cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
ISSN : 25284576     EISSN : 26157411     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Padjadjaran. Diterbitkan Atas Kerjasama Program Studi Agribisnis dan Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Unpad Dengan PERHEPI Komisariat Bandung Raya.
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
“IJON YANG TAK LEKANG OLEH WAKTU” ALASAN SISTEM INI MASIH MENJADI TRADISI PETANI PADI Arumandani, Sekar; Safi'i, M. Aris; Adinugraha, Hendri Hermawan
Agricore Vol 9, No 2 (2024): Volume 9 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v9i2.59044

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji persistensi sistem ijon sebagai tradisi di kalangan petani padi di Indonesia, meski terdapat opsi pembiayaan lain. Identifikasi masalah meliputi alasan petani tetap memilih sistem ijon meskipun terjebak dalam siklus hutang dan harga rendah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ijon bertahan karena faktor sosial, budaya, serta keterbatasan akses ke keuangan formal. Relasi sosial dengan tengkulak memengaruhi keputusan petani, yang melihatnya sebagai solusi cepat. Sistem ini juga mulai beradaptasi dengan teknologi, namun penggunaannya belum merata. Kesimpulannya, meski sistem ijon dianggap merugikan, ia bertahan karena mampu menjawab kebutuhan mendesak petani. Disarankan adanya kebijakan yang meningkatkan akses ke pembiayaan lebih adil, untuk membantu petani bertransisi dari ketergantungan ijon.Kata kunci: Sistem ijon, petani padi, keterbatasan akses.AbstractThis study examines the persistence of the ijon system as a tradition among rice farmers in Indonesia, despite the availability of other financing options. Problem identification includes the reasons why farmers continue to choose the ijon system despite being trapped in a cycle of debt and low prices. The research method used is qualitative with a case study approach, involving in-depth interviews and observations. The results of the study indicate that the ijon system persists due to social and cultural factors, as well as limited access to formal finance. Social relations with middlemen influence farmers' decisions, who see it as a quick solution. This system has also begun to adapt to technology, but its use is not yet evenly distributed. In conclusion, although the ijon system is considered detrimental, it persists because it is able to answer the urgent needs of farmers. It is recommended that there be policies that increase access to fairer financing, to help farmers transition from dependence on ijon.Keywords: Ijon system, rice farmers, limited access.
ANALISIS WILAYAH UNGGULAN PERKEBUNAN: KOMODITAS TEBU (Saccharum officinarum Linn) Heryanto, Mahra Arari; Pardian, Pandi; Nugraha, Adi
Agricore Vol 9, No 2 (2024): Volume 9 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v9i2.61406

Abstract

AbstrakTebu (Saccharum officinarum Linn) adalah bahan baku industri gula yang merupakan salah satu komoditas bahan pokok konsumsi masyarakat Indonesia yang terus meningkat dari waktu ke waktu sejalan bertambahnya penduduk baik untuk konsumsi rumah tangga maupun industri. Secara geografis tanaman tebu terkonsentrasi di sedikit wilayah saja, yaitu di pulau Jawa, sebagian kecil Sumatera dan Sulawesi. Tulisan ini bertujuan memetakan provinsi-provinsi di Indonesia yang menjadi wilayah unggulan komoditas tebu. Pendekatan yang digunakan kombinasi tipologi antara LQ (Location Quotient) dan DLQ (Dynamic Location Quotient). Wilayah unggulan untuk komoditas tebu harus memenuhi kriteria sebagai basis produksi pada periode tertentu dan berpotensi terus menjadi basis untuk masa yang akan datang dilihat dari kecenderungan (tren) basis produksinya. Wilayah-wilayah unggulan tebu yaitu provinsi Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Ironinya, 2 dari 3 wilayah tersebut bukan daerah produsen utama tebu di Indonesia dengan kontribusi total keduanya yang sangat kecil (hanya 2,5 persen saja) terhadap produksi tebu nasional. Sebagian besar provinsi penghasil tebu (82 persen), walau merupakan basis (dilihat dari LQ) atau sentra produksi utama, tetapi dari sisi kecenderungan (analisis DLQ) atau tren menunjukan penurunan dalam 10 tahun terakhir. Diperlukan strategi khusus untuk meningkatkan laju pertumbuhan produksi tebu di wilayah sentra agar dapat terus berkembang untuk tahun-tahun berikutnya.Kata kunci: Sentra produksi, analisis tren, industri gula.AbstractSugarcane (Saccharum officinarum Linn) serves as a primary raw material for the sugar industry, which is one of the staple commodities for Indonesian consumption. The demand for sugar continues to rise due to population growth, both for household and industrial purposes. Geographically, sugarcane cultivation is concentrated in limited areas, primarily on the island of Java, with smaller distributions in Sumatra and Sulawesi. This study aims to identify and map the leading sugarcane-producing provinces in Indonesia. The analysis employs a typological approach that integrates the Location Quotient (LQ) and Dynamic Location Quotient (DLQ) methods. A province is considered a leading sugarcane-producing region if it has historically functioned as a production base and demonstrates the potential to remain a production center in the future, based on production trend analysis. The findings indicate that Central Java, the Special Region of Yogyakarta, and South Sulawesi emerge as leading sugarcane-producing areas. However, paradoxically, two of these three regions contribute minimally to national sugarcane production, accounting for only 2.5% of total output. Moreover, 82% of the major sugarcane-producing provinces, despite serving as current production bases (based on LQ analysis), exhibit a declining production trend over the past decade (as indicated by DLQ analysis). These findings highlight the urgent need for strategic interventions to enhance sugarcane production growth in core production regions to ensure their sustainability in the future.Keywords: production base, trend analysis, sugar industry.
STRATEGI BERSAING PT. KEBUN SAYUR SURABAYA MENGGUNAKAN SEGITIGA POSITIONING, DIFFERENTIATION, BRAND (PDB) Ulfa, Maria; Hayati, Mardiyah
Agricore Vol 9, No 2 (2024): Volume 9 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v9i2.58178

