Claim Missing Document
Check
Articles

TEKANAN SANDWICH SYNDROME: MENGUNGKAP DUKUNGAN SOSIAL DAN KEBERSYUKURAN TERHADAP KEPUASAN HIDUP GENERASI Z DI KARAWANG Dedi Mulyani; Wina Lova Riza; Devi Marganing Tyas
Consilium: Education and Counseling Journal Vol 6 No 2 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Biro 3 Kemahasiswaan dan Kerjasama Universitas Abduracman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/consilium.v6i2.8517

Abstract

Fenomena sandwich syndrome sudah dialami oleh generasi Z yang harus menyeimbangkan kebutuhan pribadi dan keluarga sekaligus wajib bertanggung jawab terhadap orang tua. Kepuasan hidup individu dapat terpengaruh oleh kondisi ini, terutama karena adanya tekanan finansial, emosional, dan psikologis. Dukungan sosial dan kebersyukuran dipandang sebagai faktor yang dapat meningkatkan kepuasan hidup generasi Z dengan sandwich syndrome. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial dan kebersyukuran terhadap kepuasan hidup generasi Z dengan sandwich syndrome di Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling dengan metode snowball sampling. Penelitian ini melibatkan 385 sampel yang diperoleh berdasarkan rumus cochran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dukungan sosial dan kebersyukuran memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan hidup generasi Z dengan sandwich syndrome di Karawang. Kebersyukuran memiliki fungsi internal sebesar 2,1% yang membantu individu memaknai kehidupannya secara positif, sedangkan dukungan sosial adalah faktor yang paling dominan sebesar 57% dalam meningkatkan kepuasan hidup.
Pengaruh Dukungan Sosial dan Self-Efficacy Terhadap Resiliensi pada Generasi Z Dewasa Awal di Karawang Putri Faradilla Gustianty; Wina Lova Riza; Devi Marganing Tyas
Jurnal Diversita Vol. 12 No. 1 (2026): JURNAL DIVERSITA JUNI
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v12i1.17539

Abstract

Generasi Z dewasa awal dihadapkan pada tekanan sosial, akademik, pekerjaan, dan tuntutan kemandirian yang semakin kompleks di era digital. Paparan media sosial, tuntutan masa depan, serta stigma sebagai “Generasi Strawberry” dapat meningkatkan stres, kecemasan, dan depresi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas, dimana pengujian hipotesis dilakukan menggunakan analisis regresi linear berganda. Populasi dalam penelitian ini yaitu Generasi Z pada fase dewasa awal, dengan rentang usia 20–29 tahun, yang berdomisili di Karawang, dengan jumlah populasi sebanyak 404.600 jiwa. Sampel penelitian berjumlah 348 responden yang ditentukan menggunakan tabel Isaac dan Michael dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi skala CD-RISC untuk mengukur resiliensi, MSPSS untuk dukungan sosial, dan GSES-12 untuk self-efficacy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dan self-efficacy secara simultan maupun parsial berpengaruh signifikan terhadap resiliensi. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa resiliensi Generasi Z dewasa awal dapat dipertahankan dan ditingkatkan melalui penguatan self-efficacy dengan dukungan sosial yang memadai.
PENGARUH MENTAL TOUGHNESS TERHADAP COMPETITIVE ANXIETY PADA ATLET KONI KLUNGKUNG 2025 Yohanes Seran; Wina Lova Riza; Dinda Aisha
Bajra : Jurnal Keolahragaan Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Bidang Penelitian dan Pengembangan KONI Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.19920761

