Articles
EFFECT OF INTRADIALYTIC EXERCISE ON HAEMODIALYSIS ADEQUACY
Utomo, Endrat Kartiko;
Rochmawati, Erna
Jurnal Keperawatan Vol 10, No 1 (2019): JANUARI
Publisher : University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (197.851 KB)
|
DOI: 10.22219/jk.v10i1.6379
People with kidney failure should have hemodialysis therapy to survive. The effectiveness of hemodialysis therapy can be measured by calculating the value of dialysis adequacy: Kt/V and URR values. Intradialytic exercise is an exercise that can improve of dialysis adequacy. The purpose of this review is to report the results of related research on the effect of intradialytic exercise on dialysis adequacy. Relevant articles were search in PubMed, Science Direct and Google Scholar using this keywords intradialytic exercise and dialysis adequacy. Results: 12 articles ware included in the review and found various intradialytic exercises, intradialytic training time and length of intradialytic training. Exercises that can improve the adequacy of dialysis are static bike exercises, airogym and aerobics. While exercise resistance decreases the value of dialysis adequacy. We also found that the initial adequacy varied. Discussion: mild exercise can increase dialysis adequacy, in the first two hours of dialysis and minimum exercise was conducted two month. Currently no literature that recommend type and length of intradialytic exercise. Conclusion: intradialytic exercise can increase the value of dialysis adequacy, although it has increased, the mean value of adequacy before exercise is above standard. To confirm these findings, further research is needed to conducted exercise ware the value of adequacy under standard values.
Effectiveness of Hedon (Heel Donut) as an Effort to Prevent Pressure Ulcers on the Calcaneal of Tractioned Patients
Rahmasari, Ikrima;
Utomo, Endrat Kartiko;
Ridzuan, Ilyas Syafiq Darul;
Sukini, Sukini
Proceedings of the International Conference on Nursing and Health Sciences Vol 5 No 1 (2024): January-June 2024
Publisher : Global Health Science Group
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37287/picnhs.v5i1.2855
Fracture is a condition where the continuity of bone tissue and/or cartilage is completely or partially broken, caused by force trauma or osteoporosis. Fracture management includes conservative measures and surgical procedures. Conservative measures given include plaster casts, splints, skin traction, bone traction, as well as repairs by manipulation and repositioning to a position close to normal. One of the impacts of installing skeletal traction is pressure ulcers. Pressure ulcers are a problem that often occurs in prominent bony areas such as the heel (calcaneal). Objective: patients who are installed in skeletal traction. Method: using pre-experimental methods with One-group pre-post test design techniques. Results: Based on the occurrence of pressure ulcers before being given the heel donut, there were 8 patients who did not experience pressure ulcers with a percentage of 57.1% and 6 patients who experienced stage 1 pressure ulcers, 42.8%. After being given the heel donut, 14 patients did not experience pressure ulcers with a percentage of 100% and no respondents experienced stage 1 pressure ulcers after being given the heel donut. Conclusions: Hedon (heel donut) is effective in preventing pressure ulcers in the calcaneal of patients who are installed in skeletal traction.
Upaya Peningkatan Kesehatan dengan Deteksi Dini dan Senam Kaki Diabetik pada Lansia di Posyandu Tambak Grogol Sukoharjo
widiastuti, Agung;
Utomo, Endrat Kartiko;
Lidiana, Exda Hanung;
Wijayanti, Fitria Eka Resti
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Peduli Masyarakat: September 2023
Publisher : Global Health Science Group
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37287/jpm.v5i3.2036
Penyakit diabetes mellitus ini sering diderita oleh sebagian besar lansia. Penyakit ini merupakan penyakit yang tidak menular, sulit untuk disembuhkan tetapi dapat dikendalikan. Seseorang dengan diabetes mellitus akan mempunyai kualitas hidup yang baik apabila dapat mengontrol gula darah secara teratur serta dapat menjaga pola hidup sehat. Pada kasus diabetes mellitus dianjurkan untuk melakukan latihan fisik yaitu senam kaki. Senam kaki diabetic apabila dilakukan secara teratur akan mengurangi resiko terjadinya penyakit kaki diabetic sekitar 50-60%. Vaskularisasi dibagian kaki dapat dilakukan dengan cara menggerakkan kaki yang disebut senam kaki diabetic. Senam kaki dilakukan dengan menggerakkan bagian sendi dengan bantuan koran. Tujuan pengabdian ini dapat meningkatkan pengetahuan dan praktik senam kaki diabetik dengan benar pada lansia dengan diabetes mellitus. Waktu pelaksanaan pengabdian pada bulan 10 Juli sampai 10 Agustus 2023, kegiatan ini dilakukan di Posyandu Lansia, Tambak Grogol Sukoharjo dengan metode demonstrasi atau praktik senam kaki diabetic dengan jumlah responden sebanyak 25 peserta. Sasaran pengabdian ditujukan pada lansia yang menderita atau beresiko terhadap penyakit diabetes mellitus Di Posyandu Lansia, Posyandu Tambak Grogol Sukoharjo.
