cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 3 (2024)" : 10 Documents clear
Fungsi Hati Anak Leukemia Limfoblastik Akut dalam Kemoterapi Fase Induksi berdasarkan Usia dan Status Gizi Anggraini, Syahzalya; Izzah, Amirah Zatil; Anggraini, Fika Tri; Alioes, Yustini; Handayani, Tuti
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.131-6

Abstract

Latar belakang. Kemoterapi merupakan pengobatan utama pada anak leukemia limfoblastik akut (LLA). Kemoterapi fase induksi adalah kemoterapi pertama yang membunuh 95-98% sel leukemik. Pemberian kemoterapi menyebabkan kerusakan hati ditandai dengan peningkatan kadar enzim transaminase dan dapat disertai peningkatan kadar bilirubin. Faktor yang mempengaruhi pengobatan LLA, di antaranya usia dan status gizi.Tujuan. Melihat gambaran kadar enzim transaminase dan bilirubin pada anak LLA berdasarkan usia dan status gizi pada kemoterapi fase induksi.Metode. Penelitian deskriptif retrospektif dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling pasien anak LLA di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil, Padang, periode September 2022 sampai Agustus 2023. Data demografis, SGOT, SGPT, dan bilirubin total pasien didapatkan melalui rekam medis.Hasil. Penelitian ini mendapatkan sebanyak 49 sampel, dengan mayoritas responden adalah perempuan (53,1%), usia <10 tahun (65,3%) dan status gizi normal (77,6%). Cenderung terjadi peningkatan ringan SGOT (65,3%) dan SGPT (49%) serta kadar normal bilirubin (49%) pada kemoterapi fase induksi. Kadar SGOT dan SGPT cenderung mengalami peningkatan ringan pada semua kelompok status gizi. Pada 4 anak overweight ditemukan peningkatan berat SGOT (25%) dan SGPT (50%). Kadar bilirubin cenderung normal pada setiap status gizi, tetapi meningkat sedang pada overweight (75%). Peningkatan kadar SGOT dan SGPT cenderung ringan pada setiap kelompok usia. Bilirubin meningkat sedang pada anak ?10 tahun (53%).Kesimpulan. Pada umumnya SGOT dan SGPT mengalami peningkatan kadar ringan serta bilirubin dalam kadar normal pada anak LLA selama kemoterapi fase induksi. Peningkatan berat SGOT,SGPT dan bilirubin ditemukan pada overweight dan usia ?10 tahun. 
Stres Ibu Menyusui dan Keberhasilan ASI Eksklusif di Banda Aceh: Studi Cross-Sectional Aminah, Siti; Dimiati, Herlina; Utami, Niken Asri
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.164-70

Abstract

Latar belakang. Pemberian ASI eksklusif mulai sejak bayi berusia 0-6 bulan pertama kehidupan, memberikan dampak positif bagi bayi dan juga ibu. Beberapa faktor seperti nutrisi ibu, frekuensi menyusui, pengetahuan ibu, dukungan keluarga, pekerjaan, dan stres yang dialami ibu dapat memengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres pada ibu menyusui dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Banda Raya Banda Aceh.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan berjumlah 68 orang. Pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling. Data tingkat stres ibu diperoleh dari hasil pengisian kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10).Hasil. Responden dengan tingkat stres ringan memberikan ASI eksklusif (84,9%). Responden dengan tingkat stres sedang mayoritas tidak memberikan ASI eksklusif (60,7%), dan responden dengan tingkat stres berat tidak memberikan ASI eksklusif (100%). Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan p value sebesar 0,000 (p<0,05) dan nilai koefisien korelasi – 0,503 (hubungan sedang).Kesimpulan. Terdapat hubungan tingkat stres pada ibu menyusui terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif, yaitu semakin ringan tingkat stres akan semakin tinggi keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Hubungan Pemakaian Steroid Inhalasi dengan Osteoporosis pada Pasien Asma Anak Tjahjono, Harjoedi Adji; Sayyaf Haydar, Farel Muhammad; Yuliarto, Saptadi; Olivianto, Ery
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.158-63

