Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI, STRES, DAN KONSUMSI MINUMAN BERKAFEIN DENGAN PRIMARY DYSMENORRHEA PADA MAHASISWI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Latifah, Nurul Husniah; Farida, Eko
Jambura Journal of Health Sciences and Research Vol 6, No 3 (2024): JULI: JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCES AND RESEARCH
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/jjhsr.v6i3.19867

Abstract

Primary Dysmenorrhea (PD) adalah nyeri menstruasi yang tidak berhubungan dengan patologi panggul dan karakteristiknya adalah nyeri pada bagian suprapubik saat beberapa jam sebelum atau ketika menstruasi. Dari hasil penelitian tahun 2015 dan 2017 lebih dari 50% wanita sering mengalami primary dysmenorrhea, prevalensi primary dysmenorrhea di Indonesia adalah 54,89%.  Kebaruan dalam penelitian ini karena menganalisis hubungan antara status gizi, stres, dan konsumsi minuman berkafein dengan primary dysmenorrhea. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan antara status gizi, stres, dan konsumsi minuman berkafein dengan primary dysmenorrhea pada mahasiswi Universitas Negeri Semarang. Kriteria inklusi adalah mahasiswi tingkat akhir Universitas Negeri Semarang yang berada di Semarang, berusia 18-24 tahun, belum menikah, dan bersedia mengisi rangkaian kuesioner hingga akhir. Desain penelitian menggunakan desain cross sectional dengan perhitungan sampel sebanyak 95 mahasiswi dengan teknik stratified random sampling.  Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Verbal Multidimensional Scoring System for dysmenorrhea (VMS), Depression Anxiety Stress Scale-42 (DASS-42), Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), serta pengukuran antropometri secara langsung menggunakan microtoise dan timbangan berat badan digital. Analisis data menggunakan uji korelasi chi-square dan uji fisher. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara stres (P-value= 0,027) dan konsumsi minuman berkafein (P-value=0,031) dengan primary dysmenorrhea, serta tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi (P-value=0,096) dengan primary dysmenorrhea. Kesimpulan bahwa ada hubungan yang signifikan antara stres dan konsumsi minuman berkafein dengan primary dysmenorrhea, sedangkan status gizi tidak berhubungan secara signifikan dengan primary dysmenorrhea pada mahasiswi tingkat akhir Universitas Negeri Semarang.
Hubungan Sedentary Lifestyle dan Kebiasaan Makan dengan Status Gizi Ibu Rumah Tangga di Wilayah Kerja Puskesmas Manyaran Semarang Handayani, Meilia Winarti; Farida, Eko
Media Gizi Kesmas Vol 13 No 1 (2024): MEDIA GIZI KESMAS (JUNE 2024)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v13i1.2024.227-233

Abstract

Background: Overnutrition and obesity in adults from 2007 to 2018 has increased by 8.8% to 13.6% for overnutrition and 10.3% to 21.8% for obesity. Semarang City has an adult female obesity prevalence of 29.9%. Housewives are more at risk of obesity than working mothers. Some of the factors that cause housewives to become obese are sedentary lifestyle, less of do physical activity, dietary intake, and consumption of unhealthy intake. Objectives: To know the relationship between sedentary lifestyle and eating habits in terms of energy intake, protein intake, fat intake and carbohydrate intake with the nutritional status of housewives. Methods: This typed of research used quantitative methods with a case control study design. The sample of this study amounted to 41 case samples and 41 control samples with purposive sampling technique. The instruments used were Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ FFQ) questionnaire and Sedentary Behavior Questionnaire (SBQ). Chi-square test was used to analyze bivariate data. Results: The results showed that a high sedentary lifestyle was more prevalent in the case group (65.9%). Adequate energy intake was more in the control group (90.2%). Excess protein intake in the case group (83.0%). Adequate fat intake in the control group (92.7%). Adequate carbohydrate intake in the control group (95.1%). There was a relationship between sedentary lifestyle (p-value = 0.027), energy intake (p-value = 0.026), protein intake (p-value = 0.001), fat intake (p-value = 0.003) and carbohydrate intake (p-value = 0.007) with the nutritional status of housewives. Conclusions: There was a relationship between high sedentary lifestyle and eating habits with the nutritional status of housewives.
Daya Terima dan Kandungan Gizi Cookies Sorgum (Sorghum Bicolor, L) dengan Penambahan Bayam (Amaranthus Sp.) sebagai Makanan Selingan bagi Wanita Usia Subur (WUS) Istiqomah, Kholida; Farida, Eko
Media Gizi Kesmas Vol 13 No 1 (2024): MEDIA GIZI KESMAS (JUNE 2024)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v13i1.2024.377-385

Abstract

Background: Women of reproduvtive age are an age group that is prone to experiencing nutritional problems, such as anemia. Food-based interventions utilize sufficient amounts of iron in foodstuffs, becoming one of the efforts to prevent and control iron deficiency anemia. Intervention can be done by making products as snacks in the form of cookies, which are modified by adding foods high in iron, such as sorghum (Sorghum bicolor, L), which is a type of legume with no less nutritional content than other types of legumes. such as rice, corn and wheat. Apart from that, a type of vegetable that has many benefits due to its high iron content is found in green spinach (Amaranthus sp.). Objective: This research aims to produce the best formula by making cookies made from sorghum flour with the addition of green spinach powder, which is expected to increase the nutritional and iron content as a snack for women of reproduvtive age. Methods: This research used an experimental type of research, with a Completely Randomized Design (CRD), resulting in 2 repetitions. This research was carried out in making cookies with the formulation of adding 5%, 10%, 15% and 20% spinach powder. Acceptance testing assesses the characteristics of cookies consisting of color, taste, texture and aroma using untrained panelists with the criteria of 30 women of reproduvtive age, aged 15-49 years. Testing for nutritional content includes protein (%), fat (%), carbohydrate (%) and iron (mg). Results: The cookie formula that has the best acceptability based on the characteristics of color, taste, texture and aroma, is found in F2 with the addition of 10% spinach powder. The results of the nutritional content test in 100 grams of F2 cookies are 553.86 kcal energy, 8.29% protein, 7.77% fat, 78.18% carbohydrates and 13.57 mg iron. Conclusion: Based on iron adequacy in women of reproduvtive age aged 15-49, cookies can contribute to additional iron of 3.39 mg a day, with a serving size of 25 grams of cookies. The iron content in cookies is a type of non-heme iron which has low bioavailability, so it requires enhancers and inhibitors in food, such as vitamin C and animal source foods.
Formulasi Cookies Tepung Kulit Semangka Sebagai Alternatif Makanan Selingan Bagi Penderita Hipertensi Hadiza Buan, Araniya; Farida, Eko
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v4i1.9511

Abstract

Latar Belakang: Menurut data Riskesdas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi hipertensi pada orang berusia 18 tahun ke atas pada tahun 2018 meningkat. Penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi disarankan untuk mengurangi konsumsi natrium dan memperbanyak konsumsi kalium serta serat untuk membantu menurunkan tekanan darah. Oleh karena itu dibutuhkan produk pangan yang mengandung natrium rendah dengan kadar kalium serta serat yang cukup untuk membantu menurunkan tekanan darah pada hipertensi.Metode: Penelitian ini dibagi menjadi 4 tahap. Tahap pertama adalah pengolahan kulit semangka menjadi tepung kemudian diformulasikan menjadi cookies. Tahap kedua adalah uji organoleptik oleh 20 orang panelis semi terlatih yang akan menilai warna, rasa, aroma, serta tekstur cookies untuk menentukan formula cookies yang paling disukai panelis. Pada tahap ketiga dilakukan analisis proksimat, uji kadar kalium, serat, dan natrium pada cookies dengan formula terbaik. Tahap keempat adalah analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis, bila p-value<0,05 dilanjutkan dengan uji Duncan.Hasil: Formula terbaik yang dipilih adalah formula K4 dengen komposisi 25 g tepung kulit semangka dan 75 g tepung terigu. Menurut Peraturan BPOM RI No.1 tahun 2022 kandungan kalium dan natrium cookies F4 dibawah standar klaim makanan tinggi kalium dan rendah natrium, tetapi memiliki kandungan serat diatas standar klaim makanan tinggi serat yaitu masing-masing 525,28 mg/100 g, 291,34 mg/100 g, dan 15,57 %.Kesimpulan: Cookies tepung kulit semangka formula K4 belum memenuhi standar kandungan gizi yang diperlukan untuk menjadi makanan selingan alternatif bagi penderita hipertensi. Sehingga perlu dilakukan pengembangan formula yang lebih baik.
Pengaruh Suhu Pengeringan Terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Teh Herbal Daun Kari (Murraya koenigii) Meksi Liana Sari, Devita; Farida, Eko
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v4i1.9518

Abstract

Latar Belakang: Produk teh saat ini telah mengalami perkembangan, tidak hanya terbuat dari daun teh namun dapat terbuat dari daun tanaman lain seperti daun kari yang memiliki antioksidan tinggi dan cukup terkenal di kalangan masyarakat namun belum dikelola secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu pengeringan terhadap sifat kimia dan organoleptik teh herbal daun kari (Murraya koeginii). Metode: Desain penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial, dengan suhu pengeringan sebagai perlakuan yang terdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu (T1) 50℃, (T2) 55℃, dan (T3) 60℃. Data hasil penelitian dianalisis dengan Anova One Way dilanjutkan dengan uji Tukey. Sedangkan hasil organoleptik akan dianalisi dengan uji Kruskal Wallis.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pengeringan 60℃ merupakan perlakuan terbaik yang menghasilkan teh herbal daun kari dengan kadar polifenol tertinggi 2,78%, kadar air 11,47%, kadar abu 9,9%, dan kadar serat kasar 23,52%.Kesimpulan: Terdapat pengaruh suhu pengeringan terhadap sifat kimia (kadar air, abu, dan polifenol), namun tidak ada pengaruh terhadap kadar serat kasar dan sifat organoleptik warna, aroma, dan rasa pada teh herbal daun kari (Murraya koeginii).
Determinan Pemberian MP-ASI Dini di Wilayah Kerja Puskesmas Bringin Fatma, Adelia; Farida, Eko
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v4i2.9679

Abstract

Latar Belakang: Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia 2019, cakupan ASI eksklusif di Indonesia tahun 2019 sebesar 67,74%. Cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Semarang tahun 2020 sebesar 56,7% dengan persentase terendah sebesar 22,6% yaitu Puskesmas Bringin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui determinan pemberian MP-ASI dini di wilayah kerja Puskesmas Bringin, Kab. Semarang.Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan case control. Jumlah sampel 40 kasus dan 40 kontrol menggunakan teknik cluster sampling dan purposive sampling. Variabel bebas terdiri dari usia ibu, paritas, pengetahuan, pendidikan, sosial ekonomi, mitos, kelancaran produksi ASI, dan pekerjaan ibu. Variabel terikat yaitu pemberian MP-ASI dini. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner terstruktur. Data dianalisis menggunakan uji chi square atau uji fisher dan uji regresi logistik.Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan usia ibu (p=0,002), pengetahuan (p=0,006), pendidikan (p=0,000), mitos (p=0,029), kelancaran produksi ASI (p=0,001), pekerjaan ibu (p=0,002), paritas (p=0,237), dan sosial ekonomi (p=0,805). Variabel yang paling berpengaruh adalah kelancaran produksi ASI (p=0,001).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara usia ibu, pengetahuan, pendidikan, mitos, kelancaran produksi ASI, dan pekerjaan ibu dengan pemberian MP-ASI dini. Tidak terdapat hubungan antara paritas dan sosial ekonomi dengan pemberian MP-ASI dini. Kelancaran produksi ASI merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap pemberian MP-ASI dini.
Pengaruh Penambahan Tepung Ikan Gabus (Channa Striatus) terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Kwetiau Beras Nurul Mulyana, Aprilia; Farida, Eko
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v4i2.9686

Abstract

Latar Belakang: Indonesia menjadi negara kedua dengan pengonsumsi mi instan terbanyak dunia yaitu 12.6 miliar per tahun sehingga pengembangan produk berbasis mi sebagai makanan bergizi berpotensi untuk dilakukan. Salah satunya produk kwetiau dengan bahan utama beras. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung ikan gabus pada pembuatan kwetiau beras terhadap sifat kimia dan organoleptik kwetiau beras.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan empat taraf perlakuan, yaitu tanpa penambahan ikan gabus (K0), penambahan ikan gabus 5% (K1), 10% (K2), dan 15% (K3). Data hasil penelitian dianalisis dengan Anova One Way, dilanjutkan dengan uji Duncan. Untuk uji organoleptik dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis.Hasil: Hasil pengamatan berdasarkan perlakuan yang diberikan penambahan tepung ikan gabus, maka yang terbaik perlakuan K1 yaitu penambahan tepung ikan gabus 5% dapat meningkatkan kadar protein (10,44%) serta memiliki daya cerna protein 46,63%. Kesimpulan: Terdapat pengaruh penambahan tepung ikan gabus terhadap sifat kimia (kadar air, protein, lemak, karbohidrat, abu, dan daya cerna protein) dan sifat organoleptik rasa, tekstur, dan aroma pada kwetiau.
Pengaruh Ekstrak Bunga Sepatu (Hibiscus Rosa – Sinensis L. ) terhadap Kadar Asam Urat Tikus Putih Galur Wistar Desmarta, Kesya; Farida, Eko
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v4i2.9694

Abstract

Latar Belakang: Asam urat atau gout arthritis memiliki prevalensi sebesar 11,9% di Indonesia. Bunga sepatu adalah salah satu tanaman yang mengandung pigmen antosianin, flavonoid, dan saponin berpotensi menghambat pembentukan asam urat dengan menghalangi aksi xantin oksidase, yang mengubah purin menjadi asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak bunga sepatu (Hibiscus rosa – sinensis L.) terhadap kadar asam urat tikus putih galur wistar.Metode: Jenis penelitian eksperimental dengan rancangan post test only control group. Sebanyak 15 ekor tikus dibagi 3 kelompok yaitu K – (kontrol negatif atau normal), K+ (kontrol positif diberikan jus hati ayam 2 ml/kgBB), dan P1 (Diberikan jus hati ayam 2 ml/kgBB dan ekstrak bunga sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.) 250 mg/kgBB). Tikus diberikan hati ayam 2 ml/kgBB untuk menginduksi asam urat. Pemeriksaan kadar asam urat dilakukan pada hari ke- 22 menggunakan cobas c111 dengan metode uricase – PA. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik parametrik. Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan, data dianalisis menggunakan uji one way annova.Hasil: Pemberian ekstrak bunga sepatu selama 14 hari tidak berpengaruh terhadap kadar asam urat pada 3 kelompok (p = 0,594). Kadar asam urat kelompok K – (1,10 ± 1,78 mg/dl); kelompok K+ (1,17 ± 1,51 mg/dl); dan kelompok P1 (0,92 ± 1,34 mg/dl).
Formulasi Snack Bar Berbahan Dasar Tepung Kedelai (Glycine max L.) dan Tepung Labu Kuning (Cucurbita moschata Durch) Sebagai Makanan Alternatif Sumber Energi Maulida Majid, Syahrina; Farida, Eko
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v4i2.9713

Abstract

Latar Belakang: Gizi kurang merupakan penyebab tingginya angka kematian pada dewasa, salah satunya dipengaruhi perilaku konsumsi selingan yang minim zat gizi. Padahal pemenuhan kebutuhan gizi untuk permasalahan gizi kurang sebenarnya dapat didukung dengan mengonsumsi selingan. Tujuan dari penelitian ini adalah memformulasikan snack bar tinggi energi yang dapat diterima oleh masyarakat dengan memanfaatkan potensi gizi kedelai dan labu kuning.Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Variabel bebas dalam penelitian adalah formulasi snack bar dan variabel terikat meliputi kandungan gizi dan daya terima snack bar. Sampel snack bar terdiri dari tiga formulasi dengan perbandingan tepung kedelai dan tepung labu kuning 75%:25%, 50%:50%, dan 25%:75%. Analisis uji kandungan gizi meliputi kadar abu, air, protein, lemak, karbohidrat, dan energi menggunakan One-Way ANOVA. Analisis uji daya terima warna, aroma, rasa, tekstur, dan keseluruhan dilakukan dengan Mann-Whitney.Hasil: Produk snack bar dengan kandungan energi paling tinggi adalah F3 yang yang mengandung kadar abu 2,53%, kadar air 30,62%, protein 14,45%, lemak total 17,09%, karbohidrat 35,30%, dan energi total 352,83 kkal/100 gram. Hasil uji daya terima warna paling disukai adalah F3, parameter aroma F1, serta aspek rasa dan tekstur F3.Kesimpulan: Terdapat perbedaan pada keseluruhan kandungan gizi, daya terima warna, dan daya terima keseluruhan kenampakan produk.