Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Strategies to Increase Family Resilience to Disasters Based on Pentahelix Perspectives: A Qualitative Study Suhari Suhari; R Endro Sulistyono; Primasari Mahardhika Rahmawati; Dwi Ochta Pebriyanti
Jurnal Berita Ilmu Keperawatan Vol. 18 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bik.v18i2.8655

Abstract

Disasters affect family dynamics as the smallest social unit in society. Disasters that occur in communities have a considerable impact on the lives and property, and mental health of survivors. In addition, it also affects human health, which risks undermining the well-being of families, due to the health problems that can occur. The family's unpreparedness in these tasks can increase the psychological and physical impacts experienced by its members. Therefore, strategies in disaster preparedness are important to reduce the impact. This study aims to explore strategies to improve family resilience in disaster mitigation. The number of interviews is 21 people, consisting of women and men with an average age of 45 years, who have different backgrounds. Including academians, business, community, government, and journalists. The results showed that the strategy to increase family resilience to disaster is based on 5 family tasks from Maglaya's theory, including that families must have a preparedness plan and knowledge about disaster management through education to families about the steps that must be taken before, during, and after a disaster is very helpful in increasing family resilience. The conclusion is that disaster training and simulation programs involving family members have proven effective in building confidence and necessary skills. This research can be concluded that family disaster preparedness depends on good knowledge and planning. Disaster nurses play an important role in education and training, which helps reduce psychological and physical impacts. Thus, community safety and well-being can be improved by exploring strategies to improve family resilience in disaster mitigation  
Integrated Agronursing Strategies to Mitigate Occupational Hazards among Global Agricultural Workers Kurniyawan, Enggal Hadi; Afandi, Alfid Tri; Nur, Kholid Rosyidi Muhammad; Kurniawan, Dicky Endrian; Mahardhika Rahmawati, Primasari; Emerson, Iraha; Mukhtar, Madiha; Rany Agustin Wulandari
Health and Technology Journal (HTechJ) Vol. 4 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : KHD Production

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53713/htechj.v4i3.724

Abstract

Agricultural occupational hazards pose escalating threats to farming populations globally, yet fragmented evidence limits cohesive clinical and policy responses. This systematic review synthesizes contemporary research to inform an integrated agronursing framework addressing occupational health and safety among farmers. Following PRISMA 2020 guidelines, we searched Scopus, PubMed, and ProQuest for English-language, open-access studies published between 2022 and 2026. Ten studies spanning eight countries underwent a Joanna Briggs Institute critical appraisal and narrative synthesis due to methodological heterogeneity. Results indicate strong positive correlations between hazard knowledge and safety behaviors, though high-risk practices persist, including pesticide overconcentration (74.6%) and inconsistent use of personal protective equipment. Panel regression analysis revealed a monotonic escalation in severe agricultural trauma above 20°C, increasing 123% beyond 30°C. Multicomponent educational interventions demonstrated significant short-term improvements in sun safety knowledge and protective behaviors. At the same time, qualitative evidence highlighted structural determinants, piece-rate compensation, infrastructure deficits, and cultural norms that independently mediate risk exposure. Media analyses further revealed tendencies to individualize injury responsibility, obscuring upstream regulatory drivers. These findings confirm that knowledge acquisition alone cannot sustain behavioral change without concurrent environmental and policy-level interventions. Consequently, agronursing practice must evolve from episodic clinical care toward proactive, ecologically grounded models integrating standardized psychosocial screening, climate-responsive surveillance, and advocacy for equitable safety protocols. This framework equips rural health systems with evidence-based strategies to implement contextually tailored interventions, ultimately safeguarding farmer wellbeing and strengthening global agricultural resilience.
Gerakan Mental Health Berbasis Intervensi dan Resiliensi Adaptif Pasca Bencana di Desa Kutorenon Lumajang Primasari Mahardhika Rahmawati; Suhari; Amin Aji Budiman; R. Endro Sulistyono; Dwi Ochta Pebriyanti
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i2.964

Abstract

Bencana alam tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan kemampuan adaptasi penyintas. Program GEMBIRA (Gerakan Mental Health Berbasis Intervensi dan Resiliensi Adaptif) bertujuan mendukung pengelolaan stres dan resiliensi penyintas melalui integrasi edukasi kesehatan mental, stress management, dan art therapy berbasis aktivitas kreatif-produktif. Kegiatan dilaksanakan pada 17 Juli 2026 di Desa Kutorenon, Lumajang, dengan melibatkan 20 penyintas bencana. Metode pelaksanaan meliputi edukasi, demonstrasi, praktik langsung, diskusi, refleksi, dan pendampingan. Art therapy dilaksanakan melalui pembuatan kerajinan kawat bulu sebagai media ekspresi kreatif dan relaksasi sekaligus pengembangan keterampilan produktif. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran pengetahuan, observasi keterampilan, dan penilaian Growth Focused Resilience. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas peserta memiliki resiliensi pada kategori tinggi, yaitu 85% pada resiliensi total, 80% pada dimensi development growth, dan 85% pada dimensi positive emotion. Tidak terdapat peserta yang termasuk dalam kategori resiliensi rendah. Peserta juga mampu mengikuti tahapan kegiatan dan menghasilkan produk kreatif dengan pendampingan. Aktivitas art therapy berpotensi mendukung resiliensi melalui ekspresi dan regulasi emosi, refleksi diri, pemaknaan pengalaman, serta penguatan emosi positif. Integrasi intervensi psikososial dengan aktivitas kreatif-produktif dalam Program GEMBIRA berpotensi menjadi pendekatan berbasis masyarakat untuk mendukung pengelolaan stres, penguatan resiliensi, keterampilan, dan kemandirian penyintas pascabencana.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KATARAK PADA LANSIA: SCOPING REVIEW Amin Aji Budiman; Suhari; R. Endro Sulistyono; Primasari Mahardhika Rahmawati; Dwi Ochta Pebriyanti
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p07

Abstract

Katarak merupakan penyebab utama kebutaan di Indonesia, sering terjadi pada lansia akibat proses degeneratif pada lensa mata. Berbagai faktor seperti merokok dan hipertensi berkontribusi meningkatkan risiko katarak. Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko katarak pada lansia di Indonesia. Studi ini menggunakan metode scoping review dengan pedoman PRISMA yang terdiri dari empat tahap: identifikasi literatur, penyaringan, penilaian kelayakan, dan inklusi artikel. Hasil tinjauan terhadap 14 jurnal dari basis data Google Scholar, PubMed, dan Sciencedirect yang memenuhi kriteria inklusi menunjukkan bahwa faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi meliputi usia lanjut, jenis kelamin perempuan, dan riwayat keluarga. Sementara itu, faktor yang dapat dimodifikasi meliputi hipertensi, diabetes melitus, obesitas, kebiasaan merokok, diet, kekurangan vitamin A, gaya hidup buruk, penggunaan glukokortikoid, iridosiklitis, kelainan refraksi, HDL rendah, dan etnis asli. Deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan rutin dan identifikasi faktor risiko pada kelompok lansia. Upaya pencegahan melalui pendidikan kesehatan dan promosi gaya hidup sangat penting untuk mengurangi kejadian katarak pada kelompok lansia.
Gerakan Mental Health Berbasis Intervensi dan Resiliensi Adaptif Pasca Bencana di Desa Kutorenon Lumajang Primasari Mahardhika Rahmawati; Suhari; Amin Aji Budiman; R. Endro Sulistyono; Dwi Ochta Pebriyanti
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i2.964

Abstract

Bencana alam tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan kemampuan adaptasi penyintas. Program GEMBIRA (Gerakan Mental Health Berbasis Intervensi dan Resiliensi Adaptif) bertujuan mendukung pengelolaan stres dan resiliensi penyintas melalui integrasi edukasi kesehatan mental, stress management, dan art therapy berbasis aktivitas kreatif-produktif. Kegiatan dilaksanakan pada 17 Juli 2026 di Desa Kutorenon, Lumajang, dengan melibatkan 20 penyintas bencana. Metode pelaksanaan meliputi edukasi, demonstrasi, praktik langsung, diskusi, refleksi, dan pendampingan. Art therapy dilaksanakan melalui pembuatan kerajinan kawat bulu sebagai media ekspresi kreatif dan relaksasi sekaligus pengembangan keterampilan produktif. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran pengetahuan, observasi keterampilan, dan penilaian Growth Focused Resilience. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas peserta memiliki resiliensi pada kategori tinggi, yaitu 85% pada resiliensi total, 80% pada dimensi development growth, dan 85% pada dimensi positive emotion. Tidak terdapat peserta yang termasuk dalam kategori resiliensi rendah. Peserta juga mampu mengikuti tahapan kegiatan dan menghasilkan produk kreatif dengan pendampingan. Aktivitas art therapy berpotensi mendukung resiliensi melalui ekspresi dan regulasi emosi, refleksi diri, pemaknaan pengalaman, serta penguatan emosi positif. Integrasi intervensi psikososial dengan aktivitas kreatif-produktif dalam Program GEMBIRA berpotensi menjadi pendekatan berbasis masyarakat untuk mendukung pengelolaan stres, penguatan resiliensi, keterampilan, dan kemandirian penyintas pascabencana.
THE INFLUENCE OF PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION ON ANXIETY LEVEL OF PRE-CAESAREAN SECTION MOTHERS IN DELIVERY ROOM Primasari Mahardhika Rahmawati; Edi Widjajanto; Asti Melani Astari
NurseLine Journal Vol. 2 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Birth rate through caesarean surgery (C-section) keeps increasing globally. Re search states that expecting mothers suffer from anxiety prior to C-section. Impacts of pre-caesarean anxiety are increasing post caesarean pain, increasing analgesic need, longer hospitalization, and postpartum depression. One of the methods to overcome anxiety before C-section is conducting progressive muscle relaxation (PMR) therapy. This study described the influence of PMR therapy on anxiety level of pre caesarean mothers in the Surgery Room of RSUD dr. Haryoto, Lumajang. The study used quasi-experimental pre-post test with control group design. The sampling tech nique was consecutive sampling and the number of the sample was 26 respondents. The instrument for PMR therapy was PMR therapy tool. Self-rating anxiety scale (SAS) was used to measure anxiety level. Progressive muscle relaxation (PMR) had