Abstract

AbstrakPT. Kebun Sayur Surabaya merupakan usaha  sayuran hidroponik khususnya selada yang berdiri sejak 14 Juni 2014. Usaha ini kurang mampu dalam membangun brand di benak pelanggan, terbukti dari views di akun instagramnya yang semakin menurun sejak tidak aktif selama dua tahun akibat adanya pandemi Covid-19 pada tahun 2020 lalu yang menyebabkan penurunan pendapatan sebesar 80% pada waktu itu. Dalam konteks ini, konsep Segitiga Positioning, Differentiation, Brand (PDB) menawarkan kerangka untuk mengembangkan strategi bersaing bagi PT. Kebun Sayur Surabaya. Maka tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi strategi positioning, diferensiasi, dan membangun brand yang kuat melalui positioning dan diferensiasi. Penggunaan informan dengan metode triangulasi sehingga diperoleh 3 jenis informan, yaitu Bapak Mehdy dan pegawai sebagai informan utama, Bapak Yogi sebagai informan kunci dan pelanggan sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. Kebun Sayur Surabaya memposisikan dirinya melalui tiga atribut, yaitu kualitas produk, harga terjangkau dan layanan pelanggan yang baik. Strategi diferensiasi yang diterapkan berdasarkan keberagaman produk, kemudahan mengakses produk dengan menggunakan platform digital serta sistem pengiriman mandiri. Brand yang dimiliki “Kebun Sayur Surabaya (KSS)”. Saran yang diberikan agar dapat mempertahankan atau meningkatkan kualitas produk dan layanan, menambah keberagaman sayuran dan memaksimalkan penggunaan sosial media agar lebih dikenal oleh banyak orang.Kata kunci: Hidroponik, PDB, pemasaran, strategi bersaing.AbstractPT. Kebun Sayur Surabaya is a hydroponic vegetable business, especially lettuce which was established on June 14, 2014. This business is less able to build a brand in customer’s minds, proven by the views on Instagram account which have decreased since being inactive for two years due to the Covid-19 pandemic in 2020 which caused an 80% drop in revenue at that time. In this context, the Positioning, Differentiation, Brand (PDB) Triangle concept offers a framework for developing competitive strategy for PT. Kebun Sayur Surabaya. So the purpose of this study is to identify positioning, differentiation, and build a strong brand through that positioning and differentiation. The use of informants with the triangulation method and obtained 3 types of informants, namely Mr. Mehdy and employees as the main informant, Mr. Yogi as the key informant and customers as supporting informants. The result of this study shows that PT. Kebun Sayur Surabaya do the position itself through three attributes, product quality, affordable price and good customer service. The differentiation strategy is based on product diversity, ease of accessing products by using the digital platform and independent delivery system. The brand owned is "Kebun Sayur Surabaya (KSS)". The suggestions given are to maintain or improve the quality of products and services, increase the diversity of raw vegetables and maximize the use of social media to be better known by more people.Keywords: Competitive Strategy, Hydrophonic, Marketing, PDB
STRATEGI PEMBERDAYAAN KOPERASI “LOLIT TUNGRO” DALAM MENDUKUNG PEREKONOMIAN PETANI Akhsan, Akhsan; Rahim, Abd
Agricore Vol 9, No 2 (2024): Volume 9 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v9i2.59437

