p-Index From 2021 - 2026
5.109
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Ritual Merenden Tedong sebagai Penyelesaian Konflik Masyarakat Mamasa Stepanus Stepanus; Izak Lattu; Tony Tampake
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 5, No 2 (2020): ANTHROPOS JANUARI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v5i2.14392

Abstract

The Merenden Tedong ritual is performed by the Toraja Mamasa tribe in Mamasa Regency, West Sulawesi up to now. This study aims to describe the implementation of the Merenden Tedong ritual of the Mamasa community, and then examine the spiritual values contained therein as a solution to community conflict. The motive for doing this research is the threat of social conflict in the community that can cause social disharmony. The method used in this research is qualitative with a descriptive approach. Data obtained through the method of observation, interviews, and analysis. Interviews were conducted with traditional leaders, community leaders, village government and Merenden Tedong ritual practitioners. This research resulted in the following findings: the implementation of the Merenden Tedong ritual in Mamasa included stages: mediation, deliberation, shaking hands and praying, and eating together. While the spiritual values of the Merenden Tedong ritual include: Ma’bisara, Me’renden Tedong, Sitayuk sikamasei Sirande maya-maya, Mesa Kada di Patuo, patang Kada di Pomate and Sipapada. The spiritual values of the Merenden Tedong ritual are a solution to the Mamasa community's conflict and also serves to build peace.
“Menyama Braya”: Pondasi Utama Relasi Dialog Agama-Agama di Desa Dalung, Bali Ferdinand Ludji; David Samiyono; Izak Y.M. Lattu
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 5, No 2 (2020): ANTHROPOS JANUARI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v5i2.14213

Abstract

The purpose of this study is to describe and analyze the life values of the Balinese "Menyama Braya", as one of the values of "local wisdom" (local wisdom), which will be a common reference as social capital, and can sustainably become the main foundation or foundation in maintain harmony in inter-religious dialogue relations in the village of Dalung, Bali. Through the concept of life "braving", the social cohesion of the Dalung community so far has been maintained. This research uses a qualitative-descriptive approach. Primary data were obtained through in-depth interviews with: village government, religious leaders, and elements of community institutions as representatives of each religion. Finally, the results of the analysis of the data obtained show that "matching braya" can be used as the main foundation of inter-religious dialogue relations in the village of Dalung. By referring to the values of local wisdom which are the heritage of the ancestors as social capital, the Dalung people are able to offer patterns of inter-religious relations that promote relational dialogue and share humanist civilization values. This study aims to examine other social values, which are considered as supporting instruments of the concept of "equalizing braya", especially in building inter-religious dialogue relations to penetrate the boundaries of differences.
Kekuatan Simbolik Beras dalam Ritus Kehidupan Masyarakat Batak Toba Resmi Hutasoit; Izak M. Lattu; Ebenhaizer I Nuban Timo
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 5, No 2 (2020): ANTHROPOS JANUARI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v5i2.14922

Abstract

This article aims to analyze the background or history of rice used as a symbol of spirit strengthening in the rites of life stages in the Batak land which are carried out in the adat of marriage, free from distress, promotion, entering a new home also when the child is baptized. The method used is a qualitative method with interview, observation and literature study techniques. The results found that rice has a sacred value for the Batak people. Rice is generally owned by the rich and poor so that there is social equality so that using rice as a symbol of spirit strengthening. Rice provides physical needs for health. Human physical health is very influential on the human spirit. When giving rice in certain events there is an element of safety, when the rice is placed over the head and scattered. They use rice as a symbol in certain rites from generation to generation from their ancestors. Rice for the Batak has a very high historical value from the process of planting rice to rice. This paper contributes to traditional leaders and young people to preserve and understand the traditions of their ancestors.
Orality and Ritual in Collective Memory: A Theoretical Discussion Izak Y. M. Lattu
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 6, No 2 (2019): Memposisikan "Global South" dalam Peta Kajian Akademik di Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.069 KB) | DOI: 10.22146/jps.v6i2.51580

