Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Minyak Ikan Lemuru Terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa Pada Tikus Wistar Hiperglikemia Dea Amanda Caressa; Annis Catur Adi; Sri Adiningsih; Septyaningrum Putri Purwoto; Adi Pranoto
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Department of Nutrition, Faculty of Health Sciences, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2022.009.01.3

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis efek pemberian minyak ikan lemuru terhadap penurunan kadar glukosa darah puasa pada tikus dengan hiperglikemia. Penelitian ini merupakan experimental laboratories dengan racangan The Randomized Post Test Only Control Group Design. Sampel penelitian ini adalah 25 ekor tikus jenis Rattus Norvegicus Strain Wistar jantan, usia 2-3 bulan yang dibagi menjadi lima kelompok. Teknik analisis data menggunakan uji one-way ANOVA dan Tukey HSD. Pada uji one-way ANOVA diadaptkan nilai P (0,001) < 0.05. Hasil Tukey HSD didapatkan rata-rata kadar GDP antara K0 dengan K1 (P < 0,005), P1 dengan K1 (P < 0,005), P2 dengan K1 (P < 0,005), P3 dengan K1 (P < 0,005), sedangkan K0 dengan P1, K0 dengan P2, K0 dengan P3, P1 dengan P2, P1 dengan P3, dan P2 dengan P3 tidak menunjukkan perbedaan signifikan (P > 0,05). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan pemberian minyak ikan lemuru (sardinella lemuru) terhadap kadar glukosa darah puasa. Terdapat perbedaan yang signifikan antara K0 dengan K1, P1 dengan K1, P2 dengan K1, P3 dengan K1, sedangkan K0 dengan P1, K0 dengan P2, K0 dengan P3, P1 dengan P2, P1 dengan P3, dan P2 dengan P3 tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Optimalisasi Program Pencegahan Stunting: Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Persepsi Keluarga Dewi, Elvira Sari; Choiriyah, Muladefi; Suryanto, Suryanto; Kumboyono, Kumboyono; Ismail, Dina Dewi Sartika Lestari; Wihastuti, Titin Andri; Habibie, Intan Yusuf; Istifiani, Lola Ayu; Kusumastuty, Inggita; Astari, Asti Melani; Ariska, Hanisa Iis; Rosuli, Ahmad; Pamungkas, Akhmad Yanuar Fahmi; Satrianto, Anang; Hermanto, Andrik; Ariyani, Anita Dwi; Munif, Badrul; Kusumawati, Diana; Rahmawan, Fajri Andi; Damayanti, Fransiska Erna; Prasetyawan, Riyan Dwi; Balqis, Rani Diana; Rudiyanto, Rudiyanto; Supriyanto, Supriyanto; Kawitantri, Orchidara Herning; Agustina, Mulya; Caressa, Dea Amanda; Toga, Erik; Roshanti, Dian; Amanda, Efina; Murdani, Agus Putra
Nursing Information Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Nursing Information Journal
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/nij.v4i2.1023

Abstract

Pendahuluan: Jumlah anak stunting di Desa Paspan, Banyuwangi, masih mengalami peningkatan, sehingga diperlukan optimalisasi upaya pencegahan untuk menghindari dampak negatif terhadap kehidupan anak. Pengetahuan dan persepsi ibu mengenai stunting merupakan faktor penting dalam upaya pencegahan kondisi ini. Tujuan penelitian mengkaji hubungan antara pengetahuan ibu tentang stunting dengan persepsi keluarga terhadap stunting pada ibu yang memiliki anak dengan stunting di Desa Paspan, Banyuwangi. Metode: Penelitian kuantitatif cross-sectional dilakukan di Desa Paspan, Banyuwangi, pada bulan Desember 2022. Kriteria inklusi dan eksklusi digunakan dan didapatkan 26 responden dari 32 populasi ibu anak dengan stunting. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang terdiri atas sepuluh pertanyaan tentang pengetahuan mengenai stunting dan sebelas pertanyaan tentang persepsi keluarga mengenai stunting. Uji korelasi gamma, dengan tingkat signifikansi 0,05, digunakan untuk mengkaji hubungan antara dua variabel.  Hasil: Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai stunting (96%), sementara 84,6% memiliki persepsi yang cukup terhadap stunting. Hasil analisis uji korelasi gamma menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang stunting dengan persepsi keluarga terhadap stunting (p = 0,340; r = 1,000). Kesimpulan: Pengetahuan ibu mengenai stunting tidak selalu berkorelasi dengan persepsi keluarga terhadap stunting. Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting memerlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan faktor sosial, budaya, dan lingkungan guna meningkatkan pemahaman serta mendorong perubahan perilaku masyarakat.
EFEKTIVITAS EMO-DEMO PEMBUATAN GUMMY BUAH NAGA DAN IKAN LEMURU TERHADAP PENGETAHUAN GIZI DI IBU PKK DESA WRINGINPITU Caressa, Dea Amanda; Rajab, Alfian Abdul; Amanda, Efina; Murdani, Agus Putra
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49212