Application of Knee Pain Exercise to Pain Intensity in Osteoarthritis Patients
Widiastuti, Agung;
Utomo, Endrat Kartiko;
Kartikasari, Annisa Yuli;
Wulandari, Septiyana Indri
International Journal of Public Health Excellence (IJPHE) Vol. 4 No. 1 (2024): June-December
Publisher : PT Inovasi Pratama Internasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55299/ijphe.v4i1.1096
Knee osteoarthritis in the elderly can cause pain due to joint capsules and cartilage damage in the bone joints. Osteoarthritis cases increase the risk of mobility disorders and have an effect on disability. Improving the quality of life in patients with joint disease is very necessary, namely by providing pain management through knee pain exercise. Knee pain exercise can maintain muscle strength so that it can reduce pain, increase functional activity in patients with knee osteoarthritis. This study aims to determine the effect of knee pain exercise in reducing pain intensity in osteoarthritis patients. The research design used Quasy Experiment One Group Pretest - Posttest Control Group Design. The population in this study were all knee osteoarthritis patients who experienced joint pain. The sampling technique used the purposive sampling method. Knee pain exercise was given 3 times a week and was carried out for 2 weeks, pain scale measurements using the Numeric Rating Scale (NRS) were carried out before and after knee pain exercise was given. The average pre-test results showed that the level of pain intensity in the intervention group was 5.05 and the average post-test value was 1.09, while in the control group the average pre-test results were 5.05 and the post-test value was still within the average range of 5.00. The Wilcoxon test results in the intervention group showed a p value of 0.0001 while in the control group a p value of 0.36 was obtained. The conclusion of this study is that there is a change in the level of pain before and after knee pain exercise in the intervention group, so there is an effect of knee pain exercise in reducing pain intensity in osteoarthritis sufferers.
HUBUNGAN SELF CARE DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGMALANG SRAGEN
Clarita, Anggita Rizki Dela;
Firdaus, Insanul;
Utomo, Endrat Kartiko
Prosiding Seminar Informasi Kesehatan Nasional 2025: SIKesNas 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Duta Bangsa Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47701/7x1bqm84
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah melebihi batas normal 200 mg/dL. Diabetes juga berdampak pada penurunan kualitas hidup dan akan meningkatkan resiko terjadinya komplikasi jika tidak dilakukan perawatan dengan baik. Pengelolaan penyakit yang dapat dilakukan oleh penderita adalah dengan manajemen diabetes meliputi aktivitas fisik teratur, manajemen diet dan perawatan medis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self care dengan kualitas hidup penderita diabetes melitus di wilayah kerja puskesmas karangmalang sragen. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel terdiri dari 65 responden yang terpiliih melalui Teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner SDSCA untuk self care dan DQOL unuk kualitas hidup. Analisa data menggunakan uji Chi Square. Hasil: Responden yang memiliki self care baik sebanyak 36 responden (55.4%) dan responden dengan kualits hidup cukup sebanyak 33 responden (50.8%). Hasil uji statistik Chi Square diperoleh nilai p=0.000 (p<0.05) hasil tersebut menunjukan bahwa terdapat hubungan antara self care dengan kualitas hidup penderita Diabetes melitus di Wilayah kerja Puskesmas Karangmalang Sragen.