Abstract

Kajian ini mengeksplorasi oralitas dan ritual dalam memori kolektif dari perspektif sosiologis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pertanyaan tentang bagaimana komunitas dalam masyarakat yang berorientasi lisan kuat menjaga memori kolektif. Sementara dalam masyarakat tertulis kanon merupakan wadah ingatan kolektif. Masyarakat berorientasi lisan yang kuat mempertahankan ingatan dalam kinerja lisan dan ritual. Oralitas menciptakan memori kolektif melalui pelestarian sejarah masa lalu. Kinerja ritual, membawa masa lalu kembali ke masa sekarang untuk mengantisipasi interaksi sosial di masa depan. Oleh karena itu, perangkat mnemonik berfungsi untuk melestarikan nilai-nilai komunal dan untuk mengirimkan narasi komunal ke generasi berikutnya. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan melalui perspektif Durkheimian untuk menjadi batu ujian untuk memahami ritual keagamaan dan memori kolektif dalam masyarakat yang berorientasi lisan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ingatan kolektif dalam masyarakat yang berorientasi pada lisan kuat diciptakan secara kultural melalui bentuk-bentuk oralitas seperti narasi, simbol lisan serta pertunjukan ritual keagamaan.
MEMORI KAIN TENUN : KONTESTASI IDENTITAS KULTURAL SABU DIASPORA DAN GLOBALISASI DI KOTA KUPANG Priskila Ferawati Riwu; Izak Y. M. Lattu; Rama Tulus Pilakoanu
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.796 KB) | DOI: 10.20961/jas.v9i1.40441

Abstract

Textile in the life of the Savu is not only understood as a work of art but as a marker of the Sabu genealogical identity which is divided into two. Hubi ae is for sister's bloodline while hubi is for sister's bloodline. This is where the role of patterns and compositions (motifs) in woven fabrics. Sabu people can find out the origin of the users of woven cloth simply by looking at the motives that exist in the weaving that is used. The purpose of this writing is to explore the understanding of the younger generation of diaspora methamphetamine about their eating of motifs in the woven fabric of Sabu in Kupang City. The author uses qualitative research methods by conducting interviews with young gerenasi, parents, traditional leaders who live in the city of Kupang. Based on the data obtained, the authors found that cultural memory in the narrative of woven cloth as an identity is not interpreted as it should be due to the influence of globalization and the crisis of cultural identity. The author also sees that the government has enacted policies in dealing with an identity crisis, such as the use of woven cloth on certain days and empowering weavers in the regions. The author also proposes several efforts that must be carried out by the government that responds to the needs of the younger generation that are synonymous with technological developments such as making official websites for access to accurate and valid information.Keywords: Young Generation; Globalization; Cultural Identity; Cultural Memory; Textile. AbstrakTekstil dalam kehidupan orang Sabu tidak hanya dipahami sebagai sebuah karya seni melainkan sebagai penanda identitas genealogis orang Sabu yang terbagai dua.  Hubi ae untuk garis keturunan kakak sedangkan hubi iki untuk garis keturunan adik. Disinilah peran dari pola dan komposisi (motif) dalam kain tenunan. Orang Sabu dapat mengetahui asal dari pemakai kain tenun cukup dengan melihat motif yang ada dalam tenun yang digunakan. Penulisan ini bertujuan mengeksplorasi pemahaman generasi muda sabu diaspora mengenai pemakanaan mereka terhadap simbol motif dalam kain tenunan Sabu di Kota Kupang. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara kepada gerenasi muda, orang tua, tokoh adat yang tinggal di kota Kupang. Berdasarkan data yang diperoleh, penulis menemukan bahwa memori budaya dalam narasi kain tenun sebagai identitas tidak dimaknai sebagaimana seharusnya disebabkan karena pengaruh globalisasi dan krisis identitas budaya. Penulis juga melihat bahwa pemerintah telah memberlakukan kebijakan-kebijakan dalam menghadapi krisis identitas, seperti pemakaian kain tenun pada hari-hari tertentu dan memberdayakan para penenun di daerah-daerah. Penulis juga mengusulkan beberapa upaya yang harus dilakukan pemrintah yang menjawab kebutuhan generasi muda yang identik dengan perkembangan teknologi seperti pembuatan website resmi untuk akses informasi yang akurat dan valid.Kata kunci : Generasi Muda; Globalisasi; Identitas Kultural; Memori Budaya; Tekstil.
MENIKAHKAN KELUARGA BESAR: Konstruksi Relasi Sosial dalam Ritual Aruno Lahitolo Mananol Clara Monica Anakotta; Izak Lattu; Jacob Daan Engel
Jurnal Sosiologi Agama Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.688 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2019.131-01

