Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pemeriksaan Teknis dan Nautis Kapal Perikanan di Pelabuhan Perikanan Nizam Zachman Jakarta Aprilia Syah Putri; Mestiria Harbani Sitepu; Fauzi Syahputra; Denta Tirtana; selly Ananda
Jurnal Marshela (Marine and Fisheries Tropical Applied Journal) Vol 4 No 1 (2026): Mei
Publisher : Program Studi Perikanan Tangkap Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/marshela.v4i1.4526

Abstract

Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta (PPSNZJ) merupakan salah satu pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia yang memiliki peran strategis dalam aktivitas perikanan tangkap nasional. Dalam rangka menjamin keselamatan pelayaran dan operasional kapal perikanan yang sesuai standar, dilakukan pemeriksaan teknis dan nautis terhadap setiap kapal sebelum keberangkatan. Pemeriksaan ini menjadi syarat penting untuk memperoleh persetujuan berlayar (SPB) dari pihak Syahbandar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan dan prosedur pemeriksaan teknis dan nautis kapal perikanan di PPS Nizam Zachman Jakarta, kesesuaian pemeriksaan kapal perikanan dengan standar yang telah ditetapkan, serta kendala atau hambatan yang dihadapi dalam proses pemeriksaan tersebut. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data meliputi observasi langsung, wawancara dan kuesioner dengan 30 responden yaitu petugas Syahbandar dan pihak kapal (nahkoda/ABK/pengurus kapal). Data sekunder diperoleh dari dokumen SOP, sedangkan data primer dikumpulkan melalui pengamatan langsung terhadap pemeriksaan kapal serta dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prosedur dan tahapan pemeriksaan teknis dan nautis kapal perikanan di PPS Nizam Zachman Jakarta meliputi Persiapan Pemeriksaan, Pemeriksaan Teknis Dan Nautis Kapal, pemeriksaan Pengawakan, Pemeriksaan alat Penangkapan Ikan, Penetapan Hasil Dan Pelaporan serta pemeriksaan Formulir Pendukung. Dari 30 kapal yang diperiksa, Tingkat kepatuhan kapal terhadap standar teknis dan nautis mencapai 93%, dengan mayoritas aspek sudah sesuai, sebagian besar telah memenuhi standar yang ditetapkan dengan tingkat kepatuhan tinggi pada aspek alat tangkap, alat keselamatan, alat navigasi, komunikasi, permesinan, palka, pengawakan, dan tanda pengenal kapal (100% sesuai). Namun, masih terdapat kekurangan pada dokumen administratif (10% tidak sesuai) dan peralatan pemadam kebakaran (20% tidak sesuai). Selain itu, ditemukan beberapa kendala dalam proses pemeriksaan, seperti keterbatasan jumlah petugas, antrean kapal yang padat setelah libur panjang, jarak kapal yang jauh dari dermaga, serta faktor cuaca yang tidak mendukung.
PEMBUATAN OLAHAN IKAN KAKI NAGA, IBU-IBU GABUNGAN KELOMPOK NELAYAN KELAUTAN PERIKANAN (GAPOKAN) LAMPUNG Dona Setya; Rama Agus Mulyadi; Denta Tirtana; Fauzi Syahputra; Mestiria Harbani Sitepu; Mulkan Nuzapril; Aprilia Syah Putri; Muliawati Handayani; Eulis Marlina
Jurnal Sinergitas PKM & CSR Vol. 7 No. 2 (2023): February
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jspc.v7i2.7368

Abstract

Kaki naga ikan merupakan produk pangan yang dapat dijadikan sebagai lauk pauk dan juga sebagai cemilan. Karakteristik khas kaki naga ikan adalah memiliki tekstur yang kering, renyah, dan pada lapisan luar berkerak namun lembut dan basah di bagian dalam produk, sebagaimana produk gorengan. Berbagai jenis ikan dapat dimanfaatkan untuk produk kaki naga, salah satunya adalah ikan cakalang. Tujuan yang diharapkan dari kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan bagi ibu-ibu nelayan GAPOKAN tentang pembuatan olahan ikan kaki naga, memberikan edukasi/kesadaran kepada masyarakat nelayan tentang manfaat konsumsi makanan olahan ikan sebagai pangan yang kaya gizi dan digemari terutama oleh anak-anak. Target pengabdian masyarakat ini adalah masyarakat pesisir kota Bandar Lampung. Masyarakat ibu-ibu nelayan pesisir yang terdiri dari nelayan, pembudidaya, pengolah dna pemnasar hasil perikanan merupakan masyarakat yang langung bersentuhan dengan laut. Produk-produk perikanan mengandung nilai gizi yang tinggi serta tergolong dalam pangan fungsional yang baik untuk kesehatan. para wanita istri nelayan harus mempunyai pengetahuan tentang bagaimana menangani dan mengolah ikan yang benar disaat hasil tangkapan melimpah, serta memahami pentingnya memberi makanan yang sehat bagi keluarga terutama anak-anak balita.  
SEBARAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN ALAT TANGKAP PAYANG DI PERAIRAN TELUK SEMANGKA KOTA AGUNG Novian Purwantoro; Mestiria harbani Sitepu; Fauzi syahputra
Jurnal Marshela (Marine and Fisheries Tropical Applied Journal) Vol 2 No 1 (2024): Mei
Publisher : Program Studi Perikanan Tangkap Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/marshela.v2i1.3465

Abstract

Perairan Teluk Semangka termasuk ke dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 572 yang memiliki potensi besar dari sisi sumberdaya ikan yang secara letak geografis berada pada 104º 32’ - 105º 08’ Bujur Timur dan 5º 30’ - 5º 55’ Lintang Selatan. Alat tangkap payang termasuk kelompok seine net adalah alat tangkap yang mempunyai bagian badan, sayap dan tali penarik, perut dan kantong. Tujuan dari proyek mandiri ini adalah untuk mengetahui titik lokasi daerah penangkapan ikan alat tangkap payang di perairan Teluk Semangka Kota Agung. Penelitian ini menggunakan metode observasi langsung dengan penggunaan (GPS) Global Positioning System dan aplikasi ArcGIS dan mendapatkan 34 titik-titik koordinat daerah penangkapan ikan. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 3 daerah penangkapan ikan alat tangkap payang yang berpontensi di perairan Teluk Semangka yaitu di bagian utara di koordinat 5°30. 376’ - 5°30.934’S dan 104°35.567’ - 104°36.200’E, di bagian timur di koordinat 5°33.633’ - 5°33.783’S dan 104°43.799’ - 104°43.950’E serta di bagian barat 5°34.218’ - 5°34.383’S dan 104°33.620’ - 104°33.769’E. Hasil tangkapan pada alat tangkap payang seperti ikan layang (Decapterus spp), teri (Engraulidae), selar (Atule mate), alu-alu (Sphyraena), tenggiri (Scomberomorini), kembung (Rastrelliger), simba (Caranx lugubris), dan marlin (Istiophoridae). Total produksi ikan pada Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Kota Agung sampai bulan Oktober tahun 2023 berjumlah 247.290 ton.
IDENTIFIKASI DESAIN DAN KONSTRUKSI BUBU LIPAT IKAN 170 CM DI BALAI BESAR PENANGKAPAN IKAN (BBPI) SEMARANG, JAWA TENGAH. Arif Prayoga Wiraditama; Fauzi Syahputra; Aprilia Syah Putri; Lalik Salistia Citra
Jurnal Marshela (Marine and Fisheries Tropical Applied Journal) Vol 3 No 1 (2025): Mei
Publisher : Program Studi Perikanan Tangkap Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/marshela.v3i1.3998

Abstract

Bubu merupakan alat penangkap ikan yang bersifat pasif dan memiliki satu atau lebih injab (pintu bubu) dan dioprasikan dengan jumlah bubu kurang dari 300 buah serta dirangkai satu bubu dengan bubu yang lainnya. Kegiatan pengambilan data untuk melengkapi Tugas Akhir (TA) ini dilakukan di Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) Semarang pada tanggal 04 Maret-21 Juni 2024. Adapun tujuan kegiatan ini Mengetahui Desain dan Kontruksi bubu lipat ikan 170 cm. Metode yang digunakan dalam memperoleh data pada kegiatan ini yaitu dengan cara Metode observasi lapangan kegiatan ini dilakukan dengan mengukur, perhitungan, dokumentasi. Secara keseluruhan, bubu memiliki komponen badan (body), mulut (funnel) atau injab, dan pintu. Desain dan konstruksi bubu lipat ikan 170 cm di Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) Semarang terdiri dari kerangka bubu, kerangka tali, badan jaring (webbing), mulut bubu/ injab. Kerangka bubu lipat ikan 170 cm terbuat dari besi eser SNI berukuran 12 mm dan 8 mm dengan panjang 170 cm, lebar 110 cm, tinggi 60 cm. Pada bagian tali menggunakan tali Polyethylene (PE) ø6mm untuk kerangka tali utama sedangkan untuk tali injab memiliki diameter ø2mm dan Pada bagian jaring berbahan dasar Polyethylene (PE) dengan ukuran mesh size 3 inci dengan ukuran benang D36. Pada mulut bubu/injab terbuat dari besi eser SNI dengan tiga buah rangka yaitu rangka tegak 92 cm, rangka miring 87 cm, dan ragka datar 90 cm.
POLA DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI LEMPASING TELUK BETUNG LAMPUNG Aprilia Syah Putri; Anisa Alfareza; Fauzi Syahputra; Lalik Salistia Citra
Jurnal Marshela (Marine and Fisheries Tropical Applied Journal) Vol 3 No 1 (2025): Mei
Publisher : Program Studi Perikanan Tangkap Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/marshela.v3i1.4091

Abstract

Pelabuhan perikanan pantai (PPP) lempasing terletak di kecamatan teluk betung barat kota bandar lampung dengan luas lahan 42.500 m². Pola distribusi adalah kegiatan mulai dari pembongkaran hasil tangkapan, penyimpanan, transportasi hingga pemasaran. Beberapa saluran pola distribusi yaitu dari pemilik kapal, pegepul, agen, pedagang pasar, pedagang transportasi, pengecer lalu terakhir ke konsumen. Tujuan penelitiaan mengetahui pola distribusi ikan hasil tangkapan di pelabuhan perikanan pantai (PPP) lempasing dan mengidentifikasi pelaku-usaha dalam rantai pola distribusi hasil penangkapan. Penelitian di laksanakan di pelabuhan perikanan pantai lempasing yang terletak di Sukamaju, Kecamatan Teluk Betung Barat Kota Bandar Lampung 35236, Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Metode ini dilakukan dengan wawancara, observasi langsung kelapangan dengan cara peninjauan, pengamatan dan informasi secara langsung dilapangan serta data yang dikumpulkan terdiri dari data data primer, yaitu data hasil wawancara dengan responden langsung. Pola distribusi hasil tangkapan ikan nelayan di pelabuhan perikanan pantai lempasing yang paling umum terjadi adalah pemilik kapal – pengepul – agen – pedagang pasar – pedagang transportasi – pedagang eceran – konsumen. Pola ini menjadi pola distribusi yang paling umum terjadi dikarenakan para pemilik kapal tidak membutuhkan waktu hingga tenaga untuk mendistribusikan hasil tangkapan sehingga pola ini dapat menguntungkan para pemilik kapal dari segi waktu dan lebih efisien. Tetapi juga menjadi kerugian pada pemilik kapal karena harga penjualan lebih murah mengikuti ketentuan dari pengepul.