Abstract

Kecemasan kompetitif (competitive anxiety) merupakan salah satu kendala psikologis yang sering dialami atlet menjelang dan saat bertanding, yang dapat menurunkan performa. Kondisi ini menjadi perhatian serius dalam psikologi olahraga karena dapat menghambat atlet dalam mencapai potensi terbaiknya, terutama pada ajang bergengsi seperti KONI Klungkung 2025. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh mental toughness terhadap competitive anxiety serta menguji perbedaan competitive anxiety berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tipe olahraga pada atlet KONI Klungkung 2025. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan kausal, melibatkan 399 atlet dari 44 cabang olahraga sebagai responden. Data dikumpulkan melalui skala Sport Mental Toughness Questionnaire (SMTQ) dan Sport Competitive Anxiety Test (SCAT). Analisis data menggunakan regresi linear sederhana dan independent samples t-test dengan bantuan software JASP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan mental toughness terhadap competitive anxiety. Mental toughness memberikan kontribusi sebesar 57,7% dalam menurunkan competitive anxiety. Selain itu, hasil uji beda menunjukkan bahwa competitive anxiety lebih tinggi pada atlet remaja dibandingkan dewasa (p < 0,001), lebih tinggi pada atlet perempuan dibandingkan laki-laki (p < 0,001), serta lebih tinggi pada atlet olahraga individu dibandingkan olahraga grup (p = 0,001). Sebagai rekomendasi, pelatih dan manajemen KONI Klungkung disarankan untuk menyusun program pelatihan mental yang berdiferensiasi berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tipe olahraga guna menurunkan kecemasan kompetitif secara lebih efektif.
The Influence of Alexithymia on the Tendency of Social Media Addiction in Early Adults in Karawang Alifiany Indah Suciaty; Wina Lova Riza; Dinda Aisha
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 4 No. 9 (2024): Journal Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v4i9.1779

Abstract

The internet offers numerous features that simplify activities like communication, information retrieval, and transactions, making social media increasingly accessible. In Indonesia, individuals in their productive years, particularly early adulthood, dominate internet usage. This phase is characterized by repetitive behaviors, which can escalate the intensity of social media use and potentially lead to addiction. One factor influencing this tendency is alexithymia. This study aims to explore the impact of alexithymia on social media addiction tendencies among early adults in Karawang. Employing a quantitative causality design, the research utilized non-probability sampling, specifically snowball sampling, to gather data from 385 respondents aged 20-30 years residing in Karawang. The Toronto Alexithymia Scale (TAS) was used to measure alexithymia, while the Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS) assessed social media addiction tendencies. Reliability was tested using Cronbach's Alpha, with a threshold of > 0.08, while normality was evaluated through the Kolmogorov-Smirnov test at a 5% significance level. Linearity was assessed using an ANOVA test, yielding a significance of 0.468 > 0.05. The results of the simple linear regression test showed a significance value of 0.000 < 0.05, confirming the hypothesis that alexithymia significantly influences social media addiction tendencies in early adulthood in Karawang. The determination test results indicated that alexithymia accounts for 54.2% of the variance in social media addiction tendencies (R-Square = 0.542), with the remaining 45.8% attributed to other variables not examined in this study.
KETIKA AYAH TAK HADIR: PERAN STRATEGI KOPING BERFOKUS PADA MASALAH DAN DUKUNGAN SOSIAL UNTUK MENUMBUHKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGI GENERASI Z DI KABUPATEN KARAWANG: Psikologi Usyie Roihatul Jannah; Wina Lova Riza; Devi Marganing Tyas
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11486

Abstract

Father absence may be associated with various psychological challenges among Generation Z, particularly in self-acceptance, social relationships, and the development of life goals. However, studies simultaneously examining the roles of problem-focused coping and social support in predicting psychological well-being among Generation Z individuals experiencing father absence, particularly in Karawang Regency, remain limited. This study aimed to analyze the roles of problem-focused coping and social support in predicting the psychological well-being of Generation Z individuals experiencing father absence in Karawang Regency. A quantitative approach with a predictive correlational design was employed. The sample consisted of 349 Generation Z respondents selected through nonprobability quota sampling. Data were collected using a problem-focused coping scale, the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), and Ryff’s Psychological Well-Being Scale. The data were analyzed using multiple linear regression with SPSS. The results showed that problem-focused coping and social support jointly played significant roles in predicting psychological well-being. Partially, both problem-focused coping and social support were positive and significant predictors of psychological well-being. Social support demonstrated a stronger predictive role than problem-focused coping. These findings indicate that individuals with a greater ability to address problems actively and higher levels of perceived social support tend to have better psychological well-being. ABSTRAK Ketiadaan peran ayah dapat berkaitan dengan berbagai tantangan psikologis pada Generasi Z, terutama dalam penerimaan diri, hubungan sosial, dan pembentukan tujuan hidup. Namun, penelitian yang secara simultan menguji peran strategi koping berfokus pada masalah dan dukungan sosial dalam memprediksi kesejahteraan psikologis pada Generasi Z yang mengalami ketiadaan peran ayah, khususnya di Kabupaten Karawang, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategi koping berfokus pada masalah dan dukungan sosial dalam memprediksi kesejahteraan psikologis Generasi Z yang mengalami ketiadaan peran ayah di Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif. Sampel penelitian terdiri atas 349 responden Generasi Z yang dipilih melalui teknik sampling nonprobabilitas dengan metode kuota. Data dikumpulkan menggunakan skala strategi koping berfokus pada masalah, Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), dan Ryff’s Psychological Well-Being Scale. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi koping berfokus pada masalah dan dukungan sosial secara bersama-sama berperan signifikan dalam memprediksi kesejahteraan psikologis. Secara parsial, strategi koping berfokus pada masalah dan dukungan sosial masing-masing menjadi prediktor positif dan signifikan terhadap kesejahteraan psikologis. Dukungan sosial menunjukkan peran prediktif yang lebih kuat dibandingkan strategi koping berfokus pada masalah. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan individu dalam menghadapi masalah secara aktif dan semakin besar dukungan sosial yang dipersepsikan, semakin tinggi pula kesejahteraan psikologisnya.
PENGARUH PERSEPSI HARAPAN ORANG TUA DAN SELF-EFFICACY TERHADAP FEAR OF FAILURE PADA PEREMPUAN SULUNG DEWASA AWAL DIKABUPATEN KARAWANG: Psikologi Rifqa Azita; Wina Lova Riza; Mohamad Sopian
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11503

Abstract

Previous studies on fear of failure have generally focused on students or adolescents, while research specifically examining firstborn women in early adulthood, particularly within the social context of Karawang Regency, remains limited. This study examined the predictive roles of perceived parental expectations and self-efficacy in fear of failure among firstborn women in early adulthood in Karawang Regency. A quantitative approach with a predictive correlational design was employed. The participants comprised 349 firstborn women aged 18–40 years who lived in Karawang Regency and were recruited using snowball sampling. Data were collected using the Perception of Parental Expectations Inventory (POPEI), the General Self-Efficacy Scale (GSE), and the Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI), and were analyzed using multiple linear regression. The findings showed that perceived parental expectations and self-efficacy jointly and significantly predicted fear of failure. Perceived parental expectations were a positive predictor, whereas self-efficacy was a negative predictor of fear of failure. Higher perceived parental expectations were associated with a greater tendency to experience fear of failure, whereas higher self-efficacy was associated with a lower tendency to experience it. These findings highlight the importance of realistic, open, and supportive parental communication, as well as efforts to strengthen self-efficacy, to support the psychological well-being of firstborn women in early adulthood. ABSTRAK Penelitian mengenai fear of failure umumnya berfokus pada mahasiswa atau remaja, sedangkan kajian yang secara khusus menelaah perempuan sulung dewasa awal, terutama dalam konteks sosial Kabupaten Karawang, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran prediktif persepsi harapan orang tua dan self-efficacy terhadap fear of failure pada perempuan sulung dewasa awal di Kabupaten Karawang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif. Partisipan penelitian berjumlah 349 perempuan sulung berusia 18–40 tahun yang berdomisili di Kabupaten Karawang dan direkrut menggunakan teknik snowball sampling. Data dikumpulkan menggunakan Perception of Parental Expectations Inventory (POPEI), General Self-Efficacy Scale (GSE), dan Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi harapan orang tua dan self-efficacy secara simultan memprediksi fear of failure secara signifikan. Persepsi harapan orang tua menjadi prediktor positif, sedangkan self-efficacy menjadi prediktor negatif terhadap fear of failure. Semakin tinggi harapan orang tua yang dipersepsikan, semakin tinggi kecenderungan perempuan sulung mengalami fear of failure. Sebaliknya, semakin tinggi self-efficacy, semakin rendah kecenderungan tersebut. Temuan ini menegaskan pentingnya komunikasi harapan orang tua yang realistis, terbuka, dan suportif serta penguatan self-efficacy untuk mendukung kesejahteraan psikologis perempuan sulung dewasa awal.
SELF- DISCLOSURE EMERGING ADULTHOOD PADA SECOND ACCOUNT INSTAGRAM: PERAN INTERPERSONAL TRUST DAN KONTROL DIRI: Psikologi Helga Agustin; Wina Lova Riza; Mohamad Sopian
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11723

Abstract

Second Instagram accounts provide a relatively private space for individuals in emerging adulthood to disclose personal feelings, experiences, and information. However, such openness may increase the risk of excessive disclosure when it is not accompanied by adequate self-regulation. This study aimed to examine the contributions of interpersonal trust and self-control in predicting self-disclosure among users of second Instagram accounts in Karawang. The study employed a quantitative correlational-predictive design. A total of 349 participants aged 18–25 years were recruited through snowball sampling. Data were collected using the Self-Disclosure Scale, Interpersonal Trust Scale, and Brief Self-Control Scale and analyzed using multiple linear regression. The findings showed that interpersonal trust and self-control simultaneously contributed significantly to predicting self-disclosure. Partially, interpersonal trust positively contributed to self-disclosure, whereas self-control contributed negatively and demonstrated a greater contribution than interpersonal trust. These findings indicate that trust in others may encourage personal openness, whereas self-control may help individuals regulate the amount and depth of personal information they disclose. This study highlights the importance of digital literacy, privacy awareness, and self-control development in promoting more thoughtful and responsible self-disclosure practices on social media. ABSTRAK Penggunaan akun kedua Instagram memberikan ruang yang lebih privat bagi individu pada fase emerging adulthood untuk mengungkapkan perasaan, pengalaman, dan informasi pribadi. Namun, keterbukaan tersebut dapat meningkatkan risiko pengungkapan informasi secara berlebihan apabila tidak disertai kemampuan regulasi diri yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi interpersonal trust dan kontrol diri dalam memprediksi self-disclosure pada pengguna akun kedua Instagram di Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional-prediktif. Sebanyak 349 partisipan berusia 18–25 tahun direkrut melalui teknik snowball sampling. Data dikumpulkan menggunakan Self-Disclosure Scale, Interpersonal Trust Scale, dan Brief Self-Control Scale, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpersonal trust dan kontrol diri secara simultan berkontribusi signifikan dalam memprediksi self-disclosure. Secara parsial, interpersonal trust berkontribusi positif terhadap self-disclosure, sedangkan kontrol diri berkontribusi negatif dan menunjukkan kontribusi yang lebih besar dibandingkan interpersonal trust. Temuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap orang lain dapat meningkatkan keterbukaan individu, sedangkan kontrol diri membantu membatasi informasi pribadi yang diungkapkan. Penelitian ini menegaskan pentingnya literasi digital, kesadaran privasi, dan penguatan kontrol diri untuk mendukung perilaku pengungkapan diri yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab di media sosial.
KONFORMITAS TEMAN SEBAYA DAN PERILAKU BULLYING DI SMP NEGERI 6 KARAWANG Eka Lala Andriani; Marhisar Simatupang; Wina Lova Riza
Psikologi Prima Vol. 4 No. 1 (2021): Psikologi Prima
Publisher : unprimdn.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/psychoprima.v4i1.1912

Abstract

Permasalah dalam penelitian ini adalah adanya tindakan bullying yang terjadi padaSMPN 6 Karawang. Perilaku bullying yang berdampak pada penyimpangan disebabkan olehadanya konformitas teman sebaya. peneliti melakukan penelitian yang bertujuan untukmengetahui hubungan antara konformitas teman sebaya dengan perilaku bullying pada siswaSMPN 6 Karawang barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, mengukur dengan caramenyebar kuesioner. Subjek penelitian ini berjumlah 188 responden. Pada penelitian inimenggunakan variabel terikat konformitas teman sebaya, dan variabel bebas yaitu perilakubullying. pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik cluster random sampling. Teknikcluster random sampling digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atausumber data sangat luas. Uji hipotesis diperoleh signifikansi menunjukkan bahwa tingkat errorberada dibawah 0.01 yang artinya hasil penelitian ini akurat sampai dengan 99% dan koefisiendeterminan sebesar 0,289 mengandung arti bahwa variabel konformitas mempengaruhi variabelbullying sebesar 28.9%. Maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan secara signifikan antaravariabel konformitas teman sebaya dengan perilaku bullying.
PENGARUH ADULT ATTACHMENT TERHADAP FORGIVENESS PADA PASANGAN SUAMI-ISTRI DI KABUPATEN TANGERANGPENGARUH ADULT ATTACHMENT TERHADAP FORGIVENESS PADA PASANGAN SUAMI-ISTRI DI KABUPATEN TANGERANGPENGARUH ADULT ATTACHMENT TERHADAP FORGIVENESS PADA PASANGAN SUAM Ega Nurlaila; Wina Lova Riza; Puspa Rahayu Utami Rahman
Psikologi Prima Vol. 4 No. 2 (2021): Psikologi Prima
Publisher : unprimdn.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/psychoprima.v4i2.2251

Abstract

Pernikahan merupakan suatu akad atau perjanjian yang mengikat seorang laki-laki dengan perempuan secara halal. Dalam pernikahan, konflik dan permasalahan merupakan hal yang tidak bisa dihindari sehingga dibutuhkan sebuah strategi yang tepat untuk mengatasinya seperti forgiveness atau memaafkan. Forgiveness merupakan tindakan pemberian maaf pada orang lain yang sudah menyakiti dirinya demi memperbaiki hubungan. Kelekatan dewasa atau adult attachment adalah salah satu bentuk kelekatan yang menjadi faktor pemberian maaf. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh adult attachment terhadap forgiveness pada pasangan suami istri di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menekankan analisis pada data-data kuantitatif. Subyek penelitian yang digunakan yakni 100 pasangan suami istri di Kabupaten Tangerang. Data diambil menggunakan skala adult attachment (Hofstra, J., van Oudenhoven, J. P., & Buunk, B. P, 2005) dan skala forgiveness (Gracia & Heng, 2020) dengan teknik nonprobability sampling melalui quota sampling. Dari hasil uji regresi linier sederhana, didapat hasil sig 0,000 < 0,05 sehingga bisa disebut bahwa hipotesis pada penelitian yakni Ha diterima dan H0 ditolak. Artinya, terdapat pengaruh adult attachment terhadap forgiveness pada pasangan suami-istri di Kabupaten Tangerang.
Body Dissatisfaction Sebagai Prediktor Kecenderungan Kecemasan Sosial: Studi Kuantitatif pada Remaja Perempuan Pengguna Media Sosial di Kabupaten Karawang Nur Lamya Arya Dini; Wina Lova Riza; Ananda Saadatul Maulidia
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 3 No 04 (2025): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v3i04.2561

Abstract

Body dissatisfaction telah menjadi isu penting pada kalangan remaja perempuan, terutama di era media sosial yang telah menciptakan ekspektasi yang tidak realistis. Di antara dampak tekanan terhadap kesehatan mental, salah satunya adalah munculnya kecemasan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh body dissatisfaction terhadap kecendererungan kecemasan sosial pada remaja perempuan pengguna media di Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Sebanyak 391 perempuan berusia 12 hingga 22 tahun dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Body Shape Questionnaire (BSQ-34) dan Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A). Hasil analisis regresi linier menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara body dissatisfaction dan kecemasan sosial, dengan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,05) dan nilai R2 sebesar 0,883 (88,3%). Mayoritas responden melaporkan tingkat body dissatisfaction yang tinggi (71,6%) dan kecemasan sosial yang tinggi (77,2%). Selain itu, ditemukan bahwa durasi penggunaan media sosial memiliki perbedaan signifikan terhadap tingkat kecemasan sosial, di mana penggunaan yang lebih lama cenderung meningkatkan kecemasan sosial. Namun, tidak ada perbedaan signifikan dalam kecemasan sosial berdasarkan tingkat pendidikan. Keterbaruan penelitian ini terletak pada fokus yang diarahkan secara spesifik pada remaja perempuan pengguna media sosial di Kabupaten Karawang, sebuah populasi yang jarang diteliti dalam konteks hubungan antara body dissatisfaction dan kecemasan sosial.