Abstract

AbstrakKoperasi Lolit Tungro merupakan salah satu koperasi yang bergerak di bidang pengembangan agribisnis pedesaan. Koperasi Lolit Tungro senantiasa berupaya untuk mensejahterakan anggota dan petani melalui berbagai strategi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Srategi yang digunakan oleh koperasi Lolit Tungro untuk meningkatkan produktivitas petani yang diharapkan berimbas pada perbaikan perekonomian petani. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif-interaktif yang menekankan pada pendalaman bahan kajian kepada objek penelitian. Data yang diperoleh dilakukan proses reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh strategi koperasi Lolit Tungro dalam mendukung pertanian yaitu: Peningkatan Kapasitas Anggota, Pengembagan usaha anggota, dan peningkatan kesejahteraan anggota.Kata Kunci: Koperasi, strategi, ekonomi.AbstractLolit Tungro Cooperative is a rural agribusiness co-op working to improve the lives of farmers and members. This study looks into the strategies they use to help farmers boost their productivity and, in turn, their economic situation. Using a qualitative-interactive approach, we delved deep into the cooperative's operations. Our findings show that Lolit Tungro focuses on three main strategies: enhancing members' skills, growing their businesses, and improving their overall well-being.Keywords: Cooperative, strategy, economy.
PREFERENSI KONSUMEN PAKETAN SAYURAN SIAP MASAK DI SAYURYUK.COM KOTA SAMARINDA Ramadhani, Recha Rezky; Balkis, Siti; Mariyah, Mariyah
Agricore Vol 9, No 2 (2024): Volume 9 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v9i2.56269

Abstract

AbstrakSayuran siap masak memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga tanpa memerlukan waktu lama dalam proses memasak.  Preferensi konsumen menjadi kunci untuk mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan dan membuka peluang bagi industri pangan untuk memenuhi permintaan masyarakat akan sayuran siap masak. Tujuan penelitian untuk menganalisis karakteristik konsumen, proses keputusan pembelian dan preferensi konsumen terhadap paketan sayuran siap masak di Sayuryuk.com. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2023-Januari 2024 di Jl. Pakis Merah 19 Blok D No. 676, Samarinda Utara. Pemilihan responden menggunakan teknik non probability sampling dan penentuan sampel purposive sampling dengan jumlah sampel 66 responden. Preferensi konsumen paketan sayuran siap masak di Sayuryuk.com diukur dari dua indikator dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA) dan Customer Satisfaction Index (CSI). Hasil penelitian menunjukkan karakteristik konsumen Sayuryuk.com merupakan perempuan, pendidikan terakhir SMA, usia 21-30, berdomisili di Samarinda utara, memiliki pendapatan/bulan Rp1.000.000,00-Rp5.000.000,00. Proses keputusan pembelian dipengaruhi oleh kesadaran akan kesehatan, informasi dari teman atau keluarga, dan pengalaman berbelanja sebelumnya, dengan frekuensi pembelian kurang dari 2 kali dalam sebulan memengaruhi keputusan pembelian. Atribut yang dianggap paling penting adalah kesegaran, sementara atribut kemasan dinilai memiliki kinerja yang sangat baik. Tingkat kepuasan konsumen terhadap paketan sayuran siap masak di Sayuryuk.com sangat puas mencapai 83,78%.Kata kunci: Atribut, kepuasan, konsumen, paketan siap masak, preferensi.AbstractReady to cook vegetables provide convenience in meeting the nutritional needs of families without requiring a lengthy cooking process. Consumer preferences are key to achieving sustainable food resilience and present opportunities for the food industry to meet the demand for ready to cook vegetables in the community. The purpose of the research is to analyze consumer characteristics, purchasing decision process and consumer preferences towards packages of cooked vegetables at Sayuryuk.com. The research conducted from October 2023 to January 2024 at Jl. Pakis Merah 19 Block D No. 676, North Samarinda. Selection of respondents using non-probability sampling techniques and purposive sample determination with a total sample of 66 respondents. The consumer preference for cooked vegetable packages on Sayuryuk.com is measured from two indicators using the Importance Performance Analysis (IPA) and Customer Satisfaction Index methods. (CSI). The results of the research show that the characteristics of the consumer Sayuryuk.com is a woman, high school graduate, aged 21-30, resident in north Samarinda, has a monthly income of Rs 1,000,000,00-Rp5,000,000,00. The purchase decision process is influenced by health awareness, information from friends or family, and previous shopping experience, with the frequency of purchases less than 2 times a month affecting the purchase decision. The attribute that is considered most important is freshness, while the packaging attributes are rated to have excellent performance. The consumer satisfaction rate with the cooked vegetable package at Sayuryuk.com was very satisfied at 83.78%.Keywords: Attribute, Cooked Packages, Customer, Preferences, Satisfaction.
MENDORONG KEBERLANJUTAN USAHATANI PADI: TANTANGAN SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN TASIKMALAYA Nugraha, Adi; Kurnia, Ganjar
Agricore Vol 9, No 2 (2024): Volume 9 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v9i2.61536

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan natara faktor sosial ekonomi dan kinerja usahatani serta kontribusinya terhadap pemenuhan pengaluaran rumah tangga petani padi di Kabupaten Tasikmalaya. Survei melibatkan 258 responden yang dipilih secara acak di empat kecamatan produsen padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas petani mengelola lahan sempit, yang meyebabkan rendahnya efisiensi dan profitabilitas usahatani akibat keterbatasan skala ekonomi. Struktur usia petani yang didomonasi kelompok usia tua (>40 tahun) dan tingkat pendidikan yang rendah menjadi penghambat adopsi teknologi dan inovasi. Kontribusi usahatani terhadap pemenuhan kebutuhan rumah tangga masih terbatas, terutama bagi petani dengan lahan kecil. Temuan ini menegaskan perlunya kebijakan redistribusi lahan, peningkatan akses terhadap teknologi, pelatihan pertanian, dan regenerasi petani muda untuk memperkuat keberlanjutan sektor pertanian.Kata kunci: usahatani padi, faktor sosial ekonomi, efisiensi, profitabilitas, keberlanjutan.AbstractThis study aims to anlalyze the relatinship between socio-economic factors and farm performance, as well as their contribution to meeting household expenditures among paddy farmers in Tasikmalaya Regency. The survey involved 258 randomly selected respondents from four rice-producing districts. The findings reveal that the majority of farmers operate on small plots of land, resulting in low farming efficiency and profitability due to limited economies of scale. The age structure of farmers, dominated by those over 40 years old, and the low level of education hinder the adoption of technology and innovations. The contribution of rice farming to meeting household needs remains limited, particularly for farmers with small landholdings. These findings highlight the need for policies focusing onland redistribution, improved access to technology, agricultural training, and the regeneration of younger farmers to enhance the sustainability of the agricultural sector.Keywords: paddy farming, socio-economic factors, efficiency, profitability, sustainability.
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PRODUK KERIPIK PISANG PADA KWT NINE SERU DI DESA LANTAN Puspayani, Ni Luh Mira; Efendy, Efendy; Mulyawati, Sri
Agricore Vol 9, No 2 (2024): Volume 9 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v9i2.58198

Abstract

AbstrakAnalisis kelayakan usaha dilakukan terhadap aspek keuangan dari sebuah usaha untuk menentukan apakah usaha tersebut memberikan manfaat ekonomi atau tidak. Namun diketahui terdapat keterbatasan pengetahuan pelaku usaha (KWT Nine Seru) dalam menilai usahanya. Oleh karena itu, diperlukan analisis kelayakan usaha untuk menilai tingkat penerimaan dan pendapatan dari usaha keripik pisang yang dikelola. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan dari usaha keripik pisang yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Nine Seru di Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. Metode yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan kuantitatif. Analisis data dilakukan dengan teknik R/C ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha produk keripik pisang ini memiliki prospek yang menjanjikan dan memberikan keuntungan finansial dengan pendapatan bersih sebesar Rp.450.200,40 perbulan. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai R/C ratio sebesar 1,245 menunjukkan memenuhi syarat kelayakan finansial, yang berarti pendapatan yang dihasilkan cukup untuk menutupi biaya produksi dan menghasilkan keuntungan.Kata kunci: Kelayakan usaha, keripik pisang, KWT Nine Seru, Desa LantanAbstractThe feasibility analysis of a business focuses on the financial aspects to determine whether the venture provides economic benefits. However, it has been observed that there is a lack of knowledge among the business actors (KWT Nine Seru) in evaluating their operations. Therefore, a feasibility analysis is necessary to assess the level of revenue and income from the banana chip business they manage. This study aims to analyze the feasibility of the banana chip business operated by the Women Farmers Group (KWT) Nine Seru in Lantan Village, Batukliang Utara District, Central Lombok Regency. The methodology employed includes descriptive and quantitative analysis. Data analysis is conducted using the R/C ratio technique. The findings indicate that the banana chip product business has promising prospects and generates financial gains, with a net income of Rp.450.200,40 per month. Based on the analysis results, an R/C ratio of 1.245 was obtained, which signifies that it meets the financial feasibility criteria, meaning that the revenue generated is sufficient to cover production costs and yield a profit.Keywords: Business feasibility, banana chips, KWT Nine Seru, Lantan Village
PERAN PENYULUH PERTANIAN TERHADAP PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI PADI DI DESA PADANG KECAMATAN GANTARANG KABUPATEN BULUKUMBA Magfira, Nahda Tul; Mahmud, Musdali Ifa; Baso, andi kasirang T; Ibrahim, Helda; Yunus, Awaluddin
Agricore Vol 10, No 1 (2025): Volume 10 No 1, Juni 2025
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i1.61830