Abstract

Latar belakang. Asma merupakan penyakit saluran napas akibat adanya peradangan kronis pada saluran napas yang sering terjadi pada anak-anak dengan prevalensi mencapai 20%. Steroid merupakan anti-inflamasi yang dinilai paling efektif dalam terapi penyakit peradangan kronis seperti asma. Akan tetapi, penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa steroid memiliki potensi menyebabkan penurunan kepadatan massa tulang atau osteoporosis. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pemakaian steroid inhalasi dengan osteoporosis pada pasien asma anak. Metode. Studi observasional analitik ini menggunakan desain penelitian cross-sectional terhadap 13 pasien asma anak yang berobat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar, Malang, yang didapat melalui purposive sampling. Pasien asma anak yang memenuhi kriteria inklusi dalam rentang usia 5-18 tahun serta telah menjalani pengobatan steroid inhalasi minimal 3 bulan dilakukan pemeriksaan bone mass density (BMD) melalui alat dual energy x-ray absorptiometry (DXA) kemudian dicatat hasil z-score. Analisis data menggunakan metode korelasi Rank Spearman untuk variabel bebas, yaitu dosis steroid inhalasi dan durasi pemakaian steroid inhalasi dengan variabel terikat yaitu nilai z-score BMD. Hasil. penelitian ini didapatkan hubungan signifikan berkorelasi negatif kuat antara dosis steroid inhalasi kumulatif dengan nilai z-score BMD (p=0.000, r=-0.827) dan hubungan signifikan berkorelasi negatif sedang antara durasi pemakaian steroid inhalasi dengan nilai z-score BMD (p=0.043, r=-0.568). Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemakaian steroid inhalasi menyebabkan penurunan kepadatan massa tulang dan berisiko menyebabkan osteoporosis.
Analisis Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Stunting dan Faktor Risiko di Kecamatan Medan Denai Elfrida, Anastasya Valentine; Lubis, Bugis Mardina; Ramayani, Oke Rina; Sitorus, Mega Sari
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.171-5

Abstract

Latar belakang. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi secara kronis. Di Indonesia, prevalensi stunting pada tahun 2021 adalah 24,4 persen. Kondisi prevalensi stunting di Sumatera Utara juga sangat memprihatinkan. Sebanyak 13 dari 33 kabupaten/kota yang berada di Sumatera Utara memiliki prevalensi stunting di atas 30%. Kecamatan Medan Denai adalah salah satu kecamatan di Kota Medan dengan kasus gizi buruk anak tertinggi. Salah satu faktor risiko kejadian stunting adalah tingkat pendidikan ibu.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang stunting.Metode. Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional dengan sampel penelitian terdiri dari 96 responden yaitu ibu anak balita yang berdomisili dan menyekolahkan anaknya di TK/PAUD di Kecamatan Medan Denai yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square.Hasil. Pada 96 responden ditemukan tingkat pengetahuan tentang stunting yang sedang (60,4%), rendah (30,2%), dan tinggi (9,4%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang stunting dengan nilai p=0,035 (p<0,05).Kesimpulan. Mayoritas ibu memiliki tingkat pengetahuan tentang stunting yang sedang dan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang stunting.
Hubungan Durasi Tidur dengan Memori Jangka Pendek pada Siswa Sekolah Dasar Putra, Farras Handyra; Umma, Husnia Auliyatul; Moelyo, Annang Giri
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.152-7

Abstract

Latar belakang. Fungsi tidur secara tepat hingga kini masih belum jelas, tetapi dipercaya bahwa kekurangan durasi tidur dapat menurunkan kinerja kognitif memori jangka pendek. Namun, hasil beberapa penelitian yang sudah dilaksanakan tidak sejalan dengan teori tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara durasi tidur dan memori jangka pendek, dengan harapan mendapatkan hasil yang baru dan signifikan yang sejalan dengan teori yang sudah ada.Tujuan. Mengetahui hubungan antara durasi tidur dengan memori jangka pendek pada siswa SD Al-Islam 2 Jamsaren Surakarta.Metode. Penelitian ini menggunakan studi analitik cross-sectional dengan sampel siswa tingkat sekolah dasar kelas 4-6 SD Al-Islam 2 Jamsaren Surakarta. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner SDSC untuk mengetahui durasi tidur dan tes FDST untuk menentukan kualitas memori jangka pendek anak. Teknik analisis yang digunakan adalah uji analisis chi-square dan uji multivariat regresi logistik. Jika pada analisis bivariat terdapat lebih dari 1 variabel bebas/perancu yang signifikan (p<0.25), maka dilanjutkan dengan analisis multivariat. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi logistik dengan signifikansi statistik p<0,05. Hasil. Hasil uji bivariat yang signifikan (p<0,05) didapatkan pada uji chi-square durasi tidur dengan memori jangka pendek.Kesimpulan. Terdapat hubungan antara durasi tidur dengan memori jangka pendek pada siswa tingkat sekolah dasar. 
Tingkat Kesesuaian antara Rontgen Toraks dengan Genexpert MTB/RIF pada Kasus Dugaan Tuberkulosis Paru pada Anak Anggraini, Diah; Sofiah, Fifi; Faisal, RM; Bakri, Achirul
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.176-82

Abstract

Latar belakang. Diagnosis tuberkulosis (TB) paru pada anak sering kali sulit dilakukan. Sifat pausibasiler dari TB pada anak kerap seringkali menyulitkan konfirmasi bakteriologis. Oleh karena itu, rontgen toraks menjadi modalitas penting ketika didapatkan hasil negatif pada pulasan bakteri. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat kesesuaian antara hasil rontgen toraks dan GeneXpert MTB/RIF pada kasus TB paru pada anak.Metode. Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan dengan menelusuri rekam medis pasien anak dengan dugaan TB paru di Rumah Sakit dr. Mohammad Hoesin Palembang pada tahun 2018-2020. Subjek penelitian dikelompokkan sebagai terdeteksi atau tidak terdeteksi TB berdasarkan hasil GeneXpert MTB/RIF dan sugestif atau non-sugestif TB berdasarkan rontgen toraks. Data kemudian dianalisis menggunakan uji Cohen’s Kappa (k).Hasil. Terdapat 207 kasus dugaan TB paru pada anak dengan sebagian besar subjek berusia 0- <5 tahun (56,0%), dengan usia median 48 bulan (rentang usia 4-209 bulan). Berdasarkan hasil rontgen toraks, 68,5% pasien dinyatakan sugestif TB, sedangkan 31,4% dinyatakan non-sugestif TB. Berdasarkan GeneXpert MTB/RIF, 16,9% pasien terdeteksi TB dan 83,0% tidak terdeteksi TB. Tingkat kesesuaian antara rontgen toraks dan GeneXpert MTB/RIF adalah k= 0,108 (p=0,005).Kesimpulan. Tingkat kesesuaian antara rontgen toraks dan GeneXpert MTB/RIF tergolong rendah. 
Nilai Diagnostik Neutrophil Gelatinase-Associated Lipocalin Urin, Kelainan Urinalisis, dan Kombinasi Keduanya pada Infeksi Saluran Kemih Anak Usia 2–5 Tahun Estetika, Citra; Pardede, Sudung O.; Munasir, Zakiudin; Supriyatno, Bambang; Prawitasari, Titis; Yanuarso, Piprim Basarah
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.137-45

Abstract

Latar belakang. Infeksi saluran kemih (ISK) pada anak memiliki manifestasi klinis yang tidak khas sehingga sulit untuk diagnosis dini. Biakan urin memerlukan waktu hingga lima hari sehingga dapat menyebabkan keterlambatan terapi serta tingginya komplikasi ISK. Kelainan urinalisis yang saat ini digunakan masih memiliki spesifisitas yang rendah. Tujuan. Mengetahui nilai diagnostik Neutrophil gelatinase-associated lipocalin (NGAL) urin, kelainan urinalisis, dan kombinasi keduanya untuk mendiagnosis dini ISK pada anak usia 2-5 tahun.Metode. Uji diagnostik menggunakan biakan urin sebagai baku emas dengan desain potong lintang pada anak berusia 2-5 tahun dengan tersangka ISK dan dirawat di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo.Hasil. Pemeriksaan NGAL urin diketahui memiliki sensitivitas 85,7% (IK95%: 63,6-96,9%), spesifisitas 74,3% (IK95%: 57,8-86,9%), positive predictive value 64,3% (IK95%: 50,6–75,9%), dan negative predictive value 90,6% (IK95%: 76,9-96,5%) pada anak dengan minimal satu kelainan urinalisis. Pemeriksaan NGAL urin hanya meningkatkan spesifisitas kelainan urinalisis berupa leukosituria saja dan tidak meningkatkan spesifisitas pada yang telah memiliki tiga kelainan urinalisis. Kesimpulan. Neutrophil gelatinase-associated lipocalin urin tidak dianjurkan untuk meningkatkan spesifisitas urinalisis dalam diagnosis ISK pada anak usia 2–5 tahun. Gabungan tiga kelainan urinalisis tanpa NGAL urin sudah memiliki spesifisitas yang baik. Perlu dilakukan penelitian biomarker lain untuk mendiagnosis dini ISK dengan lebih baik.
Gangguan Pendengaran pada Anak dengan Sindrom Bartter Muyassaroh, Muyassaroh; Pratomo, Santo Mudha; Muryawan, Heru
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.183-8