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisa bentuk ritual pernikahan adat Aruno Lahitolo Mananol di Negeri Amahai, Maluku yang menentukan hubungan sosial dan integrasi budaya. Ritual pernikahan berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk mengintegrasi pengantin perempuan ke dalam keluarga besar pengantin laki-laki. Lebih dari itu, ritual aruno lahitolo mananol mengikat secara sosial keluarga besar kedua pengantin. Berdasarkan teori The Rites of Passage Vaan Gennep (1960) penelitian ini melihat ritual pernikahan sebagai transisi dari satu tahapan ke tahapan kehidupan yang lain. Tahapan pernikahan adalah penyatuan pengantin perempuan ke dalam keluarga besar baru. Penelitian ini juga dipengaruhi oleh teori identitas sosial dari perspektif sosiologi karya Steph Lawler (2014) yang berfungsi sebagai titik berangkat untuk memahami integrasi sosial dari dua klan. Data artikel ini diperoleh dari penelitian lapangan yang menggunakan metode kualitativ melalui wawancara dan observasi peneliti. Artikel ini berkesimpulan bahwa ritual aruno lahitolo mananol menciptakan perasaan terikat pada keluarga atau orang basudara (dibaca: bersaudara) yang melampaui ikatan keluarga biologis sebagai pusat dari integrasi sosial di Negeri Amahai dan Maluku secara umum.Kata kunci: Ritual Pernikahan Adat, Kekeluargaan, Integrasi SosialThis article explores forms of marriage ritual or aruno lahitolo mananol in the Village of Amahai, Maluku that construct social relationships and social integration in the area. The marriage ritual functions as social mechanism to integrate a bride to groom’ clan (mata rumah), but more than that, aruno lahitolo mananol opens avenue for the social integration for bride and groom extensive families. Based on Vaan Gennep (1960) rite of passage theory, the research perceives the marriage ritual as transition from one stage of life to another. The stage is the incorporation state as bride become the member of new clan. Steph Lawler (2014) theory on social identity from sociological perspectives functions as the milestone to understand the social integration of two clans. Data of this article come out from a field research employing qualitative method through interview, and participant observation. The article concludes that ritual of aruno lahitolo mananol creates the sense of kinship (orang basudara) beyond biological siblinghood that central to social integration the village of Amahai and Maluku in general.Keywords: Adat Marriage Ritual, Kinship, Social Integration.
The Role of Social Capital in Families of Different Religions in Salatiga City Erika Tataung; Izak Y. M. Lattu; Sri Suwartiningsih
International Journal of Science and Society Vol 4 No 2 (2022): International Journal of Science and Society (IJSOC)
Publisher : GoAcademica Research & Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/ijsoc.v4i2.461

Abstract

The purpose of this study is to analyze the role of social capital in families of different religions in Salatiga city. The social capital used is from Fukuyama's explanation of trust, norms, and networks. In this study the authors use a qualitative approach, namely, research whose results are in the form of words based on the results of observations and interviews with informants both from body language, behavior, expressions or speech. From the research results analyzed using Fukuyama's Social Capital theory, the results show that families of different religions can live in harmony and harmony because they play social capital, namely trust, norms and networking in family communication and interaction internally and in the surrounding or external environment.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM TATA KELOLA WISATA LIVE-IN DUSUN TERTINGGI DI LERENG MERBABU Evi Maria; Izak Yohan Matriks Lattu; Rini Kartika Hudiono; Purwanto Purwanto
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 3 (2022): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i3.10780