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji peran penyuluh pertanian dalam pengembangan kelompok tani padi di Desa Padang, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba. Latar belakang masalah berfokus pada kurang optimalnya pemanfaatan kelompok tani sebagai sarana peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani, meskipun pertanian menjadi sektor vital bagi perekonomian Indonesia. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pelaksanaan kegiatan penyuluhan dan peran penyuluh dalam mendukung pengembangan kelompok tani. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi terhadap kelompok tani serta penyuluh setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluh berperan sebagai fasilitator, motivator, dan inovator melalui kegiatan diskusi rutin, pendampingan teknis, serta distribusi bibit dan pupuk. Namun, tantangan utama terletak pada belum maksimalnya partisipasi anggota kelompok tani dalam mengadopsi teknologi pertanian modern dan keterbatasan akses pemasaran. Meski demikian, interaksi aktif antara penyuluh dengan petani mampu meningkatkan koordinasi dan membuka peluang peningkatan produksi. Temuan ini mengindikasikan perlunya sinergi kebijakan pemerintah dengan program penyuluhan berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas kelompok tani secara holistik.Kata kunci : Penyuluh pertanian, kelompok tani, pengembangan kelompok tani.AbstractThis research examines the role of agricultural extension officers in the development of rice farmer groups in Padang Village, Gantarang Sub-district, Bulukumba Regency. The background of the problem focuses on the less than optimal utilization of farmer groups as a means of increasing farmers' productivity and welfare, despite agriculture being a vital sector for the Indonesian economy. The research objective was to analyze the implementation of extension activities and the role of extension workers in supporting the development of farmer groups. The research method used a qualitative approach with data collection techniques through observation, in-depth interviews, and documentation studies of farmer groups and local extension officers. The results showed that extension officers play a role as facilitators, motivators, and innovators through routine discussion activities, technical assistance, and distribution of seeds and fertilizers. However, the main challenge lies in the lack of participation of farmer group members in adopting modern agricultural technology and limited access to marketing. However, active interaction between extension workers and farmers can improve coordination and open up opportunities for increased production. The findings indicate the need for government policy synergy with sustainable extension programs to strengthen the capacity of farmer groups holistically.Keywords: Agricultural extension, farmer groups, farmer group development.
Analisis Optimalisasi Produksi Pada Pabrik Tahu Tira Boga Sejahtera (TBSA) Kota Bekasi Aisyah, Aisyah; Wulandari, Yeni Sari; Wicaksana, Indrajit
Agricore Vol 10, No 1 (2025): Volume 10 No 1, Juni 2025
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i1.62860

Abstract

AbstrakPabrik Tahu Tira Boga Sejahtera (TBSA) menghadapi ketidakseimbangan antara kapasitas produksi dan permintaan pasar, yang menyebabkan kekurangan produksi di beberapa periode. Penelitian ini bertujuan menentukan kombinasi produksi optimal untuk memaksimalkan keuntungan menggunakan metode Linear Programming, dilengkapi analisis primal, dual, sensitivitas, serta perhitungan Revenue Cost Ratio (R/C Ratio). Data yang digunakan mencakup kapasitas produksi, biaya bahan baku, harga jual, dan permintaan Januari–Desember 2024. Hasil analisis menunjukkan kombinasi optimal per hari adalah 1.080 unit tahu putih, 880 unit tahu kuning, 920 unit tahu segitiga, dan 620 unit tahu pong, dengan keuntungan maksimal harian sebesar Rp1.995.000,00. Analisis dual mengungkapkan bahwa kacang kedelai dan kayu bakar digunakan sepenuhnya, sedangkan tenaga kerja masih tersisa 9,34 jam. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa penambahan bahan baku masih memungkinkan, tetapi pengurangan di bawah batas tertentu mengubah solusi optimal. Skenario menunjukkan bahwa peningkatan bahan baku dengan jam kerja tetap (Kondisi Optimal 1) menghasilkan keuntungan lebih besar, yaitu Rp2.448.500,00, dibandingkan dengan penyesuaian jam kerja tanpa menambah bahan baku (Kondisi Optimal 2), yang hanya menghasilkan keuntungan Rp1.995.000,00. R/C Ratio masing-masing adalah 4,74 dan 4,65. Disarankan agar perusahaan menambah bahan baku tanpa menambah tenaga kerja untuk meningkatkan efisiensi dan keuntungan.Kata kunci: Linear programming, optimalisasi produksi, tahu.AbstractTira Boga Sejahtera (TBSA) Tofu Factory faces an imbalance between production capacity and market demand, which causes production shortages for several periods. This study aims to determine the optimal production combination to maximize profits using the Linear Programming method, equipped with primal, dual, sensitivity analysis, and Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) calculations. The data used include production capacity, raw material costs, selling prices, January–December 2024 demand. The results of the analysis show that the optimal combination per day is 1,080 units of white tofu, 880 units of yellow tofu, 920 units of triangular tofu, and 620 units of pong tofu, with a maximum profit of IDR 1,995,000.00. The dual analysis revealed that soybeans and firewood were fully utilized, while labor was still 9.34 hours remaining. Sensitivity analysis indicates that increasing raw materials is still feasible, but reducing them below a minimum threshold alters the optimal solution. The scenario shows that increasing raw materials without extending working hours (Optimal Condition 1) results in a higher profit of IDR 2,448,500 compared to adjusting working hours without increasing raw materials (Optimal Condition 2), which only yields IDR 1,995,000. The R/C Ratio is 4.74 and 4.65, respectively. It is recommended that the company add raw materials without adding workers to increase efficiency and profit.Keywords: Linear programming, production optimization, tofu.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KUNJUNGAN KONSUMEN KE COFFEE GARUNG Trivita, Rara Annisa; Wulandari, Eliana
Agricore Vol 10, No 1 (2025): Volume 10 No 1, Juni 2025
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i1.63589

Abstract

AbstrakSaat ini kopi menjadi bagian penting dari budaya dan gaya hidup masyarakat Indonesia. Keberadaan kedai kopi memberikan kesempatan kepada masyarakat sosial untuk bertemu, bercengkrama, berdiskusi terkait aktivitas pekerjaan atau pendidikan, maupun menghabiskan waktu untuk diri sendiri atau kelompok. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kunjungan konsumen ke Coffee Garung. Faktor-faktor yang memengaruhi kunjungan konsumen meliputi bauran pemasaran, yaitu produk, harga, tempat, promosi, orang, proses, dan bukti fisik. Penelitian ini menerapkan pendekatan metode survei. Faktor-faktor yang memengaruhi kunjungan konsumen ke Coffee Garung diukur melalui uji regresi linear berganda. Hasil menjelaskan bahwa secara keseluruhan variabel produk, harga, tempat, promosi, orang, proses, dan bukti fisik memberikan pengaruh secara signifikan terhadap minat kunjungan konsumen. Apabila dikaji secara parsial, variabel harga dan produk memberikan pengaruh secara signifikan terhadap minat kunjungan konsumen.Kata kunci: Kopi, regresi linear berganda, minat kunjungan.AbstractCoffee has become an essential element within Indonesian culture and lifestyle. The presence of coffee shops provides opportunities for socially active individuals to socialize, engage in discussions related to work or education, or simply spend time alone or with others. This study aims to investigate the factors that influence consumer interest in visiting Coffee Garung. The study focuses on various elements of the marketing mix, containing product, price, place, promotion, people, process, and physical evidence. The study applies a survey method. Factors that influence consumer visits to Coffee Garung were measured through multiple linear regression analysis. The study reveals that simultaneously the variables of product, price, place, promotion, people, process, and physical evidence effect on consumer visit interest significantly. When performing partial analysis, the price and product variables significantly effect on consumer visit interest.Keywords: Coffee, multiple linear regression, visitation interest.