Abstract

Gizi kurang adalah masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia, yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurut SSGI 2023, prevalensi stunting pada balita mencapai 21,5%, sehingga memerlukan penanganan serius. Salah satu penyebab utama gizi kurang adalah kekurangan asupan gizi selama periode 1000 hari pertama kehidupan. Pengetahuan gizi menjadi faktor kunci dalam pemenuhan kebutuhan gizi pada masa tersebut, sehingga diperlukan intervensi edukatif, salah satunya melalui metode emo-demo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan ibu mengenai cara membuat gummy berbahan dasar buah naga dan ikan lemuru sebagai alternatif edukasi gizi, dengan menggunakan pendekatan Emo-Demo yang dievaluasi melalui pretest dan posttest. Penelitian ini memakai pendekatan kuantitatif dengan desain One Group Pre-Test Post-Test. Kegiatan dilakukan pada hari Rabu, 14 Mei 2025, di Aula Balai Desa Wringinpitu. Seluruh populasi yang terdiri dari 43 orang ibu dijadikan sampel dengan teknik total sampling. Untuk menganalisis perubahan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi, digunakan uji Wilcoxon. Selain itu, analisis N-Gain dilakukan untuk menilai seberapa efektif metode emo-demo dalam meningkatkan pengetahuan peserta. Pengetahuan ibu-ibu anggota PKK di Desa Wringinpitu meningkat setelah diberikan edukasi melalui metode emo-demo. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest dengan nilai signifikansi 0,018. Sementara itu, perhitungan N-Gain menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan termasuk dalam kategori sedang. Metode emo-demo terbukti cukup efektif dalam meningkatkan pemahaman ibu mengenai pembuatan gummy dari ikan lemuru dan buah naga sebagai bagian dari edukasi gizi.
Sosialisasi Materi PMBA untuk Ibu Balita Stunting Usia 12-59 Bulan dalam kegiatan MSIB di Puskesmas Balongsari: Vol. 1 No.2 (2025) : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT MERDEKA MEMBANGUN NEGERI (ABDIMERKA) Rulina Sausan, Siti Kayla; Dea Amanda Caressa
Jurnal Pengabdian Masyarakat Merdeka Membangun Negeri Vol. 1 No. 2 (2025): Juni
Publisher : STIKES BANYUWANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/abdimerka.v1i2.504

Abstract

Abstrak Inggris. Stunting is a chronic condition that describes growth retardation due to long-term malnutrition, characterized by a z-score of height by age (TB/U) of less than -2SD. The prevalence of stunting in toddlers in East Java is still high at 19.2%, and in Surabaya it is 4.8%. This activity aims to increase the knowledge of mothers under five about providing the right food to prevent stunting. The research method is observational with a pre-test and post-test design which was carried out at the Balongsari Health Center, Surabaya, from October 22 to 24, 2024. The research sample consisted of 64 mothers under five who participated in socialization. The results of the analysis showed a significant increase in knowledge, with the average score of participants increasing from 65 to 80 after counseling. With this educational approach, it is hoped that mothers' knowledge about nutrition can increase significantly, so that it can contribute to efforts to prevent stunting and increase. Keyword: Stunting; Infant and Child Feeding; Nutrition Education. Abstrak Indonesia. Stunting adalah kondisi kronis yang menggambarkan penghambatan pertumbuhan akibat malnutrisi jangka panjang, ditandai dengan z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) kurang dari -2SD. Prevalensi stunting pada balita di Jawa Timur masih tinggi mencapai 19,2%, dan di Surabaya sebesar 4,8%. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita mengenai pemberian makanan yang tepat untuk mencegah stunting. Metode penelitian bersifat observasional dengan desain pre-test dan post-test yang dilaksanakan di Puskesmas Balongsari, Surabaya, dari tanggal 22 hingga 24 Oktober 2024. Sampel penelitian terdiri dari 64 ibu balita yang berpartisipasi dalam sosialisasi. Hasil analisis menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, dengan rata-rata skor peserta meningkat dari 65 menjadi 80 setelah penyuluhan. Dengan pendekatan edukatif ini, diharapkan pengetahuan ibu mengenai gizi dapat meningkat secara signifikan, sehingga dapat berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting dan peningkatan status gizi balita secara keseluruhan. Kata Kunci Stunting; Pemberian Makan Bayi dan Anak; Edukasi Gizi.
IMPLEMENTASI INFORMASI GIZI DENGAN TOKOH PEWAYANGAN UNTUK PENINGKATAN PENGETAHUAN GIZI SANTRI PONDOK PESANTREN Elita Endah Mawarni; Dea Amanda Caressa; Mulya Agustina
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sasambo Vol. 7 No. 1 (2025): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jpms.v7i1.1927

Abstract

Nutritional problems among school-aged children, including students in Islamic boarding schools (pesantren), remain a significant issue due to their impact on growth, cognitive development, and quality of life. The pesantren environment, characterized by a tight schedule, limited dietary variety, and low nutritional knowledge, poses a risk of unbalanced dietary patterns and long-term health problems. This study aimed to assess the effectiveness of nutrition education using wayang (traditional puppet) media on the nutritional knowledge of students at Pondok Pesantren Safinatul Huda, Banyuwangi. The methods employed included balanced nutrition socialization, education on the six food groups, demonstration of menu preparation using local ingredients (purple sweet potato), and delivery of materials through wayang characters as an engaging and memorable cultural medium. The study sample consisted of 40 junior high school students (santri). Data were analyzed using the Paired Sample T-Test to evaluate differences in nutritional knowledge before and after the intervention. The results showed a significant increase in the mean nutritional knowledge score from 72.15 to 77.90 (p < 0.001). Wayang media proved effective in enhancing understanding, motivating the adoption of healthy eating patterns, and providing a culturally relevant and contextual educational approach.
Pengembangan Sereal Berbasis Tepung Ampas Tahu dan Tepung Kacang Hijau sebagai Camilan Tinggi Serat untuk Dewasa Overweight Aisyah Nur Aini; Mulya Agustina; Dea Amanda Caressa
Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jig.v4i3.9171

Abstract

Based on the 2023 Indonesian Health Survey, the prevalence of overweight among adults reached 23.4% nationally and 24.5% in East Java Province. This condition highlights the need for food innovation, particularly high-fiber snacks suitable for overweight adults. This study aimed to develop cereal based on okara (soy pulp) flour and mung bean flour as an alternative high-fiber food product. Organoleptic testing was conducted on 30 semi-trained panelists evaluating color, aroma, texture, and taste using hedonic and hedonic quality tests. Data were analyzed using the Kruskal–Wallis test followed by the Mann–Whitney test, while nutrient content analysis was analyzed using One Way ANOVA followed by Duncan’s post hoc test. The results showed that in the hedonic test, color, texture, and taste parameters were significantly different (p<0.05), while aroma was not significantly different (p>0.05). In the hedonic quality test, color and taste showed significant differences (p<0.05), whereas aroma and texture did not (p>0.05). Overall, formulation 922 was the most preferred by panelists. The nutritional content of the cereal ranged from 407–410 kcal for energy, 76.44–77.53% carbohydrates, 8.91–9.66% protein, 6.80–7.30% fat, 5.20–5.51% moisture, 1.26–1.41% ash, and 9.72–10.90% total dietary fiber. The developed cereal is classified as a high-fiber food and has potential as a healthy snack for overweight adults.
Inovasi Pangan Fermentasi Tempe Gembus dengan Penambahan Jantung Pisang sebagai Sumber Probiotik untuk Meningkatkan Kesehatan Pencernaan pada Lansia Dwi Nurul Qomariah; Dea Amanda Caressa; Elita Endah Mawarni
Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jig.v4i3.9175

Abstract

Health issues among the elderly are often related to declining bodily functions, digestive disorders, and specific nutritional needs for easily digestible foods. The 60-and-older age group is at high risk for gastrointestinal disorders due to low fiber intake. Therefore, alternative foods are needed that are soft in texture, neutral in taste, safe, and nutritious. One potential solution is the development of food products based on tempeh gembus with the addition of banana hearts, which are rich in fiber, soft in texture, and readily available. This study employed an experimental method using a Completely Randomized Design (CRD) to test three formulation variations (F1, F2, F3). The nutritional content of formulation F1 includes energy 111.575 kcal, carbohydrates 20.185 g, protein 6.91 g, fat 0.355 g, and fiber 6.67 g. Formula F2 contains 88.225 kcal of energy, 14.095 g of carbohydrates, 7.72 g of protein, 0.205 g of fat, 7.3 g of fiber, and 0.0015% flavonoids. Formula F3 has 107.015 kcal of energy, 7.995 g of protein, 0.295 g of fat, 6.88 g of fiber, and 0.0021% flavonoids. In conclusion, the best tempeh with added banana hearts is Formula F2, with its nutritional content, fiber, flavonoids, and BAL >10⁸ CFU/g, which has the potential to serve as a functional food and probiotic source to help improve digestive health in the elderly. Further testing is recommended directly on elderly groups, along with product shelf-life testing.
Hubungan Asupan Kafein terhadap Gangguan Tidur dan Status Gizi pada Mahasiswa Tingkat Akhir Program Sarjana Universitas Dr. Soekardjo Siti Kayla Rulina Sausan; Dea Amanda Caressa; Agus Putra Murdani
Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jig.v4i3.9194