Abstract

Latar belakang. Sindrom Bartter merupakan gangguan tubulus ginjal ditandai dengan hiperaldosteronisme sekunder, alkalosis metabolik hipokalemia, disertai tekanan darah yang normal atau rendah. Gangguan elektrolit akibat kelainan ginjal, berpengaruh pada telinga bagian dalam mengakibatkan gangguan pendengaran. Tujuan. Mengetahui gangguan pendengaran pada anak dengan Sindrom Bartter. Metode. Dilakukan pencarian di PubMed, Google Schoolar, dan Cochrane dengan menggunakan kata kunci “Hearing loss”, “barter syndrome”, dan “hypokalemia”. Hasil pencarian dievaluasi menggunakan kriteria eksklusi dan inklusi. Selanjutnya dilakukan telaah kritis dengan memperhatikan validitas, kepentingan dan penerapan pada pasien terhadap artikel lengkap dari studi yang terseleksi. Hasil. Diperoleh satu studi yang relevan dengan pertanyaan klinis dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Luaran dari studi ini memperlihatkan bahwa terdapat pengaruh gangguan pendengaran pada pasien dengan Sindrom Bartter.Kesimpulan. Gangguan elektrolit pada anak dengan Sindrom Bartter memengaruhi pendengaran. Tata laksana farmakologi dan rehabilitasi dapat mengatasi gangguan komunikasi yang terjadi. 
Nilai Rasio Neutrofil Limfosit dan Red Cell Distribution Width pada Neonatus Sepsis Machya, Farish; Darussalam, Dora; Herdata, Heru Noviat; Haris, Syafruddin; Edward, Eka Destianti; Dimiati, Herlina
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.146-51

Abstract

Latar belakang. Insiden sepsis pada negara berkembang sampai saat ini masih tinggi. Banyaknya faktor risiko yang memengaruhi, menjadikan sepsis sebagai penyumbang tingginya angka kematian pada bayi. Diagnosis yang seringkali terlambat ditegakkan karena pemeriksaan kultur darah sebagai Gold Standard baru bisa didapatkan hasilnya setelah beberapa hari. Deteksi dini sepsis neonatorum dapat diltegakkan salah satunya dengan pemeriksaan rasio neutrofil limfosit dan red cell distribution width.Tujuan. Menilai rasio neutrofil limfosit, red cell distribution width, dan faktor risiko pada neonatus dengan diagnosis sepsis di neonatal intensive care unit - NICU Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh dengan luaran kematian.Metode. Penelitian desain kohort retrospektif dengan data rekam medis neonatus di NICU Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh, dari Februari hingga Oktober 2023. Sebanyak 43 neonatus dengan diagnosis sepsis yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografis, hasil laboratorium, serta luaran klinis. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square dan analisis multivariat dengan SPSS versi 20.0.Hasil. Diperoleh 88,3% neonatus menunjukkan peningkatan NLR, dan 86,05% mengalami peningkatan RDW. Terdapat hubungan signifikan antara metode persalinan sectio caesaria (p<0,03) dengan peningkatan risiko mortalitas. Neonatus dengan berat badan ?2500 gram dan usia gestasi preterm lebih sering mengalami peningkatan NLR dan RDW. Kesimpulan. Peningkatan nilai rasio neutrofil limfosit lebih banyak terjadi pada neonatus sepsis dibandingkan nilai red cell distribution width.
Sindrom Nefrotik Monogenik: Pendekatan Klinis dan Diagnosis Fahlevi, Reza; Trihono, Partini Pudjiastuti; Muktiarti, Dina; Wahidiyat, Pustika Amalia; Hidayati, Eka Laksmi; Hafifah, Cut Nurul
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.189-96

Abstract

Sindrom nefrotik merupakan penyakit ginjal yang sering ditemukan pada anak-anak, dengan insiden 1-3 per 100.000 anak di bawah usia 16 tahun. Sekitar 10-20% anak dengan sindrom nefrotik mengalami sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS), dan 10-30% dari kasus ini disebabkan oleh kelainan genetik. Pada SNRS monogenik, terdapat dua jenis yaitu sindromik (dengan gejala ekstra-renal) dan non-sindromik (tanpa gejala ekstra-renal). Penanganan SNRS memerlukan pendekatan klinis yang berbeda tergantung pada etiologi genetiknya. Pemeriksaan genetik, termasuk gen tunggal, panel multigen, dan genomik komprehensif, dapat mengidentifikasi varian patogenik, menetapkan diagnosis yang akurat, menyesuaikan terapi (termasuk penghentian terapi imunosupresan dan pemberian terapi yang lebih spesifik) konseling genetik, serta penanganan komprehensif terhadap manifestasi ekstra-renal terkait. Oleh karena itu, pendekatan klinis yang efektif harus didasarkan pada hasil pemeriksaan genetik untuk pengelolaan yang optimal dan konseling yang lebih tepat.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue