cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE
ISSN : 24423106     EISSN : 26155338     DOI : -
Core Subject : Education,
The aim of the Journal of Education Science (JES), p-ISSN 2442-3106, e-ISSN 2615-5338 is to provide an international forum for the sharing, dissemination and discussion of research, experience and perspectives across a wide range of education, teaching, development, instruction, educational projects and innovations, learning methodologies and new technologies in education and learning.
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERHITUNG MELALUI PERMAINAN BALOK ANGKA PADA ANAK KELOMPOK B DI TK SEULANGAN DAYA Helnita, Helnita; Suwaibah, Suwaibah; Nasriadi, Ahmad; Oktariana, Riza
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 10, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v10i1.3693

Abstract

AbstrakPenelitian ini berlatar belakang dari kurang optimalnya perkembangan kognitif pada anak usia dini di kelompok B TK Seulanga Daya dikarenakan proses pembelajaran yang  monoton. Hal ini seharusnya menjadikan guru dalam memberikan materi pembelajaran yang aktif dan kreatif dengan bermain, anak dapat lebih berpikir kritis dan logis seperti hal yang anak lakukan yaitu menggunakan simbol, mengklasifikasikan benda dan mengurutkan benda. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berhitung melalui permainan balok angka pada anak kelompok B Di TK Seulanga Daya. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif Classroom Action Research. Subjek dalam penelitian ini adalah anak kelompok B sebanyak 20 anak. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan menunjukan bahwa Pra-Siklus memperoleh nilai 35%, Siklus I 70%, dan Siklus II 92%. Hal ini dapat dimaknai bahwa Kemampuan Berhitung Melalui Permainan Balok Angka Pada Anak Kelompok B Di TK Seulanga Daya yang telah dilaksanakan meningkat. Sehingga persentase peningkatan kemampuan berhitung anak telah mecapai indikator keberhasilan. Kata kunci: Kemampuan Berhitung, Balok Angka, Kognitif  IMPROVING COUNTING ABILITY THROUGH NUMBER BLOK GAMES IN GROUP B CHILDREN AT SEULANGA DAYA KINDERGARTEN Abstract This study is based on the less than optimal cognitive development in early childhood in group B of Seulanga Daya Kindergarten due to the monotonous learning process. This should make teachers provide active and creative learning materials by playing, children can think more critically and logically like what children do, namely using symbols, classifying objects and sorting objects. This study aims to improve counting skills through number block games in group B children at Seulanga Daya Kindergarten. This type of research is a qualitative Classroom Action Research. The subjects in this study were group B children as many as 20 children. Based on the results of the research that has been carried out, it shows that the Pre-Cycle obtained a value of 35%, Cycle I 70%, and Cycle II 92%. It can be interpreted that the ability to count through the game of number blocks in group B children at Seulanga Daya kindergarten has increased. So that the percentage increase in children's counting ability has reached the success indicator. Keywords: Counting Ability, Number Blocks, Cognitive
FAKTOR-FAKTOR KECEMASAN BERBICARA BAHASA INGGRIS PADA SISWA KELAS IX MTsS KRUENG RAYA KABUPATEN ACEH BESAR Suri, Murnia; Lisnawati, Lisnawati; Kesumawati, Kesumawati
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 10, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v10i1.3979

Abstract

Penelitian ini menitikberatkan pada bahasan tentang faktor penyebab kecemasan berbicara bahasa Inggris pada siswa kelas IX MTsS Krueng Raya. Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris perlu untuk mengetahui penyebab kecemasan tersebut baik dari sisi internal maupun dari sisi eksternal siswa. Dengan menggunkan metode kualitataif deskriptif, data penelitian ini dikumpulkan melalui instrumen angket tertulis dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga hal utama penyebab timbulnya rasa cemas saat melakukan English speaking, satu penyebab berasal dari faktor internal dan dua penyebab dari faktor eksternal. Faktor penyebab internal berupa kurangnya kosa kata (100%). Sedangkan faktor eksternal berupa respon negatif dari teman (100%) dan saat kehilangan konsentrasi (100%). Hasil temuan lainnya adalah kurangnya kemampuan public speaking (90%) dan rendahnya motivasi untuk mempelajari bahasa Inggris (90%). Dari hasil temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa para guru perlu segera menemukan cara untuk mengatasi kedua faktor tersebut dengan menciptakan solusi atas masing-masing persoalan terkait dengan faktor penyebab kecemasan dalam berbicara bahasa Inggris.Kata Kunci: Kecemasan, Berbicara Bahasa InggrisThis study focuses on discussing the factors that cause anxiety about speaking English in class IX students at MTsS Krueng Raya. In improving language skills, it is necessary to find out the cause of anxiety both from the internal and external side of students. By using descriptive qualitative methods, this research data was collected through written questinnaires and direct observation. The research results show that there are three main causes of anxiety when speaking English, one cause comes from internal factors and two causes come from extenal one. Internal causal factors include lack of vocabulary (100%). Meanwhile, external factors include negative responses from friends (100%) and loss of concentration (100%). Other findings include a lack of public speaking skills (90%) and low motivation to learn English (90%). From these findings it can be concluded that teachers need to immediately find ways to overcome these two factors by creating solutions to each problem related to the factors that cause anxiety in speaking English.Keywords: Anxiety, Speaking English
HUBUNGAN INTENSITAS PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN DENGAN KARAKTER PESERTA DIDIK SMA ISLAM TERPADU FAJAR HIDAYAH ACEH Herawati, Herawati; Pardi, Pardi; Rahmayanti, Kurnia; Juleka, Juleka
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 10, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v10i1.3791

Abstract

Penelitian ini berjudul “Hubungan Intensistas Pendidikan Kepramukaan dengan Karakter Peserta Didik SMA Islam Terpadu Fajar Hidayah Aceh”. Penelitian ini mengangkat masalah tentang gambaran umum intensitas pendidikan kepramukaan dan perkembangan karakter siswa, kaitan antara intensitas pendidikan kepramukaan dan karakter siswa, serta aspek intensitas yang memiliki hubungan paling dominan dengan perkembangan karakter siswa SMA IT Fajar Hidayah Aceh. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian bertempat di SMA IT Fajar Hidayah Aceh dengan populasi seluruh siswa 159 siswa. Sampel penelitian menggunakan simple random sampling denganmenggunakan rumus Slovin sebanyak 117 siswa. Pengumpulan data menggunakan metode kuesioner dengan model skala likert. Analisis data menggunakan analisis korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas pendidikan kepramukaan siswa SMA IT Fajar Hidayah Aceh pada umumnya berada pada kategori sedang dan terdapat sebagian kecil pada kategori tinggi, sehingga kemampuan siswa dalam bidang pendidikan kepramukaan dapat dinyatakan baik; demikian pula perkembangan karakter siswa dapat dinyatakan baik dengan persentase dominan pada kategori sedang dan tinggi ditinjau dari aspek ketuhanan, diri sendiri, lingkungan dan kebangsaan; terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas pendidikan kepramukaan dengan karakter siswa SMA IT Fajar Hidayah Aceh dengan r hitung sebesar 0,509 pada taraf signifikan 0.000. Ditinjau dari keempat aspek intensitas, aspek intensitas perhatian dan aspek intensitas kegiatan merupakan dua aspek yang paling dominan berhubungan dengan karakter siswa, dimana masing-masing r hitung sebesar 0.478 dan 0,416. Sedangkan aspek intensitas lainnya yang memiliki hubungan dengan karakter siswa pada taraf interpretasi sedang yaitu aspek intensitas waktu dengan r hitung sebesar 0,348 dan aspek intensitas materi dengan r hitung sebesar 0,220 pada taraf interpretasi rendah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah secara umum kemampuan siswa dalam pendidikan kepramukaan dapat dikategorikan baik, terutama pada: aspek intensitas kegiatan, intensitas waktu, dan intensitas materi; pada umumnya perkembangan karakter siswa dinyatakan baik dari segi: ketuhanan, diri sendiri, lingkungan dan kebangsaan; adanya hubungan yang positif antara intensitas pendidikan kepramukaan dan karakter siswa dan menunjukkan perkembangan yang positif pula terhadap perilaku siswa sehari-hari; terutama dalam aspek kedisiplinan, kerjasama, dan cinta tanah air; serta aspek intensitas perhatian dan kegiatan merupakan dua aspek yang paling dominan memiliki hubungan dengan karakter siswa dibandingkan dengan aspek intensitas lainnya, yaitu: intensitas waktu yang memiliki korelasi sedang dan intensitas materi dengan korelasi yang rendah.Kata kunci: Intensitas Pendidikan Kepramukaan, Karakter Peserta DidikThis research is entitled "The Relationship between the Intensity of Scouting Education and the Character of Students at Fajar Hidayah Aceh Integrated Islamic High School". This research raises the issue of a general description of the intensity of scouting education and student character development, the relationship between the intensity of scouting education and student character, as well as aspects of intensity that have the most dominant relationship with the character development of SMA IT Fajar Hidayah Aceh students. This research is descriptive correlational research with a quantitative approach. The research location is at SMA IT Fajar Hidayah Aceh with a total student population of 159 students. The research sample used simple random sampling using the Slovin formula as many as 117 students. Data collection used a questionnaire method with a Likert scale model. Data analysis uses Spearman Rank correlation analysis. The results of the research show that the intensity of scouting education for SMA IT Fajar Hidayah Aceh students is generally in the medium category and there are a small number in the high category, so that students' abilities in the field of scouting education can be stated to be good; Likewise, student character development can be expressed as good with a dominant percentage in the medium and high categories in terms of the aspects of divinity, self, environment and nationality; There is a positive and significant relationship between the intensity of scouting education and the character of SMA IT Fajar Hidayah Aceh students with a calculated r of 0.509 at a significance level of 0.000. Judging from the four intensity aspects, the attention intensity aspect and the activity intensity aspect are the two most dominant aspects related to student character, where the r values are 0.478 and 0.416 respectively. Meanwhile, other intensity aspects that have a relationship with student character at the medium interpretation level are the time intensity aspect with a calculated r of 0.348 and the material intensity aspect with a calculated r of 0.220 at the low interpretation level. The conclusion of this research is that in general students' abilities in scouting education can be categorized as good, especially in: aspects of activity intensity, time intensity, and material intensity; In general, students' character development is expressed in terms of: divinity, self, environment and nationality; there is a positive relationship between the intensity of scouting education and student character and shows positive development in students' daily behavior; especially in the aspects of discipline, cooperation and love of the country; and the intensity of attention and activity aspects are the two most dominant aspects that have a relationship with student character compared to other aspects of intensity, namely: time intensity which has a moderate correlation and material intensity with a low correlation.Keywords: Scouting Education Intensity, Student Character
PELATIHAN GURU STIMULASI UNTUK PENGEMBANGAN FISIK MOTORIK KASAR ANAK MELALUI TARI TRADISIONAL ACEH DI TKIT PERMATA SUNNAH KOTA BANDA ACEH Fitriani, Fitriani; Mutiawati, Mutiawati
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 9, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v9i2.3445

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan motorik kasar anak pada saat melaksanakan tari Tradisional dan kemampuan motorik kasar anak setelah melakukan tari Tradisional.Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subjek penelitiananak usia 5-6 tahun yang terdiri dari 17 anak. Objek penelitian ini adalah peningkatan kemampuan motorik kasar. Teknik pengumpulan data melalui observasi berbentuk cheklist dan dokumentasi berupa foto. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif..Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa: (1) perkembangan motorik kasar anak sebelum tindakan berada pada kriteria berkembang sesuai harapan berjumlah 1 anak atau dengan presentase 5,88% dengan nilai rata-rata 49,50 (2) perkembangan motorik kasar pada saat melakukan tari Tradisional pada siklus I anak dengan kriteria berkembang sangat baik berjumlah 6 anak atau dengan presentase 35,29%, dengan nilai rata-rata 70,78 selanjutnya pada siklus II anak dengan kriteria berkembang sangat baik berjumlah 13 anak atau dengan presentase 76,47%, dengan nilai rata- rata 82,41. Hal ini menunjukkan bahwa hasil perkembangan motorik kasar pada siklus II telah mencapai keberhasilan yaitu sebesar 13 orang anak atau dengan persentase 75% pada kriteria berkembang sangat baik.Dapat disimpulkan bahwa penggunaan tari Tradisional dapat meningkatkan motorik kasar anak usia 5-6 tahun di TKIT Permata Sunnah Kota Banda Aceh. Kata Kunci: Tari Tradisional, Motorik KasarThis research aims to determine children's gross motor skills when performing traditional dance and children's gross motor skills after performing traditional dance. This type of research is Classroom Action Research (PTK) with research subjects aged 5-6 years consisting of 17 children. The object of this research is improving gross motor skills. The data collection technique is through observation in the form of a checklist and documentation in the form of photos. The data analysis technique uses qualitative and quantitative analysis. Based on the research results, it can be concluded that: (1) the child's gross motor development before the action was at the criteria of developing according to expectations, amounting to 1 child or with a percentage of 5.88% with an average value of 49. 50 (2) gross motor development when performing traditional dance in cycle I of children with very well developed criteria totaling 6 children or with a percentage of 35.29%, with an average score of 70.78 then in cycle II children with very well developed criteria totaling 13 children or a percentage of 76.47%, with an average score of 82.41. This shows that the results of gross motor development in cycle II have achieved success, namely 13 children or a percentage of 75% in the criteria for very good development. It can be concluded that the use of traditional dance can improve the gross motor skills of children aged 5-6 years at TKIT Permata Sunnah Banda Aceh City Keywords: Tradicional Dances,Groos Motor
PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE COURSE REVIEW HORRAY DENGAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS DI SD NEGERI 5 BANDA ACEH Maizar, Safiratul; Anwar, Faisal; Suryawati, Indah
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 10, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v10i1.3884