Abstract

ABSTRAKTujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah melakukan penyusunan dan pendampingan pengelolaan wisata live-in dusun tertinggi di lereng Merbabu, yaitu Dusun Ngaduman. Metode pelaksanaan kegiatan ini, ada tiga. Pertama, sosialisasi konsep usaha live-in. Kedua, merancang tata kelola wisata live-in Dusun Ngaduman. Ketiga, pendampingan implementasi rancangan tata kelola. Peserta kegiatan ini adalah pengurus dan anggota Karang Taruna Kridha Bhakti. 40 orang warga menjadi peserta sosialisasi konsep live-in, sedangkan pendampingan implementasi sistem tata kelola live-in dilakukan pada 30 orang pengurus Divisi Live-In. Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan mulai bulan Juni 2022 sampai dengan Agustus 2022. Hasil kegiatan ini adalah peningkatan pemahaman warga dusun atas usaha live-in sebanyak 87,5 persen dan tersedia dokumen sistem tata kelola live-in Dusun Ngaduman. Hasil pendampingan adalah Karang Taruna Kridha Bhakti dapat mengelola usaha live-in sesuai dengan sistem tata kelola yang dibangun pada tahap sebelumnya. Kata kunci: tata kelola; wisata live-in; dusun lereng merbabu. ABSTRACTThis community service activity aims to organize and assist the management of live-in tourism in  Dusun Ngaduman, the highest hamlet on the slopes of Merbabu Mountain. There are three methods of implementing this activity: First, the socialization of the live-in business concept.  Second, designing the management of live-in tourism in Ngaduman Hamlet. Third, assisting the implementation of the governance design. 40 people participated in the socialization of the live-in concept, while another 30 members of the Live-In Division assisted in the implementation of the live-in governance system. This community service program is implemented from June 2022 to August 2022. The result of this activity is an increase in the understanding of the hamlet residents on the live-in business by 87.5 percent and the availability of Ngaduman Dusun live-in governance system document. The result of the mentoring is that Karang Taruna Kridha Bhakti can manage live-in businesses following the governance system built in the previous stage. Keywords: governance; live-in tours; merbabu slope hamlet.
Agama dan Kebangsaan: Pluralitas, Budaya dan Ruang Virtual Izak Y. M. Lattu
Magistrorum et Scholarium: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.105 KB) | DOI: 10.24246/jms.v2i12021p16-26

Abstract

Artikel Pengabdian Kepada Masyarakat ini menggali relasi antara agama dan gereja dengan nasionalisme dalam konteks budaya, pluralitas dan realitas virtual. Kekristenan di Indonesia perlu menggunakan teks politik dan budaya dengan memerhatikan secara serius konteks pluralitas dan cyber untuk mengembangkan konsep teologi lokal yang didasarkan pada dokumen-dokumen politik Indonesia. Berbasis pada teori civil sphere dan virtual space artikel ini mengunakan observasi, penelitian lapangan dan dokumen untuk mengembangkan teologi yang mengarahkan kepada relasi mutual dengan agama-agama lain dan sesama warga bangsa. Memanfaatkan Zoom dan media online kegiatan PkM, menggunakan seminar online, yang dilakukan dalam kerjasama dengan Lakpesdam Nahdlaltul Ulama Sulawesi Tenggara, tanggal 30 Juni 2020. Artikel ini berkesimpulan bahwa dalam konteks Indonesia, teologi Indonesia mengandaikan perlunya teks politik dan budaya untuk membangun lokal teologi yang dapat membangun hubungan saling memahami dengan komunitas agama lain.
Demitologisasi Ulos Pancamot Terhadap Peran Perempuan Dalam Dalihan Natolu (Studi Sosiologis Budaya Simulasi-Simulacra-Hipperealitas) Merwald Tua Philip Simanjuntak; Izak Lattu; Rama Tulus Pilakoannu
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 4 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v5i4.17665

Abstract

Dalam adat pernikahan, juga salah satunya telah mengalami pergeseran kepada pengalaman pribadi terhadap ulos pansamot yang kehilangan partikularitas agama dan budaya. Ulos tersebut menggunakan jenis punca ragi hotang. Jenis yang ulos yang kaya akan makna dalam corak kekayaan-kehormatan-keturunan yang tertuang dalam ulos pancamot. Melalui aksioma budaya dan agama, pemaknaan simbol ulos pancamot bukan hanya sebagai memenuhi hasrat konsumsi lahiriah, melainkan juga hasrat konsumsi batin yang memiliki nilai spiritualitas atas devosi. Hemat penulis, situasi ini meretas kebahagian yang dikukuhkan dengan nilai budaya dan nilai spiritual. Adanya keseimbangan pengalaman spiritual dalam diri seseorang yang melahirkan fondasi kemanusiaan yang menjadi lebih arif dalam tindakan berkeluarga kendati terjadinya paradoks pengalaman
Co-Authors Adriaansz, Sofia Liana Agastya Rama Listya Agus Supratikno Ambakaraeng, Eliazer Anggi Toabnani Apituley, Yohanes Obed Ariyanto, Dani Arthik Davianti Bale, Abraham Malubaya Balla Nggiku, Emanuel Bartalis, Kata-Szilvia Berlian Rambu Pesi Kondi Binsar Ariel Natanael Tambun Bolodadi, Paulus Ngongo Chris Stevany Lombu Clara Monica Anakotta Claudy Yohana Debora Emor Cleta V. K Maitimu Darwin Herlis Manurung David Samiyono Dylan Azarya Radja Hedo Ebenhaizer I. Nuban Timo Erika Tataung Evi Maria Ferdinand Ludji Geraldi Dwi Rizandi Kongkoli Ghiland, Ghiland Gratciadeo Tumbelaka Gunawan Yuli Agung Suprabowo Harlin Palanta Hendrika, Yovania Karubaba Hun Johanis A. Pinatik Hutasoit, Resmi Imanuel Teguh Harisantoso Imelda Baransano Irene Ludji Jacob Daan Engel Joberth Tupan Julliard, Devrinho Justine Saudale Kenneth Garland Numa Jermy Kumowal, Joshua Frans Kusmawanto, Dodi Lamerkabel, David Timothi Latuheru, Angel Christy Lina Sinatra Wijaya Listyani Listyani Lukas, Alma Victoria Anastasia Lukmono, Lobby M.A Therik, Wilson Mahoklory, Novian Hendrik Mariska Lauterboom Melfa F. Sufmera Merwald Tua Philip Simanjuntak Molewe, Adlan Christember Nathalia Debby Makaruku Ngabalin, Marthinus Pandie, Daud Pattiasina, Sharon Michelle O Pinatik, Hun Johanis Alfrits Popang, Kiki Clara Pramono, Muhamad Sidik Prayitno, Iky Sumarthina P. Priskila Ferawati Riwu Purwanto Purwanto Rama Tulus Rama Tulus Pilakoannu Rama Tulus Pilakoanu Rama Tulus Pillakoannu Revaldo Pravasta Julian Mb Salakory Rini Kartika Hudiono Roland Van Ratu Elo Rudolfo Jacob Manusiwa Rupiassa, Dominggus Alexander Agusto Sihombing, Benni Hasiholan Sihombing, Helpin Maryand Simarmata, Rikky Fransiskus Simri R. Runesi Sopacoly, Mick Mordekhai Sri Suwartiningsih Stepanus Stepanus Stepanus Stepanus Sumanto Al Qurtuby Suwarto Suwarto Adi Suwarto Suwarto Tamawiwi, Rio Sario Tampake, Tony R. C. Tampake, Tony Robert Christian Therik, Wilson M A. Tjaja, Broery Doro Pater Tony Robert C. Tampake Tony Robert Christian Tampake Tony Tampake Uktolseja, Frans Widhipangreksa, Raharjo