PENERAPAN TERAPI FOOT MASSAGE TERHADAP SENSITIVITAS KAKI PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD IR SOEKARNO SUKOHARJO
Qasanah, Septina Nur;
Sani, Fakhrudin Nasrul;
Utomo, Endrat Kartiko
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v6i3.48141
Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit hiperglikemia akibat resistensi insulin. Kadar glukosa darah yang tinggi dapat mengganggu sirkulasi, menyebabkan kerusakan jaringan, dan komplikasi seperti neuropati diabetic, ditandai dengan penurunan sensasi pada kaki. Penatalaksanaannya dapat dibantu dengan terapi non farmakologis seperti foot massage, senam kaki, sari pati bengkuang, dan rebusan daun kelor. Tujuan penelitian, mampu menerapkan asuhan keperawatan foot massage terhadap sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Ir Soekarno Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan studi kasus dalam pengelolaan asuhan keperawatan inovasi intervensi menggunakan terapi foot massage pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Ir Soekarno Sukoharjo, dilakukan penilaiannya dengan menggunakan lembar observasi monofilament.Hasil penerapan terapi foot massage pada Tn. S didapatkan skor monofilament sebelum dan setelah dilakukan intervensi pada kaki kanan 4.5 menjadi 5.5, pada kaki kiri skor 5.5 tetap 5.5. Hasil penerapan terapi foot massage pada Tn. W didapatkan skor monofilament sebelum dan setelah dilakukan intervensi pada kaki kanan 5 menjadi 6.5, dan pada kaki kiri 6 menjadi 7.5. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam didapatkan hasil, terdapat peningkatan sensitivitas kaki pada kedua klien.
PENERAPAN TERAPI OKUPASI MENGGAMBAR PADA PASIEN HALUSINASI DI RSJD dr. ARIF ZAINUDIN SURAKARTA
Suwarni, Anggita Arnas;
Utomo, Endrat Kartiko;
Widiastuti , Agung;
Pujianto, Joko Sri
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48127
Halusinasi pendengaran merupakan gejala umum pada pasien skizofrenia yang berdampak signifikan terhadap fungsi sosial dan kualitas hidup. Intervensi farmakologis kerap menimbulkan efek samping, sehingga pendekatan non-farmakologis seperti terapi okupasi menggambar menjadi alternatif untuk membantu menurunkan intensitas gejala halusinasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penerapan terapi okupasi menggambar terhadap penurunan tanda dan gejala halusinasi pendengaran pada pasien di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif terhadap dua pasien dengan halusinasi pendengaran. Terapi dilakukan selama tiga hari dengan teknik pre-test dan post-test menggunakan instrumen observasi tanda gejala halusinasi dan skala AHRS (Auditory Hallucination Rating Scale). Hasil penelitian terdapat penurunan gejala halusinasi pada kedua responden setelah diberikan terapi. Responden pertama menunjukkan penurunan skor AHRS dari 25 menjadi 18, dan skor gejala dari 9 menjadi 4. Responden kedua mengalami penurunan skor AHRS dari 23 menjadi 15, dan skor gejala dari 8 menjadi 3. Kesimpulan terapi okupasi menggambar efektif dalam menurunkan intensitas halusinasi pendengaran serta memperbaiki respons emosional dan sosial pasien. Terapi ini direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis pendukung dalam perawatan pasien dengan gangguan persepsi sensori.
PENERAPAN RELAKSASI AUTOGENIK TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT INDRIATI SOLO BARU
dita tiyana, alivia;
Widiastuti, Agung;
Utomo, Endrat Kartiko
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v6i3.48035
Hipertensi merupakan suatu kondisi dimana tekanan darah seseorang melebihi batas normal, tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan diastolik ≥ 90 mmHg. Relaksasi autogenik merupakan salah satu teknik relaksasi yang bersumber dari diri sendiri berupa kata-kata atau kalimat pendek ataupun pikiran yang bisa membuat tentram. Tujuan penelitian ini untuk menerapkan teknik relaksasi autogenik pada pasien hipertensi terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi di RS Indriati Solo Baru serta menyusun hasil temuan dalam bentuk karya tulis ilmiah . Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan pre- test dan post-test design. Sampel penelitian sebanyak 2 pasien hipertensi yang dirawat di Rumah Sakit Indriati, penerapan dilakukan selama 3 kali pertemuan dengan durasi 10-15 menit. Hasil pengkajian didapatkan klien I berumur 57 tahun, jenis kelamin perempuan, pendidikan terakhir SD, pekerjaan ibu rumah tangga, terdapat riwayat penyakit hipertensi sejak 1 tahun yang lalu. Sedangkan pada klien II berumur 60 tahun, jenis kelamin perempuan, pendidikan terakhir SD, pekerjaan ibu rumah tangga, terdapat riwayat penyakit hipertensi sejak 4 tahun yang lalu. Sebelum penerapan tekanan darah pada klien I 170/90mmHg dan pada klien II 180/90mmHg. Setelah penerapan tekanan darah pada klien I menurun menjadi 140/80mmHg dan tekanan darah pada klien II menurun menjadi 148/80mmHg atau berada pada rentang hipertensi stadium 1. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah adanya penurunan tekanan darah setelah pemberian terapi relaksasi autogenik pada kedua klien hipertensi di Rumah Sakit Indriati Solo Baru
PENERAPAN RELAKSASI AUTOGENIK TERHADAP KADAR GLUKOSA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RUMAH SAKIT INDRIATI SOLOBARU
Retno Astuti, Sulistyaningsih;
Sani, Fakhrudin Nasrul;
Utomo, Endrat Kartiko
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v6i3.48072
Diabetes Mealitus (DM) merupakan salah satu jenis penyakit metabolik yang terjadi akibat kelainan pada sekresi insulin, kinerja insulin atau gabungan keduanya. DM ditandai dengan adanya peningkatan kadar glokusa dalam darah (hiperglikemia). Relaksasi autogenik adalah suatu prosedur relaksasi yang membayangkan sensasi-sensasi yang menyenangkan pada bagian-bagian tubuh seperti kepala, dada, lengan, punggung, ibu jari kaki atau tangan dan pergelangan tangan. Sesansi yang dibayangkan seperti rasa hangat, lemas atau rileks pada bagian tubuh tertentu, juga rasa lega karena nafas yang dalam dan pelan Relaksasi bekerja dengan pengaturan hormon korisol dan hormon stress lainnya. Tujuan: untuk menerapkan relaksasi autogenik terhadap kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus tipe II. Metode: penulis menggunakan metode deskritif dan studi kasus dalam pengelolaan asuhan keperawatan inovasi intervensi menggunakan relaksasi autogenik dilakukan penilaian dengan menggunakan lembar observasi pre test dan post test. Hasil: terdapat pengaruh meningkatkan penurunan kadar glukosa darah pada pasien 1 (Ny. W) didapatkan hasil sebelum dilakukan intervensi gula darah sewaktu hari pertama 245 mg/dL. Setelah dilakukan relaksasi autogenik 2 kali sehari selama 3 hari berturut-turut pagi dan sore didapatkan hasil gula darah sewaktu 124 mg/dL. Pada pasien 2 (Ny. S) didapatkan hasil sebelum dilakukan intervensi gula darah sewaktu hari pertama 316 mg/dL. Setelah dilakukan relaksasi autogenik 2 kali sehari slama 3 hari berturut-turut pagi dan sore didapatkan hasil gula darah sewaktu 144 mg/dL. Kesimpulan: Intervensi relaksasi autogenik efektif dalam menurunkan peningkatan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus tipe II. Kata Kunci : Diabetes Melitus, Kadar Glukosa Darah, Relaksasi Autogenik
PENERAPAN TERAPI MUSIK TERHADAP PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN HALUSINASI PENDENGARAN DI RSJD dr. ARIF ZAINUDIN SURAKARTA
Febrianasari, Maya;
Utomo, Endrat Kartiko;
Musta’in, Musta’in
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v6i3.48297
Halusinasi pendengaran adalah halusinasi yang paling sering dialami oleh penderita gangguan mental, misalnya mendengar suara melengking, mendesir, bising, dan mengakibatkan pasien berdebat dengan suara tesebut. Suara yang muncul bervariasi, bisa menyenangkan, berupa perintah berbuat baik, dan bisa berupa makian, ejekan. Dampak yang terjadi dari halusinasi adalah dapat kehilangan kontrol diri sehingga bisa membahayakan diri sendiri, orang lain dan juga dapat merusak lingkungan. Salah satu terapi non farmakologis yang efektif untuk menurunkan halusinasi adalah terapi musik. Terapi musik dapat memberikan rasa tenang. Untuk penerapan terapi musik terhadap pasien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran. Studi kasus dengan desain deskriptif. Studi kasus ini berjumlah 2 responden pasien halusinasi yang dipilih sesuai kriteria inklusi yang ditentukan dan menggunakan koesioner AHRS sebagai pengukuran tanda gejala halusinasi. Terapi musik diberikan 3 kali berturut-turut dengan durasi 45 menit. Hasil penerapan terapi musik menunjukkan pada pasien I setelah diberikan terapi musik selama 3 hari bertutut-turut didapatkan hasil post test 18 (sedang) mengalami penurunan skor AHRS 5. Pada pasien II setelah diberikan terapi musik selama 3 hari bertutut-turut didapatkan hasil post test 20 (sedang). Mengalami penurunan skor AHRS 4. Intervensi terapi musik efektif untuk menurunkan skor AHRS pada pasien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran.