Hipertensi merupakan penyakit yang dikaitkan dengan konsekuensi sosial dan ekonomi khususnya di negara berpendapatan rendah dan menengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cost effectiveness dari 2 pilihan antihipertensi yang paling dibanyak digunakan pasien hipertensi dengan penyakit penyerta congestive heart failure (CHF). Sampel terdiri dari seluruh pasien rawat inap dengan diagnosis hipertensi dan CHF selama periode 2020–2022, yang dipilih melalui metode total sampling. Analisis efektivitas biaya (Cost-Effectiveness Analysis/CEA) dilakukan dengan menggunakan perspektif rumah sakit, mencakup perhitungan biaya medis langsung dan luaran klinis berupa penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik. Regimen yang dibandingkan adalah Terapi A (kombinasi furosemide, ramipril, dan spironolakton) dan Terapi B (kombinasi bisoprolol, furosemide, ramipril, dan spironolakton). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 45 sampel yang diperoleh, nilai Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) pada Terapi A lebih rendah dibandingkan Terapi B. Nilai ACER Terapi A untuk penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik masing-masing sebesar Rp212.395/mmHg dan Rp346.948/mmHg, dengan nilai p sebesar 0,46 dan 0,424 secara berurutan. Sementara itu, nilai Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) Terapi A dibandingkan Terapi B untuk tekanan darah sistolik sebesar Rp425.476/mmHg dan untuk tekanan darah diastolik sebesar Rp402.478/mmHg. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Terapi A lebih cost-effective dibandingkan Terapi B, meskipun tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada nilai ACER antara kedua pilihan terapi.