Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Sintesis Selulosa Asetat dari Sabut Buah Lontar (Borassus flabellifer Linn) dengan Variasi Volume Anhidrida Asetat Matius Stefanus Batu; Risna Erni Yati Adu; Lourenco Pereira Soares
Hydrogen: Jurnal Kependidikan Kimia Vol 11, No 5 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/hjkk.v11i5.9049

Abstract

Kandungan selulosa yang terdapat dalam buah sabut lontar cukup melimpah. Selulosa asetat dapat dibuat dengan memanfaatkan selulosa dari sabut buah lontar. Tujuan dari penelitian ini, untuk menentukan karakteristik selulosa asetat yang terbuat dari sabut buah lontar (Borassus flabellifer Linn) dan volume anhidrida asetat optimum pada sintesis selulosa asetat. Tahapan pada penelitian ini antara lain preparasi sampel sabut buah lontar, isolasi selulosa dari sabut buah lontar (tahap delignifikasi dan bleaching) dan sintesis selulosa asetat dari sabut buah lontar (aktivasi, asetilasi, hidrolisis). Pengujian kadar air, kadar asetil, derajat subtitusi, kelarutan dan analisis gugus fungsi menggunakan Fourier Transfor Infra-Red (FTIR). Untuk memperoleh selulosa murni selulosa dari sabut buah lontar harus didelignifikasi dan dibleaching agar sisa lignin pada selulosa dapat menghilang. Selulosa diaktivasi menggunakan asam asetat glasial selama 60 menit, diasestilasi dengan variasi volume anhidrad asetat 24, 26, 28, 30 mL selama 1 jam pada suhu 500C dan dihidrolisis dengan akuades. Hasil kondisi optimum dengan asetat amhidrida adalah volume 30 mL dengan rendemen selulosa asetat 1,95%, kadar air 3,68%, kadar asetil 43,06% dan derajat subtitusi 2,79. Sintesis selulosa asetat dengan analisis FTIR menyatakan bahwa, sintesis yang dilakukan berhasil diindikasikan dengan puncak tajam terhadap gugus karbonil dan ester pada bilangan gelombang 1738-1751 cm-1 dan 1228-1247 cm-1. Selulosa asetat yang dihasilkan termasuk jenis selulosa diasetat yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut sebagai bahan pembuatan membran, perekat film, filter masker dan pembuatan bioplastik.
Kapasitas Adsorpsi Lempung Alam Teraktivasi HCl dalam Mengadsorpsi Logam Berat (Pb) Penyebab Pencemaran Lingkungan Maria Magdalena Kolo; Matius Stefanus Batu; Maria Rosanti Bani; Gradiana Yosefa Nana; Yohana Ivana Kedang
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 4 (2024): July 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.4.981-986

Abstract

Logam Timbal (Pb) merupakan salah satu jenis logam yang terakumulasi di lingkungan serta sukar terurai secara hayati. Pada Penelitian ini dilakukan adsorpsi logam timbal (Pb) menggunakan lempung alam yang berasal dari Kabupatan Timor Tengah Utara. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yakni preparasi lempung, aktivasi lempung, pengujian kapasitas adsorpsi lempung dan karakterisasi lempung menggunakan Xrf, Xrd dan BET dan SSA. Berdasarkan hasil karakterisasi menggunakan XRF, lempung alam Desa Letmafo memiliki komposisi utama SiO2 dengan persentasi 57,158% sebelum diaktivasi dan meningkat menjadi 73,161% setelah diaktivasi. Karakterisasi lempung alam menggunakan XRD diperoleh bahwa mineral yang terkandung dalam lempung alam terdiri dari Kuarsa (SiO2), Kalsit (CaCO3) dan Gibsit Al(OH)3. Luas permukaan dari lempung alam sebelum diaktivasi yaitu sebesar 39, 442 m2/g dan setelah diaktivasi sebesar 69, 444 m2/g. Hasil pengujian kapasitas adsorpsi maksimum lempung alam terhadap Pb yaitu menggunakan variasi konsentrasi HCl 1,5 M dengan kapasitas adsorpsi sebesar 3,99 mg/g. Selanjutnya didapatkan massa adsorben optimum yaitu sebanyak 2,0gram dengan efisiensi adsorpsi sebesar 99, 648 % dan waktu kontak optimum terjadi pada waktu 90 menit dengan efisiensi adsorpsi sebesar 99, 636 %.
PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG BUAH LONTAR (Borassus flabellifer L.) SEBAGAI ADSORBEN RHODAMIN B Mading, Ridwan; Batu, Matius Stefanus; Kolo, Maria Magdalena; Saka, Agustina Rosalia
Molluca Journal of Chemistry Education (MJoCE) Vol 14 No 1 (2024): MJoCE
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP, Universitas Pattimura (Chemistry Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Educational Sciences, Pattimura University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/MJoCEvol14iss1pp10-21

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai arang aktif dari tempurung buah lontar (Borassus flabellifer L.) sebagai absorben terhadap pewarna sintetik rhodamin B. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan kadar air, kadar abu serta menentukan karakteristik arang aktif dari limbah tempurung buah lontar teraktivasi HCl dan menentukan kondisi optimum pada adsorbsi Rhodamin B dengan menggunakan arang aktif. Pembuatan arang aktif dari tempurung buah lontar dengan metode karbonasi dan aktivasi. HCL 1 M digunakan sebagai aktivator dengan waktu perendaman 24 jam. Proses absorbsi dilakukan dengan variasi massa absorben dan waktu kontak. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukan bahwa karbon aktif dari tempurung buah lontar memiliki kadar air sebesar 2,18%, kadar abu sebesar 9,173% dan massa absorben optimum diperoleh pada massa absorben 1 gr dengan kapasitas adsorbat sesudah adsorbsi sebesar 0,387 ppm dan efisiensi adsorpsi sebesar 99,94 %. Sedangkan waktu kontak optimum terhadap Rhodamin B diperoleh pada waktu kontak 30 menit dengan dengan efisiensi adsorpsi sebesar 99,84 %.
Sintesis dan Karakterisasi Cangkang Kapsul Obat dari Gelatin Tulang Ikan Tembang (Sardinella fimbriata) Batu, Matius Stefanus; Kolo, Maria Magdalena; Saka, Agustina Rosalia; Funan, Selviana Ermalinda
Indonesia Journal of Halal Vol 7, No 1 (2024): IJH
Publisher : Pusat Kajian Halal Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/halal.v7i1.19806

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai pembuatan cangkang kapsul obat dari gelatin tulang ikan tembang (Sardinella fimbriata). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi HCl optimum pada sintesis gelatin dari tulang ikan tembang, sifat fisikokimia gelatin tulang ikan tembang dan karakteristik cangkang kapsul obat yang terbuat dari gelatin tulang ikan tembang. Sintesis gelatin dari tulang ikan tembang menggunakan metode ekstraksi dengan variasi konsentrasi HCl 3%, 4%, 5%, 6% dan 7% selama 48 jam. Dari hasil penelitian diperoleh gelatin tulang ikan tembang dengan kadar air berkisar antara 0,06-0,17%, kadar abu 0,4-2,6%, pH 4,8-5,5, viskositas 3,31-6,73 cP, kadar protein sebesar 59,87-92,41% dan konsentrasi HCl optimum yaitu pada konsentrasi 5% dengan nilai kadar air 0,11%, kadar abu 1,2%, pH 5,4, viskositas 4,53% dan kadar protein 88,95% serta analisis gugus fungsi menggunakan FTIR yang mengindikasikan adanya gugus O-H, N-H, C-H alifatik, C=O (karbonil). Gelatin yang diperoleh memenuhi standar SNI dan GMIA sehingga dapat diaplikasikan dalam pembuatan cangkang kapsul obat. Cangkang kapsul obat dari gelatin tulang ikan tembang memiliki nilai keseragaman bobot yang berkisar antara 0,30˗0,34 g, waktu hancur 20,06˗24,25 menit dan kelarutan dalam asam 3,20˗4,50 menit. Cangkang obat yang dihasilkan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI Tahun 1995.
PENGGUNAAN EKSTRAK METANOL DAUN KALIANDRA (Calliandra calothyrsus M.) SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA MEDIA HCl Batu, M. S.; Adu, R. E. Y.; De Fretes, M.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.2, Juli 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai penggunaan ekstrak metanol daun kaliandra sebagai inhibitor korosi logam besi telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak daun kaliandra (Calliandra calothyrsus M.) dan kondisi optimum pada variasi waktu perendaman, konsentrasi dan suhu pada proses inhibisi logam besi dalam media HCl. Ekstrak daun kaliandra diperoleh melalui ekstraksi maserasi dengan pelarut metanol. Uji inhibisi korosi dilakukan menggunakan metode pengurangan berat dengan variasi waktu perendaman, konsentrasi ekstrak daun kaliandra, dan suhu untuk mengetahui laju korosi per tahun dan % efisiensi inhibisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun kaliandra mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Kondisi optimum untuk proses inhibisi logam besi pada media korosif HCl dengan ekstrak daun kaliandra diperoleh pada waktu peredaman 6 hari dengan efisiensi inhibisi dan nilai laju korosi sebesar 86,49% dan 0,00119 mm/tahun, serta pada konsentrasi 13.000 ppm dan suhu 26? dengan efisiensi inhibisi dan nilai laju korosi sebesar 91,60 % dan 0,00073 mm/tahun. Pada perendaman menggunakan variasi suhu, semakin tinggi suhu yang digunakan maka efisiensi inhibisinya semakin menurun dan laju korosinya semakin meningkat sehingga logam besi mengalami korosi lebih cepat. Kata kunci: Besi, Korosi, Ekstrak Metanol, Inhibitor, Daun Kaliandra. ABSTRACT In this research, the use of methanol extract from calliandra leaves as an iron metal corrosion inhibitor has been conducted. The purpose of this study was to determine the type of secondary metabolite compounds contained in the extract of calliandra leaves (Calliandra calothyrsus M.) and to determine the optimum conditions at variations (immersion time, concentration, and temperature) in the process of iron metal inhibition using calliandra leaf extract in the HCl corrosion media. The calliandra leaves were extracted using the maceration method with a methanol solvent. The corrosion inhibition test was carried out using the weight loss method with variations in soaking time, the concentration of calliandra leaf extract, and temperature to determine the optimum corrosion rate per year and inhibition efficiency. The results showed that the methanol extract of calliandra leaves contained secondary metabolite compounds of alkaloids, flavonoids, tannins, and saponins. The optimum conditions for the inhibition process of iron metal in HCl corrosive media with calliandra leaf extract were at the soaking time of 6 days with the inhibition efficiency and corrosion rate of 86.49% and 0.00119 mm/year, and the concentration of 13,000 ppm and temperature of 26? with the inhibition efficiency and corrosion rate of 91.60% and 0.00073 mm/year. In immersion using temperature variation, the higher the temperature used, the lower the inhibition efficiency and the higher the corrosion rate obtained so that the iron metal corroded faster. Keywords: Iron, Corrosion, methanol extract, Inhibitor, Calliandra Leaf.
Synthesis of Cellulose Acetate From Coil Waste (Borassus flabellifer L) Using Delignification Time Variations Matius Stefanus Batu; Maria Magdalena Kolo; Fransiska Rika
Stannum : Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 6 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Department of Chemistry - Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/jstk.v6i2.4113

Abstract

Synthesis of cellulose acetate form palm coir (Borassus flabellifer L) waste has been synthesized by varying the time in the delignification process. This study aimed to determine the characteristics of cellulose acetate form palm coir waste (Borassus flabellifer L) and the optimum time for the delignification process. This research was conducted in several stages: sample preparation, cellulose isolation (delignification and bleaching process), and synthesis of cellulose acetate (activation, acetylation, and hydrolysis process). The cellulose acetate obtained was then charatecrized by testing for water content, acetyl content, and degree of substitution and functional grup analysis using a fourier transform infra-red (FTIR) spectrophotometer. In the delignification process, variations of the delignification time were usesd, namely 60, 90, 120, and 150 minutes. Form the results of the study, the characteristics of cellulose acetate in palm coir were optained, namely water content of 0.95%‒2.16%, acetyl content of 37.19%‒40.85%, degree of substitution of 2.2‒2.6 and identification of functional groups using FTIR showed that there was a typical absorption of cellulose acetate on the carbonyl group (C=O) and the ester group (C-O acetyl). The results of variations in the time of the delignification process showed that the optimum reaction time was 120 minutes with the yield of cellulose acetate produced at 254.4%, water content 2.16%, acetyl content 40.85%, degree of substitution (DS) 2.6. the cellulose acetate produced belongs to the type of cellulose diacetate, which can be further utilized in manufacturing threads, membranes, adhesives of films, and mask filters.
PENGGUNAAN LIMBAH KULIT PISANG LUAN (Musa paradisiaca) SEBAGAI ADSORBEN UNTUK MENGURANGI SALINITAS DAN ION KLORIDA PADA AIR SUMUR DI DESA LETNEO Matius Stefanus Batu; Pieter Jackson Lopez Dethan; Maria Magdalena Kolo
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i1.24024

Abstract

Air sangat berperan penting dalam kehidupan makhluk hidup maka dibutuhkan sumber air yang memiliki kualitas dan kuantitas yang baik. Air sumur yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Letneo tidak memenuhi syarat kesehatan sebab berwarna keruh serta memiliki rasa asin dan pahit ketika dikonsumsi. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan ini yaitu dengan metode adsorpsi menggunakan adsorben. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan senyawa selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang terdapat pada kulit pisang luan, menentukan karakteristik adsorben yang terbuat kulit pisang luan, dan kondisi optimum (massa adsorben dan waktu kontak) pada proses adsorpsi salinitas dan ion klorida dalam air sumur di Desa Letneo. Tahapan pada penelitian ini antara lain preparasi sampel kulit pisang luan, penentuan kandungan senyawa selulosa, hemiselulosa dan lignin yang terdapat pada kulit pisang luan dengan metode chesson-datta, aktivasi serbuk kulit pisang luan menggunakan aktivator H3PO4 2 M selama 24 jam, dan proses adsorpsi salinitas dan ion klorida dalam air sumur. Dari hasil penelitian diperoleh kulit pisang luan memiliki kandungan selulosa sebesar 13%, hemiselulosa 20%, lignin 23%, kadar air 2,6%, kadar abu 4,3%, dan bilangan iodin 3.173,25 mg/g. Hasil FTIR menunjukkan adanya gugus fungsi OH (hidroksi), C-H (alifatik), C=O (karbonil), C=C (alkena), C-H (bending) dan C-O. Hasil penentuan kondisi optimum dari proses adsorpsi diperoleh pada penggunaan massa adsorben 2,5 gram dengan kadar salinitas sebesar 0,10 ppt dan ion klorida 120 mg/L dan waktu kontak 30 menit dengan kadar salinitas sebesar 0,11 ppt dan ion klorida 76 mg/L
PEMBUATAN KITOSAN DARI LIMBAH CANGKANG KULIT UDANG WINDU (Penaeus monodon) ASAL KABUPATEN MALAKA Naisau, Mikhael Rifantus; Kolo, Maria Magdalena; Batu, Matius Stefanus
Journal of Chemical Science and Application Vol. 1 No. 2 (2023)
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/jcsa.v1i2.4417

Abstract

Cangkang udang merupakan limbah yang dapat mencemari lingkungan. Bagian kepala dan cangkang udang dapat digunakan dalam proses pembuatan kitosan, mengandung kitin sebesar 20%-30%, protein 30%-40%, dan kalsium karbonat 30%-50%. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi NaOH optimum pada proses deasetilasi kitin udang menjadi kitosan. Produksi kitin dilakukan melalui dua tahap yaitu demineralisasi dan deproteinasi. Proses deasetilasi dilakukan menggunakan larutan HCl 1 N, dengan perbandingan 1/15 (b/v). Reaksi deproteinasi dilakukan menggunakan larutan NaOH 3,5%, dengan perbandingan 1/10 (b/v). Reaksi deasetilasi kitin menjadi kitosan dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi NaOH. Pada rentang 30%-70%, dengan perbandingan 1/10 (b/v), sambil dipanaskan selama 4 jam pada suhu 1200C dengan kecepatan 600 rpm. Derajat deasetilasi kitosan ditentukan menggunakan Spectroscopy FTIR (Fourier Transform Infrared). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa konsentrasi NaOH optimum pada proses deasetilasi kitin limbah kulit cangkang udang windu menjadi kitosan yaitu 60% dengan perolehan rendemen sebesar 78,03%, kadar air 4%, kadar abu 0,04%, dan viskositas sebesar 3,5347±0,00 Cp.
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI KITIN DAN KITOSAN DARI LIMBAH SISIK IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) Sanak, Maria Kotelma; Kolo, Sefrinus M. D; Batu, Matius Stefanus
Journal of Chemical Science and Application Vol. 2 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/jcsa.v2i1.5197

Abstract

Kitosan adalah biopolymer alami dengan kelimpahan terbesar kedua setelah selulosa. Kitosan merupakan produk diestilasi kitin melalui proses reaksi kimia. Limbah sisik ikan nila (Oreochromis Niloticus) memiliki potensi untuk disintesis menjadi kitosan. Telah dilakukan isolasi kitosan dari limbah Ikan Nila. Produksi kitin dilakukan dengan proses deproteinasi dan demineralisasi. Biopolimer kitosan dihasilkan dari kitin melalui metode deasetilasi kitin menggunakan larutan basa (NaOH) dengan tujuan untuk menaikkan derajat deasetilasi (DD) dari kitosan. Dari hasil 4,50 g kitin diassetilasi menggunakan NaOH pada konsentrasi 50% diperoleh kitosan sebesar 3,87 g (86%). Deasetilasi kitosan tertingggi yaitu 63,92% pada perlakukan konsentrasi NaOH 50%. Analisa kadar air dan kadar abu serta penentuan viskositas kitosan telah memenuhu standar mutu kitosan. Kitin dan Kitosan diidentifikasi dengan  spektroskopi infra merah (FT-IR) menghasilkan kitosan dengan serapan khas kitosan pada panjang gelombang 3371,56 cm-1 1022,59 cm-1 dan 1454,74  cm-1.  
PENGGUNAAN EKSTRAK BIJI KUSAMBI (Schleichera Oleosa) SEBAGAI GREEN INHIBITOR KOROSI PADA BAJA KARBON ASTM A36 DALAM MEDIA GARAM Tefa, Maria Selestina; Batu, Matius Stefanus; Edi, Eduardus
Journal of Chemical Science and Application Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/jcsa.v2i2.8026

Abstract

Penelitian ini mengenai penggunaan ekstrak biji kusambi (schleichera oleosa) sebagai green inhibitor korosi pada baja karbon Astm A36 dalam media garam telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metabolit sekuder yang terkandung dalam ekstrak biji kusambi, untuk mengetahui karakteristik morfologi permukaan baja karbon ASTM A36 tanpa inhibitor dan dengan inhibitor dan untuk mengetahui berapa lama waktu perendaman dan suhu optimum pada inhibisi korosi terhadap baja ASTM A36 ekstrak biji kusambi dalam media garam. Proses ekstraksi biji kusambi dilakukan dengan metode maserasi dengan menggunkan pelarut metanol. Analisis fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak biji kusambi mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, dan triterpenoid yang memiliki sifat antioksidan dan anti korosif. Analisis FTIR (Fourier Transform Infra Red) menunjukkan bahwa ekstrak biji kusambi mengandung gugus hidroksil O-H, gugus CH alifatik, gugus karbonil C=O, gugus C-O. Analisis SEM (Scaning electron microscopy) menunjukkan perbedaan morfologi permukaan baja yang dilapisi oleh ekstrak biji kusambi dibandigkan dengan baja yang tidak dilapisi, terlihat bahwa permukaan baja yang dilapisi ekstrak biji kusambi lebih tertutup dibandingkan dengan baja yang tidak dilapisi ekstrak biji kusmabi walaupun masih ada gumpalan dan lubang-lubang kecil yang tidak merata. Hasil optimum pada proses inhibisi korosi didapatkan pada waktu perendaman 9 hari dengan efisiensi inhibisi sebesar 88,19% dan laju korosi sebesar 0,8819 mmpy dan pada suhu 30oC dengan efisiensi inhibisi sebesar 88,40% dan laju korosi sebesar 0,8840 mmpy.