital dapat menjadi solusi efektif dalam penyampaian materi dan makna dari sejarah, meskipun keterbatasan waktu dan ruang tatap muka di kelas selama pandemi. Penelitian ini juga memberikan bukti empiris bahwa kesadaran budaya literasi digital berdampak penting dalam peningkatan pemahaman materi dan nilai sejarah sehingga perlu pengembangan produk digital yang beragam untuk dapat diterapkan dalam proses pembelajaran sejarah.
Kajian komparasi politik luar negeri Indonesia Malaysia di era pemerintahan soekarno dan soeharto, 1963-1966
Tristantri, Cepi Novia;
Zahidi, M Syaprin
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25273/ajsp.v14i2.14794
Indonesia yang baru merdeka saat itu berupaya melaksanakan politik luar negeri dengan menjadikan pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan. Namun, hubungan antar negara tidak selamanya damai, seperti Indonesia dan Malaysia pada 1963-1966 dengan sebutan konfrontasi Malaysia. Setiap negara memiliki karakteristik kepemimpinan yang berbeda, khususnya masa soekarno dan soeharto. Penelitian bertujuan membandingkan hubungan Indonesia-Malaysia di era pemerintahan Soekarno dan Soeharto. Metode kepustakaan dan analisis deskriptif digunakan dalam penelitian ini dengan mengumpulkan sumber tertulis seperti buku, jurnal, artikel, dokumen, laporan dan arsip. Hasil penelitian menunjukkan pada era Soekarno, politik luar negeri dipengaruhi semangat ant kolonial dan anti imperialisme. Masa Soeharto mengadopsi pendekatan pragmatis dan berorientasi pada stabilitas regional serta pembangunan ekonomi. Soekarno yang revolusioner dan konfrontatif berbeda dengan Soeharto yang pragmatis dan moderat. Sehingga berdampak pada orientasi politik dan diplomasi. Hasil penelitian berkontribusi untuk memahami dinamika politik regional Asia Tenggara pada pertengahan abad ke-20 sebagai pembelajaran di masa selanjutnya. Kemudian, memberikan wawasan ideologi, kepemimpinan dan konteks internasional memengaruhi kebijakan luar negeri. Keterbatasan penelitian terletak pada sumber data pada arsip, dokumen pemerintah, dan literatur sekunder sehingga kurang mencakup seluruh perspektif, terutama Malaysia.
Kajian historis carok di Madura pada masa kolonialisme Belanda
Hafida, Melina Nur;
Wijaya, Daya Negri;
Agung, Dewa Agung Gede;
Widiadi, Aditya Nugroho
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 1 (2024)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25273/ajsp.v14i1.18568
Secara historis pada abad 18 M carok dilakukan sebagai upaya melawan kolonialisme. Carok di simbolkan dengan cerulit sebagai perlawanan. Bagi Belanda celurit disimbolkan sebagai para jagoan. Lalu kesewenangan Belanda ingin membeli lahan seluas-luasnya dengan harga murah melalui carik rembang dengan cara licik untuk memenuhi keinginan. Keresaan ini menimbulkan ketidakadilan hingga muncul penggagalan carik rembang oleh Sakera. Selanjutnya Belanda mengutus salah satu jagoan pabrik untuk membunuh sakera, sehingga masyarakat tergerak menentang. Namun, Belanda melakukan adu domba hingga membuat citra celurit maupun Madura menjadi negatif. Sebelum melakukan Carok terdapat persyaratan khusus yang harus terpenuhi terlebih dahulu. Penelitian ini bertujuan mengkaji dari sisi historis pemaknaan carok di Madura pada masa kolonialisme Belanda dengan menggunakan metode historis. Tahapan metode historis diantaranya heuristik, kritik, interpretasi, historiografi. Heuristik berupa primer keterangan dari informan dan sekunder buku dan journal dengan kata kunci Madura dan carok. Tahap kritik data primer dan sekunder diseleksi secara intern untuk mengetahui kredibilitas dan autensitas sumber Pada tahap intepretasi menggunakan teori identitas budaya struart hall. Hasil penelitian ini istilah carok pertama kali dikenal dan dilakukan oleh masyarakat Madura pada masa kolonialisme Belanda. Awal mula dilakukan carok untuk menentang dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Pada masa sekarang carok dianggap sebagai identitas budaya masyarakat Madura.
Pembelajaran sejarah maritim melalui media Banten harbour untuk peningkatan kesadaran multikultural
Nuhiyah, N;
Supriatna, Nana;
Yulifar, Leli
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 1 (2024)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25273/ajsp.v14i1.14698
Pembelajaran Sejarah maritim dapat menjadi sebuah langkah startegis bagi Indonesia untuk memahami dan menghargai keberagaman di Indonesia. Hadirnya Aplikasi Banten Harbour menjadi sebuah inovasi guna membumikan multiklturalisme Indonesia melalui sudut pandang historis serta penyajiannya melalui media pembelajaran yang kekinian, yaitu aplikasi android yang kini tengah digandrungi oleh siswa dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita di era revolusi 4.0. Artikel ini membahas bagaimana efektivitas aplikasi banten Harbour dalam meningkatkan kesadaran multikultural siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain The one group pre-test post-test design. Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa terdapat penggunaan Aplikasi Banten Harbour selama 12 pertemuan telah memengaruhi perubahan hasil pre-test dan post-test kesadaran multikultural siswa dan penggunaan Aplikasi Banten Harbour terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran multikultural siswa dibuktikan melalui Uji Wilxocon dan Uji N Gain. Peningkatan kesadaran multikultural siswa juga terlihat pada perubahan siswa yang mengurangi sikap diskriminasi terhadap sesame teman, saling menghargai Bahasa daerah masing-masing dan semakin memahami berbagai perbedaan budaya melalui pembelajaran berbasis Aplikasi Banten Harbour ini. Selain itu, Aplikasi Banten Harbour juga dapat memotivasi siswa dalam belajar sejarah dan menjadikan pembelajaran sejarah lebih menyenangkan.