Abstract

Increased caffeine intake is commonly used by students to cope with academic demands, especially during examinations and the completion of final projects. Excessive caffeine consumption may affected sleep quality and potentially influence nutritional status. This study aimed to determine the correlation between caffeine intake, sleep disturbances, and nutritional status among final – year unsergarduated students at Dr. Soekardjo University. This study used quantitative approach with an observational analytic and cross-sectinal design. A total of 108 students participated in the study. Data were collected using questionnaires and analyzed using the Spearman Rank correlations test. The findings indicated that the most of respondents with low caffeine intake experienced mild sleep disturbances, totaling 56 respondents (80%). Meanwhile, respondents with moderate and high caffeine intake mostly experienced moderated sleep disturbances, with 13 respondents (61.9%) and 9 respondents (52.9%), respectively. The results showed a significant correlation between caffeine intake and sleep disturbances (p-value=0.000). In all categories of caffeine intake, most respondents had normal nutritional status. However, no significant relationship was found between caffeine intake and nutritional status (p-value=0.351). In conclusion, caffeine intake was associated with sleep disturbances but not with nutritional status among final-year undergraduate students.
Association of Consumption Patterns and Eating Habits with Household Nutritional Status in Mountainous and Coastal Areas of Banyuwangi Dea Amanda Caressa; Intan Gumilang Pratiwi
Indonesian Health Issue Vol. 5 No. 1 (2026): FEBRUARY
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/inhis.v5i1.153

Abstract

Family nutritional status remains a major public health concern, particularly in regions with diverse geographical characteristics that influence food availability and dietary behavior. Variations in dietary patterns and eating habits between mountainous and coastal areas may contribute to differences in nutritional outcomes at the household level. This study aimed to examine the association between dietary patterns and eating habits with family nutritional status and to identify regional differences in these associations in Banyuwangi Regency, Indonesia. A quantitative cross-sectional study was conducted from August to September 2025 involving 110 families selected using multistage sampling. Data were collected through a locally adapted Food Frequency Questionnaire (FFQ), structured eating habit questionnaires, and anthropometric measurements based on WHO standards. Statistical analyses included descriptive statistics, Chi-Square tests, and multivariate logistic regression. The results indicated that a substantial proportion of families exhibited inadequate dietary patterns and unhealthy eating habits, alongside significant differences in nutritional status between mountainous and coastal regions. Both dietary patterns and eating habits were significantly associated with family nutritional status after adjusting for potential confounders, with inadequate dietary patterns emerging as the strongest determinant. Stratified analysis revealed regional-specific determinants, where dietary patterns were more influential in mountainous areas, while eating habits played a greater role in coastal areas. In conclusion, improving family nutritional status requires region-specific nutrition interventions that address local food systems and promote balanced dietary practices through targeted nutrition education.
Analysis Of The Correlation Between Junk Food Consumption, Nutritional Status, And Emotional Eating Behavior Among Female Students Living In Dormitories Vicky Amalina; Alfian Abdul Rajab; Dea Amanda Caressa
Indonesian Health Issue Vol. 5 No. 2 (2026): AUGUST
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/inhis.v5i2.196

Abstract

The increasing consumption of junk food among female university students living in dormitories has become a public health concern due to irregular eating habits, easy access to fast food, and academic stress. These factors may contribute to changes in nutritional status and emotional eating behavior. This study aimed to analyze the relationship between junk food consumption, nutritional status, and emotional eating among female students residing in university dormitories.This analytical observational study employed a cross-sectional design involving 106 female students living in the Dr. Soekardjo University dormitory. Participants were selected using simple random sampling. Junk food consumption was assessed using a Food Frequency Questionnaire (FFQ) and categorized as high (≥4 times/week) or low (<4 times/week). Emotional eating was measured using the Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ), while nutritional status was determined using Body Mass Index (BMI). Descriptive statistics and Spearman rank correlation tests were used to analyze the relationships among variables, with a significance level of p<0.05.Most respondents had normal nutritional status (43.4%), although 47.2% were classified as overweight or obese. Emotional eating was high in 73.6% of participants. Significant positive associations were found between junk food consumption and nutritional status (p<0.001; r=0.378), junk food consumption and emotional eating (p=0.021; r=0.152), and nutritional status and emotional eating (p=0.026; r=0.215). Students with higher junk food consumption were more likely to be overweight or obese and exhibited a greater tendency toward emotional eating.Junk food consumption is significantly associated with both nutritional status and emotional eating among female dormitory students. Although the observed correlations ranged from weak to moderate, the findings suggest that unhealthy dietary habits and psychological factors jointly contribute to nutritional problems in this population. Comprehensive interventions combining nutrition education with emotional eating management are recommended to promote health university students