Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

A Pelatihan Konseling Pemberian Makan Anak Stunting Di Desa Melayu Timur Tahun 2023 Farhat, Yasir; Pratiwi, Niken; Nurhamidi, Nurhamidi; Abdurrachim, Rijanti; Aprianti, Aprianti; Anwar, Rosihan; Mahpolah, Mahpolah
JURNAL RAKAT SEHAT (JRS) : Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Rakat Sehat
Publisher : UPPM Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jrs.v3i2.74

Abstract

Stunting or often called dwarf or short is a condition of growth failure in children under five years old (toddlers) due to chronic malnutrition and repeated infections, especially in the period of the First 1,000 Days of Life (HPK), namely from the fetus to the age of 2 years. The 1000 HPK period is also called the golden period as well as the critical period. This period is also closely related to the nutritional status of toddlers, the direct cause of nutritional problems is lack of nutritional intake and infectious diseases. Nutritional intake in the 1000 HPK cannot be separated from the Infant and Child Feeding Standards (PMBA). Reducing stunting rates by providing counseling on providing food for stunted children, by providing counseling on providing food for stunted children and providing food for children according to age. The methods implemented in this activity are training in counseling on providing food for stunted children and assistance in counseling on providing food for stunted children. The results of statistical tests with the Wilcoxon difference test showed that there was a significant difference (r=0,00) in the change in knowledge. Recommendations for training for motivational agents and training in other locations so that motivator groups can be formed in each fostered area.
REPRESENTASI PESAN MORAL PADA FILM LIKE & SHARE (SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Aprianti, Aprianti; Hastuti, Hastuti; Hidayatullah, Muh.
Jurnal Network Media Vol 8, No 1 (2025): NETWORK MEDIA
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jnm.v8i1.4790

Abstract

Dalam komunikasi, media selalu menjadi elemen penting dalam penyampaian pesan. Media adalah sarana atau alat yang digunakan oleh komunikator untuk mengirimkan pesan kepada komunikan atau khalayak. Proses komunikasi dibagi menjadi dua cara: primer dan sekunder. Komunikasi primer adalah penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan menggunakan media primer, seperti lambang atau bahasa. Film merupakan salah satu media massa yang sangat populer dan memiliki fungsi hiburan dalam komunikasi. Film memiliki daya tarik tersendiri bagi khalayak dibanding media massa lainnya dan terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Analisis film menggunakan semiotika, terutama teori Roland Barthes, memungkinkan pemahaman mendalam tentang tanda dalam konteks skenario, gambar, teks, dan adegan film. Penelitian ini tertarik pada film "Like & Share," sebuah film drama remaja Indonesia yang mengangkat isu kekerasan seksual, pelecehan, dan revenge porn. Film ini menampilkan realitas fenomena sosial sehari-hari dan menyiratkan pesan moral tentang eksplorasi dunia remaja, kecanduan pornografi, komunikasi buruk, dan perjuangan korban pelecehan seksual. Dengan analisis semiotika Roland Barthes, penelitian ini mengungkap representasi kekerasan seksual dan objektifikasi perempuan dalam film "Like & Share." Film ini bukan hanya media hiburan, tetapi juga alat penyampai pesan moral dan pengetahuan yang mampu mempengaruhi penontonnya melalui kekuatan visual dan audio.
Pengaruh Tingkat Pengetahuan Gizi, Pola Konsumsi dan Tingkat Pendapatan Perkapita terhadap Kejadian Kekurangan Energi Kronik Ibu Hamil Farhat, Yasir; Aprianti, Aprianti; Pratiwi, Niken
Jurnal Skala Kesehatan Vol 16 No 1 (2025): Jurnal Skala Kesehatan Edisi Januari 2025
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jsk.v16i1.430

Abstract

BackgroundIn 2018, the prevalence of chronic energy deficiency (CED) among pregnant women in South Kalimantan was 19.45%. In the working area of the Landasan Ulin Timur Health Center, Banjarbaru City, the prevalence reached 24.7%, the highest in the region. This study aims to analyze the influence of nutritional knowledge, consumption patterns, and per capita income on the incidence of CED among pregnant women in this area. MethodsThis research is observational-analytical with a case-control design. The population consisted of 361 pregnant women, and a sample of 44 participants (22 with CED and 22 without) was selected using purposive sampling. Data were gathered on nutritional knowledge, consumption patterns, per capita income, and CED incidence from secondary sources and analyzed using multiple logistic regression tests. ResultsMost pregnant women with CED had low nutritional knowledge (72.8%), poor consumption patterns (81.8%), and low income (90.9%). Nutritional knowledge significantly influenced CED incidence. ConclusionHealth workers should provide counseling to improve pregnant women's awareness and knowledge about CED prevention.
Edukasi Dan Pelatihan Pengolahan MP-ASI Berbahan Pangan Lokal Pada Kader Untuk Mencegah Stunting (Kelurahan Landasan Ulin Tengah) Aprianti, Aprianti; Hariati, Niken Widyastuti; Farhat, Yasir
Majalah Cendekia Mengabdi Vol 3 No 1 (2025): Majalah Cendekia Mengabdi
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/mcm.v3i1.510

Abstract

Pendahuluan: Stunting masih menjadi permasalahan gizi kronis yang berdampak signifikan pada kesehatan anak-anak di Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan. Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) berbahan pangan lokal yang tepat dapat menjadi salah satu strategi pencegahan stunting pada anak usia dini. Tujuan: Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu di Kelurahan Landasan Ulin Tengah tentang pengolahan MP-ASI berbasis pangan lokal. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Juni hingga Juli 2024, melibatkan 27 kader posyandu. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan tentang pemilihan bahan dan pengolahan MP-ASI serta demo masak. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan pada kader, di mana kader dengan pengetahuan baik meningkat dari 29,63% sebelum pelatihan menjadi 62,96% setelah pelatihan. Program ini terbukti efektif dalam memperkuat peran kader posyandu dalam pencegahan stunting melalui edukasi berbasis pangan lokal. Simpulan: Pelatihan berkala dan kolaborasi dengan puskesmas disarankan untuk menjaga keberlanjutan program ini.
Hubungan Pemberian Asi Eksklusif, Pengetahuan Gizi, Pendapatan Keluarga, Pola Makan, Dan Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Weight Faltering (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Mesa Banjarmasin) Haqueena, Amalia; Nurhamidi, Nurhamidi; Aprianti, Aprianti; Farhat, Yasir
Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa Vol. 1 No. 10 (2025): Maret
Publisher : Amirul Bangun Bangsa Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpnmb.v1i10.360

Abstract

Pemerintah Indonesia menetapkan stunting sebagai isu prioritas nasional. Kejadian stunting dimulai kenaikan berat yang tidak sesuai dengan target, atau "weight faltering". Efek jangka pendek dari weight faltering adalah terganggunya respon imun, terhambatnya pertumbuhan kognitif, fisik, dan psikomotor, masalah perilaku, kesulitan belajar, dan kematian bayi. Wilayah Puskesmas di Kota Banjarmasin yang prevalensi weight faltering nya paling tinggi adalah Puskesmas Sei Mesa sebesar 49,05%, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 37,85%. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif, pengetahuan gizi, pendapatan keluarga, pola konsumsi, dan riwayat infeksi terhadap weight faltering pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Mesa Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Pengumpulan data merupakan data primer dengan menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah 97 orang responden dari total populasi 893 orang. Analisis data menggunakan uji Chi-Square.Hasil penelitian didapatkan sebanyak 45 orang balita (46,4%) mengalami weight faltering, 60 orang balita (6 1,86%) tidak mendapatkan ASI eksklusif, 94 orang ibu balita (96,90%) pengetahuan gizinya baik, 53 orang (54,64%) memiliki pendapatan keluarga rendah, 63 orang balita (64,94%) memiliki pola makan baik, dan 76 orang balita (78,35%) tidak menderita penyakit infeksi dalam 3 bulan terakhir. Kesimpulan ada hubungan antara pemberian ASI, pendapatan keluarga, pola makan, dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian weight faltering. Namun, tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi dengan kejadian weight faltering. Perlunya peningkatan pengetahuan dan perbaikan pola makan agar kejadian weight faltering dapat dicegah dan ditanggulangi sejak dini. Bagi  peneliti  selanjutnya  hendaknya  dapat  melakukan  penelitian  lanjutan dengan  menambahkan  variabel lainnya
Reproductive health education for female sex workers in Bandungan District Wulandari, Respati; Aprianti, Aprianti; Sifai, Izzatul Alifah; Pramitasari, Ratih
Community Empowerment Vol 10 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/ce.12427

Abstract

Female Sex Workers (FSWs) are a group vulnerable to HIV, violence, unwanted pregnancies, and sexually transmitted infections (STIs) due to limited access to information and reproductive health services. This community service aims to improve the knowledge and attitudes of FSWs and shelter managers regarding reproductive health. The activity was conducted using counseling methods, including material presentations, discussions, and experience sharing. The results of the activity showed an increase in the average knowledge score (from 55.7 to 65.7) and attitude score (from 27.9 to 29.6) after the counseling. Although this program successfully improved reproductive health knowledge and attitudes, cross-sectoral collaboration between the Health Office, Community Health Centers (Puskesmas), NGOs, and academics is still needed to optimize programs and reproductive health services for FSWs.
Peningkatan Literasi Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Sendangmulyo Puspita Anggraini, Fitria Dewi; Aprianti, Aprianti; Mubarokah, Kismi; Wulandari, Respati
Bersama : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023): Bersama: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Fakultas Pertania Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/bsm.v1i2.16

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by the Dengue virus and transmitted by the Aedes aegypti or Aedes albopictus mosquito. Sendangmulyo sub-district is the area with the highest number of dengue fever cases among the sub-districts in the Kedungmundu Health Center working area with the majority of residents' neighborhoods being residential complexes. Effor to control dengue hemorrhagic fever cases need to be increased by involving community participation. The problems faced by the community are the inconsistency of community knowledge and actions in efforts to eradicate mosquito nests in daily life, as well as the low level of public awareness in implementing habits to prevent cases of dengue hemorrhagic fever. The mentoring activities carried out were providing education regarding dengue hemorrhagic fever literacy and its prevention, followed by brainstorming regarding the root causes of the dengue problem in the Sendangmulyo area by producing a Follow-up Plan for implementing regional-based case reduction. Statistically, the pretest-posttest score difference test value for the knowledge, attitude and literacy variables respectively is 2.444 (p=0.015 <0.05); 2.142 (p=0.032 < 0.05) and 1.222 p=0.222 > 0.05). There is a significant difference in the mean pretest and posttest scores on the measurement of knowledge and attitude variables. The follow-up plan agreed upon by residents is the PKK Grebeg Jentik Movement, inspection of larvae in the field using a filter dipper, empty houses that have not been occupied for a long time must still be inspected with permission from the relevant RT, and provision of fishization for residents who have been inspected three times in a row and find larvae.
Reproductive health education model for university students utilizing social media channels: Designing and testing Wulandari, Respati; Aprianti, Aprianti; Mubarokah, Kismi; Anggraini, Fitria Dewi Puspita
JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia JKKI, Vol 16, No 1, (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JKKI.Vol16.Iss1.art5

Abstract

Background: Adolescent growth encompasses physical, biological, psychological, and social aspects, including interest in the opposite sex. Providing information and support related to reproductive health helps adolescents make proper and safe decisions. Objectives: This study aims to design and validate a reproductive health education model for university students.Methods: The study is a mixed method with a multi-stage design using the 4-phase Research and Development design approach (need assessment, model development, implementation, expert validation, and final product). This research involved 221 university students (online survey), 5 managers of adolescent education programs, 6 university students (in-depth interviews), and 10 peer educators (Focus Group Discussion). Data analysis was descriptive and content analysis.Results: The generated reproductive health education model consists of 1)educators (competent, trustworthy, peer, young, survivors, and good-looking), 2)recipients (late adolescents), 3)education methods (two-way, private, repetitive,), 4)education media (social media platforms), 5) educational content (all topics needed by late adolescents), 6)duration (30 seconds/topic), and 7)goals (to increase knowledge, attitudes, and behaviors regarding reproductive health among university students). Expert validity testing: the model was highly accepted and deemed suitable for implementation (94.7%).Conclusion: The educational model developed is encouraged for implementation among university students. Introducing and implementing the model requires support from relevant stakeholders (NGOs, students, faculty, and university stakeholders). Implementation is necessary to prove the model's effectiveness in increasing knowledge, attitudes, and behaviors regarding reproductive health among university students.
Kegiatan Melipat Kertas Lipat Bermotif untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Widayati, Sri; Simatupang, Nurhenti Dorlina; Aprianti, Aprianti; Maulidiya, Rohmatul
Al-Athfaal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 3 No. 1 (2020): Al-Athfaal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajipaud.v3i1.6544

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya anak yang masih memerlukan bantuan dalam  melipat kertas satu kali,  anak belum mampu dalam menyatukan dua sisi kertas dan menekan kertas dengan kuat sehingga hasil melipat satu menghasilkan lipatan yang tidak sama. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak pada kegiatan melipat kertas bermotif dengan sisi kertas yang berbeda. Jenis penelitian ini yaitu menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (action research). Subjek penelitian ini adalah anak usia 5-7 tahun di TK DWPW. Tehnik pengumpulan data dengan lembar observasi. Tehnik pengolahan data menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak  47,2% dan siklus II 82,6 % kmampuan anak dalam melipat kertas satu lipatan  mengalami peningkatan. Terjadinya peningkatan sebesar 35,47% yang berarti melipat dengan menggunakan kertas bermotif dengan dua sisi berbeda dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak dalam melipat satu kali. Harus dipastikan anak menguasai kegiatan melipat satu dengan baik baru guru dapat memberikan tahap melipat selanjutnya. 
Analysis of Parenting Patterns and Nutritional Imbalance as Risk Factors for Stunting in Toddlers Hariati, Niken Widyastuti; Aprianti, Aprianti
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. 7 No. 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 April 2025
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/jika.v7i1.1284

Abstract

Stunting is a chronic nutritional problem that has serious impacts on children's physical growth and cognitive development. In 2023, South Kalimantan Province recorded a stunting prevalence of 24,7%, higher than the national average of 21,5%. This study aimed to examine the feeding practices and nutritional intake balance among stunted children under five in the Sungai Ulin Community Health Center (Puskesmas) service area. The study employed a mixed-methods approach, consisting of a quantitative component using a cross-sectional design, and a qualitative component through in-depth interviews. The quantitative data sample included 66 stunted children aged ?1 year, while the qualitative data sample consisted of 15 mothers or caregivers of stunted children. Data collection and analysis were conducted from March to July 2024. The study findings indicated that 54,5% of the stunted children were under three years old, and 60,6% were male. Additionally, 57,6% of the children had a short stature nutritional status. Energy (51,5%), carbohydrate (63,6%), and iron (57,6%) intake deficits were identified as significant risk factors. The qualitative findings revealed that parental time availability nutritional knowledge, and improper complementary feeding practices contributed to the occurrence of stunting. Interventions promoting balanced diets and educating parents about appropriate feeding practices are essential steps in preventing stunting.