Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Studi Penggunaan Albumin pada Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) di RSUD Sidoarjo: Drug Utilization Study of Albumin Use in Patients with Chronic Kidney Disease (CKD) at Sidoarjo Regional Hospital Bastari, Nadya Kirana Savira; Mukti, Asri Wido; Purbosari, Ira
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 6 No. 3 (2024): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v6i3.2129

Abstract

In patients with Chronic Renal Failure (CKD), protein loss in urine results in albumin levels <2.5 g/dL, requiring albumin therapy. The purpose of this study was to assess the accuracy of albumin therapy in patients with CKD, including: albumin concentration, albumin dose, duration of administration, therapy outcome, and to determine the presence or absence of Drug Related Problems (DRPs). The research conducted refers to the time limited sampling method, descriptive analysis, using non-experimental observation, and relevant data collected through retrospective methods for the period 01 October-31 December 2022 at Sidoarjo Regional Hospital. In this study, there were 23 patients who met the inclusion criteria. Albumin used two types of concentrations, 20% and 25% (100 ml preparation) with a dose of 1×1 intravenous route (IV) drip and duration of administration <4 hours. Therapeutic outcomes that reached the target were 48% and did not reach the target 52%. The 4 DRPs analysed included: drug interaction, drug indication, dose appropriateness, and untreated indication. Of the 4 DRPs, 3 DRPs including: drug interactions, drug indications, and dose conformity were declared no DRPs and 1 DRPs in the category of untreated indications had DRPs. The results of the study showed that the use of  20% and 25% albumin in hypoalbuminemia CKD patients at Sidoarjo Regional Hospital was appropriate and could increase albumin levels in CKD patients. Keywords:          Albumin, Chronic Kidney Disease (CKD), Drug Utilization Study (DUS)   Abstrak Pada pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) kehilangan protein dalam urine mengakibatkan kadar albumin <2,5 g/dL, sehingga memerlukan terapi albumin. Tujuan penelitian ini menilai ketepatan terapi albumin pada pasien GGK, mencakup : konsentrasi albumin, dosis albumin, durasi pemberian, outcome terapi, dan untuk mengetahui ada atau tidaknya Drug Related Problems (DRPs). Penelitian yang dilakukan mengacu metode time limited sampling, dianalisis deskriptif, menggunakan observasi non-eksperimental, dan data 23 pasien yang memenuhi kriteria inklusidikumpulkan melalui metode retrospektif periode 01 Oktober-31 Desember 2022 di RSUD Sidoarjo. Albumin yang digunakan dua jenis konsentrasi, 20% dan 25% (sediaan 100 ml) dengan dosis 1x1 rute intravena (IV) drip dan durasi pemberian <4 jam. Outcome terapi yang mencapai target sebesar 48% dan tidak mencapai target 52%. Untuk 4 DRPs yang dianalisis, meliputi: interaksi obat, indikasi obat, kesesuaian dosis, dan indikasi yang tidak diobati. Dari keempat DRPs tersebut, terdapat 1 DRPs yang teridentifikasi yaitu tidak diobati. Hasil dari penelitian menunjukkan penggunaan albumin 20% dan 25% pada pasien GGK hipoalbuminemia di RSUD Sidoarjo sudah sesuai dan dapat meningkatkan kadar albumin pada pasien GGK. Kata Kunci:         Albumin, Gagal Ginjal Kronik (GGK), Studi Penggunaan Obat
Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Bedah Sesar (Sectio Caesarea) di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya: Evaluation of Antibiotic Use in Cesarean Section (Sectio Caesarea) Patients at Jemursari Islamic Hospital Surabaya Titasari, Fitrata Widya Masyitha; Mukti, Asri Wido; Sari, Dewi Perwito
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2024): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v6i4.2143

Abstract

Caesarean section is a surgical procedure that is included in the Clean Contaminated category. Antibiotic prophylaxis is highly recommended for Caesarean section. The main goal of administering prophylactic antibiotics before surgical procedures is to reduce the risk of infection. Apart from prophylactic antibiotics, therapeutic antibiotics are given to patients who experience infections after caesarean section. These therapeutic antibiotics are specifically used for empirical or curative treatment purposes. The aim of this study was to determine the use of antibiotics in patients undergoing caesarean section at the Jemursari Islamic Hospital, Surabaya. This study is a non-experimental observational study that uses descriptive methodology to collect data retrospectively from patient medical records during the period October to December 2022. A total of 70 patients in the sample met the specified inclusion criteria. The findings of this study indicate that the main prophylactic antibiotic given was cefazolin, a first generation cephalosporin, with a dose of 2 grams given 30-60 minutes before incision in 54 patients. Empirical administration of therapeutic antibiotics was predominantly observed in the oral route for a total of 38 patients, primarily targeting individuals receiving third-generation cephalosporin (cefixime) treatment. Providing prophylactic and therapeutic antibiotics to patients involves selecting the right antibiotic agent and dose, the right route of administration and the right duration of administration in accordance with hospital guidelines. Keywords:          antibiotic therapy, cesarean section, prophylactic antibiotics   Abstrak Bedah sesar ialah tindakan pembedahan termasuk kedalam golongan bersih terkontaminasi (Clean Contaminated) antibiotik profilaksis sangat dianjurkan untuk bedah sesar. Tujuan utama pemberian antibiotik profilaksis sebelum prosedur pembedahan adalah untuk mengurangi risiko infeksi. Selain antibiotik profilaksis, antibiotik terapeutik diberikan kepada pasien yang mengalami infeksi pasca operasi caesar. Antibiotik terapeutik ini secara khusus digunakan untuk tujuan pengobatan empiris atau kuratif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan antibiotik pada pasien yang menjalani operasi caesar di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional non-eksperimental yang menggunakan metodologi deskriptif untuk mengumpulkan data secara retrospektif dari rekam medis pasien selama periode Oktober hingga Desember 2022. Sebanyak 70 pasien dalam sampel memenuhi kriteria inklusi yang ditentukan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa antibiotik profilaksis utama yang diberikan adalah cefazolin, sefalosporin generasi pertama, dengan dosis 2 gram yang diberikan 30-60 menit sebelum insisi yang terdiri dari 54 pasien. Pemberian antibiotik terapeutik secara empiris sebagian besar diamati pada rute oral untuk total 38 pasien, terutama menargetkan individu yang menerima pengobatan sefalosporin (cefixime) generasi ketiga. Pemberian antibiotik profilaksis dan terapeutik kepada pasien melibatkan pemilihan agen antibiotik dan dosis yang tepat, tepat rute pemberian dan tepat lama pemberian yang telah sesuai dengan pedoman rumah sakit. Kata Kunci:         antibiotik profilaksis, antibiotik terapi, bedah sesar
UJI AKTIVITAS ANALGESIK EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa paradisiaca L.) PADA MENCIT JANTAN (Mus musculus) Oktavia Nia Agustin; Asri Wido Mukti; Dewi Perwito Sari
Klinikal Sains : Jurnal Analis Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/klinikal_sains.v12i2.5256

Abstract

Unpleasant multidimensional sensory experience When tissue is damaged is the meaning of pain. However, the pain can be managed by taking painkillers, but the use of painkillers causes several side effects, one of which is stomach irritation. Banana plants are an alternative that is widely used to produce medicine from natural ingredients. Kepok banana peels are waste that has not been utilized optimally. With 5 groups each consisting of 5 mice, this study used the hot plate method to evaluate the analgesic activity of kepok banana peel extract (Musa paradisiaca L.) in male mice (Mus musculus). These groups included the negative control group (CMC Na 0.5%), positive control group (Diclofenac sodium 0.13 mg/20 gBW), and kepok banana peel extract group (1000 mg/kgBW, 2000 mg/kgBW, and 3000 mg/kgBW). The results of the research showed that kepok banana peel extract (Musa paradisiaca L.) had analgesic activity on male mice (Mus musculus) utilizing the Rapid Heating technique, the % MPE value for Kepok Banana Peel Extract (1000 mg/kg BW) of 19.33%, Banana Peel Extract Kepok (2000 mg/kg BB) of 40.43%, and Kepok Banana Peel Extract (3000 mg/kg BB) of 43.88%. Varying doses of kepok banana peel extract (Musa paradisiaca L.) had an influence on analgesic activity in male mice (Mus musculus) with a p value of 0.001 (<0.05). Keywords: Analgesic, Hot plate, Mus musculus, Musa paradisiaca L.
EDUKASI PENGELOLAAN OBAT MELALUI PROGRAM DAGUSIBU PADA KOMUNITAS PKK & KSH KAMPUNG NYAMPLUNGAN X Mochammad Hasbi; Moh Adrian Daffa Maulana; Bertianus Lulus; Raymundus Pape; Asri Wido Mukti; Annisa Rosita Hafizh
Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian Vol. 8 (2026): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 8 Tahun 2026
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya angka penggunaan obat yang tidak rasional serta maraknya miskonsepsi pengelolaan obat domestik di tingkat rumah tangga masih menjadi tantangan utama dalam pembangunan kesehatan masyarakat di daerah perkotaan padat penduduk. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kognitif dan keterampilan psikomotorik komunitas Ibu-Ibu PKK dan Kader Surabaya Hebat (KSH) RT 002 / RW 011 Kampung Nyamplungan 10 mengenai pilar Simpan dan Buang (SIBU) dalam kerangka program DAGUSIBU. Metode pelaksanaan diintegrasikan dengan aktivitas rutin komunitas warga melalui tiga tahapan intervensi utama: ceramah interaktif dua arah berbasis media poster visual, demonstrasi dan simulasi praktis pengrusakan fisik wadah/kemasan obat, serta evaluasi kuantitatif menggunakan instrumen kuesioner cetak (Pre-Test dan Post-Test). Hasil evaluasi statistik menunjukkan adanya lonjakan rata-rata nilai pengetahuan peserta secara signifikan dari 52,4 (kategori cukup) menjadi 93,8 (kategori sangat baik) dengan perolehan N-Gain Score sebesar 0,87 yang tergolong dalam kategori Efektivitas Tinggi. Selain aspek kognitif, kegiatan ini berhasil merekonstruksi perilaku psikomotorik warga dalam mengelola dan membuang limbah obat domestik secara mandiri, sehingga meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya pengelolaan limbah obat secara aman sehingga berpotensi mengurangi risiko penyalahgunaan kemasan obat dan pencemaran lingkungan
EDUKASI PENCEGAHAN PREDIABETES UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN MAHASISWA UKM UKKI UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA Rania Dwi Asyura; Lusiana Fitri; Marwah Nur Laily H; Siti Dahnia Baiduri; Asri Wido Mukti; Annisa Rosita Hafiizh
Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian Vol. 8 (2026): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 8 Tahun 2026
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prediabetes merupakan kondisi peningkatan kadar glukosa darah di atas normal, tetapi belum memenuhi kriteria diagnosis diabetes melitus tipe 2. Mahasiswa termasuk kelompok yang rentan mengalami prediabetes akibat pola hidup yang kurang sehat, seperti konsumsi makanan tinggi gula, kurang aktivitas fisik, dan pola tidur yang tidak teratur. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengevaluasi peningkatan pengetahuan mahasiswa mengenai pencegahan prediabetes melalui edukasi kesehatan. Kegiatan menggunakan desain one-group pretest-posttest yang melibatkan 30 mahasiswa Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKM UKKI) Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Intervensi dilakukan melalui penyuluhan kesehatan menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi, dan media poster. Tingkat pengetahuan diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah penyuluhan, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 7,67 menjadi 8,60 (12,13%). Sebanyak 46,7% peserta mengalami peningkatan skor, 40,0% tetap, dan 13,3% mengalami penurunan. Edukasi kesehatan mampu meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai pencegahan prediabetes sebagai salah satu upaya promotif mencegah diabetes melitus tipe 2
EDUKASI PENGELOLAAN DAN PENCEGAHAN KEKAMBUHAN ASMA PADA WARGA PERUMAHAN PEPELEGI INDAH, WARU, SIDOARJO Emilya Juventina I.P.; Chantika Anggun A.S.; Aulia Rahmadani P.H.; Regina Esterecia P.P.; Anita Anggraeni; Eka Puji Rahayu V; Asri Wido Mukti; Annisa Rosita Hafiizh
Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian Vol. 8 (2026): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 8 Tahun 2026
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asma merupakan penyakit kronis saluran pernapasan dengan prevalensi yang masih tinggi di Indonesia, terutama pada kelompok usia produktif dan lanjut usia, serta sering diperberat oleh rendahnya kemampuan manajemen diri dan kesalahan teknik penggunaan inhaler. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat Perumahan Pepelegi Indah, Waru, Sidoarjo mengenai penyakit asma, faktor pencetus, serta teknik penggunaan inhaler yang benar. Pemilihan lokasi didasarkan pada tingginya populasi lansia serta kedekatan wilayah dengan aktivitas industri yang berisiko meningkatkan paparan polusi udara. Metode yang digunakan meliputi survei awal melalui kuesioner daring dan wawancara dengan Ketua RW, penyampaian edukasi kesehatan secara tatap muka, demonstrasi penggunaan inhaler, serta evaluasi pemahaman peserta melalui pre-test dan post-test. Kegiatan dilaksanakan pada peserta senam pagi yang mayoritas berusia lanjut. Hasil evaluasi terhadap 25 peserta menunjukkan peningkatan nilai pada 13 peserta (52%), nilai tetap pada 12 peserta (48%), dan tidak ditemukan penurunan nilai, dengan rata-rata nilai meningkat dari 74,48 menjadi 84,00. Kegiatan ini efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam mengenali gejala, menghindari pemicu, serta menggunakan inhaler secara tepat, ditunjukkan oleh peningkatan rata-rata nilai pengetahuan peserta setelah edukasi.
Studi Penggunaan Obat Pada Pasien Sindrom Ovarium Polikistik (Pcos) Di Rsud Haji Provinsi Jawa Timur Shella Anggraini; Asri Wido Mukti; Novamei Indriani; Rosy Nurlita Hapsari
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 12 No. 2 (2026): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v12i2.13547

Abstract

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) is the most common endocrine-metabolic disorder among women of reproductive age, yet comprehensive data on its drug utilization pattern in Indonesian regional hospitals remain limited, particularly in East Java. This study aimed to describe the drug utilization pattern in PCOS patients at RSUD Haji East Java Province during 2020-2025. A descriptive retrospective design was applied using total sampling of 57 outpatient medical records meeting the inclusion criteria, analyzed descriptively using Microsoft Excel. Results showed that monotherapy was the predominant treatment pattern (70.2%), with hormonal therapy being the most frequently used drug class (78.9%). The most commonly prescribed drugs were norethisterone 5 mg (43.9%) and Cycloprogynova (40.4%), while metformin was used in 14.0% of patients and clomiphene citrate (Diphten) as an ovulation-inducing agent in 12.3% of patients. Doses and frequencies were mostly consistent with standard literature, with two frequency variations found for Diane 35 and Microgynon, reflecting the prescribing physician's clinical judgment. Documented adverse effects were found in only one patient (1.8%), consisting of dizziness potentially associated with metformin. All patients (100%) showed clinical improvement in the form of menstrual return within 2 to 6 days after therapy. It is concluded that PCOS drug utilization at RSUD Haji is dominated by hormonal therapy with favorable clinical response, although the completeness of medical record documentation should be improved to support comprehensive therapy monitoring.