Abstract

Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penerapan model pembelajaran course review horray dan model pembelajaran make a match telah banyak dilakukan. Namun tingakt perbandingan pada model keduanya belum pernah dilakukan pada khususnya pada mata pelajaran IPAS di SD. Penelitian ini dilaksanan di SD Negeri 5 Banda Acehyang bertujuan untuk mengkaji efektivitas penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Course Review Horray dengan model pembelajaran make a match pada mata pelajaran IPAS. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 5 Banda Aceh. Pengambilan sampel dilakukan dengan  teknik purposive sampling, total responden 28 siswa dan kelas IV B sebanyak 28 siswa. Teknik pengumpulan data berupa dilakukan dengan pemberian tes. Data diolah menggunakan SPSS 25 dengan taraf signifikan 5%  dengan uji N-Gain score diperoleh nilai mean untuk kelas CRH sebesar 0,5740 sedangkan untuk model MAM diperoleh mean sebesar 0,4242. Hasil uji-t menggunakan independen samples test CRH dan MAM menunjukkan hasil belajar yang diajarkan kedua model tersebut setara. Namun hasil belajar model pembelajaran course review horray lebih meningkat dibandingkan pembelajaran dengan model make a match dilihat dari hasil belajar  kelas CRH 1.900 > 1.690 hasil belajar  kelas MAM. Dengan demikian kesimpulan akhir yang didapatkan adalah model pembelajaran kooperatif  tipe course review horray lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran make a match pada mata pelajaran IPAS  di SD Negeri 5 Banda Aceh.Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Make a Match, Course Review HorrayThe learning model is a conceptual framework that describes a systematic procedure for organizing learning experiences into learning goals. The application of the course review horray learning model and the make a match learning model has been done a lot. This study was conducted at SD Negri 5 Banda Aceh and aimed at studying the effectiveness of the use of a cooperative learning model type Course Review Horray with the learning model making a match on IPAS subjects. The population in this study is a student of the IV grade in SD Negeri 5, Banda Aceh. Sampling was done using purposive sampling techniques with a total of 28 respondents and 28 students in class IV B. Data collection techniques are tested. The data was processed using SPSS 25 with a 5% significant level, with the N-Gain test score obtaining a mean value for the CRH class of 0.5740 and for the MAM model obtaining a mean of 0.4242. The results of the test using independent samples of the CRH and MAM tests showed that the learning results taught by both models were equal. However, the learning outcome of the course review horray model has increased in comparison with the learning outcome of the make-a-match model, as seen from the CRH 1.900 > 1.690 learning outcomes of the MAM class. Thus, the final conclusion obtained is that the cooperative learning model of course review Horray type is better compared to the learning model made a match on the IPAS subjects in SD Negeri 5 Banda Aceh.Keyword: Cooperative learning, Make a Match, Course Review Horray
MANAJEMEN KURIKULUM DI SMP NEGERI 8 BANDA ACEH Nelliraharti, Nelliraharti
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 10, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v10i2.4374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen kurikulum di SMP Negeri 8 Banda Aceh, yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMP Negeri 8 Banda Aceh menerapkan dua kurikulum, yaitu Kurikulum Merdeka dan Kurikulum K13. Perencanaan kurikulum dilakukan secara kolaboratif oleh tim yang terdiri dari  guru dan pemangku kepentingan lainnya sehingga menciptakan rasa kepemilikan yang kuat. Pengorganisasian  melibatkan pembagian tugas yang jelas serta pemanfaatan sumber daya yang efisien, termasuk kegiatan ekstrakurikuler yang terintegrasi. Dalam pelaksanaan, semua guru diwajibkan untuk menguasai teknologi digital guna meningkatkan efektivitas pembelajaran. Dan didukung oleh pelatihan berkala. Evaluasi kurikulum dilakukan secara sistematis untuk memastikan pencapaian tujuan pendidikan dan perbaikan berkelanjutan. Kendala yang dihadapi, terutama dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka, meliputi pemahaman guru yang bervariasi dan keterbatasan sumber belajar. Penelitian ini memberikan rekomendasi untuk peningkatan pelatihan guru dan penyediaan sumber belajar yang lebih memadaiKata Kunci : Manajemen, Kurikulum, Kurikulum Merdeka, Kurikulum K13This study aims to analyze the curriculum management at SMP Negeri 8 Banda Aceh, which includes the planning, organizing, implementing, and evaluating of the curriculum. The research methodology employs a qualitative approach using interview and observation techniques. The results indicate that SMP Negeri 8 Banda Aceh implements two curricula: the Merdeka Curriculum and the K13 Curriculum. Curriculum planning is conducted collaboratively by a team consisting of teachers and other stakeholders, thereby fostering a strong sense of ownership. Organization involves clear task distribution and efficient resource utilization, including integrated extracurricular activities. During implementation, all teachers are required to master digital technology to enhance the effectiveness of learning, supported by regular training. Curriculum evaluation is conducted systematically to ensure the achievement of educational objectives and facilitate continuous improvement. Challenges encountered, particularly in the implementation of the Merdeka Curriculum, include varying levels of teacher understanding and limitations in learning resources. This study provides recommendations for enhancing teacher training and providing more adequate learning resources.Keywords: Management, Curriculum, Merdeka Curriculum, K13 Curriculum
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN INSTALASI MOTOR LISTRIK KELAS XI DI SMKN 2 SIGLI Julia Utama, Rizki; Razi, Fauzul
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 10, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v10i2.4320

Abstract

Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 2 Sigli berdasarkan observasi dan wawancara, yang menemukan bahwa nilai siswa jurusan TITL kelas XI masih di bawah rata-rata. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan model pembelajaran Problem Solving dalam meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Instalasi Motor Listrik. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-eksperimen dalam bentuk pre-test post-test design, data dikumpulkan melalui instrumen pre-test dan post-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Solving mengalami beberapa kendala, seperti kurangnya respons siswa selama pembelajaran dan rendahnya disiplin siswa. Meskipun demikian, hasil pre-test menunjukkan nilai rata-rata 51,30, yang masih di bawah KKM (70), namun setelah penerapan model ini, nilai post-test siswa meningkat dengan rata-rata 82,17. Penerapan model pembelajaran Problem Solving terbukti mampu meningkatkan pemahaman siswa dan hasil belajar mereka.Kata Kunci: Hasil Belajar, Problem SolvingThis study was conducted at SMK Negeri 2 Sigli based on observations and interviews, which revealed that the grades of 11th-grade students in the TITL program were below average. This was attributed to the students' lack of understanding of the material presented by the teachers. The study aimed to assess the effectiveness of the Problem Solving learning model in improving learning outcomes in the subject of Electrical Motor Installation. Using a quantitative approach with a pre-experimental method in the form of a pre-test post-test design, data were collected through pre-test and post-test instruments. The results showed that the implementation of the Problem Solving model faced several challenges, such as a lack of student responsiveness during lessons and low student discipline. Despite these challenges, the pre-test results indicated an average score of 51.30, which was below the minimum passing grade (70). However, after implementing this model, the post-test scores increased with an average of 82.17. The application of the Problem Solving learning model proved to be effective in enhancing students' understanding and improving their learning outcomes.Keywords: Learning Outcomes, Problem Solving
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPAS SISWA KELAS V NEGERI 62 BANDA ACEH Risni, Orisa; Saudah, Saudah; Suryawati, Indah
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 10, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v10i2.4579

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sosial (IPAS) di kelas V SD Negeri 62 Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain prete¬st dan post-test. Subjek penelitian  adalah kelas V dengan jumlah sampel 35 siswa Data di kumpulkan melalui tes hasil belajar sebelum dan sesudah penerapan model inkuiri. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis dengan paired sample t-test. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan post-test (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa model pembelajaran inkuiri efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran inkuiri secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Penerapan model pembelajaran inkuiri mampu mendorong siswa berpikir kritis dan, sehingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan relevan. Penerapan model pembelajaran ini memberikan kontribusi positif terhadap kualitas pemahaman dan keterampilan berpikir ilmiah siswa, serta diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengembangan metode pembelajaran yang lebih inovatif di sekolah dasar.Kata Kunci: Metode Inovatif; Peningkatan Prestasi; IPAS; Pembelajaran Aktif; Strategi PembelajaranAbstract : This study aims to analyze the influence of the guided inquiry learning model on improving students' learning outcomes in Social and Natural Sciences (IPAS) for Grade V at SD Negeri 62 Banda Aceh. The research utilized an experimental method with a pre-test and post-test design. The subjects were 35 students from Grade V. Data were collected through learning outcome tests administered before and after the implementation of the guided inquiry model. Data analysis involved normality testing and hypothesis testing using paired sample t-tests. The statistical test results revealed a significant difference between pre-test and post-test scores (p < 0.05), indicating that the guided inquiry learning model effectively enhances student learning outcomes. These findings suggest that guided inquiry significantly improves students' learning outcomes compared to conventional teaching methods. The application of the guided inquiry model fosters critical thinking among students, thereby creating deeper and more relevant learning experiences. This approach contributes positively to the quality of students' understanding and scientific thinking skills and is expected to serve as a reference for developing more innovative teaching methods in elementary schools.Keywords: Innovative Methods; Achievement Improvement; Social and Natural Sciences (IPAS); Active Learning; Learning Strategies
ANALISIS KURIKULUM DAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA LEMBAGA PENDIDIKAN NON-FORMAL DI BANDA ACEH Suri, Murnia; Fajriati, Rafni; Mutiawati, Mutiawati; Mursyida, Citra Syifa
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 10, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v10i2.4321

Abstract

Kurikulum merupakan seperangkat sistem rencana yang terdiri dari tujuan, materi, strategi pembelajaran, organisasi dan evaluasi dalam aktifitas pembelajaran sedangkan metode merupakan bagian dan strategi instruksional untuk menyajikan, menguraikan, memberi contoh dan latihan kepada siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Keduanya harus berjalan beriringan demi keberhasilan proses belajar mengajar tidak hanya pada pendidikan formal tetapi juga pada pendidikan non-formal. Kiddos English School (KES) dan KUMON adalah dua lembaga pendidikan non-formal yang memiliki kurikulum dan metode pembelajaran bahasa Inggris yang berbeda. Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan diketahui bahwa KES menerapkan kurikulum Merdeka PAUD dengan menerapkan metode Beyond Centre and Circle Time dan KUMON menggunakan kurikulum Pengembangan Metode KUMON dalam pelaksanaan pendidikannya melalui metode Self-Directed Learning. Dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris, KES menjadikan para siswa sebagai sasaran dari proses pembelajaran sesuai dengan minat dan bakat mereka sedangkan pembelajaran bahasa Inggris di KUMON siswa belajar melalui latihan yang berkelanjutan. Kedua metode pembelajaran yang diimplementasikan memiliki kekurangan dan kelebihan namun secara umum kekurangan yang dimiliki dapat ditutupi dengan kelebihannya. Hal ini dibuktikan dengan pencapaian kemampuan bahasa Inggris dari peserta didik yang menempuh pendidikan di kedua tempat tersebut.Kata kunci: Kurikulum, pendidikan non-formal, pembelajaran bahasa InggrisCurriculum is a set of planning systems consisting of objectives, materials, learning strategies, organization and evaluation in learning activities while method is the instructional parts and strategies for presenting, explaining, giving examples and exercises to students in achieving learning goals. Both must go hand in hand for the success of the teaching and learning process not only in formal education but also in non-formal. Kiddos English School (KES) and KUMON are two non-formal educational institutions in Banda Aceh which have different curricula and method in English language learning. Based on the results of direct observations, it is found that KES implements the Merdeka PAUD curriculum by applying the Beyond Centre and Circle Time method while KUMON uses the KUMON Method Development curriculum in implementing its education through Self-Directed Learning method. In implementing the English language learning, KES directs the students as the target of the learning process according to their talents and interests and learning English at KUMON the students learn through continuous practice. These two-learning methods implementation have advantages and disadvantages yet in general the disadvantages can be solved by some advantages. This is proven by the evidence from the achievement of English language skills of students studying in those both places.Keywords: Curriculum, non-formal education, English language learning
IMPLEMENTASI PARENTING DI SD ISLAM TERPADU KOTA BANDA ACEH Herawati, Herawati; AK, Warul Walidin; Suyanta, Sri; Silahuddin, Silahuddin; Zulfikar, T
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 10, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v10i2.4340

Abstract

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) pada dasarnya merupakan sekolah berbasis Islam yang berkomitmen dalam menerapkan parenting dan keterlibatan orangtua sebagai salah satu program utama penentu keberhasilan pendidikan anak, karena sistem sekolah terpadu artinya sekolah dan orangtua bekerjasama dan terpadu dalam hal mendidik anak. Namun demikian masih ditemukan sejumlah SDIT yang belum menerapkan program parenting sejak awal didirikannya dan hal ini tentu saja bertentangan dengan makna dan sistem sekolah terpadu itu sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) monitoring dan evaluasi; serta (4) tantangan dan kendala implementasi parenting di SDIT Kota Banda Aceh. Penelitian ini dilakukan pada SDIT Nurul Islah Banda Aceh dan SDIT Bayyinah Tahfizhul Qur’ani Banda Aceh menggunakan metode penelitian kualitatif melalui proses observasi, wawancara, dan telaah dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa impelementasi parenting di SDIT Kota Banda Aceh: (1) Perencanaan parenting belum melibatkan orangtua secara komprehensif, belum memiliki panduan baku, dan kegiatan perencanaan pada setiap rapat kerja awal tahun ajaran baru dan tinjauan perencanaan pada awal semester berikutnya sekaligus rapat evaluasi pelaksanaan program parenting yang terkendala, dan hal terkait lainnya. Aspek-aspek yang ditetapkan dalam perencanaan meliputi penetapan: waktu, tempat, materi dan pemateri, serta media yang dibutuhkan dalam pelaksanaan parenting; (2) Pelaksanaan dikategorikan menjadi 3 program, yaitu: (a) program tahunan; dilakukan dua kali per tahun berupa: pertemuan di awal tahun ajaran baru dan setiap akhir semester dalam bentuk: sharing class dan seminar/workshop terkait parenting, dll; (b) program mingguan; setiap akhir pekan, berupa kegiatan: tahsin quran, kajian keislaman, buku penghubung, dll; serta (c) program parenting insidental; khusus bagi anak yang membutuhkan bantuan orangtua wali dalam penyelesaian masalah dan konsultasi tentang anak dengan waktu yang tentatif; (3) Monitoring dan evaluasi dilakukan setiap akhir semester atau per dua bulan sekali, sekaligus dilakukan monitoring efektifitas program dan analisis kendala dan kekurangan program yang dihadapi untuk selanjutnya didiskusikan dan dievaluasi di akhir semester pada saat rapat evaluasi sekolah guna memudahkan adanya tindak lanjut keberhasilan parenting Islam di masa mendatang; serta (4) Tantangan dan kendala implementasi parenting di SDIT Kota Banda Aceh, terdiri dari 2 (dua) faktor, yaitu: (a) Faktor internal, terdiri dari: (1) belum adanya kurikulum dan panduan baku, (b) fasilitas dan prasarana sekolah untuk beberapa kegiatan yang belum memadai, dan (3) belum maksimalnya pelibatan orangtua dalam perencanaan pelaksanaan kegiatan parenting di sekolah, dll; dan (b) Faktor eksternal, meliputi: (1) keterbatasan waktu orangtua karena kesibukan bekerja dan/atau menjaga anak balita, (2) kurangnya kesadaran sebagian kecil orangtua akan pentingnya parenting, dan (3) kurangnya peran serta para ayah secara kontinu dalam kegiatan parenting dengan alasan yang sama, yaitu sibuk bekerja; sehingga yang umumnya lebih berperan adalah para ibu.Kata Kunci: Implementasi Parenting Islam, Anak Usia Pendidikan Dasar, Sekolah Dasar Islam Terpadu Integrated Islamic Primary Schools (SDIT) are basically Islamic-based schools that are committed to implementing parenting and parental involvement as one of the main programs that determine the success of children's education, because an integrated school system means that schools and parents work together and are integrated in terms of educating children. However, there are still a number of SDITs that have not implemented parenting programs since their inception and this is of course contrary to the meaning and system of the integrated school itself. The aim of this research is to find out: (1) planning; (2) implementation; (3) monitoring and evaluation; and (4) challenges and obstacles to implementing parenting at SDIT Banda Aceh City. This research was conducted at SDIT Nurul Islah Banda Aceh and SDIT Bayyinah Tahfizhul Qur'ani Banda Aceh with conducted by qualitative research methods in the the process of observation, interviews and documentations review. As the results of the analysis showing the four outcome in  the implementation of parenting at SDIT Banda Aceh City; (1) Parenting planning does not involve parents comprehensively, does not have standard guidelines, and planning activities at each work meeting at the beginning of the new school year and planning reviews at the beginning of the next semester as well as implementation evaluation meetings hampered parenting programs, and other related matters. Aspects determined in the planning including the determining: time, place, materials and presenters, as well as the media needed for implementing parenting; (2) Implementation is categorized into 3 programs, namely: (a) Annual program; held twice per year in the form of: meetings at the beginning of the new academic year and at the end of each semester in the form of: sharing classes and seminars/workshops related to parenting, etc.; (b) the weekly program; every weekend, in the form of activities: tahsin quran, Islamic studies, connecting books, etc.; and (c) incidental parenting programs; especially for children who need help from guardians in solving problems and consulting about children at a tentative time; (3) Monitoring and evaluation is carried out at the end of each semester or once every two months, as well as monitoring the effectiveness of the program and analyzing the obstacles and shortcomings of the program faced for further discussion and evaluation at the end of the semester during the school evaluation meeting to facilitate follow-up on the success of Islamic parenting. in the future; and (4) Challenges and obstacles to implementing parenting at SDIT Banda Aceh City, consisting of 2 (two) factors, namely: (a) Internal factors, consisting of: (1) Lack of standard curriculum and guidelines, (b) the facilities and infrastructure schools for several activities that are not adequate, and (3) less of maximum involvement of parents in planning the implementation of parenting activities at school, etc.; and (b) the external factors, including: (1) parents' limited time due to busy work and/or looking after toddlers, (2) a small number of parents' lack of awareness of the importance of parenting, and (3) lack of continuous participation of fathers in activities. parenting for the same reason, namely being busy at work; therefore the ones who  generally play a bigger role in this section are the mothers.Keywords: Implementation of Islamic Parenting, Primary Education Age Children, Islamic Integrated Primary Schools